Selamat Rayakan Hari Internet Internasional!

Adanya internet, tidak ada lagi sekat jarak dan waktu. Semua begitu mudah, termasuk traveling.

Ada yang tahu kapan kita merayakan hari internet sedunia? Saya pun baru tahu setelah para blogger pun menulis dan memberikan ucapan atas hari ini. Yups, tanggal 29 Oktober dirayakan sebagai hari internet internasional. Meski belum ramai diumumkan, namun khalayak publik pasti tanya mengapa jatuh pada hari ini, ya kan?

Tanggal 29 Oktober dianggap sebagai hari bersejarah dunia yang kemudian menjadi cikal bakal adanya internet. Tepatnya 29 Oktober 1969 berhasil ujicoba pengiriman pesan pertama antar dua komputer yang dilakukan mahasiswa Amerika, yakni Leonard Kleinrock, Charley Kline dan Bill Duval. Konon percobaan mereka dilakukan selang beberapa bulan dari mendaratnya Neil Armstrong ke bulan. 

Anda tahu pesan pertama yang dikirim untuk menunjukkan adanya transmitter data? Kata pertama adalah LOGIN.Itu mengapa kita mengenal kata ini sebagai pembuka. Kemudian internet terus berkembang sebagai kebutuhan seperti sekarang ini. Tidak hanya data saja, namun kehadiran internet mampu menghubungkan antar manusia yang membantu perkembangan dunia komunikasi.

Mari kita rayakan hari ini dengan ber-internet sehat! 

Mengapa Pria Bukan Pendengar yang Baik?

Diorama masa perang di Vietnam. Sumber foto: Dokumen pribadi

Hey, pria apa benar begitu bahwa kalian tidak suka mendengarkan? Menurut pengalaman saya, tidak semua pria berlaku demikian. Namun sebagian besar ya. Kini saya cari tahu mengapa pria tidak suka mendengarkan kekasih atau isterinya. 

Di bawah ini adalah hasil pandangan saya:

1. Perbedaan gaya komunikasi antara pria dan wanita 

Wanita adalah makhluk yang ekspresif, mereka bisa bercerita apa saja kepada teman atau kekasihnya. Ahli komunikasi menyatakan bahwa jumlah kata yang disampaikan perempuan tiap hari lebih banyak daripada pria. Wanita berkomunikasi tidak langsung, cenderung berbelit-belit atau tidak to the point. Sementara pria tidak suka itu. 

Belum lagi wanita juga suka berbicara di luar konteks atau topik yang disepakati. Misalnya, wanita mengatakan bahwa kita perlu membicarakan liburan keluarga. Lalu apa yang selanjutnya disampaikan oleh wanita adalah liburan orang lain, bukannya alasan kita perlu liburan atau kemana tujuan liburannya. Hal ini yang membuat pria malas mendengarkan wanita berbicara.

Perbedaan gaya komunikasi dapat diatasi jika wanita tahu siasat dan strateginya agar pria mau mendengarkan.

2. Tipe visual 

Jika pria suka wanita seksi berlekuk, itu wajar. Kebanyakan pria bertipe visual, yang berarti mereka lebih mengutamakan visualisasi/penglihatan ketimbang mendengarkan, bertipe auditoris. Untuk menarik perhatiannya, anda tinggal mematikan televisi, cari ruang yang sepi hingga pria tidak bisa melihat kanan kiri saat berbicara dengan anda. Jadikan anda pusat perhatian sehingga pria konsentrasi dan jadi pendengar yang baik.

Beruntung sekali jika anda mendapatkan pria bertipe auditoris yang mau mendengarkan keluhan atau curhat anda. Namun itu jarang sekali.

3. Tidak sabar
Pria yang suka mendengarkan wanita adalah pria yang sabar. Mereka tahu bahwa wanita banyak bicara dan ‘it takes the time‘ merasa hanya menghabiskan waktu saja bilamana mendengarkan wanita. Sebaiknya anda sebagai wanita tidak berbelit-belit saat berkomunikasi dengan pacar atau suami anda. 

Pria merasa wanita cenderung membahas hal yang sama dan pria sudah tahu jawaban permasalahan tersebut. Pria menjadi tidak sabar ketika apa yang dibicarakan wanita sudah diketahui jawabannya. 

So para pria, apa anda setuju dengan pendapat saya di atas?

