Jangan Pernah Menjanjikan Sesuatu yang Belum Jadi Milikmu!

image
Sumber foto: Dokumen pribadi

Jangan pernah menjanjikan sesuatu yang belum jadi milikmu! Aku membaca tulisan yang tertempel di dinding apartemen milik teman baikku ini. Kalimat tersebut terukir indah di sebilah papan berhias sebagai penghias dinding. Tulisan tersebut tampak menohok karena tepat berada di depan pintu. Siapa pun yang membukanya pasti akan langsung membaca tulisan itu.

Hebat tulisannya, bang. Seperti menyindir” kataku memecah kesunyian saat temanku lagi menyiapkan minuman di ujung dapur.

Dia pun tertawa.

Warum? Kau tak suka rupanya, An?” tanya temanku membawakan dua minuman hangat di tangannya. Abang langsung mengambil posisi duduk di sofa sebelahku. Ia meletakkan gelas minuman di atas meja lalu meraih cemilan di rak yang berada di atas meja.

Kein problem, bang” jawabku. Abang tersenyum. Aku jadi penasaran, pikiran yang melintas dalam benaknya. Terkadang kebijaksanaan muncul padanya. Lalu aku bertanya lagi, “Was denkst Du, bang?”

Dengar Anna! Aku bekerja di dunia marketing. Hampir setiap saat aku mendengar orang menjanjikan sesuatu jika ia berhasil dalam urusan dengan kliennya. Sebagian besar tidak ada yang berhasil mewujudkan janjinya padaku” jelas abang.

Mengapa begitu, bang?” tanyaku.

Mereka sibuk menjanjikan yang belum jadi milik mereka sehingga usaha mereka menjadi melemah. Itu hukum alam, Anna” jawab abang. “Saat kau obral janjimu, engkau sebenarnya terlihat murahan. Mereka yang punya integritas yang tinggi mampu membuktikan sesuatu tanpa perlu menjanjikannya di awal,” kata abang lagi.

Wah, pikiranku langsung merujuk pada politisi yang suka ingkar janji. Atau playboy yang membual manis pada perempuan yang tergoda janji manis.

Das ist Richtig, bang. Sepertinya abang benar. Mungkin aku juga suka berlaku begitu. Sangking bahagianya, aku ingin orang lain juga turut berbahagia, sehingga aku menjanjikannya pada mereka. Itu manusiawi ‘kan” timpalku.

Abang menarik nafas setelah menghirup kopi miliknya. Dia pun menyahut, “Kau tak punya kendali atas hukum alam dunia ini, Anna. Jika itu akan menjadi milikmu, kau tak perlu menjanjikannya untuk orang lain juga.” Aku mengangguk menyetujuinya.

Kau hanya punya kendali atas hidupmu. Tak usahlah kau berjanji jika segala sesuatu belum menjadi milikmu. Kau akan malu jika hal itu tidak jadi milikmu” kata abang sambil mengunyah cemilan di hadapannya.

Aku segera minum teh hangat itu. Aku tertunduk menyadari bahwa aku pernah berlaku seperti itu, menjanjikan sesuatu yang belum jadi milikku.

***

Kebanyakan kita merasa punya power untuk menjanjikan sesuatu pada orang lain. Padahal siapa lah kita? Jika kita ingin membuktikan sesuatu, tunjukkan dengan sikap dan perbuatan, bukan sekedar kata-kata. Wajar, jika orang tua menasihati bahwa manusia itu dipegang janjinya.

Tidak usah berjanji jika kau tahu bahwa itu belum jadi milikmu. Bijaksanalah dalam bergaul!!!

Advertisements

Apa yang Anda Pikirkan Tentang Masa Lalu?

image
Sumber foto: Dokumen pribadi

Rinai hujan turun di luar, aku duduk sore itu bersama ayahku di teras belakang rumah. Dia membawa kue coklat buatan Ibu dan sepoci teh manis hangat. Ia menuangkan teh itu dalam cangkirku.

“Ini buatmu, nak” katanya padaku. Aku mengangguk perlahan dan bergumam, terimakasih.

