Kecerdasan Linguistik? Begini 7 Cara Meningkatkannya

Contoh melatih kecerdasan linguistik adalah mencocokan kalimat. Tentu anda harus punya banyak wawasan mengisinya seperti banyak membaca. Contoh kuis di majalah Jerman tentang kuliner dari Indonesia. Hayo, apa jawabannya?

1_blog
Contoh laporan pembelajaran yang dibuat oleh siswa. Ini menarik untuk melatih kecerdasan Linguistik. Dokumen pribadi.
blog4
Kecerdasan Linguistik juga ditentukan seberapa banyak bahan bacaan yang dibaca. Dokumen pribadi.

 

 

Tidak cerdas Matematika apalagi IPA? Jangan takut! Ini pengalaman pribadi bahwa saya tidak pandai dalam kedua ilmu tersebut. Namun nyatanya bahwa kehidupan kemudian dalam pekerjaan ditentukan oleh seberapa besar minat dan bakat saya. Jika dulu mitos berkembang bahwa orang yang cerdas adalah pandai dalam ilmu hitung dan ilmu alam. Sekarang kecerdasan tidak ditentukan semata-mata kepandaian dalam dua ilmu tersebut.

Saat kuliah psikologi, saya diperkenalkan pada Theory of multiple intelegencies yakni bahwa kecerdasan tidak ditentukan oleh satu faktor tunggal. Hal ini disampaikan oleh Psikolog Amerika Howard Gardner (1983). Salah satu kecerdasan yang menjadi elemen dari teori tersebut adalah kecerdasan linguistik. Pastinya penasaran apa sih kecerdasan linguistik?

Kecerdasan linguistik adalah kemampuan untuk berpikir dalam kata-kata dan menggunakan bahasa yang mengekspresikan dan memahami kalimat yang kompleks. Sederhananya adalah kompetensi ini ditentukan dari seberapa baik anda dalam menyerap bahasa lisan dan tulisan. Tak hanya itu, kompetensi ini juga ditentukan pada kemampuan menyampaikan pendapat secara lisan dan tulisan. Mungkin anda berpikir kecerdasan linguistik ada pada mereka yang berkarya sebagai wartawan, penulis atau pembicara publik misalnya. Namun sebenarnya setiap orang punya kecerdasan linguistik ini, namun mana yang lebih dominan dalam tiap pribadi.

Seorang mahasiswa dituntut mau tidak mau mempertajam kecerdasan linguistik mereka. Bagi mereka yang menempuh program magister misalnya dosen lebih banyak membuat anda berpikir analitik lewat ceramah mereka. Atau anda diminta untuk lebih sering mengutarakan pendapat di kelas atau membuat paper. Kadang saya berharap seandainya di sekolah dulu di Indonesia tiap guru meminta siswa membuat laporan pembelajaran, tentu ketika mahasiswa menulis tidak lagi menjadi masalah.

Siapa pun anda, berikut saran saya jika ingin meningkatkan kecerdasan linguistik:

(1). Bermain teka-teki silang atau acak kata.

Saya suka sekali permainan ini. Selain mengasah otak tentunya mengisi teka-teki silang juga termasuk mengisi waktu luang. Di sini otak anda akan berpikir untuk mencari atau mencocokkan kata yang sesuai. Meski sebuah permainan, namun ini sulit juga. Permainan ini juga menguji kekayaan kosakata yang anda miliki. Disamping itu tentu anda harus punya banyak wawasan agar bisa memenangkan permainan ini.

(2). Menulis jurnal atau buku harian. 

Ini mungkin cara yang paling mudah. Sejak kelas 3 SD saya sudah memulainya dari sekedar buku tulis sederhana hingga buku yang memang spesial buku harian. Ayah saya menyarankan untuk menulis pengalaman apa saja yang dialami setiap hari. Menarik ya! Dari menulis buku harian, saya jadi paham bagaimana menuangkan pengalaman secara terstruktur. Benar juga saran ayah saya.

Baca https://liwunfamily.com/2015/11/05/5-tips-ajari-anak-gemar-menulis/

img-20160308-wa0020.jpg
 

Untuk menentukan kecerdasan Linguistik juga diperlukan seberapa banyak bahan bacaan yang dibaca. Dokumen pribadi

 

(3). Membaca. 

Semua sepakat jika dikatakan membaca dapat meningkatkan kecerdasan linguistik. Ketertarikan saya membaca bermula dari rasa ingin tahu. Setelahnya saya pikir membaca menambah kekayaan kosakata dan meningkatkan wawasan. Bukankah saat berbicara anda perlu banyak wawasan juga agar diterima publik?

Baca https://liwunfamily.com/2015/02/20/strategi-ajari-anak-membaca-secara-komperhensif/
(4). Ikut kursus menulis. 

