Mengapa Orang itu Suka Beri Penjelasan Panjang Lebar?

Dalam penyusunan acara di Indonesia, setidaknya ada satu atau beberapa selipan sambutan. Di setiap sambutan jika tidak diberikan batas waktu, bisa jadi mereka yang diberi kesempatan berbicara di depan atau beri sambutan akan berbicara panjang lebar. Mereka bilang awalnya basa-basi, baru kemudian dilanjutkan ceramah. Penjelasannya bisa panjang lebar, intinya pun terkadang tidak dipahami.

Sementara rapat kerja bagi orang-orang Jerman di sini begitu sederhana dan tidak terlalu banyak basa-basi. Kata orang Jerman begini, “Verschwende deine Zeit nicht mit Erklärungen. Die Menschen hören nur, was sie hören wollen.” Intinya, ngapain sih buang waktu dengan mendengarkan penjelasan, kebanyakan orang itu hanya ingin mendengar apa yang ingin mereka dengar. Cuma itu, simpel ‘kan?

Nah, kembali ke topik, mengapa ada orang yang suka sekali bercerita atau beri penjelasan panjang lebar. Coba disimak:

1. Orang yang demikian bukan orang yang sibuk

Duh, jika kita punya segudang pekerjaan alias orang yang cukup sibuk, mengapa sih membuang waktu dengan penjelasan ngalor ngidul. Bila ada orang yang kasih penjelasan panjang lebar dan sudah mulai tidak jelas konten pembicaraannya bisa jadi dia memang sedang tidak sibuk. Mereka yang sibuk bekerja akan cenderung berbicara seperlunya. 

2. Orang yang beri penjelasan panjang lebar termasuk Tipe Kompulsif

Mungkin anda yang mendengarkannya sudah bosan bahwa orang tersebut bisa bercerita ratusan kali hal yang sama. Mengapa itu terjadi? Jika dia suka bercerita panjang lebar yang berulang-ulang kemungkinan termasuk tipe kompulsif. Dia suka mengulang-ulang kisah panjang lebar juga kepada orang yang sama. Males gak sih ketemu orang seperti ini?

3. Bisa jadi dia sedang berbohong

Mereka yang suka bicara panjang lebar dan terdengar rumit, mungkin mereka sedang menyembunyikan sesuatu. Kemungkinan seseorang berbohong karena ingin meyakinkan pendengarnya sehingga perlu kisah yang panjang lebar. Jika dia berbicara jujur, dia akan berbicara langsung dan tidak berbelit-belit apalagi panjang lebar.

4. Menganggap rendah kapasitas pendengarnya

Semua orang sudah tahu dunia itu bulat. Namun orang yang suka bicara panjang lebar merasa perlu menjelaskannya lagi, meski tidak ‘nyambung’ dengan topik pembicaraan. Orang suka berbicara banyak hanya karena menganggap pendengarnya tidak tahu apa-apa. Dia bisa menambahkan berbagai kajian ilmu pengetahuan atau keahliannya meski sesungguhnya itu tidak diperlukan, apalagi tidak relevan dengan topik.

5. Butuh perhatian/atensi dari orang lain

Tidak menyangka juga bahwa orang yang suka berbicara panjang lebar itu ternyata butuh perhatian. Pernah lihat ada orang yang tidak berhenti berbicara hanya untuk menarik atensi orang-orang sekitarnya? Mereka ingin diperhatikan banyak orang sehingga perlu bicara banyak.

6. Butuh pengakuan agar dianggap pintar/hebat

Orang yang demikian ingin tampil untuk menunjukkan eksistensi bahwa dia mumpuni. Bahwa orang yang bercerita panjang lebar butuh diakui keahliannya bila itu tentang pekerjaannya, atau butuh diakui kehebatannya bila itu tentang pengalamannya. 

Sekarang perhatikan, benarkah demikian alasan orang suka berbicara panjang lebar dan kebanyakan penjelasan? Sesungguhnya kebanyakan orang tidak punya cukup waktu sekedar basa-basi. Bicaralah seperlunya dan sesuai konteks. Bagaimana? Ada pendapat?😁

Advertisements

Belajar ‘Branding’ dari Indomie

(Sumber foto: Dokumen pribadi)

Artikel ini tidak bermaksud advertorial namun saya jadi tertarik membahas mengenai ‘branding’ produk ini setelah saya mendapati artikel bahwa produk ini sudah menjangkau ke Nigeria, Afrika. Ternyata tidak hanya sampai di Afrika, saya pun bisa mendapati produk ini di Jerman. 

Sejalan dengan pendapat seorang ahli marketing (2000) bahwa bagaimana produk bisa semakin dikenal, salah satunya melalui multiple market places. Ini mungkin cara dimana indomie tidak saja bisa dirasakan di Indonesia, namun hingga mancanegara. 

