Kolak yang Manis Diterima Semua Lidah

Bulan ini begitu istimewa untuk saudara dan teman-teman saya di Indonesia yang menjalani ibadah puasa. Meski saya tidak menjalaninya, tetapi saya selalu ikut dalam keriaan tersebut. Seperti saya kerap menikmati makanan favorit tiap bulan Ramadhan yang dibuat oleh ibu saya di rumah atau membelinya di luar sebagai street foods.

Makanan favorit yang dimaksud adalah kolak. Entah mengapa saya suka sekali kolak sejak saya kecil. Keluarga saya paham bagaimana saya senang disajikan kolak. Isiannya ubi, pisang dan kolang-kaling sudah membuat saya bahagia menikmatinya. Sementara saya tidak punya kolang-kaling di Jerman, bukan berarti saya tidak membuatnya.

Kolak yang lebih lengkap bisa tersaji sesuai variasi seperti tapioca pearl atau yang disebut hiasan warna-warni dari tepung tapioka. Kadang ada pula yang memasukkan pumpkins ke dalam kolak. Apa pun itu isiannya, saya tetap suka kolak. Bagi saya rasa manis gula palem bercampur dengan santan jelas ini tiada duanya.

Teman asal Indonesia di Jerman pernah bereksperimen mengganti santan dengan susu untuk semangkuk kolak. Saya tidak bisa membayangkan rasanya. Meski orang-orang Caucasian seperti suami saya menyebut kolak, Indonesian’s Dessert tetapi rasa santan kelapa tidak bisa tergantikan.

Kolak ini menjadi media saya untuk bercerita dengan teman-teman asal Timur Tengah ketika mereka ingin tahu banyak soal Ramadhan di Indonesia. Teman-teman saya ini membawa segala kue dan manisan yang biasa disajikan selama Ramadhan. Saya pun berpartisipasi dengan menyediakan kolak yang mudah.

Baca: Kue-kue dari Timur Tengah selama Ramadhan

Saat saya membawakan kolak dalam acara pertukaran budaya, mereka suka. Ada yang berpendapat, kolak mirip dengan sajian mereka. Ya, itu mungkin. Lagi-lagi saya menjelaskan migrasi kuliner.

Saya pernah traveling ke Mesir dan tinggal selama seminggu di kapal wisata. Ada menu dessert khas Mesir yang serupa seperti kolak. Ada pisang, kolang-kaling, mutiara dari tepung tapioka dan juga manis. Rasanya mirip seperti kolak tetapi tidak berkuah.

Cerita dessert yang disajikan di Mesir mirip kolak bisa Anda lihat di link ini.

Begitulah kolak, yang bisa menjadi media untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia. Orang-orang suka kolak karena rasa manis dan bisa diterima semua lidah: vegan, vegetarian atau pemakan segala.

Apa cerita Anda soal kolak?