Tahun 2009 saat saya dapat educational benefit dari kantor tempat saya bekerja 500 USD. Saya manfaatkan uang itu dengan ikut kursus singkat menulis. Alasannya posisi pekerjaan saya membutuhkan kapasitas menulis lebih banyak. Di sini tidak hanya didapatkan teknik menulis saja namun memotivasi peserta agar percaya diri untuk menulis. Rupanya kebanyakan orang masih ragu dan tak percaya diri untuk menulis.

Baca https://liwunfamily.com/2009/11/26/menulis-adalah-seni/

(5). Menekuni bahasa asing.

Sekarang saya menguasai tiga bahasa yakni bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa Jerman. Ternyata kursus bahasa itu menyenangkan juga. Saya belajar bagaimana berkomunikasi bahasa asing kepada orang lain meski itu sulit. Teman kursus saya di Jerman dari berbagai budaya, terutama mereka adalah migran dan pengungsi. Terbayang bahwa sering kali saya harus menjelaskan sesuatu namun mereka tidak paham karena bahasa Inggris dan bahasa Jerman yang terbatas. Di sini anda dilatih kecerdasan linguistik agar komunikasi yang anda sampaikan dipahami dengan baik.

Baca https://liwunfamily.com/2015/02/15/belajar-bahasa-jerman-ala-instan/

(6). Menulis puisi, cerita pendek atau lirik lagu.

Jika tak suka melakukan poin satu hingga lima, coba deh membuat puisi. Mungkin idenya tak menarik namun mengapa tidak buat puisi? Keluarkan sisi romantis anda! Buatlah puisi yang tak perlu dibaca oleh orang lain jika merasa malu! Atau anda bisa membuat khayalan jadi cerita pendek misalnya. Ini sering saya buat jika saya mentok menemukan ide menulis. Namun bagi anda yang berbakat, bukan tidak mungkin membuat lirik lagu.

(7). Menonton film.

Tak suka melakukan enam poin di atas, coba menonton film. Anak teman saya pandai berbicara bahasa Inggris meski usianya masih balita rupanya setiap hari dibiarkan menikmati tayangan film kartun berbahasa Inggris. Film juga berpengaruh untuk mengasah linguistik anda mulai dari memahami tokoh film, alur cerita hingga kosakata yang muncul bilamana itu film berbahasa asing.

Kesimpulan

Kecerdasan linguistik bagi seseorang penting di era revolusi komunikasi saat ini. Tentu kecerdasan ini menyangkut kemampuan berbahasa, baik tertulis maupun lisan sehingga pesan tersampaikan dengan baik. Meningkatkan kecerdasan Linguistik perlu agar dapat membantu seseorang memecahkan masalah dengan baik dan juga melatih kecakapan penalaran abstrak. Mereka yang cerdas linguistik juga berbicara terstruktur dan pandai dalam berpendapat, terutama bagi mereka yang menjadi pembicara publik, motivator, penyiar, dsb. Cerminan ini memang perlu latihan terus menerus misalnya dengan rajin menulis seperti blogging yang saya lakukan saat ini.

Baca https://liwunfamily.com/2016/04/02/hebatkan-dirimu-lewat-tulisan/

Ada pendapat?

Advertisements

Komunikasi Juga Butuh Kepercayaan Loh

image1
Nothing is quite as precious as TRUST. Tulisan ini saya temukan di dinding toko emas di Singapore. Begitu menyentuh bahwa KEPERCAYAAN itu mahal harganya. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Ada banyak hambatan dalam berkomunikasi, seperti yang saya jelaskan di sini. Namun sesungguhnya ada satu elemen yang mendasari suatu komunikasi. Apa itu? KEPERCAYAAN. Berikut hasil percobaan dan pengalaman saya.

Suatu kali saya pernah tersesat sendirian traveling ke negeri Gingseng, Korsel. Pengalamannya saya tulis di sini. Saya berusaha berkomunikasi dengan penduduk setempat untuk bertanya alamat hotel. Sebagian besar orang yang saya tanyakan, mereka memilih tidak ingin berkomunikasi dengan saya. Mengapa? Kurang KEPERCAYAAN kepada saya yang adalah orang asing menurut mereka.

Atau saya bereksperimen saat kuliah, Psikologi Komunikasi bahwa kepercayaan juga menentukan komunikasi. Saya berdiri di halte bis lalu mengajak orang berbicara. Saya adalah orang asing dan memulai suatu komunikasi yang baru. Tentu mereka yang percaya pada saya, akan terus berkomunikasi. Namun sebagian besar menolak berkomunikasi. Mengapa? Kurang KEPERCAYAAN.

Terhadap orang yang asing atau orang yang baru dikenal, tentu tak mudah membangun komunikasi. Itu sebab seorang konselor pertama-tama harus membangun suasana KEPERCAYAAN dulu kepada kliennya. Dengan begitu klien dapat nyaman berkomunikasi dengan konselor. See that!