Kali ini saya ingin mengulas bagaimana pembentukan citra indomie hingga saya pun ingin beli meski jauh dari Indonesia. Bahkan saya saja sampai membawa 1 dus Indomie ke Korea Selatan buat seorang teman Indonesia yang menitipkan indomie. Itu artinya branding indomie melekat pada mereka yang pernah merasakan nikmatnya makan indomie. 
Saya jabarkan dalam empat (4) P berikut ini:

1. Placement (Branding)

Teknik marketing ini merujuk pada bagaimana indomie dikenal sebagai produk mie dengan citarasa Indonesia. Strategi placement branding semula muncul saat booming film di era tahun 1940-an yang menunjukkan bagaimana seorang artis dalam film dengan citra produk yang melekat pada mereka. Produk tersebut bukan sekedar tempelan film namun bertujuan mempengaruhi siapa pun yang melihat.

Begitu pun dengan indomie, meski ada produk lain memiliki aneka rasa masakan khas Indonesia, namun indomie mampu melekat kekhasannya sebagai produk Indonesia. Dari pemilihan nama saja, saat saya memilih indomie di toko Asia, si kasir langsung menebak saya berasal dari Indonesia. Semula banyak orang Asia di sekitar saya menduga saya dari Thailand atau Filipina, namun saat membayar indomie maka mereka pun tahu asal saya.

Bisa jadi ini karena pengaruh iklan yang melukiskan budaya Indonesia. Iklan indomie yang saya kenang adalah bukan tentang bagaimana memasak indomie itu sendiri atau rasa indomie, namun kekhasan atau budaya Indonesia. Menarik bukan? 

2. Price

Sebagai anak kos dulu, saya pernah merasakan bagaimana menikmati indomie seperti makan di restoran. Mengapa? Saya tidak punya uang tetapi cukup dengan indomie saya bisa merasakan rasa yang kurang lebih sama dengan makanan yang dimaksud. Artinya, harga indomie cukup terjangkau untuk kocek saya kala itu.

Ada banyak pula pilihan produk mie instan lain di Jerman, dari yang berharga murah atau setara dengan indomie hingga yang mahal. Namun hanya dengan kisaran 0,39€ – 0,70€ atau 39 cents Euro hingga 70 cents Euro, saya sudah bisa mengobati rasa rindu masakan Indonesia meski jauh di mata. Harga itu bervariasi saat saya temukan di berbagai supermarket dan toko Asia di sini.

3. Product

Produknya bagaimana? Anda bisa menilai sendiri. Menurut saya, meski indomie berasal dari Indonesia namun bahasa yang digunakan pun menyesuaikan. Lihat saja contoh indomie rasa kari ayam maka ditulis Nodelsuppe mit Hühnergeschmack! Jadi siapa pun yang tidak paham bahasa Indonesia dapat mengerti rasa kemasan yang beraneka ragam di muka depan produk. Ini pula termasuk petunjuk memasaknya dalam bahasa setempat di muka belakang produk.

Dalam produk muka depan, jelas ditampilkan rasa kemasan, termasuk imej yang menggambarkan makanan tersebut saat disajikan. Setidaknya visualisasi akan membantu saat orang memilih produk. Soalnya saya pernah traveling di Asia, lalu saya dan suami mampir ke toko membeli kemasan mie instan setempat, namun di produk muka depan tidak tertera seperti apa penampakan setelah memasak. Saya dan suami hanya bisa menebak seperti apa hasilnya setelah dimasak. 

Lalu informasi 3 menit di sampul muka produk cukup membuat puas bagi mereka yang ingin segera makan tanpa berlama-lama memasak. Memang ada yang lebih dari 3 menit? Ada saja. Artinya tiap produk punya informasi masing-masing, namun indomie punya keunggulan, dalam 3 menit anda sudah bisa makan.

4. Promotion

Saya masih ingat ketika di Indonesia, iklan indomie begitu touching, bukan karena soal produk makanan, namun soal budaya Indonesia. Iklan indomie begitu menggaung apalagi saat baru meluncurkan rasa baru karena iklannya yang berdurasi cukup lama dan berulang-ulang. Saya yakin promosi indomie sudah cukup mendulang kesuksesannya. 

Sekali lagi di akhir, saya tegaskan bahwa ini tidak bermaksud iklan atau advertorial namun belajar bagaimana strategi komunikasi suatu produk bisa mendunia. Tulisan ini juga bukan karena ikut kontes menulis atau kompetisi blog, tapi murni ini pendapat saya. Terimakasih indomie. 

Untuk Jadi Pemimpin, Latih Dulu Komunikasi Anda!

