Program Rak Buku Terbuka “öffentlicher Bücherschrank” yang mengubah bilik telepon umum jadi rak buku terbuka.
Petuah dari tokoh publik di taman kota.

8 September atau dua hari lalu diperingati sebagai Hari Literasi Internasional, yang dikenal juga International Literacy Day (ILD). Dalam pencarian dikatakan ILD sudah dilaksanakan sejak tahun 1967, dengan tujuan mempromosikan pentingnya literasi bagi keberlanjutan masyarakat melek aksara. Tahun ini tentu gaungnya berbeda karena kondisi pandemi yang masih berlangsung di seluruh dunia.

Mengingat literasi itu penting bagi kemajuan bangsa, tentu tiap negara punya berbagai program untuk meningkatkan keterampilan literasi sebagai dasar ilmu pengetahuan. Sebagaimana pernah saya ceritakan bagaimana pengalaman pentingnya literasi saya alami di Jerman, tempat tinggal saya sekarang. Ceritanya bisa dicek di sini.

Baru-baru ini saya melihat hal yang sama di negeri tetangga Jerman, Austria. Di kota Bad Ischl, saya mendapati pemandangan yang berbeda dari sebuah bilik telpon umum. Anda pun tahu bahwa bilik telpon umum sudah tak berfungsi lagi, artinya orang sudah beralih pada telpon genggam yang sifatnya lebih pribadi. Itu pemikiran sederhana saya saja.

Bisa jadi ini menjadi alasan mengubah bilik telpon umum menjadi rak buku terbuka. Rak buku terbuka adalah lemari untuk meletakkan buku-buku yang bisa dipinjamkan, ditukarkan atau diambil secara gratis. Tentu ini ada maksudnya, apalagi rak buku terbuka ini diletakkan di area terbuka, seperti pusat kota Bad Ischl.

Di kota berpenduduk sekitar 14 ribu ini, rak buku terbuka ini menjadi salah satu bentuk program masyarakat melek aksara yang bisa diakses siapa saja. Tak hanya warga setempat saja, kota ini juga kerap dipenuhi wisatawan. Kota kecil yang indah ini rupanya tempat bertemu Kaisar Franz Joseph I dari Austria dengan Permaisurinya Elizabeth, yang lebih dikenal dengan sebutan Sissi untuk pertama kalinya sebelum mereka menikah.

Bangku di taman kota.
Tinggal pilih buku, asyik.

Kembali ke soal program rak buku terbuka atau yang disebut “Öffentlicher Bücherschrank”, ternyata negara Austria telah menerapkannya di banyak kota lainnya. Gagasan ini bisa dikatakan semacam bookcrossing, pertukaran buku. Dimana dulu ide ini muncul di Jerman sekitar 1990-an agar masyarakat dapat mengakses buku-buku lebih banyak. Meski perpustakaan dan toko buku juga begitu mudah ditemukan, tetapi rak buku terbuka ini memungkinkan siapa saja secara gratis menikmati buku tanpa tujuan komersial.

Tak jauh dari “bilik pengisian buku” tersebut, saya menemukan berbagai kutipan menarik dari tokoh publik yang ditempelkan di bangku-bangku di ruang publik. Tentu ini ada maksudnya pula, meski sekedar kutipan saja. Sepertinya pemerintah di sini begitu giat juga mengajak masyarakatnya melek aksara.

Dari pengalaman berkunjung ke Bad Ischl, saya memetik ide yang bisa dicontoh. Tentu ini mengingatkan saya pada ILD yang baru saja berlangsung dua hari lalu, agar keterampilan literasi ini menopang keberlanjutan masyarakat di masa mendatang. Seperti kutipan yang pernah saya baca, scientia est potentia“, bagaimana kita bisa mengenal pengetahuan tanpa membaca dan menulis.

Cerita kunjungan ke Bad Ischl menyusul. Jadi, sudah berapa buku yang sudah anda baca selama berdiam di rumah?