CERPEN (68): Seberapa Tinggi Kita Bermimpi

 

Ini adalah Reblog dari artikel berjudul sama yang sudah terbit pada 23 Januari 2015.


Ada dua orang murid bertanya kepada gurunya tentang impian. Mereka berdua memperdebatkan seberapa tinggi mimpi harus kita raih dalam hidup. Mereka sepakat untuk mencari tahu kepada Guru Bijak.

“Wahai Guru Bijak, kami berdua bingung tentang maksud bermimpi yang guru utarakan tempo lalu. Guru mengatakan bahwa tidak ada mimpi yang terlalu besar dan tidak ada pemimpi yang terlalu kecil. Apa maksud Guru sebenarnya?” tanya Murid Pertama yang penasaran dengan jawaban Guru.

“Berpeganglah pada mimpimu!” sahut Guru singkat.

“Sungguh aku tak mengerti maksud Guru,” imbuh Murid Pertama yang semakin penasaran.

“Begini saja Kakak, kita buktikan omongan guru dengan tindakan. Bagaimana jika kita sekarang membuat impian kita menjadi nyata? Semakin banyak berpikir, seorang pemimpi tak pernah mendapatkan impiannya. Jika kita terus melangkah dan mencoba niscaya impian kita akan berhasil,” kata Murid Kedua yang menenangkan Murid Pertama.

“Baiklah, aku setuju. Aku bermimpi sepuluh tahun lagi, aku memiliki sepuluh kerbau dan sepuluh ayam” kata Murid pertama optimis.

“Kakak, mengapa kau bermimpi hanya sepuluh kerbau dan sepuluh ayam? Bukankah kau kini sudah memiliki satu kerbau dan satu ayam? Tidakkah mimpimu terlalu mudah?” tanya Murid Kedua.

“Sudah, jangan banyak cakap! Itu mimpiku. Karena cuma itu yang aku pikir bisa aku lakukan sepuluh tahun ini. Mana mimpimu?” hardik Murid Pertama.

“Mimpiku adalah memiliki 100 kerbau dan 100 ayam!” serunya kepada Murid Pertama.

“Hah! Sudah gila kau? Saat ini saja kau tak memiliki satu pun. Bagaimana kau bisa buktikan bahwa mimpimu terwujud?” tanya Murid Pertama meyakinkan.

Sementara Guru Bijak di hadapan mereka tetap bermeditasi, mendengarkan percakapan kedua muridnya.

“Aku tahu Kakak ragu dengan mimpiku tetapi aku yakin pada mimpiku. Bukankah setiap hal di alam raya ini memberi petunjuk untuk mendapatkan mimpi?” kata Murid Kedua demikian meyakinkan.

Murid Pertama menepuk bahu Murid Kedua sambil berkata, “Aku cuma mau sampaikan bahwa berhati-hatilah dalam bermimpi yang terlalu tinggi, kelak kau akan jatuh.”

Mereka pun tertegun satu sama lain lalu berpisah setelah mereka sepakat akan bertemu sepuluh tahun lagi menghadap Guru Bijak.

Sepuluh tahun kemudian.

“Wah, aku kedatangan murid lama yang sepuluh tahun tak bertemu. Mari kita rayakan dengan jamuan makan besar,” seru Guru Bijak kepada Murid Pertama.

Murid Pertama datang membawa kereta kuda. Ia mengenakan pakaian bersih dan wangi. Ia menyambut ajakan Guru Bijak untuk datang di meja jamuan.

“Guru, sepuluh tahun lalu aku datang bersama adikku untuk bertanya seberapa tinggi kita mesti bermimpi. Lalu aku dan adikku berpisah sepuluh tahun lamanya dan berjanji bertemu kembali disini menjumpai Guru,” kata Murid Pertama menjelaskan maksud kedatangannya kepada Guru.

“Sambil menunggu adikku, aku hanya ingin bercerita bahwa aku telah berhasil mendapatkan mimpiku. Aku kini memiliki kerbau dan ayam, masing-masing sepuluh seperti yang aku impikan dulu” tegas Murid Pertama menjelaskan pada Guru Bijak.

Guru yang mendengarkan pernyataan Murid Pertama termangut-mangut. Sementara Murid Pertama bercerita, datanglah Murid Kedua ke hadapan mereka. Ia berpakaian layaknya pangeran. Semua terlihat mahal dengan benang sulaman terbuat dari emas dan perak. Ia duduk menghampiri Murid Pertama diam-diam sambil menyimak pembicaraan itu.

“Nah, kini giliran Murid Kedua akan bercerita pengalamannya meraih mimpi” tunjuk Murid Pertama kepada Murid Kedua.

Murid Kedua tertunduk malu menyetujui permintaan Kakaknya bercerita pada Guru.

“Guru, aku paham bahwa meraih mimpi itu tidak mudah. Seberapa tinggi meraih mimpi, yang kutahu hanya tetap berpegang pada mimpiku. Sepuluh tahun lalu aku tak punya apa-apa. Aku bermimpi suatu saat akan memiliki seratus kerbau dan seratus ayam. Di tahun ke-delapan perjuangan mimpiku, aku menjual 10 kerbau yang cuma itu aku miliki kepada seorang pembeli karena aku tak sanggup lagi bertahan hidup. Rupanya pembeli adalah seorang peternak kaya raya dan segera membeli dengan harga mahal karena kerbau milikku adalah kerbau yang sehat dan tak berpenyakitan. Diundangnya aku ke rumah si pembeli. Di sana aku bertemu dengan puteri semata wayangnya lalu kami jatuh cinta. Kami pun menikah dan saya akhirnya bertanggungjawab mengurus peternakan kerbau dan ayam miliknya. Kini saya tidak hanya memiliki sepuluh kerbau saja tetapi saya memiliki delapan puluh kerbau dan sembilan puluh ayam” serunya terbata-bata menceritakan pengalaman hidupnya.

Murid Kedua melanjutkan lagi, “Guru benar. Bermimpi bukan karena khayalan tetapi keyakinan. Segala sesuatu itu mungkin jika kita terus berjuang. Bermimpi itu melakukan aksi. Meski saya tidak mendapatkan seratus persen yang saya kehendaki, seratus kerbau dan seratus ayam tetapi sepuluh tahun kemudian saya berhasil mendapatkan apa yang saya butuhkan, menjadi seorang Peternak. Bermimpi setinggi-tingginya agar energi yang kita keluarkan juga sebanding. Mimpi yang besar tentu memerlukan energi besar. Bukankah Tuhan akan membalas perbuatan kita? Bukankah alam raya mendorong kita setimpal dengan energi yang kita keluarkan?” kata Murid Kedua menambahkannya.

Guru Bijak hanya termangut-mangut menyimak Murid Kedua.

***

Jadi apakah kita masih bermimpi kecil? Untuk sebuah impian besar diperlukan energi yang besar pula. Siapkah kita?