So, KEPERCAYAAN menjadi kunci juga dalam berkomunikasi. Siapa yang tidak merasa terkesan saat seorang MOTIVATOR berkomunikasi kepada pendengarnya? Ada KEPERCAYAAN sehingga anda pun mau mendengarkan, rela bayar seminarnya, beli buku-bukunya dan sebagainya. KEPERCAYAAN itu membuat anda bertahan mendengarkan ceramah dari seseorang yang anda kenal handal dan kompeten di bidangnya. Anda percaya bahwa dia layak membangun komunikasi dengan anda.

Jika anda terima telpon dari orang asing yang tidak anda kenal, belum tentu juga anda merespon untuk berkomunikasi lebih lanjut. Mengapa? Karena rendahnya KEPERCAYAAN anda pada si penelpon yang notabene orang asing itu.

Lalu misalkan anda berteman dengan seorang sahabat yang sudah anda kenal baik dan percaya seratus persen kepadanya. Suatu kali dia kedapatan berbohong pada anda. Kepercayaan anda yang seratus persen di awal, bisa jadi berkurang karena kebohongan tersebut. Kemudian ketika sahabat anda ingin berkomunikasi lagi dengan anda setelah kebohongan itu, tentu anda bisa ragu berkomunikasi kembali atau anda mau berkomunikasi namun dengan kepercayaan yang tidak sepenuhnya.

Kepercayaan juga menjadi dasar berkomunikasi.

Seorang sales juga perlu berkomunikasi dengan baik, pertama tentunya harus membangun kepercayaan dulu dengan kliennya. Siapa mau tertarik dengan tawaran sales di awal jika tidak percaya? 

Komunikasi itu tidak murah. Mengapa? Karena kepercayaan itu mahal harganya. Jadi bangunlah kepercayaan yang baik sehingga orang mempercayai apa yang anda katakan saat berkomunikasi!

Dalam buku yang berjudul ‘Trust and Betrayal in the Workplace: Building Effective Relationships in Workplace’ yang ditulis oleh Dennis Reina PhD dan Michelle Reina PhD dikatakan bahwa anda membutuhkan kepercayaan dalam berkomunikasi dengan kolega di tempat kerja. Kejujuran misalnya sangat diperlukan dalam membangun interaksi dengan rekan kerja. Bukankah anda perlu menjadi orang yang ‘trustworthy‘ di tempat kerja ‘kan? Berkomunikasilah yang seadanya, tanpa ditutupi meski kejujuran terkadang susah. Namun dengan begitu mereka tahu bahwa anda adalah orang yang dapat dipercaya.

Semoga bermanfaat!

Strategi Marketing: Mengapa Banyak Orang Ingin Jadi Kaya?

Ilustrasi. Siapa ingin jadi kaya?

Mungkin anda pernah menemukan satu dari sekian slogan di bawah ini:

  • Siapa mau jadi kaya dalam waktu singkat? 
  • Anda tidak perlu bekerja terlalu giat, uang akan bekerja untuk anda.
  • Segera bergabung bersama kami, jika anda ingin kaya! 

Dan mungkin masih banyak lagi kalimat yang berseliweran menawarkan cara atau trik untuk menjadi kaya. Mengapa trik atau cara menjadi kaya begitu menarik minat banyak orang? Jangan katakan bahwa anda tidak ingin kaya! Dan mengapa pula banyak orang ingin menjadi kaya?

Banyak strategi marketing menawarkan cara ‘menjadi kaya’ untuk memikat massa. Misal memasarkan apartemen. “Jika anda membeli apartemen kami, anda membeli suatu investasi. Lima tahun ke depan apartemen yang anda beli bisa menjadi peluang bisnis menjanjikan.” Bagaimana perasaan anda saat sales menawarkannya sambil berkata demikian?

Bahwa ternyata menjadi kaya adalah impian banyak orang. Dan itu wajar! Cara ini ampuh bagi marketing untuk mengikat pelanggannya. 

Strategi menjual properti dengan menjanjikan masa depan yang cerah juga salah satu cara yang mujarab. Ini alasan yang dapat ditemukan dalam buku ‘Why we want you to be rich’ yang ditulis Trump dan Kiyosaki. Anda pun tahu siapa Trump saat ini? Yups, Presiden USA.

Menjadi kaya bukan pilihan, bukan pula takdir, bukan pula keharusan namun tawaran. Ini kunci dari strategi marketing bisnis yang menjanjikan massa bahwa kaya akan terjadi bilamana anda melakukan proses sebagaimana yang ditawarkan. Jangan berpikir anda akan mendapatkan hasil menjadi kaya bilamana anda tidak melewati proses kesabaran tahap demi tahap. So menjadi kaya bukan instan, seperti mantra tentunya. Tetapi apakah menjadi kaya nantinya? Belum tentu. Dan ini juga belum tentu dijawab mudah oleh para sales marketing. 

