Menemukan Kedamaian di Siang Bolong

Cara temukan kedamaian
Sumber foto: Dokumen pribadi

Seorang oma duduk di hadapanku siang itu. Ia seperti memerlukan bantuan untuk menulis sesuatu di kartu pos yang akan ditulisnya. Aku memang sedang berada di kantor pos yang menjadi landmark kota. Aku mampir sebentar untuk mengambil gambar yang menurutku menarik untuk dijadikan objek foto. Selang beberapa lama aku duduk, oma tersebut duduk bersebelahan denganku dan mengaduk-aduk tasnya seperti mencari sesuatu. Aku ingin membantunya, tetapi sepertinya ia sudah menemukan pena yang dicarinya.

“Please, help me dear!” seru oma itu menarik tanganku. Ia bisa berbahasa inggris rupanya. Hebat! Ia meminta bantuanku untuk menuliskan kalimat di kartu pos sebelum dikirimnya. Aku langsung mengiyakan dan duduk di sebelahnya. Di jaman komunikasi dua jari seperti ini, masih ada seorang nenek yang berkirim pesan lewat kartu pos. Aku mengaguminya. Mungkin kalimat itu penting sehingga perlu dikirim dalam kartu pos, pikirku.

Anda tahu, apa yang harus aku tulis dalam kartu pos itu?

“You’ll never find a peace in outside world unless you find it inside yourself first” aku menulis kalimat tersebut dalam kartu pos bergambar panaroma alam. Sebelum tandatangan dibubuhkannya dalam kartu pos itu, ia memintaku menuliskan, “with love, your grandma” di bawah kalimat tersebut. Aku mengiyakan kembali.

Ketika aku akan berpamitan pulang, nenek itu mengatakan dengan aksen bahasa inggris yang bagus sekali agar aku tetap tinggal sementara ia mengeposkan kartu tersebut. Lagi-lagi aku menuruti meski aku akan menolak jika ia ingin memberikan imbalan padaku karena membantunya.

Setengah jam berlalu, oma datang dengan wajah berseri-seri . Sepertinya ia berhasil mengirimkan kartu pos itu. Ia mulai menyelediki diriku dengan beberapa pertanyaan standar seperti darimana asalku, mengapa aku ada di sini, dsb.

****

Siang itu, seorang oma mengajariku tentang kedamaian seperti yang aku rangkum berikut:

  1. Tidak pernah mencemaskan apa yang sudah terjadi di masa lalu dan apa yang akan terjadi di masa depan. Biarkanlah masa lalu menjadi kenangan dan masa depan tumbuh jadi harapan! Mereka yang penuh kedamaian paham betul bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan yang tidak mungkin untuk bisa kembali lagi, sementara destinasi kita masih jauh di hadapan.
  1. Jika kita tidak bisa berdamai dengan diri sendiri, bagaimana bisa kita berdamai dengan orang lain. Luangkan waktu sejenak untuk menemukan kedamaian dalam diri dengan meditasi, berdoa, menulis buku harian, dsb. Lakukan “me time” yang membuat anda merasa nyaman dan menyenangkan diri sendiri.
  1. Berhentilah berpikir yang berlebihan tentang sesuatu hal, biarkan semua terjadi apa adanya! Pikiran “monyet” yang selalu melompat ke sana kemari adalah salah satu yang acapkali dialami saat kita mengambil waktu untuk merenung. Hey, setiap orang selalu punya masalah. Setiap rencana tidak selalu berjalan mulus. Beri motivasi diri sendiri bahwa segala sesuatu tidak pernah berjalan dengan sempurna, hambatan atau kendala adalah wajar.
  1. Kedamaian tidak terletak pada pikiran atau perasaan tetapi pemahaman. Jika kita sudah berhasil memahami apa pun yang terjadi, kita akan tahu bagaimana arti damai sesungguhnya.

Bagaimana kedamaian menurut anda sendiri?

Advertisements

Rahasia Resep Perkawinan Ala Kue Coklat Nenek

blog 3
Sumber foto: Dokumen pribadi
“Semua rahasia kelezatan kue coklat terletak pada peraciknya bukan pada wadah, bahan atau takaran yang diberikan. Jika ingin berhasil membuat kue coklat pastikan bahwa peraciknya membuatnya dengan sabar dan sepenuh hati.”

Sore itu aku berkeinginan membuat kue coklat yang disukai oleh suamiku. Aku tertarik mempraktikkan kue coklat yang biasa dibuat nenek. Mengapa? Kue coklat buatan nenek sungguh berbeda. Rasanya khas dan belum pernah ditemui di toko coklat mana pun. Aku pikir aku bisa menyajikannya untuk suamiku saat tiba di rumah nanti. Aku ingin memberikan kue coklat yang disukainya untuk menghilangkan rasa lelah setelah seharian bekerja di luar. Itu pikirku!

Tiba-tiba ibu datang menghampiri aku di dapur. Dilihatnya dapur yang berantakan, serbuk tepung yang kemana-mana serta mukaku yang berantakan. Ia tersenyum melihat wajahku. Aku buru-buru melap wajahku dan memperhatikan kembali catatan resep kue coklat di atas meja. Aku menghafal bahan yang diperlukan dan berapa banyak harus ditaruh dalam adonan tepung. Tepung sudah siap diulenin, aku bergegas meletakkan takaran coklat di dalam adonan.

