Tiap musim punya kesenangan dan kesusahannya sendiri. Seperti musim dingin atau winter yang sekarang dihadapi oleh saya yang tinggal di Eropa dan sekitarnya. Bagi sebagian orang, ada yang begitu menantikan musim dingin sedangkan sebagian lagi lebih memilih agar musim dingin segera berlalu.

Malam hari di musim dingin begitu panjang. Bangun pagi untuk bekerja pun masih gelap, kemudian pulang kerja pun langit sudah gelap. Matahari kadang muncul, kadang tidak. Suhu dingin membuat malas untuk melakukan apa pun, padahal roda kehidupan harus berjalan normal. Demikian cerita awal seseorang berbagi kisah winterblues saat saya datang dalam seminar bertajuk psikologi.

Baca: Mengapa bulan Desember terasa melankolis

Biasanya saya harus bangun pagi untuk pergi ke kampus karena saya ada kelas pagi. Kini pembelajaran di kelas tidak ada, sehingga hanya buka komputer di rumah dan pembelajaran dilakukan digital. Saya mau bertemu teman di kafe terpaksa dibatalkan karena kondisi pandemi. Pekerjaan pun dilakukan work from home sehingga semua dilakukan di rumah. Akhirnya gangguan suasana hati pun menyerang saya. Begitu cerita lainnya yang menambah deretan panjang kasus winterdepression yang akhir-akhir ini dihadapi sebagian orang di luar sana.

Depresi tidak hanya terjadi karena situasi pandemi saja, tetapi juga musim dingin sudah memicu kecenderungan perubahan suasana hati yang tak beraturan, sulit tidur, nafsu makan bertambah atau berkurang dan sebagainya. Situasi ini rupanya termasuk dalam kategori Seasonal Affektive Disorder dimana gangguan ini muncul bergantung pada musim. Gangguan psikologis yang banyak dikeluhkan pada musim dingin itu pada akhirnya dinamai Depresi Musim Dingin atau winterdepression. Begitu jika saya menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia.

Saya sendiri baru mengetahuinya dari seminar yang baru-baru ini saya ikuti. Istilah ini dipublikasikan tahun 1984 oleh National Institute of Mental Health yang berasal dari negeri Paman Sam. Gangguan ini masuk dalam gangguan afektif musiman yang ditandai kecemasan berlebihan, nafsu makan bertambah/berkurang, pola tidur tak beraturan hingga perilaku yang mengancam berbahaya karena suasana emosional yang tak terkendali.

Apa yang jadi penyebabnya?

Waktu siang hari yang pendek bahkan matahari yang jarang muncul ternyata menjadi pemicu ketidakseimbangan untuk memproduksi hormon serotonin. Hormon ini memicu kebahagiaan karena ia berperan penting dalam memperbaiki suasana hati menjadi lebih baik.

Jadi anda bisa membayangkan bila kekurangan hormon serotonin? Ya, benar. Kurangnya hormon ini membuat suasana hati seseorang menjadi buruk. Anda bisa paham ‘kan sekarang bahwa alasan ini yang menjadi penyebab depresi di musim dingin. Pasalnya, tubuh hanya bisa memproduksi hormon kebahagiaan serotonin dengan bantuan cahaya.

Terapi cahaya, apa itu?

Setelah saya mendapatkan penjelasan tentang depresi di atas, saya juga menjadi mengerti bagaimana penanganan depresi secara profesional. Saya tidak akan menjelaskan secara rinci kepada anda soal penanganan profesional tetapi ada yang menarik untuk saya jelaskan di sini. Terapi cahaya atau dalam bahasa jerman disebut Lichttherapie. Jujur saya baru mengenal istilah itu di sini dalam menangani gangguan depresi.

Terapi cahaya dilakukan oleh ahli profesional agar dapat meningkat mood atau suasana hati menjadi lebih baik. Secara sederhana, prinsip terapi cahaya dimaksudkan untuk meningkatkan kadar serotonin dalam tubuh. Lampu yang digunakan memiliki intensitas cahaya yang jauh lebih tinggi daripada ruangan yang biasanya menyala.

Di Jerman ada rekomendasi ahli untuk bisa melakukan terapi cahaya ini sehingga depresi dapat teratasi dengan baik. Banyak juga orang yang mengalami depresi berhasil mengatasinya setelah menjalani program terapi cahaya selama beberapa waktu.

Terapi bergerak dan olahraga, apa lagi itu?

Setelah terapi cahaya, saya memaknai terapi berikutnya untuk mengatasi depresi adalah sport- und Bewegungstherapie (=dalam bahasa jerman). Terapi ini banyak dilakukan di negara-negara nordik. Sebagaimana anda tahu bahwa negara-negara nordik pun melalui musim winter yang tentunya lebih dingin ketimbang saya di Jerman. Salah satu cara mereka melalui musim winter dengan baik adalah tetap berolahraga.

Terapi ini dipublikasikan tahun 1921 sebagai alternatif medis. Orientasi dari terapi ini bukan pada hasil, melainkan proses. Ini bukan dimaksudkan seperti seorang atlit yang harus ahli, tetapi prosesnya bagaimana tubuh bergerak sesuai instruksi ahli.

Contohnya yang saya temukan dari orang-orang di sekitar saya di Jerman yang saya amati saat musim dingin adalah nordic walking atau jogging. Awalnya saya terkejut juga melihat mereka olahraga di saat suhu udara dingin dan bersalju. Ternyata, ini adalah upaya untuk membuat tubuh dan mental sehat.

Begitulah cerita saya memahami seminar yang baru saja saya dapatkan.