Langkah-langkah Mengkomunikasikan Pesan

Sebagai seorang yang belajar komunikasi dan melakukannya dalam pekerjaan, mengkomunikasikan pesan bukan hal yang mudah. Demikian pula dengan seseorang yang sedang belajar ilmu komunikasi bertanya dalam email langkah-langkah apa yang biasa dilakukan untuk mengkomunikasin pesan?

Berikut respon saya melalui 5 W + 1 H sebagai berikut:

1. What (Pesan apa yang ingin anda sampaikan?)
Pesan seperti apa yang hendak disampaikan menjadi kunci di awal. Apakah pesan yang dimaksud hanya sekedar informative atau pesan lebih persuasive? Tentu anda harus membedakan pesan tersebut. Jika ingin memberikan pesan persuasive maka pesan sarat akan argumen untuk mempengaruhi sasaran penerima pesan. Jika pesan yang hendak disampaikan adalah pesan yang bersifat informative maka anda juga harus menentukan sumber yang mengacu pesan tersebut. Anda juga harus menentukan kunci dari pesan, atau apa pesan utama yang hendak disampaikan kepada penerima pesan baru kemudian anda bisa menjabarkan cabang-cabang (biasa saya sebut begitu) yang menjadi pendukung pesan utama anda.

2. Why (Mengapa begitu penting pesan tersebut disampaikan?)
Apa yang melatarbelakangi pesan yang ingin anda sampaikan sehingga begitu penting untuk disampaikan? Apa tingkat urgensinya sehingga begitu disampaikan? Karena angka kematian ibu dan anak yang meningkat misalnya. Karena data statistik menunjukkan bahwa jumlah kasus HIV & AIDS meningkat dari tahun ke tahun. Apa pun itu gunakan sumber dan rekomendasi yang tepat sehingga pesan nanti dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan.

3. Who (Siapa saja target/sasaran pesan anda)
Mengapa sasaran pesan begitu penting? Karena disini letak kepandaian anda mengkomunikasikannya agar tepat sasaran. Anda tak mungkin menggunakan bahasa baku ketika berbicara dengan anak muda. Anda bisa menggunakan bahasa lokal bilamana dipandang perlu agar pesan ini bisa diterima secara baik dengan masyarakat setempat. Intinya mengenali sasaran target penerima pesan bertujuan untuk membantu anda merumuskan pesan agar mudah diterima melalui bahasa dan keterbacaan pesan (istilah yang mudah mengerti, jargon atau bahasa slang). Karakteristik sasaran pesan juga membantu anda mengenali pesan apa yang tepat dan cocok untuk disampaikan. Karakteristik pesan bisa menyangkut budaya, bahasa, pekerjaan, pendidikan, usia, dsb.

4. Where (Dimana anda akan menempatkan pesan tersebut)
Apakah pesan anda akan ditempatkan secara terbuka layaknya poster atau banner? Atau pesan anda akan disampaikan sebagai public service announcement di radio dan televise, misalnya. Yang pasti, anda tentu harus membedakan pesan yang akan disampaikan agar tepat sasaran. Anda tidak mungkin menggunakan banyak kalimat untuk poster atau banner. Apakah cukup 5-10 detik mampu mengkomunikasikan pesan lewat gambar di poster atau banner, misalnya? Atau bagaimana mengkomunikasikan pesan dalam waktu 3 menit untuk PSA di radio misalnya. Kalimat-kalimat apa saja yang tepat.

5. When (Kapan waktu yang tepat untuk menyampaikan pesan)
Waktu untuk menentukan kapan saat terbaik untuk menyampaikan pesan ini agar mendapatkan political impact, misalnya. Waktu bisa menjadi hal penting bila ada informasi yang ingin diperjuangkan agar mempengaruhi opini publik. Misalnya, di publik berdasarkan media monitoring berkembang rumor yang tidak benar tentang program A atau isu A. Pesan atau informasi perlu segera (urgent dan importance) untuk meluruskan informasi yang salah.

6. How (Bagaimana anda menyampaikan pesan)
Hal ini bisa menyangkut format untuk menentukan cara yang tepat agar mendapatkan dampak yang besar bagi penerima pesan. Apakah cukup format printed materials seperti brosur dan leaflet sementara tingkat literasi di masyarakat tersebut rendah? Apakah media seperti film singkat mampu mewakili pesan yang ingin disampaikan?

Semuanya mudah bila terlebih dulu kita melakukan identifikasi masalah dan analisa situasi sehingga pesan yang akan disampaikan tepat sasaran.
Setelahnya lakukan monitoring dan feedback untuk mengetahui sejauhmana pesan yang sudah beredar atau dilakukan dapat diterima (tepat sasaran). Monitoring dan evaluasi diperlukan untuk mengetahui dampak dari pelaksanaan program komunikasi tersebut.

Advertisements

Mendengarkan dengan Penuh Perhatian

Pernahkah anda menjadi tumpuan curhat seseorang? Apakah anda termasuk orang yang suka mendengarkan atau sekedar mendengar?

Dalam kehidupan sehari-hari kerap saya harus mendengarkan dengan penuh perhatian orang yang saya kenal ketika mereka bercerita pengalaman dan perasaan yang sedang dihadapinya. Ada yang mengatakan mendengarkan yang baik adalah mereka yang mampu menjadi pendengar aktif, tetapi disini saya hanya berbicara bagaimana kita belajar mendengarkan dengan penuh atensi. Mereka yang mampu mendengarkan dengan penuh atensi dipastikan akan sering dimintai bantuan untuk menjadi teman sharing atau bertukar pendapat mengenai permasalahan yang dihadapi seseorang. Meski bukan berlatarbelakang Konselor, tetapi naluri kemanusiaan kita pun diuji untuk belajar mendengarkan dengan penuh perhatian.

Sebenarnya ketika seseorang sedang mulai bercerita, hal terpenting yang mereka perlukan hanya didengarkan, tidak lebih. Jika mereka bertanya tentang solusi masalah, itu adalah bentuk umpan balik mereka apakah kita cukup paham masalah yang sedang mereka hadapi. Sesungguhnya pun, solusi terhadap masalah mereka bukan di tangan kita. Mereka sendirilah yang seharusnya menemukan solusi terhadap persoalan mereka sendiri. Jadi belajar siapkan “telinga” yang lebar ketika kita mendengarkan dengan penuh perhatian.

