2 Variasi Kentang ala Kuliner Jerman, Bratkartoffeln atau Offenkartoffeln

Kentang adalah salah satu makanan pokok masyarakat Jerman. Di sini ada bermacam-macam kentang yang perlu diketahui. Misalnya, kentang berbeda dari warnanya, ada yang putih, sedikit kuning, merah hingga ungu. Perbedaan kentang lainnya misalnya dari ukuran kentang, ada yang mini, sedang hingga besar. Kentang pun masih dibedakan dari teksturnya misalya kentang yang tekstur lembut tidak cocok untuk sup. Itu hasil pengalaman saya sehingga saya jadi tahu juga bahwa kentang itu bermacam-macam.

Kentang yang digoreng seperti french fries, di sini dikenal dengan nama pommes. Untuk pommes sendiri, ada berbagai macam variasinya mulai dari yang bentuknya panjang seperti lidi, lonjong atau bahkan berbentuk bulat seperti wajah yang diberi emoticon. Menariknya di sini pun ada kentang manis atau yang dikenal sußkartofelln.

Penasaran ‘kan dengan variasi kentang? Saya ulas dua kreasinya yang mungkin bisa anda coba buat di rumah. Mudah kok!

Bratkartoffeln

Ini adalah makanan pokok yang biasa disajikan di sini, seperti nasi. Pasalnya makanan ini biasa untuk menemani makan steak, schnitzel atau makanan lainnya. Seperti yang anda lihat pada foto, bratkartoffeln untuk melengkapi sajian steak kambing yany saya pesan dan sayuran rebus. Cara membuatnya pun mudah.

Kentang biasanya direbus dulu selama 30-40 menit atau tidak sepenuhnya matang. Setelah kentang matang, potong kentang menjadi lebih kecil. Panaskan wajan, beri butter atau mentega. Masukkan potongan kentang dan goreng hingga cokelat. Selesai masak, bisa diberi daun seledri.

Offenkartoffeln

Kreasi kedua adalah kentang yang direbus dan diisi di tengah kentang dengan sayuran tumisan. Ini bisa menjadi kreasi anda selanjutnya di rumah. Untuk melengkapinya, tersedia saus yoghurt asam dengan bawang putih, sedikit garam dan perasan jeruk lemon.

Kini pembuatan offenkartoffeln yang juga mudah tentunya. Kentang pertama-tama direbus terlebih dulu. Beri garam dalam rebusan air. Masak kentang selama 45-60 menit atau hingga matang. Kemudian tumis sayuran yang dikehendaki dan beri sedikit garam. Letakkan tumisan sayuran di tengah kentang.

Dari kedua variasi kentang di atas, mana yang akan anda coba di rumah?

Advertisements

Ini Alasan Kita Tidak Boleh Memotong Pembicaraan di Jerman

Lain budaya lain pula cara berkomunikasinya. Pengalaman ini yang saya amati lewat acara talkshow di televisi atau kebiasaan berkomunikasi di tempat kerja di Jerman. Ini menginspirasi saya untuk menuliskannya alasan, mengapa kita tidak boleh memotong pembicaraan. Dimana pun adalah hal tak baik bila kita memotong pembicaraan orang. Ini termasuk alasan kesopanan.

Saya pun mengamati berbagai diskusi talkshow di televisi pun begitu anggun dan tampak elegan. Di sini, saya mengamati talkshow tidak mungkin dua orang bisa berbicara bersamaan dan saling serang. Si moderator juga tampak menguasai panggung dan tidak memotong apa yang disampaikan pembicara. Di situ saya paham bahwa ada alasannya.

Mengapa demikian?

