10 Tips Bawa Presentasi

Tips untuk membawakan presentasi

image
Materi. Materi. Materi. Kuasai materi yang akan dibawakan menjadi kunci keberhasilan presentas. Sumber foto: Dokumen pribadi.

1. Kuasai materi
Menguasai materi artinya anda dapat memilih materi yang Anda harus tekankan dan materi yang dapat dihilangkan agar membuat presentasi menjadi lebih efektif. Penguasaan materi ini membuat kita menjadi lebih nyaman pada saat presentasi dan membuat presentasi berjalan dengan baik.

2. Jiwai materi yang anda bawakan
Membawakan presentasi bisnis tidaklah sama seperti membacakan puisi, Anda tidak perlu anda menghafal materi yang anda bawakan, setiap presentasi membutuhkan 2 hal yakni harus hidup dan memiliki energi. Hal ini akan andaperoleh jika anda menjiwai materi yang Anda bawakan.

3. Lakukan simulasi presentasi anda
Sebelum berpresentasi, ada baiknya anda melakukan simulasi presentasinya terlebih dahulu. Jika memungkinkan undang rekan anda pada saat simulasi dan mintalah pendapat mereka dengan jujur, tentang performa Anda pada saat presentasi. Tidak ada salahnya jika anda terus mengulang agar memperoleh kesempurnaan.

4. Kuasai ruangan presentasi anda
Usahakan datang sebelum presentasi. Berjalanlah di seluruh ruangan agar anda dapat menentukan view yang paling tepat buat anda ketika berpresentasi.

5. Kuasai peralatan anda saat presentasi
Pastikan sound system berjalan dengan sempurna, juga pastikan LCD anda dapat menampilkan presentasi anda dengan sempurna, tidak ada salahnya anda juga mengecek saklar lampu untuk memastikan seluruh bahan presentasi anda dapat terlihat dengan sempurna.

6. Simpan bahan presentasi anda dalam diskdrive
Walau terlihat sepele, pastikan anda menyimpan semua file di dalam diskdrive,menyimpannya dalam floopy, flash disc ataupun CD kadang membuat running presentasi anda menjadi lebih lambat.

7. Gunakan remote control
Jangan kaku berdiri di stage dan jangan selalu berada disamping laptop danLCD yang anda gunakan. Anda harus berada pada posisi dimana semua audiens dapat melihat anda dengan jelas, makanya tidak ada salahnya anda menggunakan remote control. Tapi bukan berarti jika anda menggunakan remote anda bebas untuk berkeliling pada saat presentasi, hal tersebut hanya memecah konsentrasi audiens anda.

8. Hindari penggunaan laser pointer
Penggunaan laser pointer dapat memecah konsentrasi audiens anda, Apalagi pada saat anda mengalami kegugupan, penggunaan laser pointer malah jadi tidak efektif. Lebih baik anda menggunakan handout pada materi-materi yang ingin anda tampilkan.

9. Jangan berbicara pada slide yang anda buat.
Banyak presenter yang lebih melihat pada slide yang nyata-nyata telah mereka ketahui isinya daripada melihat audiens. Sebaiknya anda fokuskan mata dan perhatian anda kepada audiens, perbanyak kontak mata akan membuat presentasi anda menjadi lebih menarik.

10. Navigasikan slide anda.

Sebaiknya anda membuat slide dengan menggunakan ‘link’ hal ini penting karena audiens seringkali bertanya pada slide yang telah anda presentasikan.Penggunaan link membuat anda lebih mudah untuk menemukan slide yang perlu diulang, tanpa harus menampilkan seluruh slide presentasi.

 

Semoga bermanfaat!

Advertisements

ABCD: Trik Jadi Presenter Menarik

wp-image--1114241609
Fokus perhatian anda ada pada ABCD saat jadi presenter. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Anda merasa gugup saat presentasi? Hal itu adalah biasa dan wajar. Apalagi presentasi dilakukan di hadapan orang banyak atau biasa disebut di hadapan publik.

Berikut trik ABCD  yang berhasil saya terapkan:

A. ATTENTION

Lima menit pertama ketika nama anda disebut untuk mempresentasikan sesuatu, apa yang terjadi pada audience atau pengamat yang menyaksikan anda maju menjadi focal person di hadapan mereka? Lima menit pertama begitu menentukan bagi anda untuk menarik perhatian mereka. Bila tidak, lima menit kedua, ketiga dan selanjutnya maka pengamat atau sasaran penerima informasi anda akan mulai memberi penilaian terhadap anda. Jadi curilah perhatian (attention) mereka dengan sesuatu yang menarik.