Berikut langkah-langkah untuk mendengarkan dengan penuh perhatian:

1. Empati
Pertama-tama empati diperlukan agar kita benar-benar memahami persoalan yang sedang mereka hadapi. Empati adalah bagaimana kita menempatkan diri seolah-olah kita mengalami dan merasakan seperti yang dialaminya. Dengan demikian, kita menjadi mudah memahami situasi persoalan yang dihadapi, kesedihan, kesulitan, keputusasaan, penderitaan, dsb. Respon yang bisa diberikan seperti, “Saya bisa memahami apa yang kamu alami.”; “Oh, jika saya seperti kamu pasti keadaannya juga sulit ya.” Gunakan bahasa tubuh yang menyentuh seperti sentuhan, pelukan dan sapaan sehingga kita seolah-olah turut merasakan apa yang sedang mereka alami.

2. Tidak menggurui
“Seharusnya kamu jangan bersikap begitu, kamu harus lebih tegas. Lebih berani terhadap dia.” Demikian adalah contoh respon dari menggurui yang mungkin muncul terhadap sikap kita. Bila kita ingin mendengarkan dengan penuh perhatian, menggurui bukan dari bagian respon yang diharapkan mereka. Toh kita pun tidak ingin orang lain mendikte perilaku kita ketika pengalaman buruk sudah terjadi. Nasi sudah jadi bubur. Setiap orang berusaha untuk menjadi dirinya sendiri, meksi mereka dalam keadaan sulit sekali pun. Kita dapat menekankan bahwa pengalaman adalah guru terbaik dalam kehidupan, yang berlalu biarlah berlalu. Respon yang bisa kita berikan kepada mereka seperti mengulang pernyataan mereka sehingga mereka dapat menemukan kembali solusi untuk diri mereka sendiri. Misalnya, “Kamu bilang bahwa dia tidak suka kamu membeli makanan di restoran? Lalu menurut kamu sebaiknya bagaimana?”; “Jadi orangtua kamu tidak setuju jika kamu mengambil jurusan kuliah itu. Apa yang seharusnya kamu lakukan untuk meyakinkan mereka?”

3. Tidak memberikan penilaian atau menghakimi secara mendasar
Saat mendengarkan dengan penuh atensi, emosi kita pun diuji agar kita tetap tenang dan stabil menghadapi situasi yang sedang mereka hadapi, tidak ikut terpancing. Terkadang kita lebih mudah ikut serta terbawa emosi naluriah karena ingin segera memberi solusi atau penilaian terhadap apa yang baru saja didengar. Ingatlah bahwa kita baru saja mendengarkan secara sepihak dan kita pun tidak berhak untuk menghakimi persoalan yang baru saja didengar. Bersikaplah netral dan tidak terlibat dengan situasi yang sedang bergejolak.

4. Mendorong untuk berbicara lebih lanjut
Buatlah mereka senyaman mungkin untuk bercerita dan berbicara lebih terbuka, ketimbang anda lebih banyak berbicara. Yakinkan mereka dengan bahasa tubuh dan respon yang hangat seolah-olah anda adalah orang yang dapat dipercaya untuk mendengarkan cerita mereka. Jangan biarkan anda terpancing untuk menceritakan pengalaman serupa! Buatlah anggukan kepala, sentuhan dan respon umpan balik yang menandakan anda mengerti permasalahan merereka.

Bagaimana? Tertarik untuk mempraktekkannya? Selamat mendengarkan dengan penuh perhatian!

Komunikasi yang Efektif

Apakah pernah mengalami pesan yang kita sampaikan tidak diterima dengan baik oleh si penerima pesan? Pesan menjadi tidak jelas maksudnya. Atau, si penerima pesan tidak dapat memahami maksud dari pesan yang disampaikan. Begitulah yang terjadi jika komunikasi tidak efektif. Hal ini bisa terjadi saat anda menjadi narasumber atau fasilitator yang mewajibkan anda menjadi orang yang fokal untuk berdiri di hadapan audience.

Berdasarkan pengalaman, berikut hal-hal apa saja yang perlu dilakukan agar komunikasi yang kita lakukan menjadi efektif, yakni:

1. Kenali sasaran penerima pesan
Siapakah yang akan menerima informasi dari anda? Kenali dari berbagai karakter seperti usia, budaya, tempat tinggal, dsb sehingga informasi yang akan sampaikan tepat sasaran. Tentu komunikasi menjadi tidak efektif ketika anda berbicara bahasa Indonesia kepada warga negara asing yang tak mengerti bahasa Indonesia, misalnya. Atau, anda perlu berbicara lantang dan mimik muka yang jelas kepada seorang nenek yang sudah mengalami penurunan pendengaran. Ketika berhadapan dengan pejabat dan orang yang bekerja di pemerintahan, tentu anda harus berbeda cara penyampaiannya dengan mereka yang bekerja di dunia hiburan, seperti artis dan seniman, dsb. Artinya, memahami siapa target/sasaran penerima pesan akan membantu kita agar komunikasi nantinya dapat berjalan efektif.

Dalam pertemuan sesi dengan orangtua, tentu anda perlu menyapa misalnya dengan “Bapak/Ibu” lalu dengan santun berbicara soal pengalaman mengasuh anak atau peran orangtua dalam keluarga. Berbicara dengan orang muda atau anak remaja, anda bisa menggunakan bahasa slank atau yang memang sedang menjadi istilah tersendiri untuk mereka. Bangun pendekatan yang baik dengan mengenali siapa sasaran penerima pesan anda.

2. Milikilah informasi yang benar, tepat dan lengkap
Kuasailah informasi yang akan anda sampaikan dengan baik. Dengan demikian anda terlihat layak dan dapat dipercaya untuk menyampaikan informasi tersebut. Anda bisa mengacu pada data atau sumber informasi yang dipercaya. Anda juga bisa mengacu pada pengalaman pribadi sehingga anda benar-benar mengalami peristiwa tersebut. Intinya, informasi yang lengkap dan benar akan memungkinkan anda untuk menyampaikan secara keseluruhan. Anda tentu tidak sedang bergosip atau menyampaikan sesuatu tanpa anda sendiri yakin dengan apa yang akan disampaikan. “Tahukah anda berapa jumlah orang yang meninggal karena kasus kematian penyalahgunaan Narkoba? Dari data yang saya dapatkan oleh lembaga…” Anda bisa mengacu dari berbagai sumber data lembaga yang dipercaya. Kuasai materi informasi yang akan bawakan agar anda tampil optimal dan layak untuk berbicara kepada target penerima pesan.

