Mengapa Kita Suka Menonton Film Horor?

Nuansa Hallowen di supermarket di Jerman mulai terasa sejak dua bulan lalu. Berbagai pernak-pernik dekorasi rumah yang aneh, menyeramkan, konyol hingga tampak tak masuk akal tersedia dengan mudah sesuai selera.

Meski Halloween sendiri bukan menjadi bagian tradisi di sini tetapi modernitas dan gaya hidup mempengaruhi berbagai kalangan. Ada yang mengikutinya dan menempatkan dekorasi Hallowen di luar rumah sehingga terlihat, tetapi ada pula yang mengenakannya untuk acara Hallowen itu sendiri.

Ngomong-ngomong soal Hallowen tentu tidak jauh dari Film bergenre horor itu. Sebagian teman yang saya kenal kerap membicarakan film horor yang baru ditontonnya. Bagi saya yang tidak tertarik, cukup mendengarkannya saja.

Kala demam film horor terjadi, saya tetap bergeming untuk tidak menontonnya. Kepindahan saya di Jerman begitu membahagiakan karena film yang ditayangkan umumnya masuk akal. Kebetulan saya tidak mendapati film-film horor ala Indonesia di Jerman.

Saya pun kadang tergelitik mencari tahu, mengapa sebagian orang suka sekali menonton film horor? Tentu saja saya bertanya pendapat mereka sekaligus mencari informasi lain, apa iya demikian faktanya?

Film horor umumnya memiliki plot yang mirip yakni penuh misteri yang menggali ketegangan penontonnya dan juga secara emosional digambarkan sosok yang gelap, darah, tampak tidak tidak masuk akal. Musik pengiring pun mempengaruhi ketegangan penonton yang menyaksikannya.

Itu baru secara psikologis ditangkap dari sudut pandang penontonnya. Bagaimana dengan jenis film horor itu sendiri?

Konon ada empat tipe film horor pada umumnya antara lain:

1. Gore Watching: film ini biasanya mencari perhatian penontonnya sehingga menurunkan empati penonton seperti film pembunuhan misalnya. Biasanya ditekankan pada pelaku/aktor dari peristiwa menyeramkan itu.

2. Thrill Watching: film horor berikut kebalikan dari Gore Watching. Film ini memusatkan pada si korban. Tentu penonton diajak meningkatkan konsentrasi dan empatinya pada korban.

3. Independent Watching: film horor berikutnya adalah bermaksud untuk menaikkan empati, seolah-olah kita terbawa dalam suasana di film tersebut. Film ini juga berhasil menggiring penontonnya ketakutan.

4. Problem Watching: film horor jenis ini lebih menekankan pada emosi negatif dari ketidakberdayaan dari situasi yang ditayangkan. Film ini sukses menawarkan solusi dengan ending-nya yang tidak membuat penonton penasaran.

Film horor biasanya membuat penontonnya menjadi terbiasa sehingga menjadi Film favorit. Di sisi lain ada orang-orang yang sukses menghindari Film horor dan memilih jenis film lainnya.

Kira-kira apa alasan Anda suka atau tidak suka menonton film horor?