Bagaimana Mengenali Personal Branding?

img_8706
Sumber foto: Dokumen pribadi

Ini masih soal branding lagi. Menciptakan personal brand identity itu tidak mudah, namun juga tidak sulit. Intinya, kepribadian manusia bersifat dinamis. Kita dan juga saya bisa belajar dari pengalaman, lingkungan sekitar, buku bacaan, kisah orang hebat di dunia, dan sebagainya demikian pula branding yang anda ciptakan sendiri. Dulu seorang memiliki branding sebagai pemabuk, nakal, ugal-ugalan dalam mengendarai motor dan segudang imej jelek lainnya, lalu kini berubah seratus delapan puluh derajat. Brandingnya pun berbeda.

Untuk bisa mengecek seperti apa branding anda, anda bisa tanyakan pada orang terdekat. “Hey, jika diminta 3 kata saja, apa yang dipikirkan kamu tentang saya?” Kira-kira apa jawaban orang terdekat tersebut. Bisa saja jawabannya berkaitan dengan sifat, bentuk fisik, pekerjaan, hobi, kebiasaan, dsb.

Namun bagaimana mereka mengenali branding kita?

  1. Originalitas

Si A bercerita pada B begini, “Hey, saya tidak suka dengan C karena C adalah orang yang pemarah, cenderung emosional dan temperamental.” Selang tak berapa lama, B bertemu dengan C. “Hey C, kemarin saya bertemu dengan A. Kata A, kamu adalah orang yang pemarah.” C yang mendengar kalimat B sontak langsung emosional. “Kurang ajar A! Brengsek, dia tidak tahu siapa saya? Dimana A?” seru C. C langsung mencari A dan memaki-maki A. Apa yang anda pikirkan tentang C? Apakah benar C itu pemarah?

Branding C langsung mudah ditebak ketika dia begitu mudahnya marah-marah hanya karena B menyampaikannya soal A. Wajar saja, mungkin A tidak suka dengan C. Mungkin anda bertanya, buat apa B menceritakannya pada C? Bisa jadi A tidak tahu bahwa B bukan orang yang tepat untuk diajak cerita. Jadi branding tercipta karena keaslian pribadi anda yang sesungguhnya, tanpa dibuat-buat. Begitulah anda sesungguhnya.

  1. Integritas

“Saudara-saudara sekalian, mari kita sekarang mulai berhemat dan mengencangkan ikat pinggang untuk perpanjangan proyek bisnis kita!” seru seorang pemimpin. Suatu saat si pemimpin mesti menghadiri acara rapat 5 jam di luar kota, ia kemudian memesan kelas penerbangan bisnis dan menginap di hotel bintang lima hanya untuk rapat kerja 5 jam saja. Sontak, sekretarisnya nyeletuk begini “Hmm, kemarin dia baru saja menyerukan kepada semua orang untuk berhemat. Sekarang dia sendiri tidak bisa berhemat. Dasar orang tidak punya integritas!”

Nah, integritas menunjukkan siapa anda sesungguhnya. Apakah anda mampu mempertahankan integritas untuk branding anda? Jangan berpikir tidak ada orang yang melihat sehingga anda bisa melupakan integritas anda! Branding tercipta karena anda memiliki komitmen untuk melaksanakan statement anda. Jika tidak, buyarlah branding anda.

 

 

Faktor-faktor Terbentuknya Personal Brand Identity Dalam Keseharian

Sumber foto: Dokumen pribadi

Jika sebelumnya membahas branding product, sekarang kita membahas personal branding identity. Apa itu? Personal branding identity adalah bagaimana anda mengekpresikan diri anda kepada publik dan bagaimana mereka menerima anda (kesan) tersebut. 

Apa pentingnya personal branding identity dalam keseharian? Di pergaulan tentu anda sering mendengar tentang si A,B, dan seterusnya yang bisa mempengaruhi mereka disukai atau tidak disukai oleh orang-orang sekitar. Ada semacam cap pada mereka dan itu adalah kesan mereka. Jika pada figur-figur populer semacam artis, pejabat dan lain-lain maka personal branding identity mereka lebih dibentuk pada karya prestasi mereka, statement, gaya penampikan dsb.

Meski sifatnya subjektif, namun personal branding identity terjadi karena beberapa faktor yang membentuknya. Apa saja? Cara berperilaku yang jadi keseharian ternyata membentuk siapa anda di mata mereka. Kebanyakan kata yang muncul dari cara berperilaku adalah kata sifat seperti ramah, baik, pemalu, lucu, pemarah,dsbg. Cara berperilaku tampak dari hubungan anda dengan orang sekitar. Bagaimana relasi anda dengan mereka lalu bagaimana kesan mereka tehadap anda?