1. Orang Jerman adalah orang yang santun

Tiap orang mengklaim dirinya adalah orang Jerman maka mereka tahu identitas dirinya sebagai orang yang santun. Ada salam pembuka saat bertegur sapa seperti “Guten Morgen!” atau salam lain seperti “Servus!”, “Gruß Gott!”, “Guten Tag!”, “Moi Moi” atau sekedar “Hallo” saja sudah memberi tanda sapaan dan salam. Mengakhiri perjumpaan pun demikian, ada kata selamat tinggal atau sampai jumpa lagi seperti “Pfiat Dich!”, “Ciao!”, “Auf Wiedersehen!” atau “Schönen Tag!” dan sebagainya. Bahkan ketika kita hendak masuk ke kamar atau ruang kerja orang lain, kita perlu mengetuk pintu dan beri salam. Begitu santunnya maka anda bisa bayangkan bagaimana reaksi mereka jika anda memotong pembicaraan? Selain hal itu dipandang tidak sopan, tentu anda dianggap bukan orang yang santun.

2. Grammatik atau tata bahasa

Alasan berikutnya, tentu menyangkut persoalan grammatik atau tata bahasa. Secara struktur kata, kata kerja dalam bahasa Jerman itu ditempatkan di belakang. Sementara tata bahasa dalam bahasa Indonesia adalah subyek kemudian predikat. Misal, “ich muss arbeiten weil ich Geld für meine Familie brauche” yang diterjemahkan menjadi “Saya harus kerja karena saya butuh uang untuk keluarga saya” dimana “brauche” adalah kata kerja untuk orang pertama. Meski kata kerja tidak selalu ditempatkan di belakang kalimat, namun umumnya ditempatkan di belakang. Dengan begitu, guru bahasa Jerman di sini berpendapat bahwa kita harus menunggu lawan bicara selesai berbicara terlebih dulu agar tahu maksud keseluruhannya. Bayangkan bahwa anda memotong pembicaraan padahal lawan bicara belum mengucapkan kata kerja dan keseluruhan maknanya.

3. Komunikasi yang direct

Saya pernah ikut acara rapat di sini, mereka cukup singkat menyelenggarakan rapat. Cara orang di sini berkomunikasi itu direct, langsung dan tanpa basa-basi. Ini mungkin terdengar menyakitkan buat orang seperti saya, tetapi itulah mereka yang tidak menutupi apa pun. Dalam diskusi atau pembicaraan, tiap orang punya hak yang sama untuk berpendapat. Namun mereka berbicara to the point dan berdasarkan data. Orang di sini adalah orang yang berpikir logis sehingga mereka tidak akan berbicara melantur atau berlebihan. Tentu kita tidak mungkin juga memotong pembicaraan karena mereka pun berbicara apa adanya, tidak berbelit-belit.

Ketiga alasan di atas adalah hasil diskusi saya dengan beberapa teman di sini. Itu menarik buat saya tuliskan untuk menginspirasi.

Jika ada hal yang urgent dan important yang harus disampaikan sehingga perlu memotong pembicaraan maka anda perlu beri kode atau tanda untuk diberi kesempatan berbicara. Biasanya mereka cukup paham dan langsung mengerti.

Semoga bermanfaat!

Jägersoße zu Schnitzel, Saus Berbeda Buat Schnitzel: Makanan Khas Jerman (52)

Jägersoße tampak di kiri schnitzel dan kentang goreng.

Memasuki ulasan kelima puluh dua dari makanan lokal di Jerman berikutnya, saya perkenalkan schnitzel yang sudah mendunia. Pasalnya schnitzel acapkali disajikan di restoran Jerman di berbagai belahan dunia di luar Jerman. Schnitzel adalah makanan populer nan meriah dan mudah ditemukan di sini.

Jägersoße sudah dituangkan ke atas schnitzel.

Schnitzel itu adalah potongan daging yang dipipihkan dan dibalut tepung roti. Schnitzel disajikan dalam kesempatan istimewa di restoran eksklusif hingga sajian instan yang dijual di supermarket lalu kita bisa menghangatkannya di microwave sebelum disajikan. Namun schnitzel menjadi citarasa berbeda ketika saya mendapatinya dengan saus jägersoße.

