6 Desa Wisata nan Cantik di 6 Negara yang pernah Dikunjungi, Salah Satunya di Bali

Desa Colmar adalah satu dari enam desa wisata nan cantik yang pernah saya kunjungi.

Berwisata itu banyak pilihan. Suka nature atau culture? Suka kota besar atau desa? Semua pilihan ada di tangan anda sebagai wisatawan. Bagaimana jika saya menawarkan ide desa wisata? Desa wisata adalah salah satu desa yang memang secara nature sudah memiliki keindahan tersendiri lalu kemudian dikembangkan menjadi obyek wisata yang dikelola pemerintah lokal.

Berikut enam desa wisata yang pernah saya kunjungi di berbagai negara. Ada yang unik, menarik atau punya potensi untuk menginspirasi. Silahkan simak cerita saya di bawah ini.

1. Hallstatt, Austria

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Desa wisata pertama adalah Hallstatt di Austria, yang konon menjadi inspirasi film Frozen. Menurut saya yang pernah datang ke Hallstatt dan menonton film Frozen, barangkali letak Hallstatt di pinggir danau dengan pemandangan pegunungan yang indah sehingga memikat siapa saja sehingga layak dijadikan ide tempat yang damai. Dari tempat tinggal saya sekitar tiga jam dengan kendaraan pribadi dan ada juga pilihan paket wisata dari Munich, Jerman jika anda ingin ke sana. Anda pasti percaya bahwa saya sangat terpesona dengan keindahan danau dan alam sekitarnya. Wajar jika desa ini masuk dalam cagar budaya UNESCO.

Tidak ada tiket masuk ke desa ini karena keindahannya benar-benar karya ciptaan Tuhan. Anda cukup berjalan kaki mengitari desa ini atau bisa menyewa kapal boat kecil untuk menyelami keindahan danaunya. Namun anda perlu perhatikan panduan jika berkunjung ke sana agar cagar alam ini tetap terawat. Letak desa ini tak jauh juga dari Salzburg, kota kelahiran Mozart di Austria yang juga sering menjadi destinasi wisata. Dari stasiun utama Salzburg, anda juga bisa naik kereta menuju stasiun Hallstatt.

2. Colmar, Prancis

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Tempat kedua yang juga pernah saya kunjungi adalah Colmar di Prancis. Ini adalah desa kelahiran dari pembuat patung Liberty yang terkenal dan sekarang berada di New York, Amerika Serikat. Desa Colmar di Prancis punya banyak bangunan bergaya fachwerkhaus, dalam bahasa Jerman yakni setengah batu dan kayu. Namun potensi desa wisata, bangunan tersebut dipermanen dan dibuat semakin indah yang melalui sungai. Ada juga yang menjuluki a little venice di Colmar karena anda bisa duduk di teras kafe atau restoran sambil menikmati kuliner Prancis yang mempesona lidah.

Untuk menjangkaunya, saya berangkat melewati perbatasan Jerman – Prancis dari kota kelahiran Joachim Loew, Freiburg. Anda juga lebih mudah menjangkau Colmar dari kota besar markas Uni Eropa, Strassbourg dengan menumpang kereta api. Desa ini pun tak ada tiket masuk dan anda bisa berkeliling dengan berjalan kaki untuk menyelami berbagai bangunan instragamable.

3. Namsangol Hanok, Korea Selatan

Ilustrasi.

Ilustrasi.

Desa berikut yang juga sama menariknya menurut saya adalah desa di antara hutan beton kota Seoul. A traditional village called Namsangol Hanok berisi rumah dan suasana Korea Selatan tempo dulu. Bahkan saya masih melihat tiap sudut bagian rumah bergaya tempo dulu seperti film-film bertema kerajaan yang pernah saya tonton saat masih di Indonesia.

Saya berkunjung sekitar tahun 2012 dan saat itu memang tak ada tiket masuk. Untuk menjangkaunya, anda bisa naik subway dari pusat kota Seoul dan turun di stasiun Chungmuro. Ada banyak hal yang bisa dilakukan di sini seperti belajar budaya, belajar aksara Korea Selatan hingga berpose dengan baju tradisional Korea Selatan.

4. Kinderdijk, Belanda

Ilustrasi.

Desa keempat ada di Belanda, yang dikenal sebagai desa seribu kincir angin. Saat saya tiba di sana, sayangnya saya tak bisa mendokumentasikan banyak karena kesalahan teknis kamera. Desa yang terletak di selatan Belanda ini sering menjadi obyek foto dengan latar belakang kincir angin yang melegenda. Kincir anginnya tak hanya beberapa, tetapi banyak. Kincir anginnya dibangun sekitar abad 18 dan mampu menjadi sumber energi bagi desa ini.

Cara terbaik untuk pergi ke Kinderdijk adalah naik kereta dari Amsterdam, ibukota Belanda. Waktu tempuhnya sekitar kurang dari dua jam. Itu menurut kenalan saya yang tinggal di Belanda. Sementara saya menuju desa ini sebelum tiba ke Rotterdam, kota pelabuhan di selatan Belanda. Desa ini berjarak sekitar sebelas kilometer dari Rotterdam.

5. Nubian, Mesir

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Desa kelima yang saya kunjungi tahun lalu adalah Nubian, Mesir. Desa wisata ini dijadikan potensi untuk menarik wisatawan yang berkunjung ke kota Aswan atau Assuan. Kota besar ini terletak di dekat perbatasan Mesir dan Sudan. Di desa ini hidup warga bersuku Nubian asli yang tinggal di wilayah remote. Menariknya di desa ini adalah menjadikan buaya sebagai hewan peliharaan di rumah. Mereka memelihara buaya sejak bayi hingga buaya yang mati kemudian diawetkan. Sebagian warga di sini juga membuat kerajinan sebagai sovenir atau melakukan budaya Nubian.

Untuk menjangkau desa ini, tentu anda harus ikut program tur yang diselenggarakan di Mesir langsung. Ini untuk menjamin keamanan dan kenyamanan anda selama di sana. Ketika tiba di desa ini, wisatawan dilarang memberikan uang kepada warga atau anak-anak. Cukup memberikan manisan atau perlengkapan sekolah jika anda memang berniat membantu mereka.

6. Desa Penglipuran Bali, Indonesia

Ilustrasi.

Desa keenam adalah desa wisata yang dikembangkan pemerintah untuk menarik wisatawan agar mengenal Bali tidak hanya soal pantai saja, tetapi kultur dan tradisi lokal para warganya. Desa ini juga tersedia home stay berdasarkan informasi yang saya terima sekitar tahun 2012. Saya datang ke sana waktu itu untuk tujuan dinas kantor, bukan wisata.

Rupanya pemerintah setempat juga mengembangkan beberapa desa lainnya yang juga dijadikan desa wisata. Jadi Bali tidak hanya berisi wisata pantainya yang indah, anda bisa menikmati pengalaman kultur, tradisi dan keramahannya di desa wisata. Bila anda datang ke Bali maka anda bisa memilih berwisata dengan cara lain.

Kesimpulan

Keenam desa wisata di atas adalah gambaran informasi bahwa ada pilihan berwisata mengeksplorasi di luar kota-kota besar di dunia. Desa wisata bisa menawarkan keindahan alam, potensi desa, keramahan penduduknya atau keragaman budaya yang menarik untuk diketahui. Masih banyak desa wisata lainnya yang ingin saya kunjungi. Mungkin anda tertarik juga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.