“Tahukah bapak/ibu bahwa DKI Jakarta yang kita huni ini adalah provinsi terbanyak dan tertinggi untuk kasus HIV&AIDS di Indonesia?” Itu adalah contoh bagaimana kalimat pembuka begitu bombastis untuk disampaikan. Apakah ada data yang menyebutkan demikian? Ada, hanya kalimat tersebut seolah-olah mengundang reaksi untuk bertanya dan ingin tahu.

Contoh kedua, saya siapkan satu gambar besar yang bisa dilihat semua. Ada lima orang dengan karakteristik fisik macam-macam, mulai dari gambar pelajar, karyawan berdasi, orang papua, ibu yang menyusui anaknya, perempuan berpakaian seksi dan mini. Gambar ini saya jadikan contoh, “Kira-kira bapak/ibu, manakah dari lima orang ini yang terinfeksi HIV&AIDS?” Lalu audience mulai menebak-nebak berpikir, aktif menjawab dan sebagainya. Apa yang saya lakukan adalah menarik perhatian mereka untuk tahu, peduli dan “bertahan” menyaksikan saya untuk presentasi. Kira-kira begitu maknanya.

B. BENEFIT
Poin kedua ini ingin menunjukkan bahwa presentasi yang anda lakukan ini layak dan “menguntungkan” buat mereka yang duduk dan menyaksikan anda sebagai presenter. Trik ini paling jitu bagi anda yang berjualan produk atau anda yang melakukan persuasi agar mereka benar-benar mendengarkan presentasi anda dan bertindak.

Dalam pengalaman saya, saya akan sampaikan bahwa masih banyak informasi yang salah dan tidak tepat tentang HIV&AIDS yang berkembang di masyarakat sehingga saya perlu memberikan informasi yang benar. Atau misalnya, “Bapak/ibu, apakah anda tahu bagaimana memperoleh status seseorang yang sedang terinfeksi HIV atau tidak? Disini saya akan sampaikan bahwa bla bla bla…”

C. CREDENTIALS
Sebagai presenter, sajikan data dan informasi dari sumber yang meyakinkan dan terpercaya. Bahwa anda layak untuk menyampaikan informasi yang benar dan tepat karena tidak semua orang paham tentang materi yang akan anda sampaikan. Anda layak menjadi presenter karena anda punya datanya, anda paham isu/topiknya, anda menguasai materi yang akan disampaikan, anda bekerja di bidang tersebut dan anda mampu menjawab permasalahan yang muncul dalam presentasi.

“Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan tercatat kasus HIV&AIDS meningkat setiap tahunnya bla bla bla …”

Dalam hal ini, anda juga bisa memperkuat argumen anda dengan contoh kasus yang meyakinkan presentasi anda. Pastikan bahwa anda memang orang yang tepat untuk menyampaikan materi.

D. DELIVERABLES
Presentasi yang baik juga didukung teknik penyampaiannnya,

1. Olah persiapan
Latihan akan membuat anda menjadi sempurna. Sebelum tampil sebaiknya anda mempersiapkan materi dan bergaya layaknya presenter di depan cermin. Atau, minta bantuan orang lain untuk melakukan simulasi presentasi agar membantu anda untuk tidak gugup. Siapkan semua materi dan media visualisasi yang ingin disampaikan sebelum acara. Datanglah sebelum waktunya untuk mengatur situasi psikologis anda.

2. Olah media presentasi
Siapkan media visualisasi dari materi anda. Siapkan slideshow yang menunjang poin-poin yang akan anda sampaikan. Jangan buat background setiap slide dengan warna yang mencolok dan dan menggangu konsentrasi. Jika sound background setiap slide mengganggu, sebaiknya tak usah dipakai. Media visualisasi juga tidak melulu dengan slide show, anda bisa padukan dengan film singkat di awal, misalnya. Atau gunakan media peraga yang bisa dikreasikan sendiri. Anda juga bisa melakukan simulasi sederhana, misalnya saya akan siapkan sirup merah dengan pipet kecil dan segelas air putih. Saya akan simulasikan penyebaran infeksi HIV dengan memasukkan satu tetes sirup merah yang kemudian akan mudah menyebar.

3. Olah vokal
Jangan berbicara terlampau cepat sehingga tidak bisa dipahami materi yang anda sampaikan. Jangan pula terlalu lambat sehingga membosankan dan mengulur waktu. Latihlah pengucapan huruf dan kata sehingga jelas terdengar. Praktekkan sebelum anda tampil. Jangan pula berbicara terlampau tinggi sehingga memekakkan telinga atau tak enak didengar karena bisa jadi anda nanti menggunakan mic saat presentasi.

