Ini 3 Pengertian Self Check-in Hotel yang Berbeda Berdasar Hasil Pengalaman Pribadi di 3 Negara

Pembatasan sosial akibat pandemi membuat semangat saya untuk menulis dan blogging tiap hari tidak surut. Meski sekarang ketentuan pembatasan sosial diperketat lagi di Jerman, namun ide menulis itu bisa datang dari mana saja. Sementara waktu, tak ada aktivitas traveling tetapi saya bisa mengumpulkan ide berdasarkan pengalaman self check in yang saya alami di 3 negara berbeda.

Self check-in itu kini merambah di berbagai tempat, seperti penginapan atau hotel yang saya alami. Hal ini bisa menjadi indikator kemajuan dunia pariwisata di masa mendatang. Artinya tamu hotel saja sudah dipersilakan untuk mandiri melakukan registrasi saat tiba di hotel pertama kali. Biasanya tugas memeriksa dokumen tamu dan mendaftarkan kamar penginapan adalah tugas resepsionis.

Dilansir dari berbagai sumber, pengertian self check-in di hotel itu bisa berarti dua hal. Pertama, tamu hotel tidak bertemu sama sekali dengan petugas jaga hotel atau karyawan di muka hotel yang biasa menyambut tamu. Selain menyambut tamu, tugas karyawan di muka hotel atau resepsionis seperti mengecek dokumen dan menyiapkan kamar tamu. Ini saya pun mengalaminya dengan cerita saya saat berada di Amsterdam, ibukota Belanda.

Baca: Pengalaman menginap hotel di Amsterdam tanpa resepsionis

Self check-in dalam pengertian pertama berarti tamu bisa mengakses kamar dengan menggunakan lock box, smart lock atau key pad. Nah, pengalaman kami pertama kali saat self check-in di hotel suites di pusat kota Amsterdam tersebut, kami harus mengunduh salah satu aplikasi kemudian mengikuti petunjuk yang diberikan petugas virtual via email tentang cara check-in pertama kali. Ketika saya ada kesulitan, saya hanya menelpon petugas tersebut. Done! Saya sudah bisa masuk ke kamar dan mendapatkan kuncinya.

Selama kami menginap, kami boleh meminta layanan kebersihan dan layanan sarapan pagi misalnya. Selebihnya kami tak pernah bertemu sama sekali dengan karyawan yang membersihkan kamar misalnya. Self check-in model seperti ini berarti tamu juga mandiri dan terampil sebagai turis seperti misalnya membutuhkan layanan informasi seputar wisata atau mengalami hal teknis lainnya.

Patung The Little Mermaid di Kopenhagen, Denmark.
Hamburg sebagai kota pelabuhan terkenal di Jerman.

Pengalaman kedua yang serupa kami alami adalah self check-in dengan menggunakan lock box yang tersedia di muka hotel. Ini pengalaman kami menginap di Hamburg yang juga letaknya strategis di pusat kota. Kami hanya berkomunikasi via elektronik mail (Email) saja dan mengikuti petunjuk yang diberikan seperti parkir mobil dan kode mendapatkan kunci kamar. Kami sama sekali tidak bertemu dengan karyawan hotel. Itu artinya, tamu melewati pendaftaran melalui karyawan di muka hotel (=resepsionis).

Kami benar-benar melakukan self check-in setelah mendapatkan konfirmasi kamar dan kode membuka box yang berisi kunci kamar. Box kunci tersedia di muka hotel sesuai petunjuk nomor kunci yang diberitahukan lewat E-mail sebelumnya. Untuk membuka box kunci, kita memutar angka sesuai informasi karyawan virtual hotel. Done, kami mendapatkan kunci kamar. Ini adalah sistim kepercayaan antara tamu dan pengelola hotel.

Lalu pengertian kedua self check-in adalah mendapatkan kunci atau akses dari karyawan hotel tetapi check-in dilakukan oleh tamu itu sendiri. Ini adalah pengalaman kami di Kopenhagen, Denmark. Kebetulan kami menginap di hotel pusat kota yang juga memiliki fasilitas beragam. Karyawan hotel di muka bertugas menyambut tamu yang datang, menjadi pemberi kunci elektronik, sumber informasi tamu misalnya saya bertanya soal parkir mobil dan mengadakan pembelian makanan, layanan sarapan, dan sebagainya.

Awalnya self check-in pada pengalaman ketiga itu seperti pengalaman pertama dan kedua. Ternyata itu berbeda. Kami diarahkan untuk mengisi kelengkapan administrasi di monitor di pintu masuk hotel seperti nama, paspor dan sebagainya yang dilakukan sendiri. Itu artinya tamu tetap bertemu dengan karyawan hotel, hanya saja proses check-in dilakukan oleh si tamu sendiri.

Begitulah pengalaman kami mengenai self check-in yang bisa jadi berbeda-beda sistimnya di tiap hotel itu sendiri. Ada yang benar-benar menghilangkan karyawan hotel sama sekali, ada yang tidak. Tamu hotel pun harus mandiri dan terbiasa mengurus kebutuhannya sendiri misalnya. Bukan tidak mungkin dunia pariwisata pun semakin berkembang ke arah sana?

Mungkin saja akan banyak posisi pekerjaan yang tidak lagi diperlukan di masa mendatang. Perkembangan kemajuan komunikasi dan teknologi telah memberi warna baru pariwisata. Ini adalah salah satu contoh. Contoh lain, menghilangkan tour guide dan menggantinya dengan audio berbagai bahasa secara otomatis. Lainnya misalnya penjualan tiket masuk tempat wisata melalui elektronik, tidak ada petugas tiket misalnya.

3 thoughts on “Ini 3 Pengertian Self Check-in Hotel yang Berbeda Berdasar Hasil Pengalaman Pribadi di 3 Negara

  1. The social restriction here in Nigeria isn’t quite serious but I guess covid 19 cases are rapidly increasing in Germany, right?
    Indeed, inspiration can come from anywhere. Great post 👍🏻. Good morning🧡

    Liked by 2 people

    1. Yes, it is true Anna. I think every country has the same problem to handle this pandemic. I didn’t do traveling but I thought I keep up blogging to inspire everyone doing positive activities such as blogging or doing hobbies.

      Keep doing good things and remain safe also in Nigeria! 🙂

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.