Saus jägersoße adalah saus krim dengan potongan jamur. Jamur yang biasa dipergunakan adalah jamur kancing, namun anda juga bisa menggunakan jamur chanterelle yang lebar atau jamur shitake juga bisa. Cara membuatnya sangat mudah. Cukup siapkan jamur, bawang putih, butter, krim makanan, jeruk lemon, garam dan merica. Jika tidak ada krim, anda juga bisa pergunakan tepung sagu sedikit.

Pertama, panaskan wajan dan masukkan butter. Masukkan bawang putih cincang, kemudian jamur yang sudah dipotong. Tumis sebentar lalu tambahkan krim, garam dan merica. Masak beberapa saat. Setelah saus jägersoße selesai, anda bisa menyiramkan di atas schnitzel sebagai variasi rasa.

Hmmm, bagaimana?

Leberknodelsuppe dan Leberspätzlesuppe, Ini Bedanya: Makanan Khas Jerman (51)

Leberknodelsuppe.

Saya sudah lama tidak membahas kuliner lokal asal tempat tinggal saya sekarang. Untuk menggenapi ulasan yang ke lima puluh satu, saya mengumpulkan dua makanan yang serupa tetapi berbeda. Dikatakan serupa, karena bahan yang digunakan untuk membuatnya sama. Hal berbeda adalah cara penyajiannya saja, meski keduanya disajikan dalam bentuk sup.

Leberknodelsuppe

Saya pernah mencoba membuat makanan ini sendiri yang dituliskan pengalaman dan resepnya di sini. Berdasarkan pengalaman membuatnya yang rumit, saya akhirnya memilih membeli saja. Di supermarket tersedia juga makanan instan yang langsung dipanaskan begitu tiba di rumah. Sedangkan saya juga pernah memesannya di restoran dengan harga yang cukup terjangkau juga.

Bahan pembuatannya dari daging sapi, hati sapi, tepung roti dan roti baguette yang dihaluskan dengan bumbu seperti bawang putih dan merica. Jika merujuk pada hasilnya, leberknodelsuppe itu mirip bakso, bentuknya yang sama-sama bulat. Sedangkan keduanya memiliki rasa yang berbeda, meski ada kandungan daging sapi. Setelah bahan yang dihaluskan tadi dibentuk bulat, maka kuahnya hanya diberi kaldu sapi saja.

Pada foto tampak ada kreasi sayuran yang dikehendaki sesuai selera. Ini saya pesan di restoran untuk melengkapi rasa dan dekorasi saja.

Leberspätzlesuppe

Makanan selanjutnya yang diulas adalah Leberspätzlesuppe yang tampak mirip. Serupa karena bahan yang digunakan juga sama seperti leberknodelsuppe, yakni daging dan hati sapi. Bentuknya saja yang berbeda, dimana leberspätzlesuppe dibentuk jadi lonjong kecil-kecil.

Apa sebab?

Setelah semua bahan dihaluskan, ada alat bantu namanya spätzlesieb, seperti saringan dandang. Ketika bahan dihaluskan maka olahan bahan akan jatuh melalui lubang saringan ke dalam panci berisi air rebus. Ketika sudah masak, maka bentuknya seperti spätzle atau pasta. Untuk menikmatinya, tambahkan rebusan air kaldu sapi dan irisan daun seledri sebagai dekorasi.

Hmmm, sup yang menyegarkan!

Televisi pun Sudah Smart TV, Bukan Analog Lagi

Ilustrasi.

Kemajuan teknologi di bidang televisi di Jerman memang sudah berada di depan. Saya sudah bertanya kepada suami, perkembangan televisi di sini dengan tempat tinggal saya di Jakarta, dimana saya lahir dan dibesarkan. Misalnya televisi berwarna itu di sini sudah ada sejak tahun 1970-an sedangkan saya baru mengalami perkembangan televisi berwarna itu sekitar tahun 1980-an di ibukota Indonesia. Itu artinya, ada perbedaan sekitar lima sampai sepuluh tahun. Itu prediksi saya.

