Perempuan & Malaikat Kebaikan

Sumber foto: Dokumen pribadi.

Woman: “Malaikatku, dimanakah Tuhan? Aku lelah mencariNya.”

Angel of Kindness: “Pernahkah kau berdoa?”

Woman: “Tentu pernah. Aku tidak pernah melewatkan waktu sehari pun tanpa
berdoa.”

Angel of Kindness: “Saat berdoa, apa yang kau rasakan?”

Woman: ”Aku tidak merasakan apapun. Pikiranku melayang memikirkan satu per
satu permasalahan hidupku. Hatiku bimbang memikirkan kecemasan yang
akan terjadi. Tuhan diam. Dia tidak bereaksi apapun”

Angel of Kindness: ”Apa yang kau ucapkan saat berdoa?”

Woman: “Tuhan, lihatlah betapa besar masalah yang kuhadapi!”

Angel of Kindness: “Seharusnya kamu berdoa seperti ini, ‘Masalah, lihatlah betapa besar
Tuhanku yang akan kau hadapi.’. Setelah itu, bukalah hatimu untuk bisa merasakan kehadiran Tuhan. Bukalah pikiranmu agar Tuhan menuntunmu. Diamlah dan temukan Tuhan dalam keheningan.”

Woman: ”Apakah Tuhan akan datang jika aku berlaku demikian?”

Angel of Kindness: ”Tidak.”

Woman: “Lantas, mengapa kau memintaku berdoa seperti itu?”

Angel of Kindness: ”Tuhan akan datang kapan pun saat kau butuhkan dimana saja. Disini pun, Tuhan ada.”

Woman: ”oh ya? Dimana Tuhan?”

Angel of Kindness: ”Dia ada di hatimu.”

Woman: “Tapi aku tidak pernah merasakan Dia di dalam hatiku.”

Angel of Kindness: “Kau tidak merasakan apapun selama kau masih menutupi hatimu dengan kecemasan dan keraguan. Kau tidak membuka hatimu untukNya.”

Tiga hari kemudian, perempuan itu meninggal. Ditemukan sebuah tulisan tidak jauh dari mayat perempuan itu ’Mati sebagai orang yang bermasalah dan tidak bisa membuka hati.’ Hati manusia tidak ada yang tahu.

Orang mengeluh tentang masalahnya tetapi tidak berdoa kepadaNya.
Orang berdoa kepadaNya tetapi tidak membuka hati kepadaNya.
Orang membuka hati kepadaNya tetapi tidak memaknai masalah yang dihadapinya.

Advertisements

CERPEN: Siapakah Saya?

wp-image--1957577767
Sumber foto: Dokumen pribadi.

Manusia yang sedang kebingungan, berjalan menyusuri kota. Ia bertanya kepada seorang yang lewat, “Apakah Bapak menemukan ‘siapa diriku’? Aku kehilangan ‘siapa diriku”

“Maaf, saya tidak menemukannya. Mungkin Anda lupa meletakkannya” jawab si Bapak sambil berlalu.

Manusia itu pun terus menyusuri kota. Ia hendak menemui Guru yang pernah mengajarkannya tentang segala ilmu pengetahuan. “Maaf Guru, apakah Anda mengetahui siapa diriku?” tanya manusia itu.

Guru menjawab, “Maaf, saya tidak pernah mengajarkan ilmu mengenai siapa dirimu.”

Setelah tidak mendapatkan jawaban dari Guru, manusia pun berlalu. Ia pun berniat menanyakan perihal ‘siapa dirinya’ kepada orangtuanya.

Saat ditemui, Ayahnya telah tiada, tinggal Sang Ibu sebatang kara. “Ibu, aku kehilangan ‘siapa diriku’. Aku tidak menemukannya. Apakah ibu tahu, ‘siapa diriku’?”

Sang Ibu semakin bingung ditanya oleh anaknya. “Nak, Ibu pun tidak tahu ‘siapa engkau” jawab Ibu.

Manusia bertambah putus asa karena belum menemukan jawaban. Ia lalu pergi menemui Pendeta yang diyakini saleh nan bijaksana di kota itu.

“Maaf Pak Pendeta, apakah Anda mengetahui ‘siapa diriku’. Aku kehilangan diriku. Aku belum menemukannya” tanya manusia kepada Pendeta itu.

Pendeta pun menjawab dengan penuh bijaksana, “Nak, saya pun tidak mengetahui ‘siapa engkau”

Karena sudah kesal tidak menemukan jawaban, manusia itu pun menyahut, “Dapatkah Anda memberikan aku petunjuk sehingga aku dapat mengenali diriku, Pendeta?”

Pendeta itu pun diam, tidak menjawab. Ia pun memberikan perumpamaan.

“Apa ini?” tanya Pendeta yang menunjuk buah apel di hadapan manusia.

“Apel” jawab manusia.

“Bagaimana kamu tahu bahwa itu adalah apel?” tanya Pendeta kemudian.

