Cinta dalam Sepotong Pizza

“Was denkst du, Anna?” tanyanya. Apa yang kau pikirkan. 

Aku mendengarnya jadi terkejut. Aku tak percaya bahwa pria ini mengajak makan malam keluar. Oh, sulit rasanya membujuk pria Jerman ini makan di luar. Dia memilih masak dan makan di rumah, ketimbang makan di restoran. 

Aku gugup menjawabnya “Nicht”. Tidak ada yang aku pikirkan. Aku pun bergegas meraih tas jinjing di meja. 

Sekilas aku melihat penampilanku di kaca. Tiba – tiba aku merasa tak percaya diri berjalan bersamanya. Ada jutaan mata yang selalu melihat aneh kebersamaan pasangan Asia – Jerman. Kulitku yang eksotis dan berambut hitam legam terlihat kontras dengan pria berambut pirang miliknya. 

“Hey, kommst zu mir mit!” teriaknya dalam mobil. Apakah kau jadi ikut bersamaku makan diluar? Dia berteriak sambil menyalakan mesin mobil. 

“Warte auf mich, bitte!” Aku membalasnya teriak untuk menungguku. 

***

“Zwei Orangensaft und Pizza nummer sieben, bitte” katanya pada kasir yang mencatat pesanan kami. Dia memesan dua jus jeruk dan seloyang Pizza nomor 7 yang tersedia dalam daftar menu. Pizza favorit pilihannya selalu peperoni dan jamur. 

Sepertinya aku sedikit gugup, mataku mulai mengitari restoran untuk mencari tempat yang kosong. 

“Fertig?” tanya kasir untuk memastikan apakah sudah selesai memesan. 

Aku langsung menyahut “Ach so, noch einmal. Ich möchte ein Mineral Wasser trinken. Wie viel kostet es?”

Tiba-tiba aku ingin minum air putih untuk mengurangi keteganganku, aku bertanya pada kasir harganya agar aku bisa bayar langsung. Kasir malahan menyebut total seluruh pesanan kami. 

Dia pun menyerahkan uang 50€ pada kasir. Saat aku menyerahkan untuk bayar air mineral botol, dia menolak dan berseru “Anna, Ich möchte alles bezahlen” aku pun tersenyum. Dia membayar semua pesanan. 

Di restoran Pizzaria, kami duduk berhadapan seperti sepasang kekasih. 
***

Warst du schön mal in Italien?” tanyanya sambil kami menunggu pesanan. Apakah aku pernah ke Italia? 

Aku menjawab “Nein, Ich war noch nie in Italien. Warum?” 

“Du musst nach Italien besuchen. Das ist sehr schön” katanya. 

Ich spreche ein bisschen Deutsch. Können wir English jetzt Sprachen?” Aku katakan padanya bahwa aku bisa berbicara Bahasa Jerman hanya sedikit, apakah kita bisa berbicara dalam bahasa Inggris? Begitu pintaku. 

Pizza yang kami pesan datang. Kami memakannya. Sepertinya dia amat menyukai rasa Pizza itu hingga kami berdua tak berbicara dan menikmatinya. Entah karena lapar atau rasanya yang lezat, kami terpesona sesaat. Diam menikmati Pizza. 

***

“I think now almost every country in the world has Pizza. In beginning, Italy made Pizza as local food. But Pizza is not only from Italy in this time. Eventhough Pizza is not original again, every one can accept the taste. It means they open their eyes beyond countries” katanya sambil menggigit Pizza yang terakhir. 

Aku mengangguk tanda setuju. Apa maksud semua ini? Makan malam? Sepotong Pizza yang aku makan? Kemana semua arah pembicaraan ini? 

Would be my Pizza, Anna?” tanyanya. Heh!!! Apa maksudnya ini?? 

To be Continued… 

Advertisements

It’s About Time

“You can buy every thing in this world, except the time. You can not turn back your time as you want” said an Angel. She wears a shining white dress. She has two wings between arms. She looks like flying around me.

I am listening that softly voice thru’ my heart.

She said again “The one thing should be understood that a time is eternity. Such as love, the time teaches you how meaningful the happiness in real”

I am still silent to hear that voice.

“Keep praying and wait for a miracle happens to you, dear” said her.

Just a moment I remember my motto, PUSH, pray until something happens.

The time always has authority to every human. Time also is powerful to make a destiny on life. But praying can change the time to be our fate.

“See how powerful  praying than time! if it is meant to be, it will be”

After dreaming off, I wake up and realized it. ‘Oh shit! Still in early morning’ I come on my bed then sleeping again.

Maukah Kau Berbagi Kopi denganku Setiap Pagi? 

Sumber foto: Dokumen pribadi.

Sumpah, aku tak minum kopi. Bau kopi di pagi hari membuatku mual. Aku bahkan hampir muntah saat ayahku membuat kopi untuknya. Setelah aku mengaku tak kuat minum kopi apalagi mencium aromanya, ayah beralih suka minum teh tiap pagi. Syukurlah! Batinku dalam hati. 