Aku ingin menunjukkan kepada ibu tentang kemahiranku membuat kue coklat. Aku yakin aku bisa membuat kue coklat yang sama enaknya seperti buatan nenek.

****

Setengah jam berselang setelah adonan kue coklat aku masukkan dalam oven. Hasilnya? Kue coklat itu hangus, tidak enak rasanya dan tidak menarik untuk dilihat. Apa yang terjadi? Aku menangis, marah dan kecewa luar biasa. Aku sudah meluangkan waktu seharian agar dapat membuat kue coklat, mengapa hasilnya tidak seperti yang aku harapkan?

****

Ibu datang menghampiriku. Ia menarik lenganku dan mengajak aku duduk di teras belakang, dekat dapur. Dengan tangannya yang lembut, ia mengusap wajahku yang penuh serbuk tepung dan bubuk coklat. Lalu ia pergi ke dapur. Lima menit kemudian ia datang membawakan secangkir teh manis. Ia memintaku minum teh dan membiarkan aku diam beberapa saat.

Ibu memang paling mengerti apa yang aku rasakan. Aku mulai bercerita tentang kue coklat yang gagal aku buat. Aku bingung dan mulai mencari tahu penyebab kegagalan itu.

****

Kue coklat yang dibuat nenek tentu akan selalu berbeda dengan kue coklat buatanku atau buatan siapapun. Nenek punya resep rahasia. Meski nenek memberitahukan resep rahasia itu padaku, rasa kue coklat itu tetap berbeda. Bahan yang digunakan dan dicampurkan memiliki aturan dan takaran yang disesuaikan setelah adonan demi adonan diaduk. Jadi memang tidak ada aturan baku untuk menaruh tepung, gula atau coklat. Mengapa? Karena semua disesuaikan dengan rasa adonan sebelumnya. Saat memasak, ibu mengatakan bahwa kesabaran diperlukan agar hasilnya baik. Saat di oven, nenek tahu berapa lama harus dipanggang. Ia tidak pernah memberikan waktu yang pas karena ia selalu ingin memastikan adonan kue yang dibuat sesuai dengan berapa lama pemanggangan di oven.

****

Apa kaitan perkawinan dengan resep kue coklat? Semua pasangan selalu berusaha untuk membuat perkawinan yang terbaik dalam hidup mereka, sama ketika mereka akan membuat kue coklat yang terenak. Mereka berpikir resep kue coklat orang lain dapat ditiru dan dipraktikkan dengan hasil yang sama padahal dalam membuat kue coklat, si pembuat selalu memiliki rahasia. Meski rahasia itu dibagikan, maka hasilnya tak pernah sama.

Seperti perkawinan, meski setiap pasangan yang harmonis di dunia ini berhasil membagikan rahasianya, hasilnya tidak bisa diterapkan sama. Mengapa? Semua rahasia kelezatan kue coklat terletak pada peraciknya bukan pada wadah, bahan atau takaran yang diberikan. Jika ingin berhasil membuat kue coklat pastikan bahwa peraciknya membuatnya dengan sabar dan sepenuh hati.

Jangan pernah berpikir waktu menentukan kualitas pemanggangan kue coklat! Kualitas rasa kue coklat ditentukan oleh racikan pembuatnya. Mereka yang mahir membuat kue coklat seperti nenek, tidak suka kue coklat dibandingkan dengan buatan orang lain. Jadi kualitas perkawinan tidak ditentukan dari seberapa lama mereka menikah. Agar perkawinan seperti kue coklat yang terenak, jangan pernah membandingkannya dengan orang lain.

Teruslah berlatih memasak kue coklat karena tidak pernah didapatkan hasil akhir tentang resep kue coklat yang sempurna. Jadi tidak pernah ada resep yang tepat dan sempurna agar memiliki pernikahan yang harmonis.

Nenek bilang variasi dalam membuat kue coklat menentukan rasa dan kualitas kue coklat agar orang yang mencicipinya tidak bosan. Sedari kecil saya melihat nenek selalu membuat kue coklat dengan berbagai macam varian rasa atau hiasan yang menarik untuk dinikmati saat natal tiba. Agar tidak membosankan, buatlah variasi yang mewarnai pernikahan agar bisa dinikmati.

****

Semoga resep kue coklat nenek menginsprasi resep perkawinan yang sesungguhnya. Resep kue coklat itu tak pernah lekang oleh waktu dan tak pernah sempurna.

Kopi yang Tak Pernah Manis

blog2
Sumber foto: Dokumen pribadi

 

Zwei Kaffee, bitte!” seru abang teman baikku. Abang datang mengajakku ngobrol di warung kopi. Meski warung kopi ini sederhana, entah mengapa ia memuji racikan kopi tempat ini.

Ok!” sahut sang pelayan yang sepertinya sudah terbiasa menerima order dari abang. Bisa jadi abang sering datang ke kedai ini. Tanpa menyebutkan spesifik kopi yang diminta, si pelayan tahu betul selera abang. Padahal jika melihat daftar menu kedai kopi ini, ada banyak pilihan kopi yang ditawarkan dengan aneka macam rasa dan selera.

Saya bukan penikmat kopi tetapi terpaksa menerima ajakan teman baik untuk singgah sebentar di kedai ini. Bagaimana mungkin pelayan ini tahu selera dan rasa kopi yang diminta oleh saya. Karena saya baru pertama kali datang di kedai kopi tua ini.

Moment!” seruku. Aku ingin mengubah pesanan. Pelayan tadi menghentikan langkah dan berbalik ke arah kami.