Kali ini perkembangan televisi di Jerman selangkah lebih maju lagi. Kemudahan ini terjadi seiring dengan internet yang merambah ke televisi, sehingga menjadi smart tv. Itu sebab kami pun berburu televisi baru yang sudah tidak terhubung lagi dengan antena. Himbauan bahwa program televisi yang semula analog akan menjadi digitalisasi berangsur-angsur dimulai sejak akhir musim panas tahun lalu.

Perubahan ini tentu ada sebabnya. Seiring dengan bermunculan penjualan televisi “smart tv” yang terjangkau di toko elektronik menyebabkan kepemilikannya meningkat sekian persen berdasarkan survei. Bahkan akhir tahun, kami sudah mendapatkan pengumuman bahwa program televisi analog akan berangsur terhapus. Saya sendiri tidak tahu bagaimana penerapannya di Bundesland lain, hanya saja di Bavaria sudah mulai diberlakukan.

Televisi klasik yang menggunakan antena sudah mulai ditinggalkan. Teman mahasiswa lain mengeluh karena dia tidak bisa menonton televisi hanya karena dia belum mengganti televisinya. Padahal tiap orang di sini, termasuk mahasiswa non Jerman dikenakan pajak radio dan televisi. Program televisi yang ditayangkan di sini pun bervariasi tiap negara bagian. Dengan begitu, televisi “smart tv” membuat saya sebagai pendatang belajar banyak hal, seperti budaya, kebiasaan dan bahasa. Program televisi banyak dan membantu saya mengenal negeri ini.

“Smart tv” sama seperti “smart phone” dimana kita terhubung juga dengan internet secara langsung. Hal yang bermanfaat bagi saya lainnya, saya bisa belajar bahasa Jerman dengan running text bahasa Jerman di sebagian program televisi. Begitulah “smart tv” yang membuat saya juga jadi “smart” berbahasa Jerman.

Apakah anda ada pengalaman lain?

“Sendok Sepatu” Penasaran ‘Kan Fungsinya Apa?

“Sendok sepatu” tampak dalam gambar, panjang pendek tergantung pemakaian.
Tampak pelanggan mempraktikkan “sendok sepatu” saat memakai sepatu.

Salah satu benda yang dibawa suami saat datang ke Indonesia adalah schuhlöffel atau schuhanzieher. Kami lebih sering menyebutnya “schuhlöffel”. Menurut suami, benda itu tak mungkin ada di Jakarta. Ternyata memang benar benda itu tidak atau belum ada di Indonesia. Bahkan di seluruh negara Eropa pun belum tentu ada karena saya juga jarang menemukannya di hotel atau toko sepatu. Nah, anda pasti penasaran, apakah schuhlöffel itu?

Schuhlöffel bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti “sendok sepatu” karena memang bentuknya sedikit mirip sendok dan digunakan untuk memakai sepatu. Alat bantu ini memudahkan seseorang mengenakan sepatu dengan nyaman dan sepenuhnya masuk ke dalam sepatu. Sekarang anda pasti percaya bahwa alat ini belum ada di Indonesia. Karena kita berpikir buat apa memakai sepatu perlu alat bantu, namun alat bantu ini praktis dan mempersingkat waktu.

Bagi orang-orang di sini, alat bantu ini membuat orang cepat dan nyaman mengenakan sepatu. Orang Jerman adalah orang yang menghargai waktu sehingga mereka dapat mempersingkat waktu untuk mengenakan sepatu. Alat ini cocok untuk sepatu tertutup seperti sepatu pria, sepatu olahraga, sepatu pantofel atau sepatu yang perlu waktu untuk menguatkan tali-tali sepatu. Saya sudah mempraktikkannya dan ternyata benar bahwa alat ini membuat waktu mengenakan sepatu lebih singkat. Hmm, ajaib memang!