Menurut pendapat saya, siapa pun adalah normal dan naluriah bilamana ingin menjadi kaya. Cara strategi marketing ini sudah baik. Namun bagaimana menjadi kaya bilamana tidak bahagia, ya ‘kan? 

Sebaiknya saat memutuskan menjadi kaya, pertama-tama jadilah bahagia. Ini yang seharusnya diperhitungkan dalam melakukan strategi marketing. Buatlah pelanggan anda bahagia sebelum memutuskan memenuhi tawaran anda! Apa itu? Menjual apa yang dibutuhkan pelanggan, bukan menjual keinginan menjadi kaya.

Ada pendapat?

Apakah Ada Hubungan Sampul Rokok terhadap Perilaku Merokok? 

Aneka rokok yang dijual di Jerman. Peringatan bahaya rokok punya komposisi 50 persen dari sampul. Ada yang menggunakan efek grafis namun ada juga yang hanya peringatan tertulis saja.

Contoh efek grafis pada bungkus rokok di Jerman. 

Kiri adalah bungkus rokok yang dijual di Thailand. Kanan adalah bungkus rokok yang dijual di Belanda. Semua bungkus rokok di tahun 2015.

Tidak hanya di Indonesia yang memiliki sampul rokok menyeramkan, saya pernah menuliskan ulasannya di sini. Di Thailand misalnya saya berjumpa dengan kawan saya yang bekerja di sana dan kebetulan beliau merokok. Saya mempertanyakan bagaimana pendapatnya tentang sampul rokok di Thailand yang menyeramkan itu. Dengan mudahnya dia menjawab, saat saya merokok saya tutup saja bungkus rokok tersebut sehingga tidak terlihat dan saya tetap merokok. 

Sampul rokok yang jadi bungkus rokok di Thailand memang menunjukkan gambar tidak sedap dipandang. Komposisi gambar dan peringatan bahaya rokok di Thailand sekitar 50% dari ukurannya. 

Bagaimana di Belanda? Ini saya menemukan bungkus rokok dijual di Belanda tahun 2015. Sampai sekarang saya belum ke Belanda, untuk mengecek apakah terjadi perubahan seperti sampul rokok di Jerman. Di Belanda, sampul rokok memberi peringatan tentang bahaya rokok seperti kalimat namun tidak menunjukkan gambar yang tak sedap dipandang seperti di Thailand dan Indonesia. Lagipula komposisi peringatan bahaya merokok tidak cukup besar terhadap sampul rokok.

Tiap-tiap negara punya kebijakan masing-masing dalam membuat regulasi bahaya merokok bagi penduduknya. Toh meski sudah dikatakan rokok berbahaya bagi kesehatan, masih banyak juga orang tetap merokok. 

Lalu bagaimana jika sampul rokok menyeramkan ini berdampak terhadap perilaku merokok?

Saya ambil di contoh di Jerman. Gambar grafis yang tak sedap dipandang di bungkus rokok sama seperti di Indonesia mulai diberlakukan sejak Mei 2016. Saya mengamati pada sampul rokok di sini, porsi 50% dari ukuran juga diberlakukan sebagai peringatan bahaya merokok. Bagi saya yang tidak merokok, gambar tersebut sungguh menyeramkan. 

Dari Euromonitor, saya menemukan ada dampak penurunan penjualan rokok di tahun 2016. Dikatakan ada dua faktor yang melatarbelakanginya, pertama dikarenakan para perokok beralih ke konsumsi rokok elektrik. Kedua, efek grafis yang ditampilkan pada bungkus rokok ternyata menjadi penyebab perokok mengurangi konsumsinya atau berhenti merokok mungkin.

Jadi bagaimana?

Pertama, rupanya efek grafis sebagai bentuk komunikasi visual mampu menunjukkan perubahan perilaku di Jerman. 

Kedua, coba simak wawancara saya di atas dengan perokok di Thailand. Dia mengatakan bahwa dia akan menutup bungkusnya kala merokok. Itu sudah menunjukkan bahwa sebagai perokok ada kekhawatiran setelah melihat efek grafis bungkus rokok. 

Bagaimana di Indonesia? Apakah sudah ada hasil penelitian yang berbicara dampak efek grafis ‘menyeramkan’ sampul rokok terhadap perilaku merokok?

Semoga bermanfaat!

 

Candu Iklan atau Kualitas Produk? Berikut Ulasannya

Ilustrasi. Contoh sederhana saat memlih produk teh. Apa yang menyebabkan anda memutuskan untuk memilihnya?

Sebelum lanjut membaca, pertanyaannya apakah anda membeli suatu produk karena merek yang diiklankan atau kualitas produk? Sebelumnya baca juga ulasan saya tentang kekuatan branding di sini. Bahwa alasan orang memilih produk, salah satunya adalah pengaruh iklan.