3. Lakukan gaya bahasa yang sesuai dengan informasi yang akan disampaikan
Gaya bahasa ini diperlukan meski anda bukan orang yang ekspresif. Gaya bahasa dilakukan dan disesuaikan dengan informasi yang akan sampaikan. Apabila anda ingin mengatakan hal yang bombastis semisal, “ledakan penduduk yang meninggal karena kasus HIV & AIDS” anda bisa mengatakan dengan gerakan tangan dan intonasi yang tinggi. Anda bisa terlihat sedih ketika ada sesuatu informasi yang menyentuh audience. Jangan biarkan panggung menguasai anda. Agar tidak terlihat gugup, anda harus bisa melihat ke sekeliling audience, perhatikan satu demi satu berkeliling. Anda juga tidak harus diam di tempat, pada “titik nyaman” anda, pergilah ke ruang tengah audience dan sapa beberapa peserta yang hadir di situ. Gaya bahasa juga menentukan bahwa anda tidak terlihat kaku dan datar dalam membawakan materi sehingga membantu audience memahami maksud yang ingin anda sampaikan.

4. Gunakan penekanan-penekanan pada informasi yang dianggap penting
Jika di atas berbicara dengan gaya bahasa, kini biarlah anda juga bisa menekankan pada bagian-bagian yang dianggap penting. “Kira-kira menurut anda semua, mengapa perlu pendidikan kesehatan reproduksi?”. Penekanan dimaksudkan audience memahami bahwa itu menjadi kata kunci dan terpenting dalam informasi yang anda sampaikan.

5. Gunakan media yang tepat
Jadilah orang yang menarik perhatian audience, tidak hanya terampil berbicara dengan penguasaan materi tetapi juga terampil dalam menggunakan media yang ada. Ada banyak media yang dapat dilakukan tergantung konteks pembicaraan dan tujuan pesan. Anda juga bisa menggunakan media elektronik dengan audio slide show yang menarik atau film singkat untuk mengawali informasi anda. Anda juga bisa menggunakan berbagai media pembelajaran yang berbiaya rendah namun mampu mewakili pesan yang akan disampaikan, seperti kertas koran, gelas mineral, tali, atau barang-barang yang sudah terpakai. Kreativitas media akan mempengaruhi pesan yang akan berikan agar menjadi menarik (tidak monoton) dan memudahkan audience untuk menangkap maksudnya.

6. Mintalah respon atau umpan balik
Raihlah respon atau umpan balik mereka dengan bertanya tentang informasi yang sudah anda berikan. Apakah mereka menangkap maksudnya? Anda bisa langsung bertanya kepada mereka, kejelasan maksud informasi yang anda sampaikan. Anda juga bisa menguji beberapa dari mereka dengan pertanyaan-pertanyaan pancingan seputar informasi yang anda sampaikan. Hal ini membantu anda sebagai evaluasi diri anda sebagai pembawa informasi dan juga menentukan apakah komunikasi yang sudah anda lakukan berjalan efektif atau tidak.

Ajaklah penerima pesan anda untuk terlibat dalam komunikasi, sehingga terjadi komunikasi dua arah yang optimal dan kondusif. Anda bisa melibatkan mereka dalam informasi ataupun hanya sekedar bertanya respon kejelasan materi yang anda sampaikan.
Selamat mencoba!!!

Sekelumit Profesi Public Relations (PR)

 

wp-image-1170919817
Ilustrasi. Menjadi seorang PR anda harus memiliki segudang keterampilan karena anda bertugas di garda depan dari suatu produk atau perusahaan. 

 

Ada yang tertarik menekuni dunia PR? Atau anda sedang menjadi PR di suatu perusahaan/organisasi?

Public relations (PR) menjadi istilah baru yang dulu sering dinamakan “Staf Humas”. Profesi ini telah ada sejak dulu hanya saja kini profesi ini menjadi kompleks dan khas seiring dengan era komunikasi informasi yang berkembang pesat. Artinya, PR menjadi profesi yang berkaitan dengan relasi publik yang menjamin citra yang positif dan kuat dari organisasi/perusahaan bahkan kini PR pun dituntut mampu mempengaruhi opini dan sikap publik yang positif dan berkelanjutan.

Tentu ini tak mudah. Jika dulu, siapa pun dianggap bisa berperan sebagai “Staf Humas” karena bisa “ngomong”, kini mereka yang berprofesi tersebut harus punya pengetahuan dan ketrampilan yang layak sehingga terbangun komunikasi yang baik dan saling mempercayai antara organisasi/perusahaan dengan masyarakat serta stakeholder terkait.

Konon munculnya dunia industri dan geliat pemerintahan baru usai perang dunia menjadikan PR dipandang sebagai profesi yang menentukan dan menjembatani antara kebutuhan perusahaan/organisasi dengan keinginan masyarakat/publik. Di era sekarang pun, ada yang masih menempatkan “Staf Humas” sebagai posisi “sambil lalu” dan tak berkualitas dengan layanan data dan informasi yang seadanya, namun ada pula yang menjadikan PR sebagai garda depan yang terampil dan handal untuk citra identitas perusahaan/organisasi (brand identity).

Berdasarkan pengalaman, berikut beberapa hal yang harus dimiliki untuk menjadi PR:

1. Kemampuan analisa dan menilai situasi
Untuk mengenali keinginan publik, pertama-tama perlu dilakukan pengamatan dan analisa tentang situasi yang terjadi. Bisa jadi sebagai PR dihadapkan pada suatu krisis yang harus dikelola dan diperlukan riset kilat dan informal sehingga paham strategi yang dilakukannya. Atau mungkin PR harus mengatasi konflik yang menimbulkan gap antara kebutuhan perusahaan/organisasi dengan masyarakat. Apa pun itu, seorang PR diharapkan mampu mengatasi masalah yang terjadi melalui publicity dan memberi saran kepada manajemen agar terbangun hubungan yang baik dan terpuaskan.

Untuk ketrampilan ini, seorang PR bisa memiliki ketrampilan riset sosial sederhana yang informal untuk mengenali kebutuhan. Atau, lakukan media monitoring untuk mengetahui tone yang terjadi di masyarakat. Menggali testimoni dari berbagai pihak dengan terjun langsung ke lapangan, dan sebagainya.

