Berlin (1): Brandenburger Tor, Belajar dari Sang Arsitek yang Tak Pernah Belajar Arsitektur

Meski pandemi masih berlangsung, tempat ini tak pernah sepi untuk berfoto.
Ini disebut Quadriga dan menghadap ke timur.

Setiap turis yang datang ke Jerman senang menandai dirinya berfoto di depan Brandenburger Tor untuk menunjukkan keberadaannya. Begitu pendapat seorang kenalan kepada saya ketika dia mengetahui bahwa saya tinggal di Jerman. Akhirnya saya pun datang kedua kali ke Berlin hanya untuk berfoto di depan gerbang kebesaran Berlin ini. Yeah, tiba di Berlin dengan menandai diri di Brandenburger Tor.

Kunjungan kedua tanpa rencana ke Berlin ini dilakukan saat kondisi pandemi yang masih berlangsung di Jerman. Saya pun akhirnya tak banyak berpetualang di ibukota Jerman tersebut. Saya putuskan lain kali saya kembali ke Berlin untuk berwisata. Saya hanya mampir sebentar di beberapa tempat penting di Berlin, hanya untuk berfoto sebentar. Lagipula kondisi pandemi membuat kami tak nyaman untuk berwisata.

Salah satu tempat favorit wisatawan di Berlin adalah Brandenburger Tor yang menjadi lokasi pertama kami. Gerbang ini tidak hanya menarik dari sisi arsitektur saja, melainkan gerbang ini memiliki nilai historis yang besar bagi warga Jerman.

Brandenburger Tor juga menjadi simbol perdamaian bagi Eropa karena maksud dan tujuan pembangunannya pada abad 18 untuk mengakhiri perang pada masa itu. Itu sebab Brandenburger Tor juga dikenal warga Jerman sebagai Friedenstor (=gerbang perdamaian). Berbagai peristiwa sejarah biasanya tampak di sini. Malam hari tempat ini pun begitu indah diabadikan dengan lensa kamera. Lain kali, kami mungkin mendokumentasikannya saat malam hari.

Saya mendokumentasikannya dari dalam mobil.

Siapa pun datang ke Jerman memang tak lengkap tanpa berfoto di sini. Pejabat penting dunia pun senang mengambil latar belakang Brandenburger Tor saat berpidato. Di sini pula warga Jerman menandai pergantian tahun baru tiap tahun. Bahkan gerbang ini menjadi saksi bisu persatuan dua negara yang dikenal dulu sebagai Jerman Barat dan Jerman Timur itu.

Tiga puluh tahun sudah peristiwa bersatunya dua negara tersebut terlewati. Hal ini yang mendorong kami beberapa waktu lalu berkunjung ke Berlin, melihat kemeriahan perayaan tiga puluh tahun Jerman Bersatu. Sayangnya kondisi pandemi melanda dunia, termasuk Jerman sehingga kemeriahannya hanya tampak di media massa.

Brandenburger Tor dirancang bergaya arsitektur Neo-Classic pada abad 18 yang begitu populer pada masa itu di Eropa. Arsitek yang merancangnya bernama Carl Gotthard Langhans, seorang arsitek Jerman yang lahir di Polandia. Ia adalah orang kepercayaan kerajaan untuk membangun tempat-tempat penting, seperti Brandenburger Tor. Atas jasanya, kita masih bisa mendapati prasasti yang mengukir nama Herr Langhans di Berlin, tepatnya di Charlottenstraße 48.

Hal menariknya, Sang Arsitek tidak mengenyam pendidikan sebagai arsitek. Herr Langhans belajar di jurusan Hukum, Matematika dan Bahasa. Secara otodidak, dia dipercayai kerajaan merancang beberapa tempat di Berlin termasuk Brandenburger Tor. Ia wafat dan dimakamkan di tanah kelahirannya. Sedangkan perancang kedua yakni Johann Gottfried Schadow adalah pembuat Quadriga, bagian atas gerbang.

Apa yang dipetik dari kunjungan saya ke Brandenburger Tor? Banyak orang tidak tahu siapa orang yang membuat maha karya yang dikagumi dunia itu. Mereka hanya tahu bahwa gerbang indah ini dibangun oleh Raja Prussia, Frederric Wiliam II pada abad 18. Dan itu betul.

Saya mengambil sisi lain perjalanan mendokumentasikan Brandenburger Tor, yakni Sang Arsitek Herr Langhans. Setiap perjalanan selalu memberi pesan dalam hidup saya. Saya belajar darinya, bahwa siapa pun bisa meraih keberhasilan saat diberi tanggungjawab. Keberhasilan seseorang bisa ditentukan dengan kemauan untuk belajar, tidak pantang menyerah, tidak takut gagal, berani bertanggungjawab dan faktor-faktor lainnya.

Kita seharusnya tak perlu menjadi ahli saat kita diberi tanggungjawab. Tanggungjawab yang diberikan bisa jadi di luar pendidikan dan pengalaman kita, sepanjang kita mau belajar. Waktu akan membuktikan orang percaya bahwa kita bisa kok dan berhasil mewujudkannya. So, bagi anda sekarang yang sedang memulai hal baru diluar keahlian dan pendidikan, jangan pernah putus asa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.