Iklan kerap dijadikan perusahaan untuk melakukan pencitraan produk. Misalnya nih, saat di Jerman saya ingin membeli hape baru. Si sales menawarkan dua produk HAPE A atau HAPE B. Kedua hape dengan tipe xx memiliki spesifikasi yang sama baik HAPE A atau HAPE B. Harganya tentu berbeda, HAPE A lebih mahal. Saya tertarik HAPE A bukan karena harganya, namun percaya pada iklan yang berulang-ulang di media. 

Lalu sales hape berpendapat kedua hape yang ditawarkan punya spesifikasi yang kurang lebih mirip. Namun HAPE B memang tidak menggunakan iklan terlalu banyak untuk ‘menjual’ produknya. Ini sebab harga HAPE B tidak begitu mahal. Dari situ saya paham bahwa terkadang saya masih terpengaruh iklan untuk membeli produk. Dan ternyata biaya iklan juga dipertimbangkan suatu perusahaan sehingga harganya pun diperhitungkan lebih mahal, ketimbang produk yang jarang atau tak pernah beriklan.

Perusahaan yang menampilkan produk lewat berbagai iklan di media massa percaya bahwa iklan produk menjanjikan merek daripada kondisi produk. Menurut para ahli ini disebut ‘Brand Promise‘ kepada konsumen sebagai kampanye pemasaran. Iklan menawarkan janji dengan memusatkan pada kekuatan dopamin. Dopamin diyakini sebagai bahan kimia yang bertanggung jawab untuk membuat penilaian yang menggiring keputusan seseorang. 

Siapa sih yang tidak tergiur oleh janji? Naluri manusia saat dijanjikan tentu langsung bahagia. Iklan membangun kesenangan pada anda sehingga kita mempercayainya. Ingat saja jika ada pria menjanjikan untuk menikahi seorang perempuan, otomatis perempuan itu percaya pada si pria. Ini sekedar contoh. Jadi ingat juga janji politik para politisi, toh kita pun mempercayainya. Lagi-lagi ini contoh betapa kuatnya janji sehingga percaya kemudian memutuskan.

Intinya:

Kembali ke soal produk iklan, ulasan para ahli berpendapat sebaiknya perusahaan meningkatkan kualitas produk ketimbang kuantitas iklan. 

Kini keterbukaan orang berpendapat sebagai blogger misalnya mereka bisa menuliskan hasil pengalaman menggunakan produk yang berkualitas. Bukankah ini bisa menjadi kampanye pemasaran yang baik bahkan lebih murah?

Semoga setelah ini ada yang menawari saya menulis advertorial produk😎 Ini tipsnya jika mau mencoba. 

Ada pendapat?

Kaitan Pekerjaan Sales dengan Keterampilan Komunikasi

Ilustrasi foto. Sebagai Sales, anda bukan mengkomunikasikan apa yang hendak dijual melainkan sampaikan apa yang dibutuhkan klien/pembeli. Kemampuan mendengar itu diperlukan. 

Saya secara pribadi hampir selalu menghindari Sales yang berseliweran di pusat perbelanjaan dan pameran. Apakah anda juga demikian?

Orang pertama yang memperkenalkan pekerjaan “Sales” pada saya adalah Bapak saya. Ia mampu menjelaskan konsep Sales dengan baik dan punya ketrampilan komunikasi yang baik kepada rekan bisnisnya. Beberapa kali, saya diajaknya untuk mengamati pekerjaan Sales sambil belajar praktik komunikasi seperti beliau sewaktu masih anak-anak. 

Menurut Bapak, semua pekerjaan di dunia ini sebenarnya adalah “Sales” yakni bagaimana kita mampu “menjual” talenta, keahlian, pendidikan dan pengalaman kerja kepada orang lain dengan teknik komunikasi yang baik. Jadi kunci utamanya adalah komunikasi. Saya masih ingat dulu sewaktu kerja di Jakarta, ada kolega yang bisa mendapatkan gaji dan fasilitas tinggi karena keahlian komunikasinya. Ia mampu menjadi “Sales” bagi dirinya sendiri meski posisi kedudukannya tidak lebih tinggi dari saya.

Menurut pengalaman dan pengamatan saya sejak kecil, tidak ada anak-anak yang berminat menjadi “Sales” termasuk saya pribadi. Saat ini saya membahas “Sales” bukan karena profesi saya sebagai Sales melainkan seorang Sales memerlukan keterampilan komunikasi yang baik agar berhasil dalam profesinya memenuhi target penjualan. Komunikasi? Ya, ini menjadi minat saya untuk menuliskannya.

Mungkin keterampilan komunikasi yang jadi kunci keberhasilan Sales perlu diperhatikan. Sementara jika dilihat berbagai lowongan kerja, lowongan kerja Sales adalah lowongan yang mudah ditemui. Tak jarang di lowongan kerja Sales diiming-imingi dengan penghasilan yang menggiurkan dan fasilitas serta bonus memikat. Kriteria Sales pun tak rumit sehingga hampir dipastikan siapa saja bisa menjadi Sales.

