Tips Hadapi Wartawan “Tidak Jelas”


Ilustrasi.

Sebagai orang yang kerap berhubungan dengan media, tentu pengalaman berhadapan dengan wartawan abal-abal atau wartawan tidak jelas adalah hal yang menjengkelkan. Mengapa? Mereka belum tentu wartawan sesungguhnya namun kita sudah diperalat dan dimintai uang untuk tujuan yang tidak jelas pula.
Berikut tips menghadapi mereka antara lain:

1. Tanyakan kartu identitas wartawan
Saat anda menggelar jumpa pers atau acara yang melibatkan wartawan, anda bisa meminta mereka menunjukkan kartu identitas wartawan. Namun tidak menutup kemungkinan, mereka juga bisa memalsukan kartu identitas tersebut. Jika anda bisa mencatat nama mereka, anda juga bisa melaporkan kepada media yang diakunya,apakah mereka terdaftar sebagai karyawan? Jika anda merasa ragu dengan mereka, apalagi menunjukkan gelagat yang tidak baik, sebaiknya urungkan saja mengajak mereka terlibat dalam acara anda.

Jika mereka datang tiba-tiba tanpa undangan dan mengaku wartawan untuk meliput, anda bisa meminta surat tugas liputan. Untuk wartawan yang bertugas liputan khusus, biasanya mereka dilengkapi kartu identitas, surat tugas bahkan didampingi salah satu staf kompeten seperti humas dari perusahaan/organisasi yang relevan.

2. Penerbitan Surat kabar yang tercantum pada kartu identitas wartawan
Ada beberapa wartawan koran yang kadang membawa Koran terbitan terakhir untuk menunjukkan bahwa mereka bekerja di media tersebut. Biasanya wartawan seperti ini adalah mereka yang berasal dari media yang tidak populer dan mungkin terbitan korannya hanya mingguan atau bulanan. Wartawan yang membawa koran ini biasanya pula adalah wartawan lokal. Tentu anda sulit melacaknya di level nasional.

Untuk membuktikan, anda bisa mengecek nama mereka dalam koran tersebut, apakah mereka benar-benar wartawan dari Koran yang diaku dan ditunjukkannya ke kita? Jika tidak ada namanya, hanya sekedar pengakuan saja, anda bisa menolak kehadiran mereka. Jika nama dia ada dalam koran tersebut, anda bisa menyatakan keberatan dengan mengatakan undangan media sudah dibatasi dan lain kali anda bisa mengundang mereka.

3. Laporkan ke polisi terdekat
Untuk acara besar dan melibatkan tamu-tamu penting semisal pejabat, anda bisa meminta bantuan tenaga keamanan untuk mengontrol wartawan yang tidak dikehendaki. Sebagai contoh saat saya mengadakan kegiatan di hotel besar, saya meminta bantuan satpam dan petugas hotel untuk membantu. Saya memberikan data wartawan yang sudah diundang saja sehingga wartawan yang tidak dikehendaki bisa diantisipasi.

Jika wartawan yang tidak dikehendaki datang tanpa ada acara dan mengatakan untuk liputan, anda bisa bertindak tegas pula bila mereka mengancam dan bertindak kurang sopan. Anda juga berhak lapor ke polisi bila mereka mengganggu kenyamanan anda.

4. Lakukan media monitoring periodik
Pemantauan media perlu dilakukan periodik untuk mengontrol pemberitaan yang kita harapkan dan sebagai laporan juga. Nah bagi wartawan yang tidak jelas dan tidak dikehendaki, tentu sulit mendapatkan akses membeli dan menjangkau mereka. Media monitoring juga menjadi alasan bahwa anda hanya mengundang wartawan yang berasal media besar dan komptibel buat perusahaan/organisasi anda.

Untuk mengantisipasi wartawan yang tidak dikehendaki, berikut strategi yang bisa dilakukan:

1. Koordinasi dengan asosiasi/perhimpunan/kelompok wartawan setempat
Saat anda memiliki acara besar dan ingin publikasi, cari tahu kontak asosiasi wartawan setempat, siapa koordinatornya. Dengan begitu, anda bisa meminta kontak wartawan yang memang sudah terdata baik. Bisa juga anda meminta bantuan mereka untuk mengundang dan bertanggungjawab terhadap animo wartawan yang datang. Untuk acara besar dan melibatkan tamu penting, tentu kehadiran wartawan tidak bisa dikendalikan. Koordinator dari perhimpunan/asosiasi wartawan setempat akan membantu me-handle-nya.

2. Identifikasi data wartawan di awal.
Siapkan daftar wartawan, asal media dan nomor kontaknya di meja registrasi. Jika ada wartawan yang tidak dikehendaki di awal kedatangan/registrasi maka anda berhak menolaknya.

3. Jalin hubungan baik untuk kelangsungan komunikasi berikutnya.
Sebaiknya anda sudah memiliki data nama dan nomor kontak wartawan untuk peliputan dan publikasi. Tidak ada salahnya and membangun hubungan dan komunikasi yang intens dengan mereka di luar acara pekerjaan. Misalnya anda bisa mengundang makan siang bersama mereka atau berbuka puasa bersama saat bulan Ramadhan. Bagaimana pun anda perlu intens berkomunikasi untuk memonitor pemberitaan anda. Syukur-syukur jika ada acara selanjutnya, anda hanya mengundang mereka saja yang sudah anda kenal baik dan bertanggungjawab.

Semoga bermanfaat!

Advertisements

Mempersiapkan Bincang-bincang (Talk Show) di Radio

talk show radio
Sumber foto: Dokumen pribadi

Meski kini paling banyak disajikan talk show di televisi, namun bagi mereka yang tinggal di wilayah remote semacam pedalaman dan terpencil, radio masih dimanfaatkan sebagai sumber informasi. Radio umumnya menjadi saluran media yang berpengaruh sebagai informasi publik bagi mereka yang tidak punya waktu untuk menonton tivi atau tidak memiliki tivi di rumahnya. Jangkauan radio begitu luas bahkan dengan ponsel sekalipun masih bisa diperdengarkan, sementara televisi masih memerlukan listrik dan ketersediaan akses layanan penerima gambar atau antenna.