Shuhlöffel amat sangat membantu bagi mereka yang kesulitan menunduk atau jongkok karena mereka harus mengenakan sepatu. Dengan alat bantu ini, kita cukup sedikit membungkuk dan bisa dengan mudah dan nyaman mengenakan sepatu. Alat bantu ini membimbing ujung tumit untuk masuk ke sepatu dengan mudah. Bahan material shuhanzieher atau shuhlöffel terbuat dari kayu, plastik atau metal yang lembut dan nyaman untuk kaki.

Hal menariknya, shuhlöffel tidak hanya ada dalam kebutuhan rumah tangga saja tetapi juga di toko sepatu. Jika kita ingin mencoba sepatu dari toko sepatu di Jerman maka kita perlu shuhlöffel yang biasanya diletakkan di pinggir rak sepatu. Satu lagi, saat anda mencoba sepatu di toko sepatu sebaiknya anda juga mengambil kaus kaki yang disediakan. Ini demi kenyamanan bersama karena belum tentu juga anda membeli sepatu tersebut. Shuhlöffel memudahkan calon pembeli sepatu untuk mencoba aneka sepatu dengan cepat, bahkan sepatu yang bertali banyak atau boot sekalipun. Anda tak perlu mengikat dan mengencangkan tali sepatu, tetapi biarkan shuhlöffel membantu anda untuk masuk ke dalam sepatu secara keseluruhan.

Selain itu, saya yang sering berpergian dan menginap di hotel di Jerman juga mendapati shuhlöffel disediakan di tiap kamar hotel. Tetapi memang ini menjadi salah satu fasilitas hotel berbintang dan eksklusif di Jerman yang memudahkan tamu hotel dapat nyaman saat mengenakan sepatu. Jadi jika anda mendapati shuhlöffel di sini, anda tahu apa fungsinya ya.

Bagaimana menurut anda?

Käsekuchen atau Birnen Käsekuchen, Enak Mana? Kue Khas Jerman (6)

Di Jerman saya mendapati aneka kue yang benar-benar enak dan dibuat untuk memanjakan lidah. Anda bisa lihat pos saya terdahulu tentang kue yang sudah saya reviu. Itu sudah membuktikan bahwa menikmati secangkir kopi dan kue yang enak itu benar-benar pilihan yang jitu di sore hari. Apalagi di musim dingin seperti sekarang, saya pun tak menolak ketika suami ajak saya menemaninya nonton pertandingan bundesliga di suatu kafe.

Saat ini saya berbagi dua kue keju yang juga khas dan mudah sekali dijumpai di toko kue atau kafe di sini. Dalam literatur bahasa Inggris, bisa jadi kedua kue berikut termasuk cheesecake. Namun tentu saja, keju yang digunakan di Jerman berbeda bahannya. Itu sebab, saya katakan rasa kue di sini sungguh enak. Biasanya dua kue tersebut bisa menjadi satu paket sama kopi. Asyik ‘kan!

Käsekuchen

Kue ini bila diterjemahkan menjadi kue keju. Kue tradisional yang ditemukan di Jerman termasuk kue yang banyak digemari, tidak hanya bagi para keju lovers. Di Austria, saya juga menemukan kue yang sama dan rasa yang juga sama. Hanya saja, kue punya nama berbeda, ini disebut topfenkuchen.

Pembuatan kue ini mudah, meski tak mudah buat saya mencoba panggang kue ini sendiri. Setelah saya cicipi, keju lembutnya memang berasa enak. Ada rasa asam manis bercampur jadi satu. Itu sebab dikatakan kue keju ala Amerika dan Jerman berbeda karena menggunakan keju yang berbeda. Kejunya sendiri dikenal quark sehingga kue ini kadang disebut Quarkkuchen.

Orang Jerman sendiri menyebut kue ini adalah kue klasik karena sejarahnya yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Hal ini dibuktikan dengan resep kue ini yang berhasil dituliskan sejak abad pertengahan.