Warum Anna?” tanya abang tiba-tiba.

Bagaimana abang tahu selera dan rasa kopi yang aku minta tanpa bertanya dulu?” hardikku padanya.

“Dengar Anna! Coba dulu rasa kopi yang aku tawarkan” kata abang.

Hah! Kejutan apalagi ini.

Aku menuruti selera abang kali ini. Aku biarkan pelayan itu pergi membawa orderan kopi yang diminta abang tanpa aku tahu rasa kopi yang aku inginkan.

Cemilan?” tanya abang padaku. Aku menggelengkan kepala. Aku sedang tidak bergairah dengan aneka makanan. Aku hanya ingin diam.

Tak lama pelayan datang membawakan dua cangkir kopi. Aku biarkan ia menaruh di hadapan kami. Dua kopi hitam. Tak ada cemilan. Tak ada gula. Tak ada creamer. Tak ada susu. Tak ada sendok kecil untuk mengaduk.

“Mengapa abang suka sekali kopi tanpa gula?” tanyaku.

Simpel saja. Aku suka kopi yang original. Asli. Tanpa campuran. Tanpa rasa,” sahutnya.

Dengan gerak tubuhnya, ia memintaku mencoba kopi tersebut. Aku bereaksi menolak. Tapi ia bersikukuh agar aku mencobanya. Ia mendorong tanganku agar mencoba kopi tersebut.

Slurput. Aku meminum kopi itu. Bukan seleraku. Bukan apa yang aku inginkan. Pahit. Tak ada rasa. Tidak enak. Ini bukan harapanku minum kopi di kedai ini. Aku tak suka.

Seperti biasa abang tertawa melihat reaksi penolakan itu. Ia meminta aku meminum kopi tersebut sampai habis. Baik, cukup sekali aku menurutinya minum kopi yang bukan menjadi seleraku.

Aku marah. Aku protes. Aku kecewa.

Jika setiap orang ditawarkan pada aneka pilihan, mereka cenderung untuk memilih apa yang menjadi selera dan keinginannya. Mereka akan memilih apa yang menjadi harapannya. Memilih berdasarkan pengalaman. Memilh berdasarkan keinginan. Kenyataannya tidak seperti keinginan atau harapan. Padahal sebagian besar hidup yang dijalani berdasarkan kenyataan, bukan harapan atau keinginan.

Secara nyata kopi itu tanpa rasa, Anna” kata abang. “Siapa yang suka dengan rasa kopi seperti ini? Industri kopi mencampurkan aneka varian agar bisa dinikmati banyak orang,” tambahnya.

Hidup ini adalah kenyataan. Tidak ada rasa. Orang suka sekali mencampurkan “varian rasa” agar bisa menikmati hidup. Akhirnya hidup mereka dikendalikan oleh rasa yang menjadi selera. Mereka menjadi tidak bergairah, kehilangan selera ketika rasa itu hilang. Kenyataannya hidup itu tidak ada rasa, sama seperti kopi.”

Brengsek! Apa pula yang diucapkan oleh temanku ini. “Apa maksud abang?” tanyaku penuh selidik.

“Sekali-kali biarkan kamu merasakan rasa asli kopi. Tanpa gula. Tanpa creamer. Tanpa susu. Disitulah khasiat dan manfaat kopi, Anna” kata abang menutup obrolan siang itu.

Hidup ini sebenarnya soal rasa dan selera. Kebanyakan kita menaruh dan meletakkan begitu banyak keinginan, harapan dan selera yang memenuhi rasanya. Akhirnya begitu bingung dengan aneka pilihan. Hidup itu harus menghidupi. Keluar dari rasa nyaman yang selama ini jadi selera dan pilihan. Itu yang akan menjadi khasiat kehidupan.

Coba rasakan, apa yang terjadi?

Mengasah Kesempatan menjadi Impian

???????????????????????????????

(Sumber foto: Dokumen pribadi)

Ibu datang padaku kala itu. Ia mengundangku menikmati secangkir teh dan kue buatannya. Kami duduk di balkon arah taman sambil berbincang hangat mengenai berbagai topik. Kadang aku begitu merindukan saat kebersamaan dengannya sebagai seorang gadis kecil, aku lupa bahwa kini aku sudah menikah. Sejak aku bekerja, aku sering melupakan kesempatan duduk bersama ibu sambil mendengarkan semua cerita-ceritanya. Maklum, aku masih sibuk terbang ke sana kemari mencari pengalaman, sedangkan ibu sudah terlebih dulu banyak makan asam garam yang jadi pengalaman. Jika dulu aku mendengarkan ibu blablabla tentang berbagai nasihat yang diberikannya, kini aku yang blablabla dan ibu hanya mendengarnya. Seperti sekarang, aku duduk bersamanya di sore hari memandang matahari terbenam di balik gunung di hadapan kami. Aku sengaja membawa ibu ke vila terpencil yang jauh dari kebisingan kota agar bisa menikmati ketenangan bersama. Oh ibu, aku merindukanmu, batinku saat itu sambil menikmati tegukan teh manis buatannya.

“Apa yang sedang kau hadapi adalah kesempatan, Nak. Jadi kau harus ambil kesempatan itu. Ingat kesempatan hanya datang satu kali.”, seru ibu memecah kebisuanku menikmati teh buatannya.

“Aku hanya berpikir apakah aku bisa meraih impianku kembali, Bu. Ibu tahu bahwa kadang kesempatan itu membawa kesulitan.”

