Cerbung: Suminah & Nasibnya

Dokumen pribadi.

Kala mentari terajut oleh senja sore, tak terbayang rembulan akan segera datang menggantikannya. Mungkinkah angan akan berakhir di senja sore ini? Pikir perempuan itu sekali lagi.  Dhisapnya rokok sebatang, menarik topi menutupi raut muka yang gosong oleh sinar mentari sepanjang tadi dan mengemas barang-barangnya ke dalam tas. Barang-barang usang yang selalu dibawa, buku alamat; sebungkus rokok; sekotak korek api, telpon genggam lama; kaca dan sisir.

Telah disisir seisi kota untuk menemukan keberadaanya. Mengandalkan buku alamat yang bertuliskan alamatnya, Jalan Ciasem Nomor 1, Jakarta, ia berusaha mendapatkannya. Tak kunjung jua ditemukan raut mukanya yang sendu dan mempesona tiga tahun lalu.

Dengan rok panjang hitam selutut, berkemeja merah, berbedak tipis dan menguncir kuda rambut hitamnya yang sudah mulai memutih, Perempuan berusia empat puluhan mulai gelisah memperhatikan jalan di hadapannya. Kali ini, ia tampak ragu dengan penampilannya. Ia mengaca sedikit, lalu mengambil lipstik merah di tasnya. Ia merasa kurang cantik dengan lipstiknya yang sudah mulai pudar oleh gorengan bakwan yang baru saja dikunyahnya. Tiga gorengan bakwan ditambah segelas teh manis cukup untuk mengganjal perutnya yang mulai kosong, tak terisi oleh makanan sejak malam sebelumnya.

Beruntung ibu penjual gorengan, mengijinkan perempuan itu duduk untuk menikmati gorengan dan menunggu beberapa saat. Entah apa yang ditunggu oleh perempuan pembeli tiga gorengan bakwan, pikir si ibu penjual gorengan.

“Gak papa kan, bu? Saya masih menunggu di sini” tanya perempuan itu kepada penjual gorengan.

“Silahkan saja, bu. Gak papa kok” sahut ibu penjual gorengan.

“Nama saya Suminah, tinggal di kontrakan Pak Maman. Saya datang ke Jakarta, hendak mencari suami saya, bu. Sudah tiga tahun, saya tak bertemu dengannya” lanjut Suminah, perempuan pembeli tiga gorengan bakwan. Pikirnya lebih baik memperkenalkan diri terlebih dulu sebelum penjual gorengan bertanya balik siapa dirinya. Budaya ketimuran nan santun ingin ditunjukkan kepada penjual gorengan bahwa ia adalah perempuan baik-baik yang telah bersuami.

Penjual gorengan nampak cuek dengan perkenalan Suminah barusan. Sambil sibuk mempersiapkan adonan bakwan, ia tampak acuh terhadap kehadiran orang-orang seperti Suminah. Kota sebesar Jakarta tentu akan mudah ditemukan perempuan-perempuan malang seperti Suminah yang mencari suami, kerabatnya, anaknya, dan lain-lain. Ia tak peduli. Toh, hidup di Jakarta adalah kegetiran setiap orang yang harus dihadapi. Begitu pula dengan hidupnya sebagai penjual gorengan selama tiga belas tahun, setelah meninggalkan kampung halaman yang berniat semula untuk mencari suaminya di Jakarta.

Kini perempuan yang mengaku bernama Suminah, bernasib sama seperti dirinya. Ah, masak bodoh. Sambil terus menguleni adonan dan menggoreng, ia sibuk melayani beberapa pria yang duduk di sebelah timur, yang sedang menikmati gorengan yang masih panas.

Suminah memakai lipstik merahnya. Ia memperhatikan bibirnya, merapatkan kedua bibirnya agar semua lipstiknya tersapu rata, dan memonyongkan sedikit bibirnya. Ini adalah trik Suminah yang hanya punya satu lipstik, agar bisa terlihat cantik oleh suaminya nanti. Bibirnya yang terlihat tebal dan sedikit hitam karena batang rokok yang dibakarnya tiap hari harus ditutupi oleh warna lipstik merahnya. Begitu kesannya. Mungkin suaminya sekarang tak akan tahu bahwa ia telah merokok.

Merokok adalah aktivitas yang membuat Suminah merasa nyaman dan larut dalam persoalan yang sedang dipikirkannya. Dengan merokok, pikirnya, ia pasti akan memikirkan bagaimana caranya agar dapat uang, sehingga dapat membeli rokok sebungkus tiap hari. Tidak lagi sebungkus, pikirnya. Ia kini telah berhasil menghabiskan dua bungkus lebih rokok. Itu artinya, ia harus semakin getol mencari uang untuk membeli rokok.

