Ilustrasi.

Tiap Sabtu pada bulan Februari ini, saya akan menayangkan ulang (=reblog) artikel bertema MARRIAGE yang sudah ditayangkan sebelumnya.

Ini adalah reblog dari artikel yang sudah tayang pada tanggal 22 Februari 2015.


“Hey, stop it! Don’t be naughty like that!” seru seorang ibu muda memarahi anaknya saat saya dan suami sedang berjalan di pusat perbelanjaan di Jakarta. “Kamu itu jangan nakal! Nanti kamu jatuh bagaimana?” tambah ibu muda itu sekali lagi.

Tak lama dari situ, seorang pria paruh baya menghampiri ibu muda dan anak balita itu. Sepertinya pria ini adalah suami dan ayah dari anak putri yang baru saja dimarahi.

Menurut pengamatan saya, pasangan suami isteri tersebut adalah sama-sama orang Indonesia. Mereka menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua setelah bahasa Indonesia.

Wajarkah pasangan muda seperti yang saya lihat tersebut menanamkan bahasa asing kepada anak sedini mungkin?

Rupanya tren mengajarkan anak balita berbahasa asing juga dialami di negara Jerman yang memiliki bahasa ibu bukan bahasa Inggris. Bahasa Inggris salah satunya adalah bahasa asing yang mulai diajarkan kepada balita.

Banyak ibu-ibu yang mulai khawatir akan arus globalisasi dan berpikir untuk memberikan pengajaran tambahan bagi anak-anak yang masih balita untuk mengenal bahasa Inggris.

Fenomena ini bermunculan seiring dengan bertumbuhnya pernikahan campur, sama seperti yang dialami oleh beberapa kawan saya yang menikahi pria Jerman.

Ada pula beberapa penduduk migran yang bekerja dan menetap di Jerman yang kemudian memasukkan anak mereka untuk ikut kursus bahasa Inggris untuk balita.

Tulisan ini dimaksudkan mengingat arus globalisasi sekarang hampir mengancam bahasa Ibu yang sudah banyak terkontaminasi dengan bahasa asing dan menyisipkannya saat berkomunikasi dengan orang lain.

Ternyata dunia secara resmi melalui UNESCO pada 17 November 1999 mengumumkan adanya perayaan hari bahasa ibu internasional.

Hari bahasa ibu internasional diperingati sebagai upaya untuk mempromosikan keanekaragaman bahasa dan budaya di dunia. Kemudian untuk meningkatkan kesadaran akan multi bahasa dan budaya, hari bahasa ibu internasional diselenggarakan pada 21 Februari setiap tahunnya.

Saya jadi ingat ketika ada seorang Biarawati katolik yang pernah mengikuti konferensi internasional yang diselenggarakan oleh PBB. Di setiap sudut meja saat mereka sedang makan siang, terpampang tulisan bahwa jangan pernah malu untuk berbicara dengan menggunakan bahasa anda.

Besok pada tanggal 21 Februari dirayakan sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Hal ini penting untuk mempromosikan pentingnya keragaman bahasa di tengah kemajuan peradaban manusia. Bahasa ibu adalah identitas sosial yang mengawali kita membangun pengetahuan.

Mengikuti arus globalisasi boleh tetapi ingat bahwa bahasa ibu adalah bahasa pertama saat kita mengenal dunia pertama kali. Bahasa ibu adalah sumber kita mengenal pengetahuan pertama kali.

Selamat merayakan Hari Bahasa Ibu Internasional, teman!