Birnen Käsekuchen

Masih tentang kue keju, berikutnya adalah birnen käsekuchen. Jika diterjemahkan, nama kue ini sebenarnya berkaitan dengan buah pir (=birnen, bahasa Jerman). Jadi kue diolah dengan meletakkan daging buah pir di dalam kue. Hmm, lezat!

Untuk adonannya hanya mentega, tepung, gula, garam, vanili dan telur. Kemudian remah-remah dari sisa buat kue, diletakkan di atas kue sehingga penampilannya seperti pada foto. Kemudian, ambil potongan daging buah pir dan tiriskan dari airnya. Letakkan di atas kue bersamaan dengan remah-remah kue. Lalu terakhir, tambahkan adonan telur dan keju quark ke atas kue. Panggang dalam oven.

Sekarang anda sudah punya kue keju pir yang siap disantap.

Dari dua keju di atas, mana yang disuka?

7 Alasan Mahasiswa Di Sini Tidak Bawa Kendaraan Pribadi

Ilustrasi. Penggunaan aplikasi kendaraan umum di Bundesland Bayern untuk tujuan, jadwal dan jenis kendaraan umum.

Jumlah mahasiswa di universitas, tempat saya studi kira-kira sekitar setengah jumlah penduduk kota, tempat tinggal saya sekarang. Jika tiap mahasiswa bawa kendaraan pergi ke kampus maka tak terbayang betapa macetnya kota saya. Itu sebab setiap mahasiswa membayar biaya semester termasuk biaya transportasi selama satu semester.

Penggunaan kartu bayar bis hanya menunjukkan kartu mahasiswa kepada supir di pintu depan saat mau naik bis. Di sini naik bis berawal dari pintu depan dan turun dari pintu belakang. Jika kita tidak bawa kartu mahasiswa, kita perlu bayar langsung di tempat sekitar dua Euro sekian mahalnya. Padahal jarak rumah ke kampus hanya sekitar 10 menit dengan bis tetapi bayarnya sekitar dua Euro.

Ada juga kartu bayar bis untuk delapan kali perjalanan yang dipatok harga sepuluh Euro. Bagi mahasiswa, kartu mahasiswa itu kartu sakti untuk naik transportasi umum, bayar makan di kantin, fotokopi murah dan print murah yang semua disediakan di kampus.

Saya pikir ini ide menarik untuk mengurangi kemacetan. Lagipula transportasi umum di sini sangat nyaman dibandingkan kita mesti pusing memikirkan tempat parkir yang sudah pasti mahal. Ada juga solusi lain kendaraan dengan bersepeda dari asrama ke kampus. Namun di musim dingin, siapa yang tahan mengayuh sepeda?

Berdasarkan pengalaman saya tersebut, saya pikir bisa menjadi solusi atasi macet di Jakarta misalnya. Saya ingat dulu kampus saya di Jakarta dimana saya harus berjuang menerobos kemacetan menuju kampus. Dengan begitu, kartu identitas mahasiswa bisa dijadikan kartu bayar transportasi umum sehingga mahasiswa tak perlu bayar saat naik transportasi umum.

Saya mewawancarai teman-teman mahasiswa di sini. Anda bisa melihat bahwa mahasiswa yang kuliah di sini tidak membawa kendaraan pribadi. Berikut 7 alasannya:

1. Sudah membayar retribusi bayar transportasi umum per semester. Sayang saja jika fasilitas ini tidak digunakan.

2. Lahan parkir yang terbatas di kampus. Kampus lebih banyak menyediakan ruang hijau dan membiarkan suasana alami dibandingkan menjadi ruang parkir. Daripada mereka pusing memikirkan parkir mobil, lebih baik mereka naik bis.

3. Biaya parkir pun cukup mahal bagi kalangan mahasiswa. Daripada mahasiswa membayar parkir, lebih baik berhemat untuk kebutuhan lainnya.