Dulu di kampung halamannya, Suminah dikenal sebagai tukang pijit panggilan. Ia sudah cukup dikenal, bukan karena keahliannya untuk memijit lalu sembuh tetapi karena pijatannya yang aduhai yang dinikmati oleh setiap lelaki yang menginginkannya. Anehnya, para istri yang meminta suaminya dipijat tak pernah protes. Bodohkah sang istri? Pikir Suminah. Atau memang sebagai istri, kita hanya bisa tertunduk diam terhadap keinginan dan mungkin kebutuhan para suami.

Suminah tak peduli terhadap pendapat para ibu di kampung halamannya. Toh, ia tetap dikenal oleh para bapak di kampungnya, bahkan para pejabat desa yang berjarak jauh dengan kampungnya. Mungkin pijatannya telah cukup dikenal menggairahkan bagi para pria yang menginginkannya lebih dari sekedar menghilangkan pegal-pegal.

Sepeninggalan suaminya, ia berhasil mengumpulkan banyak uang. Pundi-pundi uang yang terkumpul digunakannya untuk mencari suaminya di Jakarta. Niat yang indah telah terpatri dalam ingatan Suminah bahwa kelak setahun setelah di Jakarta, suami Suminah akan membawanya tinggal di Jakarta. Janji tinggal janji. Ia tak kunjung datang.

Benih cinta yang harusnya tumbuh dan besar, kini tiada oleh kecelakaan yang seharusnya tak terjadi. Entah apa yang  akan dikatakan suaminya terhadap kecerobohannya itu. Telah tiga kali, Suminah keguguran. Tiga kali itu pula, suami suminah selalu melakukan kekerasan terhadap dirinya. Ia dicap sebagai perempuan bodoh. Ia dipukul, tangannya diikat, kakinya diikat dan perutnya disundut oleh rokok. Suminah hanya diam. Ia masih menurut dan menerima perlakuan itu. Atas dasar cinta, ia menerima semua ini. Bodohkah ia sebagai perempuan dan juga istri? Atau, Suminah takut kehilangan suaminya sama seperti sekarang ia berusaha mencarinya agar suami yang jadi miliknya akan selalu menjadi miliknya.

Waktu menunjukkan menjelang maghrib. Para lelaki yang berada di hadapan Suminah, pamit kepada penjual gorengan.

“Loh, ambil lima kok bayarnya cuma dua. Hai, utang yang kemarin, gimana?” seru penjual gorengan kepada seorang bapak berbaju hitam yang segera lari meninggalkan warung kecil itu.

Seperti mengiyakan perilaku pembeli gorengan, penjual gorengan tampak diam dan pasrah. Mungkin ini nasibnya. Entah sebagai perempuan yang tak bisa melawan atau sebagai kaum yang lemah. Bahkan untuk memperjuangkan haknya sebagai penjual gorengan pun, ia tak bisa. Ia sudah tersakiti oleh perlakuan suaminya yang sudah menikah dengan perempuan lain. Apakah untuk mempertahankan hidup, para pria ini juga menyerang hidupnya yang sudah lemah dan rapuh oleh kebaikannya? Perasaan itu yang dirasakan oleh penjual gorengan.

Melihat gelagat penjual gorengan, yang kecewa dengan perlakuan bapak-bapak di hadapannya, Suminah pun berkata, “Bu, biar nanti saya yang bayar. Hitung-hitung bayar saya duduk lama di sini.” Harga gorengan lima ratus perak, jika dikalikan tiga gorengan yang belum terbayar, Suminah masih cukup untuk membayarnya. Ia sudah bertahan hanya makan sekali saja sehari.

“Gak usah, bu. Memang sudah nasib saya sebagai perempuan. Kita hanya bisa nrimo. Ya begitu itu” keluh penjual gorengan.

Suminah tak mengerti kaitan antara membayar gorengan dengan nasib sebagai perempuan. Apakah nasib perempuan memang selalu menjadi korban ketidakadilan lelaki? Apakah perempuan tak mampu membela haknya? Dia pun segera mengulurkan uang lima ribu rupiah dari balik kutang, yang digulung halus bersama duit seribu dan dua puluh ribu lainnya. “Ini bu. Terimalah. Buat bayar gorengan, teh manis dan upah duduk di sini.”, seru Suminah.

“Kembali seribu, bu” jawab Penjual gorengan.

“Tak usah, ambil saja kembaliannya, bu” timpal Suminah kemudian.