Nah, bagaimana menyusun naskah talk show di radio? Ini dia saya berbagi pengalaman:

  • Tentukan radio yang ingin dituju!

Ada banyak radio berseliweran jika anda membuka saluran radio baik itu di rumah, mobil maupun online. Terkadang setiap radio memiliki segmen pasar tertentu misalnya untuk orang muda, perempuan dan ibu rumah tangga atau khalayak umum. Untuk tujuan siaran ini, sebelum menentukan radio yang dituju, pilih dulu siapa jangkauan yang diharapkan untuk talk show anda? Jika umum, pilih radio yang memiliki jangkauan luas hingga ke wilayah terpencil, misalnya.

 

  • Kirim surat permohonan kepada radio!

Setiap radio memiliki agenda kerja yang diatur secara periodik. Agar acara talk show yang ingin anda lakukan berjalan dengan baik, kirimkan dulu surat permohonan kepada radio yang dimaksud. Sebaiknya jalin dulu hubugan dengan pihak humas atau telpon ke pihak radio tersebut bagaimana mengajukan permohonan slot tayang. Ada baiknya anda mengirimkan surat permohonan sebulan sebelum rencana siaran. Jika anda memiliki kemitraan hingga setahun dengan radio tersebut misalnya, anda bisa lakukan siaran setiap bulan sekali maka diperlukan rencana tema dan waktu slot tayang radio tersebut.

 

  • Persiapkan waktu siaran!

Kapan pelaksanaan siaran? mulailah merinci hari, tanggal dan jam siaran. Berapa lama siaran akan dilaksanakan? satu jam, dua jam?

 

  • Tentukan tema bincang-bincang!

Apa yang ingin dijadikan garis besar atau benang merah dari siaran anda? Sebaiknya anda bisa mengkaitkan tema dengan hari perayaan/peringatan tertentu. Misalnya, anda ingin berbicang tentang kesadaran membaca buku saat menjelang Hari Aksara Sedunia. Tema akan membantu anda memilah konsep siaran dan narasumber yang tepat untuk kebutuhan siaran anda.

 

  • Siapkan narasumber!

Agar siaran anda benar-benar memenuhi tujuan anda, yakni menjangkau publik dengan informasi yang benar dan tepat maka anda juga memerlukan orang yang tepat pula sebagai narasumber. Siapa narasumber untuk siaran anda? Sebaiknya pilih yang memang sesuai dengan tema siaran anda. Untuk memaksimalkan tujuan anda, undang narasumber dari jauh-jauh hari agar mereka bersedia hadir. Narasumber juga membantu kita menyampaikan maksud dan tujuan siaran sesuai kebutuhan kita. Narasumber bisa jadi tenaga ahli atau public figure untuk tema anda. Atau anda juga bisa mengundang penerima manfaat atau orang yang bisa berbagi pengalaman. Misalnya anda ingin membangu kesadaran membaca maka anda bisa mengundang orang yang suka baca seminggu lebih dari 5 buku.

 

  • Tentukan format siaran!

Format siaran ini menyangkut kesanggupan dari pihak radio untuk memenuhi slot tayang permintaan anda. Ada yang bersedia melaksanakan siaran secara langsung (live) namun ada pula yang harus melakukan tapping atau rekaman. Tidak ada kelebihan atau kekurangan masing-masing format, sama saja tergantung bagaimana anda menyesuaikannya. Pengalaman format radio dilakukan tapping dikarenakan kondisi narasumber yang tidak bisa melaksanakan live pada waktu yang ditentukan. Jadi tidak melulu karena pihak radio saja untuk menentukan format siaran. Jika anda memiliki anggaran advertorial, maka radio biasanya akan menyesuaikan dengan kebutuhan anda sesuai slot advertorial yang terjadwalkan.

 

  • Susun konsep siaran!

Konsep siaran ditentukan sejauh pengelolaan jam siaran yang diberikan. Jika diberikan waktu satu jam, maka selama 60 menit anda harus memikirkan pembagian segmen yang tepat. Meski anda telah membayar radio untuk slot tayang tersebut tetapi pihak radio biasanya akan memberikan jeda agar talk show dapat berlangsung efektif dan tidak membosankan. Sebagai contoh untuk siaran 60 menit, saya biasanya membaginya menjadi empat segmen. Segmen tersebut terbagi sesuai dengan tema besaran siaran.

 

  • Persiapkan naskah talk show

Untuk siaran radio, saya terbiasa membuatkan naskah talk show agar narasumber dan host radio memiliki gambaran kebutuhan yang diperlukan. Naskah talk show berisi tentang pertanyaan dan jawaban yang relevan dengan tema. Awali naskah dengan pengantar siaran yang kelak akan dibaca oleh host radio di awal bincang-bincang. Pengantar bisa berisi data dan profil program.

 

  • Bantu dengan pertanyaan dan jawaban dari diskusi

Selama siaran, siapkan juga jawaban dari pertanyaan yang mungkin ditanya oleh khalayak yang mendengarkan. Apakah bincang-bincang bersifat tertutup? atau semi terbuka? jika tertutup kemungkinan pertanyaan yang dilayangkan dari khalayak hanya melalui sms atau saluran media yang tertutup dan tidak langsung kepada narasumber. Jika ada jeda dari segmen, siapkan juga jawaban dari pertanyaan yang dikirimkan. Ada pula tanya jawab langsung yang dibuka oleh host kepada narasumber. Untuk itu, anda mesti sigap dengan jawaban-jawaban untuk para narasumber.

 

Semoga bermanfaat!

6 Langkah Kunjungan Ke Media Massa

Ilustrasi.