Ada orang yang berjiwa pemimpin, meski dulu tak bermimpi jadi pemimpin. Lain lagi ada orang yang tidak menyangka jadi pemimpin karena kemampuannya sehingga ia terpilih. Kepemimpinan yang dimaksud di sini bukan diturunkan, namun bagaimana seorang pemimpin dipilih dan terpilih. Sesungguhnya kemampuan apa yang diperlukan oleh pemimpin? Salah satunya adalah komunikasi.

Bagaimana bisa mempengaruhi anak buah atau orang-orang yang dipimpinnya jika tak bisa berkomunikasi dengan baik? Komunikasi itu penting, tidak sekedar menyampaikan pembawa pesan saja. Tetapi komunikasi lebih pada pembawa perubahan. Jadi bila ada pemimpin memberikan dampak buruk, lihat saja bagaimana ia mengkomunikasikan segala sesuatunya. Apakah cukup jelas atau membawa masalah?

Ada pemimpin yang menyamaratakan komunikasi karena merasa ‘sok’ jadi pemimpin. Komunikasi itu tidak dipandang sebelah mata bahwa saya sebagai pemimpin dengan orang yang mendengarkan sebagai anak buah. Komunikasi seorang pemimpin, bukan ‘Dengarkan saya!’ tetapi ‘Mari duduk dan kita bicara bersama!’ Itu komunikasi seorang pemimpin.

Pemimpin harus paham saat berkomunikasi, bukan membangun jarak sehingga orang lain segan. Dia sebagai pemimpin tahu bahwa berkomunikasi adalah membangun kenyamanan sehingga tiada jarak. Ia tidak menyuruh bekerja tetapi ia sebagai pemimpin mengajak bekerja bersama-sama. Apa artinya? Ada komunikasi dua arah, bukan satu arah. 

Berkomunikasi ala pemimpin bukan pula serta merta tentang bagaimana teknik memberi instruksi. Namun seyogyanya pemimpin tahu bagaimana bersosialisasi, artinya ada interaksi. Ia tidak duduk dalam singgasana yang tidak terjangkau orang-orang yang dipimpinnya melainkan ia berada di tengah mereka yang dipimpin. 

Sebagai pemimpin berlakulah komunikasi yang punya rasa ‘ingin tahu’ ketimbang ‘sok tahu’ karena meskipun pemimpin itu pintar, ia perlu juga bertanya apa kebutuhan orang-orang yang dipimpinnya. 

Di era revolusi komunikasi sekarang ini, pemimpin perlu loh tahu bagaimana berkomunikasi yang bijak. Gunakan media sosial tidak hanya sekedar kekinian tetapi menginspirasi banyak orang. Itu baru namanya pemimpin. Ia tidak menggerutu kala tidak didengarkan namun ia membuka diri untuk mendengarkan. 

Sudah saatnya pemimpin bijak memanfaatkan berbagai saluran media komunikasi untuk menyuarakan hati orang-orang yang dipimpinnya. Ia bukan pemimpin yang berkeluh kesah lewat propaganda media. Ia berani karena piawai mengkomunikasikan kebutuhan orang-orang yang dipimpin. 

Bertanyalah, Anda Akan Tahu!

Ketika suatu kali, saya mengikuti kuliah. Dosen saya, seorang ahli komunikasi mengatakan begini. “Banyak komunikasi yang dimulai dari asumsi.” Katakanlah, dia bahagia. Apa benar dia bahagia? Anda bisa berasumsi dari posting status dan foto di fesbuk. Atau anda bisa tahu dia bahagia karena anda kerap melihat dia tersenyum atau tertawa. Tetapi pernahkah anda bertanya, apakah dia sungguh-sungguh bahagia? Itulah komunikasi. 

Dalam hidup pemikiran kita lebih banyak dipenuhi asumsi ketimbang rasa ingin tahu. Kita malu bertanya. Kita tidak mau terkesan ‘bodoh’ juga kemudian memilih jadi ‘sok tahu’ daripada ‘pura-pura’ bodoh. Mengapa tidak memulai komunikasi dengan bertanya? 

Benar juga bahwa diperlukan pertanyaan tingkat tinggi untuk mendapatkan jawaban yang cerdas pula. Bahwa pertanyaan mengasah rasa ingin tahu bahkan pertanyaan yang menggelitik sesungguhnya tidak hanya mengarahkan anda pada kreativitas saja tetapi inovasi. Saya jadi ingat pengalaman dulu membantu dalam riset sosial, bahwa dasar dari riset adalah pertanyaan, sehingga saya jadi tahu.

Seorang tokoh negarawan, Bernard Baruch mengatakan semua orang pernah melihat apel jatuh dari pohon, tetapi hanya Newton yang mempertanyakannya. Dengan begitu kita mengenal hukum gravitasi. Awal dari teori adalah pertanyaan.