4. Olah pernafasan
Atur nafas anda saat berbicara di depan publik. Jangan sampai anda kehabisan napas saat berbicara. Atau, orang lain sampai mendengarkan suara nafas anda. Latihan nafas sebelum tampil juga perlu.

Selamat mencoba!

Hambatan Komunikasi dengan Pasangan

image

(Hal terpenting dalam komunikasi dengan pasangan adalah kemampuan memahami apa yang tidak dikatakan)

Jika waktu lalu, saya membahas tuntas tentang 7 hambatan komunikasi pada umumnya dalam link berikut https://liwunfamily.wordpress.com/?s=hambatan+komunikasi

Kini mari kita kupas hal-hal yang menjadi hambatan komunikasi dengan pasangan, suami/isteri sebagai orang yang kita cintai.

1. Budaya
Jika anda dan pasangan berlatarbelakang budaya yang sama, tentu tidak menjadi masalah. Jika anda dan pasangan berasal dari budaya yang berbeda, maka suami/isteri perlu saling memahami. Misalnya, konflik komunikasi yang kerap terjadi dengan rekan saya yang baru saja menikah dengan pria WNA. Si wanita Indonesia terbiasa basa-basi dalam menyatakan pendapat, sedangkan suami yang WNA ingin “to the point”.

Budaya akan membentuk kebiasaan berkomunikasi dalam diri individu tersebut seperti tutur kata, isi pembicaraan dan gaya bicara. Jadi wajar jika kita menemukan hambatan dalam berkomunikasi yang dikarenakan budaya. Kenali budaya pasangan sebagaimana waktu masih berpacaran dulu.

2. Waktu
Pernah mengalami konflik karena salah menyampaikan pesan atau usai berkomunikasi? Bisa jadi waktu adalah penyebabnya. Tak mungkin usai bekerja, kita bercerita hal-hal yang membangkitkan emosi. Cari waktu yang tepat jika kita ingin mengungkapkan hal yang sensitif, misalnya usai makan malam. Atau, atur waktu dengan pasangan agar tidak salah momentum.

3. Teknologi
Jangan pernah berpikir bahwa pasangan anda tahu dan paham tentang teknologi. Pasalnya teknologi berkembang setiap saat. Pahami dulu mengenai kecakapannya memanfaatkan alat komunikasi. Lalu pahami juga situasi yang terjadi, misalnya hujan kadang menjadi penghambat penerimaan pesan.

4. Wawasan
Jangan paksa juga pasangan memahami cerita atau keluh kesah anda karena bisa jadi pasangan tidak paham tentang topik anda. Pahami hal-hal yang menjadi minat, pekerjaan dan aktivitas pasangan sehingga kita bisa merespon dan memberikan feedback saat pasangan bercerita. Toh, kita ingin jadi pasangan yang “nyambung” atau setidaknya “tidak bodoh-bodoh” amat saat diajak bicara.

Agar tidak terjadi hambatan dalam berkomunikasi, berikut elemen-elemen yang diperlukan:

1. Jujur
Jika anda berbohong suatu saat anda tidak akan bisa menutupinya lagi. Katakan sejujurnya di awal dibandingkan pasangan tahu yang sebenarnya di kemudian hari.

2. Percaya
Beri kepercayaan pada pasangan untuk menjelaskan. Jangan memiliki asumsi atau pemikiran sepihak yang belum tentu benar. Jika anda tidak percaya pada pasangan, buat apa anda menikah? Percaya adalah kunci dari pernikahan.

3. Kerelaan untuk mendengarkan
Berilah waktu pada pasangan untuk bercerita dengan ikhlas. Toh, anda juga tidak suka bila pasangan memotong pembicaraan anda atau dia cuek saja. Perlakukan pasangan sebagaimana anda ingin diperlakukan saat bercerita. Beri kesempatan pada pasangan pula untuk menjelaskan.

4. Sabar
Seberapapun panjangnya ia bercerita atau seberapa emosionalnya anda saat dia bicara, tetaplah sabar. Jangan terpancing emosi. Akan ada giliran bagi anda untuk merespon. Jadilah pasangan yang aktif untuk meredam emosinya, bukan memancing emosinya.