Dalam rangka mencapai publisitas organisasi yang maksimal, melakukan kunjungan ke media massa adalah cara yang bisa dilaksanakan sebagai bagian dari pekerjaan Humas atau Komunikasi. Manfaat kunjungan ini sangat besar untuk memperkenalkan profil organisasi dan juga capaian program yang sudah terjadi selama ini. Kunjungan ke media massa juga memungkinkan agar kita bisa bermitra bersama dengan media untuk melakukan advokasi tentang isu-isu penting.

Berikut langkah-langkah yang bisa dilakukan:

  1. Buatlah daftar media massa yang akan dikunjungi!

Lacaklah daftar media yang tersedia dan memungkinkan untuk dikunjungi. Pastikan media yang memiliki khalayak pembaca cukup banyak sehingga memiliki jangkauan yang luas pula. Cek pula tentang korepodensi surat menyurat untuk dapat mengajukan permohonan bertemu, via email, faksimili atau pos surat.

  1. Susunlah surat permohonan untuk dapat melakukan kunjungan ke media massa!

Silahkan hubungi ke bagian redaksi, prosedur kunjungan ke media massa. Jelaskan maksud dan tujuan kunjungan yang ingin anda lakukan. Sertakan juga durasi kunjungan agar pihak redaksi benar-benar bisa menerima kunjungan anda. Dalam surat permohonan sedapat mungkin bisa diceritakan satu atau dua paragraph mengenai profil organisasi anda sehingga saat kunjungan kita benar-benar bisa tepat sasaran.

 

  1. Persiapkanlah berbagai produk komunikasi yang terkait

Apa saja produk komunikasi yang sudah dihasilkan, bulletin, lembar data, info kit, dsb yang memang bermanfaat untuk menjadi data penunjang mengenai profil organisasi/perusahaan dan juga sebagai acuan bilamana diperlukan atas kunjugan tersebut. Anda juga bisa menyiapkan tayangan visual yang cukup representative dari  organisasi/perusahaan.

 

  1. Datanglah sesuai agenda yang ditentukan dengan membawa produk komunikasi

Apa saja produk komunikasi yang sudah dihasilkan, buletin, brosur, lembar data, atau apa pun juga bawalah itu menjadi bagian dari kunjungan anda untuk ditunjukkan. Karena kita yang akan berkunjung, sebaiknya datang tepat waktu atau datang tidak terlambat. Pengalaman saya, datang 30 menit lebih awal untuk mengecek kesiapan produk komunikasi. Ingat kedisplinan soal waktu menjadi poin berharga dari pertemuan anda. Jangan sampai kunjungan anda tidak berharga hanya karena datang terlambat atau ketiadaan produk komunikasi sama sekali.

 

  1. Dokumentasikan kunjungan tersebut

Beberapa media sering mengabadikan kunjungan untuk dijadikan galeri foto atau sekedari berita foto. Namun sebagai pengunjung, anda perlu juga mendokumentasikan kunjungan tersebut sebagai salah satu program relasi kepada media. Kunjungan ke media ini juga untuk menunjukkan seberapa dekat hubungan anda dengan media. Selain itu, anda juga bisa menjalin komunikasi interpersonal untuk membantu anda menyebarluaskan program atau siaran pers seperti yang anda kehendaki.

 

  1. Lakukan evaluasi dari hasil kunjungan

Usai kunjungan, jangan keburu senang dulu. Evaluasi kunjungan anda seperti penerimaan media, respon untuk menerima program/visi/misi, bentuk komunikasi yang akan dilakukan selanjutnya, dsb. Intinya ada banyak evaluasi yang bisa dilakukan sepanjang kunjungan tersebut benar-benar bermanfaat untuk menyebarluaskan program.

Tertarik untuk mencobanya?

Mengapa Sulit Jadi Pendengar yang Baik?

Di suatu sore, seorang anak bertanya pada ibunya:

Anak : Ibu, mengapa kau selalu mendengarkan aku berbicara?

Ibu : Karena aku ingin tahu tentang keseharianmu dan apa saja yang kau lakukan, nak.

Anak : Mengapa temanku tidak suka mendengarkan aku bicara di kelas?

Ibu : Tentu, kau tidak boleh bicara saat dalam kelas. Kita tidak mungkin memahami dengan baik, jika ada dua orang bicara. Jadi jika kau ingin memahami pelajaran di kelas, jadilah pendengar yang baik.

Anak : Baik, Bu. Itu sudah sering aku lakukan hanya saja mengapa temanku itu tidak pernah mendengarkan apa yang aku katakan?

Ibu : Apa yang kau katakan pada temanmu?

Anak : Aku bilang Klara itu terlihat suka makan, lalu temanku ini mengatakan kepada Klara bahwa aku mengejeknya gendut. Oh ibu, aku tidak berkata demikian. Akhirnya Klara marah padaku.

Ibu : Kau sudah jelaskan pada Klara soal itu?

Anak : Aku sudah berusaha tetapi Klara tidak mau jadi pendengar yang baik seperti ibu.

Ibu : Kau tahu Nak, kunci agar orang mau mendengarkanmu adalah pilihlah apa yang ingin didengarnya.

Anak: Mungkin bu. Seperti yang disampaikan Maria padaku, Klara ingin aku minta maaf.

Ibu : Yups, awali kalimatmu saat mendekati Klara dengan kata ‘maaf’ dengan begitu kau sudah curi perhatiannya untuk diam dan mulai mendengarkanmu. Umumnya setiap orang mendengarkan apa yang dipilihnya untuk didengar. Tidak ada yang seratus persen orang benar-benar mengucapkan secara sempurna dan tepat apa yang baru didengarnya. Seperti yang kau katakan pada temanmu tentang Klara, suka makan tidak serta merta gemuk ‘kan?

Anak : Ya Bu.

Ibu : Jadi jangan mudah percaya apa yang temanmu katakan yang berasal dari orang lain! Jika informasi itu belum benar namanya gosip. Karena mereka yang bergosip bisa menambahkan atau mengurangi fakta yang didengarnya. Ini juga alasan orang sukar jadi pendengar yang baik, nak.