“Orang yang melihat setiap kesempatan adalah kesulitan, merupakan orang yang pesimis. Tetapi mereka yang optimis mampu melihat setiap kesulitan sebagai kesempatan. Awalnya memang sulit tetapi ibu yakin, kau bisa anakku.”, kata ibu sekali lagi meyakinkan aku.

Ibu tahu aku suka bingung dalam mengambil keputusan. Kadang aku berpikir ibu lebih optimis dibandingkan aku yang mengenyam pendidikan yang lebih baik darinya. Jadi sebenarnya optimis dan pesimis tidak ditentukan oleh pendidikan, tapi kesempatan yang diambil dalam hidup.

Aku benar-benar menikmati suasana senja saat itu, sambil memperhatikan matahari yang tenggelam di hadapan kami berdua. Yah, kesempatan adalah cara untuk mengasah impian.

“Jika Penebang kayu mengasah kapaknya, atau Pemanah mengasah busurnya untuk mendapatkan buruannya. Maka Penulis harus mengasah pensil mereka agar lebih tajam untuk menghasilkan tulisan. Semua itu perlu diasah. Untuk mendapatkan apa yang kau impikan, kau perlu mengasah setiap kesempatan. Tak ada yang sulit bila kau terus memikirkannya.”

Kali ini aku mendengarkan ibu berbicara sambil menikmati gigitan demi gigitan kue coklat buatannya. Ia berencana untuk membuatkan lebih banyak lagi untuk tamu-tamu yang akan datang saat natal tiba.

“Aku hanya takut bu. Takut kalau aku tidak bisa menjalankan kesempatan itu.”, seruku.

“Oh ya, aku rasa ibu perlu menambahkan sedikit rum lagi dalam kue coklat ini. Aku suka kue coklat buatan ibu.”, sahutku sekali lagi menimpali ocehan ibu dan memberi saran untuk kue coklat yang dibuatkannya.

“Sebenarnya saat akan membuatkan kue coklat ini, ibu takut kalau kau tidak suka. Biasanya kau tak suka ngemil, beda dengan kakak dan adikmu yang lain. Eh, ternyata kau suka kue coklat ini. Ketakutan seharusnya membuatmu maju, bukan berhenti. Ketakutan bukan menahanmu tetapi mendorongmu untuk melakukan. Apa yang sesungguhnya kita takutkan adalah ketakutan itu sendiri. Takut gagal. Takut tidak diterima. Jika kau melakukan dan mendobrak rasa takutmu, bukan tidak mungkin alam akan menghadiakan yang terbaik bagi mereka yang telah berjuang.”

Aku pun terdiam sesaat merenungkan ucapan ibu, apakah sebenarnya yang aku takuti? Terkadang ketakutan itu membunuh keberanian yang selama ini telah tumbuh dalam diriku.

Ibu meraih kedua tanganku dan menggegamnya erat. Ia pun menatap wajahku dan memegang wajahku. Oh ibu, wajahmu meneduhkan. Batinku sekali lagi.
“Jika kau hanya membayangkan maka kau akan mendapatkan ketakutan. Tetapi jika kau menjalankan maka kau akan mendapatkan impian. Jadi sebenarnya tak sesulit seperti yang kau bayangkan, anakku.”, senyum ibu terlukis dari guratan wajahnya saat ia meyakinkan aku.

Aku pun memeluknya.

“Terimakasih ibu.”

Aku pun merasa tenang sesaat.

“Dengar Nak! Seperti cerita ibu tadi tentang Penebang, Pemanah dan Penulis. Mereka harus mengasahnya agar mendapatkan apa yang mereka impikan. Kini asahlah hidupmu dengan kesempatan ini agar kau mendapatkan apa yang kau impikan.”

Meramal Lewat Secangkir Kopi

 

wpid-img_20150930_213333.jpg
Dokumen pribadi.

 

 

Rupanya tak puas sekedar minum kopi saja, kali ini teman baik saya ini mengajak minum kopi lagi. Aduh, rasanya tak puas abang satu ini berbicara soal kehidupan dengan saya. Dia ingin ajak saya untuk pergi minum kopi. “Baiklah Bang, kita ketemu di kedai kopi biasa” tuturku menjawab ajakannya lewat telpon.

“Kita bertemu sore ya, An. Kaffetrinke. Ada yang mau aku tunjukkan padamu. Aku yakin kamu suka” sahutnya dengan gembira setelah aku merespon undangan minum kopi sore hari.

Meski saya bukan penikmat kopi, tetapi saya menikmati kebersamaan bersama teman saya yang hobi minum kopi ini. Pantas saja, kedai kopi selalu dipenuhi orang-orang yang berbincang soal kehidupan, pekerjaan, politik, ekonomi dan macam-macam lainnya. Memang bukan soal rasa kopi tetapi rasa obrolan yang ditawarkan lebih dari secangkir kopi.

Rupanya saya datang terlambat karena saya salah turun di stasiun terdekat. Saya berjalan kaki cukup jauh menuju kedai kopi itu. Terlihat abang sudah duduk bersama pria tua di pojok kedai kopi dengan satu bangku kosong di hadapan mereka. Sepertinya mereka sengaja menyediakan bangku itu untukku. Tetapi siapa pria di sebelah abang itu, batinku dalam hati.