4. Jarak rumah tinggal/asrama lebih dekat sehingga mereka urung bawa kendaraan.

5. Harga bahan bakar kendaraan (BBM) di sini lebih mahal.

6. Pilihan yang menyehatkan dengan berjalan kaki atau bersepeda jika jarak tempuh jauh.

7. Mahasiswa cinta alam. Ini alasan terakhir setelah saya bertanya pada segelintir teman yang dikenal. Mereka berniat mengurangi polusi kendaraan, mengurangi penggunaan plastik belanja dan sebagainya. Mereka ingin menjadi agen perubahan untuk keberlangsungan dunia lebih baik.

Demikian tujuh alasan yang dijelaskan di atas. Semoga ini menginspirasi!

Chilli Cheese Fries, Wili dan Emil Ditawarkan Farmstead Passau: Rekomendasi Tempat (23)

Ini makan siang yang dinamakan “Emil”.

Menjejakkan kaki di kota tiga sungai, Passau maka anda akan menemukan banyak kafe dan restoran yang menawan anda untuk betah di sini. Apalagi kafe yan menawarkan tempat yang cozy dan asyik buat nongkrong untuk anak muda. Interior yang dibangun di dalam kafe membuat tua muda betah duduk berlama-lama. Ditambah lagi letak kafe yang strategi di kisaran kampus dan terminal bis. Wah, ini jadi pilihan menarik untuk berkunjung pastinya.

Adalah Farmstead sebagai tempat makan yang bertema natur dengan aneka menu yang ditawarkan. Ada menu sarapan pagi, brotzeit, makan siang hingga cuma sekedar snack dan kue. Lengkap di kafe ini. Makanan yang ditawarkan juga tak membuat ragu para mahasiswa dan remaja untuk nongkrong dan berlama-lama di sini. Harga menu makanan dan minuman terjangkau.

Chili cheese fries

Tak ingin makan siang, saya dan teman mahasiswa bisa memilih ini untuk menemani ngobrol. Ini sejenis snack, terbuat dari kentang goreng. Menariknya, kentang goreng diberi bumbu chilli corn canne yang agak pedas dan ada jagung manisnya. Sebagai topping, ada irisan keju. Anda bisa meminta saus mayonaise untuk menemani anda menikmatinya. Jangan ditanya, pastinya enak!

Emil

Kali lain saya datang lagi bersama teman mahasiswa lainnya mencoba menu ini. Namanya Emil, yang masuk kategori makan siang. Emil terdiri atas nasi putih, chili con carne, keju feta, jagung manis dan kentang goreng. Ada tambahan kacang polong dan daun rucola sebagai salad. Rasanya yummy!

Wili

Untuk makanan terakhir ini, makan siang non halal. Pasalnya ada suwiran daging babi goreng di antara nasi dan sauerkraut. Ditambah saus lezat madu dan barbeque yang dipadukan untuk menikmatinya. Ada daun rucola sebagai salad. Recommended!

Untuk pilihan minuman, anda bisa minuman dingin atau panas. Ada jus juga yang menyehatkan seperti yang dipesan teman saya, jus jeruk ditambah madu. Sedangkan saya memilih teh dari afrika.

Rekomendasinya:

  • Selera kuliner yang yummy, sajiannya cukup kreatif, enak dan terjangkau.
  • Interior kafe menunjang dan instragramable.
  • Asyik dan cozy buat nongkrong.
  • Strategis lokasinya.

Silahkan datang ke Farmstead ke alamat di bawah ini

Nibelungenplatz 2, 94032 Passau. Jerman

Semoga bermanfaat!

Cokelat dan Bunga, Belanja Terbanyak Orang Jerman di Hari Valentin

Selamat hari valentin bagi anda yang merayakannya!

Hari valentin di Jerman mendapat pengaruh tradisi gereja katolik yang melatarbelakangi riwayat santo valentinus sendiri. Kemeriahan hari valentin diperkuat untuk menandai cinta sebagai eleman hubungan dasar manusia. Ini yang akhirnya dikembangkan menjadi industri sehingga kehadiran valentin identik dengan cokelat, bunga dan berbagai pernak-pernik hadiah lainnya. Ragam industri ini menjadi simbol cinta yang diberikan kepada orang yang dikasihi.

