PUISI: Cinta & Benci

wpid-foto-comics.jpg
Dokumen pribadi.

 

Setiap orang diciptakan untuk saling mencintai. Tetapi, mengapa ada kebencian? Perasaan benci berarti bukan cinta. Perasaan benci pasti berbeda dengan cinta. Bentuk perlakuan membenci pasti berbeda dengan mencinta.

Tuhan senantiasa mencintai manusia. Apakah Tuhan membenci manusia?

Jika Tuhan menciptakan hati untuk mencintai, mengapa hati yang diciptakan bisa menumbuhkan perasaan benci. Benci bukan berarti Benar-benar Cinta. Benci ya Benci. Tidak suka. Tidak Cinta. Jika ditanya, bagaimana benci itu tumbuh? Jawabnya pasti di hati. Hati yang membenci. Meski, banyak orang memandang kebencian dengan mata namun mata yang benci berawal dari hati.

Saat mencintai, pasti kita sulit untuk membenci. Begitu pun sebaliknya. Saat membenci, kita pun tidak bisa untuk mencinta.

Jika cinta bertumbuh dari hati, mengapa hati yang sama mampu menumbuhkan benci?

Cinta. Benci.

Dua hal yang berbeda.

Jika kita membenci, kita tidak pernah punya kesempatan untuk mencintai. Saat kita mencintai, kita pun tidak punya kesempatan untuk membenci. Lantas, mengapa kita tidak memulai dengan mencintai seseorang?

Tuhan hanya menciptakan satu hati. Hati yang berkembang untuk mencintai, bukan membenci.

Cinta selalu menumbuhkan kedamaian. Cinta menumbuhkan kebahagian.

Benci selalu menumbuhkan pertengkaran.

Cinta berasal dari Tuhan. Lantas, darimana benci bisa muncul?
Hanya Anda dan perasaan benci itu yang tahu.

Selamat mencintai!

Menulis adalah Seni. Ini Pendapat Saya

 

img-20160308-wa0020.jpg
Dokumen pribadi.

 

Menulis bukanlah hal yang sulit. Namun, banyak orang yang menganggap menulis membutuhkan skill dan metodologi khusus sehingga sulit pula untuk dikerjakan. Menulis pada dasarnya adalah seni. Seni untuk mengekspresikan diri. Seni untuk menyatakan pendapat. Seni untuk mengungkapkan apa yang dirasakan. Seni yang indah untuk menuangkan hal-hal yang sulit untuk diungkapkan.

Kecerdasan seseorang belum tentu mempengaruhi cara seseorang untuk menulis. Karena dalam menulis, anda tidak dituntut untuk cerdas. Yang dibutuhkan adalah ketrampilan anda dalam menuangkan gagasan atau ide. Sempatkan waktu untuk menulis saat anda sudah menemukan ide. Lalu tuangkan gagasan atau ide tersebut menjadi sebuah kalimat-kalimat yang tersusun sehingga menjadi sebuah paragraf. Kaitkan masing-masing paragraf menjadi sebuah tulisan.

Bumbui tulisan anda dengan hasil observasi yang mengarahkan pada tulisan anda. Agar lebih kaya tulisan anda, carilah literatur yang tepat dan cocok dengan tulisan anda. Misalnya, pendapat seorang ahli yang dikutip atau bisa juga sumber sebuah buku. Tuangkan semua hasil observasi dan kutipan anda dalam sebuah tulisan.

Jangan pernah merasa takut untuk memulai menulis! Ketakutan justru akan menghambat anda untuk memulai sesuatu. Jangan pernah ragu untuk menuangkan beberapa ide atau gagasan. Lalu mulailah menulis sebanyak-banyaknya kalimat yang anda temukan dalam pikiran. Jika sudah selesai dalam tulisan, jangan ragu-ragu untuk meminta pendapat dari orang sekitar untuk meninjau kembali tulisan Anda. Pendapat orang lain bisa menolong anda untuk tampil percaya diri dalam menulis. Meskipun kadang pendapat mereka justru mengkritik tulisan anda. Tetapi jangan pernah takut untuk mencoba. Semua berawal dari niat dan motivasi untuk memulai menulis dengan cepat. Secepat ketika anda sudah menemukan gagasan.

Rajin-rajinlah untuk membaca buku atau novel kesayangan ketika anda belum menemukan ide atau inspirasi untuk menulis. Upayakan bahwa semua kegiatan menulis anda, benar-benar tidak terkontaminasi oleh kegiatan lain. Hal seperti ini sering terjadi pada orang-orang yang memerlukan ketenangan atau kekhusyukkan saat menulis. Namun ada pula orang yang tidak terpengaruh untuk dengan kondisi sekitar sehingga tetap dapat menghasilakan sesuatu tulisan.

Ada pula tipe dimana anda perlu musik yang tenang seperti instrumen yang syahdu yang mendorong anda untuk menikmati seni untuk menulis. Semua terserah pada kondisi dan situasi yang anda ciptakan sendiri. Yang penting, kegiatan menulis harus dibuat senyaman mungkin.

Selain itu, biarkan pikiran anda bermain dalam tulisan yang anda hasilkan. Kadang ketakutan untuk menemukan ide justru memperkeruh keyakinan anda untuk mulai menulis. Atau, anda bisa juga dengan menuliskan poin-poin tertentu yang anda temukan jika anda sudah mendapatkan gagasan, yang dicatat di sebuah notes.

