Toxic Positivity: Ketika Hal Positif Bisa Beracun

Hari ini adalah hari terburuk saya,” kata seorang teman A yang menggerutu.

Teman lain, B menyahut, “Bagaimana pun kamu harus tetap bersyukur!”

Teman yang menggerutu bingung bagaimana menyukuri hidup yang sudah jelas dia mengalami kegagalan pada hari itu. Tentu orang yang mendengarkannya bukan bersemangat dan berpikir positif tetapi justru menangis kebingungan. Apakah Anda pernah mengalami pengalaman seperti teman A atau teman B?

Semua orang di dunia ini sepakat bahwa berpikir positif itu penting. Namun bagaimana memberikan respon positif sehingga menjadi positif, bukan beracun maka itu lebih penting. Rupanya positivity yang menjadi toxic nyatanya sebagai tindakan menyangkal stres atau menolak pengalaman negatif.

Secara awam seperti saya tentu sulit membedakan mana yang benar-benar stimulus positif dan mana yang bukan. Kita berpikir keduanya terdengar sama. Padahal itu semua kembali kepada kapasitas diri bagaimana kita bisa mengelola suasana hati atas peristiwa yang baru saja kita alami.

Sebagian orang mungkin langsung bangkit saat dia mengalami hari terburuk. Sebagian lagi butuh waktu lama untuk menerima keadaan tersebut dan mengelola emosi mereka. Nah, kelompok terakhir ini justru berbahaya ketika menerima stimulus positif tiba-tiba dan tidak tepat sehingga menjadi kondisi yang beracun.

Bayangkan ketika seseorang menggerutu dan berpendapat bahwa “Pekerjaan ini menyebalkan.” Kemudian teman lain merespon “Kamu beruntung dengan pekerjaan itu.” Lalu bagaimana reaksi teman yang menggerutu itu?

Itu benar-benar terjadi pada seorang teman yang tidak menyukai pekerjaannya sebagai guru TK. Bagaimana setiap hari dia harus mengubah mimik mukanya yang serius menjadi tersenyum setiap saat berhadapan dengan anak-anak TK? Bagaimana dia yang tak suka berbicara terpaksa harus mendongeng dan mengajar di kelas?

Lalu saat dia menggerutu, temannya menyahut bahwa dia harus bersyukur mendapatkan pekerjaan di negeri perantauan. Padahal teman yang menggerutu ini punya alasan mengapa dia berpendapat pekerjaan itu menyebalkan. Teman yang menggerutu tak bisa mengubah karakternya untuk bekerja bersama anak-anak dan selalu ceria setiap saat. Sementara teman lain merespon positif tanpa mengetahui alasannya.

Bagaimana pun hidup dipenuhi dua sisi. Ada saat tertawa, ada saat menangis. Ada saat positif, ada saat pula negatif karena itu adalah emosi manusia secara naluriah.

Suatu studi menujukkan bahwa positive reappraisal tidak tepat digunakan bila identitas kita terancam. Jelas-jelas teman yang mengeluh pekerjaannya itu ingin bekerja sesuai kepribadiannya yang introvert.

Sebaiknya kita perlu tahu dulu bagaimana bisa membantu memberi respon positif agar tidak terdengar seperti “racun” yang membuat pendengarnya tak nyaman.

Anda sendiri bagaimana?