Mengapa Detox Media Sosial Itu Perlu?

Seorang kenalan memutuskan untuk berhenti dari media sosial karena dia berkonflik dengan kerabat lainnya saat saling berkirim komentar postingan. Kenalan lain menghentikan akun media sosialnya dan tidak lagi membagikan foto-foto dulu karena situasi pandemi yang melanda dunia.

Kebalikan dari dua teman tadi, kenalan lain berhasil mendapatkan penghasilan tambahan justru lewat media sosial. Keputusan penggunaan media sosial ada di tangan Anda sendiri. Saya sendiri sudah alert dengan media sosial sejak 2010, kemudian menuliskan berbagai opini saya tentang bermedia-sosial yang bijak.

Namun kali ini saya tak membahas itu, tetapi mengapa sesekali kita perlu detox media sosial atau kita rehat sejenak dari media sosial, jika itu memungkinkan dan Anda merasa lebih baik.

Alasan berikut bisa jadi pertimbangan:

1. Menurut Anda, media sosial itu berdampak negatif

Seperti ulasan di atas, media sosial memiliki dua sisi. Tak selamanya negatif, pun ada pula yang positif. Ada orang yang mendapatkan popularitas dari media sosial. Lainnya ada yang mendapatkan penghasilan dari media sosial. Sebaliknya, ada yang dapat makian, cemoohan, atau perundungan. Sisi lainnya yang paling apes adalah seseorang yang mendapatkan hukuman hanya karena tak tahu pengelolaan media sosial.

Anda sendiri bagaimana? Apakah Anda masih merasakan dampak positif seperti membaca berita, mengetahui perkembangan teman dan kerabat atau hal lainnya? Jika Anda begitu sulit menemukan hal positif, maka Anda bisa putuskan rehat sejenak.

2. Waktu Anda 24 jam lebih banyak dengan media sosial

Setiap orang punya waktu yang sama 24 jam, entah apa pun latar belakangnya atau siapa pun dia. Tidak ada orang yang kurang waktu atau lebih waktu. Semua sama. Ketika orang yang tak memanfaatkan media sosial, ternyata mereka lebih banyak habiskan waktu dengan aktivitas lainnya.

Bagaimana dengan Anda? Mulai bangun pagi hingga tidur malam, apakah Anda sibuk menghabiskan diri dengan media sosial? Atau Anda mungkin enghabiskan waktu khusus media sosial hanya di waktu tertentu seperti wiken atau hari libur. Jika waktu Anda lebih banyak untuk media sosial, pikirkan lagi, apakah ini saatnya detox media sosial?

3. Anda mengalami kecanduan

Candu dalam Bahasa Indonesia secara harafiah adalah getah kering pahit berwarna cokelat kekuning-kuningan yang diambil dari buah Papaver somniferum. Konon getah bernama candu ini bisa mengurangi rasa nyeri dan merangsang rasa kantuk serta menimbulkan rasa ketagihan bila kita sering menggunakannya.

Candu dalam pengertian lain adalah sesuatu yang menjadi kegemaran. Demikian pula jika media sosial sudah menjadi candu, saya pikir Anda berpikir ulang lagi. Apakah media sosial telah menjadi candu buat saya? Jika ya, pertimbangkan juga untuk detox media sosial sekarang juga.

4. Anda sulit membuat batasan

Pendapat lainnya adalah tentang pentingnya membuat batasan. Bisa jadi Anda selama ini tidak memiliki batasan sehingga Anda tak punya kendali atas hidup Anda, termasuk menggunakan media sosial. Batasan itu tentu membuat Anda menghargai waktu diri sendiri sama baiknya untuk orang lain dalam dunia nyata.

Saya lupa membaca di mana. Ada sebuah survei tentang dampak media sosial tahun 2014. Survei itu menyebutkan tentang 41% orang yang begitu sulit melepaskan ikatan dengan media sosial karena ketidakberhasilan membuat batasan. Menurut saya, batasan akan membuat kita memahami bahwa kita bisa hidup tanpa media sosial sebelum kita terlambat.

Kesimpulan

Jelaskan pada orang-orang terdekat jika Anda sedang membuat batasan di media sosial sehingga Anda tak perlu aktif lagi. Anda juga bisa sampaikan tujuan Anda, bahwa Anda perlu rehat sejenak. Bagaimana pun validasi yang sehat tidak datang dari orang yang Anda kenal dari penampilan atau kepemilikan di dunia maya. Anda hidup di dunia nyata.