Menjangkau Dunia dengan Whatsapp? Perhatikan Pula Etika

Kemudahan teknologi menjangkau berbagai belahan dunia tanpa mengenal jarak sudah kita rasakan bersama. Saya sendiri bersyukur teknologi membuat saya terhubung dengan keluarga dengan begitu mudah.

Saya begitu mudah menghubungi mereka kapan saja. Kalau dulu mungkin saya yang di Jerman menghubungi keluarga hanya bersurat atau hanya mendengarkan suara saja via telepon dan pastinya kedua media komunikasi tersebut, telepon dan surat membutuhkan biaya.

Sekarang keluarga saya bisa menghubungi saya kapan saja, lengkap melihat penampilan saya, tidak hanya suara saja. Semua kecanggihan teknologi ini gratis dan tidak ada pungutan biaya. Seperti aplikasi whatsapp yang biasa dipergunakan untuk menghubungi keluarga dan kenalan yang berjauhan lokasinya.

Di sini saya punya grup WhatsApp yang memang banyak dipergunakan sebagai komunikasi dalam komunitas di Jerman. Layanan yang cepat dan praktis membuat WhatsApp menurut berita yang saya baca telah menjangkau 75% dari populasi orang-orang Jerman. Itu artinya ada sekitar 58 juta estimasinya yang menggunakan WhatsApp.

Baca: Mengapa Kita Perlu Punya Etika di Media Sosial?

Selain praktis dan gratis, layanan Whatsapp pun disukai bagi sebagian besar orang Jerman sebagai Marketing. Jika dahulu nomor WhatsApp masih bersifat personal di sini, kini tidak lagi. Fitur-fitur yang menarik membuat banyak orang sering berkomunikasi via platform ini.

Namun ada satu hal yang juga tetap diperhatikan, etika. Sebagai media komunikasi, WhatsApp pun tetap mengacu sebagai media yang dijangkau siapa saja dalam kontak Anda. Semisal bagaimana Anda menuliskan status WhatsApp karena sejauh mana lingkaran orang-orang dalam kontak Anda bisa menjangkaunya.

Berita sebaliknya yang saya baca baru-baru ini adalah seorang baru saja kedapatan denda hanya karena memposting status WhatsApp yang tidak sesuai etika. Rupanya status WhatsApp yang dibagikan berisi ujaran kebencian yang tentu saja tidak bisa diterima siapa pun.

Bagaimana pun dibalik kecanggihan teknologi, etika tetap perlu diperhatikan sebagaimana yang pernah saya tulis di sini. Meskipun status itu tampak pribadi, tetapi status yang berisi ujaran kebencian, pornografi, pelecehan, intimidasi, dan sejenisnya tetap tidak dibenarkan.

Kembali lagi tanggung jawab media pun tetap diperhatikan sebagai etika siapa pun di mana pun. “Statusmu, Etikamu” mungkin bisa menjadi himbauan agar kita lebih bijak. Siapa sangka status WhatsApp pun bisa mendapatkan denda bila kita melakukannya di luar etika.

Bagaimana menurut Anda?