Anak :  Baik bu, itu berarti ibu menjadi pendengar yang baik karena ibu percaya padaku ‘kann?

Ibu : Ya, kunci jadi pendengar yang baik adalah kepercayaan. Dengan begitu, jangan mudah menaruh kepercayaan dengan bercerita masalah pribadimu kepada orang lain! Sebaiknya jika ada masalah, ceritakan pada orang yang kamu percayai, Nak atau ke Tuhan dengan berdoa. Jangan suka mengumbarnya pada orang lain!

Anak : Baik Bu, karena pada dasarnya kita tidak mudah menjadi pendengar yang baik ya.

***

Kata orang itu sambil bercerita mengenang masa kecilnya. “Sekarang aku jadi begini bahwa aku adalah orang yang tidak suka mengumbar segalanya kepada orang lain atau media sosial. Segalanya diceritakan pada yang dipercayai atau kepada Tuhan,” katanya sambil matanya basah berlinang. Ia menyimpan perkaranya dalam hati.

Lalu ia menutup percakapan kami dengan berkata, “Jika yang kamu lihat masih persepsi, dilihat dari berbagai sudut pandang, dan apa yang kamu dengar bisa saja masih opini, mengapa mudah kau jadikan itu sebagai informasi. Kemajuan komunikasi dan informasi tidak serta merta kau terima sebagai kenyataan, pelajari dulu. Ada data baru bicara,” tegasnya. Ia pun berlalu.

 

 

 

 

 

5 Hal Saat Anda Diwawancarai Radio (Live Report)

image

Radio adalah salah satu saluran media komunikasi yang biasa juga digunakan. Bahkan radio masih menjadi saluran media yang efektif untuk menjangkau seluruh masyarakat. Mereka tidak perlu punya televisi atau baca koran, informasi bisa tersampaikan dengan baik. Nelayan yang sedang di laut atau petani yang sedang bekerja di sawah adalah contoh bagaimana informasi masih bisa tersampaikan hingga ke wilayah yang mungkin sulit dan remote.

Oleh karena itu, radio menjadi media yang paling cepat untuk menyampaikan berita atau informasi kepada masyarakat. Istilahnya dapat langsung menyampaikan live report atau siaran langsung di lokasi kejadian. Nah, berkomunikasi dengan radio juga perlu hati-hati dan bijak saat menjadi narasumber apabila radio menjadi media tercepat yang menghubungkan dengan dunia luar.

Menjadi narasumber radio terbagi menjadi dua hal yakni, 1). Narasumber langsung (live report) dan kedua 2). Narasumber tidak langsung (live record).

Hal-hal yang perlu dilakukan apabila siaran langsung (live report):

1. Pastikan bahwa suara anda terdengar baik dan anda dalam kondisi yang prima.
Karena anda akan diwawancara secara langsung, pastikan anda dalam kondisi baik. Tidak sakit, batuk dan suara anda enak terdengar (tidak mengalami gangguan). Jika anda sedang flu, batuk atau radang tenggorokan tentu sangat terganggu jika selama 10-20 menit, anda dimintai pendapat.

2. Menyingkirlah dari keramaian dan pastikan lokasi wawancara yang nyaman dan tidak bising.
Namanya wawancara lewat radio, tentu informasi yang diperoleh berdasarkan suara. Agar pesan yang disampaikan terdengar jelas, pastikan anda berada di lokasi yang tidak bising.

3. Siapkan jawaban atas pertanyaan yang akan ditanya.
Saat diwawancarai secara langsung, reporter biasanya akan menghubungi studio terlebih dulu. Waktu persiapan sebelum on air, siapkan poin jawaban yang akan ditanyakan reporter agar anda terdengar paham dan menguasai. Jangan sampai saat diwawancarai, anda terlihat bingung, tidak tahu dan terdengar tidak paham akan pertanyaan reporter. Karena ini merupakan siaran langsung beberapa menit atau beberapa saat, persiapan jawaban akan membantu anda agar tidak ‘blank’ saat ditanya host atau reporter.

4. Jawab yang singkat, jelas dan relevan dengan apa yang anda kuasai.
Jika anda memiliki jawaban atas pertanyaan yang ditanyakan sebelumnya, tentu memudahkan anda untuk menjawab terstruktur, sistimatis dan relevan. Hindari obrolan ngalur ngidul yang memusingkan pendengar untuk menyimak respon anda.

5. Luangkan waktu anda sejenak dan singkirkan hal-hal yang mengganggu.
Biasanya saat saya meminta narasumber untuk tampil on air di radio, saya minta mereka mematikan hp sejenak atau menyimpan alat komunikasi. Sampaikan juga kepada yang lain agar tidak mengganggu anda selama beberapa saat sewaktu on air di radio.

Terakhir, anda bisa juga merekam hasil on air anda dengan voice recorder sehingga anda bisa mengetahui informasi yang baru saja disampaikan. Ingat pula bahwa on air di radio tidak ada proses editing sehingga anda harus benar-benar siap saat diminta wawancara di radio.

Ucapkan pula terimakasih kepada host atau reporter yang sudah mewawancarai anda. Anda bisa meminta nomor kontak bilamana anda perlu mengklarifikasikan jawaban.

Bagaimana pengalaman anda saat wawancara di radio?

5 Teknik Jadi Narasumber Berita


Bagaimana anda bisa menampilkan citra diri yang positif sebagai narasumber? Simak tips berikut!

Suatu kali saya membaca berita yang tidak saya harapkan. Saya sudah membuat rilis yang bisa digunakan oleh media tetapi malangnya pemberitaan tersebut muncul. Mengapa? Karena kita tidak mungkin mengendalikan hal-hal yang sudah kita persiapkan dengan matang. Contohnya adalah media mengambil narasumber pihak lain di luar rilis yang kita buat.

