Ilustrasi.

Seorang teman lama lewat komunikasi digital bercerita bagaimana ia sangat merindukan pelukan di saat krisis corona seperti sekarang ini. Sebagai seorang teman yang hangat, pelukan selalu diberikan kepada mereka yang dikenalnya baik. Pelukan bermakna ungkapan persahabatan, ungkapan kerinduan karena sudah lama tak bertemu, ungkapan dukungan saat ada masalah, ungkapan salam yang hangat dan setara dan lain sebagainya. Saya sendiri beranggapan, pelukan itu lebih dari bentuk pengakuan sosial.

Pelukan itu seperti membuat perasaan nyaman yang diberikan seseorang. Pelukan memberi ketenangan saat kita sedang dirundung masalah. Tak ada kata yang dapat tergantikan selain berpelukan saat kita sedang menghadapi krisis hidup. Persoalannya sekarang, kita harus menjaga jarak aman untuk berelasi demi keamanan bersama.

Pelukan itu sendiri sudah terbukti bermanfaat untuk kesehatan mental. Ada riset yang menyatakan setidaknya kita perlu berpelukan setiap hari untuk menjaga kesehatan mental. Berpelukan juga mengurangi risiko seseorang terserang penyakit. Di saat kondisi mental kita pun teruji dengan krisis corona yang melanda dunia ini, rasanya orang seperti saya ingin sekali berpelukan agar bisa melalui krisis ini dengan baik-baik.

Sebelum ada pandemi corona, saya merasakan bentuk pengakuan sosial yang hangat dari orang terdekat adalah pelukan. Pelukan seperti memberi rasa keakraban yang setara dan bersifat mutualisme. Bertemu dengan orangtua, saya biasanya berpelukan. Bertemu dengan sahabat dekat yang lama tak jumpa, saya pun berpelukan. Bahkan terkadang dalam dunia pekerjaan di luar jam kerja, ada kalanya berpelukan antar kolega seperti meringankan beban kerja sesaat. Jadi memang benar, berpelukan itu sangat membantu kesehatan mental.

Baru-baru ini, saya membaca dua ide berpelukan saat krisis corona masih berlangsung. Misalnya di Swiss, ada kelonggaran bagi anak-anak berusia tidak lebih dari 10 tahun dan dalam kondisi sehat maka diperbolehkan memeluk Oma dan Opa mereka. Berpelukan itu memang menjaga kondisi mental dan sangat diperlukan dalam situasi krisis seperti sekarang ini. Tentu para Oma dan Opa yang dimaksud pun adalah mereka yang juga sehat dan sedang tidak berisiko infeksi.

Tidak semua negara melakukan hal yang sama seperti yang dijalankan di Swiss, tetapi memang berpelukan yang dulu menjadi kehangatan dan dukungan sosial seperti dirindukan bagi sebagian orang saat ini. Ini pula yang menjadi saran dari Staf Layanan Kehutanan di negara Islandia yakni berpelukan dengan pohon besar selama lima menit. Hal ini untuk mengurangi rasa bosan seharian berada di rumah dan memberi ketenangan dalam melewati krisis corona saat ini.

Kiranya dua contoh di Swiss dan Islanda di atas memperkuat pernyataan bagaimana manfaat berpelukan bagi kesehatan mental. Jika berpelukan tidak bisa dilakukan saat ini, mungkin cukup dinyatakan saja seperti “Peluk dari jauh” kepada mereka yang biasanya kita lakukan.

Selain berpelukan, rasa solidaritas antar sesama memang dibutuhkan untuk memerangi stigma dan mengurangi penyebaran virus corona. Saling memotivasi lewat komunikasi digital juga dirasa perlu agar kita bisa bersama-sama menghadapi krisis ini. Itu sebab media publikasi di Jerman muncul berbagai slogan apresiasi “Danke für alle” yang diterjemahkan “Terimakasih semua”. Ada lagi slogan motivasi “Wir halten Zusammen” yang diterjemahkan “Bersama-sama kita pasti bisa”. Hal ini dimaksudkan agar kita tidak merasa sendirian melalui krisis ini.

Sending you a virtual hug from here…