Jika selama ini anda tidak suka berbagi apa pun, tak pernah traktir teman, tidak pernah bawa makanan ke kantor, suka meminta tapi tak pernah memberi, irit dalam sumbangan sosial maka branding yang muncul bisa jadi pelit, kikir atau sejenisnya. Ada alasan sebenarnya branding yang terbentuk pada anda misalnya karena anda adalah orang yang hemat, namun begitulah mereka mengesankan anda.

Apalagi selain berperilaku, cara berpakaian atau penampilan anda. “Wah, si A selalu tampil seksi,” kata seseorang yang berkomentar tentang teman kantornya. Yang mendengar bertanya, “Mengapa si A seksi menurutmu?” Jawab orang yang pertama karena A suka berpakaian rok mini, baju tanpa lengan, baju ketat, dsbg.

Ada pula branding soal penampilan yang memunculkan dunia mode (fashion), gaya berpakaian, tatanan rambut hingga aksesoris yang dikenakan. Mereka yang memberi kesan ini memang tak melulu orang bertipe visual, namun mereka akan ingat bagaimana anda mengekspresikan diri ke hadapan publik. Mungkin anda bisa mengingat mereka yang ‘nyentrik’ dalam berpenampilan atau gayanya yang kuno, atau warna baju yang jadi favoritnya.

Pernah teringat seseorang hanya karena orang tersebut suka berkata berulang-ulang seperti oke, ya, atau apa saja? Ini membuktikan bagaimana anda terkesan hanya karena tutur kata. Personal branding identity terlihat dari cara seseorang berpendapat karena isi pendapatnya yang smart atau sebaliknya.Atau pendapatnya selalu menjadi solusi dari pemecahan masalah. Ada orang yang bisa berpendapat penuh ekspresif, biasanya adalah tipe sanguinis. Namun ada pula yang berpendapat tanpa ekspresi, tenang, dan lain-lain.

Gaya bekerja juga bisa mempengaruhi terbentuknya personal branding identity, cepat atau lambat dalam menyelesaikan pekerjaan. Atau bekerja kurang teliti, kurang cekatan, malas, rajin, bossy, dan lain-lain. Anda tipe yang mana?

Terakhir, tentu berhubungan dengan media sosial. Bagaimana eksistensi anda di sana? Apa saja status, foto atau info yang dibagikan? Apakah anda silent reader? Atau anda aktif?

Intinya, bagaimana anda memasarkan diri anda kepada publik sehingga itu lah yang mereka tangkap dari anda.

Product Branding: Hal-hal Menyangkut Pemilihan Barang (Produk)


Indomie adalah salah satu produk yang saya pilih bagaimana bisa mencitrakan sebagai buatan Indonesia.

Saya lagi tertarik mempelajari branding. Branding adalah bagian dari strategi komunikasi sehingga menarik bagi saya, tidak hanya sebagai promosi namun mempengaruhi perilaku. Bagaimana product branding mempengaruhi seseorang untuk memilih produk itu.

Apa itu product branding? Menurut saya, sesuatu produk yang ditampilkan ke publik kemudian bagaimana publik menerima atau terkesan dengan produk tersebut. 

Tergelitik oleh rasa ingin tahu saya, mengapa kita atau saya pilih produk A, bukan B atau C? Nah, berikut hasil pengalaman dan pengamatan saya:

1. Ada pengalaman

“Ketika saya coba produk tertentu, tangan saya jadi gatal atau alergi. Setelah saya tes produk ini, saya tidak alergi,” kesan seorang ibu pada produk deterjen pakaian. Ada pengalaman yang baik dan buruk tentu mempengaruhi seseorang memilih sesuatu produk. 

Saya pernah dulu tergabung dalam riset marketing suatu produk. Sebelum diluncurkan produk yang baru, perusahaan menggali pendapat dan pengalaman masyarakat lewat survey. Hasil riset membantu memetakan pengalaman baik dan buruk responden yang ditanya sehingga perusahaan akan mengkaji agar produk nanti yang akan diluncurkan aman, tidak menimbulkan alergi, misalnya.

Rupanya riset pasar juga membantu mendapatkan product branding yang sesuai dengan pengalaman baik di masyarakat, lalu memperbaiki produk bilamana ada pengalaman tidak baik.