Sederet kalimat pertanyaan meluncur deras dari mulutnya, menanyakan pekerjaanku hingga kehidupanku yang masih melajang.

“Mau sampai kapan kau begitu, nak?” tanyanya. Aku diam sambil menyeruput teh yang masih panas.

“Sebenarnya aku lelah juga, Ayah. Aku tidak kuat juga,” kataku lirih.

“Dengar, nak! Menjadi orang yang kuat tak perlu memiliki badan yang kuat. Untuk menjadi perempuan kuat, cukup punya hati yang lapang untuk merasa kuat,” kata Ayah sambil menepuk bahuku. Rasanya aku ingin menangis di bahunya yang kokoh.

Masa lalu memang tidak untuk diratapi atau dikenang, tetapi rasa sakit hati itu masih belum sembuh.

“Jangan pernah menyalahkan orang lain yang pernah singgah di hatimu, nak! Bersyukurlah karena mereka sempat memberikanmu kebahagiaan bahkan pengalaman dan pelajaran berharga yang menurutmu buruk sekalipun.”

Kalimat ayah meluncur seolah-olah ia memahami kegundahanku.

“Bagaimana luka hatimu akan sembuh kalau kau tak memaafkan dirimu sendiri?” tanyanya.

Ternyata lebih mudah memaafkan orang lain daripada diri sendiri, batinku.

Belajarlah dari masa lalu agar lebih kuat” kata ayah. Katanya lagi, “Hidup akan lebih menarik bila disertai kejutan. Hidup sesungguhnya adalah hal-hal yang tidak diharapkan terjadi.”

Itu alasan kita menjadi kuat. Adalah masa lalu.

Cari Jalan Lain atau Pecahkan Batu Itu!

jalan.jpg
Sumber foto: Dokumen pribadi

Seorang anak muda bermimpi agar dapat melamar gadis pujaannya yang berada di seberang desa. Ia mendapatkan firasat bahwa gadis pujaannya tersebut memenuhi impiannya tentang pasangan hidup yang selama ini sudah dinantikannya. Gadis pujaannya itu tak lama lagi akan dipersunting pemuda lain pilihan orangtuanya sehingga pemuda ini ingin segera mendapati gadis itu.

Ia membawa serta ibunya, dengan harapan agar ibunya dapat melihat pujaan hatinya dan bersegera memberi restu.

Ibu, aku berpikir perempuan ini adalah takdirku,” seru pemuda itu kepada ibunya dalam perjalanan menuju desa seberang.

Apa iya, dia adalah takdirmu? Bagaimana jika nasib berkata lain?” sahut si ibu. Pemuda itu pun terdiam. Si ibu berkata lagi, “Nasib orang siapa yang tahu, nak.” Mereka pun meneruskan perjalanan kembali.

Pemuda pun memikirkan kalimat si ibu. Benar juga tidak ada yang bisa menebak nasib orang.

Ah, doa mungkin akan menjawab impianku. Sepanjang perjalanan pun, ia tidak henti-hentinya berdoa dalam hati agar Tuhan mempertemukannya dengan gadis impiannya. Gadis itu adalah mimpiku, Tuhan. Seru pemuda itu dalam hati. Tuhan pasti menjawab doaku, rintihnya dalam hati.

Di tengah perjalanan, mereka menemukan batu besar menghalangi jalan mereka menuju desa seberang. Mengapa rintangan muncul saat aku ingin meraih mimpiku, tanya pemuda dalam hatinya.

“Nak, apa yang akan kau lakukan agar kau bisa sampai ke desa seberang?” tanya ibu.

Pemuda itu terdiam sesaat.

Menurut ibu, apa yang seharusnya aku lakukan?” tanya pemuda itu kembali.

Kau hanya punya dua cara, pecahkan batu besar ini atau cari jalan lain,” kata ibu menjelaskan.

Tetapi semua butuh waktu, bu” kata pemuda itu.

Nak, dalam meraih impian semua memerlukan waktu. Jika dia memang adalah takdirmu, seberapa lama kau berjuang mendapatkannya maka niscaya akan menjadi milikmu. Nasib baik atau buruk ada di tanganmu, bukan sang waktu,” kata ibu.