2. Keterampilan berkomunikasi.
Sebagai komunikator yang berhubungan langsung dengan publik, tentu PR harus punya ketrampilan komunikasi yang baik. PR harus terampil menjelaskan dengan baik kepada khalayak, mampu menarik atensi dan memahami dengan baik organisasi/perusahaan. PR akan berhadapan juga dengan media atau khalayak ramai, dipastikan harus punya kepercayaan diri untuk tampil.

Bukan hanya sekedar bicara dan terkesan ngawur, tetapi juga PR mampu mendengarkan aspirasi khalayak, menjawab pertanyaan dengan profesional dan juga Back up terhadap manajemen. Ada banyak contoh dimana PR harus berhadapan dengan pendemo atau masyarakat yang komplen dan marah-marah. Seorang PR harus tetap bersikap santun dan mampu menjaga hubungan yang harmonis. Meski ini tak mudah, tetapi sebagai seorang PR perlu menggunakan sisi humanis untuk bisa menyelesaikan kasus/masalah dengan baik.

3. Keterampilan mengorganisasikan (event/exhibition organizer)
Banyak pula cerita keberhasilan, good stories, best practices dan pengalaman kesuksesan yang ingin dibagikan kepada publik. Lewat pameran atau lokakarya, PR diharapkan mampu memiliki perencanaan, eksekusi dan menata terselenggaranya aktivitas tersebut sehingga mendapat sambutan yang positif di media, pemerintah, stakeholders dan masyarakat luas. Ini tidak hanya prestasi yang luar biasa dari profesi PR tetapi juga kebanggaan bagi perusahaan/organisasi untuk mempertahankan citra baik dan membangun relasi komunikasi yang kondusif.

Tentu PR bukan menjadi provokator yang tanpa esensi dalam pembentukan citra perusahaan/organisasi, tetapi juga PR memiliki tanggungjawab moral yang menjawab kebutuhan khalayak sesuai tujuan perusahaan/organisasi. PR harus aktif dalam menyediakan layanan informasi/data, membina relasi eksternal dengan baik dan penghubung (liason) bagi perusahaan/organisasi dengan masyarakat.

4. Keterampilan menulis.
Menulis adalah seni mengekspresikan gagasan dan pengalaman terbaik untuk disampaikan kepada khalayak lewat berbagai media, seperti media sosial, siaran pers, public service announcement atau advertorial yang semuanya itu menjadi elemen terpenting yang dimiliki PR. Santun dalam menulis dengan tata bahasa yang baik yang didukung dengan data yang menguatkan sehingga mempermudah publik mempercayainya.

Rajinlah menulis sehingga akan memperkaya ketrampilan menulis seorang PR. Menulis juga diperlukan dalam menyusun laporan (executive summarry) yang padat dan jelas. Menulis juga menjadi jurnal rutin yang menjadi dokumen keberhasilan perusahaan/organisasi. Jurnal menjadi alat ukur perkembangan dan kemajuan suatu perusahaan/organisasi. Bahkan jurnal pun bisa dimanfaatkan untuk fact sheet yang bisa dilampirkan dalam info kit/siaran pers jika memang diperlukan.

Munculnya perkembangan dunia informasi dan komunikasi maya, maka keterampilan menulis juga menjadi bagian yang memperkaya kualitas dari perusahaan/organisasi. Ini tentu menjadi promosi identitas yang tanpa batas dan luas cakupannya.

5. Kepribadian yang luwes, terbuka dan mampu membangun relasi dengan banyak orang.
PR adalah orang yang memiliki pribadi yang luwes dan mampu membangun relasi yang baik dengan banyak orang. PR juga memiliki inisiatif dalam membangun komunikasi dan relasi. PR akan berkontak dengan banyak pihak secara luas dan bekerja sama secara heterogen sehingga dipastikan merupakan pribadi yang ramah, santun dan berjiwa besar dalam menerima kritikan.

6. Kreatif, imajinatif dan unik.
Dalam mengkreasikan media sebagai bagian dari produk komunikasi, PR dituntut untuk kreatif sehingga menarik atensi khalayak. PR memiliki daya imajinasi yang luas sehingga berhasil mewakili pesan yang dimaksud. Jangkauan dan target audience diperhitungkan oleh PR sebagai bagian pemilihan media yang tepat. Jadilah PR yang unik, yang menonjolkan sisi-sisi humanis yang berbeda (compelling) sehingga menyentuh dan tepat sasaran. Apalagi jika PR dituntut tidak hanya sekedar membeberkan fakta dan data tetapi juga mempengaruhi opini publik, PR memiliki peluang yang strategis dan berani tampil beda.

Kesimpulan

Meski kemunculan PR berawal dari negara maju di Eropa dan Amerika, namun kini bidang ini diminati di negara berkembang seperti Indonesia. Kini semakin banyak lembaga/perusahaan yang menganggap eksistensi citra perusahaan/organisasi ditentukan oleh profesionalitas PR. Karena opini publik menentukan citra dan kepercayaan bagi kemajuan perusahaan/organisasi. Hambatan melaksanakan fungsi dan peran PR juga kerap terjadi, disini peran PR mampu “membaca” kebutuhan agar tepat sasaran.

10 Tips Persiapkan Siaran Pers

Dalam mempublikasikan informasi kepada khalayak melalui bantuan media massa, salah satunya digunakan siaran pers sebagai elemen terpenting. Organisasi atau perusahaan memerlukan rilis siaran pers dalam penyelenggaraan event/peristiwa hingga promosi produk/jasa detil yang profesional yang mengundang atensi juru warta untuk dimuat.

Berdasarkan pengalaman, berikut beberapa tips mempersiapkan siaran pers:

1. Pahami dulu tujuan penyampaian siaran pers sehingga anda tahu bagian mana yang perlu jadi highlight untuk paragraf pembuka dan judul yang menarik. Mengingat rutinitas dan frekuensi berita yang tinggi maka diperlukan kekuatan inti cerita yang padat untuk dimuat.

2. Gunakan selalu sudut pandang sebagai wartawan dalam penulisan di dalamnya.

3. Asahlah kemampuan penulisan siaran pers dengan rajin membaca koran-koran ternama.

4. Cantumkan logo dan identitas perusahaan/organisasi sebagai kepala surat.

5. Cantumkan tanggal pembuatan dan nomor siaran pers.

6. Buatlah siaran pers dengan kalimat efektif (tidak ada pengulangan kalimat), informatif dan aktraktif dengan memuat informasi yang dimaksud berdasarkan data/fakta. Bila perlu cantumkan sumber/link yang berkaitan untuk mengetahui lebih lanjut.