Daripada berteori tentang hidup, buatlah pertanyaan sehingga anda jadi tahu. Misal, mengapa saya harus kuliah di jurusan ini? Mengapa saya bekerja begini? Mengapa saya harus kehilangan kacamata saya? Mengapa saya harus bertemu dengan orang pemarah macam dia? Mengapa saya tidak suka berbicara dengan dia? Dan sebagainya pertanyaan-pertanyaan yang disusun. 

Pada akhirnya, anda akan menemukan sisi yang selalu baik dan positif ketimbang penyesalan. 

Pepatah itu benar, lebih baik bertanya daripada sesat di jalan! Bertanyalah maka anda akan tahu! 

* Catatan secangkir cappucino di Kafe.

Seperti Apa Anda Dikenal Dari Ucapannya?

Ada pepatah berbahasa Jerman dari guru saya, “von deine Sprache, kenne Ich Dich” yang diterjemahkan bebas, “Dari ucapanmu, saya mengenalmu.”

Apa anda percaya bahwa orang akan menebak karakter anda hanya dari ucapan? Mungkin saja iya, misalnya anda bisa mendapati pasangan atau sahabat anda jujur atau berbohong hanya dari ucapannya. Atau, anda bisa mengetahui perangai seorang ‘playboy’ dari kalimat rayuan yang meluncur dari mulut pria itu. 

Mungkin saja tidak, bahwa kita tidak bisa menebak seperti apa karakternya hanya berdasarkan ucapannya. Itu betul, kita perlu analasia psikologi lebih dalam melalui berbagai tes kepribadian. 

Namun, siapa sangka bahwa hanya dari ucapan kita sudah bisa menebak seseorang misalnya, humoris, bijaksana, pemarah, ‘sok pintar’ atau sebenarnya dia memang pintar. Jadi ucapan yang terlontar sudah bisa menggambarkan seperti apa anda dikenal oleh orang sekitar anda.

Bahkan mereka yang mengenal anda bisa jadi rindu dengan aneka ucapan anda yang lucu, mengesankan atau membuat suasana menjadi menyenangkan. Atau ucapan anda bisa menenangkan, menginspirasi dan terdengar bijaksana. 

Namun ada pula dari ucapan, mereka yang mengenal anda tidak mengerti apa yang diucapkan. Ada? Tentu ada. Dulu saya punya teman saat rapat sering menggunakan bahasa yang tidak tepat, terlalu akademisi, sok gunakan kata yang kebarat-baratan atau politis. Alhasil kita yang mendengarkan tidak bisa paham apa yang  diucapkannya. Dan kita pun tidak bisa mengenal dengan baik seperti apa teman saya itu. 

Ada juga yang setiap berbicara di depan umum selalu mengesankan, menyenangkan dan menginspirasi. Banyak orang yang mengenalnya secara publik pun suka jika orang yang berbicara di depan umum itu berbicara. Ia bisa saja dibayar hanya karena ucapannya. 

Lain orang, lain pula ucapannya. Ada orang yang harus tampil di depan publik namun dia sebagai pembicara tidak mengerti ucapannya apalagi mereka yang mendengarkannya. 5 Menit pertama dia mengerti, orang yang mendengarkannya tidak. 5 Menit kedua dia dan orang yang mendengarkannya sama-sama tidak mengerti. Lucu ya!

Kembali ke topik, ucapan itu berasal dari pribadi anda. Jika anda tidak bisa memahami apa yang anda ucapkan, bagaimana dengan orang lain? Berbicaralah sebagaimana mereka memahami anda. Itu sudah.

Akhiri Slide Presentasi Bukan dengan ‘Terimakasih’ 

Bekerja di dunia komunikasi terkadang saya mendapatkan tugas membuat slide buat bos atau project slide. Kecenderungan terbesar lainnya adalah saya juga menjadi presenter yakni orang yang menjadi informan dan menjelaskan slide demi slide

Namun kali ini saya mau berbagi bilamana sebagian orang masih menampilkan slide terakhir dengan satu kata saja ‘Terimakasih’ atau ‘Thank you‘ betul ‘kan? Begitu pun saat saya sajikan kepada si bos, lalu dia tambahkan lagi satu slide si akhir dengan kata ‘Terimakasih’  hmmm… 

Akhirnya saya menjelaskan argumennya: 

1. Di akhir presentasi, biasanya anda akan memberi waktu lebih lama dibandingkan slide-slide sebelumnya, seperti misalnya anda membuat resume dari presentasi anda. So daripada menuliskan kata ‘Terimakasih’  mengapa tidak membuat beberapa poin benang merah presentasi anda?  Dijamin orang akan mengingat lagi apa yang anda sajikan. 