5. Fokus
Jangan mengkaitkan topik pembicaraan tentang masa lalu atau hal-hal yang tidak berkaitan. Buatlah sesederhana mungkin dan tidak menggeneralisasikan suatu permasalahan.

6. Empati
Berupayalah untuk memahami pasangan dengan empati. Pahami apa yang sedang diceritakan pasangan dengan bahasa tubuh bahwa anda peduli dan mengerti apa yang dirasakan. Misalnya memeluk pasangan, meraba dengan penuh kelembutan, mengusap air matanya, dsb.

7 Hambatan Komunikasi

image

Ilustrasi.

Komunikasi secara sederhana diartikan sebagai penyampaian informasi yang jelas dan ditangkap secara baik oleh pendengar. Komunikasi yang baik dan efektif apabila dilaksanakan dua arah, ada mendengar ada berbicara atau ada umpan balik.

Namun tak jarang kita masih menjumpai pesan atau informasi yang kita sampaikan tidak sesuai atau kita mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Berikut adalah hasil pengalaman dalam pelatihan komunikasi yang biasa saya laksanakan, hal-hal yang menghambat komunikasi yakni:

1. Hambatan fisik.
Hambatan fisik menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan fisik atau badan seseorang, misalnya tuna rungu atau orang yang tidak bisa mendengar. Di sisi lain, hambatan fisik seperti saya harus berbicara keras dengan nenek saya karena  fungsi pendengarannya yang sudah berkurang. Pesan saya kepada nenek pun terkadang tidak sesuai.

Untuk mengatasi hambatan komunikasi terhadap nenek saya ini atau orang yang memiliki fungsi pendengaran yang kurang maka saya akan berbicara dengan ekspresi muka yang jelas dan suara lantang sehingga bisa “terbaca”. Atau, informasi dituliskan sehingga nenek langsung paham maksudnya. Hambatan komunikasi juga bisa saja terjadi apabila salah satu pihak memerlukan bahasa isyarat seperti pada orang tuna wicara.

2. Hambatan kepribadian.
Saya punya rekan kerja seorang pria yang sangat pemalu. Ia hanya berbicara seperlunya. Ia tidak punya sahabat dekat, saya pun dihitungnya sahabat baiknya. Ia mengatakan sudah beberapa kali mengikuti training “public speaking”. Ia berujar bahwa sulit baginya untuk memiliki topik pembicaraan dengan lawan jenis. Sifatnya yang minder dan pemalu akhirnya menjadi hambatannya saat kencan dengan wanita meski menurut saya, sahabat saya ini adalah pria rupawan.

Selain sifat pribadi di atas, orang-orang introvert juga cenderung mengalami kesulitan untuk membangun percakapan pertama kali. Kepribadian seperti sanguinis tentu jarang mengalami hambatan berkomunikasi. Mereka biasanya selalu punya topik pembicaraan dalam benak mereka dan memiliki pribadi yang menarik komunikatif.

3. Hambatan usia.
Tentu tahu bahwa usia kadang menjadi hambatan saat kita berkomunikasi. Misalnya, anak takut menyampaikan sesuatu kepada orangtuanya. Atau, saat orang tua bicara anak harus diam mendengarkan, akibatnya komunikasi hanya terjadi satu arah saja.

Yang paling terkini misalnya, bagaimana anak remaja sekarang (:baca Alay) menggunakan kalimat-kalimat slank yang sulit dipahami oleh orang yang lebih tua. Kesenjangan usia memang harus dijembatani dengan baik sehingga pesan yang disampaikan tercapai. Di sekolah, kerap saya menemukan ada upaya mediasi antara orangtua dengan anak melalui guru BP atau guru wali kelas agar tidak terjadi hambatan komunikasi antara orangtua siswa dengan siswa.

4. Hambatan budaya.
Hambatan budaya dapat terlihat seperti yang pernah saya jumpai seorang perempuan saat saya transit di Bandara Dubai. Ia membutuhkan informasi tapi saya tidak bisa membalasnya (saat itu saya berbicara bahasa inggris) karena saya tidak mendengar dengan jelas. Saya tidak bisa melihat ekspresi mukanya saat berbicara karena dalam budayanya Ia harus mengenakan penutup mulut. Ia adalah perempuan dari negara belahan Timur Tengah yang memang harus mengenakan busana demikian.

Atau misalnya, di Thailand untuk mengucapkan kalimat “terimakasih” akan berbeda bila disampaikan perempuan menjadi “Kopunka” sedangkan apabila laki-laki menjadi “Kopunkap”. Untuk budaya tertentu misalnya perempuan dalam berkomunikasi mendapat porsi nomor dua setelah ayah, suami dan kakak laki-laki.

