Ilustrasi.

Konsep “die 5 Säulen der Identität” atau dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai lima pilar identitas diusung oleh Hilarion Petzold (1986). Petzold HG adalah seorang profesor psikologi klinis asal Jerman yang juga pendiri terapi integratif. Saya mengenal karya beliau lewat bahan bacaan psikologi spritualitas yang baru saja saya baca. Karena teori dan ulasannya menarik, saya bagikan pada anda sebagai dukungan untuk menjalani kehidupan yang seimbang dan melindungi diri dari stress.

Istilah “siapa saya?” sudah saya temukan dalam retret yang diselenggarakan pihak sekolah waktu saya duduk di sekolah katolik. Retret ini bertema “Who am I?” yang memang tepat untuk anak seusia saya pada saat itu yang sedang mengalami masa pencarian jati diri. Ide jati diri “siapa saya” ini yang juga diusung oleh Petzold dalam terapi integratif dengan harapan seseorang bisa mampu menemukan dirinya dan merasa puas dengan apa yang terjadi dalam hidupnya.

Terapi integratif sendiri memang mensyaratkan keunikan tiap orang dan situasi hidupnya. Misalnya, semua orang sedang mengalami krisis saat ini tetapi tiap orang bisa berbeda-beda dalam mengatasinya karena manusia itu unik. Keunikan tiap orang menentukan struktur kepribadian tiap orang, yang disebut citra diri, yang lain berpendapat identitas.

Identitas berasal dalam bahasa latin yang berarti kesatuan esensial yang mendefinisikan tentang seseorang mulai dari penampilan, ekspresi wajah, nilai yang dianut, kepercayaan, pekerjaan hingga pandangan hidup dan lain sebagainya. Terapi integratif memahami konsep identitas tiap orang itu dinamis seiring dengan perjalanan hidupnya. Intinya adalah “bagaimana saya melihat diri saya?” dan “bagaimana saya dilihat dari sesama saya?” dengan begitu seseorang tidak lagi mengalami krisis identitas yang menganggu.

Lalu apa saja pilar identitas yang diusung oleh Petzold?

5 Pilar identitas.

Pilar pertama, Tubuh Jasmani (=Körper und Gesundheit)

Pada pilar pertama ini adalah tentang bagaimana kita memandang diri secara fisik, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Apakah saya menerima diri saya seutuhnya? Bagaimana saya menerima penampilan saya? Bagaimana orang lain menilai penampilan fisik saya? Bagaimana kondisi kesehatan saya? Apakah saya termasuk orang sakit-sakitan, lemah dan sering mengeluh sakit ini atau itu? Bagaimana saya bisa menahan rasa sakit atau membentuk kondisi bugar?

Pilar kedua, Relasi sosial (=Soziale Beziehungen)

Pilar kedua adalah bagaimana saya berelasi dengan orang lain? Dalam lingkup keluarga, bagaimana saya membangun hubungan persaudaraan kakak atau adik? Lepas dari itu, bagaimana saya menciptakan relasi sosial pekerjaan? Ini termasuk bagaimana saya memiliki tanggungjawab sosial seperti bahwa saya bisa menjadi orang yang diandalkan. Atau saya malahan menjadi orang yang dimusuhi atau orang berbahaya bagi orang lain.

Pilar ketiga, Karir dan Kinerja (=Arbeit und Leistungsfähigkeit)

Pada pilar ketiga ini adalah bagaimana saya mengidentifikasikan diri melalui aktivitas yang ditekuni dalam hidup. Saya bisa dikenal lewat profesionalitas, kepandaian atau keahlian tertentu. Namun bukan berarti orang tak ahli, tak pandai dan tak profesional tidak masuk dalam pilar ini, melainkan pilar ini menentukan aktivitas yang dijalani seseorang dalam hidupnya. Mungkin saja ada orang yang dikenal lewat karirnya yang sukses tetapi ada juga orang yang dicap pemalas dan pengangguran. Aktivitas dan pekerjaan pun bisa menentukan identitas seseorang.

Pilar keempat, Keamanan Material (=Materielle Sicherheit)

Pilar keempat adalah bagaimana identitas seseorang pun ditentukan dari benda-benda yang membuatnya merasa aman. Itu bisa berbeda-beda bagi tiap orang seperti prioritas dalam hidup. Tak hanya uang yang memberi rasa aman, barangkali ada orang yang merasa pakaian dan makanan itu sebagai pemberi rasa aman. Yang lain misalnya merasa rumah sebagai pemberi rasa aman.

Pilar kelima, Pandangan Nilai dan Cita-cita (=Werte und Ideale)

Pilar terakhir ini menyangkut pada pandangan hidup, nilai-nilai yang dianut seseorang dan keyakinan seseorang. Ini bisa menjadi filosofi hidup atau prinsip dasar hidup. Ada yang mengkaitkan pilar ini dengan kepercayaan, agama, pandangan politik, nilai moral, tradisi dan cinta.

Kesimpulan

Di tengah krisis hidup yang melanda dunia ini, kita dihadapkan pada situasi yang bisa membuat krisis identitas. Lewat teori H. Petzol di atas, identitas diri yang seimbang dalam lima pilar harus kuat dan utuh. Misalkan krisis ini kita menjadi sakit atau kehilangan pekerjaan, maka mungkin pilar identitas kita pun menjadi rapuh. Lalu bagaimana kita membuat diri kita untuk menjadi kuat? Anggaplah 5 pilar tersebut adalah tiang yang pendiri rumah “identitas” kita. Bagaimana jika satu atau dua pilar rapuh tetapi kita bisa tetap kuat dengan pilar yang tersisa agar rumah “identitas” kita tetap berdiri tegak.