Pemuda itu pun berpikir lagi. Jika dia memecahkan batu besar yang menghalangi jalan, setidaknya dia memerlukan waktu berhari-hari lamanya untuk bisa membuka jalan yang menutupinya. Dia pun mengambil kapak dan optimis untuk memecahkan batu.

Saat akan mulai membongkar batu, pemuda itu mengurungkan niatnya. Bagaimana jika gadis pujaannya sudah terlanjur dilamar orang karena ia terlalu lama memecahkan batu besar yang menghalangi jalan?

“Mungkin aku harus mencari jalan lain, bu” seru pemuda kepada ibunya.

Jika kau pilih jalan lain, bisa jadi kau akan menemukan takdir yang lain. Kau akan bertemu gadis lain yang bisa jadi membuatmu jatuh cinta melebihi gadis sebelumnya,” kata ibu. Ingatlah nak, setiap pilihan yang kau pilih ada konsekuensi. Kau ingin pecahkan batu besar itu tanpa tahu apakah impianmu masih tetap jadi milikmu. Atau, kau pilih jalan lain tanpa pernah tahu kemana jalan baru itu akan membawamu.”

“Aku sudah berdoa, bu” seru pemuda itu.

Ibu pun menyahut, “Manusia berencana, Tuhan yang menentukan.” Tambahnya lagi, “Jika batu besar menghalangi mimpimu, apakah kau akan pecahkan batu besar itu untuk meraih mimpimu atau pilih jalan lain untuk melihat peluang mimpi yang lain?” Pemuda itu tertunduk merenung. Ibu pun menegaskan sekali lagi, “Apa pun yang menghalangi jalanmu meraih impian, jangan biarkan kau diam lalu berteriak minta tolong! Jika jalan impian itu bebas rintangan, justru jalan itu tidak berguna.”

* Apa yang anda lakukan jika anda adalah pemuda tersebut?

 

Menikmati Perjalanan Dua Cangkir Teh

blog1.jpg
Sumber foto: Dokumen pribadi

 

“Berhentilah menilai, Nak. Apa yang kau lihat bisa jadi hanya persepsi. Bahkan apa yang baru saja kau dengar mungkin opini,” kata Ibu sore itu kala minum teh bersama.

“Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku bingung, Bu.”

“Ikuti kata hatimu. Itulah kebenaran yang sesungguhnya,” sahut ibu kembali.

Kami melanjutkan minum teh kembali. Suasana tiba-tiba menjadi hangat sesaat untukku. Suara pluit pelabuhan berbunyi nyaring, tanda kapal akan berangkat. Kami berdua asyik memandang kapal itu bergerak menjauhi pelabuhan. Suasana hiruk pikuk orang di sekitar kami mulai tak terdengar. Kafe yang kami tempati sudah sepi dengan pengunjung.

“Bu, seandainya ibu harus membawa biduk kapal. Kemana sebaiknya biduk kapal itu harus berlabuh?” tanyaku pada ibu memecahkan kesunyian.

“Nak, dalam biduk tangga tidak ditentukan kemana arah perjalananmu atau tujuanmu berlabuh melainkan dengan siapa kamu berjuang mengayuhnya,” sahut ibu.

Sambil melihat kapal pergi meninggalkan pelabuhan, ibu berkata, “Kadang kita begitu diberatkan dengan tujuan biduk rumah tangga padahal seberapa jauh kita berlayar akan terasa nyaman jika kita sudah mengenal siapa yang bersama kita ketimbang tujuan kapal itu berlayar.”

Oh kalimat meluncur dari mulut ibu begitu menyentuh.

Angin dan badai yang dialami dalam perjalanan justru membuat kapal itu pergi jauh bergerak, bukan diam di tempat. “Jika badai datang, terima itu sebagai bagian dari perjalanan. Biarkan badai dan angin datang membawa kapalmu. Itu adalah cara alam bekerja membantumu, nak” tegas ibu.