Namun mengapa ada pula yang tak suka pekerjaan ini? Di beberapa kolom Pelamar yang sedang melamar kerja, kerap dicantumkan “non sales” yang intinya mau kerja apa saja asal bukan Sales. Nah, loh!

Padahal Sales adalah garda depan dari suatu produk/jasa. Keberhasilan Sales adalah keberhasilan perusahaan juga. Banyak pula Sales yang sukses dengan profesinya dan mapan hidupnya. Pekerjaan ‘kan pilihan, begitu kata teman saya dulu.

Intinya tingkatkan komunikasi anda apa pun profesi anda, demikian pula Sales agar mampu menemukan klien yang potensial dengan cara mengenali kebutuhan klien. Artinya, jika selama ini Sales hanya menjual produk/jasanya, kini juallah solusi yang menjadi kebutuhan klien.

Komunikasi yang baik di awal tentunya akan membangun situasi kondusif di masa mendatang. Siapa tahu keberhasilan teknik komunikasi yang baik, dengan lebih banyak mendengarkan klien akan menjadi peluang untuk referensi yang lain. Bukankah setiap orang ingin didengar?

Jika selama ini, kita hanya mendengarkan Sales menjual produk/jasa, ubahlah kini dengan “juallah apa yang menjadi kebutuhan klien” Jadilah yang Sales lebih mendengarkan untuk memahami apa yang diperlukan klien.

Bagaimana, tertarik menjadi Sales?

Mengapa Berpacaran Jarak Jauh Bisa Lebih Langgeng?

Kemajuan teknologi kini menjadi pendorong bagi banyak orang untuk tetap bisa memadu kasih meski jarak yang berjauhan memisahkan. Dulu banyak orang masih menganggap bahwa hubungan jarak jauh sepasang kekasih tidak akan mungkin berhasil. Namun kini nyatanya banyak juga pasangan jarak jauh, para LDR (Long Distance Relationship) yang berhasil melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, menikah. 

Sebuah studi (2013) yang diterbitkan dalam journal of communication menunjukkan meski ada jarak dalam relasi pasangan jarak jauh yang diteliti, namun ternyata tingkat kepercayaan yang tinggi memungkinkan mereka lebih intim ketimbang pasangan biasa. Hal ini tentu bertolakbelakang dengan pendapat orang di masa lalu bahwa jarak menjadi hambatan bagi kelanggengan suatu hubungan cinta. Apalagi mereka yang berpasangan jarak jauh tidak intens bertemu dan punya waktu romantis yang rendah ketimbang pasangan biasa. Namun bukan tidak mungkin, ada pejuang-pejuang LDR yang berhasil menaklukkannya.

Berdasarkan studi tersebut dan pengalaman pribadi yang pernah melakukan LDR (curcol), berikut alasan mengapa pacaran jarak jauh bisa langgeng. 

Here there are:

1. Saling percaya satu sama lain.

Meski pasangan jarak jauh bukan harapan semua orang di dunia ini, namun kenyataan menyebabkan sebagian orang terpaksa melakukan ini. Bisa karena pekerjaan, keinginan untuk sekolah, tuntutan ekonomi, aturan ijin tinggal dan lain sebagainya namun sekali lagi menjalankan hubungan jarak jauh diperlukan kepercayaan yang tinggi satu sama lain agar bisa berjalan baik. Bukankah menjalin hubungan itu mempercayai dulu baru kemudian menikah? 

2. Mampu mengatasi tantangan termasuk jarak yang memisahkan.

Duh, enaknya punya pasangan bisa ada setiap saat dibutuhkan. Namun tidak bagi mereka yang melakukan LDR. Jika jarak yang menjadi tantangan mampu ditaklukan untuk seorang yang dicintainya, bukan tidak mungkin mereka yang LDR mampu mengatasi tantangan lainnya di kemudian hari. Pepatah bijak berkata “Distance means nothing when someone means everything” 

3. Paham arti komunikasi.

Komunikasi tidak melulu digambarkan dalam bentuk kehadiran setiap waktu satu sama lain. Mereka yang melakukan hubungan jarak jauh mampu membangun komunikasi yang khas sehingga tidak ada lagi sekat jarak di antara mereka. Bahkan komunikasi yang berjarak ini lebih maksimal ketimbang pasangan biasa. Nyatanya hal romantis pun bisa dilakukan oleh pasangan jarak jauh asal tahu bagaimana mengkomunikasikannya satu sama lain.

Hmmm, semua ini bukan untuk digeneralisasikan namun kembali kepada setiap pasangan itu sendiri. Apakah komitmen dan kepercayaan bisa dilakukan meski atau tanpa jarak?

Semoga bermanfaat!