2. Saran/rekomendasi orang lain

“Ayo, silahkan coba produk yang saya pakai! Dijamin wajah kamu bebas dari jerawat!” seru seorang teman pada rekan di sebelahnya di suatu apotik. Akhirnya orang yang ditawari seperti terbius menuruti dan kemudian membeli produk tersebut.

Apakah anda pernah mengalami hal yang sama? Tergiur dari rekomendasi seseorang yang anda percayai. Mengapa kita jadi pilih produk itu? Karena kita percaya pada saran orang tersebut lalu memilih produk itu. Jika anda cukup percaya pada pemikiran diri sendiri, tentu anda tidak tergoda. 

3. Pengaruh iklan

“Sebagai model, saya sering melakukan macam-macam treatment rambut yang membuat rambut rapuh dan rusak. Setelah saya keramas dengan sampo X, rambut saya sehat,” kata model iklan. Terbius oleh penampilan dalam iklan tersebut akhirnya pilih produk itu.

Iklan atau Advertising memang diciptakan untuk meningkatkan penjualan suatu produk. Rasanya sulit mengenal produk bilamana tidak pernah diiklankan. Begitu besar pengaruh iklan sehingga orang pilih produk tertentu. Tak salah bila meyakinkan publik, iklan disajikan lebih sering, lebih menarik dengan figur-figur berpengaruh.

4. Kemasan Menarik

Awalnya saya tertarik membeli produk itu karena kemasannya menarik. Setelah saya coba di rumah, khasiatnya biasa saja,” kata seseorang bercerita suatu produk. 

Salah satu yang menentukan nilai jual suatu produk adalah kemasannya. Seperti cerita di atas, pilihan produk ditentukan oleh kemasannya yang menarik konsumen.Hal ini juga yang membuat desain visual hingga pengepakan (packaging) bekerja keras mendapatkan atensi publik agar orang memilihnya.

5. Harga

“Saya suka produk ini karena harganya murah. Kalau khasiatnya sama saja seperti yang mahal, tentu saya pilih yang murah” kata seorang ibu yang bersaksi soal suatu produk. Ada orang yang pilih produk karena harganya yang murah dan terjangkau, namun tak sedikit orang yang juga memilih karena kualitas produk meski mahal.

You get what you pay for. Kurang lebih begitu menerjemahkan bahwa anda mendapatkan apa yang dibayar. Jangan komplen bilamana barang yang anda beli tidak sesuai, hanya karena tergiur dengan harga yang murah! Namun jangan pula menuduh barang murah namun kualitasnya rendah. Semua pilihan produk ada di tangan anda.

6. Ada bonus pengikat

“Siapa tahu saya bisa jalan-jalan keluar negeri, hanya dengan membeli produk ini!” seru seorang remaja di toko swalayan. Bonus jalan-jalan keluar negeri begitu memikatnya sehingga memutuskan beli produk tersebut dalam jumlah banyak. 

Melihat keinginan publik buat traveling, misalnya perusahaan produk kemudian menjanjikan hadiah atau bonus bilamana pilih produknya. Bonus pengikat lain seperti ‘beli satu dapat satu’ atau dapat bonus produk lain gratis juga bisa jadi mempengaruhi anda pilih produk. Apa pun bonus pengikatnya tergantung keputusan anda untuk memilihnya.

Demikian hasil pengalaman dan pengamatan saya. Anda sendiri bagaimana? Lalu mengapa saya tidak menulis faktor kualitas produk? menurut saya semua orang pasti menginginkan kualitas yang terbaik dari suatu produk, terlepas dari harga/iklan/bonus/kemasan/rekomendasi orang lain. 

Tentunya kualitas produk adalah hal yang utama yang menentukan product branding.

Begini Sebaiknya Berkomunikasi Jika Marah dengan Pasangan

Sumber foto: Dokumen pribadi

Namanya menikah, pastinya ada dua orang yang berbeda secara karakter termasuk faktor-faktor yang membentuknya seperti budaya, pola asuh dsb. Menemukan kesulitan dalam berkomunikasi dengan pasangan, itu hal yang wajar. Bagaimana jika anda marah yang santun dengan pasangan?

Ada dua cara menghadapi pasangan saat anda marah, (1). Emotional coping, kecenderungan yang lebih menekankan emosi. Misalnya menangis meraung-raung, banting barang, merusak barang atau berteriak-teriak. Saya paham, anda sedang marah tetapi apakah itu menyelesaikan masalah? Yang ada, masalah akan semakin runyam dan menarik perhatian banyak orang sekitar anda. 