Orang suka sekali minum kopi di pagi hari. Mereka dengan bangganya bawa secangkir kopi dari kedai ternama sebagai bentuk eksistensi diri. Kopi yang begitu kata teman kantorku seperti gaya hidup orang kota. Mereka tidak kecanduan kopi. Mereka hanya kecanduan gaya hidup. Basi, pikirku. 

Kopi. Aku tidak mau. Begitu aku ditawari untuk meminumnya. Gratis. Katanya lagi. Aku tetap menggeleng sambil angkat tangan. Eh dia masih memaksa dan berpikir cuma basa-basi. Hayiah! Buat apa basa-basi. Lalu dia mengatakan aku kuno dan tidak kekinian. Lantas aku marah besar. 

Hanya karena secangkir kopi di pagi hari lalu masalah dengannya dimulai. Apakah kopi bisa meningkatkan tingkat kemarahan? Mungkin, jika orang yang tak suka minum kopi dipaksa meminumnya hanya karena sebuah filosofi. Katanya tidak ada kehidupan tanpa kopi di pagi hari. Omong kosong! 

Aku mulai tidak sabar lagi menghadapi tawarannya minum kopi di pagi hari. Sial! Mengapa aku harus berangkat bersama dengannya untuk tugas kantor menjengkelkan ini? 

Pagi – pagi dia sudah membangunkanku dengan menelpon dan menyapa “Selamat pagi Cinta!” Kampret, umpatku. Saat aku tidak bisa tidur di hotel dan berharap bisa bangun siang, meski aku lupa bahwa aku sedang tugas keluar kantor. Dia membuyarkan anganku. “Hayo, berangkat! Ketemu di restoran untuk sarapan ya,” katanya tanpa bisa menyangkal permintaannya. 

Aku seperti hafal selama sepuluh hari bersamanya, dari pagi hingga menutup mata. Mengapa aku harus bersamanya? Semoga aku tidak mendapatkan karma, benci jadi cinta. Aku ketuk-ketuk meja kayu memikirkan hal itu. Semoga kesialanku tidak berbalik padaku. Buat sial, umpatku sambil mengetuk meja kayu berkali-kali. 

“Dengar Anna, aku penasaran mengapa kau tak suka kopi di pagi hari?” tanyanya. 

Haruskah kujawab pertanyaan tak penting ini? Siapa dia ingin mengetahui hidupku? Aku hanya tersenyum dan tidak menjawab. 

“Kelak kau akan terbiasa menyiapkan kopi setiap pagi” katanya sambil pergi menuju kamar tidurnya yang terletak satu lantai denganku. Itu seperti mantera yang menyihirku. 

Karma itu terjadi. Ketika masa lalu bisa kau kendalikan, tetapi tidak untuk masa depan. 

Siapa sangka aku membencinya di masa lalu? Kini aku mencintainya hanya karena aroma kopi di pagi hari. Karma! Kau bisa tentukan apa yang kau suka dan tidak suka, tetapi kau tidak bisa membohongi takdir saat itu sudah digariskan padamu. 

***

Aku berjalan melangkah perlahan menuju altar. Gaun putih yang aku kenakan membuatku tampak anggun bak puteri dongeng. Seluruh mata di kapel memandangku takjub. Inilah akhir masa lajangku! 

Pria itu berdiri di depan pastor. Matanya tak berkedip memandangku. Ia tersenyum menyambutku. 

“Anna, maukah kau berbagi kopi denganku setiap pagi?” pintanya. 

***

Katakan masa lalu ditentukan apa yang sudah dimulai, namun masa depan yang akan menyatakannya. Itu karma! Jangan katakan kau membencinya! Mungkin kau tak cukup waktu untuk menyukainya. 

Ketika Tuhan Beri Taman Indah, Saat Kita Meminta Bunga

Sumber foto: Dokumen pribadi. 

Seorang perempuan muda datang pada seorang tukang pembuat taman yang bijak. Dia berkata “Hei bapak pembuat taman, saya ingin memiliki bunga yang paling indah sedunia. Bisakah kau buatkan untukku setangkai bunga saja tetapi yang paling indah? Karena aku belum pernah melihatnya di dunia selama ini.” 

Si bapak tukang taman berpikir bagaimana bisa mewujudkan keinginan perempuan muda itu. Saban hari ia berpikir bagaimana meyakinkan bahwa ia berhasil membuat setangkai bunga yang paling indah sedunia. ‘Tuhan Sang Pencipta segalanya saja belum berhasil menciptakan bunga yang paling indah menurut perempuan itu, bagaimana dengan saya?’ pikir bapak itu. 