Manusia pun diam.

Pendeta melanjutkan, “Orang mengenali bahwa ini adalah apel, dilihat dari warna dan bentuk. Tetapi bagaimana jika orang buta mengenali bahwa ini adalah apel. Tentu, ia mengetahui setelah ia dapat merasakan buah ini, lalu bertanya benda apa ini.”

Manusia termangut-mangut, mencoba memahami perumpamaan Pendeta.

Bandung, 020709

Masing-masing orang memiliki opininya sendiri mengenai pribadinya. Tidak ada pendapat atau ramalan yang tepat mengenai siapa diri kita sesungguhnya.

CERPEN: Balada Perempuan

wp-image-595702827

“Sungguh aku tidak tahu jalan mana yang harus kupilih” keluhku. Perempuan itu berjalan terus dan meraba-raba setiap benda yang disentuhnya. “Aku buta, aku menyerah, tolong bantu aku!” pintanya sekali lagi.

“Jangan menyerah, kamulah yang menemukan tujuanmu!” kata suara itu.

“Lalu, apa yang harus aku lakukan?” perempuan itu menyahut sambil terus berjalan. “Mengapa jalan yang kulalui penuh rintangan?”

“Dengar hai perempuan, kau harus mendengarkan suara hatimu. Dengarlah suara hatimu dalam keheningan, bukan keluh kesahmu. Disitulah kau menemukan dirimu yang selaras dengan pikiran dan perasaanmu” kata suara itu sekali lagi.

Perempuan itu diam. Suasana hening. Tidak ada suara. “Hm, tidak ada pilihan. Jalan yang aku lalui ini penuh rintangan. Sia-sia” sahut perempuan itu tiba-tiba.

Suara itu pun menyahut, “Jika jalan yang kau tempuh bebas dari rintangan, jalan itu tidak berguna. Kau harus membuka dirimu terhadap alam semesta. Yang harus kau miliki adalah keyakinan maka mereka akan menopangmu. Pilihlah jalanmu, bertindaklah sekarang. Saat ini adalah waktu yang tepat.”

“Darimana aku harus memulainya?” tanya perempuan itu sekali lagi.

Suara itu menjawab, “Mulailah dari tempatmu ini berada dan bersiaplah untuk kecewa. Sebab, jalan yang kau lalui, tidak selamanya mulus.”

Bandung, 020509

CERPEN: Tukang Cukur dan Guru Bijak

wp-image-979156162

 

Suatu kali, seorang Guru Bijaksana datang ke seorang Tukang Cukur. Guru ini meminta kepada Tukang Cukur untuk merapikan rambutnya yang sedikit mulai tidak rapi dan tidak nyaman bagi Sang Guru. Si Tukang Cukur menerima dengan senang hati kedatangan Sang Guru. Sambil mencukur, Tukang Cukur bertanya, “Apa pekerjaan anda?” Guru pun hanya menjawab biasa saja, “Saya ini hanya Hamba Tuhan.”

 

Si Tukang cukur mulai bercerita bahwa ia tidak pernah percaya tentang kehadiran Tuhan. Sang Guru balik bertanya, mengapa Tukang Cukur tidak percaya dengan Tuhan? Tukang Cukur pun menjawab sambil menunjuk ke arah Pengemis di luar sana, sedang berdiri dan meminta-minta belas kasihan kepada orang-orang yang lewat.

 

Jawab Tukang Cukur “Jika memang ada Tuhan maka Pengemis itu tidak perlu ada. Jika memang Tuhan ada maka tidak perlu ada kejahatan, kemiskinan dan keadaan buruk lainnya di dunia ini.”

 

Sang Guru bukannya menyangkal jawaban Tukang Cukur tetapi hanya termangut-mangut saja. Si Tukang cukur pun selesai mencukur Sang Guru. Sang Guru memberikan upah, mengucapkan terimakasih dan berpamitan kepada Tukang Cukur.

 

Saat dalam perjalanan pulang, Sang Guru pun bingung bagaimana meyakinkan Tukang Cukur. Sambil berjalan, ia melihat seorang pemuda berambut gondrong, tidak beraturan dan rambutnya berantakan sekali. Kemudian, Sang Guru pun berlari dan menemui Tukang Cukur. Ia mendapati Tukang Cukur sedang tidak mengerjakan tugasnya. Tukang cukur pun terkejut mendapati Sang Guru kembali datang.

 

Sang Guru pun berkata kepada Tukang Cukur begini, “Saat dalam perjalanan pulang, saya menjumpai seorang pemuda berambut gondrong, rambutnya berantakan dan tidak rapi. Jika memang ada Tukang cukur, mengapa masih ada orang seperti itu?”

 

Sang Guru pun penasaran dengan jawaban Tukang Cukur. Tukang Cukur pun menjawab begini, “Lah, mengapa mereka tidak datang kepada saya?” sanggahnya. Sang Guru pun membalas, “Begitu pun dengan pernyataanmu tadi tentang Tuhan. Mengapa mereka juga tidak datang kepada-Nya, yang empunya segalanya?”