“Maaf, saya datang terlambat. Saya salah turun stasiun. Tahu sendiri ‘kan di Jerman, semua serba tertib. Lagipula salju turun lumayan lebat juga, membuat saya kesulitan jalan ke sini. Hallo Bang, apa kabar?” sapaku sambil beralasan soal keterlambatan kereta.

“Baik An. Perkenalkan ini teman Abang. Dia orang Indonesia juga. Sudah lama tinggal di Jerman juga. Dia mampir ke sini karena lagi ada tugas di kota ini.”

Saya pun menyapa “hallo” sambil menjabat tangannya.

“Saya biasa dipanggil Zimmermann. Panggil saja begitu, Anna” sahut Zimmerman. Teman-teman Zimmermann menyebutnya begitu karena Zimmer dalam bahasa Jerman berarti kamar. Zimmerman suka sekali menyendiri di kamarnya. Ada pula alasan disebut Zimmermann karena ia bekerja di perusahaan kayu. Ah, entahlah.

“Aku sudah memilihkan pesanan kopi untukmu juga seperti biasa. Zimmermann ini punya keahlian khusus. Aku yakin kamu pasti suka, An” sahut abang memperkenalkan Zimmermann padaku.

Zimmermann adalah pria paruh baya dengan usia yang tak jauh dari abang. Ia sudah lama tinggal di Jerman dan bekerja di perusahaan kayu. Entah bagaimana abang berkenalan dengan Zimmermann tetapi mereka cukup akrab. Mereka beberapa kali bercerita tentang kawan-kawan mereka, kadang Zimmermann kenal dengan nama yang disebut abang, kadang pula Zimmermann tidak mengenal nama yang disebut.

Keahlian yang disebut abang adalah keahlian meramal masa depan dengan hanya meminum kopi. Menarik kan? Pantas abang ajak aku bertemu dengan Zimmerman. Abang tahu bahwa kadang aku selalu ingin tahu soal masa depan, tak sabar menanti waktu tiba. Namun meramal hanya lewat kopi, itu yang membuatku bertahan di kedai kopi itu hingga berlama-lama menemani teman baikku ini.

“Anna, jangan paksa Zimmermann dengan pertanyaan-pertanyaan sintingmu soal masa depan. Meramal itu natural. Jika meramal itu dipaksa namanya dukun. Zimmermann bukan dukun. Ia hanya mencoba mendapatkan inspirasi soal cara minum kopi.”

“Baiklah, Bang. Aku hanya terkesan dengan keahlian Zimmermann. Aku tak terlalu tertarik soal ramalan, tetapi bagaimana secangkir kopi dapat meramal masa depan, itu membuatku menarik.”

Aku meminum kopi sampai habis sambil mendengarkan obrolan mereka berdua soal berbagai topik. Kadang ada hal lucu, kami tertawa. Kadang ada hal yang tak saya mengerti, saya pun diam saja. Saya sedang menunggu sampai insting Zimmermann datang untuk membuat ramalan tentang saya.

“Dengar Anna! Saya melihat kamu sebagai pejuang impian. Kamu orang yang tidak mudah menyerah dengan keadaan. Kamu akan mendapatkan impianmu, tetapi…” secara tiba-tiba Zimmermann berbicara kepada saya tentang diri saya tanpa saya memintanya. Ia hanya menebak dari cara saya menikmati kopi dan ampas kopi yang saya minum. Ampas kopi itu dituangnya di piring kecil alas cangkir. Bagi saya, ampas kopi itu hanyalah ampas. Bagi Zimmermann, ampas kopi itu bisa memberikan arti tersendiri.

Sore itu secara mengejutkan saya bertemu dengan Zimmermann yang mampu menggambarkan saya dan impian saya, meski tidak spesifik. Saya tidak mengenalnya tetapi saya seperti larut dengan imajinasinya. Saya tertarik dengan celotehannya.

“Teruslah berjuang untuk mimpimu, Anna”  kata Zimmermann sekali lagi menutup visualisasinya tentang saya.

“Sebagian ada yang benar, sebagian ada yang tidak. Saya berterimakasih sudah dibantu, Zimmermann. Saya memang sedang memperjuangkan impian saya. Hanya saja bahwa memperjuangkan impian itu tak mudah. Mustahil.”

“Anna, orangtua saya bilang tidak ada mimpi yang terlalu besar. Tidak ada pula pemimpi yang terlalu kecil. Jadi tetaplah berjuang.”

“Abang tahu kau rajin berdoa. Teruslah berdoa karena itulah kekuatanmu” sahut abang menambahkan.

Secangkir kopi di sore hari memberikan arti dan kehangatan kala salju turun di luar kedai kopi. Setangkup harapan diperdengarkan kembali dari Zimmermann dan teman baikku ini, bahwa segalanya itu mungkin bagi mereka yang percaya dan terus berjuang.

Usai dari kedai kopi, abang mengantarku pulang dengan mobilnya. Kami meninggalkan Zimmermann di stasiun terdekat menuju hauptbahnhof  München setelahnya ia kembali ke kotanya.

“Anna anggaplah kamu adalah kapal yang kokoh. Meski terbuat dari kayu, pikirkanlah bahwa kapalmu tetap bisa berlayar meski badai, topan dan angin menerjang. Ingatlah bahwa kamu bisa berlayar menuju pantai harapan yang menjadi impianmu! Jangan takut! Tetaplah berdoa. Kembangkan layarmu dan teruslah pergi sampai kemana angin membawamu. Aku yakin, kapalmu tak pernah tenggelam karena Tuhan besertamu. Berlayarlah menuju pantai impianmu. Kadang maju kadang mundur, tetapi jangan pernah biarkan kapalmu terhenti.”