Waktu yang ditentukan pun tiba. Ia datang ke rumah perempuan muda itu. Bapak tua, si pembuat taman mengetuk pintu rumah perempuan itu. Ia pasrahkan pada kekuatan Tuhan untuk membuat setiap pesanan orang. 

“Silahkan masuk!” seru perempuan itu. “Bapak hanya punya waktu selama seminggu untuk membuat setangkai bunga paling indah. Aku akan kembali untuk menilai dan membayar bapak jika bapak berhasil menemukannya,” kata perempuan itu  lagi. Lalu ia pun bergegas meninggalkan bapak tua dengan segala kebingungannya. 

***

Seminggu kemudian, perempuan muda itu datang kembali ingin melihat hasil kerja si tukang taman. 

Bapak tua itu pun berujar “Pekerjaanku sudah selesai. Sekarang aku tidak ingin mendengarkan komentar nona terlebih dulu. Silahkan nona periksa sendiri bunga yang paling indah menurutmu!” 

Perempuan muda itu tidak hanya mendapati setangkai bunga indah tetapi sebuah taman yang dipenuhi bunga-bunga. Ia pun patuh pada pinta si tukang taman untuk tidak berkomentar dulu, melainkan mencari bunga yang paling indah. 

Selang beberapa jam, perempuan muda itu kembali kepada tukang taman. Dia berkata “Aku tidak menemukan setangkai bunga yang paling indah. Aku begitu bingung saat melihat semua bunga terlihat indah di taman ini” 

“Nona, aku sengaja membuatkan sebuah taman yang indah saat kau meminta setangkai bunga. Aku berpikir ini akan memudahkanmu mendapatkan setangkai bunga yang paling indah” kata tukang taman. Dia bertanya “Bukankah kau hanya menginginkan satu bunga yang indah saja?”

Perempuan muda itu pun diam. 

Bapak pembuat taman pun berkata lagi pada nona pemesan itu “Saat kita meminta setangkai bunga, Tuhan bahkan memberimu sebuah taman agar kau bisa memilihnya. Namun yang terjadi, kau tetap merasa bingung dan berkomentar bahwa tak ada bunga yang paling indah sesuai keinginanmu.” 

Perempuan muda itu tertunduk malu pada tukang taman tua yang sederhana dan bijak ini. 

***

Terkadang yang diperlukan bukan sekedar melihat dengan keindahan mata saja, tetapi keindahan rasa. Jika kita tak pernah puas dengan apa yang sudah diberikan Tuhan pada kita, bagaimana kita bisa melihat bahwa hidup itu sejatinya indah. 

Dalam hidup, kita terlalu banyak menuntut padahal sesungguhnya kita sudah diberi apa yang diberikan Tuhan. Ingat, saat kita meminta setangkai bunga, Dia beri kita sebuah taman. Saat kita meminta kesabaran, Dia beri kita ujian. Bahwa sesungguhnya kita hanya bingung karena semua terlalu indah saat kita sudah melewatinya. 

Jadilah Terbaik Untuk Diri Sendiri, Bukan Orang Lain! 

Sumber foto: Dokumen pribadi.

Aku pejamkan mata saat aku ingat peristiwa itu. Oh Tuhan, aku sudah melakukan segalanya dengan sempurna. Apa yang kurang? Rintihku dalam hati. Tak terasa air mata menetes di pipi. Aku hapus air mata dengan kedua tanganku saat ibu menghampiriku. 

“Ada apa sayang?” tanya ibuku sambil membawa secangkir teh. Seperti biasa aku mampir sebentar di rumah ibu. Aku jenuh bekerja. Aku curi waktu kantor dan memanggil taksi ke rumah orangtuaku. Aku pikir ini cara terbaik untuk mengistirahatkan batin dan pikiranku. Aku lelah batin. 

“Tidak ada bu,” jawabku. “Aku hanya banyak pikiran akhir-akhir ini. Ibu tahu aku dapat posisi jabatan yang baru. Belum lagi masalah dengan suamiku di rumah. Dia terlalu banyak menuntut. Lalu anakku semata wayang ingin agar aku berhenti bekerja,”  keluhku pada ibu. “Aku lelah bu mengikuti semua” ceritaku lagi sambil memijit pangkal hidungku, saat aku mengernyitkan keningku. 

Apa bisa kita menampung semua masalah ini hanya seorang diri? Aku rasa tidak. Oleh karena itu aku datang dan berbagi cerita pada ibu. Aku juga rindu teh buatan ibu. Menurutku teh buatan ibu yang terbaik. Setelah aku bercerita, minum teh lalu dipeluk ibu maka aku akan merasa lebih baik. 

“Minumlah tehmu! Jika dingin, rasanya tak enak” kata ibu sambil menyodorkan secangkir teh padaku. 

Aku meminumnya seteguk. Ibu bertanya “Bagaimana rasanya?” 