Sebagai bentuk penghargaan dan budaya kesantunan, kedua perempuan ini sama-sama memanggil ibu. Meski tidak tahu mana yang lebih tua atau lebih muda, tetapi kata ibu seperti menyepakati bahwa perempuan ini sudah berumur paruh baya, sudah memiliki anak mungkin, tetapi mungkin sudah bersuami.

Sudah hari kelima, Suminah berada di kota besar Jakarta. Kota yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Kota yang dijanjikan oleh suaminya. Kota impian bagi para perempuan di kampungnya. Kota yang menjanjikan perubahan hidup menurut kebanyakan orang di kampungnya. Tetapi, ia tak punya siapa pun di kota ini. Ia tak mencatat tempat tinggal orang-orang di kampungnya yang mungkin saja sukses hidup di Jakarta.

Tinggal di kontrakan berukuran dua meter kali tiga meter, bukan sebuah tempat yang nyaman bagi Suminah. Namun, hanya tempat itu yang bersedia untuk membayar waktu menunggunya selama sepuluh hari di Jakarta. Ia membayar lima puluh ribu untuk sepuluh hari tinggal di tempat itu. Mahal, pikirnya. Apa boleh buat, ia harus membayar dan harus menemukan suaminya segera. Pundi-pundi uangnya sudah mulai menipis.

Bersambung

Advertisements

PUISI: Kidung Cinta Pangeran Kodok

wp-image--613944796

Rupa wajah yang tak setampan Romeo dalam Shakespeare. Mata yang tajam seperti elang dengan sorot seperti surya di pagi hari. Sesungging senyum seperti wangi bunga di pagi hari, meluluhkan hati. Wanita mana yang tak terpesona oleh mata dan senyum yang memanah hati?

Pangeran Kodok.

Kuberanikan diri menyapa keangkuhan hatinya. Ia hanya mengganggukan kepala. Sopan dan santun. Matanya menyelidik setiap lekuk tubuhku. Aku seperti ditelanjangi oleh sorot bintang dalam matanya. Gelora hati yang malu, tak kuasa aku menahan panah hati.

Pangeran Kodok.

Ia berlalu. Seiring waktu, ia tak terlihat. Ia pergi terbawa oleh kebisuan hatiku. Ia tak kembali hanya karena aku tak mampu menyelami samudera hatinya. Hatinya yang luas tak terbendung oleh jangkuan anganku. Memasuki hatinya seperti puri misteri yang gelap, hanya meraba dan sulit dipahami.

Kini senandung mesra, ditiupkan oleh Pangeran Kodok yang pergi membawa seraut tanya. Tak pernah kembali, meski hati memintanya. Tak pernah angin membawa kabar. Tak ada merpati yang tulus, terbang membawakan kidung mesra lagi padaku. Ia larut dalam misteri jiwa yang tak pernah kuselami.

Gelora cinta telah ditabuh olehnya. Sadarkah ia betapa aku mendambakannya? Tahukah ia betapa aku menginginkannya? Adakah ruang rindu antara aku dengannya dalam bilik hatinya? Maukah waktu sejenak mempertemukan kami kembali?

Tak kuasa aku menahan kidung mesra yang tertulis oleh suratan takdir. Tertulis nama Pangeran Kodok dan diriku dalam jalinan kisah asmara. Dewi Cinta mengukir nama kami berdua. Namun, sang waktu membawa impianku bersamanya.

Saat rembulan hadir bersama bintang. Kutiupkan nama Pangeran Kodok sambil berharap, malam itu akan kembali bersama kami lagi. Malam yang dihiasi oleh semburat merah jambu di sekelilingku. Malam yang berhasil mempertemukan kami dalam alunan emosi jiwa. Malam yang menggoda kami untuk saling menggenggam jemari tapi bukan hati.

Rasa rindu ini semakin membara. Rindu yang hampir menenggelamkan jiwaku. Rindu yang membuatku hampir gila, mencarinya. Kulambungkan anganku untuk seorang Pangeran Kodok dalam sebuah mimpi.

Sadar diri bahwa mimpi tak bertepi ini telah ditinggalkannya. Maaf telah terucap namun rindu masih tertinggal. Nama masih disebut dalam doa pada yang Ilahi. Agar kidung cinta ini masih terpatri dalam buku kisah asmara milik Dewi Cinta.

Semoga Kidung Cinta tak dihapus oleh Sang Waktu.