7. Untuk menguatkan opini, dapat dimuat pernyataan dari seseorang. Gunakan tanda baca kutipan dan nama jelas yang menyatakan tersebut. Opini haruslah berasal dari orang yang berkaitan dengan isu pemberitaan. Sekali lagi buat dengan sudut pandang wartawan.

8. Cantumkan juga siapa orang yang bisa dikontak bila ingin informasi lebih lanjut tentang perusahaan/organisasi tersebut, termasuk hal-hal yang menyangkut dengan pemberitaan dalam siaran pers. Hal ini bisa dicantum di bagian penutup siaran pers (Nama jelas, nomor kontak dan email).

9. Tulislah dengan tata bahasa baku dan sesuai. Hindari kesalahan penulisan kalimat. Sebaiknya periksa dan baca sekali lagi sebelum dibagikan. Bisa juga anda meminta orang lain meninjau siaran pers tersebut agar tidak ada kesalahan penulisan (typo error).

10. Susunlah siaran pers sedapat mungkin dalam 1 halaman. Anda dapat membuatnya lebih tetapi tidak melebihi 2 halaman. Jika ingin membuat 2 halaman sebaiknya dibuat halaman bolak-balik (tidak menjadi dua lembar).

7 Karakteristik “Good Communication” untuk Pesan Persuasif

Salah satu pengalaman saya dalam merancang strategi media komunikasi adalah bagaimana pesan yang tertuang di dalamnya mampu memberikan pengaruh positif bagi penerima manfaat program dan pemangku kepentingan terkait. Disini latar belakang psikologi yang saya miliki diperlukan sebagai pendekatan persuasif, yakni mampu mempengaruhi sikap, pendapat dan perilaku orang lain sesuai maksud dan tujuan pesan.

Agar pesan persuasi efektif, pertama-tama perlu diperhitungkan strategi pesan sesuai dengan karakteristik “Good Communication”. Strategi pesan yang dimaksud adalah kita mampu merancang media yang disesuaikan dengan analisa kebutuhan, tujuan dan karakeristik penerima pesan.

Berikut adalah 7 Karakteristik “Good Communication” menurut Murphy & Hildebrant (1991)

1. Completeness (context)
Menyampaikan informasi yang akurat dan lengkap kepada penerima pesan, jika perlu memberikan informasi ekstra yang dibutuhkan sehingga menimbulkan kepercayaan.

2. Conciseness (style)
Menyampaikan segala bentuk komunikasi yang jelas, singkat dan pernyataan yang relevan. Hindari pengulangan kalimat, buatlah informasi padat berisi.

3. Consideration (context/delivery)
Pusatkan pada manfaat penerima pesan, rumuskan secara positif dengan mempertimbangkan etika dan situasi penerimanya.

4. Concreteness (style/sources)
Tampilkan pesan dengan kata-kata yang spesifik, akurat dan gunakan kata/kalimat anjuran/ajakan yang membangun.

5. Clarity (organization/ sources)
Susunlah pesan dan simbol yang dapat dipahami, dikenal dengan kalimat yang efektif.

6. Courtesy (delivery)
Pesan diperhitungkan dengan memenuhi tata krama dan kesantunan untuk menghargai penerima pesan.

7. Correctness
Pesan disampaikan dengan aturan tata bahasa yang baik dan tepat yakni penulisan yang sesuai dan berkualitas.

Setelah itu, kita dapat mengawali pesan persuasif dengan beberapa cara berikut:

1. Berawal dari data/fakta.
Disini anda bisa mengambil dari berbagai data statistik atau data temuan dari lembaga terpercaya sehingga orang paham mengapa kita perlu peduli dengan pesan yang akan disampaikan.

2. Menghubungkan dengan kejadian terkini/kasus yang baru muncul
Misalnya, kita bisa paparkan kasus-kasus kekerasan yang baru-baru ini terjadi. Lalu kita bisa kaitkan agar kejadian kekerasan tidak terjadi pada anak atau orang yang kita kasihi maka perlu dilakukan bla bla bla.

3. Menulis urgency dan importance (kemendesakan) perlu disampaikan pesan
Misalnya, fakta bahwa kasus HIV & AIDS hanya seperti fenomena “gunung es”, padahal dari tahun ke tahun, kasusnya mengalami peningkatan.

4. Mengutip kalimat tokoh ternama
Misalnya, anda bisa mengutip pidato seorang tokoh berpengaruh di wilayah itu untuk mengajak masyarakatnya sadar akan kesehatan ibu dan anak sehingga perlu memeriksakan kehamilan. Anda bisa mencantumkan seijin tokoh bersangkutan. Berdasarkan himbauan bapak bla bla bla.

5. Mengisahkan tokoh faktual
Anda bisa sampaikan beberapa kalimat dari otobiografi tertentu yang menginspirasi penerima pesan.

6. Menghubungkan dengan peristiwa tertentu

7. Menyusun kalimat provokatif
Misalnya, tahukah anda berapa jumlah kasus bla bla bla tahun ini? Tahukah anda berapa jumlah anak remaja yang meninggal karena bla bla bla? Tahukah anda bahwa setiap 5 detik terdapat bla bla bla.

Membuka pesan persuasif merupakan bagian yang menentukan agar orang tertarik pada pesan yang akan kita sampaikan. Oleh karena itu diperlukan pembukaan yang menarik seperti contoh-contoh di atas berdasarkan pengalaman. Teknik penulisan persuasif dan visualisasi yang tepat diharapkan akan mampu mengajak orang untuk berubah dan terinspirasi melakukannya.

5 Langkah Lakukan Wawancara: Sebelum, Selama dan Setelah Wawancara

Ilustrasi.

Wawancara adalah bagian yang tak terpisahkan saat saya bertugas bila ingin menulis laporan/berita atau saat saya sedang bertugas sebagai Peneliti Sosial. Wawancara bisa dilakukan sebagai primer data artinya wawancara akan langsung digunakan sebagai sumber utama dari penulisan atau pengumpulan data sehingga pertanyaan dari wawancara ini pastinya akan lebih dalam (depth interview), dengan pertanyaan lebih detil dan durasi waktu yang lama. Sedangkan jika wawancara dilakukan sebagai sekunder data maka tujuan wawancara sebagai pelengkap dari data yang sudah ada. Biasanya wawancara ini akan berlangsung tak lama, dengan pertanyaan-pertanyaan untuk memastikan/mericek data primer.

