Lonceng depan kapel.
Pintu masuk kayu.
Masih di pintu masuk.

Kunjungan dari Basilika Santo Mauritius yang sudah diulas sebelumnya berlanjut ke gereja Santo Nikolaus yang letaknya masih dalam satu kompleks. Gereja ini tertutup dan memang dibuka hanya pada kesempatan tertentu. Saya sendiri tidak juga menjumpai gereja ini terbuka untuk umum. Saya hanya memotret kondisi luar dengan tampilan seni yang menawan.

Bangunan ini masih menjadi satu kompleks yang dulu menjadi biara dan pusat pengajaran terkemuka. Ada banyak pujangga gereja yang mengenal tempat ini dahulu. Kini lokasi ini sunyi dan sepi apalagi sejak 1980-an gereja Santo Nikolaus ini dibuka hanya pada kesempatan tertentu saja.

Saya berusaha mencari tahu tentang gereja ini. Rupanya ini adalah gereja Bizantium dari Timur. Dahulu sepertinya para biarawan gereja barat dan gereja timur bertemu untuk belajar dan berdialog bersama dalam payung oikumene yang harmonis. Suasana meditasi memang tepat disematkan di area ini. Mungkin ini dulu juga menjadi tempat mencari Tuhan dalam kesunyian dan keheningan.

Jam matahari, yang mengikuti pergerakan lama matahari bersinar.
Dari kejauhan.

Jika melihat lukisan di dinding luar gereja, tampak ini kekhasan gereja timur. Ini seperti yang pernah saya jumpai dalam gereja di Timur Tengah. Ada beberapa lonceng di halaman gereja, memanggil umatnya untuk datang padaNya.

Bangunan bergaya baroque ini tampak tak luas. Sisi lain, saya menemukan jam dinding. Jam dinding usia ratusan tahun tetapi masih berfungsi hingga sekarang. Apa itu jam matahari? Silahkan cek link yang ditautkan.

Konon biara ini menjadi biara terbesar di Bavaria, dimana beberapa pujangga gereja pernah belajar di sini seperti Santo Gunther yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Sempat ditinggalkan selama seratus tahun, kini biara ini dikelola oleh kelompok biarawan dari konggergasi Benediktin. Begitu hingga sekarang, tempat ini dikenal menjadi Biara Benediktin.

Selamat berhari Minggu!