Kadang kita berpikir menulis memerlukan suatu intelegensi yang tinggi, padahal tidak demikan. Menulis adalah seni. Saat Anda bisa menemukan seni keindahan dari menulis, anda akan dapat merasakan bahwa menulis sesungguhnya lebih dari sekedar kegiatan mengumpulkan aksara dan menuangkannya menjadi sebuah gagasan.

Seni menulis tidak harus menunggu saat yang tepat, misalnya jika sudah meraih gelar pendidikan tertentu. Menulis dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja secepat saat anda sudah menemukan ide untuk menulis. Yang penting jangan pernah merasa khawatir apakah tulisan anda layak atau tidak? Karena menulis adalah seni yang dilatih dari kebiasaan terus menerus.

Seni menulis hanya mementingkan bagaimana suatu hal yang dirasakan atau dipikirkan dapat dituangkan dalam sebuah pikiran.  Hanya saja menulis selalu dianggap sebagai kendala yang menyulitkan dengan mindset yang memerlukan ketrampilan atau metodologi khusus.

Diperlukan niat agar anda benar-benar dapat menghasilkan tulisan yang memang sesuai dengan apa yang anda pikirkan dan rasakan. Jangan pernah takut untuk mencoba atau memulai untuk menulis! Karena tidak pernah ada teknik jitu untuk menulis yang sempurna.

OPINI: Malam Renungan AIDS 23 Mei

 

wpid-img_20151109_211639.jpg
Penyebaran HIV seumpama anda mencelupkan noda merah sedetik ke dalam gelas maka sepuluh menit kemudian air pun berubah menjadi warna merah. Ilustrasi.

 

Tanggal 23 Mei, hari ini, diperingati sebagai Malam Renungan AIDS. Saya sendiri yang pernah bekerja di Program HIV & AIDS, sudah lupa alasan terpilihnya tanggal tersebut sebagai Malam Renungan AIDS. Saya hanya masih mengingat sejarah Hari AIDS Sedunia, yang ditandai pita merah (red ribbon).

Meski kini, saya bekerja di dunia pendidikan, tetapi masih tergerak hati saya terhadap kasus HIV & AIDS yang tidak hanya menjadi persoalan kesehatan saja tetapi juga persoalan sosial dan masyarakat. Bagaimana pun, penularan HIV lebih disebabkan perilaku berisiko seseorang secara sadar atau tidak. Ada banyak pihak yang tidak melulu menjadi pelaku dari yang mengalami saja tetapi juga ‘korban’ dari keadaan. Miris memang! Namun, masalah ini perlu mendapatkan perhatian serius jika dibayangkan bahwa angka kasus HIV dan AIDS mengalami peningkatan, bukan penurunan seperti di negara-negara Asia lainnya.

Hari AIDS Sedunia, 1 Desember tahun yang lalu, saya dikejutkan oleh fenomena data statistik yang menyebutkan Provinsi Jawa Barat sebagai peringkat kedua setelah Jakarta dalam hal jumlah kasus HIV & AIDS terbanyak di Indonesia. Saat ini, saya memang sedang bekerja dan menjadi bagian dari masyarakat Jawa Barat. Sungguh ironis bagi saya, manakala setahun sebelumnya (Maret 2008), Jawa Barat masih di bawah Provinsi Papua, yang menjadi Provinsi kedua terbanyak setelah Jakarta. Bulan Desember 2008, data sudah berbicara lain, bahwa Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi kedua terbanyak dalam kasus HIV & AIDS setelah DKI Jakarta.

Suatu hari di bulan Maret 2009, saya dimintai tolong oleh seorang rekan di Bandung. Beliau meminta tolong untuk merekomendasikan komunitas bagi ODHA yang kebetulan adalah anak jalanan. Saya tidak dapat berbuat banyak, ODHA itu sudah memasuki tahap memprihatinkan, tidak sekedar Orang Dengan HIV Positif. Saya kembali membayangkan data statistik kasus HIV & AIDS di bulan Desember 2008 lalu. Begitu cepatnya?

Di hari ini, saat Malam Renungan AIDS, saya kembali membuka data statistik (http://spiritia.or.id/Stats/StatCurr.pdf) mengenai jumlah kasus HIV & AIDS di Indonesia. Provinsi Jawa Barat sudah berada di posisi pertama sebagai provinsi terbanyak di Indonesia berdasarkan jumlah kumulatif kasus HIV & AIDS. Dalam triwulan Januari-Maret 2009, ditemukan bahwa jumlah kasus HIV & AIDS di Provinsi Jawa Barat meningkat, terbanyak dibandingkan provinsi lain.

Sejak ditemukan tahun 1987, kasus HIV & AIDS di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tidak bisa di duga bahwa kini Provinsi Jawa Barat menempati urutan pertama terbanyak di Indonesia, yang biasanya ditempati oleh Jakarta atau Papua. Bisa dibayangkan bahwa virus HIV seperti setitik cairan merah yang dimasukkan dalam gelas berisi air putih, menyebar, sehingga gelas berisi cairan warna merah. Begitu cepatnya?

Di malam renungan AIDS, keprihatinan muncul untuk mengingatkan kembali pentingnya membekali diri untuk tidak mencoba perilaku berisiko tinggi.