Sejak saya berada di Jerman, menjelang hari valentin memang sudah tampak aneka cokelat dan bunga yang dijual di supermarket. Penjualan ini semakin marak seiring menjelang hari valentin. Cokelat dikemas dengan indah, motif hati dan dominasi warna merah. Ada pula tulisan kata “liebe” atau “für dich” di selipan kemasan.

Sedangkan bunga bisa dijual mulai dari satuan seperti bunga mawar hingga rangkaian bunga yang cantik. Harga yang ditawarkan pun dibanderol murah hingga lumayan mahal yang ditambah pengemasannya yang menarik.

Tetapi omong-omong mengapa bunga dan cokelat yang jadi belanja orang-orang di sini?

Mengacu pada hasil survei pasar tahun 2018 lalu yang saya baca, disebutkan bahwa cokelat dan bunga menempati urutan teratas untuk belanja di hari valentin. Kisaran ini lebih tinggi ketimbang hadiah lain seperti makan di restoran, nonton film atau membelikan hadiah lainnya. Sementara membelikan hadiah lain seperti perhiasan dan benda berharga lainnya bisa jadi belanja bagi penduduk negara lain. Namun bagi orang-orang di sini cukup cokelat dan bunga saja di hari valentin.

Berdasarkan pengalaman, pria Jerman memang bukan merupakan pria romantis. Saya percaya sisi romantis bisa dilakukan dengan banyak cara, termasuk membelanjakan sesuatu untuk orang yang dikasihinya. Umumnya ada hadiah kecil yang diberikan suami selain cokelat dan bunga di hari valentin. Itu sebab hasil pengamatan saya menunjukkan penjualan cokelat dan bunga meningkat.

Saya pun penasaran apa alasannya?

Bagi orang-orang Jerman, cokelat bisa dikaitkan sebagai süsigkeit, semacam pemanis seperti permen. Tak harus menunggu saat valentin tiba, süsigkeit itu selalu ada saat natal, paskah, tahun baru, perayaan santo nikolaus, dan lain sebagainya. Cokelat dengan aneka rasa, rupa dan harga dijual di sini tanpa mengenal musim.

Pemberian süsigkeit dilakukan juga jadi tradisi di sini. Misalnya saat seorang anak memasuki hari pertama sekolah. Orangtua memberikan süsigkeit bisa itu cokelat atau permen yang memotivasi anak untuk senang belajar di sekolah. Pengalaman saya malahan saat ujian belajar bahasa Jerman di suatu lembaga, tiap peserta ujian dapat süsigkeit sebelum ujian dilaksanakan. Tujuannya agar memotivasi peserta dalam menjawab soal ujian dengan baik.

Jadi cokelat diberikan pada hari valentin di Jerman adalah hal lumrah seperti tradisi hari-hari lain umumnya. Begitu pun belanja bunga yang dianggap sebagai hal wajar untuk memberikan hadiah. Itu artinya kisaran belanja orang Jerman di hari valentin tidak sampai berlebihan. Ini yang mengarahkan survei pasar bahwa orang Jerman termasuk pelit dalam belanja di hari valentin.

Bagi mereka di sini, tak perlu menunggu hari valentin untuk membelanjakan cokelat dan bunga karena mudah didapat di supermarket mana saja. Bunga pun demikian, yang digolongkan sebagai lambang kehidupan dan diberikan untuk hadiah. Kapan saja saya bisa mendapatkan bunga dan cokelat misalnya saat wedding anniversary, ulang tahun, kelulusan, dsb. Namun kuantitas belanja dua hal ini meningkat karena perayaan hari kasih sayang sebagai bentuk amalan hubungan antar manusia. Cinta.

Nah, apa yang anda belanjakan di hari ini untuk orang yang anda kasihi?