2. Kebanyakan asrot atau asisten sorot tetap menayangkan slide terakhir presentasi anda sampai anda selesai. Atau meski anda menggunakan remot untuk mengaktifkan slide tanpa asrot, anda tidak mungkin mematikan infocus atau laptop padahal anda masih bla bla bla. Jadi bagaimana jika slide terakhir diisi dengan pesan sponsor sehingga audience bisa memperhatikan dan menyimak lebih lama? Apa pesan sponsor nya? Tulis saja alamat kontak, E-mail, website, nomor kontak dan nama yang bertanggungjawab untuk dikontak! Jika orang tertarik dengan presentasi anda, mereka bisa mendapatkannya di akhir slide bukan?! 

3. Jika anda menyampaikan slide presentasi tentang ‘Behavioral Change Issue‘  maka sampaikan di slide terakhir perilaku yang diharapkan untuk diubah. Pesan pendukung semacam harapan yang diminta audience dapat diletakkan di akhir untuk diingat orang karena slide terakhir punya waktu lebih lama untuk ditayangkan. 

Semoga bermanfaat! 

Tips Menulis Advertorial: Untuk Isu Program Pengembangan Sosial

Advertorial berasal dari dua kata dalam bahasa Inggris yakni Advertising dan Editorial. Jelaslah jika menyangkut kedua kata tersebut maka advertorial dimaknai sebagai opini dengan gaya jurnalistik untuk mempromosikan suatu isu atau produk untuk diketahui oleh khalayak publik. Umumnya kita mengenal advertorial bilamana kita mendapatinya di media cetak tentang suatu produk atau ulasan kunjungan ke suatu negara sebagai promosi traveling misalnya. Advertorial di televisi misalnya bisa disisipkan saat menjelang berita dengan gaya khas model yang disampaikan seperti layaknya berita.

Advertorial di media cetak biasanya dibuat atas kebijakan dari redaksi untuk kepentingan iklan. Otomatis gaya yang disajikan tidak terlihat seperti iklan dengan visualisasi yang memikat. Biasanya advertorial lebih berupa narasi dengan selipan satu hingga dua foto pendukung. Demikian hasil pengalaman membuat naskah advertorial untuk isu program sosial. Saya pikir untuk isu komersial seperti advertorial produk pun tidak jauh berbeda.

Berikut tips menulis advertorial untuk isu pengembangan sosial (bukan komersil/iklan):

1. Tanyakan kebijakan dan aturan yang berlaku di setiap media cetak untuk penayangan advertorial!

Mengapa? Setiap media cetak punya aturan beragam, misalnya media cetak lokal dengan nasional jelas berbeda. Di media cetak lokal, advertorial merupakan kolom yang menggiurkan seperti biaya iklan, ketimbang media cetak nasional. Ini sebabnya media cetak nasional menetapkan harga yang tinggi dibandingkan harga penayangan advertorial di media lokal. Atau jika anda ingin bekerjasama dengan vendor yang jadi pihak ketiga, anda bisa menetapkan kebijakan sendiri misalnya advertorial akan tayang di 1 media nasional dan 9 media lokal. Tentukan siapa yang jadi sasaran pembaca advertorial anda, jika hanya level provinsi, cukup saja media lokal!

Semua tergantung pada kebutuhan anda sendiri. Prinsipnya, anda adalah pemesan advertorial seperti layaknya iklan. Bilamana anda punya anggaran, silahkan sesuaikan dengan kebutuhan anda, seperti luas kolom dengan harga rupiah! Bila anda menyerahkan kepada pihak ketiga maka tugas anda menjadi ringan, anda hanya tinggal mereviu naskah yang mereka kirimkan sebelum diterbitkan.

2. Buatlah isu yang menarik (significant) sehingga layak untuk dipromosikan!

Meski anda bergerak di bidang kesehatan misalnya, namun konten apa yang layak untuk diketahui publik dan linear dengan program yang sedang anda emban? Bagaimana dengan Hari AIDS Sedunia 1 Desember yang belum diketahui banyak orang? Konten apa yang akan dipromosikan terkait program pencegahan yang sedang digalakkan? Program pencegahan untuk remaja yang berkaitan misalnya isu kesehatan reproduksi remaja yang masih minim dan tabu lalu penyalahgunaan NAPZA. Itu hanya contoh. Galilah pendapat masyarakat sekitar yang sejalan dengan konten yang ingin anda publikasikan. Hal ini akan menarik bagi publik untuk menyimaknya sehingga mereka pun berpikir ini adalah bagian dari pengetahuan, bukan iklan.

3. Tulislah dari sudut pandang jurnalis, bukan pengelola program!

Seahli apa pun anda mengenai isu yang akan diangkat dalam advertorial, posisikan diri anda sebagai jurnalis! Bahasa jurnalis mencitrakan bagaimana tulisan ini akan dibaca oleh publik. Anda juga bisa meminta tes keterbacaan terhadap tulisan anda dengan mengirimkan naskah advertorial anda kepada redaktur media cetak tersebut atau jurnalis lain. Fungsi advertorial untuk isu program sosial lebih pada penerjemahan bahasa program sehingga dikenal oleh publik. Oleh karena itu, hindari kata-kata yang tidak familiar dan tidak diketahui oleh masyarakat pada umumnya.