Menikmati Hidup Apa Adanya

Masih ingat cerita saya soal kopi dan cangkir? Di sini link-nya.

 

wp-image-1705949733

Kali ini saya diajaknya oleh Penikmat Kopi lagi untuk ngobrol soal kehidupan. Katanya lebih nikmat jika ngobrol itu sambil minum kopi. Wah, saya tidak punya kopi di rumah. Kami pun sepakat ngopi-ngopi di luar rumah.

Karena saya tidak tahu banyak soal kopi dan tempat minum kopi, saya jadi manut saja ketika dia memberhentikan mobil di sebuah kedai kopi sederhana. Saya pikir tadinya mau diajak nongkrong dan minum kopi di Mall atau gerai kopi ternama gitu. Eh malah saya diajaknya ke kedai kopi di sudut kota yang konon asyik buat diskusi dan ngobrol.

Sambil memesan minuman dan cemilan, saya mengamati beberapa meja yang berisi sepasang orang sedang ngobrol serius, ada pula segerombolan anak muda seperti musisi yang membawa alat musik sambil menyanyikan sebait demi sebait sedangkan di sudut lain ada sekelompok ibu-ibu muda yang membicarakan mode pakaian.

“Nah kembali soal kopi, Anna. Saya ingin kamu mencoba menikmati rasanya” seru teman saya ini memecahkan keheningan.

“Saya tidak tahu membedakannya.”

“Anna, kau tidak perlu ahli untuk menikmatinya. Hanya nikmati. Tak usah kau pikir yang rumit dengan teori. Jalani saja apa adanya.”

Tiba-tiba pramusaji datang membawakan pesanan dua cangkir kopi dan cemilan. Teman saya langsung menyeruput kopi dengan gayanya yang khas. Dengan bahasa tubuhnya, saya diminta meminum kopi di hadapan saya.

“Dalam hidup ini, terkadang kita dipusingkan oleh pencitraan. Kau sudah terbawa oleh arus dunia. Jika minum kopi, kau selalu bayangkan kedai kopi mewah ternama. Padahal yang kau butuhkan hanya secangkir kopi dengan rasanya yang nikmat. Ingat Anna, hidup itu juga cuma soal rasa. Jadi nikmati rasanya. Pahit manis. Apapun itu” katanya kembali seolah-olah kebijaksanaannya muncul usai menyeruput kopi.

“Apakah abang tidak pernah memiliki target dalam hidup? Misalnya target nikah gitu. Kok hidup abang santai banget” tanyaku sinis agar dia pun bisa memikirkan hidupnya juga.

“Seperti yang saya bilang apa sih tujuan kau minum kopi? Gak ada ‘kan. Ada kopi diminum, dinikmati setiap tegukannya. Jika kau terlalu memusingkan tujuan minum kopi, pikiranmu hanya dipenuhi target-target dan melupakan rasa nikmatnya. Jika hidupmu dipenuhi target, maka kau akan melupakan bagaimana caranya menikmati hidup ini. Dengar Anna, jangan biarkan target-target itu mengendalikanmu menikmati hidup ini.”

“Bang, jika kita tidak punya tujuan hidup, untuk apa kita hidup? Abang  terlalu menikmati hidup sampai abang lupa menikmati rasanya menikah” seruku sekali lagi dengan sinis kepadanya.

Dia pun tertawa. Saya pun tertawa juga pada akhirnya.

“Abang ingin melamarmu tetapi kau sudah ada yang punya”  kelakarnya kembali kepadaku.

“Anna, buatlah pikiranmu sesederhana seperti kau menikmati kopi ini. Bahagiakan dirimu dengan rasanya, dengan suasana sekitarnya yang nyaman dan indah, dengan senyum pramusajinya yang ramah, dengan harganya yang terjangkau, dengan cemilannya yang enak. Dan aku pun langsung bahagia. Bahagia itu ternyata sederhana, yakni kamu nikmati apa adanya. Pahit dan manis itu adalah bagian dari rasanya.”

“Aku sengaja memilihkan kedai kopi tak bernama ini kepadamu. Aku ingin membuyarkan rencana indahmu untuk nongkrong di gerai kopi ternama dan eksklusif. Aku ingin tahu, apa reaksimu jika rencanamu berubah? Yang kulihat, kamu kaget dan bingung. Namun itu wajar. Dalam hidup, apa yang terjadi jika rencana-rencanamu berubah? Syok, takut, cemas, bingung, putus asa, atau komplen sambil marah-marah.”

Aku pun tersinyum kecut mengingat aku sempat protes saat dia memarkir mobilnya di depan kedai kopi ini.

“Orang masa kini terlalu banyak dipenuhi oleh pikiran yang kompleks dan tujuan yang mengendalikan hidup mereka. Rasakan dan nikmati hidup ini ibarat kau nikmati kopi ini. Jangan pernah takut untuk menghadapi kenyataan jika rencanamu berubah. Hidup itu soal pilihan, Anna. Jadi pilihlah apa yang membahagiakanmu!”

Lalu kami pun menikmati cemilan dan kopi sambil mendengar iringan musik dari gerombolan anak muda yang tadi baru aku amati. Hidup ini jadi ringan sesaat, tanpa beban ketika kita sungguh-sungguh menikmatinya. Betul juga kata Abang, temanku yang baik hati ini.