Apa pun tujuan wawancara yang anda maksudkan. Berikut langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan berdasarkan pengalaman:

* Sebelum Wawancara

1. Kuasai dulu tujuan dan hasil yang diharapkan dari wawancara tersebut.
Apa tujuan wawancara anda? Mengapa perlu dilakukan wawancara? Apa hasil yang diharapkan dari wawancara? Ini semua diperlukan agar anda tidak salah dalam mengambil data, sehingga terbuang percuma. Pahami maksud semula dari tujuan agar wawancara anda bisa terstruktur dan sistematis sehingga membantu anda, terutama bila anda adalah pemula.

2. Susun pertanyaan dan kuasai pertanyaan wawancara.
Kembali lagi soal tujuan wawancara, silahkan anda tentukan pertanyaan- pertanyaan secara terstruktur dan sistematis. Buatlah pertanyaan terbuka yang membantu anda menggali jawaban lebih dalam lagi. Dengan pertanyaan terbuka, bisa jadi anda sudah menemukan kunci-kunci dari permasalahan atau jawaban atas pertanyaan lain yang tidak perlu anda tanyakan lagi. Contoh pertanyaan terbuka, “Apa pendapat bapak/ibu tentang kebijakan Pemerintah menaikkan harga BBM?” dibandingkan anda bertanya, “Apakah bapak/ibu setuju Pemerintah menaikkan harga BBM?” Jika kita sudah menguasai pertanyaan, untuk wawancara selanjutnya anda seperti sudah mengalir begitu saja dan hafal dengan pertanyaan.

3. Tentukan pelaksanaan wawancara (waktu dan tepat) yang disepakati antara Interviewer dengan Interviewee.
Buatlah kesepakatan bersama dengan orang yang akan diwawancarai tersebut mengenai waktu dan tempat wawancara. Jika anda akan mewawancarai Public Figure atau Pejabat Penting, sebaiknya anda bisa tentukan waktu jauh-jauh hari sehingga mereka dapat mengatur jadwal dengan lowong. Perkenalkan diri anda, maksud dan durasi wawancara. Tanyakan pula prosedur melakukan wawancara dengan beliau, apakah perlu birokrasi surat menyurat atau cukup secara personal?

4. Siapkan keperluan teknis wawancara.
Hal ini bisa menyangkut peralatan yang akan anda gunakan agar jangan sampai saat pelaksanaan berlangsung, peralatan anda tak bisa digunakan hingga keperluan surat menyurat untuk meminta kesediaan wawancara bagi Interviewee. Biasanya surat menyurat terjadi bila wawancara dilakukan kepada pejabat tinggi sesuai aturan dinas yang berlaku.

5. Lengkapi diri anda dengan identitas dan surat tugas.
Sebelum pelaksanaan wawancara, siapkan surat tugas yang akan anda bawa dan tunjukkan saat diperlukan dalam melaksanakan wawancara. Isi surat tugas meliputi: profil lembaga yang memperkerjakan interviewer, profil anda sebagai interviewer, maksud/tujuan wawancara dan ucapan terimakasih atas kesediaan waktu wawancara.

* Selama Wawancara
1. Datanglah tepat waktu sesuai waktu yang disetujui!

2. Perkenalkan diri dan tunjukkan surat tugas anda. Bukalah dengan pertanyaan informal sehingga tidak terkesan kaku dan gugup.

3. Mintalah kesediaan interviewee untuk menggunakan alat perekam dan dokumentasi foto bilamana diperlukan.

4. Siapkan peralatan penunjang seperti voice recorder, buku catatan, bolpen dan panduan pertanyaan. Pengalaman saya, saya gunakan laptop yang tersedia voice recorder sambil sesekali melihat pertanyaan panduan di monitor dan mengetik catatan yang diperlukan. Semua gaya dan teknis Pewawancara dapat dilakukan oleh anda sendiri agar terampil menguasai wawancara.

5. Ajukan pertanyaan terbuka yang ringkas dan jelas sehingga membiarkan interviewee lebih banyak berbicara. Anda juga bisa mengklarifikasi jawaban bila dirasa tak jelas.

* Setelah Wawancara
1. Anda menyampaikan benang merah dari catatan yang anda buat selama wawancara dan meminta interviewee mengkoreksi jika salah.

2. Anda bisa juga menyatakan bahwa hasil wawancara ini masih akan diproses dan meminta kesediaan interviewee bilamana diperlukan respon lebih dalam atau klarifikasi untuk ditelpon/ditanya kembali. Ini tidak harus dilakukan bilamana anda percaya diri dengan hasil wawancara.

3. Akhiri wawancara dengan apresiasi atas waktu dan kesediaan interviewee menjadi narasumber.

4. Dokumentasikan interviewee bilamana diperlukan dengan kamera.

5. Bilamana ada reward atau kelengkapan administrasi yang perlu dilakukan dapat diberikan di tahap paling akhir wawancara.

Semoga sukes wawancaranya!

Mengapa Terjadi “Miscommunication” Orangtua vs Anak?

Dalam link (http://www.macmillandictionary.com/thesaurus/british/miscommunication) dinyatakan bahwa “miscommunication” adalah “a failure to communicate clearly and effectively”.

Di suatu training komunikasi kepada dua puluhan orangtua, bapak dan ibu, yang saya lakukan, ternyata miscommunication menjadi pengalaman biasa yang terjadi antara anak dengan orangtua. Tak ada ilmu atau teknik ilmiah yang mengajari bagaimana menjadi orangtua yang baik. Tak ada juga yang bilang bahwa menjadi orangtua itu faktor bakat. Menjadi orangtua adalah pilihan ketika seseorang memutuskan untuk membangun relasi dengan orang yang dicintainya. Memilih jadi orangtua itu tidak mudah, salah satunya kerap terjadi “miscommunication”. Begitu hasil sharring antar orangtua saat itu.

Setiap peserta training diberikan satu lembar kertas yang bentuk dan warnanya sama dengan saya. Saya kemudian berikan instruksi, “Saya akan membuat sesuatu dengan kertas yang sama seperti yang dipegang Bapak Ibu semua. Dalam sesi kita kali ini, saya ingin Bapak Ibu mengikuti apa yang saya katakan. Tidak boleh ada pertanyaan. Tidak boleh ada komentar satu sama lain. Hanya kerjakan apa yang saya minta. Sambil mata Bapak Ibu ditutup semua. Ada pertanyaan?”