 

Sebagaimana yang ditangkap oleh Penulis saat kotbah di suatu Misa pagi.

 

Tuhan ada dan hadir dimana saja dan kapan saja. Bagaimana kita memaknai kehadiran Tuhan dalam hidup kita? Kembali kepada diri kita masing-masing. Mengapa kita tidak datang kepada-Nya, jika kondisi hidup kita buruk? Apakah Tuhan akan membalikkan nasib kita? Pastinya nasib bukan ditentukan oleh kehadiran Tuhan. Tuhan telah menyediakan segala cara dan tanda-tanda untuk kita pahami bahwa Tuhan itu ada.

AR (01/07/09)

CERPEN: Pria Bertangan emas

 

wp-image-1108807384
Ilustrasi.

 

Di jaman dahulu kala, ada seseorang yang hidupnya sebatang kara. Hidupnya menjadi terlunta-lunta oleh karena kemiskinan. Orangtuanya meninggal sejak ia berusia 10 tahun. Ia berdoa sepanjang masa kepada dewa agar ia bisa hidup kaya dan memiliki pasangan hidup yang cantik jelita.

Lima tahun kemudian, Pria ini sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Ladang peninggalan orangtuanya telah habis terjual. Ia sudah tidak punya apa-apa lagi untuk bertahan hidup, hanya rumah yang dihuninya sejak ia lahir di dunia ini.

Saat usianya memasuki 20 tahun, rumah satu-satunya yang ia tempati pun raib di tangan “Penagih Hutang.” Ia begitu sedih. Apalah daya, ia sudah berupaya untuk berdoa setiap waktu kepada dewa dan berpuasa. Toh, hasilnya nihil.

Ketika tiba waktu “Penagih Hutang” datang untuk mengambil rumahnya, ia berlutut kepadanya dan meminta agar waktu pengambilan rumahnya dapat diundur.

“Aku berjanji… kali ini aku berjanji… bahwa aku akan membayarkan hutangku. Tetapi aku mohon kali ini, jangan ambil rumahku!” pinta pria itu. Ia bersujud di tanah sambil kedua tangannya menelungkup seperti berdoa. Ia membungkuk tiga kali.

Pria itu mengintip, memperhatikan Si Penagih Hutang. Pria itu berharap “Penagih Hutang” akan menuruti pintanya, meskipun ia sendiri tidak tahu darimana uang sebanyak itu. Agar lebih meyakinkan si Penagih Hutang, Pria itu menangis sejadi-jadinya. Ia meraung-raung di tanah. Perilakunya yang demikian membuat para tetangganya datang dan memperhatikan kejadian itu. Banyak tetangga yang berbisik. Bisikan mereka seolah-olah membela pria malang itu. Mengapa Si Penagih Hutang begitu jahat, toh pria ini akan membayarkan hutangnya seminggu lagi? bisik para tetangga. Dimana pria ini akan tinggal jika rumahnya diambil oleh Penagih Hutang. Ada pula tetangga yang berbisik demikian. Luluhlah hati si pemilik uang.

“Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu. Tapi ingat, waktunya hanya seminggu ya. Hutangmu terlalu banyak. Dan jika seminggu lagi aku datang, kau belum memiliki uang yang cukup maka aku dengan terpaksa akan mengambil rumahmu ini” seru Penagih Hutang.

Pria pemiliki hutang ini merasa bersyukur sekali. Ia mengelus-elus dadanya. Tiba-tiba “Penagih Hutang” membalikkan badannya dan berseru “Kau seharusnya bersyukur pada tetanggamu yang membelamu. Jika tidak ada mereka, aku sudah mengambil rumah ini. Mengerti!” bentak si Penagih Hutang.

Pria ini hanya tertunduk malu dan menggangguk tanda setuju. Ia mengucapkan terimakasih atas bantuan para tetangganya. Ia berjanji kepada tetangganya bahwa jika ia berhasil mendapatkan uang yang banyak maka ia akan mengadakan syukuran. Tetangganya berlalu meninggalkan rumahnya sambil berpikir darimana Pria ini mendapatkan uang sebanyak itu. Toh, pria ini tidak bekerja.

Setelah kejadian tersebut, Pria ini berpuasa tiga hari lamanya. Ia tidak makan. Ia tidak minum. Ia tidak tidur. Ia terus menerus menghaturkan pujian kepada Sang Dewa. Akhirnya, Dewa pun merasa iba oleh karena ketulusan dan penderitaan Pria ini.

Saat malam ketiga dari puasanya, Pria ini bertemu dengan Sang Dewa melalui penglihatannya. Dewa akan memberikan keajaiban melalui tangan kanan pria ini. Pria ini akan dikaruniai tangan yang ajaib. Jika pria ini berhasil memegang sesuatu dan berkata “Tolong!” maka apa pun yang akan dipegangnya akan menjadi emas.

