Begini Cara Pelajar di Jerman Isi Liburan Sekolah yang Menambah Uang Saku

Ilustrasi.

Liburan sekolah di musim panas sedang berlangsung. Tentu liburan menjadi hal yang ditunggu-tunggu bagi tiap pelajar dimana pun berada. Liburan adalah waktu yang tepat untuk rileks, tanpa beban studi dan melakukan aktivitas yang menyenangkan. Apakah aktivitas menyenangkan itu termasuk mengisi uang saku saat liburan? Ini yang akan menjadi ide liburan yang saya bahas selanjutnya.

Siapa pun senang bisa mendapatkan uang dan pengalaman saat liburan sekolah. Meski pekerjaan yang dikerjakan pun sesuai aturan yang ditetapkan pemerintah. Contoh kerja untuk anak usia 15 tahun seperti asisten penyortiran di kantor pos, loper koran ke rumah-rumah, membagikan brosur, asisten komputer dan sebagainya. Pekerjaan tersebutnya tentunya ringan, tidak menguras energi dan dilakukan tanpa tekanan psikologis. Seperti yang dilakukan anak kenalan saya di sini, ia bertutur bahwa anaknya berusia 15 tahun bekerja di tempat pencucian selama tiga minggu.

Contoh pekerjaan untuk para remaja yang sedang libur sekolah tentu menjadi ide menarik manakala anak remaja mulai dilatih mengenal dunia pekerjaan, mengelola uang gaji yang didapatnya hingga mengelola waktu bekerja yang berbeda ketimbang bersekolah. Saya yang mendengar kenalan saya ini bercerita tentang bekerja di sela liburan untuk anaknya, merasa terharu manakala saya berpikir semula anak remaja lelaki usia 15 tahun itu adalah anak manja. Ternyata Ardi belajar mandiri bangun pagi dan naik bus ke kota berbeda untuk mendapatkan pengalaman bekerja selama tiga minggu di tempat pencucian. Ardi sendiri mengaku senang karena pekerjaan itu tidak berat dan dia akan mendapatkan uang untuk membeli apa yang diimpikannya.

Ardi, (=bukan nama sebenarnya) nama anak remaja lelaki kenalan saya itu, mengisi liburan sekolah dengan bekerja selama tiga minggu. Gajinya sendiri bila dihitung dalam aturan kebijakan pemerintah di sini tidak terhitung penghasilan kena pajak. Karena Ardi masih dalam hitungan bimbingan orangtua, kontrak kerja pun harus melibatkan ijin orangtua. Di tempat kerjanya sendiri, Ardi mendapatkan jatah istirahat mirip seperti di sekolah.

Dari penelusuran informasi yang saya dapatkan dari Undang-Undang Perlindungan Pekerjaan untuk remaja saat liburan tertera aturan istirahat bekerja anak di bawah umur. Pekerja liburan yang bekerja antara empat setengah dan enam jam sehari berhak untuk beristirahat setidaknya 30 menit. Jika jam kerja harian melebihi enam jam, ada hak untuk istirahat 60 menit. Ardi bekerja mulai dari 8 pagi. Ia berangkat dengan bus yang terhitung paket “Schüler-Ferien-Ticket” yang cukup terjangkau. Di tiap negara bagian di Jerman memiliki aturan kebijakan transportasi umum untuk pelajar selama liburan dengan harga terjangkau.

Pengalaman Ardi ini membuat saya berpikir bahwa remaja di sini sudah dilatih untuk mengenali bagaimana bertanggungjawab terhadap dirinya dan dunia kerja. Meski hanya dalam waktu mingguan yang singkat, tetapi remaja memiliki pengalaman menarik lebih dari sekedar mendapatkan uang. Kenalan saya yang menjadi ibu dari Ardi bercerita bahwa ia juga tetap sibuk menyiapkan bekal makanan untuk dibawa Ardi selama bekerja dari Senin hingga Jumat.

Jika sebagian remaja seperti Ardi memilih liburan sekolah dengan berwisata, ternyata tersedia pilihan lain yang membuatnya mendapatkan pengalaman baru. Itu adalah pengalaman bekerja pertama kali, gaji pertama kali dan bagaimana suasana dunia pekerjaan itu sesungguhnya.

Ibu Ardi bercerita, pada akhirnya Adrian memahami untuk menghargai uang hasil jerih payahnya. Ardi juga belajar bahwa untuk mendapatkan “sesuatu yang diinginkan” ada proses, butuh “keringat” dan kerja. Ardi pun yang semula malas bangun pagi karena liburan, ia pun menjadi disiplin soal waktu.

Saat kami sibuk ngobrol soal pengalaman Ardi, tiba-tiba datang seorang remaja di dekat pagar rumah kami. Pemuda itu membawa sepeda dan berlembar-lembar koran dan brosur. Rupanya pemuda itu adalah teman sekolah Ardi. Mereka berbincang sebentar lalu pemuda itu bergegas meninggalkan kami. Ya, pemuda itu mengisi liburan sekolah dengan menjadi loper koran. Saya yang mendengar dan melihat itu merasa simpati dan positif bahwa sebenarnya ada banyak cara untuk menikmati liburan sekolah.

Saya yang masih terhitung belajar di kampus pun sudah mulai memasuki jeda liburan antar semester. Rupanya tak hanya mahasiswa saja punya pengalaman kerja tetapi para remaja yang masih bersekolah pun bisa. Oh ya, pekerjaan musim panas di saat liburan untuk mahasiswa bisa dicek di link ini.

5 Comments

    1. Di Indonesia mah banyak pak, cuma ini kerja liburan sekolah, bukan pekerja anak. Sistimnya mesti disiapkan dulu agar tidak disalahgunakan. Terimakasih sudah berkunjung.

      Like

    1. Apa yg romo sampaikan benar, bahwa memang peluang kerja di sini selalu ada. Cerita saya untuk memperkaya bagaimana isi liburan sekolah ala pelajar remaja di tempat tinggal saya sekarang. Tidak malu dengan apa pun yang dikerjakan, yang penting pengalaman itu begitu berharga bagi remaja.

      Terimakasih Mo sudah datang berkunjung🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.