  • Pendapat pribadi tahun 2008.

Saya adalah Saya: Manusia itu Unik

Ich bin Ich. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Suatu kali, saya mendapat cerita dari seorang kawan tentang penderitaannya ketika mendengar sang ibu membandingkan kawan saya dengan kakaknya yang sulung. Kawan saya, yang adalah anak kedua, merasa kesal, kontan, dia marah kepada sang ibu. Sang ibu, sebagai ibu juga kaget terhadap reaksi si anak. Harapan sang ibu, anaknya yakni kawan saya, akan berubah dan mengikuti teladan kakak sulungnya. Tak disangka, terjadilah adu mulut antara sang ibu dengan anaknya, kawan saya itu.

Saya pun pernah turut menjadi bagian dari perbandingan antara saya dengan orang lain, entah perilaku, sifat, kepribadian, kinerja, kepemimpinan, de el el, yang jika ditulis bisa berlembar-lembar. Atau, saya pun bukan manusia yang sempurna. Saya juga pernah membandingkan antara orang lain dengan orang lain-nya lagi. Wow, begitu hebatnya manusia sehingga ia bisa menjadi subjek sekaligus objek.

Satu kalimat kunci saat belajar Psikologi, bahwa kepribadian itu unik. Tidak pernah ditemukan orang yang sama di dunia ini, bahkan orang yang kembar identik sekalipun. Sangking uniknya, Tuhan memilih ‘bahan-bahan’ yang sempurna sehingga menjadi diri kita. Sampai saat ini, di dunia yang serba canggih sekalipun, belum ada manusia yang mampu mengalahkan Tuhan dalam menciptakan manusia. Robot sekalipun belum menyentuh sisi kemanusiaan yang dibuat oleh Tuhan.

Nah, manusia itu unik. Saya adalah saya.

Jika mendengar istilah ‘membandingkan’, yang terbayang adalah menilai, menganalisa hingga memutuskan (meski belum lihat kamus bahasa indonesia, benar atau salah) satu hal dengan hal lain. Ada proses berpikir hingga merasakan lalu kemudian melakukan atau memutuskan. Membandingkan bisa jadi ada yang diunggulkan dan ada yang direndahkan. Iya kan? Ada pihak yang dijagokan dan ada pihak yang diremehkan. “Halah, si anu itu bisanya apa sih? Beda kayak si nganu, yang jago banget bla bla bla…” coleteh teman sebelah saya ketika kami sedang mendiskusikan Capres dan Cawapres. Hebat juga oi, sebagai rakyat memang kita memiliki hak untuk berpendapat apapun, membandingkan antara satu orang yang jadi bakal pemimpin dengan yang lainnya.

Sangking uniknya seseorang, kita pun sadar atau tidak, telah menyakiti seseorang tanpa menyadari bahwa setiap orang itu unik. Tidak ada orang yang suka dibandingkan dengan orang lain dalam hal apapun. Karena setiap orang memiliki cara dan gaya tersendiri sehingga ia dikenal dan diakui.  Padahal maksud orang yang membandingkan (mencoba mencari celah positif), membandingkan seseorang dengan orang lain yakni agar si anu bisa belajar atau meneladani si nganu.  Pernahkah mendengar bahwa sebenarnya setiap orang itu sadar atau tidak belajar dari orang di sekitarnya. Si A belajar dari si B, si B belajar dari si C, si C belajar dari si D, si D belajar dari si E, dan si E belajar dari si A? Lihat betapa besar kekuatan si A.

Dari kecil, orangtua suka membandingkan anak satu dengan anak yang lain. Bersyukurlah kawan jika anda adalah anak tunggal, meski bisa saja anda dibandingkan sepupu atau anak tetangga. Saat menjadi murid, guru masih membandingkan antara satu murid engan murid lain. Saat bekerja, bisa jadi ada atasan atau rekan sekerja yang masih suka membandingkan kita dengan rekan sekerja lainnya. Meskipun kita pun melakukan hal yang sama untuk atasan dan rekan sekerja kita.

Baiklah, pernyataan saya adalah saya bukan berarti mencintai diri sendiri, egois atau mengacuhkan keadaan sekitar. Hal yang mau ditekankan disini adalah setiap orang adalah unik. Dengan cara dan gayanya, manusia berpikir, mengalami dan berperilaku. Saya adalah saya, berarti menghargai orang lain dan tidak ‘memasukkan’ orang lain ke dalam ‘kotak’ pikiran saya. Saya adalah saya, berarti terimalah saya apa adanya. Dengan demikian, saya diakui dan dicintai.

2009

Perempuan & Malaikat Kebaikan

Sumber foto: Dokumen pribadi.

Woman: “Malaikatku, dimanakah Tuhan? Aku lelah mencariNya.”

Angel of Kindness: “Pernahkah kau berdoa?”

Woman: “Tentu pernah. Aku tidak pernah melewatkan waktu sehari pun tanpa
berdoa.”

Angel of Kindness: “Saat berdoa, apa yang kau rasakan?”

Woman: ”Aku tidak merasakan apapun. Pikiranku melayang memikirkan satu per
satu permasalahan hidupku. Hatiku bimbang memikirkan kecemasan yang
akan terjadi. Tuhan diam. Dia tidak bereaksi apapun”

Angel of Kindness: ”Apa yang kau ucapkan saat berdoa?”