Setelah kejadian itu, saya mengirimkan lima hal berikut ke beberapa rekan kerja yang acapkali menjadi narasumber berita agar dapat mempelajari teknik menjadi narasumber berita yang baik, seperti di bawah ini:

  1. Berpendapatlah dengan jujur!

Sampaikan opini anda yang jelas dan sederhana. Beri kesan bahwa anda bisa membantu wartawan untuk menjawab pertanyaan. Jika ada hal yang tidak diketahui sebaiknya ungkapkan dengan jujur bahwa anda tidak tahu. Tetaplah berpedoman pada fakta yang anda ketahui, bukan yang ingin anda ungkapkan.

  1. Jangan pernah berkata “off the record”!

Bagaimana pun anda tidak mungkin mengendalikan wartawan dengan mengatakan hal-hal yang sifatnya rahasia tetapi anda terlanjur ungkapkan. Sebaiknya berhati-hati saat anda diminta respon yang menyangkut opini atau pendapat publik.

  1. Hindarilah gosip, spekulasi, kritik atau kecaman!

Jika ada hal-hal yang menurut anda tidak tepat untuk disampaikan karena bukan wewenang atau kapasitas anda, sebaiknya jangan diungkapkan. Segera klarifikasikan informasi atau kesalahan yang anda ucapkan saat wawancara. Minta nomor/alamat kontak media bilamana diperlukan untuk klarifikasi.

  1. Bersiaplah untuk menghadapi wartawan dengan persiapan jawaban!

Jika anda yakin dapat menjawab pertanyaan wartawan, sebaiknya anda juga perlu meminta beberapa pertanyaan di awal dulu sehingga anda bisa mempersiapkan jawabannya. Berpikirlah sebelum berpendapat sehingga apa yang anda sampaikan sesuai dengan konteks pertanyaan dan tepat sasaran.

  1. Buatlah pesan anda secara positif!

Setiap kesempatan yang diberikan oleh wartawan, pastikan apa yang anda ungkapkan menjadi hal yang positif untuk disampaikan ke publik. Meski media menggiring anda ke arah yang kontroversial, arahkan pernyataan anda menjadi pesan yang positif untuk disampaikan. Jangan mudah terprovokasi oleh pertanyaan yang menggiring anda untuk beropini negatif!

Semoga lima langkah tersebut dapat membantu anda menjadi narasumber berita yang layak dan tepat sasaran. Jadikan setiap kesempatan wawancara menjadi media yang apik untuk mengangkat hal-hal positif dalam berbagai sisi kehidupan!

Beda Negara, Beda Bungkus Rokok

Belajar dan bekerja di bidang komunikasi selalu membuat saya tertarik pada bagian bagaimana membuat perubahan perilaku lewat media visual. Salah satunya adalah bungkus rokok yang gambarnya menyeramkan. Jauh sebelum diberlakukan di Indonesia, sebenarnya saya sudah mengamati bungkus rokok dengan gambar menyeramkan di negara tetangga sesama ASEAN juga.

Ceritanya tiga tahun lalu, saya berlibur mengunjungi seorang teman yang bekerja jadi guru di sana. Sebelum bertemu dengan teman saya itu, saya berkenalan dengan seseorang yang juga teman dari teman saya itu. Sambil menunggu teman saya datang menjemput, saya pun ngobrol-ngobrol dengannya. Dia adalah pria WNA Amerika yang datang untuk mengajar di negeri itu. Di sela-sela kami ngobrol, dia menawarkan rokok pada saya. Saya tolak karena saya tidak merokok.

Namun saat dia merokok, saya tertarik dengan sampul rokoknya yang tampak menyeramkan. Saya tanya kepadanya, bagaimana perasaannya saat mengetahui sampul rokok tersebut? Saya bermaksud untuk mengetahui apakah media visual mampu mengubah perilaku seseorang untuk tidak merokok. Dengan enteng, dia jawab TIDAK. Dia tidak terpengaruh dengan gambar tersebut. Singkat namun tidak menjelaskan jawabannya.

Bagaimana bungkus rokok di negara lain?

Bedanya bungkus rokok. Pentingnya media visual untuk perubahan perilaku. Sumber foto: Dokumen pribadi
Bedanya bungkus rokok. Pentingnya media visual untuk perubahan perilaku. Sumber foto: Dokumen pribadi

Bungkus rokok di Belanda ternyata juga tidak ada gambar visual. Jadi hanya pernyataan larangan di bungkusnya saja dengan bahasa setempat (lihat gambar). Di Jerman sendiri, ternyata juga sama, hanya larangan merokok dalam bahasa jerman seperti Rauchen kann tödlich sein.

Bagaimana menurut anda sendiri?

7 Tips Membuat Lembar Data (Factsheet)


Ilustrasi.

Lembar data atau biasa juga dikenal Factsheet adalah bagian dari produk komunikasi yang bertujuan memberikan pemaparan singkat mengenai capaian suatu program secara kuantitatif maupun kualitatif. Lembar data biasa disisipkan di paket informasi, dibagikan saat showcase program, atau disampaikan dalam rilis pers. Semua tujuan tersebut bergantung pada kebutuhan bilamana dirasakan tepat. Yang jelas capaian dan data sifatnya dinamis, jadi sebaiknya bisa diubah, ditambahkan atau dilengkapi kemudian.

Berikut tips membuat lembar data (factsheet) berdasarkan pengalaman,

1. Tentukan tampilan lembar data!
Ada lembar data yang disampaikan secara narasi, diangkat dari cerita sukses sambil kemudian disisipkan angka-angka capaian program. Lain lagi, lembar data berupa tabel saja yang memuat seluruh angka keberhasilan program. Sementara yang lain, membuat lembar data dengan menggabungkan keduanya. Langkah terakhir dalam membuat tampilan lembar data adalah yang biasa saya lakukan. Mengapa? Saya selalu berpikir tidak semua orang berminat dengan narasi dan mau membacanya, jadi menggabungkan kedua poin diharapkan akan mampu menjelaskan program secara atraktif dan informatif.