 

CERPEN: Begitulah Cinta, Begitu Sulit Dijelaskan

cropped-img_20161017_152839_153.jpg
Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Begitulah cinta, tidak ada yang sempurna. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Seorang Perempuan berparas cantik namun sayang Tuhan memberikan takdir buta saat ia memasuki usia remaja. Setiap hari Perempuan itu memandang diri di cermin. Ia meraba wajahnya yang cantik. Meski tak bisa melihat tetapi ia bisa merasakan bahwa wajahnya cantik.

Suatu kali, ia menemukan Peri Jahat dalam dirinya. Peri Jahat itu membisikkan ke telinganya saban pagi, setiap Perempuan itu berkaca di depan cermin. “Kamu jelek sekali. Pantas, tak ada lelaki yang mau bersamamu” ujar Peri Jahat itu.

Perempuan itu hanya bisa diam. Bagaimana ia bisa membuktikan bahwa ia adalah perempuan cantik? Bagaimana ia bisa membuktikan bahwa ia dapat menyangkal Peri Jahat ini? Ia pun tetap diam setiap Peri Jahat itu membisikkannya.

Perempuan itu buta. Hanya itu yang diketahuinya.

Ia sadar bahwa ia bukanlah perempuan cantik sebagaimana dulu para pria mengaguminya. Ia sadar dengan kelemahannya yang buta, hingga ia tak menemukan pria yang layak untuk bersanding dengannya dalam hidupnya kelak.

Perempuan cantik nan malang. Ia hanya bisa meratapi nasibnya sebagai Perempuan buruk rupa. Gambaran cantik hanya dalam kenangannya. Gambaran buruk rupa kini dalam benaknya. Peri Jahat itu berhasil menghasutnya.

Perempuan itu buta. Ia tidak menyadari bahwa selama ini bukan keadaan yang menyebabkan ia tak bisa mengenali dirinya lagi. Perempuan itu buta, tak melihat tapi bisa mendengarkan. Mendengarkan bukan dengan suara hatinya. Perempuan itu mendengarkan Peri Jahat yang kerap datang menghampirinya.

Perempuan yang cantik dirundung kemalangan. Setiap hari, penglihatannya hanya bayangan gelap yang tertanam sebagai Perempuan buruk rupa nan malang hingga tak ada seorang pria pun membukakan tabir penglihatannya.

Perempuan itu terus berdoa dan berharap bahwa kelak Tuhan mempertemukannya dengan seorang Pria yang menjadi Penglihatan buat hidupnya kelak.

Peri Jahat datang terus menghampiri dan membisikkannya.

Perempuan itu pun terus berdoa dan berharap pada Tuhan agar keajaiban itu muncul. Ia tak mungkin menyingkirkan Peri Jahat, karena Peri Jahat tinggal dalam hatinya.

Suatu saat, Tuhan mendengarkan doa perempuan ini. Seorang Pria baik hati datang hendak mencari Pendamping Hidupnya. Pria baik hati ini mendengarkan bahwa ada seorang perempuan buta yang mencari pendamping hidup. Didatanginya perempuan itu dengan penuh harapan, agar kelak mereka dapat hidup bersama.

Alangkah bahagianya Perempuan ini mendengarkan niat baik Pria baik hati ini. Semua orang menutup rapat-rapat mulut mereka agar Perempuan ini tidak mengetahui bahwa sebenarnya Pria baik hati ini juga adalah seorang yang memiliki kelemahan fisik. Pria baik hati ini adalah seorang yang tidak memiliki pendengaran. Sejak kecil, Tuhan memberikan hidupnya sebagai orang yang tak bisa mendengar tetapi memiliki indera yang peka. Bicaranya tak lancar karena ia kesulitan untuk mendengarkan. Namun, dengan hatinya, Pria baik hati ini mampu mengkomunikasikan apa yang dikehendaki.

Itulah Tuhan, Dia membuat sesuatu yang tak mustahil menjadi terjadi.

Perempuan cantik dan buta itu menikahi Pria baik hati yang tuli. Kini, Perempuan ini tak lagi malang, ia sudah menemukan Pendamping Hidupnya.

Pria baik hati hanya bisa mengatakan, “Kamu adalah Perempuan yang cantik.” Sebagaimana yang terus diajarkan orangtuanya sejak ia ingin menikahi perempuan ini.

Setiap pagi, Pria baik hati ini akan menuntun Perempuan ini berjalan menyusuri keindahan kota, tetapi tak banyak yang bisa dipercakapkannya. Pria baik hati ini, hanya bisa berujar, “Kamu adalah Perempun yang cantik.”

Meski Perempuan ini tak bisa melihat keindahan dunia, tetapi dalam pikirannya ia sadar bahwa ia adalah perempuan yang cantik. Karena, sang suami, Pria baik hati, telah mengatakannya padanya.