“Ini akan selalu jadi teh terbaik di seluruh dunia bu,” seruku. Aku pun menuangkan pot teh dan meminum lagi lebih banyak. Rasanya nikmat sekali. 

“Aku membuatkan teh tanpa berpikir ini akan jadi teh yang terbaik untukmu, nak. Namun aku berusaha menyajikan teh ini dengan cara terbaik agar kau suka saat merasakannya.” Kalimat ibu meluncur bijaknya. 

Aku mengangguk. Kataku, “Nah itu, bagaimana menjadi yang terbaik dalam hidup. Aku sudah berusaha jadi yang terbaik buat atasanku sehingga aku dapat promosi pekerjaan. Aku sudah berusaha jadi ibu yang terbaik untuk anakku sehingga ia ingin aku tinggal bersamanya dan tidak bekerja. Aku juga sudah berusaha jadi isteri yang terbaik sehingga segala kebutuhan suamiku terpenuhi.” Aku menarik napas panjang. “Apa yang aku dapat dari menjadi yang terbaik untuk orang lain?” tanyaku pada ibu hingga air mataku menetes lagi. 

Ibu memberiku tisu. Aku hapus air mata yang menetes. 

“Itulah sebab kau akan selalu merasa lelah. Mengapa? Karena selalu berusaha jadi yang terbaik untuk orang lain, bukan untuk dirimu sendiri. Kau tidak menikmati hidupmu sesungguhnya. kau tidak menikmati peranmu sebagai ibu, isteri dan karyawan. Kau mengerti itu sayang?” tanya ibu. 

Aku mengangguk. Yup, aku hanya memenuhi ambisi orang lain jadi yang terbaik tanpa pernah memikirkan apakah aku bahagia menjalani ini semua. 

“Jangan pernah berusaha jadi yang terbaik untuk orang lain! Jadilah diri sendiri sudah cukup yang terbaik dalam hidup ini!” seru ibu. Ibu lalu menjelaskan bahwa menjadi yang terbaik tidak akan pernah terpuaskan. Melakukan dengan cara terbaik adalah cara mujarab untuk menyempurnakan hidup di dunia ini. 

“Tiada teh terbaik di dunia tanpa pernah kau membuat dengan cara terbaik dan merasakannya. Begitu pun hidup ini, nak. Rasakan bagaimana kau sudah melakukan cara terbaik untuk semua itu,” kata ibu lagi. 

Jadi menjalani hidup yang terbaik adalah menjadi diri sendiri.

“Bahagia itu saat kamu tahu bahwa kamu sudah jadi yang terbaik untuk diri sendiri” tegas ibu sambil menarikku dalam pelukannya. 

Ibu benar. 

Dipeluk ibu membuatku nyaman sesaat dan damai. Adakah ibu terbaik di dunia ini tanpa pernah melakukan cara terbaik dan merasakan kasihnya? 

‘Buat Orang Lain Bahagia itu Baik, Tapi Lebih Baik Kamu Juga Layak Bahagia’

Sumber foto: Dokumen pribadi.

Aku terdiam sejenak saat ia mengatakan bahwa hubungan kami tidak bisa berlanjut. Oh Tuhan, aku baru mengenalnya kini ia ingin memutuskannya segera. Entah apa yang ada di benak pria itu. 

“Dengar Anna. Aku tak mungkin melanjutkan hubungan ini. Kau terlalu baik untukku,” katanya. 

Bagaimana mungkin ia mengatakan itu setelah aku jatuh cinta padanya. Dulu ia memujaku bak seorang ratu. Aku bahkan tak peduli ketika ia berusaha mendekatiku. Aku tak menyangka dua tahun kami sudah bersama sebagai sepasang kekasih. 

“Anna, aku hanya tak bisa membahagiakanmu. Jalan impian kita berbeda, dunia kita berbeda.”

Aku tetap diam seribu bahasa. Aku bingung. Perasaanku bercampur aduk. Bahagia karena aku kini jatuh cinta dengannya. Senang karena aku diterima bekerja di negeri antah berantah ini. Bangga karena aku bisa mengandalkan kekasihku tinggal di kota ini. Sedih karena ia saat ini memutuskan hubungan cinta kami. 

“Anna, aku pun tahu bahwa sesungguhnya kamu tak pernah mencintaiku. Kamu tak pernah mengatakan ‘I love you’ selama kita berpacaran. Kau bilang akan mengatakan itu saat kita menikah nanti. Kau ingat itu, Anna?” tanyanya padaku sambil ia mengguncangkan tubuhku. Aku tetap diam. Tetapi aku juga bingung. 

Apakah dia lebih mementingkan kalimat ‘I love you’ ketimbang perasaan cintaku yang kini bersemi karena kebaikan dan ketulusan nya? Lalu mengapa ia memutuskan hubungan kami? Cinta ini benar-benar rumit. 

