Limbah Pakaian itu Lari Kemana?

Pernahkah berpikir kemana pakaian-pakaian anda berakhir jika anda tak suka lagi mengenakannya?

Lepas dari masalah donasi pakaian, kembali pada pertanyaan awal. Kemana pakaian anda berakhir? Pernahkah anda menghitung berapa banyak baju yang anda beli tiap bulan atau tiap tahun? Apakah pakaian-pakaian tersebut tersimpan di suatu tempat atau dimusnahkan?

Bayangkan jika miliaran orang di dunia membeli pakaian tiap tahun satu saja, lalu jika dikalkulasikan sekian tahun kemudian tentu ada banyak pakaian yang tersedia. Jika pakaian-pakaian tersebut sudah menjadi limbah, kemana dan apa yang dilakukan?

Pertanyaan ini muncul kala kami membahas isu ini bersama dengan warga Jerman, apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi limbah pakaian yang bertambah dari tahun ke tahun?

1. Revolusi pakaian

Ada pendapat untuk membuat revolusi pakaian. Semisal dengan kecanggihan teknologi bermunculan ide bahan material pakaian yang ramah lingkungan. Bahkan material pakaian ini bisa berakhir dengan baik untuk dimanfaatkan lagi. Anda bisa mencari tahu lebih jauh tentang nama jenis material yang digunakan hingga strategi pengolahannya. Namun ide ini baik juga untuk masa depan.

Seseorang dari kami berpendapat bahwa jenis material seperti ini mahal dan belum sepenuhnya diaplikasikan. Namun kembali lagi ide sudah ada, tinggal dikembangkan lagi sehingga lebih kaya dan mudah diterapkan. Dengan begitu, pakaian berjenis ini dikembangkan bisa membuat harga lebih murah.

Revolusi pakaian lainnya bisa terjadi dengan memodifikasi pakaian yang sudah ada sehingga menjadi pakaian yang tetap kekinian. Bukankah dengan begitu kita meminimalisir bahan baku dan memaksimalkan bahan yang ada.

Ide ini memang sudah bermunculan di dunia mode dan fashion mengingat pentingnya untuk menjaga bumi ini agar tetap lestari. Permerhati lingkungan sekaligus mode bekerjasama mewujudkan ide ini agar pakaian tetap terpakai dan tidak membuat pertambahan limbah pakaian.

2. Pengurangan permintaaan

Ketika ide di atas muncul, hal lain yang disampaikan adalah tentang permintaan. Bagaimana pun kita tahu ada pembelian pasti ada permintaan. Seyogyanya kita juga perlu bijak membelanjakan uang untuk kebutuhan sandang. Bukankah di tengah hidup modernitas muncul pula konsep simplisitas?

Melalui kampanye misalnya orang disadarkan tentang pentingnya merawat bumi dengan mengurangi limbah pakaian. Orang mulai disadarkan untuk lebih minimalis terhadap kebutuhan sandang. Kita bisa membeli baju sesuai kebutuhan, bukan keinginan semata. Seperti teman saya, dia bisa meminimalisir pembelian baju hanya 3 buah dalam 3 tahun misalnya.

Kesimpulan

Saat ini saya bisa melakukan cara dengan mengurangi pembelian pakaian dikarenakan toko pakaian di sini tutup selama beberapa waktu sesuai anjuran pemerintah. Kebutuhan sandang bukan kebutuhan pokok sehingga masih tidak diperkenankan beroperasional. Bila seseorang butuh pakaian yang urgent, bisa membeli pakaian di supermarket atau membelinya di toko online.

Hari Raya misalnya kerap dijadikan kesempatan untuk memakai pakaian baru. Saya tidak membeli pakaian di Hari Raya. Kita bisa juga mensiasati baju lama dengan penampilan yang baru. Dengan mengurangi pembelian, kita pun mengurangi limbah pakaian.

2 thoughts on “Limbah Pakaian itu Lari Kemana?

  1. Aah bener banget mba. Menjelang hari raya biasanya banyak banget diskon, model pakaian pun juga semakin beragam. Mulai dari blous, celana, rok dengan berbagai model, dan yang yang gak ketinggalan adalah mukena. Ibu saya yg termasuk tiap tahun ganti mukena sanpai numpuk 1 lemari hehe. Untunglah sekarang setiap beli baru, yg lama dikeluarkan begitu juga pakaian. Hanya saja untuk pakaian kerja agak sedikit boros ya hehe.

    Kalau pakaian di rumah juga gak terlalu banyak karena… daster yg sudah robek2 saja masih enak dipakai dan di eman-eman 😂 nyucinya gampang dan cepat kering. Kalau sudah usang bisa dipakai untuk lap lantai hehehe…

    Liked by 1 person

    1. Hallo mbak Chamomile,

      Ide limbah pakaian adalah topik diskusi saya dan beberapa mahasiswa di sini. Semula saya juga tidak berpikir soal itu. Pada akhirnya di Jerman saya melihat banyak dosen saya dan beberapa role model saya yang sudah berpikir tentang keberlanjutan dan hal-hal yang berkaitan dengan ramah lingkungan. Kemudian saya berpikir jika bukan dari saya, siapa lagi yg berpikir tentang bumi tercinta ini. Perempuan biasanya berpikir tentang mode dan fashion, tetapi pikirkan lagi apakah bahan-bahanya bisa didaur ulang, apakah saya benar-benar memerlukannya. Simple is also beautiful.

      Terimakasih ya sudah berkunjung. Selamat menjalankan ibadah puasa di sana!

      Salam,
      Anna

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.