CERPEN (67): Mengapa Kita Sulit Melupakan Orang itu?

 

Ini adalah Reblog dari artikel berjudul sama yang sudah ditayangkan pada 25 Januari 2015.


Seorang Murid yang punya kenangan masa lalu datang kepada Guru Bijak.

Guru, mengapa aku sulit sekali melupakannya?” tanya Murid cemas kepada Gurunya yang sedang memperbaiki pagar di suatu sore hari.

Ambillah paku ini dan tancapkan pada pagar itu!” perintah Guru kepada Murid itu.

Ia pun melakukan seperti yang dilakukan oleh Guru. Ia memaku dengan palu pada pagar yang rusak itu. Ia memaku kuat-kuat. Dalam hati Murid tak mengerti mengapa Ia mesti melakukan itu. Mungkin setelah memperbaiki pagar, Guru akan menjawab pertanyannya, pikir Murid sekali lagi.

Sudah, Guru!” seru Murid sambil ia menunjukkan hasil kerjanya pada Guru.

Sekarang aku minta kau cabut paku itu dari pagar itu” perintah Guru sekali lagi.

Hah! Apa yang Guru maksudkan? Aku mencabut lagi paku itu?” tanya Murid keheranan.

Guru hanya mengangguk dan pergi meninggalkan Murid. Sementara Murid hanya melongo tak mengerti. Dia berusaha mencabut paku itu kembali.

Kini Murid itu menghampiri Guru yang sedang minum teh untuk menunjukkan pekerjannya.

Ia membawa paku itu dan berhasil mencabutnya dari papan pagar.

Ia berusaha sekuat tenaga dan memerlukan waktu seperti yang diminta Guru.

Lihat, Guru! Aku telah mendapatkan paku tadi.” kata Murid.

Buanglah paku tak berguna itu!” perintah Guru.

Murid pun melakukan hal yang diperintahkan Guru.

Kaitkan pengalamanmu tadi dengan pertanyaanmu, mengapa sulit melupakan orang itu?” seru Guru sekali lagi.

Murid pun diam sesaat dan berpikir.

Dia berkata “Mengapa kita sulit melupakan orang itu? Karena mereka telah menancap di hati sehingga untuk mencabutnya pun, kita memerlukan waktu. Meski kita telah berhasil membuang kenangan bersama orang itu, tetapi mungkin luka yang ditandai lubang paku itu masih tertancap di sana. Mungkin kita tak bisa melupakan orang itu karena kenangan bersama dia begitu menyentuh bahkan bisa jadi hingga luka batin meski kita berhasil membuang semuanya. Luka itu masih ada.

Guru termangut mendengarnya dan menambahkan.

Guru berkata “Nak, apa yang kau kerjakan itu adalah pengalaman dan itu yang kau dapatkan pada akhirnya. Meski pagar itu bisa diperbaiki kembali, tapi tak ada yang bisa mengembalikannya seperti semula saat belum rusak. Keindahannya tentu berbeda antara sebelum rusak dan sesudah rusak. Kini perbaikilah relasimu kembali, meski tak seindah dulu lagi.


Ada banyak orang yang masih melekat dalam sanubari kita, meski orang tersebut telah tiada atau entah di mana mereka berada saat ini.

Mereka telah menyentuh kita dengan pengalaman manis atau pahit. Satu hal mereka telah mengubah kita secara tidak langsung. Toh, Anda masih terus memikirkannya.

I have learned that people will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel (Maya Angelou)