Impian di depan mata, kayuhlah kapalmu dengan percaya diri. Jika kau ragu, kau akan membingungkan si nahkoda kapal, orang yang bersamamu” kata ibu sambil menyelesaikan tegukan terakhir teh dalam cangkirnya.

Sesaat datang kapal lain berlabuh di lagi di dermaga. Kapal datang dan pergi seolah-olah perjalanan tak pernah berakhir.

“Hidup adalah perjalanan, nikmatilah nak” kata ibu sambil pergi membayar dua cangkir teh di sore hari.

“Hello, December. You Are The Last One”

blog5  

Angin dingin dan salju lebat turun saat itu, dia meninggalkanku sendiri. Entah apa yang ada di benaknya, aku seorang diri di negeri orang. Tak punya hati, bagaimana mungkin aku dibiarkannya menjalani ini semua.

Oh Tuhan, desahku. Biarkan ini yang terakhir untukku, pintaku.

Benar, kadang kita bisa mencintai tetapi belum tentu memiliki.

“Anna, I can’t. People come and go in your life but the right ones will always stay. I am not the right one, Anna” katanya dalam bahasa Inggris terbata-bata.

“Es tut mir leid. Wie bitte” sahutku memintanya mengulang kalimat yang baru saja meluncur dari mulutnya.

Dia menciumku dan pergi. Tanpa kata dan penjelasan, aku terpojok di sudut flatku sementara di luar salju begitu menusuk. Aku perbesar tekanan pemanas ruangan.

“Oh God, I am tired. Why it happened again?” teriakku dalam keheningan malam itu.

****

Matahari menyeruak masuk ke jendela flatku. Aku bisa merasakan hangatnya mentari meski salju menutupi pemandangan di seberang sana.

Suara dering telpon berbunyi. Aku sampai lupa dimana aku meletakkannya.

“Hallo” sahutku.

“Anna”

“Wer ist das?”

“It’s me, Anna. Look, I just make sure that you are fine now,”

“Alles gut in hier. Warum?”

“Oh sehr schön. One day you will find your soulmate. I am sorry. How do I say that I am not the last for you.”

****

Desember, kau adalah yang terakhir.

 

Jika Anda Pernah Gagal, Mungkin Anda Perlu Ubah Caranya

the key of successSatu bulan lagi, tahun akan berganti. Tidak terasa perjalanan yang sudah dilalui, hari demi hari, bulan demi bulan dan kini sudah di penghujung tahun. Kira-kira apa yang sudah dicapai dari niat dan harapan yang kita lambungkan di awal tahun? Adakah yang tak tercapai? Mengapa tidak tercapai?

Siang itu, aku menelpon abang dengan skype. Dia sedang ada di negeri Paman Sam menghadiri acara kantor. Dia punya waktu tiga puluh menit untuk berbicara.

“Hallo Bang, how are you there?” tanyaku pada abang.

“I am fine. How about you both?” sapanya kembali.

Dari wajahnya, ia terlihat lebih gemuk dari saat terakhir aku melihatnya. Musim dingin bisa jadi membuatnya malas olahraga tetapi lebih sering makan.

“Bang, you look good. What is your secret?”

Dengan penampilannya yang formal dan gaya rambutnya yang berbeda, aku melihatnya lebih baik. Ia kenakan dasi dan jas safari. Rambutnya tidak sepanjang dulu. Ia terlihat lebih rapi.

“How do you think, Anna?”

Menurutku, abang terlihat sukses dibandingkan tahun lalu. Lebih satu tahun telah berlalu saat aku bertemunya terakhir di München, Jerman.

Apa rahasia sukses abang? Kali ini pertanyaan itu aku lontarkan.

Dia arahkan kamera itu padaku. Di layar monitor muncul wajahku. Apa maksudnya?

“What do you mean? Don’t understand!”
Apakah aku adalah rahasia suksesnya? Bukan.

Abang bilang begini, jika ada yang bertanya rahasia kesuksesan maka ambillah cermin.

Kebanyakan dari kita selalu berpikir bahwa kesuksesan hanya milik segelintir orang. Tidak, sukses milik semua orang.

“There is no secret of success in this world,” kata abang.