Entah mengapa mereka semua paham dengan instruksi saya sambil mata mereka ditutup semua.

Lalu saya pun membuat instruksi dengan kertas seperti, “Lipatlah kertas menjadi sama panjangnya. Bagi kertas yang sudah dilipat menjadi tiga bagian. Sobeklah ujung kertas dengan tangan sebelah kanan.” Dan seterusnya instruksi saya berikan kepada Peserta training.

Terakhir instruksi, saya meminta mereka membuka mata dan kertas yang menjadi karya mereka.

Hasilnya, dari sekian peserta tidak ada yang sama persis dengan yang saya sampaikan. Ada beberapa yang identik sama dengan karya kertas saya, cuma berbeda sedikit. Sebagian besar tidak ada peserta yang memiliki hasil sama dengan saya.

Instruksi yang saya berikan sama. Saya menjalankan kertas yang sama pula. Tetapi mengapa berbeda? Apakah terjadi miscommunication? Mengapa terjadi kesalahpahaman dalam komunikasi yang jelas terucap oleh saya tanpa ada gangguan bising di sekitarnya?

Hal ini mungkin saja terjadi antara orangtua dengan anak. Orangtua berkomunikasi ingin “A”, sementara anak menjalankan hasilnya “B”.

Kesalahpahaman mungkin terjadi antara anak dengan orangtua karena:

1. Komunikasi hanya satu arah
Komunikasi apa yang terjadi dalam thematic games di atas dimana saya menjadi Instruktur membuat karya kertas? Komunikasi satu arah, yakni saya hanya berbicara saja. Saya tidak memberikan orang lain kesempatan bicara, bertanya, komentar atau menanggapi. Akhirnya timbullah kesalahpahaman apabila orangtua hanya menjalankan komunikasi satu arah kepada anaknya. Komunikasi satu arah bisa melalui pesan tertulis (aturan) tanpa melibatkan partisipasi anak. Pesan lisan dimana orangtua hanya mau bicara. Tentu ini menjadi tidak efektif, gagal komunikasi.

Tips: Bangunlah komunikasi dua arah orangtua dengan anak.

2. Persepsi anak yang berbeda dengan orangtua
Dalam instruksi misalnya saya minta peserta “Robeklah ujung kiri kertas dengan tangan kanan. Lalu lipat menjadi dua bagian. Lubangi bagian tengah kertas yang terbagi dua tadi.” Hasil komunikasi bisa dipersepsikan berbeda -beda satu sama lain. Begitu pun saat orangtua berbicara kepada anak. Tanpa kesempatan klarifikasi, apakah anak cukup jelas? Orangtua langsung berpikir persepsinya sama dengan anak. Padahal banyak faktor mempengaruhi persepsi komunikasi seperti pengalaman, dsb.

Tips: Adakan klarifikasi dalam komunikasi antara orangtua dengan anak. Bukankah komunikasi adalah kesepakatan pesan yang diterima baik oleh kedua belah pihak?

3. Terlalu banyak instruksi dan bicara
Di akhir thematic games, saya bertanya pengalaman peserta. Mereka pun berpendapat bahwa saya terlalu banyak instruksi sehingga membingungkan. Jadi kesalahpahaman antara orangtua dengan anak bisa terjadi apabilan orangtua terlalu banyak instruksi yang justru membingungkan anak.

Tips: Jika orangtua ingin banyak bicara, sediakan waktu lowong yang lama untuk diskusi dengan anak. Bisa juga disepakati kedua belah pihak dengan pesan tertulis. Misalnya, orangtua minta anak merapikan kamar, membersihkan kamar 3 x seminggu, menonton tivi 3 jam per hari, dsb. Agar tidak membingungkan, buat pesan tertulis lalu tempel di bagian yang selalu terlihat anak.

4. Tidak ada kesempatan saling mendengarkan satu sama lain
Kesalahpahaman terjadi apabila tidak ada kesempatan saling mendengarkan satu sama lain. Terkadang kita hanya berpikir hasil A, tanpa berpikir bahwa bisa saja hasilnya anak menjadi B. Dengarkan apa yang menjadi problema anak.

Tips: Sesibuk-sibuknya orangtua, selalu sediakan waktu buat mendengarkan anak. Bukankah sekarang komunikasi itu mudah? Satu lagi, orangtua itu juga boleh salah loh. Artinya tak melulu orangtua itu benar.
5. Orangtua merasa paling benar
Ketika selesai thematic games, saya bertanya kepada peserta yang notabene adalah orangtua, hampir semua menyalahkan anak. Orangtua merasa diri paling benar. Dalam permainan tersebut, bagaimana jika saya salah, saya sebagai Instruktur Games mengatakan agar merobek ujung kiri atas kertas padahal kenyataannya saya salah merobek karena mata saya juga sama-sama tertutup. Akhirnya saya jadi menyalahkan mereka karena karyanya tidak sama dengan saya. 

Kesalahan komunikasi bisa saja terjadi. Pernahkah anda berpikir bahwa mendengar dengan mendengarkan itu berbeda? Apakah pernah anda seratus persen mendengarkan apa yang disampaikan anak kita atau kita lebih selektif mendengar yang kita mau saja? Sesuaikan gaya dan pendekatan komunikasi bila kita berbicara dengan anak, dengan penuh atensi dan kasih. Karena mendengarkan dengan penuh perhatian artinya mengkomunikasikan apa yang dirasa dan dilihat oleh anak.

Silahkan baca juga link tulisan saya yang lain tentang hambatan komunikasi (https://liwunfamily.wordpress.com/2014/02/07/7-hambatan-komunikasi/)

Semoga bermanfaat!

6 Langkah Pembuatan Media Komunikasi untuk Perubahan Perilaku Sosial

Sebagai Praktisi komunikasi sosial, kerap saya harus menghadapi tugas untuk membuat strategi komunikasi yang sesuai dan tepat untuk isu tertentu. Media komunikasi yang tepat tentunya akan menunjang keberhasilan suatu program yang pastinya dipengaruhi oleh kecenderungan (trend) yang terjadi di masyarakat saat itu. Semisal sewaktu saya bekerja di bidang isu kesehatan HIV& AIDS delapan tahun silam tentu berbeda kecenderungan kondisi masyarakatnya dengan masa kini. Oleh karena itu, pengembangan-pengembangan media komunikasi amat sangat diperlukan yang disesuaikan dengan kemajuan teknologi dan isu sosial yang sudah mendapat perubahan sehingga membentuk perilaku sosial yang diharapkan. Memang merubah perilaku sosial tidak mudah, memerlukan proses waktu yang tak sebentar. Media komunikasi adalah sarana pendukung dari suatu program.