(2). Problem coping, kecenderungan yang lebih memusatkan pada masalah yang terjadi. Cari waktu yang terbaik berdua untuk diskusi! Jangan libatkan pihak lain dulu, seperti anak, orangtua, dsb! Ajak bicara dari hati ke hati, toh dia adalah pasangan hidup anda. Jangan biarkan anda terprovokasi oleh masalah, biarkan anda bisa mengendalikan masalah!

 Anda perlu menghindari hal-hal berikut saat anda marah dengan pasangan.

Apa saja? Ini dia

1. Tidak mau mendengar, lebih banyak bicara

Pria dikatakan tidak suka mendengar. Saat saya tanya kepada para pria, mereka berkata perempuan lebih banyak berbicara bahkan mengatakan hal-hal tidak perlu, terlalu mengkhawatirkan hingga hal-hal tidak relevan. Jadi ini alasan para pria tidak mau mendengar. So, jika hendak berkomunikasi dengan pasangan, sebaiknya rumus pertama adalah mendengarkannya. Apa pun masalah yang dihadapi dengarkan dia dulu, bagaimana pendapat dan perasaannya. Beri kesempatan baginya untuk menanggapi, berkomentar dan mengklarifikasi. 

2. Merasa diri “paling”

Meski anda lebih hebat secara pendidikan atau pekerjaan dibandingkan pasangan hidup anda, namun menikah membuat anda sama dan setara. Jangan berpikir pula bahwa anda yang mencari nafkah sehingga anda lebih dominan dan powerful! Pandanglah pasangan anda sebagai pribadi yang pernah anda cintai dan kagumi saat anda menikah dulu! Terima dia apa adanya, meski dia salah dan anda benar. Jangan merasa ‘sok’ atas pasangan anda sendiri!

3. Mengungkit kesalahan masa lalu

Kecenderungan bila marah adalah melihat kesalahan yang sama di masa lampau. Berpikirlah past is past! Yang lalu sudah berlalu. Masalah anda saat ini tak akan selesai jika anda membahas masalah yang lalu. Masa lalu bukan masalah. Masalah anda adalah hanya tentang saat ini untuk nanti masa depan anda berdua.

4. Marah-marah, berteriak dan cenderung emosional 

Seberapa rumitnya masalah anda, tidak akan pernah selesai jika anda berteriak-teriak dan emosional. Kendalikan emosi anda, mengapa?Ini untuk kesehatan mental dan jantung anda juga. Jika anda marah-marah, jantung anda bekerja 4 kali lipat yang berarti berisiko dan membahayakan keselamatan anda. Masalah akan selesai pada wakunya, tetapi tidak dengan marah-marah.

5. Menuduh dan tidak percaya 

Di awal pernikahan, anda sudah memulai hubungan kepercayaan dengan pasangan anda.Tentu jika anda tidak mempercayainya, buat apa menikahinya? Saat sedang bermasalah, percayakan pasangan untuk bercerita, mengklarifikasi dan berpendapat. Jangan pernah mengkaitkan masalah anda berdasar sumber orang lain! Itu namanya menuduh dan tidak santun.

4 Hal yang Harus Dihindari Orangtua Saat Berkomunikasi dengan Remaja

remaja
Sumber foto: Dokumen pribadi

“Jadi orangtua itu serba salah!“ keluh seorang teman menuliskan email pada saya. Dia curhat bagaimana menghadapi anaknya semata wayang yang baru saja menginjak remaja. Saya berpikir juga tidak ada rumus yang baku untuk menghadapi remaja sepanjang anda benar-benar mengenal remaja tersebut, termasuk perkembangannya. Mengapa? Banyak orangtua komplen soal anak remajanya padahal mereka tidak tahu soal perkembangan mereka seperti perubahan-perubahan emosional yang mereka hadapi.

Perubahan emosi yang dihadapi remaja menyangkut segala hal yang dirasakan terhadap diri sendiri, teman sebaya, orang lain termasuk orangtua. Tentunya hal ini bisa membuat remaja bingung, sedih atau gembira bercampur jadi satu menghadapi perkembangan yang sedang dialaminya.