Woman: “Tuhan, lihatlah betapa besar masalah yang kuhadapi!”

Angel of Kindness: “Seharusnya kamu berdoa seperti ini, ‘Masalah, lihatlah betapa besar
Tuhanku yang akan kau hadapi.’. Setelah itu, bukalah hatimu untuk bisa merasakan kehadiran Tuhan. Bukalah pikiranmu agar Tuhan menuntunmu. Diamlah dan temukan Tuhan dalam keheningan.”

Woman: ”Apakah Tuhan akan datang jika aku berlaku demikian?”

Angel of Kindness: ”Tidak.”

Woman: “Lantas, mengapa kau memintaku berdoa seperti itu?”

Angel of Kindness: ”Tuhan akan datang kapan pun saat kau butuhkan dimana saja. Disini pun, Tuhan ada.”

Woman: ”oh ya? Dimana Tuhan?”

Angel of Kindness: ”Dia ada di hatimu.”

Woman: “Tapi aku tidak pernah merasakan Dia di dalam hatiku.”

Angel of Kindness: “Kau tidak merasakan apapun selama kau masih menutupi hatimu dengan kecemasan dan keraguan. Kau tidak membuka hatimu untukNya.”

Tiga hari kemudian, perempuan itu meninggal. Ditemukan sebuah tulisan tidak jauh dari mayat perempuan itu ’Mati sebagai orang yang bermasalah dan tidak bisa membuka hati.’ Hati manusia tidak ada yang tahu.

Orang mengeluh tentang masalahnya tetapi tidak berdoa kepadaNya.
Orang berdoa kepadaNya tetapi tidak membuka hati kepadaNya.
Orang membuka hati kepadaNya tetapi tidak memaknai masalah yang dihadapinya.

CERPEN: Siapakah Saya?

wp-image--1957577767
Sumber foto: Dokumen pribadi.

Manusia yang sedang kebingungan, berjalan menyusuri kota. Ia bertanya kepada seorang yang lewat, “Apakah Bapak menemukan ‘siapa diriku’? Aku kehilangan ‘siapa diriku”

“Maaf, saya tidak menemukannya. Mungkin Anda lupa meletakkannya” jawab si Bapak sambil berlalu.

Manusia itu pun terus menyusuri kota. Ia hendak menemui Guru yang pernah mengajarkannya tentang segala ilmu pengetahuan. “Maaf Guru, apakah Anda mengetahui siapa diriku?” tanya manusia itu.

Guru menjawab, “Maaf, saya tidak pernah mengajarkan ilmu mengenai siapa dirimu.”

Setelah tidak mendapatkan jawaban dari Guru, manusia pun berlalu. Ia pun berniat menanyakan perihal ‘siapa dirinya’ kepada orangtuanya.

Saat ditemui, Ayahnya telah tiada, tinggal Sang Ibu sebatang kara. “Ibu, aku kehilangan ‘siapa diriku’. Aku tidak menemukannya. Apakah ibu tahu, ‘siapa diriku’?”

Sang Ibu semakin bingung ditanya oleh anaknya. “Nak, Ibu pun tidak tahu ‘siapa engkau” jawab Ibu.

Manusia bertambah putus asa karena belum menemukan jawaban. Ia lalu pergi menemui Pendeta yang diyakini saleh nan bijaksana di kota itu.

“Maaf Pak Pendeta, apakah Anda mengetahui ‘siapa diriku’. Aku kehilangan diriku. Aku belum menemukannya” tanya manusia kepada Pendeta itu.

Pendeta pun menjawab dengan penuh bijaksana, “Nak, saya pun tidak mengetahui ‘siapa engkau”

Karena sudah kesal tidak menemukan jawaban, manusia itu pun menyahut, “Dapatkah Anda memberikan aku petunjuk sehingga aku dapat mengenali diriku, Pendeta?”

Pendeta itu pun diam, tidak menjawab. Ia pun memberikan perumpamaan.

“Apa ini?” tanya Pendeta yang menunjuk buah apel di hadapan manusia.

“Apel” jawab manusia.

“Bagaimana kamu tahu bahwa itu adalah apel?” tanya Pendeta kemudian.

Manusia pun diam.

Pendeta melanjutkan, “Orang mengenali bahwa ini adalah apel, dilihat dari warna dan bentuk. Tetapi bagaimana jika orang buta mengenali bahwa ini adalah apel. Tentu, ia mengetahui setelah ia dapat merasakan buah ini, lalu bertanya benda apa ini.”

Manusia termangut-mangut, mencoba memahami perumpamaan Pendeta.

Bandung, 020709

Masing-masing orang memiliki opininya sendiri mengenai pribadinya. Tidak ada pendapat atau ramalan yang tepat mengenai siapa diri kita sesungguhnya.

CERPEN: Balada Perempuan

wp-image-595702827

“Sungguh aku tidak tahu jalan mana yang harus kupilih” keluhku. Perempuan itu berjalan terus dan meraba-raba setiap benda yang disentuhnya. “Aku buta, aku menyerah, tolong bantu aku!” pintanya sekali lagi.

“Jangan menyerah, kamulah yang menemukan tujuanmu!” kata suara itu.