Seusai penglihatannya, pria itu pun menguji keajaiban tangannya. Ia segera memegang sendok sambil berkata “Tolong!”. Akhirnya sendok itu pun menjadi emas. Begitu seterusnya ketika Pria ini memegang benda-benda yang lain. Ia pun kegirangan, melompat-lompat dan berteriak-teriak keliling rumah. Setelah terkumpul banyak barang yang bisa menjadi emas, pria ini menjualnya untuk membeli barang-barang yang diperlukan.

Dua hari kemudian rumahnya pun dipenuhi oleh banyak perabotan mewah. Hal ini membuat para tetangganya takjub dan kagum. Darimana pria ini mendapatkan uang sementara ia tidak bekerja? pikir tetangganya saat mereka melewati rumahnya. Ada pula tetangganya yang datang berkunjung dan ingin mengetahui rahasianya. Namun, pria ini tidak memberitahukan rahasianya. Padahal tetangga yang datang ini telah menolongnya saat Si Penagih Hutang datang dan mengambil rumahnya.

Karena ketakutan hartanya akan dirampok oleh tetangganya dan rahasianya diketahui oleh mereka maka pria ini pun pindah ke desa lain setelah ia membayar hutangnya kepada Penagih Hutang.

Di desanya yang baru, pria ini pun tidak berubah. Ia hanya duduk dan menikmati kemewahan perabotan yang dimilikinya. Ia tidak bekerja namun memiliki banyak emas. Karena kemewahan dan kekayaannya, banyak orang ingin mengenalnya termasuk seorang gadis yang begitu cantik jelita. Konon gadis ini adalah perempuan tercantik di desa ini namun begitu miskin. Begitu mendengar namanya, gadis ini pun datang ke rumah pria ini dan hendak bekerja di rumahnya.

Begitu melihat rupa gadis ini, pria itu pun terkejut. Ia langsung mengingat bahwa ia pernah berdoa kepada Dewa untuk mendapatkan pasangan hidup yang cantik jelita. Dewa telah mengabulkan seluruh doanya, pikir pria ini. Ia pun meminta gadis ini menjadi Isterinya. Pria ini membayar semua hutang Istrinya dan meminta Istrinya untuk melayani segala keperluannya dan merawat rumahnya yang megah bak istana itu.

Pria ini pun hidup bahagia dengan istrinya. Dari hari ke hari, isterinya begitu baik melayani pria ini bak seorang Raja. Sangking senangnya, ia terus berdoa kepada dewa agar dapat diberikan seorang anak. Ia bersyukur karena dewa telah mengabulkan doanya. Pria ini begitu menyayangi isterinya.

Istrinya pun bahagia karena dulu ia begitu miskin sehingga harus berkerja keras untuk menghidupi keluarganya. Namun, satu hal yang terus membuat isterinya semakin curiga darimana suaminya ini mendapatkan emas-emas, sementara suaminya tidak pernah bekerja. Tentu hal ini berbeda dengan falsafah kehidupan yang diajarkan keluarganya, kita akan dapat mempertahankan kehidupan dengan bekerja. Sedangkan isterinya tidak pernah melihat suaminya bekerja.

Sampai suatu saat, ia mengintip perilaku suaminya di dalam kamar. Ia terkejut ketika diketahuinya suaminya dapat mengubah benda menjadi emas. Ia pun berpikir bahwa suaminya pastilah seorang siluman. Manusia seperti apa yang dapat mengubah suatu benda menjadi emas jika ia pasti seorang siluman. Ia pun takut dan memutuskan untuk meninggalkan suaminya. Pantas saja, tidak boleh ada yang tinggal di dalam rumah megahnya ini, pikirnya.

Saat bergegas membawa barangnya keluar dari rumah, suaminya memanggilnya. Pria itu berseru “Mau kemana kau? Malam-malam begini membawa tas dan barang-barangmu…” Isterinya kaget melihat kehadiran suaminya. Ia pun berteriak-teriak menjuluki suaminya dengan kata ‘Siluman’.

Pria yang dipanggil Siluman itu kaget melihat perilaku isterinya. Ia begitu sayang kepada isterinya. Apa yang menyebabkan isterinya menuduhnya sebagai siluman?  Ia tidak ingin kehilangan isteri yang begitu disayanginya. Jika yang dimaksud siluman adalah perilakunya mengubah benda menjadi emas, tentu ia akan menjelaskannya.

Segera pria ini menarik tangan istrinya, ia berkata “Tolong… mengertilah!” pintanya. Tentu saja, isterinya langsung diam dan terbujur kaku, tidak bergerak. Pria ini takjub dan sedih ketika dilihatnya sang isteri sudah menjadi patung emas dengan posisi memalingkan muka, hendak berlari dan sebelah tangannya sedang dipegang oleh suaminya. Pria ini pun menangis dan merintih memanggil sng isteri untuk hidup kembali. Apalah daya, sang isteri telah menjadi patung emas.