4. Sisipkan opini atau pendapat figur publik atau pejabat terkait!

Agar meyakinkan publik, kutiplah pernyataan dari orang yang berpengaruh dan berkaitan dengan isu tersebut. Misalnya, advertorial tentang ajakan memberi ASI pada bayi. Anda bisa mewawancarai beberapa artis yang memiliki kesepahaman dengan anda untuk memberi ASI pada bayinya. Atau isu program pendidikan, anda bisa mengutip pernyataan pejabat publik yang linear dengan konten anda. Hal ini bisa dilakukan sebagai pembuka advertorial bilamana pernyataan tersebut kuat mempengaruhi opini publik atau penutup di akhir tulisan.

5. Buatlah runtut secara informatif dan eksploratif terhadap isu yang diangkat!

Tulislah advertorial dengan gaya penulisan langsung tentang perkenalan program anda! Awalilah profil singkat program anda, visi misi dan tujuannya. Ini sifatnya informatif yang menjelaskan keterkaitan anda (program apa) dengan isu yang sedang dikelola dan sedang berkembang di masyarakat. Ungkapkan secara mendalam (eksploratif) mengenai harapan yang ingin disampaikan dalam advertorial anda, misalnya ajakan untuk hidup sehat dan jauhi NAPZA.

6. Beri 1-2 foto yang menarik sesuai konten yang ditulis!

Karena advertorial sifatnya naratif, lebih banyak ulasan, pilihlah satu atau dua foto yang menarik dan sesuai dengan isu yang anda angkat. Misalnya tentang pemberdayaan perempuan maka foto yang bisa ditampilkan mengenai para perempuan di suatu daerah yang bahu-membahu bekerja memperbaiki jembatan yang rusak. Foto memang hanya sebagai pendukung dan pelengkap naskah agar lebih menarik.

7. Cantumkan alamat kontak sebagai penanggungjawab program!

Di akhir tulisan advertorial, cantumkan identitas program dan alamat kontak yang dapat diketahui oleh publik. Berikan pula alamat website yang mudah dikunjungi publik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai program yang anda kelola!

Jika anda sudah berhasil menayangkan satu isu advertorial, anda juga bisa melakukan kemitraan dengan media cetak tersebut. Kemitraan bisa berlaku misalnya 2 bulan sekali x 6 terbitan x harga nominal setiap terbit. Semua memang disesuaikan dengan anggaran komunikasi yang tersedia. Lalu petakan isu yang menarik untuk 6 kali terbitan sesuai program yang sedang dikelola.

Mengamati Perilaku Komunikasi Lisan dan Tertulis di Bandara

Suka traveling ke berbagai negara dan singgah untuk mengurus berbagai hal seperti check in pesawat, lihat jadwal keberangkatan, letak ruang tunggu hingga pengurusan imigrasi di bandara misalnya, saya tertarik mengamati perilaku komunikasi tersebut.Berkaitan dengan perilaku komunikasi berikut hasil pengamatan saya saat di bandara.

Di bandara Soetta Indonesia dan banyak bandara di Indonesia dalam pengamatan saya, lebih sering komunikasi yang disampaikan dari pengelola bandara kepada penumpang pesawat dan pengunjung adalah komunikasi lisan. Anda akan lebih sering mendengarkan jadwal pesawat mendarat atau penumpang harus masuk ke waiting gate misalnya. Padahal jadwal memang sudah tertera otomatis di papan informasi atau waktu untuk boarding time sudah muncul di boarding pass tetapi tetap saja disampaikan komunikasi lisan lewat announcement audio. 

Komunikasi lisan yang disampaikan lewat announcement ini ternyata lebih bermanfaat sebagai penanda kepada penumpang dan pengunjung bandara. Saya jadi ingat rekan kerja yang berangkat bersama naik pesawat berkata begini “Hey Anna, nanti saja ke waiting gate tunggu dipanggil” Itu adalah salah satu contoh perilaku komunikasi. Contoh lain, ada seorang pengunjung bandara lebih memilih bertanya dimana letak toilet atau mesin penarik uang ATM ketimbang membaca papan informasi atau papan petunjuk yang tersedia. Lagi-lagi perilaku komunikasi lisan. 

Atau misalnya ada teman saya tertipu mengejar jadwal pesawat dengan tujuan sama setelah mendapatkan informasi lisan dari petugas. Padahal bila dia bisa membaca papan informasi otomatis jadwal pesawat maka ia tidak perlu berlarian. Ingat pastikan kode/nomor penerbangan anda karena ada kesamaan jadwal, nama maskapai dan destinasi! 