“Aku bahagia bersamamu, Anna. Kau bagaikan malaikat yang mengajariku cinta. Hanya saja aku sadar dunia kita berbeda. Kita tak mungkin bersama.” Dia menggenggam kedua tanganku dan matanya terlihat rapuh. Lagi-lagi aku bingung. 

Apakah cinta itu mengajari kita untuk hidup dalam dunia berbeda? Lalu buat apa mencintai jika kita tak bisa melengkapi satu sama lain karena dunia yang berbeda? Dia memelukku erat. Aku diam dan tak bisa menangis sewajarnya. 

Jika aku sedih, aku mudah menangis bahkan bila aku teringat keluargaku di Indonesia. Aku menangis padanya. Kini saat aku sedih hendak ditinggalkannya, mengapa aku tak bisa menangis? Ada apa denganku? 

Memang benar orang bijak berpesan. Bagi dunia, kamu hanya seorang tetapi bagi seseorang, kamu adalah dunianya. Hanya dia duniaku sekarang. Aku tak punya siapa-siapa di negeri asing ini. Keluargaku di Indonesia. Apa yang terjadi dalam hidupku tanpa dia di sini? 

Jika dia bahagia denganku, mengapa ia memutuskan hubungan indah ini? Apa alasannya? Dunia yang berbeda adalah omong kosong. Aku sangat mencintaimu. Aku bahkan berjanji bahwa pria ini akan jadi yang terakhir berlabuh di hatiku. 

“Aku yakin kau akan bahagia menemukan belahan jiwamu,” katanya sambil mengusap rambutku. Belahan jiwa? Kalimat apa ini. Apa beda cinta dengan belahan jiwa? Aku jadi ingat perkataan temanku. Bahwa kau bisa jatuh cinta berkali-kali tetapi belahan jiwa itu hanya datang sekali. Apakah itu berarti bukan dia belahan jiwaku? 

Aku tetap bingung dalam kebisuanku. Ia pun melepaskan pelukannya. Apakah aku rela melepaskannya seperti rela melepaskan mimpiku bersama dengannya? Mengapa ia tidak memperjuangkan hubungan kami jika ia mencintaiku? Kata ibu, cinta itu perjuangan. 

Bila cinta adalah perjuangan maka berarti butuh pengorbanan. Aku berjanji akan mengorbankan mimpiku, tetapi mengapa ia tidak memperjuangkan cinta ini? 

Aku melihatnya mengepak pakaian dan barang miliknya. Sepertinya ia benar-benar menyiapkan perpisahannya. Ia sudah membawa kopernya. Aku pun tetap tak bisa berkutik. Apa aku perlu mengemis agar ia tidak meninggalkanku? 

“Semoga kau bahagia Anna! Semoga kau segera menemukan belahan jiwamu! Maafkan aku!” katanya lirih sambil mengangkat tangan melambai di depan pintu. Aku pun melihat dengan tak merespon sepatah kata pun. Inikah akhir sebuah cinta? 

Terkadang cinta memang tidak ditakdirkan untuk seorang pengecut atau pecundang. Mereka yang benar-benar memiliki cinta untuk hidup bersama adalah mereka yang berani, termasuk berani berkurban. 

Aku mengusap tangis di pipiku. Aku mendengar bunyi SMS di ponselku. Lagi-lagi dia mengirim pesan. Aku baru saja berencana untuk memblokir nomor dan namanya.

‘Membuat bahagia orang lain itu baik, Anna. Tetapi lebih baik kamu layak bahagia juga. Terimaksih untuk kebersamaan kita selama dua tahun’ 

Aku pun hanya membaca dan tak ingin membalas pesannya. Untuk apa? Setidaknya aku sudah hadir dalam hidupnya dan membuatnya bahagia. Rupanya dia paham bahwa aku belum bahagia bersama dengannya. 

Jadi Orang Baik, Rahasia Panjang Umur Oma Isabel


Jadilah manusia yang berguna setidaknya tidak berbicara buruk dan menyakiti orang lain! 

Demikian kalimat bijaksana meluncur dari seorang perempuan tua yang sudah melewati seabad usianya. 102 tahun, wow! Aku terkejut sekaligus kagum padanya. Ditemui di panti jompo, nenek yang bernama Isabel itu tampak asyik menekuni pekerjaan merajut yang jadi hobinya beberapa tahun belakangan ini, kata suster yang sering merawat nenek itu.

“Oma, apa kabar?” tanyaku.

“Puji Tuhan, aku baik-baik saja. Terimakasih kau sudah mengunjungiku di sini” sapanya sambil menggenggam kedua tanganku dengan hangat.

Aku berikan bingkisan seperti yang diminta kepala perawat padaku. “Jika kau ingin mengunjungi Oma Isabel, bawakan saja seperangkat benang rajut. Dia pasti senang,” kata kepala perawat lewat telpon saat aku bertanya soal kunjunganku.