Berikut 4 hal yang harus dihindari orangtua saat berkomunikasi dengan remaja

  1. Lebih banyak berbicara ketimbang mendengarkan

Saat orangtua merasa diri paling benar dalam menghadapi persoalan remaja, maka kecenderungannya akan lebih banyak berbicara bla bla bla. Mengingat orangtua pernah mengalami masa remaja, nyatanya semua persoalan yang dihadapi orangtua saat remaja dulu dianggapnya sama dengan kondisi remaja sekarang. Sebaiknya hindari dominasi pembicaraan ketika anda punya kesempatan untuk berbicara dengan mereka. Dengan tidak mendominasi pembicaraan, anda berarti memberikan kesempatan untuknya bercerita dan berbagi.

 

  1. Merasa paling tahu, hebat, benar dan terbaik

Kecenderungan orangtua untuk merasa paling tahu, hebat dan benar sebaiknya perlu dihindari. Hindari segala nasihat-nasihat yang anda pikir terbaik untuk disampaikan. Nyatanya remaja perlu seseorang untuk memahami dan mendengarkan mereka, bukan orang yang hebat memberikan nasihat. Karena belum tentu anda benar-benar memahami kondisi yang sebenarnya dari remaja tersebut. Gunakan pendekatan sahabat terbaik seperti remaja memiliki tempat curhat.

 

  1. Marah, berteriak dan merasa putus asa

Bisa dipahami apa yang anda rasakan sebagai orangtua bilamana anda menghadapi remaja bermasalah. Namun tindakan memarahi dan berteriak-teriak pada remaja justru akan memperburuk keadaan. Kendalikan rasa marah dan putus asa saat berkomunikasi dengan remaja. Dengan demikian, anda akan memahami kondisi yang sebenarnya pada remaja dengan pendekatan yang lebih baik, bukan emosional. Mulailah komunikasi dengan pendekatan terbuka, hangat dan tidak emosional.

 

  1. Tidak bisa menerima kondisi yang sedang terjadi pada remaja

Apa pun masalah yang terjadi dengan remaja, terimalah kenyataan tersebut. Jika menyangkal terus menerus, justru komunikasi menjadi tidak efektif. Berikan pelukan saat anda menyadari bahwa remaja sedang menghadapi masalah. Saat anda bisa menerima kondisi mereka, dengarkan apa yang sedang terjadi pada remaja! Jangan menyalahkan kondisi yang sedang dihadapi oleh remaja. Libatkan remaja untuk mencari solusi bersama.

Semoga bermanfaat!

Santun Berkomunikasi: “Be Careful How You Communicate!!!”

Seorang ibu berbicara lantang lewat telpon genggam seperti sedang memarahi seseorang. Banyak kata-kata kasar terucap dari mulutnya, bahkan orang-orang di sekitarnya menggelengkan kepala karena tidak suka dengan perangainya. Saya pun yang mendengar risih dan jengah.

Lain lagi dulu saya punya rekan kerja yang saban hari bergunjing tentang rekan kerja yang lain. Setiap orang di kantor dijadikan topik pembicaraannya, dari hal sepele hingga masalah rumah tangga yang merupakan ranah pribadi, dibicarakan di kantor.

Ada lagi teman yang punya kebiasaan mengumpat dan memposting umpatannya di media sosial. Dia akan senang jika ada orang yang suka dengan postingannya atau memberi komentar. Dia bisa menuliskan kemarahannya di media sosial, bahkan memarahi pasangan hidupnya lewat status-statusnya.

Sadarkah anda bagaimana kita harus berkomunikasi? Hati-hati dalam berkomunikasi dan pertimbangkanlah hal-hal berikut:

1. Apakah itu benar dan tepat?
Sadarkah informasi yang anda sampaikan ke orang lain benar dan tepat? atau itu hanya gosip? Seperti contoh rekan kerja dulu yang menggunjingkan orang lain. Apakah informasi itu hanya gosip karena ketidaksukaannya pada orang tersebut? Atau malah informasi itu berasal karena rasa iri atau cemburu pada rekan kerja yang lainnya. Tentu anda juga tidak ingin larut dan terbawa arus oleh perangai orang yang seperti ini. Berhati-hatilah dalam berkomunikasi agar tidak menimbulkan masalah karena informasi yang tidak benar dan tidak tepat.