Keindahan dunia hanya bisa dirasakan lewat hatinya, yaitu cinta yang dirasakan terhadap kebaikan hati Pria ini.

Itulah cinta, ketidaksempurnaan yang menyempurnakan kedua insan yang tak sempurna agar memandang keindahan dunia dengan caranya sendiri.

Pria baik hati ini, bisa melihat keindangan dunia ini dan memandang istrinya yang cantik tetapi tak bisa mendengar. Ia bersyukur Tuhan menutup telinganya, sehingga ia tidak pernah mendengarkan suara seperti Peri Jahat.

Perempuan yang cantik ini, tak lagi melihat buta sebagai kemalangan hidupnya. Ia telah menemukan tambatan hatinya. Setiap hari, ia bisa mendengarkan Pria, kini suaminya, berujar bahwa ia adalah perempuan yang cantik. Ia bersyukur Tuhan menutup matanya, sehingga ia tak perlu lagi melihat rupa Pria baik hati ini. Menurutnya, kebaikan hati tak lagi dipandang dari rupanya. Ia tak perlu lagi melihat keindahan dunia ini dengan matanya, tetapi cukup dengan hatinya yang penuh syukur bahwa ia adalah perempuan yang cantik.

Begitulah cinta. Tuhan yang baik hati telah mengatur bagaimana pasangan hidup tercipta agar saling melengkapi.

Begitulah cinta. Cinta tidak tumbuh dari keindahan dunia atau keelokan seseorang, tetapi dari hati yang tulus.

Begitulah cinta. Ia memandang kerendahan hati seseorang untuk menerima pasangannya apa adanya, tanpa melihat kelemahannya.

Dan, begitulah cinta. Tiada yang paling indah, selain menyadari bahwa kau dicintai, seperti apapun dirimu.

Bandung, di awal bulan baik 2010

 

PUISI: Aku Sudah Jatuh Cinta

wp-image--816901833
Ilustrasi. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Cinta itu buta
Sewajarnya ia tidak melihat betapa bodohnya aku
Tanpa melihat
Aku sudah jatuh cinta

Cinta itu tuli
Sepertinya ia akan bisa mendengar betapa kencang degup jantungnya
Kala aku memandang wajahnya
Aku sudah jatuh cinta

Cinta itu bisu
Sepertinya ia tak akan sanggup berkata-kata
Saat waktu mempertemukan kami
Aku sudah jatuh cinta

Cinta itu tawar
Seumpama ia tak bisa merasakan betapa salah tingkahnya
Saat rembulan yang temaram melihat keluguanku
Aku sudah jatuh cinta

Cinta itu indah,
Indah saat kau luputkan hatiku dari kesedihan
Aku sudah jatuh cinta

Cinta itu misteri
Misteri ilahi yang tercipta antara kau dan aku
Aku sudah jatuh cinta

Cinta itu agung
Agung dan luhur yang tak tergantikan oleh dusta dan nista
Aku sudah jatuh cinta

Cinta itu kepercayaan
Percaya dan yakin waktu akan membawamu bersamaku
Aku sudah jatuh cinta

Cinta itu segalanya
Segalanya tercipta karena kehadiranmu
Aku sudah jatuh cinta

Cinta itu gila
Gila karena aku terus memikirkanmu
Aku sudah jatuh cinta

Cinta itu ketidaksempurnaan
Ketidaksempurnaan yang kelak menjadi sempurna karenamu
Aku sudah jatuh cinta
Terimakasih,
Aku sudah jatuh cinta
Mengawali permulaan bulan yang baik

CERPEN: Merajut serpihan hati

wp-image-1472552127
Dokumen pribadi.

Kala mentari menghiasi hari dengan terang, Perempuan itu berjalan mengais serajut mimpi. Tak ditemukan apa yang dicarinya. Ia mengiba pada mentari. Wajahnya peluh oleh keringat, hatinya penuh oleh gelora harapan tapi mimpi tak kunjung datang. Matanya terus mencari, tangannya bergerak-gerak mengais sesuatu yang ditemuinya di jalan.

Kosong.

Hampa.

Perempuan itu tidak menemukan apa pun.

Mentari terus memancarkan sinarnya. Teriknya tidak hanya membakar tubuh perempuan itu, tetapi membakar hatinya yang kacau oleh serpihan harapan yang dibangunnya sejak pagi datang.

Tuhan, keluh perempuan itu. Adakah Engkau disana, memperhatikan kerendahan hatiku? Adakah Engkau disana, melihat peluhku mencari serpihan hati ini yang retak dan kini entah dimana? Adakah Engkau disana, menyaksikanku menderita atas nama cinta?