Tips Advertorial Produk di Media Cetak 

wp-image--319184920
Contoh berbagai produk tentang teh. Sebelum menulis tentang teh, coba minum teh lalu lakukan riset sebelum menulis advertorial. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Tentang Advertorial, sudah pernah diulas sebelumnya di sini. Advertorial adalah bahasa iklan yang mengesankan jika itu dibaca, dilihat atau didengar. Advertorial menjadi strategi marketing untuk menjual produk kepada konsumen agar tertarik dengan  menggunakan bahasa ‘koran’ jika dicetak, tayangan televisi layaknya reportase durasi singkat 10-15 menit di saat prime time atau selingan yang dibawakan host penyiar radio.

Kali ini saya membahas bagaimana menyusun advertorial suatu produk di media cetak. Berikut tips dari saya:

1. Alami dan coba produknya

Bagaimana anda akan mulai menulis jika tidak mencoba produk tersebut? Lalu semisal anda alergi terhadap produk susu namun anda diminta menuliskan produk sejenis. Apa yang sebaiknya dilakukan? Tidak usah paksakan jika segalanya tidak anda sukai. Ibaratnya menulis itu perlu hati juga.
Anda juga bisa meminta orang lain mencoba produk tersebut. Mintalah beberapa orang lain juga untuk mencoba. Setelah itu, tanyakan pendapat mereka mengenai produk yang dikonsumsi. Pengalaman menarik dan berbeda yang dirasakan dari penggunaan produk itu. Catat menjadi pengalaman berkesan terhadap produk itu.

2. Tuliskan dari sudut konsumen

Meski anda bukan penyuka atau pengguna produk kosmetik itu, namun menuliskan advertorial produk haruslah mengambil sudut pandang sebagai konsumen. Jangan pakai perspektif bahwa anda penulis atau jurnalis karena sense artikel itu akan berbeda! Buatlah artikel itu memuaskan pembaca sebagaimana anda puas dengan produk yang akan ditulis!

3. Ungkapkan kelebihan dan kekuatan produk

Apa yang membuat produk ini terasa berbeda dari kebanyakan produk sejenis? Perbedaan misalnya dari kemasan, harga, rasa, ketersediaan di semua produk dan sebagainya. Tuliskan hal-hal yang menjadi kekuatan dan kelebihan produk itu, bahkan inovasi yang dijual dari produk ini! Misalnya kemasan yang mudah dibawa atau rasa blueberry yang memikat dan belum pernah ada.

4. Sarankan hal-hal yang perlu ditingkatkan dari produk

Jika sudah menuliskan kekuatan, kini apakah anda punya saran terhadap produk yang anda akan tulis? Saran lebih pada pengembangan produk misalnya akangkah baik jika produk dibuat dalam kemasan praktis, tidak mudah tumpah dan mudah dibawa.

5. Jangan pernah membandingkan dengan produk lain yang serupa! 

Meski anda penyuka atau pengguna produk lain sementara anda harus menuliskan produk baru, sebaiknya anda tidak menuliskan perbandingan dua produk. Ini juga tidak etis. Buatlah anda seolah-olah memahami produk yang akan ditulis berdasarkan pengalaman anda menggunakan produk lain! Jangan pula menyebut branding produk lain!

Kurang lebih media cetak hampir serupa di media online. Kekuatan dunia blogging saat ini juga memperkuat tumbuhnya advertorial. Para blogger dapat menceritakan pengalamannya tentang suatu produk seolah-olah mereka merasa puas dengan produk tersebut. Mengapa? Pengalaman blogger ini seperti pengalaman keseharian yang nyata ketimbang normalnya iklan yang dibawakan model untuk dibayar. Hal ini bertujuan untuk menarik minat pembaca untuk mencobanya.

Selamat mencoba!

5 Tips Wawancara Media ke Anak

image

Dalam menggali informasi yang dijadikan narasumber, memang tidak serta merta hanya orang dewasa yang bisa dijadikan sumber berita. Bisa jadi kita juga memerlukan anak-anak untuk dijadikan narasumber berita. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman, ada 5 tips mewawancarai anak:

1. Bangun suasana yang ramah dan santai (rileks)
Tidak semua anak merasa nyaman diwawancarai, apalagi anda adalah orang asing untuk mereka. Jika mereka adalah narasumber buat anda, awalilah dengan membangun suasana yang nyaman (rapport yang baik) sehingga anak tidak cemas, takut, tegang malah justru jadi semakin tertutup. Perkenalkan diri anda dengan ramah secara singkat dan jelaskan tujuan anda mewawancarai mereka. Setelah anak merasa nyaman, hal pertama sebelum wawancara adalah meminta kesediaan anak untuk diwawancarai. Di beberapa organisasi bahkan perlu ada pernyataan tertulis  dari anak bahwa mereka bersedia diwawancarai.