“Apa ini, Anna?” tanya nenek. Aku diam dan membiarkan tangan rentanya membuka bingkisan yang kuberikan. Sambil berjalan perlahan, ia menuju sofa di ruang tamu panti. Aku berjalan mengikutinya.

“Wah, kau baik sekali Anna!” serunya. “Suster kepala pasti bercerita padamu soal hobiku merajut. Aku memang sedang mengumpulkan baju-baju rajut buatanku. Sudah tiga tahun aku kumpulkan. Aku ingin menyumbang baju hangat untuk anak-anak panti asuhan.”

Sambil duduk dia memeriksa benang rajut yang aku berikan. Aku bingung mau berbicara apa. Waktu kunjunganku tak lama. Suster perawat mengatakan Oma Isabel hanya bisa bertemu tamu setengah jam saja setiap hari. Saat aku bertanya alasannya, suster itu menjawab bahwa itu pinta oma agar waktunya lebih banyak digunakan untuk berdoa dan merajut.

“Dengar Anna, umurku sudah tinggal sedikit lagi. Tinggal Tuhan yang menentukan kapan aku bertemu denganNya. Aku hanya fokus pada kebaikan, kebaikan dan kebaikan,” katanya sambil tertawa renyah. Giginya pun sudah tak lengkap, termakan usia. 

“Apa rahasia Oma sehingga Oma masih terlihat fit sampai sekarang?” 

Tawanya terhenti. “Aku suka makan sayur dan buah. Aku juga suka berjalan kaki. Namun yang terpenting bukan itu. Aku ingin hidupku berguna bagi orang lain. Mungkin itu Tuhan menambah bonus hidupku” katanya sambil tertawa lagi. Tawanya yang renyah membuat pertemuanku tidak kaku seperti sebelumnya.

Penasaran aku dibuat oleh nenek yang sudah banyak makan asam garam kehidupan ini. Dibandingkan aku yang bukan siapa-siapa, nenek Isabel masih diingat orang dan populer justru karena kebaikannya. Dulu ia punya rumah mewah bak istana, pegawai yang banyak diperkerjakan pada industri rumahannya dan dipuja banyak pria karena pesona kecantikannya. Hidupnya banyak didekasikan bagi kemanusiaan, namanya sering dimuat di berbagai media. Namun kini di usia senjanya, ia tidak memiliki apa pun hanya tinggal di panti jompo milik pemerintah.

“Bagaimana caranya agar hidup ini berguna bagi orang lain?” tanyaku. 

“Menjadi manusia yang berguna setidaknya tidak berbicara buruk dan menyakiti orang lain. Itu sudah cukup,” sahut Oma Isabel. “Dari dulu aku hidup sendiri, tidak menikah agar hati dan perhatianku tidak terbatas. Aku cinta banyak orang dan aku milik mereka juga.”
Dalam hatiku berbisik apakah tetap melajang jadi rahasia umur panjang?

“Tidak Anna” kata nenek. Dia seperti membaca hatiku. “Hidup itu pilihan. Aku hanya memilih untuk hidup sendiri. Kau pikir hidup sendiri itu tidak ada masalah?” tanya nenek. “Hidup itu anugerah. Hidup menjadi bermasalah ketika kita memikirkan pendapat orang lain atau apa yang orang lain katakan tentang kita.”

Aku mengangguk setuju dengan kalimat nenek barusan. What others think of you is none your business. Ngapain susah memikirkan pendapat orang lain, batinku.

Tak terasa waktu berlalu hampir mendekati tiga puluh menit. Pertemuanku hampir usai bersama nenek yang berusia seabad ini. Di usianya yang renta, ia masih berupaya berbuat kebaikan dengan membuat baju hangat rajutan untuk anak-anak.Tampak suster perawat nenek datang membawa kursi roda.

“Nah Anna, teruslah berbuat baik! Kebaikan akan selalu mengalirkan kebaikan hingga kau berusia tua nanti. Memang baik menjadi orang hebat, namun lebih hebat lagi jika kau bisa menjadi orang baik. Setiap hari” pesan Oma Isabel padaku sambil menepuk-nepuk bahuku. 

Aku tertegun. Lalu aku melihat nenek sudah berada di kursi roda. Perjumpaan yang singkat namun berkesan. 

Aku menghampiri Oma Isabel. Aku memeluknya. Aku berbisik, “Terimakasih Oma” dan dia memelukku hangat. “Hidup ini seperti buku dimana setiap lembarnya selalu berisi perbuatanmu dan orang-orang yang kau temui. Di akhir buku hidupku, aku bertemu engkau Anna. Terimakasih Anna!” ujar nenek. Aku melihat matanya berkaca-kaca. 

Ia seperti memberi tanda pada suster perawat. Suster mendorong dan membawa nenek menjauh dariku. Nenek terlihat menoleh, tersenyum dan melambaikan tangan.