“Tidak… Tidak….Jangan ambil Istri yang kusayangi ini!” teriak pria itu yang memeluk patung emas isterinya

Sambil menangis, berlari cari pertolongan kepada penduduk di desa itu. Ia mengetuk rumah dan memegang tangan tetangganya sambil meminta pertolongan. Tak lama kemudian, ia mendapati tetangganya itu menjadi patung emas. Ia terkejut.

Ketika dilihatnya seseorang menjadi Patung Emas karena perilaku Pria kaya yang meminta pertolongan itu maka seluruh penduduk desa menjauhi dan melempari Pria ini dengan batu. Seluruh penduduk desa mengira Pria ini adalah siluman yang berhasil mengubah seseorang menjadi patung emas.

Pria yang meminta pertolongan itu pun kabur karena dilempari batu. Ia pun diusir dari desa itu. Pria ini begitu sedih dan bingung. Malang benar nasibnya, ia telah kehilangan istrinya. Kini ia telah kehilangan seluruh miliknya.

Begitu merana nasib Pria ini. Ia pun tidak berani kembali ke Desanya dulu dimana ia dilahirkan. Ia malu karena telah berpikir buruk terhadap mereka. Ia juga telah mengingkari janjinya untuk mengadakan syukuran jika ia sudah memiliki uang.

Ia begitu sedihnya sehingga hidupnya terlunta-lunta. Pria Bertangan Emas itu pun mati sia-sia karena kesedihannya. Apalah artinya hidup berkelimpahan harta jika harus kehilangan cinta dari orang yang kita sayangi.

 

***

Kakek yang mendongeng dengan pesan bahwa kebahagiaan bukan diukur dari apa yang kita miliki tetapi apa yang kita rasakan. “Nak, kau akan bahagia karena hatimu bahagia. Bukan apa yang kau pakai atau apa yang kau miliki” seru Kakek sambil menutup kisah dongengnya.

Harta tidak menjamin seseorang akan hidup bahagia.

Ketamakan seseorang akan harta telah menutup arti cinta yang sesungguhnya yang berarti rela untuk mengorbankan apa yang kita miliki bagi orang lain.

Jika seseorang ingin berhasil tentu harus bekerja keras.

“Nak, uang bukan segala-galanya dalam hidup tetapi segala-galanya dalam hidup memerlukan uang. Jadi manfaatkan uang yang kau dapatkan dengan bekerja keras sebaik mungkin” pinta kakek kepada cucunya.

“Kek, falsafah yang diajarkan oleh gadis yang menjadi isteri pria itu. Bahwa kita dapat mempertahankan hidup dengan bekerja”  jawab si cucu menanggapi kisah dongeng Kakeknya.

“Ada satu hal lain yang menarik dari kisah ini selain pesan-pesan tadi” kata kakek menimpali cucunya.

“Apa?” tanya cucunya.

“Bahwa memang benar kamu dapat mempertahankan kehidupan dari apa yang kamu peroleh tetapi sesungguhnya kamu dapat menciptakan kehidupan jika kamu belajar memberi kepada orang lain. Dan itulah arti cinta sesungguhnya” kata Kakek kepada cucunya. “Tidurlah, sudah malam. Semoga kamu dapat memetik pengalaman berharga dari kisah pria bertangan emas ini” seru kakek sambil menyelimuit cucunya.

Kakek kemudian mematikan lampu di kamar dan menggantinya dengan lampu tidur. Ia menutup pintu kamar cucunya. Ia berharap cucunya dapat memahami tentang pesan moral dari kisah dongengnya itu.

dibuat oleh: AR (160808)

CERPEN: Dibawah Patung Bunda Maria

???????????????????????????????
Patung Bunda Maria di dalam gereja. Sumber foto: Dokumen pribadi

 

Waktu menunjukkan pukul 19.10 wib tetapi misa minggu sore belum berakhir. Resah. Itulah yang dirasakan oleh Perempuan itu. Ia pun bergegas membereskan teks misa dan buku Puji Syukur di hadapannya. Perempuan itu berdecak lagi, menggoyang-goyangkan kedua kakinya naik turun, menggumam sambil menengok kanan kiri. Ia berharap akan ada orang yang akan segera berkomentar, mendukung keresahannya akan waktu misa yang lama. Hasilnya nihil. Perempuan itu malah merasa dipandang aneh oleh jemaat yang duduk dalam satu barisan yang sama dengannya.