Dialog Ibu & Anak: Mengapa Kenyataan Tak Seperti Rencana?

“Why things do not always go according to our plan?”

image

(Sumber foto: Dokumen pribadi)

Anak: “Ibu, mengapa kenyataan tidak berjalan sesuai rencana?”

Ibu: “Mungkin kau lupa berdoa ketika merencanakannya, anakku.”

Anak: “Oh tentu tidak, Bu. Aku berdoa selalu setiap pagi dan malam hari. Aku pergi ke gereja setiap minggu. Tetapi mengapa nilai ujianku jelek ya?”

Ibu: “Lalu, kau menyalahkan doa karena kenyataannya kau mendapat nilai jelek?”

Anak: “Aku hanya bingung, Ibu. Mengapa kenyataan yang terjadi tidak seperti yang kita rencanakan? Aku berencana dapat nilai ujian bagus. Aku berencana jika nilai ujianku bagus maka aku akan belikan Ibu Guru hadiah. Tetapi semuanya jadi berantakan. Nilai ujianku jelek. Aku tak jadi belikan Ibu Guru hadiah.”

Ibu: “Nak, hidup itu selalu berubah. Tak ada yang menduga kau dapat nilai ujian jelek. Mungkin dengan nilai ujian jelek, itu berarti kau harus belajar lebih giat lagi. Bukan berarti kau mendapat nilai ujian jelek, tidak memberikan hadiah pada Bu Guru, kan? Jika ingin memberi kau harus lakukan dengan tulus, tanpa syarat.”

Anak: “Ibu, mungkin aku terlalu sombong dan menyepelekan ujian ini. Jadi nilaiku jelek.”

Ibu: “Itu betul, Nak. Jangan pernah menjanjikan sesuatu yang belum jadi milikmu. Bukankah hidup ini tidak sepenuhnya berada dalam kendalimu?”

Anak: “Iya, ibu benar. Aku menjanjikan hadiah pada Bu Guru jika nilai ujianku bagus. Ternyata nilai ujianku jelek. Hidup itu tak pernah bisa ditebak.”

Ibu: “Nak, jika kenyataan tidak sesuai harapan bisa jadi Tuhan ingin mengujimu. Ia ingin melihat kegigihanmu. Apakah kau cukup kuat melewati kenyataan yang terjadi?”

Anak: “Baiklah, Bu. Aku akan belajar sungguh-sungguh untuk dapat nilai bagus di ujian perbaikan ini. Mungkin aku akan dapat nilai bagus. Aku juga akan tetap berikan hadiah pada Bu Guru. Bukankah Bu Guru juga sudah baik padaku, mengajari aku dengan sabar?.”

Ibu: “Itu bagus, Nak. Kau harus paham bahwa kadang segala sesuatu itu berjalan di luar rencana kita. Agar kita tahu bahwa hidup tidak sepenuhnya ada dalam kendali kita.”

Beberapa hari setelah ujian perbaikan.

Anak: “Ibu, lihatlah! Aku dapat nilai ujian bagus. Aku lulus, Bu.”

Ibu: “Wah, selamat ya sayang! Ibu tahu kau pasti bisa.”

Anak: “Ibu, ternyata aku perlu sabar untuk mendapatkan nilai ujian yang bagus. Kadang kita perlu menunda waktu untuk mendapatkan harapan yang sesuai kenyataan.”

Ibu: “Iya, anakku. Adakala kenyataan itu haruslah pahit agar membuatmu jadi bernafsu untuk mencoba lagi. Kamu tahu minum jamu berasa pahit, tetapi lewat rasa pahit itu cukup menyembuhkan sakitmu. Segala yang pahit tak selamanya mengenakkan.”

Anak: “Sekarang aku mengerti mengapa hidup itu semestinya berubah? Karena perubahan diperlukan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik lagi. Betul begitu, Bu.”

Ibu: “Ya anakku. Sekarang kau juga mengerti mengapa kenyataan tidak berjalan sesuai rencana. Karena untuk sesuatu yang lebih baik, ada waktunya.”

Kualitas “Kopi” atau “Cangkir”?

image

Usai kaffetrinken dan makan kue coklat di sebuah Mckafe. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Ada seorang murid bertanya kepada Guru bijaksana tentang tujuan hidup. “Guru, apa sebenarnya tujuan hidup anda sebenarnya?”

Sang Guru pun tersipu menjawab pertanyaan muridnya dengan pertanyaan lagi, “Apa tujuan hidupmu juga, anakku?”

Mereka pun diam dan saling memandang satu sama lain. Begitulah orang bijak, mereka akan merespon dengan pertanyaan atau perumpamaan agar muridnya bisa memahaminya.

Lalu Guru pergi ke dapur dan mengambil semua cangkir yang ia miliki dan diletakkan di hadapan para murid-muridnya. Ada beragam cangkir yang dimilikinya, mulai yang paling mahal hingga murah. Tentu anda tahu bahwa cangkir termahal terbuat dari kristal dan terlihat sangat cantik. Ada pula gelas yang terbuat dari keramik hingga ada satu gelas biasa yang murah kualitas, sudah rusak di bibir cangkirnya, dan tak menarik. Semua jenis gelas tersedia di hadapan mereka.

Guru pun berkata, “Di dalam teko besar ini ada kopi jenis terbaik di dunia. Sebagai peminum kopi, saya percaya kopi ini memiliki rasa paling enak. Aromanya juga memikat dibandingkan kopi-kopi lain yang pernah saya minum. Sekarang saya meminta anda semua yang ada dalam ruangan menikmati kopi ini. Silahkan ambil dengan cangkir-cangkir yang sudah tersedia di hadapan anda semua.”