Malam pun datang. Seisi kota hampir ditelusurinya dengan penuh harap, oleh perempuan itu. Tak kunjung pelita itu membantunya mencari serpihan hati yang dicarinya. Kala rembulan datang dengan temaram, perempuan itu tetap meringis menahan perih hati yang koyak.

Tubuhnya lemah, pikirannya kosong dan matanya nanar.

Malaikat datang menghampirinya. “Oh Malaikat, aku tak sanggup lagi!” seru perempuan itu. Malaikat pun menghampiri dan menatap perempuan itu.

“Malaikat, kau tau apa yang kurasakan sekarang. Hatiku hancur berkeping-keping. Tak kutemukan serpihannya di seisi kota. Tak ada yang tahu, dimana kau letakkan serpihan. Kau tahu, aku tak bisa hidup tanpanya. Jiwaku luluh lantak, saat kau meretakkannya.”

Malaikat pun tersenyum.

“Aku sadar, jiwaku akan mati tanpanya. Aku sadar, bahwa masa lalu telah mengoyakkannya. Aku sadar, bahwa kesalahanku telah melukainya. Aku sadar bahwa itu semua karenaku. Aku sadar bahwa Tuhan telah menghukumku.”

“Aku sadar bahwa serpihan yang kurajut nanti saat kutemukan tak seindah yang dulu” teriak perempuan itu kepada Malaikat.

Malaikat pun tersenyum lagi. Malaikat meninggalkan perempuan itu disana, terkapar pasrah. Fisiknya lemah karena separuh hidupnya telah pergi. Asa masih bersama perempuan itu.

“Oh Tuhan, jika jiwa ini masih bisa bertahan tanpanya, biarkan dia menjadi milikku selamanya. Kan kurajut serpihan hati ini dengan penuh rasa cinta.”

Perempuan itu menutup mata. Nafasnya satu demi satu. Hidupnya tinggal sepenggal lagi. Serpihan hatinya yang tersisa masih digenggamnya kuat-kuat. Baik hanya separuh daripada aku harus kehilangan semuanya.

Tuhan tak diam. Ia tidak menutup mata terhadap perempuan ini.

Saat ingin mengkatupkan kedua tangannya, tangan yang satu menggenggam serpihan hati, tiba-tiba tangan yang lain menemukan serpihan yang selama ini dicarinya.

Sontak, perempuan itu bangkit dari kelemahannya. Matanya terbuka bahagia. Dilihatnya tangan yang lain, yang menggenggam serpihan yang baru saja ditemukannya itu.

Fisiknya yang lemah, tak dipedulikannya lagi.

Perempuan itu mengambil jarum kebahagiaan dan benang keindahan, dirajutnya serpihan itu, yang satu dengan yang lain. Meski butuh waktu untuk merajutnya, meski butuh usaha untuk menekuninya, meski butuh kesabaran untuk menantinya namun hati tak lagi terpisah.

Merajut serpihan hati bukanlah sebuah proses yang mudah, kemudahan akan dilancarkan olehNya, atas kehendak dan niat baik kita kepada Tuhan. Perempuan itu hidup kembali dengan hati yang terajut kembali. Lebih baik hidup dengan hati yang terajut kembali daripada tanpanya.

 

Bandung, permulaan bulan baik 2010.

 

MONOLOG HATI: Antara si baik dengan Si jahat

wp-image-852658345

Si baik: Apa yang harus aku lakukan? Tak tentu arah menemukan jawaban.

Si jahat: Teruslah bertanya, kamu tidak akan mendapatkan jawabannya.

Si baik: Maksudmu?

Si jahat: Pertanyaan tidak akan mengubah keadaan. Keadaan berubah jika kamu mengubah apa yang ada di benakmu. Keadaan berubah jika kamu mengubah perilaku. Keadaan tidak akan berubah hanya dengan bertanya dan bertanya.

Si baik: Ya, kamu benar. Tapi aku tetap tak habis pikir mengapa pikiranku hanya tertuju pada sebuah nama. Perilakuku juga hanya mengarah pada sebuah nama. Bagaimana mungkin sebuah nama ini terus menghias hatiku?

Si jahat: kalau begitu lakukan apa yang dikehendaki pikiranmu. Nama itu akan terus menghantuimu dan rasa bersalahmu karena kamu tidak pernah bisa memilikinya.

Si baik: Meski aku tidak bisa memilikinya, akankah aku bisa mengorbakan hati yang jadi milikku untuknya.