2. Lihatlah kondisi sekitar anda!
Pernah suatu kali saya pergi bersama teman ke Singapore. Teman saya ini ingin menyampaikan pendapatnya tentang gaya berpakaian seseorang yang kami temui di MRT. Menurut teman saya, gaya pakaiannya norak dengan kaca mata yang tidak pas dengan dandanannya. Teman saya berbicara dalam bahasa Indonesia dan berpikir tidak ada yang mengerti percakapan kami. Salah besar!!! Orang yang dibicarakan itu bersiap turun pada pemberhentian berikutnya sambil berhenti di hadapan kami, menjelaskan mengapa dia berpakaian seperti itu. Dia bisa berbicara dalam bahasa Indonesia yang baik. Betapa malunya kami saat itu. Rupanya dia orang Indonesia yang menetap di negeri Singa itu. Jadi berhati-hati dalam berkomunikasi karena kondisi sekitar anda. Di Jerman misalnya, saat di kereta apakah sopan berteriak-teriak dan tertawa hingga gaduh? tentu tidak sopan. Hati-hati berkomunikasi di tempat publik, lihatlah kondisi sekitar anda!

3. Pastikan bijak kata-kata yang yang disampaikan
Situasi di awal saat seorang ibu berbicara marah-marah pada suaminya lewat telpon, anda tahu dimana dia berkata itu? Di sekolah saat pengambilan rapor. Tentu ada kalimat yang tidak bijak disampaikan didengar oleh anaknya atau orangtua yang lain. Berhati-hatilah dalam berkomunikasi dengan kata-kata yang tidak pantas didengar saat di tempat umum agar jangan sampai mempermalukan diri sendiri!

4. Berbicara yang santun tanpa perlu berteriak
Beberapa orang masih menerima telpon saat di ruang rapat atau rumah ibadah. Meski anda sudah mengecilkan volume suara, namun tetap saja mengganggu. Jika anda terdesak terima telpon, anda bisa menyingkir dulu sehingga tidak mengganggu orang lain. Berbicaralah tanpa perlu berteriak. Jika anda menerima telpon disertai gangguan seperti bising, suara terputus-putus, suara tidak jelas, dll maka sebaiknya menghindar atau telpon kembali saat kondisi membaik. Cari tempat yang membuat suara anda berkomunikasi dengan telpon tidak mengganggu orang lain. Berhati-hatilah dalam berkomunikasi karena setiap orang juga butuh privasi!

5. Pertimbangkan informasi viral yang diterima secara online
Kebanyakan kita meneruskan informasi yang didapatkan sebarannya tanpa dibuktikan sumber yang jelas. Jadilah penerima informasi yang cerdas untuk menyebarkannya kembali! Jangan sampai niat baik menyebarkan informasi malah menjadi bumerang sendiri! Berhati-hati dalam komunikasi di dunia maya itu penting. Pikirkan kembali sebelum posting sesuatu di media sosial tentang dampak dan manfaatnya untuk diri pribadi dan orang lain.

Pentingnya Wawancara Saat Lamaran Kerja


Apa pun profesi pekerjaannya, di Jerman wawancara itu diperlukan untuk menggali potensi dan peluang. Ilustrasi.

Teman saya baru saja berbahagia karena mendapatkan peluang kerja lewat panggilan wawancara pertama kalinya. “Akhirnya saya berhasil diterima bekerja di tempat yang saya inginkan. Yippi!!! Nah, kira-kira apa pentingnya wawancara kerja di awal ya?” tanya teman saya itu.

Nah, apa sih pentingnya wawancara kerja di awal saat seleksi dan rekrutmen?

Bagi karyawan, wawancara dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran mengenai pekerjaan yang dilamar, apakah sesuai atau tidak? Hal ini bisa diketahui dari informasi awal pihak perusahaan saat wawancara. Selain itu, anda sebagai calon karyawan bisa mendapatkan informasi profil perusahaan tersebut seperti latar belakang perusahaan, visi misi, bidang kerja dsb.

Hal yang perlu diperhatikan, tentunya anda perlu “menjual” apa yang dibutuhkan perusahaan. Selalu manfaatkan kesempatan wawancara di awal untuk memperkenalkan keahlian dan minat anda yang berkontribusi dengan perusahaan. Jika anda berhasil di wawancara pendahuluan maka anda akan masuk pada tahap selanjutnya.

Lalu bagi perusahaan yang memanggil anda wawancara tentunya kesempatan ini dimanfaatkan untuk mengidentifikasikan apakah anda layak menempati posisi yang ditawarkannya? Bagaimana pengalaman profesionalisme kerja yang anda punya sebagai karyawan dengan posisi lowong yang dilamar?