Perempuan itu kembali melihat jam tangan di tangan kirinya. Lima menit telah berlalu. Dia semakin tidak tahan untuk segera meninggalkan gereja. Ia meraih tas mungil warna merah, yang selalu sering dibawanya. Buru-buru, Perempuan itu meninggalkan bangkunya. Ia sengaja duduk di bangku panjang paling pinggir. Ia nyaman duduk di pinggir bangku dibandingkan di tengah. Ia tidak perlu merasa malu jika harus meninggalkan misa sebelum waktunya. Maklum, ritual terakhir sebagai tanda berakhirnya misa adalah pengucapan berkat dan perutusan dari Imam. Namun, kadang-kadang ada pula umat yang sudah meninggalkan gereja setelah waktu komuni tanpa menunggu doa penutup, pengumuman dan berkat dari Imam.

Segera Ia membuat tanda salib, sedikit membungkuk dan berlutut di ujung bangku. Ia bermaksud pamit dan meninggalkan gereja. Kemudian, Perempuan itu bergerak bangkit namun Ia begitu berat berdiri. Tas merahnya yang terbuat dari bahan rajutan tangan tersangkut oleh paku di pinggir bangku panjang. Perempuan itu menarik tasnya. Tidak berhasil. Ia kembali menarik paksa tasnya. Tentu, umat yang duduk di sekitar bangku dimana perempuan itu tadi duduk, langsung melihat reaksi perempuan itu. Beberapa remaja perempuan seperti berbisik dan tertawa cekikikan memperhatikan tingkah perempuan itu. Perempuan itu tertunduk malu sambil berjalan menuju pintu gereja.

Suara selop tingginya sempat menjadi perhatian umat yang berada di sekitar pintu keluar. Perempuan itu menutup mukanya dengan rambutnya. Ia sengaja untuk menguraikan rambut panjangnya agar menyamarkan wajahnya. Sebenarnya, Perempuan itu tidak perlu menyembunyikan wajahnya. Toh, sebagian umat telah mengenalinya dari tingkah polanya yang tidak pernah mengakhiri misa sesuai waktunya. Perempuan itu selalu pergi meninggalkan gereja sebelum misa berakhir. Atau lebih tepatnya, Perempuan itu akan pergi keluar gereja saat waktu pengumuman.

Perempuan itu bergegas mengambil air suci yang disediakan di samping pintu. Ia mengambil air suci dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang tas merahnya. Ia sempat menyesali mengapa insiden tas tadi terjadi. Namun, Ia langsung melupakannya begitu tangan kanannya memegang dahi, menyentuhnya dengan air suci yang diambilnya. Setelah dahi, Ia sedikit menyentuh dadanya lalu ujung bahu kanannya dan diakhiri dengan menyentuh ujung bahu kirinya. Ia merasa nyaman dengan tanda yang dibuatnya. Tanda salib itu telah dikenalnya sejak Ia mulai belajar bicara. Bahkan saat masih kecil dulu, Ia membuat tanda salib sambil menyanyikannya.

Beberapa umat yang duduk di dekat pintu tampak memperhatikan Perempuan itu. Ia sempat gugup untuk menuruni tangga halaman gereja. Entah apa yang membuatnya gugup, Ia sampai tidak memperhatikan anak-anak yang sedang bermain di hadapannya. Ia hampir menabrak seorang anak perempuan yang berusia lebih kurang 3 tahun. Anak perempuan itu langsung menangis. Anak itu menangis bukan karena jatuh atau tertabrak oleh Perempuan itu. Anak itu menangis karena melihat orang asing di hadapannya. Apalagi Perempuan itu sempat menyentuh tangannya dan meminta maaf kepada anak itu. Anak itu memang belum mengerti apa artinya maaf tetapi yang dilihatnya adalah orang asing. Seorang ibu langsung buru-buru menghampiri anak perempuan itu. Ibu itu membungkuk, mengambil anak itu dalam pelukannya dan pergi meninggalkan Perempuan yang telah membuat anaknya menangis itu dengan wajah tidak simpatik.

Kini semakin banyak umat yang duduk di luar gereja memperhatikan perilakunya yang telah membuat anak menangis. Perempuan itu semakin menundukkan kepalanya dan membiarkan rambutnya semakin menutupi wajahnya. Pikirnya pasti karena pakaian yang saat ini sedang dikenakannya. Ia sengaja mengenakan gaun merah selutut dan sedikit ada sulaman manik, bila berada di tempat gelap maka akan berkilau-kilauan. Gaun itu adalah kesukaannya sama seperti warna merah yang menjadi favoritnya. Benarkah warna merah berarti menandakan pusat perhatian? Padahal, Perempuan itu sudah menutupi lengan putihnya yang mulus dengan kardigan hitam. Ia pun merasa sopan karena Ia menutupi bagian dadanya dengan kancing-kancing kardigan. Tidak layakkah orang semacam dia untuk hadir di rumah ibadah yang suci ini.