Si Jahat: Apa? Kamu mau mengorbankan kita, hati, untuk dia. Gila aja. Perempuan sepertimu, bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan.

Si baik: Tenanglah. Maksudku, kemanapun aku pergi pasti kamu akan ikut serta. Bahkan saat ‘sebuah nama’ bersamaku, kau selalu membujukku untuk mengorbankan kehormatan hati ini untuknya. Asal kamu tahu, aku selalu berhasil mengalahkanmu, kebaikan selalu menang.

Si jahat: Memang kau selalu menang tetapi kau tidak pernah bisa memenangkan pikiranmu padanya. Pikiranmu dan ruang hati selalu dipenuhi oleh ‘sebuah nama’. Aku muak. Mengapa kau tidak menuruti keinginanku?

Si baik: Hai bodoh, jika aku menuruti keinginanmu maka ruang dimana kita tinggal, yaitu hati, sudah kotor dipenuhi oleh nafsu. Jika aku menuruti keinginanmu maka aku akan melukai hati yang lain. Jika aku menuruti keinginanmu, maka aku tidak bisa mempertanggungjawabkan milikku kelak pada ‘Nama Lain’ yang pantas mendapatkannya. Jika aku menuruti keinginanmu, Tuhan pasti akan menghukumku atas kebodohanku menerima hadirnya dirimu, Si Jahat.

Si Jahat: Baiklah, kamu memang selalu bisa memenangkan pertandingan ini. Meski kamu menang tapi kamu tidak bisa memenangkan pikiranmu.

Si baik: Dengan terpaksa, aku harus mengubah pikiranku. Dengan terpaksa, kita akan menyapu bersih ‘Sebuah Nama’ itu dalam ruangan ini. Biarlah ruang ini bersih. Biarlah kehormatan kita tetap terjaga tanpa menyakiti hati yang lain. Apalah arti ‘Sebuah Nama’ jika hanya meninggalkan luka yang dalam.

Si Jahat: Kamu menang, Sobat.

Si baik: Kemenangan hati tidak terletak pada kebaikan semata tetapi bagaimana hati membantu pikiran dan perilaku untuk tetap mengarah pada kebaikan. Jika hati, pikiran dan perilaku baik maka kehormatan seseorang terpancar disana.

Si jahat: Yah, baiklah. Tuhan memang selalu mendukungmu, Sobat.

Si baik: Tuhan akan beserta siapa saja, si baik dan si jahat, tergantung bagaimana bisa memenangkannya.

 

PUISI: Seperti Malaikat dan Iblis

wpid-10-Frauenkirche-inside_i-like-to-sit-longer-and-silent.jpg
Frauenkirche, konon kabarnya Iblis pun iri melihat kemegahan gereja ini. Dokumen pribadi.

Kamu seperti Malaikat,

Hatimu menyentuhku dengan pesona ketegaranmu menghadapi hidup

Kamu seperti Iblis,

Kamu menggodaku dengan sejuta rayu meluluhkan jiwa

Kamu seperti Malaikat,

Bayanganmu hadir menyelamatkan kerapuhan jiwaku

Kamu seperti Iblis,

Rayuanmu siap menerkam kelemahan diriku

Kamu seperti Malaikat,

Kebijaksanaanmu meluluhkan pikiranku

Kau seperti Iblis,

Memperlakukan diriku bak seorang Ratu Iblis

Kamu seperti Malaikat,

Hadirmu menguatkanku saat aku jatuh

Kamu seperti Iblis,

Mengajakku berdiskusi tentang Neraka

Kamu seperti Malaikat,

Pesona wajahmu bak seorang Raja Salomo

Kamu seperti Iblis,

Keinginanmu bak seorang Lucifer

Kamu seperti Malaikat,

Hatimu setulus merpati

Kamu seperti Iblis,

Seringnya kau tak setia pada janjimu

Kamu ya kamu,

Malaikat sekaligus Iblis

Menggodaku dengan pribadimu

Memperkosaku dengan nafsumu

Aku akan melupakanmu sebagai Iblis

Aku akan menganggapmu sebagai Malaikat

Jadilah Malaikat dalam hidupku

Meski tak akan pernah aku miliki

Jadilah dirimu sendiri

PUISI: Cinta dan Salah

wp-image-576008401
Kue jahe berbentuk hati dan berasa manis. Dokumen pribadi

Adakah cinta itu salah

Dia memanah rasa menjadi asa

Hingga suka menjadi duka

Adakah cinta itu salah?

Tak pernah bisa dimiliki tetapi bisa dirasakan

Mati pun tak mau, apalagi hidup

Adakah cinta itu salah?