“Lalu, apa yang harus aku lakukan?” perempuan itu menyahut sambil terus berjalan. “Mengapa jalan yang kulalui penuh rintangan?”

“Dengar hai perempuan, kau harus mendengarkan suara hatimu. Dengarlah suara hatimu dalam keheningan, bukan keluh kesahmu. Disitulah kau menemukan dirimu yang selaras dengan pikiran dan perasaanmu” kata suara itu sekali lagi.

Perempuan itu diam. Suasana hening. Tidak ada suara. “Hm, tidak ada pilihan. Jalan yang aku lalui ini penuh rintangan. Sia-sia” sahut perempuan itu tiba-tiba.

Suara itu pun menyahut, “Jika jalan yang kau tempuh bebas dari rintangan, jalan itu tidak berguna. Kau harus membuka dirimu terhadap alam semesta. Yang harus kau miliki adalah keyakinan maka mereka akan menopangmu. Pilihlah jalanmu, bertindaklah sekarang. Saat ini adalah waktu yang tepat.”

“Darimana aku harus memulainya?” tanya perempuan itu sekali lagi.

Suara itu menjawab, “Mulailah dari tempatmu ini berada dan bersiaplah untuk kecewa. Sebab, jalan yang kau lalui, tidak selamanya mulus.”

Bandung, 020509

CERPEN: Tukang Cukur dan Guru Bijak

wp-image-979156162

 

Suatu kali, seorang Guru Bijaksana datang ke seorang Tukang Cukur. Guru ini meminta kepada Tukang Cukur untuk merapikan rambutnya yang sedikit mulai tidak rapi dan tidak nyaman bagi Sang Guru. Si Tukang Cukur menerima dengan senang hati kedatangan Sang Guru. Sambil mencukur, Tukang Cukur bertanya, “Apa pekerjaan anda?” Guru pun hanya menjawab biasa saja, “Saya ini hanya Hamba Tuhan.”

 

Si Tukang cukur mulai bercerita bahwa ia tidak pernah percaya tentang kehadiran Tuhan. Sang Guru balik bertanya, mengapa Tukang Cukur tidak percaya dengan Tuhan? Tukang Cukur pun menjawab sambil menunjuk ke arah Pengemis di luar sana, sedang berdiri dan meminta-minta belas kasihan kepada orang-orang yang lewat.

 

Jawab Tukang Cukur “Jika memang ada Tuhan maka Pengemis itu tidak perlu ada. Jika memang Tuhan ada maka tidak perlu ada kejahatan, kemiskinan dan keadaan buruk lainnya di dunia ini.”

 

Sang Guru bukannya menyangkal jawaban Tukang Cukur tetapi hanya termangut-mangut saja. Si Tukang cukur pun selesai mencukur Sang Guru. Sang Guru memberikan upah, mengucapkan terimakasih dan berpamitan kepada Tukang Cukur.

 

Saat dalam perjalanan pulang, Sang Guru pun bingung bagaimana meyakinkan Tukang Cukur. Sambil berjalan, ia melihat seorang pemuda berambut gondrong, tidak beraturan dan rambutnya berantakan sekali. Kemudian, Sang Guru pun berlari dan menemui Tukang Cukur. Ia mendapati Tukang Cukur sedang tidak mengerjakan tugasnya. Tukang cukur pun terkejut mendapati Sang Guru kembali datang.

 

Sang Guru pun berkata kepada Tukang Cukur begini, “Saat dalam perjalanan pulang, saya menjumpai seorang pemuda berambut gondrong, rambutnya berantakan dan tidak rapi. Jika memang ada Tukang cukur, mengapa masih ada orang seperti itu?”

 

Sang Guru pun penasaran dengan jawaban Tukang Cukur. Tukang Cukur pun menjawab begini, “Lah, mengapa mereka tidak datang kepada saya?” sanggahnya. Sang Guru pun membalas, “Begitu pun dengan pernyataanmu tadi tentang Tuhan. Mengapa mereka juga tidak datang kepada-Nya, yang empunya segalanya?”

 

Sebagaimana yang ditangkap oleh Penulis saat kotbah di suatu Misa pagi.

 

Tuhan ada dan hadir dimana saja dan kapan saja. Bagaimana kita memaknai kehadiran Tuhan dalam hidup kita? Kembali kepada diri kita masing-masing. Mengapa kita tidak datang kepada-Nya, jika kondisi hidup kita buruk? Apakah Tuhan akan membalikkan nasib kita? Pastinya nasib bukan ditentukan oleh kehadiran Tuhan. Tuhan telah menyediakan segala cara dan tanda-tanda untuk kita pahami bahwa Tuhan itu ada.

AR (01/07/09)

Tiga Cara Belajar Meminta Maaf

img-20160909-wa0005.jpgPernahkah terbayangkan oleh Saudara tentang makna kata ‘Maaf’. Meskipun kita sering menyebutkan kata maaf berulang kali secara tidak sengaja namun pernahkah Saudara menyadari kata yang terucapkan tersebut adalah sungguh-sungguh dan tulus. Ataukah kata maaf tersebut hanya sekedar terucapkan saat kita tidak sengaja menginjak kaki seseorang, misalnya.