Selain itu, perusahaan ingin mengetahui bagaimana antusiasme karyawan tentang posisi tersebut setelah mengetahui profil perusahaan. Apakah karyawan bersemangat dengan posisi lowong itu?

Demikian sekelumit wawancara pendahuluan di awal rekrutmen dan seleksi, ada pendapat?

Mana Lebih Dulu: Belajar Ngomong atau Belajar Nulis?

image
Contoh sertifikat bahasa Jerman milik pribadi. Sumber foto: Dokumen pribadi

Saya selalu kagum pada orang yang mampu menguasai lebih dari tiga bahasa asing, bahkan ada yang ngaku sampai lima atau tujuh dan sebagainya. Hebat ya!!!! Saya aja satu hari harus bicara tiga bahasa asing, bahasa Indonesia, English lalu Deutsch (bahasa Jerman) bisa kebolak-balik. Malah kadang ada bahasa Tarzan, yang kadang saya campur-campur dua bahasa jika sedang bicara dengan suami. Intinya, dia tahu apa yang saya maksud karena suami saya belum bisa bicara dalam bahasa Indonesia.

Balik lagi nih, saya dapat pertanyaan dari mereka yang sedang belajar bahasa asing, sebaiknya mana yang didahulukan dalam belajar bahasa asing, belajar berbicara atau belajar menulis? Hmmm, saya bingung jawabnya. Mungkin pengalaman bisa membantu.

Banyak tawaran kursus bahasa asing menjamur bahkan yang menawarkan “Langsung Bisa Ngomong” singkat ala metode instan. Ada pula buku-buku yang mengajari belajar bahasa asing. Lalu pertanyaannya, mana yang dulu dipelajari menulis atau berbicara? Mereka yang jago menulis bahasa Inggris dengan skor TOEFL atau IELTS yang bagus di atas rata-rata belum tentu pede juga saat diajak berbicara bahasa Inggris. Ini adalah pengalaman pribadi dari beberapa rekan kerja di Jakarta dulu.

Nah suatu kali saya telpon om saya, guru bahasa Jerman di SMA. Selain berbicara soal kabar, saya juga ingin mengecek kemampuan bahasa Jermannya. Lagi pula saya pikir ini ide yang bagus juga untuknya punya partner bicara bahasa Jerman. Saya minta suami saya jadi partner bicara, rupanya om saya belum bisa merespon apa yang dibicarakan suami saya. Jadi memang kemampuan menulis yang diajarkannya pada siswa belum sebanding ketika dia berbicara dalam bahasa Jerman.

Beberapa kali saya berjumpa turis yang bukan berasal dari negara berbahasa Inggris, mereka ternyata sulit juga menulis kalimat berbahasa Inggris. Hal ini terbukti dari cara mereka menulis kosakata yang kadang hanya sesuai dengan lafal berbicara, sehingga kurang atau lebih huruf. Rupanya mereka lebih percaya diri untuk bicara bahasa Inggris ketimbang teman kerja saya yang punya score TOEFL yang tinggi.

Lalu menjawab pertanyaan mana yang lebih dulu, belajar ngomong atau belajar nulis saat kursus? Jawaban saya harus dua-duanya bilamana mendesak diperlukan seperti mengambil studi, bekerja atau berniat pindah ke negeri yang dimaksud. Namun jika anda berniat untuk serius belajar bahasa asing, sebaiknya belajar menulis dulu melalui kursus. Ini adalah cara yang tepat dan benar. Selain belajar membaca lewat majalah dan koran-koran berbahasa asing juga cocok untuk anda memperkaya kosakata dan penulisan yang benar.

Untuk pergaulan, belajar ngomong bahasa asing itu dapat mencoba beberapa langkah hasil pengalaman saya:

1. Latih pengucapan lewat lagu.
Cari lagu yang jadi favorit anda untuk dinyanyikan. Dengarkan bagaimana si artist menyanyikan dengan lirik yang ada. Sebaiknya cari lagu yang tersedia liriknya sehingga anda bisa ikut menyanyikannya juga.

2. Cari partner bicara
Belajar bahasa asing akan lebih bersemangat bila punya teman tandem buat bicara. Anda bisa berkenalan lewat berbagai komunitas atau kelompok pecinta budaya luar. Intinya anda percaya diri untuk berbicara.

3. Kunjungi belajar online yang bertebaran di internet
Latih dan tingkatkan kemampuan bahasa asing yang bisa dicari di internet. Mereka biasanya ada berbagai latihan yang cocok bagi pemula.

Selamat mencoba