Telefonseelsorge: Ketika Orang Peduli terhadap Masalah Orang Lain

Tak ada yang bisa menebak jalan kehidupan, termasuk saat kita dilanda masalah. Ini pula yang terjadi di Jerman ketika ada layanan Telefonseelsorge atau semacam “crisis hotline” atau di Inggris menyebutnya “Telephone Emergency Services”. Lebih tepatnya ini adalah bantuan telepon untuk mengatasi krisis dan permasalahan yang sedang dihadapi.

Telefonseelsorge ini merupan layanan darurat kemanusiaan yang terdiri atas para relawan dan bersedia membantu untuk mendengarkan keluh kesah yang dihadapi seseorang.

Ide ini bermula di negeri Paman Sam pada abad ke-19 ketika muncul banyak kasus-kasus bunuh diri di kota-kota besar kemudian layanan ini merambah menjadi bagian dari layanan pastoral gereja-gereja pada masa itu, hingga ke Jerman dan negara-negara tetangga.

Latar belakang histori ini rupanya menjadi landasan kuat kemanusiaan orang-orang yang peduli ke sesama yang memerlukannya bahkan hingga sekarang di Jerman, disebut dengan Telefonseelsorge.

Layanan Telefonseelsorge di Jerman terhubung dalam 100 jaringan telepon yang melayani panggilan darurat krisis kemanusiaan itu. Wow!

Berdasarkan majalah berbahasa Jerman di tahun ini yang saya baca menyebutkan bahwa ada 7700 laki-laki dan perempuan yang menjadi relawan dan bersedia membantu lewat layanan telepon darurat ini. Jadi layanan ini lebih didasari nilai solidaritas untuk membantu sesama lainnya.

Layanan telepon darurat ini gratis. Dukungan dana berasal dari donatur, lembaga bantuan kemanusiaan dan juga kas gereja-gereja di Jerman.

Saya sendiri pernah mengecek layanan ini tersedia juga dalam Bahasa Inggris dan beberapa bahasa mayoritas berdasarkan jumlah kasus yang masuk.

Bagaimana dengan Indonesia? Sependek ingatan saya dulu ada berbagai program telepon yang disesuaikan kebutuhan kemanusiaan.

Misalnya ada TESA, Telepon Sahabat Anak karena dulu saya pernah bekerja untuk kesejahteraan anak sehingga nomor telepon ini saya ingat.

Lainnya adalah telepon untuk pengaduan kasus kekerasan terhadap perempuan yang pernah saya dengar langsung disediakan oleh Kementerian.

Nah, bagaimana dengan telepon darurat untuk Helplines Emergency? Ada LISA (=Love Inside Suicide Awareness) di Indonesia yang mungkin belum banyak terdengar informasi ini.

Sementara Telefonseelsorge ini tersedia hampir di tiap Kota di Jerman dengan jaringan layanan 100 titik. Atas dasar kemanusiaan, kita diingatkan betapa rapuhnya kita sehingga kita perlu seseorang untuk berkeluh-kesah.

Bagaimana menurut Anda?