Beberapa pekan setelah kembali dari Italia, aku mendapati pesan di hapeku. Teman kursus bahasa Jerman yang menjadi host saat aku di Italia mengirim pesan singkat. ‘Anna, wie geht’s? Oma Isabel sudah meninggal dalam damai’

Saya Bangga Warna Kulit Saya: “Ich bin eine exotische Frau”

Sumber foto: Dokumen pribadi



“Kami punya perawatan lulur dan massage whitening terbaik. Apa ibu mau coba? Itu favorit di salon kami,” kata kasir  saat saya menyambangi salon kecantikan di suatu kota di Indonesia. Aduh, mengapa mereka yang duduk jadi kasir berpikir wanita dengan warna kulit seperti saya akan pilih whitening untuk perawatan kulit? Ini bukan kejadian pertama kali saya dianggap akan coba produk whitening. 

Saya yang mendengar pertanyaan kasir langsung geleng-geleng heran. Si kasir pun menambahi, “Banyak salon lain yang pakai produk whitening palsu. Di sini pastinya tidak. Asli. Super whitening lebih mahal tetapi langsung kelihatan hasilnya. Mau coba?”  Kasir menunjuk krim whitening dan harga perawatannya.Karena habis berlibur di pantai, perempuan biasanya ingin memutihkan kulitnya kembali, pikirnya.

Dengan sewot saya bertanya, “Mengapa ibu berpikir saya perlu perawatan whitening?” Jawabnya “Karena banyak perempuan kepengen kulit putih.” Saya balas lagi, “Oh ya? Saya tidak ingin bu. Saya suka warna kulit saya. Suami saya apalagi,” Selang tak berapa lama, suami saya masuk membawakan plastik isi sampo dan vitamin rambut yang tertinggal di mobil.Kasir tadi langsung tersenyum menyanjung, “Oh beruntung sekali ibu. Mari silahkan naik ke ruang perawatan lantai atas!”

Saya tidak tahu maksud kalimat si kasir dengan mengatakan “beruntung” saat saya jelaskan kalimat, saya suka warna kulit saya atau saat dia tahu suami saya. 

Sambil mencoba perawatan lulur dan pijat tradisional, saya adakan tanya jawab dengan terapisnya. “Mbak, memang banyak perempuan yang datang untuk program whitening?” Perempuan muda yang sudah bekerja setahun tersebut, menyahut “Banyak bu. Padahal kulitnya sudah putih. Katanya biar disayang suami” Sementara tangannya sibuk menaruh krim lulur ke tubuh saya. Sambil dipijat-pijat dia bilang “Kalau kulit kita putih penampilan jadi lebih menarik. Kayak di tivi itu, bu” Gubraks!

Jadi ini alasan sebagian perempuan ingin gunakan produk whitening. Apakah perempuan berkulit putih identik dengan cantik? Pastinya tidak. Cantik tidak ditentukan dengan warna kulit. Jangan tergoda figur publik seperti artis atau model iklan yang kebanyakan berkulit putih! Berkulit putih tidak selalu identik cantik. 

Saya bangga dengan warna kulit saya. “Ich bin eine exotische Frau” kata saya dalam bahasa Jerman. Saya adalah seorang perempuan eksotis. Saya tidak perlu berjemur untuk tanning atau solarium. Apa itu? Teknik menggelapkan kulit. Jika anda berkulit seperti saya, hayo sehatkan kulit kita! Bukan putihkan kulit.Plus jangan malu karena warna kulit yang berwarna!

Ingat loh!! Untuk teknik menggelapkan kulit, mereka perlu bayar mahal. So, bersyukurlah kita dengan kulit sehat ini! Jadi diri sendiri saja cukup. 

Setelah selesai perawatan dan hendak bayar di kasir, saya cek harganya jadi lebih mahal. “Loh, kok harganya segini bu?” tanya saya pada kasir. Kasir yang pertama sudah pergi, kasir sekarang sudah berbeda orang. Berbeda shift rupanya. “Iya, benar segitu bu” kata kasir itu. “Karena ibu ‘kan memilih perawatan whitening ya,” jelasnya. Gubraks! Rupanya susah mengubah mindset jika perempuan berkulit seperti saya ujung-ujungnya ingin perawatan whitening, pemutih kulit. Hadeuh!

Tertawa….

Ketika Tuhan Hanya Mempertemukan, Tidak Mempersatukan

Sumber foto: Dokumen pribadi

Bagi anda yang sudah menikah pernahkah terbayang pertanyaan, mengapa saya tidak menikah dengan si anu malah dengan si dia yang sekarang jadi pasangan hidup? Pernahkah merefleksikan bahwa mengapa Tuhan mempertemukan saya dengan anu? Atau mengapa saya tidak bertemu dengan si dia, pasangan hidup saya sekarang sedari awal? Tentu pertanyaan ini juga bisa muncul, mengapa Tuhan mempertemukan saya dengan mantan-mantan pacar saya, namun tidak mempersatukan saya dengannya.
Lalu mengapa hal itu terjadi?

