Palmbuschen: Dekorasi Minggu Palem di Bavaria dan Austria

Periode libur paskah sudah dimulai. Minggu ini sudah disebut sebagai “Pekan Suci” atau “Karwoche” dalam Bahasa Jerman. Nah, Pekan Suci itu sudah dimulai sejak hari Minggu kemarin yang disebut Minggu Palem atau Palmsonntag dalam Bahasa Jerman.

Ada yang menarik dari Minggu Palem di Indonesia dan di Jerman. Saya bercerita menurut pengalaman di Indonesia, ketika belum terjadi pandemi Covid-19.

Biasanya kami pergi ke Gereja dengan membawa palem dari rumah. Ayah saya senang sekali berkebun, selain dia suka membaca. Tanaman palem di rumah begitu subur sehingga kami kerap menyumbangkan palem buat Minggu Palem.

Kami biasanya ikut prosesi yang biasa diselenggarakan oleh Paroki tempat tinggal kami. Acara misa yang demikian begitu memakan waktu tetapi kami menikmati itu semua sebagai bagian dari tradisi Gereja Katolik.

Kembali ke Jerman, terutama Bavaria yang masih didominasi Gereja Katolik. Warga di sini pun punya berbagai tradisi seperti Paroki tempat tinggal kami. Hanya saja prosesi Minggu Palma dirayakan di wilayah Paroki tertentu, tidak semua Paroki.

Prosesi Minggu Palem itu mengambil peristiwa yang digambarkan di Kitab Suci, bagaimana umat menyambut Yesus Kristus yang memasuki Yerusalem dua ribu tahun lalu. Kebiasaan ini mulai direplikasi menjadi bagian dari Gereja Katolik sejak abad 6 Masehi.

Hal menarik dari tanaman palem di Jerman adalah tanaman ini bukan tanaman yang mudah ditemukan. Dahulu di Paroki kami di Indonesia, palem tersedia dengan mudah di pintu masuk Gereja. Rasanya tanaman palem memang mudah ditemukan di negara tropis seperti Indonesia.

Palem yang sudah diberkati dan dipakai selama perayaan prosesi, biasanya kami bawa pulang ke rumah. Ayah dan ibu saya membuat dekorasi palem tersebut di dekat salib di rumah. Palem tidak berbau, hanya kering, layu dan tampak rapuh ketika dibiarkan setahun kemudian.

Namun bagaimana dengan area yang tidak tropis atau tidak memiliki tanaman palem?

Ketika saya datang berkunjung ke rekan kerja di sini, saya menemukan “sesuatu yang menarik” di sudut rumahnya. Saya bertanya tentang dekorasi yang kemudian saya dokumentasikan tersebut. Katanya, ini adalah Palmbuschen atau dekorasi palem yang digunakan saat Minggu Palem.

Aha! Mereka tidak menggunakan palem seperti di Indonesia. Di Bavaria dan Austria, negara tetangga biasa mengadakan prosesi saat Minggu Palem. Ada yang benar-benar mendapatkan palem atau menggantikannya dengan tanaman lainnya.

Mereka menggunakan ranting tanaman untuk dihias dengan beraneka ragam seperti pita, telur berwarna atau semak tanaman yang kita anggap tak ada artinya. Biasanya dekorasi ini memiliki arti tersendiri bagi penduduk di sini, hanya saja rekan kenalan saya ini tidak bisa menjelaskannya.

Mereka menyebutnya dekorasi Paskah tradisional yang sudah disiapkan di awal sebelum Pekan Suci tiba. Selesai prosesi, mereka membawanya ke rumah, menempatkannya di sudut rumah atau ladang pertanian mereka agar menjauhkan dari penyakit atau yang jahat datang.

Saya pikir baik di Jerman maupun di Indonesia tidak ada perbedaan untuk merayakan kemuliaan Tuhan. Bagaimana pun di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Selamat memasuki Pekan Suci bagi Anda yang merayakannya!

Advertisement

3 thoughts on “Palmbuschen: Dekorasi Minggu Palem di Bavaria dan Austria

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s