Media komunikasi yang akan dibuat dalam bentuk BCC (Behaviour Change Communication) material berdasarkan pengalaman yang saya buat biasanya meliputi langkah-langkah sebagai berikut:

1. Issue
Apa issue yang sedang berkembang dalam komunitas tersebut? Setiap wilayah akan berbeda-beda persoalan yang melatarbelakanginya. Misalnya, wilayah A tidak terbiasa cuci tangan karena tidak tersedianya sumber air, air begitu sulit untuk diperoleh. Jangankan untuk cuci tangan, untuk mandi saja hanya bisa dilakukan sehari sekali. Sedangkan di wilayah B, persoalan tersebut lebih disebabkan karena faktor kebiasaan dan minimnya informasi tentang pentingnya hidup sehat. Artinya bahwa kita sudah memahami dulu isu yang sedang berkembang baru kemudian menentukan langkah selanjutnya dan media apa yang tepat untuk disampaikan kepada masyarakat sehingga menjadi solusi yang edukatif dan inspiratif bagi mereka.

2. Needs
Kebutuhan akan media komunikasi dapat dilakukan dengan melakukan riset kecil-kecilan dan memanfaatkan pendekatan ke berbagai level untuk mengetahuinya. Apakah brosur dapat diberikan sementara tingkat baca di komunitas tersebut rendah? Atau media apa yang tepat sebagai sumber informasi bagi mereka?

3. Attention
Pikirkan selanjutnya adalah sesuatu yang menarik atensi masyarakat tentang persoalan yang akan kita sampaikan. Gali sebanyak-banyaknya tentang fakta dan data sehingga mereka paham bahwa perubahan diperlukan bagi mereka. Misalnya, ditemukan bahwa sekian persen orang terinfeksi HIV karena perilaku berisiko, yakni bla bla bla. Gunakan kalimat persuasif yang bisa diterima dalam budaya lokal. Jika memang diperlukan public figure, silahkan tentukan siapa yang dapat menjadi role model untuk isu tersebut. Buatlah media yang aktraktif bagi masyarakat.

4. Interest
Bangun pesan yang akan disampaikan sesuai interest yang ingin kita sampaikan dikaitkan dengan keinginan masyarakat. Masyarakat tentunya ingin hidup sehat,misalnya, jadi gunakan berbagai pesan dan media yang dapat diterima oleh masyarakat.

5. Visualization
Kini berikan penggambaran yang sesuai dan tepat untuk mengkomunikasikan pesan yang ingin kita sampaikan. Apakah poster atau papan reklame cukup efektif untuk menggambarkan informasi yang ingin kita sampaikan? Pikirkan bahwa dalam 5 detik saat melihat poster dan papan reklame, orang bisa paham informasi yang ingin kita sampaikan. Lain lagi misalnya kita menyampaikan melalui media film berdurasi singkat yang dapat diterima di setiap kalangan masyarakat. Apa pun itu, penggambaran pesan/informasi diharapkan mampu membangun kesadaran masyarakat untuk peduli dan berdampak pada perubahan pola pikir dan secara bertahap juga pada perubahan perilaku. Ingat, tidak ada yang instan dalam membangun perubahan perilaku, namun ketika kita sudah mampu membangun kesadaran (bahwa masyarakat merasa perlu berubah) melalui media komunikasi yang kita buat artinya kita telah membuat suatu perkembangan yang lebih positif.

6. Action
Pada akhirnya kita ingin menegaskan kembali kepada khalayak tindakan yang diperlukan atau anjuran kepada masyakat untuk melakukan sesuatu. Sampaikan pula tips yang dapat dilakukan khalayak untuk mengatasi persoalan terhadap isu tersebut. Sisipkan ”reward” yang akan diperoleh jika mereka melakukannya, misalnya hidup lebih sehat, keluarga bahagia, dsb. Kita juga bisa berikan informasi alamat kontak jika mereka memerlukan informasi lebih lanjut/pengaduan/telpon.

Enam langkah ini bukan langkah akhir karena diperlukan lagi monitoring dan evaluasi untuk mengetahui seberapa besar dampak yang terjadi usai produksi media komunikasi tersebut.

Sekedar berbagi, semoga bermanfaat!

10 Tips Persiapan Wawancara Formal Jarak Jauh

Selama ini kita membayangkan bahwa wawancara hanya dilakukan dengan tatap muka, kini tidak lagi. Seiring kemajuan teknologi, wawancara dapat dilakukan jarak jauh via phone atau virtual.

Berikut pengalaman saya wawancara formal seperti lamaran kerja dan seleksi perguruan tinggi lewat telpon dan skype.

10 tips persiapan tersebut, antara lain:

1. Tentukan waktu interview yang disepakati kedua belah pihak.

2. Pahami durasi, materi dan tujuan wawancara misalnya untuk seleksi pekerjaan atau seleksi mahasiswa.

3. Pelajari hal-hal yang berkaitan dengan tujuan wawancara.

4. Simulasikan wawancara dengan orang lain untuk mengurangi ketegangan dan mengantisipasi respon Inerviewer yang muncul.

5. Periksa dan persiapkan peralatan yang diperlukan untuk wawancara seperti laptop, web cam dan headset yang tersedia mic.

6. Persiapkan stamina yang fit dan prima.

7. Persiapkan tempat dan ruang yang punya internet dengan jaringan koneksi bagus, tata cahaya lampu dan sinar matahari, tingkat kebisingan yang minim dan penuh privasi agar tidak terganggu. Anda bisa pilih Kafe, ruang kerja, ruang belajar, dsb.

8. Persiapkan penampilan dengan pakaian berwarna terang agar bisa terlihat baik. Jangan berpikir anda hanya melakukan wawancara jarak jauh maka anda dapat berpenampilan semaunya. Penampilan juga menentukan.

9. Siapkan air putih di samping meja wawancara, alat tulis, materi bacaan.

10. Berdoa bila sudah waktu wawancara supaya berhasil dan jangan lupa tersenyum agar membuat wajah tampak baik dilihat via webcam. Tersenyum akan membawa aura positif bagi anda.

Semoga sukses!