Dua menara basilika tampak depan.
Interior dalam.

Domum tuam, Domine, decet sanctitudo” tulisan berbahasa Latin tersebut melengkapi keagungan Basilika Santo Mauritius. “RumahMu ya Tuhan, layak mendapat Kekudusan” demikian kurang lebih artinya. Kemegahan dan kekudusan tampak melingkupi suasana basilika yang terletak di Niederaltaich Bavaria, yang berpenduduk mayoritas katolik di Jerman. Sepertinya basilika ini memiliki sejarah tersendiri pada masanya, bahkan pada abad pertengahan saat gereja sedang mengalami reformasi di Eropa.

Basilika Santo Mauritius tercatat berdiri sejak seribu dua ratus tahun lalu, kemudian berkembang menjadi kompleks biara, pertapa dan pusat pengajaran pada tahun 1200-an. Basilika ini memang tampak mencolok bagi pengendara yang melintasi jalan raya Passau – Regensburg karena dua menara tinggi menjulang bergaya gothik. Berkat menara ini saya dan suami akhirnya bisa menyambangi bangunan bersejarah yang belum pernah saya tahu sebelumnya. Kebesaran Tuhan menuntun saya dan suami pada tempat persinggahan ziarah umat katolik abad pertengahan.

Gaya gothik pada arsitektur ini nampak jelas pada kedua menara basilika dengan loncengnya di kedua sisi. Meski begitu ini adalah bangunan asli yang sudah dibangun ratusan tahun lalu. Sepertinya perang tidak meluluhlantakkan basilika ini. Kemegahan di dalam tampak pada lukisan dinding interior gereja dan dekorasi rococo yang sempurna melengkapi indahnya basilika ini. Gaya rococo tampak dari tanaman palem merambat, yang biasanya melengkapi gaya arsitektur bangunan barok. Interior basilik seperti umumnya Dom Santo Stephanus, Passau yang letaknya tak jauh.

Dari samping.
Papan informasi tentang air mancur di belakang basilika.
Air mancur Santo Gunther.

Di luar gereja terdapat air mancur yang istimewa. Ini disebut “der Gunther Brunnen” atau air mancur Santo Gunther. Santo Gunther adalah seorang biarawan yang lahir dari keluarga bangsawan kaya raya di Jerman. Beliau meninggalkan warisan dan kehidupannya lalu memilih mengabdi Tuhan. Ia menghabiskan hidup di biara dekat basilika ini. Bahkan sisa hidupnya dihabiskan dengan bertapa di hutan Bavaria. Hidupnya banyak didedikasikan untuk pengajaran dan melayani orang miskin.

Air mancur dari perunggu dengan mangkuk di tengah memiliki arti. Ini merupakan lambang pembabtisan sebagaimana yang sudah dilakukan Santo Yohanes Pembabtis, yang dijadikan panutan Santo Guther. Namun ada juga yang berpendapat, kolam di air mancur berlambang ikan di muka air mancur.

Di situ ada ikan dan salib yang menghubungkan simbol Kristus, termasuk empat bagian yang menghiasi air mancur. Keseluruhan bagian air mancur memiliki arti dari hidup santo Gunther sebagai biarawan, pertapa, misionaris dan mediator perdamaian negara. Santo Gunther dikenal di Bohemia, Polandia dan Hungaria. Ia wafat di Ceko.

Have a blessed Sunday!