Perilaku komunikasi lisan juga ternyata lebih efektif disampaikan untuk larangan misalnya dilarang merokok. Padahal sudah jelas ada papan informasi larangan merokok. Contoh lain, saat antrian penumpang menuju pesawat maka penumpang akan berlaku tertib mengantri setelah diperingatkan berkali-kali oleh petugas lewat komunikasi lisan ketimbang mematuhi papan informasi ‘Harap antri’ yang dipasang dekat pintu masuk. Perilaku komunikasi lisan di bandara memang masih diterapkan di beberapa negara lain. Perilaku ini disebabkan dengan budaya kebiasaan membaca masyarakat atau budaya literasi sebagai bagian komunikasi. Jadi kita lebih mengutamakan komunikasi lisan dibandingkan komunikasi tertulis.

Bagaimana dengan komunikasi tertulis di bandara lain?

Di bandara Changi Singapura atau bandara Dubai misalnya komunikasi untuk para penumpang tentang jadwal pesawat, ruang tunggu dan lain-lain disampaikan melalui papan informasi otomatis yang tersebar. Bahkan ada ketentuan untuk tidak diperdengarkan panggilan akhir penumpang pesawat sebagai peringatan. 

Begitu anda tiba untuk transit maka hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari papan informasi sebagai petunjuk. Jadi resiko ketinggalan pesawat misalnya ditanggung anda bilamana anda tidak membaca dengan cermat papan petunjuk.

Berbagai larangan atau informasi pun disampaikan lewat pesan tertulis atau gambar yang jelas. Jika anda mencari tahu letak toilet maka lihat sebaran papan informasi petunjuk. Iseng saya bertanya kepada petugas kebersihan misalnya, mereka rata-rata memang tidak suka membantu, entah karena faktor bahasa atau kesibukan bekerja. Itu artinya anda harus mengelola perjalanan anda dengan membiasakan diri membaca. Tingkatkan kebiasaan literasi anda sebagai bagian dari komunikasi!

Di bandara Changi misalnya disediakan papan informasi tentang wisata Singapura. Jadi penumpang atau pengunjung bisa menikmati sejarah atau sekedar cari tahu tentang negara tersebut meski  cuma di bandara. So dipastikan tidak diperdengarkan pemberitahuan audio yang berseliweran tentang jadwal pesawat seperti di bandara Soetta. Mereka harus aware mengenai kebutuhan mereka saat di bandara berdasarkan informasi tertulis sebagai petunjuk. Bahkan di Changi misalnya ada papan petunjuk ke waiting room/gate berapa lama (menit) bila berjalan kaki. Tentu informasi ini jadi estimasi agar anda sadar betul kebutuhan anda. Pemberitahuan audio hanya berlaku dalam ruang tunggu bila pesawat siap berangkat seperti di Dubai dan Changi.

Mengapa Kita Perlu Punya Etika di Media Sosial?

Beberapa hari belakangan kita disibukkan dengan berbagai postingan di media sosial tentang berbagai hal yang memang sedang jadi tren di Indonesia. Yups, Pilkada merupakan salah satu yang menjadi isu nge-trend di media sosial. Namun di sisi lain banyak pula isu yang berseliweran baik positif maupun negatif di media sosial. Apakah kita perlu punya etika di media sosial?

Ada mungkin sebagian orang berpendapat seperti ini “Mulut gue, status gue, akun atas nama gue. Kenapa elo yang sewot?” Pendapatnya seperti itu benar, namun mereka bisa jadi disebut tidak tahu etika berkomunikasi. 

Ada pula yang menyahut begini “Hello, ini ‘kan cuma dunia maya. Orang tidak tahu siapa saya. Saya ‘kan pakai anonim alias bukan nama sebenarnya.” Lalu jika anda pakai anonim, apakah tidak bisa terdeteksi? Come on, meski dunia maya namun kini berlaku hukum ‘Statusmu Harimaumu’ jadi anda tidak bisa bersembunyi karena apa yang sudah dibagikan dalam dunia maya pun dianggap sebagai konsumsi publik. Kecuali anda membatasi atau menjadikannya private

Kembali soal etika, ini alasan pentingnya dilakukan dalam jaringan media sosial:

1. Postingan menunjukkan bagaimana anda berperilaku di media sosial karena apa yang anda bagikan diperlihatkan kepada teman dalam daftar anda atau dilihat publik. Jadi pepatah lama masih berlaku, Anda Sopan Kami pun Segan. 

2. Ingat kembali teman yang berada dalam daftar media sosial anda! Jika postingan anda soal pekerjaan lalu anda menuliskan hal-hal negatif, apakah itu tidak akan memperburuk posisi diri anda di tempat kerja? Jadi etika perlu karena menyangkut teman yang menjadi bagian dari daftar yang diterima anda di media sosial. Jangan sampai anda kehilangan pekerjaan hanya karena etika anda yang buruk di media sosial!