Jika ada yang tidak tercapai di tahun ini, bukan berarti kita tidak sukses. Jika kita mengalami kegagalan, tidak serta merta kita tidak sukses juga.

“Make it happen in your life, Anna. If it’s meant to be, it will be,” hardiknya padaku.

Damned! It is true.

Rahasia sukses itu tidak ada. Ulangi kegagalan dengan cara yang berbeda untuk meraih sukses. Ingat, mereka yang sukses itu pernah gagal.

Jika anda pernah gagal, mungkin anda perlu mengubah caranya agar berhasil.

“Never give up and keep stepping ya!!!”

Gelas Setengah Kosong

image
Sumber foto: Dokumen pribadi

Sebuah seminar diadakan oleh seorang dosen bijak tentang materi awal perkuliahan. Dosen senior dengan rambut putih dan kacamata nyentriknya menyentak mahasiswa yang berjumlah dua puluhan kala itu. Jika mendengar namanya saja, seluruh penghuni kampus tahu bahwa ia adalah dosen yang lebih banyak mengajarkan kehidupan dibandingkan keilmuan.

Terkagum mahasiswa padanya, suatu kali ia mengawali kuliahnya dengan berkata, “Kebanyakan sekolah mendidik kita untuk mempersiapkan ujian sekolah, bukan ujian kehidupan. Pada praktiknya, kita belajar mempersiapkan masa depan bukan hanya nilai akademis saja.”

Suaranya yang terpatah-patah karena usianya yang sudah renta, tak menyurutkan semangat mahasiswa untuk mengambil mata kuliahnya. Aku pun menjadi bagian dari mahasiswa yang tertarik dengan gaya dan kepiawaiannya itu.

Di hari pertama kuliah, ia membawakan kami segelas air putih. Ditaruhnya gelas itu di atas meja, di tengah podium dan di hadapan kami semua. Semua mahasiswa bisa melihatnya. Ia pun mulai melihat ke sekililing kelas, satu per satu dipandanginya seluruh mahasiswa.

Apa yang kalian lihat di atas meja ini?”tanyanya pada seluruh mahasiswa.
Ia menatap pria berbaju kotak-kotak putih hijau. Pria yang merasa ditunjuk pun seperti siap menjawab.

” Segelas air putih, Prof” kata pria itu.

Dosen itu hanya termangut-mangut dan mencari lagi mahasiswa lain untuk menjawab.

Gadis yang duduk di pinggir dan berambut pirang pun langsung menyahut lantang, “Segelas air putih penuh.”

Kembali dosen tampak termangut-mangut memahami gadis pirang tersebut. Seorang pria berkacamata dan bertubuh tambun, seperti terlihat dari India pun segera mengacungkan jari.

“Prof, menurut saya adalah gelas kosong. Tidak penuh.”

Lagi-lagi dosen bijak itu termangut-mangut mendengar jawaban tersebut. Dosen tua itu segera mengambil teko berisi air putih dan menuangkan ke dalam gelas. Air putih memenuhi gelas dan luber hingga ke meja.

***

Ini yang bisa aku petik dari awal kuliah itu. Jika kamu menganggap di awal adalah gelas penuh maka kamu akan sulit menerima, karena kamu sudah merasa cukup. Kamu bisa jadi sombong, merasa ahli dan mampu sehingga jika ada ilmu baru yang datang maka kamu sulit menerima. Padahal apa yang ada padamu hanya setengahnya saja, tidak utuh atau tidak penuh.

Bayangkan bahwa kamu bisa menjadi seperti gelas kosong yang siap menerima apa pun yang mengisi dirimu dengan ilmu. Meski kamu sudah terisi namun tidak penuh, tetapi kamu masih merasa perlu untuk ditambahkan padamu.

Belajarlah rendah hati meski kita sudah merasa berisi (setengah gelas air). Dengan demikian kita selalu menyadari untuk menerima ilmu yang datang. Sekecil apa pun yang ada, kehidupan ini adalah suatu pelajaran berharga dan bermakna. Meski itu salah, gagal, rusak dan tak berguna, semua itu akan mengarahkan pada kebenaran. Bukankah untuk menemukan kebenaran berawal dari kesalahan? Bukankah untuk menemukan keberhasilan harus melewati kegagalan?

