Cendol: 1 Dari 50 Dessert di Dunia yang Patut Dicoba

Memasuki minggu terakhir dari Bulan Ramadhan, saya sajikan Cendol yang menjadi menu favorit saya bila saya berada di Indonesia. Cendol juga menjadi street foods yang cukup populer selama bulan puasa. Itu sebab saya menyajikan pada Anda berdasarkan pengalaman saya membuatnya sendiri di Jerman.

Seiring dengan berjamurnya Toko Asia di Jerman, termasuk supermarket terbesar di kota saya menyebabkan tidak ada kesulitan lagi menemukan bahan baku makanan-makanan Asia, termasuk bahan baku Cendol. Jika dulu saya hanya membelinya, kini saya harus membuatnya sendiri bila saya ingin.

Untuk membuat Cendol yang berbahan dasar tepung beras dan daun pandan, kini bisa saya dapatkan dalam satu paket tepung Cendol yang memudahkan siapa saja. Ikuti petunjuk pembuatannya, maka kita bisa dengan mudah menikmati semangkuk Cendol dengan tambahan gula merah dan santan kelapa.

Ngomong-ngomong soal Cendol, kenalan asal Asia seperti Thailand atau Vietnam pun mengenali Cendol dengan nama yang berbeda. Isiannya bisa bervariasi tetapi rasa dan tampilannya mirip. Cendol memilki variasi isian yang disesuaikan dengan selera pemesannya. Namun sausnya tetap santan dan gula merah.

Kata Cendol konon telah ditemukan pada abad 19 di sekitar Indonesia, Malaysia dan area Asia Tenggara. Sementara Indonesia pun menyebut Cendol dengan Dawet, yang serupa juga.

Dawet ini ditemukan dalam Manuskrip Serat Centhini pada abad 19, yang menyebut Dawet yang isiannya mirip seperti Cendol. Baik Cendol maupun Dawet merupakan street foods yang sudah melegenda sebagai Dessert.

Cendol dengan rasa manisnya bisa diterima di semua lidah. Cendol menjadi media budaya untuk memperkenalkan Asia Tenggara, terutama Indonesia yang kaya kuliner.

Saya senang berhasil membuatnya di sini dan mengenalkannya sebagai hidangan pencuci mulut. Semua suka cendol. Itu sebab pada tahun 2019 CNN menyebutkan Cendol masuk dalam 50 Desserts dunia terbaik.

Bagaimana pendapat Anda tentang Cendol?