Menikmati Kegagalan, Belajar dari Red Velvet Cake

Niat mau buat redvelvet cake jadi chocolate cake.

Dalam eksperimen di dapur saya, terkadang ada keberhasilan tetapi banyak pula kegagalan. Pada dasarnya saya tak ahli meracik resep masakan. Namun pengalaman adalah guru terbaik. Seperti cerita resep kue berikut yang semula saya ingin membuat kue Red Velvet Cake, apa daya kue tetap berwarna cokelat sehingga menjadi kue cokelat.

Saya pikir sesekali saya tuliskan juga pengalaman kegagalan dan mengambil pelajarannya sehingga Anda bisa tahu bahwa hidup tak selalu menawarkan keberhasilan. Saya sudah mencoba beberapa kali dengan resep yang sama, tetapi entah mungkin saya memang tidak beruntung. Mungkin Anda berpendapat, mengapa tidak saya mencoba resep lainnya.

Seperti yang Anda lihat, saya memasukkan perwarna merah untuk makanan dalam tampilan bahan-bahan yang diperlukan. Saya mengikuti cara-caranya dengan baik seperti foto-foto yang disertakan. Lantas, apa yang terjadi tidak sesuai harapan?

Bahan yang diperlukan.

Apa yang membuat warna merah kue tidak muncul? Apakah saya memakai warna merah yang salah? Atau apakah saya terlalu banyak memasukkan bubuk kakao? Atau adakah yang salah dari langkah-langkah yang saya siapkan sebelumnya?

Pertanyaan itu muncul dalam kepala saya bahwa terkadang apa yang diinginkan tidak seperti kenyataannya. Ada yang berbeda di sini. Ada yang harus direviu di sini. Ada yang perlu dikaji agar prosesnya tidak berulang.

Saya membuat eksperimen kue red velvet dua kali dengan resep yang sama. Padahal jika ingin hasil berbeda, saya perlu menggunakan cara atau resep yang berbeda. Akhirnya saya menemukan pesan dari kegagalan membuat kue ini.

Pertama, kadang kita bertahan pada sesuatu yang bisa jadi itu salah. Lalu untuk mendapatkan kebenaran, ya kita yang harus berubah. Gunakan resep atau cara lain mungkin.

Kedua, menerima kegagalan sebagai sesuatu yang baru untuk dinikmati. Semula saya ingin buat kue red velvet, pada akhirnya saya tambahkan ini dan itu sebagai dekorasi. Tentang rasa kue, kue ini tetap terasa lezat meski ini bukan kue yang diharapkan.

Menikmati kegagalan bukan hal yang mudah. Saya berupaya menghiasi “kegagalan” agar bisa tetap diterima di lidah (=indera pengecapan) dan mata (=indera penglihatan). Mengapa kita harus memuji keberhasilan dan mencampakkan kegagalan? Itu hukum alam.

Percayalah, hidup ini tidak selalu menawarkan keberhasilan. Ada ribuan trial-eror untuk mendapatkan satu keberhasilan yang fantastis. Nikmati kegagalan dan belajarlah daripadanya.