5. Hambatan bahasa.
Bahasa kerap menjadi hambatan bila kita berada di negara yang tidak sama bahasa ibu yang miliki. Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita bagaimana saya berupaya membantu teman kelas kursus bahasa jerman yang berasal dari negara Slovenia. Saya pun menggunakan google translate saat saya menyampaikan tugas pekerjaan rumah yang kemudian saya kirim lewat email. Meski tidak seratus persen terjemahan itu benar tapi ia cukup mengerti pesan yang saya sampaikan.

Lain lagi saat saya kedatangan teman dari Tiongkok yang hanya bisa bahasa Mandarin dan kami bersahabat untuk bertukar informasi satu sama lain. Saya tidak bisa bahasa mandarin. Dia tidak bisa bahasa Inggris dan sedikit mengerti bahasa Indonesia. Saya terkesan sekali saat kami merayakan hari ulang tahun bersama, saling mentraktir dan berkomunikasi dengan berbagai macam cara seperti menulis, gerakan tangan, menggambar, ekspresi muka hingga menggunakan alat peraga. Intinya adalah kita harus saling mendengarkan satu sama lain agar komunikasi terkesan “nyambung”.

Beberapa kali saya kesasar di negara orang pun, bekal saya dalam berkomunikasi dengan bahasa sebagai hambatan yakni membawa kamus, alat tulis, kertas, kalkukator dan alamat kita tinggal.

6. Hambatan kecakapan teknologi.
Dalam suatu pertemuan mediasi komunikasi orangtua dan anak di suatu sekolah, saya menampilkan slide show tentang sms seorang ABG remaja kepada kekasihnya dengan menggunakan kalimat atau kata-kata slank atau bahasa alay. Bahasa Alay menggunakan huruf besar dan huruf kecil dalam satu kata juga cenderung tidak lengkap sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan. Apa yang terjadi? Orangtua tidak bisa menangkap pesan SMS tersebut.

Kecakapan teknologi lainnya seperti penggunaan fitur-fitur handphone pintar yang tidak semua orang bisa menggunakannya. Saya pernah mengalami hambatan komunikasi saat tawar menawar membeli sovenir. Jurus komunikasi saya cuma satu dalam tawar menawar, yakni bawa kalkulator. Saat sedang tawar menawar kalkulator di HP saya habis baterai. Atau, mau menggunakan google translate tetapi baterai HP mati.

7. Hambatan lingkungan alam dan kondisi sekitar.
Hal ini bisa mudah ditemui semisal kita menjadi salah menangkap maksud komunikasi karena suara yang bising atau polusi suara. Lingkungan alam lain misalnya letak atau jarak pengirim pesan dengan penerima pesan yang berjauhan menyebabkan informasi tidak diterima dengan jelas.

Kita juga misalnya akan berbicara dengan pelan saat malam hari, waktu tidur. Atau waktu tidur siang di beberapa negara Eropa, orang sekitar diharapkan tidak menimbulkan kegaduhan suara sehingga kita cenderung berbisik atau bersuara pelan jika berbicara.

Kesimpulan

Menurut saya, hambatan terbesar komunikasi adalah ego diri sendiri yang hanya mau mendengar apa yang ingin kita dengar. Ini yang kerap terjadi sehingga menimbulkan kesalahpahaman dalam berkomunikasi.

Demikian pengalaman yang bisa dibagikan. Apakah ada ide tambahan? Silahkan!

4 Hal Bangun Komunikasi Orangtua dan Anak

wp-image-1350854447

Kemarin saya dapat kesempatan melaksanakan training komunikasi bagi siswa di sekolah swasta ternama di Jakarta. Komunikasi adalah kunci bagi terciptanya relasi yang harmonis antara orangtua dan anak. Apalagi di dunia yang makin canggih ini, komunikasi bisa dilakukan dengan banyak cara, mulai dari henpon yang langsung diterima di tangan yang dituju hingga eksistensi diri di dunia maya. Artinya, komunikasi tidak melulu dalam temu tatap muka. Komunikasi yang baik bila kedua pihak bisa memahami pesan yang disampaikan satu sama lain.

