Gila Belanja: Seberapa Sering Anda Berbelanja?

Iklan “Black Friday” sudah bertebaran di awal November hanya untuk mengingatkan fenomena sosial kebiasaan berbelanja. Meski situasi pandemi masih berlangsung tetapi kebiasaan berbelanja tidak akan surut. Pilihan berbelanja online dan pembayaran elektrik turut andil memudahkan orang masa kini berbelanja.

Jika dahulu saya menganggap orang pasti berbelanja saat menjelang hari raya, ternyata fenomena itu bertambah dengan program hari atau pekan khusus berbelanja seperti black friday yang digelar di Jerman pada 26 November ini.

Meski saya tidak termasuk ‘gila berbelanja’ saya senang mengamati keriuhan orang yang sibuk memilih barang dan membayarnya. Lalu muncul pertanyaan saya, mengapa mereka berbelanja? Apakah mereka membutuhkannya atau sekedar konformitas hari berbelanja?

Perilaku shopalholic mengacu pada aktivitas berbelanja berulang-ulang membeli di luar kebutuhan. Kebiasaan ini menyebabkan adiksi sehingga disebut juga sebagai shopping addiction dan perlu menjadi perhatian serius dalam hidup seseorang.

Sedangkan perilaku berbelanja impulsive itu berbeda dengan shopping addiction. Perilaku berbelanja impulsive lebih pada faktor pemicu eksternal seperti harga diskon atau barangnya yang dilihat begitu menarik sehingga Anda membeli tanpa kebutuhan dan di luar rencana.

Berbelanja sendiri bisa menjadi kesenangan tersendiri, di luar belanja kebutuhan bahan pokok harian. Namun berbelanja yang perlu mendapat perhatian dan dianggap sebagai gangguan perilaku bila kebiasaan berbelanja tidak bisa dihentikan. Kebiasaan ini disebut sebagai perilaku kompulsif, berulang-ulang.

Tentu saja ada dampaknya dari kebiasaan berbelanja yang tak sehat. Semua percaya bahwa berbelanja di luar kebutuhan dan tanpa rencana pengeluaran maka menimbulkan tagihan hutang, biaya hidup membengkak hingga masalah sosial.

Ada yang mengaitkan shopping addiction sebagai obsessive compulsive disorder karena perilaku berulang-ulang akibat pikiran belanja yang obsesif. Pendapat lain, kebiasaan berbelanja juga menyangkut mood disorders.

Pendapat lainnya adalah shopping addiction adalah akibat dari masalah mental yang dialami seseorang sehingga individu tersebut mendapatkan kesenangan atau mengatasi masalah yang dihadapinya seperti stress, kecemasan, kesepian dll dengan perilaku berbelanja. Andakah itu?

Bagaimana pun kebiasaan berbelanja yang menimbulkan adiksi bisa diatasi dengan berbagai pendekatan personal atau terapi perilaku. Apalagi kondisi pandemi seperti ini, seyogyanya kita perlu juga memikirkan interaksi sosial saat berbelanja. Meski kita bisa berbelanja online, pikirkan juga bahwa saat ini kita perlu mempertimbangkan dana darurat.

Bagaimana dengan Anda?

4 thoughts on “Gila Belanja: Seberapa Sering Anda Berbelanja?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.