Sambil membelokkan langkah menuju Gua Maria yang berada di bawah gereja. Ia terus berpikir mengapa umat memperhatikannya. Bunyi selop hitamnya semakin nyaring terdengar ketika Imam bersiap untuk memberikan berkat dan perutusan. Selop itu adalah pemberian seorang pria yang mengagumi kecantikannya. Selop itu sederhana. Namun, selop itu terlihat indah saat Perempuan itu mengenakannya. Bisa jadi karena Perempuan itu berkulit putih mulus. Bisa jadi karena selop itu berharga mahal dan belum tentu ada umat yang sanggup membelinya dan merasa iri memperhatikannya. Bisa jadi selop itu mampu membentuk tubuhnya terlihat seksi sehingga umat memperhatikannya. Stop pikiran negatif itu!, pikir perempuan itu.

Ia menuruni anak tangga yang menuju Gua Maria. Sebagai orang katolik, Ia meyakini betul keberadaan Bunda Maria, Ibu Yesus, dalam hidupnya. Hanya Bunda Maria-lah yang masih menerimanya. Tidak orangtuanya. Bukan sahabat-sahabatnya. Apalagi pasangan hidupnya. Semua menolaknya. Apakah umat yang tadi memperhatikannya tahu apa yang sedang dirasakannya? Tidak mungkin. Stop! Itulah yang disarankan oleh Romo itu. Kita harus bisa berpikir positif apapun kondisinya. Perempuan itu menarik napas dan berdiri memandangi Patung Bunda Maria dalam Gua gelap yang diterangi oleh sebuah lampu. Suasana syahdu langsung merasuki Perempuan itu.

Perempuan itu bergegas mencari tempat yang tepat untuk berdoa kepada Bunda Maria. Namun, Ia kecewa. Di depan Gua Maria tampak 2 orang remaja putri sedang duduk sambil asyik bercerita. Dasar ABG, pikir perempuan itu. Perempuan itu merasa dahulu Ia tidak seperti itu. Ia begitu sopan di dalam gereja. Ia tidak berani bicara sedikitpun. Ia ingat Ibunya akan mencubit pahanya jika Ia ketahuan berbisik kepada adiknya. Cubitan ibu akan selalu membekas berhari-hari baginya karena rasanya perih sekali. Mulai saat itu, Perempuan itu tidak berani lagi mencoba berbisik apalagi bercerita dalam gereja. Perempuan itu menarik napas lagi, mendesah karena bingung menyaksikan keinginannya yang gagal.

Ia bergumam. Ia kesal. Mulai terdengar deru mesin motor yang dinyalakan. Letak Gua Maria memang tidak jauh dari lokasi parkir motor. Perempuan itu juga bingung, mengapa letak Gua Maria tidak di tempat sunyi sehingga umat bisa berdoa dengan khusyuk. Atau, mengapa tidak ada tulisan untuk dilarang berbicara di area wilayah Gua Maria. Atau, memang salahkah jika berdoa di Gua Maria saat misa berakhir. Perempuan itu memang baru pertama kalinya hendak berdoa di Gua Maria. Selama ini, Perempuan itu akan segera keluar gereja dan langsung menuju lokasi parkir mobil, yang lokasinya berada di halaman sekolah katolik, dekat dengan gereja. Perempuan itu berpikir kemungkinan untuk berdoa di Gua Maria di hari kerja saja. Ia akan menyempatkan waktu untuk mampir di gereja dan berdoa kepada Bunda Maria selama mungkin. Ia ingin Bunda Maria memahami  kesulitan yang dihadapinya. Ia ingin Bunda Maria tahu bahwa manusia manapun di dunia ini sulit menerima kenyataan pahit seperti dirinya. Ia menyesal saat ini Bunda Maria belum mengetahui apa yang sedang dirasakannya.

Perempuan itu melangkah menjauhi Gua Maria. Ia berjalan menuju Gedung Pertemuan, bangunan berlantai tiga yang berisi ruang-ruang pertemuan. Entah mengapa Perempuan itu tidak ingin cepat-cepat pulang. Ia ingin merefleksikan diri. Begitu kata Romo kepada Perempuan itu. Refleksi akan membantu kita mengenali siapa kita dan apa saja hal-hal yang sudah kita lakukan. Kita akan menarik pembelajaran dari pengalaman hidup kita. Kita akan belajar untuk tidak melakukannya jika itu salah, dosa, mengecewakan hati Tuhan dan sesama. Tanpa sadar, Perempuan itu sudah menarik salah satu kursi dari tumpukan kursi.

Ia menarik kursi itu di sudut ruang pertemuan lantai 1.Ruang itu memang gelap dan hanya diterangi oleh seberkas cahaya lampu gereja yang letaknya lebih tinggi dari lantai 1 Gedung Pertemuan. Ia melihat sekeliling lokasi duduknya. Tidak ada orang. Ia menyilangkan kaki kanannya, bertumpu pada kaki kirinya. Tangan kanannya sibuk mencari sesuatu di dalam tas, sementara tangan kirinya memegang tas merah mungil miliknya. Ia lega telah berhasil menemukan benda yang dicarinya. Lalu, Perempuan itu mengeluarkan korek dan berhasil menyalakan 1 batang benda putih yang tadi dicarinya. Ia menghirup ujung benda putih itu dalam-dalam, mengepulkan asap putih dari mulutnya dan menikmati setiap hirupan dari benda putih itu. Perempuan itu memonyongkan bibirnya yang berwarna merah oleh lipstik.

