Jamu: Dulu Minuman Tradisional Kini “Go International” yang Jadi Minuman Kemasan di Restoran Austria

Jamu yang dikemas dalam botol gelas dengan rasa herbal.
Rincian jamu dalam monitor harga restoran.

Siapa yang tak kenal jamu bagi orang Indonesia? Sebagai orang Indonesia tentu saja saya kenal. Mata saya langsung membelalak terkejut bahwa tersedia pilihan minuman bernama jamu. Jujur ini adalah pengalaman pertama kali saya menemukan jamu menjadi pilihan menu minuman di restoran di luar Indonesia. Oh ya, saya dan suami sedang memesan makan siang di suatu restoran di kota Linz, Austria. Kami bermaksud memesan makanan selera asia di sini. Tentang makanan yang kami pesan, diulas pada artikel selanjutnya.

Artikel ini lebih memfokuskan pada pengalaman saya minum jamu yang dulu saya kenal sebagai minuman tradisional. Sejak saya masih anak-anak, ibu saya yang berasal dari tanah Jawa sudah memperkenalkan jamu pada saya. Misalnya, saya saat masih balita enggan makan dan mengalami kondisi badan yang kurang sehat, selang berapa lama ibu saya sudah memberi jamu pada saya. Alhasil jamu yang saya kenal memang pahit tetapi saya mengalami khasiatnya yang luar biasa. Meski jamu terasa pahit, namun isian jamu sebagai minuman herbal tetap menjadi minuman favorit hingga saya beranjak dewasa.

Saya sendiri pernah menjadi pelanggan “Mbok” jamu gendong selama bertahun-tahun. Saya percaya saja minum jamu beras kencur atau kunyit asam tiap hari memberi manfaat baik untuk tubuh. Bagi saya, jamu sebagai minuman herbal bisa menjadi multivitamin yang berkhasiat melindungi tubuh dari sakit. Entah sugesti atau tidak, toh ingatan saya akan jamu begitu kuat.

Jamu yang sudah “Go International”.

Saya pun langsung memesan jamu yang jadi pilihan menu di restoran. Jamu yang dimaksud berisi minuman herbal yang terdiri atas air, madu, asam, kunyit, jahe, sereh, sari jeruk nipis. Semua kandungan ini terpampang jelas di monitor restoran sehingga pembeli bisa langsung tahu isian minuman yang dipesan. Sepertinya jamu yang saya pesan bukan racikan minuman “Mbok Jamu Gendong” melainkan botol gelas yang diproduksi secara khusus. Jika saya melihat kemasannya, maka minuman jamu diproduksi oleh industri minuman.

Langsung saja saya menyeruput jamu yang dipesan. Tampilannya kekinian dalam botol gelas kemasan dengan warna kuning kunyit tampak dominan. Warnanya yang fresh begitu juga rasanya menyegarkan asam manis. Kini jamu itu tidak berasa pahit lagi melainkan rasanya bisa digemari siapa saja, bahkan orang-orang yang tak mengenal jamu sebelumnya seperti saya sejak kecil. Jamu sudah mendunia.

Jamu adalah minuman yang kini dikenal tidak hanya orang Indonesia. Saya kagum bahwa minuman tradisional semasa saya kecil kini menjadi minuman “go international” yang dijumpai di benua Eropa. Jamu menjadi minuman kemasan tak kalah dengan minuman soft drink atau es teh misalnya.

Berdasarkan cerita pengalaman di atas, mungkin anda pernah menjumpai kesamaan pengalaman seperti saya di atas maka silahkan dibagikan di kolom komentar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.