Semua murid yang berjumlah kurang dari dua puluh orang itu pun mencoba mengikuti petunjuk Guru tersebut, terutama murid yang bertanya tadi. Lah wong bertanya tujuan hidup kok malah justru disuruh minum kopi.

Usai semua mengambil cangkir dan meminum kopi tersebut, beberapa murid pecinta kopi pun juga terkesan dengan rasa kopi yang baru diminumnya. Sebagian murid lagi nampak memperhatikan cangkir yang digenggamnya dan terkesan dengan cangkir indahnya. Sisanya nampak mencoba mencari kaitan minum kopi dengan pertanyaan tujuan hidup tadi.

Bagaimana rasa kopi yang baru saja kalian minum?” tanya Guru kemudian.

Serempak murid pun menyahut, “Enak“.

Murid yang tadi bertanya menjawab, “Rasa kopinya luar biasa. Kami di sini pun sependapat bahwa Guru punya selera yang baik soal kopi.”

Guru pun mengangguk dan menyetujui.

Lalu apa kaitan tujuan hidup dengan minum kopi?” tanya murid lain.

Kembali Guru pun menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, “Mengapa kalian tidak meminum dari cangkir ini?” sambil mengangkat cangkir jelek, tak menarik dan biasa.

Semua cangkir telah kalian pilih. Aku sengaja menyediakan cangkir yang berbahan kristal hingga bahan yang biasa dan tak menarik. Cangkir jelek ini. Lalu mengapa kalian lebih memilih cangkir kristal dan cangkir mahal? Padahal saya hanya meminta kalian menikmati kopi ini. Kualitas kopi ditentukan oleh rasa dan aromanya, meski cangkir yang jadi wadahnya tidak menarik. Saya sudah katakan bahwa kopi yang kalian minum adalah kopi terbaik dunia.”

Lalu bagaimana dengan anda sendiri?

Saya dan mungkin anda juga terbiasa memikirkan “wadah” yakni cangkir untuk merasakan tujuan minum kopi. Padahal yang kita cari dalam hidup ini adalah “rasa kopi” nya. Tak peduli seberapa menariknya “cangkir kopi” nya, kualitas kopi tidak berubah.

Kita bisa mengumpamakan “cangkir” sebagai jabatan, kekuasaan, harta, pendidikan, status sosial, pekerjaan, pangkat, dan sebagainya namun sebenarnya yang kita cari dalam hidup ini adalah “cara menikmati kopi”.

Apa tujuan hidup anda?

Kualitas hidup tidak ditentukan oleh “wadah” yang melekat pada kita. Jika kita mampu menciptakan rasa dan kualitas terbaik dalam hidup, mengapa kita memusingkan “cangkir”nya? Toh semua orang akan kagum pada hidup anda, apa yang ada di dalam diri, bukan harta, jabatan, status, pakaian, atau apapun yang melekat pada anda.

Demikian sebagaimana diceritakan dari seorang Pecinta kopi. Ia terbiasa minum kopi tanpa gula. Ia mampu membedakan kualitas kopi. Well, inspirasi yang menarik 🙂

“It doesn’t matter what you look like on the outside. It is what’s on the inside that counts.”

Liebesgedicht: Puisi Cinta jilid 2

Nur Du und Ich

image

image

image

(Sepasang angsa di pinggir danau Kreis Bad Tölz, dekat München. Sumber foto: Dokumen pribadi)

Im Wunderschönen Monat Mai,
Als alle Knospen sprangen,
Da ist in meinem Herzen
Die Liebe nur für Dich

Im Wunderschönen Monat Mai,
Als alle Vögel Sangen,
Da hab ich Ihr gestanden
Mein Sehnen für Dich

Im Wunderschönen Monat Mai,
Du bist mein
Das sollst Du gewiss sein
Du bist beschlossen in meinem Herz

Mein Schatz,
Ohne Dich kann Ich nicht leben
Denk’ Ich an Dich
Zueinander in Liebe

Ich liebe Dich

PS: Ich lerne Deutsch. Saya sedang belajar bahasa Jerman, merangkai kata dan mengasah asa. Mohon koreksi jika salah. Dankeschön.

Puisi Cinta dalam Bahasa Jerman: Liebesgedicht

image

Karena banyaknya kata kunci yang masuk ke sini tentang kalimat romantis dalam bahasa jerman https://liwunfamily.wordpress.com/2014/02/14/kalimat-romantis-bahasa-jerman/, saya kembali mengutip puisi cinta yang saya dapatkan. Singkat, padat namun maknanya dalam.

Bagi anda yang sedang merayu dan ingin menggunakannya, saya persilahkan.

Du bist mir nahe

image
Dokumen pribadi.

 

Du bist mir nahe,
auch wenn Ich Dich nicht sehe.
Du bist bei mir,
auch wenn Du ganz wonders bist.
Du bist in meinem Herzen,
in meiner seele,
in meinem leben,
immer.

Dalam bahasa indonesia

Kau ada di dekat saya

Kau ada di dekat saya,
meskipun saat saya tidak melihatmu.
Kau berada bersama dengan saya, meskipun saat kau sedang nun jauh disana.
Kau tinggal di hatiku,
di jiwaku, 
dalam hidupku
selalu.