2. Siapkan pertanyaan yang ringan, menyenangkan dan positif
Langkah selanjutnya adalah siapkan pertanyaan yang ringan dan mudah dijawab oleh anak. Misalnya, daripada bertanya “Bagaimana cara gurumu mengajar di kelas?” lebih baik bertanya “Apakah guru di kelas memintamu diskusi bersama teman?” Setelah dijawab, bisa dilanjutkan, “Coba ceritakan diskusi di kelas seperti apa!” Pilih juga pertanyaan yang positif yang mengarahkan jawaban yang disukai anak, misalnya “Mengapa kamu suka pelajaran IPA?” Kita sudah bertanya terlebih dulu apa kesukaannya.

3. Simulasikan wawancara sebelum pengambilan gambar yang sesungguhnya
Simulasi itu penting agar respon dan jawaban anak sesuai kebutuhan kita. Jangan paksa anak jika dia sedang tidak mood! Simulasi juga menjadi latihan bagi anak sehingga saat kondisi sesungguhnya, anak menjadi rileks dan nyaman.

4. Posisi anda sederajat.
Buatlah diri anda seolah-olah sederajat dengan anak lewat posisi tubuh anda! Anda bisa duduk bersama anak sehingga mudah dijangkau anak. Atau, anda bisa membungkuk untuk menyesuaikan posisi anak berdiri saat diwawancarai.

5. Beri reward di akhir wawancara.
Apapun yang terjadi dengan wawancara, sesuai kebutuhan atau tidak maka perlu disampaikan apresiasi atas partisipasi anak. Jangan biasakan pula memberi reward dalam bentuk uang tunai! Anda bisa menggantinya dengan sovenir yang bermanfaat untuk anak.

Selamat mencoba!

Apa Gaya Komunikasi Kamu Saat Traveling?

wpid-IMG-20140316-WA0011.jpg
Sumber foto: Dokumen pribadi.

Suka traveling atau berpetualang mengunjungi tempat baru, apakah kini jadi minatmu? Jangan salah, remaja pun perlu memperluas cakrawala dengan berkunjung ke tempat baru, dari yang populer hingga tempat anti mainstreaming yang jarang dikunjungi. Apa pun itu jadikan sebagai pengalaman berharga.

Berdasarkan pengamatan, berikut gaya komunikasi yang ditentukan selama traveling khas anak muda yang terbaca dari kebiasaan dan intensitas komunikasi yakni:

1. Inisiator

Kamu mungkin dapat ide pergi ke sana karena temanmu yang memulainya. Atau ide temanmu berpetualang jadi kejutan yang membahagiakan saat kamu ultah. Lain lagi tipe inisiator adalah mereka yang suka mengkomunikasikan ide atau gagasan seputar taveling. Tipe inisiator suka mengeksplorasi tujuan wisata atau destinasi yang menarik. Mereka termasuk tipe inisiator bila mereka selalu memulai rancangan itinerary atau agenda perjalanan.

2. Follower

Apakah kamu suka berkata, “Saya ikut saja apa yang jadi rencana kalian”? Tipe follower adalah mereka yang tak suka memperdebatkan soal destinasi wisata. Mereka juga akan mengikuti apa yang jadi keputusan kebanyakan orang. Mereka hanya tak mau berisiko berpergian sendiri. Sepanjang perjalanannya menyenangkan dan mengasyikkan, tipe follower akan ikut serta. Mereka peduli dengan pertemanan, bukan soal sensasi petualangan traveling. Follower merupakan orang yang asyik untuk diskusi traveling, tetapi sulit untuk diajak ambil keputusan.

3. Negosiator

Kamu akan melihat tipe negosiator untuk mereka yang pandai membujuk teman lain untuk pergi ke tempat wisata yang jadi target mereka. Mereka akan senang jika mereka berhasil mendialogkan agenda perjalanan bersama-sama. Biasanya tipe inisiator dan negosiator sering terlihat asyik memperdebatkan rencana perjalanan. Tipe negosiator juga asyik bilamana diajak untuk menawar harga saat membeli cinderamata. Mereka akan mempertimbangkan untuk membeli di pasar rakyat yang khas buat beli sovenir, ketimbang pasar supermarket dengan harga pasti.

4. Gadget maniak

Apakah kamu tak bisa berhenti memegang gadget meski sedang traveling? Entah gadget buat main hingga mencari lokasi wisata. Mereka akan berusaha terhubung dengan internet meski di luar negeri sekalipun, mereka akan membeli provider telpon lokal. Mereka akan merasa mati gaya jika tidak ada gadget. Padahal saya pernah hidup tanpa gadget saat traveling karena kurang sinyal seperti di pegunungan atau pulau terpencil, ternyata asyik juga. Namun gadget untuk tipe ini menjadi andalan, sebagai misal alat bantu berkomunikasi dengan penduduk lokal. Jadi meski sedang traveling, mereka tak takut tersesat atau merasa sendirian saat solo trip karena gadget.

So, boys and girls dari empat gaya komunikasi di atas, manakah tipe kecenderunganmu?