Cinta adalah sebuah kata, namun hanya seorang yang tepat yang dapat memberikan makna. Bisa jadi mantan pacar anda sudah mengatakan berulang kali kalimat “I love you” pada anda, namun kalimat itu belum menunjukkan makna cinta yang sesungguhnya anda harapkan. Iya, kan??

Saya pernah dilamar oleh seorang pria saat usia saya masih 17 tahun. Untungnya saya menolak lamaran tersebut, mengapa? Usia saya masih terlalu muda untuk menikah. Saat itu yang saya pikirkan hanya bagaimana bersekolah dan meraih masa depan. Saya berpikir pula pria yang melamar saya hanya balas budi atas kebaikan orangtua saya. Jadi mengapa saya tidak menikah saat itu juga? Karena saat itu menurut saya bukan hal yang tepat untuk menikah. 

Pernahkah anda mengalaminya, merasakan bahwa ini bukan saat yang tepat menuju ke tahap berikutnya? 

Wajar pula bilamana ada seorang pria atau wanita yang sudah menjalin kasih dengan anda sekian lama, memilih “lari” atau “menghilang” ketika ditanya komitmen untuk tahap selanjutnya. Mungkin dia juga merasa saatnya belum tepat. 

Bagaimana justru anda sudah merasa “saat yang tepat” untuk menikah, namun belum juga berjodoh? Usia anda sudah cukup matang, misalnya. Tabungan anda cukup. Atau, karir anda sudah mapan dan punya penghidupan yang layak. Namun dimana jodohnya? Atau, kok saya belum menemukan orang yang tepat.

Di saat yang tepat, bisa jadi anda belum menemukan orang yang tepat.

Ibu saya pernah berkata, “Ada sekian pria menyatakan cinta padamu namun tidak ada satu pun yang berani meminangmu.” Di sini akhirnya saya menyadari mengapa cinta hanya sebuah kata namun perlu kehadiran seseorang yang mampu mewujudkannya. Lagi-lagi soal kesadaran. Semakin anda beranjak dewasa, anda belajar bahwa cinta itu tidak mudah dipraktikkan. 

Anda sadar bahwa perlu seseorang yang terbaik untuk hidup anda. Akhirnya, tentu bukan mantan pacar anda. Jika anda sudah menikah sekarang ini, pernahkah anda menyadari mengapa anda perlu menunggu orang yang tepat di saat yang tepat? Finally, you have found the right man in the right time.

Hanya anda yang tahu bahwa dia adalah orang yang tepat. Bagaimana mengenalinya? Meski sejuta tips disajikan, hanya intuisi anda yang membenarkan bahwa dia adalah pasangan yang tepat. 

Ketika Tuhan mempertemukan anda dengan pria/wanita yang jadi mantan anda, itu artinya lewat mereka anda belajar cinta yang sesungguhnya. Namun ketika Tuhan mempertemukan anda dengan orang yang tepat, maka berarti kesungguhan cinta perlu diwujudkan. 

Di saat yang tepat, cinta akan menunjukkan orang yang tepat untuk memberi maknanya.

Coffee Morning in December: Pink and Blue

blog5One day in the morning, he invited me to come in coffee morning at cafe near my apartment. Honestly, this is not my style to drink coffee in the morning. I am tea addicted actually. Okay, I respect his invitation after he says “Having coffee morning is a perfect idea in beginning to know you in real.” Oh Gosh, it was so romantic idea. But again I never drink coffee in the morning.

We are two who haven’t yet met before. We just known each other through online chatting since two years ago. We thought we have chemistry to move next step. Yeah!!!! we are online lover, unknown in reality. Although we can not speak English, but we tried to explain everything as well. He comes from somewhere in Europe.

“Good morning Anna! Thanks for coming,” said him. He gave me a chair in front of him. He wears elegant clothing.

“With my pleasure, December. You’re looking good.” I am doubtful to say my first statement. I am worried he dislikes since meeting first time.

I feel my heart beating more faster when we sat together. What happened? Damned, I think I am falling in love again.

He stares my eyes then touching my hands. He asked me, “Would you be my girl, Anna?”

I am wondering when he said that. My face feels blushing on. I forget my coffee for a while. My minds is flying happy to get heaven.

December brought a such a happiness of my life once in the morning. I am thinking that I was not being single anymore.

***

People said life begins from coffee. This is true. After that I have got clue, he gone. I figure out heart attack hit him. For the first time we met then never come back again.

Lovely coffee morning made me so pink and blue. This is not story about coffee, but empty love. It happened virtually love, in reality not so good. Love came to December and me. I wish this is the last one.

That is a reason why I am being single now. I told my December to a friend of mine. She reminds me, “Do not try to forget someone whom you love, but try to get better.”