Membangun komunikasi memerlukan unsur sebagai berikut:

1. Pendengar yang aktif.
Bagaimana komunikasi bisa berjalan efektif jika masing-masing pihak sulit menjadi pendengar? Menjadi pendengar tidak mudah karena orangtua menganggap dirinya paling mengerti (sudah banyak makan asam garam) sehingga sulit menerima pendapat anak. Anak juga sulit mendengarkan orangtua, sibuk dengan dunianya, acuh dengan perintah orangtua. Siapapun di dunia ini butuh telinga untuk didengarkan ketimbang mulut untuk memberikan saran. Tak ada salahnya kita mengalah untuk belajar mendengarkan. Saya rasa kerugian dari mendengarkan hanya waktu yang menurut anda terbuang, tapi bagi orang lain didengarkan begitu berharga.

2. Empati
Menumbuhkan empati akan menanamkan nilai moral akan pentingnya menghargai oranglain. Seandainya orangtua mau berempati dengan anaknya, tentu orangtua akan tahu bahwa kondisi jaman dulu berbeda dengan jaman anaknya sekarang yang sudah berteknologi canggih. Anak juga perlu dilatih tentang empati bahwa orangtua cemas apabila anak tidak memberi kabar jika terlambat pulang.
Empati tidak timbuh secara alami tetapi bagaimana orangtua mengajarkan anaknya, misalnya bermain peran. ‘Nak, coba kamu bayangkan bagaimana ibu tidak cemas kalau kamu datang terlambat tanpa beri kabar padahal kondisi jakarta sekarang sedang tidak aman.’ Atau contoh lain, ‘Ibu, apa yang akan ibu lakukan jika ibu tidak menghadiri pesta ulang tahun sahabat sendiri?’

3. Asertif
Tak mudah bagi kita melatih asertif menjadi kebiasaan karena kita terlatih untuk bisa sabar, memaafkan dan mengalah terhadap keadaan yang tidak kita sukai. Akibatnya, kita jadi pasif dan tertekan. Asertif adalah kemampuan untuk menyatakan pendapat dan perasaan kita terhadap suatu hal tanpa menyinggung orang lain. Melatih anak untuk asertif artinya anak diajak untuk berpikir logis dan tidak menyinggung oranglain saat dihadapkan pada suatu kondisi yang tidak disukai. Anak dan orangtua sama-sama dilatih untuk menentukan pilihan yang disukai kedua pihak. Anak bisa menghadiri pesta ulang tahun sahabatnya asal diantar orangtua.

4. Kepercayaan
Komunikasi tidak akan berjalan optimal jika anak dan orangtua tidak saling mempercayai. Saling percaya bisa muncul saat orangtua bisa mengerti kondisi anak yang sedang ‘galau’ butuh teman curhat. Orangtua bisa mempercayai anaknya saat anak tidak melanggar batasan yang diberikan orangtuanya. Kepercayaan satu sama lain akan menumbuhkan komunikasi yang efektif pada masing-masing pihak.

Komunikasi anak dan orangtua tidak sebatas jari tangan melalui sms, telpon, media sosial tetapi seluas hati bagaimana anak dan orangtua sadar memanfaatkan media komunikasi yang konstruktif dan edukatif. Selamat membangun komunikasi yang efektif, jangan lupa selipkan 3 kata, I love you pada anak dan orangtua masing-masing!

Hey, Please Think Before Posting!

20170723_215308
Sebelum meledak seperti kembang api, sebaiknya pikirkan saat posting di media sosial. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Hey, Please Think Before Posting

Sontak saya terperanjat membaca email dari seorang senior yang memiliki posisi dihormati tetapi cara beliau mengkomunikasikan pesan tidak menunjukkan simpati. Akibat ulahnya yang berulangkali itu, hampir semua staf tidak menaruh respek lagi terhadapnya.

Contoh kedua, saat saya membaca status teman saya di dunia maya. Teman saya berpikir bahwa statusnya adalah bentuk eksistensi pendapat dan ekspresi emosinya tetapi dia lupa bahwa orang dalam kontaknya akan membaca dan mengetahuinya. Akhirnya, dia bermasalah dengan lingkungan sekitarnya, karena dianggap labil. Orang yang awalnya simpati menjadi antipati.

Kini hubungan komunikasi hanya seluas jari-jari tangan, karena kemudahan melakukan dan menerimanya.  Dengan kemudahan tersebut, mem-posting-kan sesuatu hanya karena ego, emosi dan tidak memperhitungkan orang lain membacanya adalah bentuk eksistensi diri di dunia maya yang salah. Mengapa? Cobalah bersikap santun, meski dalam dunia maya.

Hitung sampai dengan 10 detik sambil berpikir ulang akan membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Mari gunakan lebih bijak lagi media ekspresi dalam dunia maya!