2. Tampilkan data terbaru!
Namanya lembar data yang diharapkan penerima pesan memperoleh informasi seputar data terbaru. Sebaiknya sebelum mencatumkan data, koordinasikan dengan pusat data atau bagian yang menangani monitoring dan evaluasi agar data yang diperoleh akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Data terbaru biasanya akan digunakan untuk meyakinkan penerima pesan tentang capaian dan hasil pelaksanaan program. Untuk kepentingan ini biasanya lembar data dibuat secara periodik sehingga lebih terstruktur dalam menyampaikan data terkini.

3. Selipkan foto-foto menarik sesuai program dan data yang disampaikan!
Foto-foto dimaksudkan agar data dan informasi yang disampaikan menarik penerima untuk mengetahui sejauhmana hasil yang relevan dengan yang disampaikan. Gunakan foto-foto yang relevan dengan informasi yang disampaikan! Upayakan foto tidak diambil dari jarak jauh sehingga kurang informatif sementara foto yang akan ditempatkan mungkin tidak besar dan disesuaikan dengan ukuran kertas, biasanya ukuran A4. Sebaiknya foto-foto yang digunakan menampilkan ekspresi penerima manfaat program.

4. Cantumkan cerita sukses atau data signifikan secara naratif!
Untuk memperkuat capaian program melalui data yang disampaikan, ada baiknya mengangkat keberhasilan program lewat cerita sukses. Jangan terlalu panjang atau bertele-tele tetapi sampaikan hal-hal yang signifikan dan berdampak langsung pada keberhasilan pada program. Gunakan juga pernyataan-pernyataan data yang bisa diambil tentang sejauhmana program berhasil dan bermanfaat sesuai tujuan.

5. Beri pernyataan yang mendukung!
Ada banyak significant others yang telah mendukung terselenggaranya program dengan baik. Cantumkan pernyataan dan testimoni pejabat-pejabat yang memang terkait dengan pelaksanaan program! Beri foto dan jabatan yang bersangkutan. Beri juga informasi penguat seperti penerima manfaat yang juga merasakan perubahan. Ingat tampilkan lay out yang menarik dan enak dibaca meski hanya satu lembar.

6. Cantumkan kontak informasi!
Untuk memastikan ketertarikan penerima lembar data untuk mengetahui informasi program yang disampaikan, cantumkan nama, alamat, alamat surat elektronik dan telpon, misalnya.

7. Upayakan hanya satu lembar, tak perlu lebih!
Menyampaikan lembar data yang banyak dan bertele-tele tentu tidak menarik. Apapun tampilan data secara kuantitatif atau kualitatif, pastikan hanya satu lembar sehingga praktis dan efisien untuk disampaikan. Manfaatkan tampilan desain yang menarik dan hindari warna-warna ‘ajaib’, namun berikan pengaturan warna yang jadi turunan logo dan branding program.

Semoga bermanfaat!

Tips 5 A untuk Eksis tetap Nulis

image
Sumber foto: http://www.bukuindie.com

Entah mengapa menulis menjadi rutin saya lakukan, karena eksistensi lewat postingan media sosial tidak pernah saya lakukan lagi. Saya pikir menulis adalah bentuk eksistensi diri ketika yang lain sibuk dengan posting status atau foto selfie. Menulis adalah seni mengekspresikan dan mengolah kata yang kadang bisa menyentuh tetapi kadang perlu berpikir dan mencari sumber bacaan lainnya.

Nah, ada beberapa pesan yang masuk dan bertanya tentang tips untuk bisa eksis nulis di blog. Jujur saya juga sulit untuk meluangkan waktu jika sedang sibuk, tetapi daripada tidak bisa tidur lebih baik saya nulis dan akhirnya tertidur hihihihi… Tetapi kadang saya juga bisa malas dan sedang tidak tertarik menulis lalu berpikir, emang ada yang baca tulisan saya ya? Hahahaha… Dengan tulus ikhlas saya tetap nulis meski kadang harus berkutat pada pengalaman, pikiran atau perasaan. Bisa jadi loh, apa yang saya tulis itu fiksi atau imajinasi. Namun saya suka menulis.

Berikut 5A Tips eksis untuk tetap menulis,

1. Amati!
Apa yang sedang terjadi dengan dunia sekitar anda? Anda bisa lihat di sumber berita elektronik atau cetak. Anda bisa dengar dari gosip atau obrolan dengan rekan kerja. Atau, anda bisa cek dari media sosial yang kadang banyak teman-teman yang berbagi pendapat atau informasi seputar hal terkini yang sedang terjadi. Tak melulu soal berita, bisa jadi soal travelling saat anda berpergian, dengan begitu anda bisa amati hal-hal yang menarik untuk dijadikan bahan tulisan. Amati pula hobi atau minat anda yang lain, masak misalnya. Tulis bahan dan cara membuat kemudian praktekkan menjadi kumpulan artikel resep. Apa pun itu bahkan soal fashion jika anda memiliki kecintaan pada dunia gaya berbusana, anda bisa sampaikan pendapat dan karya anda lewat tulisan. Amati, amati dan amati sehingga anda pasti akan menemukan ide untuk menulis. Jika dulu menulis status di media sosial, kini pindahkan tulisan itu ke blog dan perkaya lagi sehingga lebih dalam dan bernas. Waduh! Susah? Pernah nulis diary ‘kan? Dulu sewaktu masih sekolah, bapak saya meminta saya beli buku tulis untuk mencatat apa saja yang saya lakukan selama satu hari. Buku tulis yang murah dan tidak menarik. Tetapi dua puluh tahun kemudian saya temukan lagi, tulisan saya sewaktu jaman SD usia 8-12 tahun itu ternyata asyik dibaca. Hey, jangan salah ternyata dari hal biasa bisa menjadi luar biasa jika kita bisa mengemasnya dengan baik.