3. Anda mungkin berkilah bahwa daftar teman anda tidak berkaitan dengan bisnis atau pekerjaan. Namun bisa saja perbedaan pandangan dalam memposting yang disebut tidak tahu etika menyebabkan anda kehilangan persahabatan. Kok bisa? Bisa saja. Saat membagikan informasi viral di media sosial, perhatikan unsur SARA (suku, agama dan ras). Di sini diperlukan etika. Pastikan sumbernya dan yang terutama postingan anda tidak membuat ketidaknyamanan antar golongan. 

4. Anda bertanggungjawab terhadap akun yang sudah dibuat atas profil anda. Jadi etika perlu agar anda tidak dikenakan sanksi hukum atas hal-hal yang tidak santun. Buatlah orang lain dalam daftar anda nyaman dan berkenan pada postingan anda! Jika ingin postingan anda disukai banyak orang, pilihlah yang santun!

5. Terakhir, perhatikan pula hak cipta bila mengkopi konten orang lain! Lalu hindari juga cyber bullying terutama komentar negatif atas orang lain. Jika anda melanggarnya, kemungkinan anda dilaporkan ke administrator pengelola situs. Oleh karena itu etika perlu meski di media sosial karena menyangkut citra diri yang anda bangun di sana.

So, be wise! Jadilah bijak untuk memanfaatkan media sosial yang menghubungkan satu sama lain! 

Mengapa Timbul Kegagalan Berkomunikasi Antara Pria dan Wanita?


Kebiasaan perempuan berbicara basa-basi dan tidak direct, sementara pria tidak suka itu. 

Sebagai orang yang belajar dan bekerja di dunia komunikasi, tidak serta merta membuat saya ahli berkomunikasi kepada lawan jenis, termasuk pengalaman dengan suami sendiri. Ternyata ini tidak hanya dialami oleh saya seorang, mungkin juga anda atau banyak juga perempuan yang komplen bahwa pria tidak bisa memahami komunikasi yang dilakukannya. Lalu laki-laki juga mengeluh bahwa mereka selalu gagal berkomunikasi dengan perempuan, terutama perempuan yang dicintainya. 

Jika ditelusuri, berikut alasan kegagalan komunikasi sehingga menimbulkan kesalahpahaman antara pria dan wanita:

1.  Perempuan lebih menekankan perasaan saat berkomunikasi, pria berbicara berdasarkan pemikiran (logika)

Schatz, bagaimana jika kita makan di restoran itu saja?” tanya suami. Saya jawab “Tidak, saya tidak suka restoran itu. Sepertinya restoran itu tidak enak makanannya” Kemudian suami bertanya kembali, bagaimana saya tahu bahwa restoran itu memiliki makanan tidak enak. Dengan santai saya jawab, itu intuisi atau perasaan saja. Padahal saya belum pernah makan di situ. Sementara suami memilih restoran itu karena dekat dengan hotel.

Intinya pria lebih menekankan logika saat berkomunikasi sementara perempuan banyak ditentukan oleh perasaan mereka. Jadi perempuan bisa beralasan apa saja bahkan terdengar tidak masuk akal, sementara pria tidak mampu mencernanya karena terdengar tidak logis. Di sini muncul kesalahpahaman kedua belah pihak. 

Tips: Lakukan klarifikasi di antara kedua belah pihak agar informasi yang disampaikan dan diterima jelas dan sama baiknya.

2. Perempuan berbicara paling banyak kata sedangkan pria tidak suka mendengarkan

Schatzi, saya bertemu dengan si A lalu bercerita bla bla bla. Si A ini ternyata bla bla bla. Padahal bla bla bla…” kata saya pada suami. Saya berbicara terus dengan kalimat pengulangan, kata yang sama sedangkan suami asyik di depan laptopnya. “Hello Schatz, kamu dengar apa yang saya ceritakan?” tanya saya balik. Dengan polos dia menjawab “Ya, kamu bertemu dengan si A” Mendengarkan itu rasanya mau marah saja, mengapa dia mendengar awal percakapan saja. Akhirnya salah paham.

Para ahli komunikasi sudah meneliti bahwa perempuan berbicara paling banyak kosakatanya dibandingkan laki-laki. Hasil studi dirilis di sini. Jadi tidak serta merta pria bisa mendengarkan dengan baik sehingga memahami komunikasi yang dibangun dengan perempuan yang dicintainya. Mungkin pria mendengarkan dengan baik di awal atau akhir percakapan padahal bisa jadi inti yang disampaikan anda ada di tengah. 

Tips: Jika ingin berkomunikasi yang serius sebaiknya sampaikan secara langsung tanpa berbelit-belit atau basa-basi sehingga mudah ditangkap dan didengarkan. Bangunlah komunikasi dua arah, bukan hanya anda saja sebagai perempuan yang berbicara.