Kesepian itu Mengancam dan Berbahaya Ternyata

Tema ‘kesepian’ yang diusung gereja yang baru-baru ini saya kunjungi.

Semula saya tak pernah percaya saat seseorang mengatakan bahwa ia begitu kesepian dalam hidupnya, karena saya berasal dari budaya kolektivisme yang selalu mengusung kebersamaan. Pada akhirnya saya paham bahwa kesepian itu mungkin terjadi saat kemajuan teknologi “mencuri” kebersamaan kita dan memilih sibuk sendiri. Kesepian bisa saja terjadi ketika budaya abai dan “tidak menjadi urusan saya” muncul seiring perubahan gaya hidup, sistim masyarakat, budaya dan berbagai faktor lainnya. Kesepian itu nyatanya ada di depan mata saya dan terlihat jelas dari sebagian yang saya kenal.

Kesepian itu ternyata dirasakan oleh seorang oma tua yang datang ke gereja ketika tak ada lagi kerabat atau keluarga yang mengunjungi. Kesepian juga melanda pria yang sibuk bekerja dan tak punya waktu untuk dirinya sendiri. Kesepian lain dirasakan pada seorang remaja usia belasan tahun yang hanya sibuk bersekolah, main hape dan games di rumah. Kesepian nyatanya terjadi pada siapa saja.

Saya pun akhirnya diingatkan kembali bahaya kesepian setelah baru-baru ini saya mengunjungi gereja dan membuat peringatan bahaya kesepian. Siapa pun bisa menuliskan pikiran dan perasaannya tentang kesepian, kemudian memasangnya di situ, yang disediakan gereja. Kesepian sekarang menjadi semakin berbahaya apalagi dunia pun sedang dilanda pandemi.

Refleksi kesepian yang saya temukan.

Studi yang dimuat dalam jurnal psikologi tahun lalu menyatakan bahwa kesepian itu berbahaya. Seseorang yang merasa kesepian itu memiliki risiko lima puluh persen kematian lebih tinggi ketimbang orang yang tidak merasa kesepian. Sebegitu bahayanya kesepian karena ancaman psikologis yang tidak disadari daripada orang yang hidup dalam hubungan sehat dengan orang lain.

Kesepian bisa berbahaya, mengapa? Dikatakan bahwa orang yang merasa kesepian akan merasa dirinya negatif dan pesimis sehingga menurunkan imunitas tubuh. Saat kekebalan tubuh menurun, bukan tidak mungkin begitu mudah terserang penyakit kronis dan risiko penyakit lainnya.

Saya pikir tema kesepian yang diangkat di gereja yang saya kunjungi tersebut adalah tepat, apalagi kondisi pandemi masih melanda dunia. Mungkin saja ada orang-orang di luar sana yang kesepian dan merasa sendiri menghadapi situasi pandemi. Bagaimana pun kita diingatkan kembali bahwa kesepian itu menjadi ancaman dunia saat ini. Sebagai sesama manusia, kita perlu meningkatkan hubungan sehat dan peduli pada sesama yang lain.

Kata kunci menangkal kesepian adalah solidaritas. Seberapa saya memiliki rasa solidaritas terhadap sesama saya yang membutuhkan perhatian, kontak sosial dan dukungan sosial.

4 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.