Biarkan gelasmu setengah kosong…

Arti Mimpi tentang Jodoh


Apa yang kau cari sedang mencarimu. Konsep jodoh.

Aku datang tergopoh-gopoh menuju meja kerjaku. Aku datang terlambat. Aku menundukkan kepala dan cepat-cepat meraih laptopku untuk mulai bekerja. Aku lihat kanan kiri, rekan kerja sekitar seperti asyik dengan pekerjaannya. Oops, tidak dengan Ratna, si sekretaris bos yang tahu aku datang terlambat ke kantor. Dia tersenyum mengejek. Aku balas dengan tatapan mata meledek.

Aku berjalan ke pantry hendak membuat teh. Aku pikir ini akan membuatku tenang. Aku masih kepikiran mimpi semalam. Huh! Aku mengaduk gula dan seduhan air teh sambil pikiranku berputar mencari tahu, apa arti mimpi semalam.

“Dorr! Datang terlambat ya?”seru Ratna mengagetkan aku saat menikmati teh di pantry.

“Iya neng, aku bangun terlambat” sahutku padanya.

Ratna mengambil kursi dan mendampingiku minum teh. Ah, mungkin Ratna tahu arti mimpi semalam. Dia ‘kan punya rasa ingin tahu yang tinggi, jadi jika dia tidak tahu, maka ia akan cari tahu arti mimpiku semalam.

***

Makan siang tiba, sengaja aku ajak Ratna untuk makan bersamaku. “Kali ini aku yang traktir, tidak usah khawatir” seruku pada Ratna meyakinkan.

Kembali topik makan siang saat itu soal mimpiku semalam. Aku ceritakan detilnya. Awalnya Ratna menebak arti mimpi itu adalah pertanda seseorang akan datang sebagai jodoh. Tetapi dia belum yakin. Dia buka hape dan cari tahu makna mimpiku semalam.

“Iya benar. Semua laman yang aku kunjungi mengatakan bahwa kau akan bertemu jodoh. Bila warna putih berarti jodoh itu seperti malaikat yang baik hati” kata Ratna menyatakan arti mimpi sambil sesekali matanya melirik layar hape.

Jodoh. Arti mimpi semalam. Aku tidak berpikir demikian. Saat ini aku hanya ingin meraih mimpi untuk mengejar kuliah dan mendapatkan gelar pendidikan yang lebih baik. Aku ingin terbang menuju negeri impianku. Bukan jodoh. Apa pula arti mimpi semalam? Inikah petunjuk Tuhan.

***

Ibu datang mengunjungi kamarku. Sekali lagi aku ingin meyakinkan arti mimpiku semalam. Aku bertanya lagi. Jawaban ibu tetap sama. Jodoh. Aku tidak menginginkannya saat ini meski aku membutuhkan pasangan hidup mengingat usiaku yang tak lagi muda.

“Dengar Nak. Jodoh datang saat kamu sedang tidak mengejarnya. Disitulah jodoh datang menghampirimu” kata ibu dengan lembut mengusap kepalaku.

Memang aku dengar malah mereka yang terlalu mengejar ingin segera menikah, seperti Ratna misalnya, tak pernah kunjung datang.

“Tetapi siapa jodohku, bu? Pria yang aku inginkan pun kini pergi meninggalkanku” sanggahku pada ibu.

“Kadang Tuhan mengirimkan jodoh bukan seperti yang kau inginkan, tetapi seseorang yang kamu butuhkan” kata ibu sekali lagi sambil menutup pintu kamarku.

Jodoh. Arti mimpi. Apa yang kita butuhkan sesungguhnya lebih bermakna ketimbang seribu keinginan.

Cinta dalam Secangkir Kopi Panas

image
sumber foto: dokumen pribadi

“Ayo diminum kopinya. Kalau dingin, rasanya gak enak,” kata ibu penjual warung kopi membuyarkan lamunanku. 
Slurput. Aku meminumnya seteguk sambil menghisap rokok di tangan kananku. “Kalau ngopi, harus merokok juga ya, nak?” Aku bingung jawabnya.