 

Saudara, kita diajak untuk meminta maaf bukan sekedar memaafkan orang lain. Meminta maaf berarti kita mengakui kesalahan kita dan memohon orang lain untuk memaafkan kita. Tentunya ini berbeda dengan memaafkan orang lain. Meminta maaf berarti kita memberi sedangkan memaafkan berarti kita menerima.

Berikut ini adalah tips untuk belajar meminta maaf kepada orang lain terutama orang yang sudah menyakiti kita:

 

Pertama, tidak menghakimi orang lain.

Mengapa meminta maaf begitu sulitnya untuk kita ucapkan? Konon, meminta maaf diidentikkan bahwa kita kalah, salah dan mengakuinya kepada orang lain. Disinilah letaknya, kita begitu sulitnya untuk merasa kalah dan salah, apalagi mengakuinya di hadapan orang lain. Toh, belum tentu hanya kita saja yang salah, bisa saja orang lain itu juga melakukan kesalahan. Hal ini menghambat kita untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada orang lain. Artinya, kita masih melihat selumbar di mata orang lain padahal balok dalam mata kita saja sulit untuk dikeluarkan. Kita masih menghakimi orang lain dan belum secara tulus mengakui kesalahan kita.

Proses menghakimi orang lain lebih mudah daripada kita menghakimi diri sendiri. Untuk sebuah persoalan yang sepele, kita banyak menjadikan orang lain sebagai pangkal penyebab kesalahan. Lantas bagaimana dengan kita sendiri? Tentunya kita nomor dua setelah orang lain kita salahkan. Dengan pandangan seperti ini, kita menjadi semakin sulit untuk meminta maaf kepada orang lain karena masih memandang orang lain-lah yang salah, saya tidak. Sehingga muncullah, istilah perkataan, “Sori ya, kalau saya dulu yang harus minta maaf. Emang salah saya apa?” Dengan demikian, sebelum menjatuhkan tuduhan kesalahan kepada orang lain, kita perlu selidiki dan refleksi diri. Jika kita memang tidak melakukan kesalahan, apa salahnya untuk memulai relasi yang lebih baik dengan memulai meminta maaf. Reaksi selanjutnya pasti tidak terduga dari lawan kita. Itulah keindahan kata ‘Maaf’.

 

Kedua, lepaskan egoisme.

Sering kita mengucapkan ‘Nobody’s perfect’ atau di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Ketidaksempurnaan ini menyebabkan kita sulit untuk mengakui kesempurnaan diri kita. “Yah namanya juga manusia, pasti tidak luput dari kesalahan.” Kata-kata itu akan terucapkan oleh kita saat kita berbuat kesalahan. Kita menganggap ketidaksempurnaan kita dipahami oleh orang yang telah kita lukai atau sakiti hatinya sehingga kita yakin bahwa orang yang kita lukai tersebut paham. Kita tidak perlu minta maaf lagi, toh, semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan termasuk orang yang kita sakiti hatinya.

Egoisme diri muncul ketika kita menganggap orang lain sudah memaklumi kesalahan kita dan melupakannya. Padahal belum tentu demikian. Persoalan terberat yang akan dihadapi seseorang ketika meminta maaf kepada orang lain adalah egoisme diri. Kita belum bisa menyangkal diri kita dan mengakui kelemahan kita. Betul, di dunia ini memang tidak ada manusia yang sempurna tetapi apakah kita tidak dapat mengakui ketidaksempurnaan (kesalahan) tersebut dan mengakuinya sehingga terjalin relasi yang sempurna?

Setiap orang yang dilahirkan di dunia ini pasti memiliki ego. Ego membentuk jati diri seseorang. Melepaskan egoisme dimaksudkan untuk melepaskan diri kita dan berempati atau menempatkan diri kita menjadi lawan/musuh kita. Kesulitan untuk melepaskan ego berdasar bahwa kita sulit untuk mengakui ketidaksempurnaan diri kita.

 

Ketiga, korbankan waktu dan perasaan.

Dalam belajar meminta maaf,  kita tidak pernah menyediakan waktu. Kita menganggap hal itu sia-sia saja dan percuma. Jika kita melakukan kesalahan, apakah tidak lebih baik kita langsung meminta maaf kepada orang lain? Saudara dapat membayangkan apa yang terjadi jika saudara menginjak kaki seseorang dan meminta maaf tiga hari kemudian. Bagaimana rekasi orang yang diinjak kakinya? Ia pasti tersenyum menerimanya atau barangkali menganggap hal itu tidak pernah terjadi karena ia sudah melupakannya. Sedangkan Saudara membayangkan peristiwa tersebut selama tiga hari, tidak tidur pula karena memikirkan peristiwa dimana saudara menginjak kaki orang itu. Sementara orang yang diinjak kakinya telah melupakannya, syukur jika demikian. Tentu ia akan tersenyum karena hal itu sudah terlewat jauh dari peristiwa yang terjadi.

 

Saudara, belajarlah untuk memulai mengatakan maaf setelah sebuah kejadian berlalu. Dengan mengatakan maaf sesaat setelah kejadian, berarti kita telah mengontrol dan mengendalikan emosi kita sehingga menjadi lebih positif. Kita tidak akan lagi merasa tidak nyaman dan berlarut-larut mengenai masalah ini. Toh, kita sudah cukup lega dengan meminta maaf atas peristiwa yang terjadi.