2. Alami!
Jika sudah menemukan satu ide, sebaiknya langsung ambil hape atau notes buat corat coret supaya tidak lupa. Ide tulisan tadi yang tersimpan sebaiknya kini ditambahkan dengan pengalaman atau perasaan. Menulis adalah seni. Jadi jika anda mampu mengekspresikan apa yang dialami lewat tulisan, dijamin tulisan itu adalah cara anda memiliki ‘sense’ yang mencitrakan anda sendiri. Alami bukan berarti lepas dari imajinasi dan fantasi loh. Masukkan saja apa yang menjadi kekuatan cerita atau ide menulis anda. Jangan terpaku dengan struktur kata dan tata bahasa, tahap ini anda belum bertugas menata dan mengedit. Tahapnya masih nanti untuk mengecek dan review tulisan. Pastinya jangan berpikir untuk sempurna dalam menulis, kecuali anda ikut ajang kompetisi menulis. Anda adalah anda, tulislah apa yang menjadi diri anda sendiri.

3. Aktualisasikan!
Kini buatlah tulisan itu menjadi nyata dengan segala hal yang anda punyai. Apa pun itu, buatlah tulisan anda semenarik mungkin dengan sumber yang dipercaya. Sisipkan foto untuk meyakinkan tulisan anda. Kini tersebar foto-foto yang bebas anda masukkan dengan mencantumkan asal sumbernya. Sisipkan opini atau pendapat ahli atau public figure yang menguatkan opini anda. Atau sampaikan pendapat anda berdasarkan bahan bacaan yang anda temukan misalnya. Sebaik-baiknya pengalaman dan pendapat anda, jika tidak disampaikan dalam tulisan tentu akan terlupakan. Gunakan kesempatan anda menulis saat anda tahu bahwa pengalaman atau pendapat anda layak untuk dibagikan.

4. Atur!
Kini bagian untuk mengatur tulisan, merapikan, membaca kembali dan menata agar tulisan anda layak dibaca. Jadilah pembaca usai anda berhenti menulis. Tata kembali kalimat-kalimat yang menurut anda tidak perlu atau terdengar aneh. Atur kembali tulisan anda agar terlihat menarik. Ingat tampilan juga ditentukan oleh judul. Atur judul yang menarik pembaca untuk mengenal tulisan anda. Dimana kekuatan yang anda miliki, deskripsi yang detil, kata atau kalimat yang puitis atau foto yang menarik tulisan. Apa pun itu, mengatur tetap diperlukan agar tulisan kita layak dibagikan.

5. Ajukan jadi artikel!
Ini tahap final dimana anda sudah bisa menyebutnya karya tulisan. Ajukanlah tulisan anda di blog. Nikmati karya anda sekarang. Siapa tahu, ada yang tertarik untuk mendokumentasikan artikel anda dalam sebuah buku? Who knows ya:) Sampai sekarang, saya berharap bahwa suatu saat ada kesempatan untuk membukukan tulisan yang saya buat.

Semangat Menulis!!!!

Strategi Merancang Pelaksanaan Kegiatan (Event Organizer Guidance)

Sebagai orang yang bekerja di bidang komunikasi, salah satu peran yang juga harus dimiliki adalah menjadi penanggungjawab kegiatan perusahaan atau organisasi. Peran ini biasa disebut dengan istilah keren, Event Organizer. Meski kini perusahaan/organisasi mempercayakan pekerjaan itu kepada pihak ketiga, tetapi alangkah baik jika kita juga terlibat di dalamnya. Apalagi kegiatan akbar yang sering dan rutin dilakukan oleh perusahaan/organisasi tempat kita bekerja, bidang komunikasi kerap menjadi garda depan untuk kesuksesan penyelanggaraan event perusahaan/organisasi.

 

???????????????????????????????
(Kunci keberhasilan pelaksanaan kegiatan terletak pada pelaksanaan gladi resik yang matang dan persiapan yang optimal. Foto di atas adalah gladi resik dari suatu acara akbar yang akan digelar di Seoul, Korea Selatan. Sumber foto: Dokumen pribadi)

 

 

Berikut strategi yang biasa saya lakukan, antara lain:

1. Tentukan gambaran besar keberhasilan dari kegiatan yang ingin diselenggarakan!
Keberhasilan seperti apa yang hendak anda raih dalam kegiatan yang akan anda laksanakan? Petakan siapa saja target undangan anda. Lalu pikirkan konsep acaranya dan mungkin sponsor dari acara yang akan anda selenggarakan. Gali kembali hal-hal yang melatarbelakangi pelaksanaan acara ini sehingga acara ini perlu diselenggarakan. Dengan demikian, anda optimis bahwa akan ada banyak dukungan dari staf internal, donasi dan sponsor bahkan liputan media sebagai ajang promosi yang menarik.

2. Tentukan tujuan dan hasil dari acara!
Setelah anda menemukan gambaran besar dan latar belakang dari acara yang akan selenggarakan, kini tentukan apa yang menjadi hasil akhir dari acara yang akan diselenggarakan. Hasil acara yang diselenggarakan berupa pernyataan, misalnya terselenggaranya pameran pendidikan yang diikuti oleh 100 kelompok binaan dengan 20 media yang meliputnya. Sedangkan tujuan mencakup bagaimana anda mencapai hasil tersebut pada saat pelaksanaan acara, misalnya menyelenggarakan pameran pendidikan yang diikuti oleh kelompok binaan dari berbagai provinsi.

3. Lakukan rapat teknis persiapan dan pembagian kerja tim!
Kita tidak pernah bisa bekerja seorang diri. Bentuklah sebuah tim kerja yang mendukung pelaksanaan acara tersebut! Cara membentuk tim kerja adalah dengan melakukan rapat teknis bersama sehingga anda bisa secara langsung meminta kesediaan dan partisipasi orang lain dalam tim kerja anda. Selesai tersusunnya tim kerja, diskusikan kembali pembagian tugas dan tanggungjawab masing-masing orang yang terlibat. Lakukan pula komunikasi yang intens untuk meng-update informasi terkini dari masing-masing orang di tim kerja.