Aku rapikan rok mini yang sedikit terlipat akibat posisi duduk. Aku ambil kaca yang sudah retak untuk lihat warna lipstikku. Aku khawatir rokok membuat bibirku terlihat hitam.

“Semua habis berapa, bu?”

“Tiga ribu”

Sambil mengeluarkan uang dua ribu, aku berusaha merogoh recehan seribu rupiah, ibu tua itu menarik tanganku.

“Tinggal dulu di sini kalau urusannya belum jelas” kata ibu tua itu.

Ibu tua yang tidak tahu apa yang aku rasa. Kepedihan karena lelakiku yang pergi berkhianat. Kemiskinan sehingga aku tak punya apa-apa. Nasib pula yang menyebabkan aku yatim piatu dan tanpa siapa-siapa di dunia ini.

“Tinggal dimana, Nak?”

Aku diam. Aku bingung menjelaskannya. Aku tak punya tempat tinggal. Aku sebatang kara karena lelakiku itu.

“Hidup itu sudah susah, jangan dibuat susah toh. Gak usah dipikir,” sambung ibu tua itu sekali lagi. Dia seolah membaca raut muka dan kesedihanku. Tak ada yang peduli. Hanya rokok dan kopi yang menemaniku. Kini ibu tua itu begitu peduli padaku.

“Jika lelaki itu pergi mengkhianatimu, pergilah kamu dengan melupakannya. Apa pun yang hidup berikan, tidak ada yang abadi. Apa yang kamu genggam, suatu saat akan lepas juga.”

Aku mengiyakan. “Apa maksud ibu?”

“Sebagai perempuan kita harus pintar memberi kehangatan pada orang yang kita cintai. Kopi yang hangat paling nikmat untuk diminum. Rokok yang menyala paling nikmat untuk dihisap. Begitupun cinta. Jangan biarkan padam apalagi dingin dan mati.” Pernyataan ibu tua itu menusuk sanubariku. Yups, cintaku sudah dingin dan padam hingga lelakiku berkhianat padaku.

Berikan kehangatan untuk cinta. Besi yang kuat pun akhirnya meleleh mengikuti kehangatan api.

Kaffee und Liebe schmeckt heiss am besten

Apakah Cinta itu Ada?

Perbincangan suatu sore antar suami isteri seperti dikutip di bawah ini:

image
1 Korintus 13:4-8. Sumber foto: Dokumen pribadi

Isteri: Mengapa kamu mencintaiku, mas?

Suami: Mengapa kau bertanya begitu?

Isteri: Aku hanya ingin tahu apa alasanmu mencintaiku.

Suami: Dik, aku tak punya alasan apapun untuk mencintaimu.

Isteri: Mas, aku hanya ingin tahu mengapa kita menikah dan hingga kini terus bersama.

Suami: Dik, aku menikahimu karena aku mencintaimu. Tidak ada alasan mengapa aku mencintaimu karena tidak bisa dijelaskan. Hanya bisa dialami.

Isteri: Apakah itu berarti cintamu padaku begitu besar, mas?

Suami: Cinta yang sesungguhnya itu tanpa ukuran dan tanpa syarat. Cinta adalah nama istilah, sedangkan yang kau butuhkan adalah tindakan atau perwujudan cinta itu.

Isteri: Aku mencintaimu, Mas. Aku membutuhkanmu. Apakah kau juga begitu?

Suami: Aku mencintaimu juga, Dik. Kau membutuhkan diriku, cintaku atau apanya?

Makin bingunglah isteri menjawabnya. Cinta memang tidak bisa didiskusikan. Tidak ada alasan mengapa kau jatuh cinta. Cinta juga tidak perlu dipamerkan atau ditunjukkan.

Kata suami sekali lagi, “Kau tak perlu membuktikan kepada dunia bahwa kau mencintaiku, Dik. Buktikan pada dirimu sendiri bahwa cinta itu ada.”