“Tidak ada yang sempurna di dunia ini, belajarlah untuk bisa menyempurnakan dunia dengan memaafkan orang lain.”

Ingatlah pula bahwa kita harus menyiapkan perasaan kita saat meminta maaf. Tentu perasaan yang muncul beragam saat kita meminta maaf termasuk malu, tidak percaya diri, takut, cemas dan perasaan psikologis lainnya. Namun, saudara harus yakin bahwa perasaan itu wajar dan alami terjadi.

 

September 08

Belajar dari ‘Sang Juara’

 

20171104_191202 (2)
Ilustrasi.

 

Suatu malam, saya menonton tayangan talk show mengenai keberhasilan para atlet yang mencapai prestasi di dunia olahraga. Dengan durasi lebih dari satu jam yang mengampilkan sosok Atlet Bulu Tangkis, Pembalap Mobil dan Atlet Tinju,  kira-kira pengalaman berharga apa yang bisa saya petik?

 

Berikut ini adalah cara saya belajar dari mereka:

 

1. Terus belajar dan berlatih.

Sambil menonton tayangan tersebut, saya merekam kalimat inspirasi dari setiap Atlet. Saya menyimak kegigihan mereka dalam meraih prestasi. Pantaslah mereka disebut Berprestasi, mereka mampu mempertahankan kejuaran yang mereka pernah raih. Artinya, mereka tidak pernah merasa berhenti untuk terus berlatih dan belajar sehingga mereka dapat mempertahankan prestasi mereka. Setelah mereka berhasil meraih kejuaraan, mereka tidak langsung merasa puas diri. Berlatih dan belajar tidak pernah berhenti. Kebanggaan itu tidak hanya berhenti di situ saja. Mereka layak disebut Berprestasi karena mereka mampu untuk mempertahankannya pula.

 

Ada sebuah pepatah mengatakan hidup adalah belajar. Kita tidak langsung bisa berjalan.  Kita belajar bagaimana cara berjalan. Belajar berjalan pun bertahap, bahkan kita pun merasakan pahitnya belajar berjalan, kita mengalami jatuh, terluka, dimarahi orangtua, menangis dsb. Belajar dan berlatih dilakukan secara bertahap dan tidak instan.

Seperti menjadi Juara, toh mereka yang berprestasi tidak langsung instan menjadi Juara. Ada tahap latihan dan belajar. Mereka pun mengalami kepahitan saat belajar dan berlatih. Setelah menjadi Juara, mereka pun masih terus belajar dan berlatih. Pada akhirnya, mereka mampu mempertahankannya. Jangan pernah merasa takut untuk dicap ‘bodoh’ karena masih terus belajar dan berlatih. Jangan pernah takut untuk mencoba. Jangan takut untuk merasakan kepahitan dan kegalalan. Dengan belajar dan berlatih, kita mengenal arti kegagalan sekaligus keberhasilan. Pengalaman adalah Guru terbaik. Pengalaman berisikan bagaimana kita terus belajar dan berlatih.

 

2.  Berpikir Positif

Sang Atlet Kejuaran Bulu Tangkis mengatakan bahwa ia pernah punya pengalaman yang mengesankan di saat ia harus mempertahankan juara untuk ke-7 kalinya. Saat set ke-2, skornya ketinggalan cukup jauh dengan sang lawan. Sementara sang lawan, sudah menang di set pertama. Satu hal yang harus dimiliki oleh Sang Atlet saat itu adalah tetap berpikir positif. Waktu yang sempit untuk mengejar ketertinggalannya melawan Sang Lawan digunakannya untuk mempertahankan pikiran positif bahwa Ia pasti mampu menjadi juara. Sang Atlet pun mampu untuk mengejar ketertinggalan skornya dan menang di set ke-2, hingga pada akhirnya Ia mampu untuk meraih juara untuk ke-7 kalinya. Apa yang tidak boleh dimiliki seseorang saat Ia jatuh dan gagal adalah Pikiran negatif. Pikiran negatif akan mengontrol perilaku dan tindakan kita untuk mengikuti cara kerja otak yang sudah negatif. Hasilnya, pasti dapat dibayangkan.

Berpikir positif akan menguatkan cara kerja dan perasaan kita yang akan mempengaruhi tindakan dan perilaku kita. Mulailah untuk berpikir positif di saat kita sedang mengalami kegagalan atau jatuh. Ubahlah cara berpikir kita terhadap hal-hal yang positif. Bayangkan saat kesempatan untuk menang itu memiliki waktu yang sempit, satu hal yang harus tetap dipegang oleh Sang Juara adalah Berpikir Positif.

 

3. Berani berkurban

Suatu kemenangan atau keberhasilan diperlukan keberanian dalam berkurban. Hal ini pula yang dirasakan oleh Sang Atlet saat mereka mengenang pengalaman mereka. Di saat usia masih muda, mereka harus mengurbankan kesenangan mereka sebagai anak-anak dan remaja untuk berlatih menjadi Atlet. Mereka bangun pagi-pagi untuk berlatih kemudian melanjutkannya dengan bersekolah. Mereka harus membagi waktu antara latihan dengan sekolah. Sempat terbersit rasa iri mereka terhadap teman-teman seusia mereka yang asyik menikmati waktu.

