Ilustrasi.

Hari ini adalah Hari Ayah di Jerman. Hari Ayah itu berbeda sekali dengan perayaan Hari Ibu yang begitu sering terdengar gaung perayaannya. Dunia bisnis dan industri biasa menghiasi supermarket dengan berbagai pernak-pernik sovenir Hari Ibu. Tetapi Hari Ayah?

Saya tidak menjumpai apa pun yang berbeda kecuali saya mendengar sudah ada sedikit kelonggaran biergarten dibuka di wilayah tempat tinggal saya tetapi semua harus mengikuti prosedur higenitas yang dianjurkan pemerintah. Jaga jarak, pakai masker dan tidak bermabuk-mabukkan. Itu sebagian peringatan merayakan Hari Ayah yang saya dengar. Selain itu saya mendengar bisik-bisik para pria merencanakan virtual meeting dan minum bir bersama lewat online.

Bagi seorang ayah dan para pria di dunia pun ternyata tidak menyadari keberadaan Hari Ayah. Ini juga yang menjadi acuan dari sebuah survey yang mengatakan sebagian besar responden menyatakan mereka lupa kapan Hari Ayah itu. Ya begitulah pria seperti yang pernah saya tuliskan dalam artikel “Apakah para pria lebih pelupa dibandingkan perempuan?” artikelnya bisa dicek di link ditautkan. Mungkin Hari Ayah tak banyak menghiasi dunia bisnis atau Hari Ayah memang berbeda penyelenggaraannya di seluruh dunia? Entahlah.

Penanggalan Hari Ayah di berbagai belahan dunia itu ternyata berbeda-beda, bahkan hampir tidak sama dibandingkan Hari Ibu. Contohnya di Eropa saja, Hari Ayah berbeda-beda pelaksanaannya. Di Jerman, wilayah tempat tinggal saya sekarang, perayaan Hari Ayah dilaksanakan tiap Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus. Baik Indonesia maupun Jerman, Hari Raya Kenaikan Isa Almasih ini menjadi hari libur nasional. Dan Hari Ibu di Jerman itu dirayakan tiap hari Minggu kedua bulan Mei. Maksudnya adalah para ibu dan ayah bisa merayakannya bersama keluarga di rumah karena jatuh pada hari libur.

Sebut saja Italia, Portugal dan Spanyol misalnya merayakan Hari Ayah pada tanggal 19 Maret. Pada tanggal tersebut adalah perayaan Hari Raya Santo Yoseph menurut penanggalan liturgi gereja katolik. Dengan begitu, Hari Ayah jatuh tiap tanggal 19 Maret yang berarti belum tentu libur di negara Eropa lainnya. Santo Yoseph adalah santo pelindung para ayah dan para pekerja yang diyakini umat nasrani.

Berbeda dengan Hari Ayah pada tahun-tahun sebelumnya di Jerman. Biasanya “Hari Ayah” yang juga disebut “Hari Para Lelaki” ini banyak menimbulkan “kegilaan” yang konyol dan lucu di Jerman. Kami bisa menyaksikan ini di biergarten, area publik atau tayangan televisi di berbagai tempat di Jerman. Begitulah para pria yang merayakannya bersama para pria lainnya. Sedangkan ide lain, mereka juga sibuk bersama keluarga di rumah karena hari ini adalah hari libur juga di Jerman. Suami saya sendiri sudah merancang virtual meeting yakni ngobrol dan minum bir bersama kolega kerjanya. Kami tetap di rumah saja untuk merayakannya bersama.

Virtual meeting merayakan Hari Ayah juga bisa menjadi ide buat saya yang menyampaikan ucapan pada ayah saya di Jakarta. Komunikasi memudahkan segalanya, termasuk saya menjadi tahu kapan Hari Ayah sendiri berlangsung di Indonesia. Apakah anda juga tahu soal ini?

Selamat berbahagia menjadi Ayah dan Para Pria di seluruh dunia!