Kapan Sebaiknya Mencari Makna Hidup?

Tinggal di Jerman membuat saya bertemu dengan orang berbagai bangsa dan bertukar pikiran yang menambah wawasan. Kadang saya membaca koran online atau surat kabar hanya ingin tahu bagaimana orang-orang di sini berpendapat.

Salah satunya adalah makna hidup. Beberapa bulan lalu saya menghadiri undangan keluarga di mana salah seorang kerabat suami berusia 90 tahun. Sebagaimana cerita saya bagaimana orang-orang di sini memiliki tradisi untuk merayakan hari ulang tahun.

Ulang tahun 90 tahun tentu saja berkesan, tidak hanya bagi yang berulang-tahun tetapi juga keluarga dan kerabat yang merayakannya. Si opa ini masih fit, bahkan dia masih ingat kenangan peristiwa dunia seperti perang misalnya.

Di penghujung usianya, kita semua berefleksi tentang makna hidup sebelum kita dipanggil Yang Maha Kuasa. Umur adalah rahasia ilahi memang. Namun makna hidup yang diberikan Si Empunya Kehidupan belum tentu bisa dipahami oleh Si Pelaku Kehidupan itu sendiri.

Ada sebuah karya dari Leo Tolstoy yang berisi pencarian makna hidup yang berjudul: The Death of Ivan Ilych. Buku roman ini rupanya ditulis pengarang asal Rusia itu sekitar akhir tahun 1870-an. Digambarkan Tolstoy, Sang Pengarang novel tersebut sendiri sedang mengalami pergulatan spiritualitas.

Tolstoy dikabarkan mengkonversi agamanya, meski tidak disebutkan secara spesifik agamanya tetapi karya pikirnya dalam pencarian spiritualitas seperti makna hidup, seringkali dilupakan orang.

Dalam novel tersebut digambarkan kalau tokoh Ivan, seorang hakim pengadilan tinggi sudah berlaku benar dalam hidupnya. Rupanya saat Ivan dihadapkan pada kematiannya sendiri, cara hidup yang dianggapnya benar itu justru menimbulkan penderitaan.

Terkadang kita memang belum menemukan apa makna hidup kita sendiri bahkan hingga di penghujung usia. Namun saya bisa mendapatkan rahasia dari Opa yang berusia 90 tahun lalu itu adalah kekuatan mencintai dalam keluarga.

Keluarganya besar, dia sudah punya cicit dan anak dari cicit juga untuk merayakan hari jadinya. Cinta itu pengabdian dan kebaikan. Kita memandang cinta itu penderitaan. Tidak!

Cinta itu memiliki nilai. Cinta itu yang mempunyai makna dalam hidup kita. Apa pun di dunia ini jika kita tak mempunyai cinta untuk melakukannya, Anda bisa merasakannya dampaknya.

Makna hidup itu tak perlu jauh-jauh dicari. Makna hidup itu tak perlu menunggu di penghujung usia. Makna hidup itu pun tak perlu hingga kita mendapatkan kehidupan yang diinginkan.

Pepatah bilang: Life is without meaning, you bring the meaning to it. Makna hidup itu yang menjadi kekuatan kita, yang mungkin kita anggap itu sebagai penderitaan atau krisis seperti hasil bacaan saya pada buku Viktor Frankl.

Bagaimana menurut Anda?