4. Buatlah cek list dari daftar persiapan yang perlu dilakukan!
Minta masing-masing tim kerja merumuskan cek list dan kompilasikan menjadi satu daftar list yang bisa dicek pada saat gladi resik. Cek list ini akan sangat membantu sebagai pengingat agar tidak ada yang terlewat atau terlupakan. Jika perlu, anda bisa memasang cek list dalam information board yang mudah dilihat dan dijangkau siapa pun. Daftar cek list meliputi item yang dibutuhkan, berikut penanggungjawab dan waktu yang diperlukan (timeline).

5. Rumuskan rincian dan detil persiapan!
Detil dan rincian persiapan meliputi:
a. Lokasi
Anda sudah memegang gambaran besar dari acara yang akan diselenggarakan. Kini lokasi seperti apa yang menunjang kebutuhan anda, indoor atau outdoor. Bagaimana ketersediaan transportasi menuju lokasi? Apakah cukup strategis untuk dijangkau oleh peserta? Bagaimana luas lokasi mengakomodir kebutuhan anda? Fasilitas apa saja yang diberikan dari lokasi yang anda rencanakan?

b. Konsep/agenda acara/rundown acara
Bicarakan kepada tim kerja yang menangani agenda acara anda, termasuk materi acara dan bahan-bahan yang akan diberikan kepada audience. Akan lebih mudah jika anda menyusunnya menjadi rundown acara yang lebih detil dan runut termasuk mencantumkan penanggungjawab dari setiap sesi yang dilaksanakan.

c. Karakteristik peserta
Siapa saja bisa menjadi peserta acara yang akan selenggarakan? Adakah kriteria khusus yang harus dipenuhi dalam acara anda? Berapa total peserta acara yang akan anda undang? Apakah ada pakaian khusus (dress code) untuk hadir dalam acara anda?

d. Pembicara/Bintang Tamu
Diskusikan siapa orang yang tepat untuk menjadi pembicara/pengisi acara dalam acara anda! Apakah Bintang Tamu/Narasumber/Pembicara cukup mewakili kebutuhan anda? Atau anda hanya melihat “bintang tamu” sebagai sosok yang popular dan menarik atensi peserta yang hadir?

e. Undangan
Bagaimana anda menarik simpati audience untuk hadir? Apakah ada undangan yang perlu dikirimkan? Kapan undangan tersebut dikirimkan kepada target? Apakah ada undangan digital untuk mempermudah informasi acara anda? Buatlah undangan semenarik mungkin (aktraktif) dan informatif bagi pembacanya!

f. Biaya yang dibutuhkan
Tuliskan secara rinci biaya apa yang diperlukan untuk mengakomodir kebutuhan acara anda! Darimana uang tersebut didapatkan? Apakah anda perlu melakukan donasi dan pencarian sponsor?

g. Konsumsi
Bagaimana konsumsi yang menjadi selera target undangan anda? Bagaimana pengelolaan dan distribusi makanan pada saat terselenggaranya acara anda? Bagaimana soal rasa dan jaminan mutu yang baik dari penyajian makanan untuk acara anda?

h. Goody bag peserta
Apakah ada materi yang bisa dibagikan kepada peserta yang hadir? Apakah ada sovenir untuk peserta? Apakah ada merchandise yang mewakili acara yang anda selenggarakan? Bagaimana pengemasan materi-materi yang bermanfaat bagi peserta?

i. Media
Apakah acara yang akan diselenggarakan melibatkan dan mengundang media? Bagaimana peliputan media yang diharapkan? Apakah ada siaran pers yang dapat dibagikan kepada media yang datang? Apakah perlu dilakukan konferensi pers atau hanya dilakukan “door stop”?

6. Lakukan publikasi acara!
Sebelum pelaksanaan acara, tentukan jauh-jauh hari bagaimana publikasi acara dilakukan. Apakah dilakukan melalui berbagai media massa dan elektronik? Rencanakan publikasi acara yang menarik atensi peserta yang hadir melalui berbagai tampilan publikasi yang aktratif dan informatif. Ransang peserta untuk hadir dengan publikasi yang memikat melalui tampilan visualisasi, akurasi informasi dan informasi kontak yang bisa dihubungi yang menyangkut acara tersebut.

7. Sebelum terlaksananya acara, lakukan pengecekan di lokasi dan laksanakan gladi resik!
Rencanakan gladi resik yang melibatkan tim teknis, terutama tim acara. Cek kembali daftar list persiapan yang sudah disusun, apakah sesuai atau ada yang perlu diubah? Optimalkan gladi resik dan persiapan agar pelaksanaan acara sesuai dengan hasil yang diharapkan.

8. Setelah pelaksanana acara, ajaklah tim untuk lakukan evaluasi bersama!
Usai pelaksanaan acara, undanglah tim untuk diskusi bersama melakukan evaluasi tentang pelaksanaan acara. Catat hal-hal positif yang terus dapat dilakukan dan hal-hal lain yang perlu ditingkatkan sehingga menjadi lesson learned bagi semua tim, apalagi jika acara yang anda selenggarakan adalah acara rutin dan periodik. Dokumentasikan acara anda sehingga menjadi rekomendasi bersama seluruh pihak.

9. Siapkan tindak lanjut dari acara tersebut!
Usai acara, apa yang seharusnya dapat dilakukan oleh tim kerja? Apakah ada informasi kontak untuk ditindaklanjuti berkaitan dengan acara? Apakah ada cerita sukses yang perlu dimuat dalam bulletin? Atau, apakah ada hal-hal lain yang menjadi tindaklanjut dari kesepakatan dalam acara yang anda selenggarakan, misalnya pertemuan rutin atau aksi lanjutan sebagai hasil acara?

10. Lakukan “Syukuran” atas terlaksananya acara!
Rayakan terselenggaranya acara yang anda laksanakan bersama tim anda dengan sebuah acara “syukuran” sebagai ungkapan apresiasi atas keterlibatan dan partisipasi seluruh pihak. Apakah perlu dilakukan dalam sebuah acara makan besar atau cukup memberikan kartu ucapan terimakasih kepada para donator/sponsor?

Semoga bermanfaat!