Pengurbanan waktu adalah contoh konkrit. Apakah kita mau mengurbankan waktu kesenangan kita untuk melakukan hal-hal yang mungkin buat kita monoton atau menjemukan? Bisa dibayangkan, Sang Juara harus berlatih kegiatan menjemukan setiap hari. Nah, apakah kita bisa juga berani mengurbankan keinginan atau minat menyenangkan kita dengan sesuatu yang monoton? Konon, sesuatu yang dilakukan berulang dan terus menerus akan mendekatkan kita pada keberhasilan yang ingin kita raih.

 

Seorang Pahlawan berani untuk mengurbankan diri mereka. Seorang Penemu mampu mengurbankan waktu mereka untuk terus mencoba dan berusaha. Seorang Atlet Berprestasi mau mengurbankan waktu mereka untuk berlatih. Ada banyak pengurbanan yang dilakukan agar berhasil. Yang jelas, berkurban bukan hal yang mudah, diperlukan keberanian dan tekad.

 

Dengan berani berkurban, kita memahami tentang proses saat kita meraih keberhasilan. Berani untuk berkurban akan mampu untuk mengalahkan kenyamanan diri kita. Seorang tokoh seperti Ibu Theresa dari India, adalah figur dimana ia berani berkurban kenyamanan dengan keluar dari komunitasnya, berani mengurbankan waktu dengan mengunjungi orang-orang yang sakit, berani mengurbankan perasaan saat orang-orang sekitarnya mencibir dan mengejek perbuatannya dan berani mengurbankan miliknya agar orang-orang yang menderita itu dapat diselamatkan.

 

4. Disiplin

Sang Atlet Berprestasi menceritakan bagaimana pengalamannya saat berlatih. Di saat usia mereka masih anak-anak, mereka sudah belajar untuk disiplin. Displin membantu mereka untuk mengatur waktu. Disiplin akan membantu mereka untuk memiliki kesempatan untuk belajar dan berlatih, kesempatan untuk melakukan hal lain. Disiplin membentuk kita untuk menghargai waktu yang ada.

 

Toh, setiap manusia yang lahir di dunia ini memiliki waktu yang sama yaitu 24 jam satu hari. Tidak ada yang lebih atau yang kurang. Sang Juara mengajarkan kita untuk hidup disiplin. Disiplin akan mendorong kita untuk menghargai diri kita tetapi belum tentu orang lain. Disiplin diibaratkan oleh orang-orang yang tidak terbiasa sebagai aturan yang ketat dan kaku. Padahal, tidak demikian.

Jika kita hidup dengan disiplin, kita akan selalu punya waktu. Dengan disiplin, kita akan mampu menghargai waktu. Dengan disiplin, kita akan menyadari bahwa hidup ini tidak sia-sia. Dengan disiplin, hidup kita lebih terencana.

 

5. Memiliki mental Juara

Seorang Juara pasti memiliki mental juara. Mental Juara maksudnya bahwa kita mampu mengalahkan kenyamanan kita. Kita memiliki semangat dan pikiran optimis. Kita memiliki keyakinan bahwa kita mampu melewati masa-masa sulit. Kita akan terus berjuang untuk mengalahkan ‘musuh kita’

Lalu bagaimana dalam hidup kita sehari-hari? Adakah musuh kita? Pastinya ada. Musuh bisa berarti banyak hal, apakah itu kesenangan, kenyamanan, pujian, materi, dsb? Seorang bermentalkan Juara berarti ia mampu untuk mempertahankan prestasi Juaranya dan tidak terlena. Seorang Juara berarti ia tidak pernah puas diri. Seorang Juara pasti akan terus mencoba hingga ia berhasil.

 

Apakah seorang Juara tidak pernah gagal? Siapa bilang? Seorang Juara pasti pernah mengalami kegagalan. Tetapi bagaimana sikap Sang Juara dengan yang lain, itulah yang membedakannya. Seorang Juara akan bangkit dari kegagalan sesegera mungkin dan mengejar ketertinggalannya. Seorang Juara tidak akan menyerah oleh nasib. Seorang Juara akan terus berpikir positif meskipun ia gagal. Seorang Juara terus berpikir bagaimana ia dapat menaklukan musuhnya. Seorang Juara akan memandang hidup adalah prestasi yang membanggakan.

 

Apakah setiap orang bisa menjadi Juara? Jawabannya, pasti dan harus bisa menjadi Juara. Juara tidak selalu diidentikkan dengan keberhasilan dalam memenangkan kompetisi atau perlombaan. Kompetisi atau perlombaan diibaratkan bak roda kehidupan kita. Kadang di atas, kadang pula di bawah. Kita berupaya agar roda kehidupan kita tidak kempes, sehingga tidak berjalan lagi. Bagaimana caranya agar kita dapat terus memutarkan roda kehidupan kita, adalah kompetisi atau perlombaan. Kita menjadi Juara jika kita mampu terus memutarkan roda kehidupan kita.

 

Sahabat, itulah refleksi yang saya peroleh saat saya menyimak pengalaman hidup Sang Juara. Kita dilahirkan dengan talenta dan kemampuan yang berbeda-beda satu dengan yang lain. Setiap manusia itu unik dan tidak ada yang sama tetapi kita memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi Juara. Katanya jika dunia dijadikan kompetisi, maka Sang Juara adalah mereka yang paling berbahagia. Bagaimana menurut anda?

AR 261108