Refleksi! Aku harus refleksi, pikir Perempuan itu. Pembelajaran. Perempuan itu mengingat kembali pengalaman pahitnya hingga Ia bisa terinfeksi HIV. Mustahil. Enam bulan lalu, ia berkenalan dengan seorang pria di sebuah mall. Ia kagum pada kesopanan pria itu. Ia tertarik oleh setiap topik pembicaraan yang ditawarkan pria itu. Tentang cinta. Cinta memang menghanyutkan. Karena cinta, ia lupa bahwa dirinya telah bersuami dan memiliki dua orang putri yang cantik-cantik. Karena cinta, ia sampai menyerahkan segala waktu dan tenaga untuk menemani pria itu berpergian ke Bali. Karena cinta, ia sampai membohongi suaminya. Karena cinta, ia melupakan fungsinya sebagai ibu bagi kedua putrinya. Sampai suatu saat, pertengkaran itupun terjadi. Antara dirinya dengan suaminya. Dan karena cinta, suami dan anak-anaknya kini meninggalkan dirinya. Cinta siapakah? Kepada Pria pembawa virus itu? Stop! Berpikir positif. Lagi-lagi, ia teringat dengan pesan romo itu.

Perempuan itu kembali meraih kotak yang membungkus benda putih itu. Ia meraih benda putih panjang kedua kalinya. Ia menyalakan korek dan meletakkan apinya pada ujung benda itu. Ia menghela napas panjang. Ia mulai memikirkan kata-kata si konselor yang mengajaknya berkonsultasi sebelum dilakukan tes. Ia akan selalu ingat kalimat ini, pernahkah ibu melakukan perilaku berisiko? Perilaku berisiko. Seks di luar nikah.

Cepat-cepat Perempuan itu mematikan api benda putih panjang itu. Ia menekan ujungnya di pinggir kursi. Ia bergegas keluar ketika didengarnya suara-suara beberapa orang memasuki lantai 1 itu. Mungkin akan ada pertemuan, pikirnya. Perempuan itu berjalan ke Gua Maria. Ia berharap kali ini tidak gagal lagi untuk berdoa kepada Bunda Maria. Ia merapikan roknya yang terlipat ke belakang, mengebaskan kardigan dengan tangannya agar tidak tercium bau rokok. Ia keluarkan botol spray pewangi mulut, disemprotkannya hingga 2 kali ke dalam mulutnya.

Seperti harapannya, kini Gua Maria itu begitu sepi. Hanya 1 orang pria berumur empat puluhan tahun memegang butir-butir rosario sambil mulutnya berkomat-kamit. Pria itu berdiri di dekat pohon tetapi sedikit menjorok ke dalam sehingga tidak terlihat jika diperhatikan dari luar Gua Maria. Bunda Maria, inikah kesempatanku bertanya padaMu?

Ia bingung harus bagaimana memulai permohonan atau doa atau apa saja yang menjadi keluhannya kepada Bunda Maria. Ia sudah lupa berdoa rosario seperti yang dilakukan bapak itu. Tidak mungkin mengawalinya dengan doa rosario. Ia tidak bawa rosario.

Bunda, itulah kata pertama yang disebutnya. Tiba-tiba air mata menetes dari kedua belah matanya, mengalir dan terasa asin di bibirnya. Bunda, kata kedua disebutnya. Tangisnya semakin tidak tertahankan lagi. Tas merah mungilnya melorot dari pegangan tangan kirinya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menutup rasa malunya pada Bunda Maria. Menutup tangisnya yang semakin meluap tak tertahankan. Menutup kepedihan yang semakin dirasakannya. HIV, kata itu terbayang dalam benaknya.

Perempuan itu segera duduk di hadapan Gua Maria. Ia tidak lagi memikirkan kotor atau tidak tempat yang didudukinya. Bagi Perempuan itu, dirinya lebih kotor dari debu tempat pijakan duduknya. Di depan Gua Maria, Perempuan itu menangis tersedu-sedu.

Terbayang oleh Perempuan itu, peristiwa saat ia menabrak anak itu. Anak itu menangis bukan karena disakiti atau terluka. Ia menangis karena disentuh oleh orang asing. Ia langsung teringat bahwa dirinya tidak terluka atau disakiti. Ia menangis karena virus yang menjadi ‘orang asing’ telah menyentuh tubuhnya. Mengapa harus dirinya yang terinfeksi HIV padahal ia hanya sekali berhubungan intim dengan pria yang dikenalnya enam bulan lalu? Ya, hanya sekali saja tetapi Perempuan itu sungguh-sungguh menikmatinya dan menyesali sesudahnya.