Kala ditanyakan, tak jujur untuk menjawab

Ragu untuk melangkah

Adakah cinta itu salah?

Menyesakkan jiwa dengan sejuta rayuan, tertahan oleh nafsu

Dipendam oleh kerinduan

Adakah cinta itu salah?

Bagai malaikat ia hadir, nampak pula iblis mengikutinya

Bingung

Adakah cinta itu salah?

Rindu tercekat di tenggorokan, maaf terucap di bibir

Pedih menahan perih

Adakah cinta itu salah?

Diam berarti emas, tak pernah lekang oleh waktu

Abadi seperti berlian

Adakah cinta itu salah?

Sejuta mimpi muncul bersama, tertahan dalam angan

Terbang bersama burung dengan satu sayap

Adakah cinta itu salah?

Ada

Tidak

Salah

Tidak salah

Cinta tak pernah salah,

Hanya salah memanah orang yang dimabuk cinta.

PUISI: Aku mencintaimu

1y1.jpg
Dokumen pribadi.

Aku mencintaimu,

Ketika aku meminta pada Tuhan setitik air

Dia berikan aku samudera

Aku mencintaimu,

Ketika aku meminta pada Tuhan setangkai mawar

Dia berikan aku taman yang indah

Aku mencintaimu,

Ketika aku meminta pada Tuhan kesabaran

Dia berikan aku waktu untuk menanti

Aku mencintaimu,

Ketika aku meminta pada Tuhan kekuatan

Dia berikan aku ketegaran

Aku mencintaimu,

Ketika aku meminta pada Tuhan pengharapan

Dia berikan aku kepastian

Aku mencintaimu,

Ketika aku meminta pada Tuhan kemenangan

Dia berikan aku kelegaan untuk menerima

 

Aku mencintaimu,

Ketika aku meminta pada Tuhan cinta

Dia berikan kau sebagai jawabannya

Aku mencintaimu,

Ketika aku meminta pada Tuhan teman hidup

Dia berikan kau sebagai pasangan hidup

Aku mencintaimu,

Ketika aku meminta pada Tuhan belahan jiwa

Dia berikan kau sejiwa denganku

Aku mencintaimu,

Ketika aku meminta pada Tuhan hidup

Dia berikan kau sebagai hidupku

Aku mencintaimu,

Ketika aku meminta pada Tuhan kesetiaan

Dia berikan kau sebagai pengikat janji suci

Aku mencintaimu,

Ketika aku meminta pada Tuhan segala-galanya

Dia berikan kau sebagai jaminan hidupku

Betapa aku mencintaimu,

Terimakasih atas cinta ini

2009/12/10

PUISI: Cinta & Benci

wpid-foto-comics.jpg
Dokumen pribadi.

 

Setiap orang diciptakan untuk saling mencintai. Tetapi, mengapa ada kebencian? Perasaan benci berarti bukan cinta. Perasaan benci pasti berbeda dengan cinta. Bentuk perlakuan membenci pasti berbeda dengan mencinta.

Tuhan senantiasa mencintai manusia. Apakah Tuhan membenci manusia?

Jika Tuhan menciptakan hati untuk mencintai, mengapa hati yang diciptakan bisa menumbuhkan perasaan benci. Benci bukan berarti Benar-benar Cinta. Benci ya Benci. Tidak suka. Tidak Cinta. Jika ditanya, bagaimana benci itu tumbuh? Jawabnya pasti di hati. Hati yang membenci. Meski, banyak orang memandang kebencian dengan mata namun mata yang benci berawal dari hati.

Saat mencintai, pasti kita sulit untuk membenci. Begitu pun sebaliknya. Saat membenci, kita pun tidak bisa untuk mencinta.

Jika cinta bertumbuh dari hati, mengapa hati yang sama mampu menumbuhkan benci?

Cinta. Benci.

Dua hal yang berbeda.

Jika kita membenci, kita tidak pernah punya kesempatan untuk mencintai. Saat kita mencintai, kita pun tidak punya kesempatan untuk membenci. Lantas, mengapa kita tidak memulai dengan mencintai seseorang?

Tuhan hanya menciptakan satu hati. Hati yang berkembang untuk mencintai, bukan membenci.

Cinta selalu menumbuhkan kedamaian. Cinta menumbuhkan kebahagian.

Benci selalu menumbuhkan pertengkaran.

Cinta berasal dari Tuhan. Lantas, darimana benci bisa muncul?
Hanya Anda dan perasaan benci itu yang tahu.

Selamat mencintai!