Saharastaub: Ketika Langit Berwarna Oranye, Debu Sahara Dari Afrika?

Kota Munich dari atas. Kiri tampak langit berwarna oranye karena Saharastaub. Kanan tampak langit berwarna cerah di musim dingin bersalju.

Beberapa hari lalu langit di wilayah tempat tinggal kami berwarna oranye yang membuat saya terpesona. Wah, keren! Saya ambil foto, jepret sana sini. Saya tidak menyadari bahwa mobil saya penuh debu dan kotor.

Langit yang tampak merah dan oranye itu sebenarnya bukan sesuatu yang menakjubkan melainkan tontonan alam yang disebutkan Saharastaub. Ini terjadi belakangan hari ini di Bavaria, salah satu negara bagian di Jerman. Bahkan ini sudah diramalkan oleh komentator cuaca yang memberitahukannya di awal untuk antisipasi.

Saya sempat ngobrol dengan beberapa teman Indonesia di sebagian negara Eropa lainnya tentang hal ini. Mereka mengamini kejadian alam hujan debu Sahara ini, yang di Jerman disebut dalam Bahasa Jerman “Saharastaub” yang memang berasal dari gurun Sahara.

Awalnya saya takjub Gurun Sahara berada ribuan Kilometer jauhnya dari tempat tinggal kami. Gurun Sahara terletak di benua Afrika, kami tinggal di benua Eropa. Lebih tepatnya Gurun Sahara ada di bagian utara benua Afrika, tetapi mengapa debunya bisa sampai ke Eropa?

Saharastaub atau hujan debu Sahara bukan kejadian pertama. Bila kejadian alam ini masih terjadi di musim dingin nan bersalju, maka kejadian kontras tampak sekali antara warna putih salju dengan warna debu kemerah-merahan. Fenomena ini kemudian dikenali dengan istilah “Blutschnee” atau salju yang berdarah.

Dikutip dari situs National Geographic berbahasa Jerman dikatakan bahwa fenomena Saharastaub memang biasa terjadi ke Jerman melewati negara Prancis dan Marokko. Namun intensitas begitu kuat kemarin di Jerman bagian Selatan, area tempat tinggal kami, yang biasanya fenomena ini 10-15 tahun sekali.

Jika Saharastaub diiringi hujan maka tampak sekali bercak-bercak cokelat menempel di badan mobil. Intensitasnya begitu tinggi sehingga tidak tampak terlihat dari tahun-tahun sebelumnya dimana saya tidak menyadarinya. Konon ini terjadi tiap tahun, hanya baru-baru ini begitu kuat.

Dari bacaan saya yang lainnya dikatakan bahwa Saharastaub itu sesungguhnya tidak berbahaya dibandingkan polusi udara seperti asap knalpot atau asap pabrik industri. Pendapat lainnya menyebutkan debu pasir yang terkirim itu bagus juga untuk pupuk. Heh! Karena butirannya mengandung nutrisi untuk tanaman seperti kalsium, magnesium, besi dan fosfor.

Begitulah fenomena alam yang saya baru pelajari saat tinggal di Jerman. Dahulu saya tidak menyadarinya tetapi baru-baru ini tampak begitu kuat hujan debunya sehingga terlihat sekali di langit dan bercak-bercak di mobil. Itulah fenomena alam yang saya tidak ketahui saat dulu di Indonesia.