Begini Alasan Pria Lebih Pilih Perempuan Kurang Menarik

Penampilan menarik itu penting, namun kepribadian baik yang utama.

Ini bukan pengalaman pribadi, karena saya berpikir saya adalah perempuan menarik ūüėĄ Out of topic deh. Begini ceritanya, saya beserta beberapa teman pria sedang duduk dan ngobrol macam-macam di kafe. Para pria entah dimana pun berada dan apa pun suku bangsanya, sama saja. Boys will be boys wherever they are. Jika mereka melihat perempuan menarik nan cantik, pasti menoleh dan membicarakannya bersama para pria lain. Kebetulan saya memang tidak bersama dengan suami kala itu. Jadi saya mencermati bagaimana teman-teman saya beropini tentang perempuan cantik ini meski sebagian teman saya ada yang sudah berkeluarga.

Perempuan cantik yang duduk di kafe sendirian sepertinya merupakan perempuan modern, berdandan tebal, berpakaian elegan dan senang berbelanja. Saya melihat dia baru saja kebingungan menempatkan beberapa paper bag asal toko-toko bermerek. Dia pun memesan minuman. Semua teman saya mengatakan dia benar-benar cantik sempurna, nilainya hampir mendekati 100 apalagi dia berambut pirang panjang dan bertubuh layaknya model. 

Setelah semua penilaian dan perbincangan para pria, akhirnya selang tiga puluh menit datang seorang pria yang berusia kira-kira dua kali lipat dari perempuan itu. Mereka saling berciuman mesra layaknya sepasang kekasih. Setelah itu mereka pergi meninggalkan kafe. Tinggal kami yang masih mendiskusikan soal itu.

Saya langsung meminta pendapat teman-teman saya, apakah mereka sebagai pria akan memilih perempuan menarik itu sebagai isteri? Semua mengatakan bahwa sebagian besar pria akan memilih perempuan biasa-biasa saja untuk dijadikan pasangan hidupnya. Oh ya? Saya pun takjub mendengarnya. 

Satu teman mengatakan bahwa dulu saat para pria masih remaja dan sedang menentukan pilihan hidup, perempuan menarik adalah impian. Setelah mereka, para pria sudah mapan dan mantap berumahtangga, mereka berpikir ulang bahwa kepribadian lebih penting ketimbang penampilan. Kata teman pertama “Kami berpikir relasi jangka panjang, Anna. Apakah perempuan menarik bisa menjamin itu semua? Pertama kepribadian yang baik tentunya. Jika dia berpenampilan menarik, itu adalah bonus.”

Hmm, menarik juga diskusi tentang ini. Begitulah sudut pandang pria, sementara saya berpikir bagaimana sebagai perempuan agar dapat terlihat menarik di mata pria. Sementara ada pendapat lain dari para pria.

Pendapat teman yang kedua begini, “Sebagai pria, saya merasa canggung bila berjalan dengan perempuan menarik. Pasti banyak orang akan melihat ke arah kami. Saya tidak mau dikira bodyguard-nya. Lebih baik pilih perempuan biasa-biasa saja.” Sontak kami semua yang mendengar tertawa.

Teman ketiga langsung menyahut “Jika saya kaya pun, saya tidak ingin rugi bilamana isteri saya menghabiskan uang saya hanya untuk penampilannya. Tidak, itu bukan gaya saya.” Kami pun tertawa lagi. Pria tidak ingin juga perempuan menghabiskan uang hanya untuk penampilannya dan menelantarkan keperluan atau kepentingan lainnya.

Well, diskusi yang menarik tentang perempuan menarik. 

Poinnya menurut saya adalah penampilan menarik itu penting, namun kepribadian lah yang utama bagi seorang perempuan. Kepribadian tercermin dari sikap perilaku (attitude) dan tutur kata. 

So ladies, apakah ada pendapat lain?

Advertisements

Mengapa Berpacaran Jarak Jauh Bisa Lebih Langgeng?

Kemajuan teknologi kini menjadi pendorong bagi banyak orang untuk tetap bisa memadu kasih meski jarak yang berjauhan memisahkan. Dulu banyak orang masih menganggap bahwa hubungan jarak jauh sepasang kekasih tidak akan mungkin berhasil. Namun kini nyatanya banyak juga pasangan jarak jauh, para LDR (Long Distance Relationship) yang berhasil melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, menikah. 

Sebuah studi (2013) yang diterbitkan dalam journal of communication menunjukkan meski ada jarak dalam relasi pasangan jarak jauh yang diteliti, namun ternyata tingkat kepercayaan yang tinggi memungkinkan mereka lebih intim ketimbang pasangan biasa. Hal ini tentu bertolakbelakang dengan pendapat orang di masa lalu bahwa jarak menjadi hambatan bagi kelanggengan suatu hubungan cinta. Apalagi mereka yang berpasangan jarak jauh tidak intens bertemu dan punya waktu romantis yang rendah ketimbang pasangan biasa. Namun bukan tidak mungkin, ada pejuang-pejuang LDR yang berhasil menaklukkannya.

Berdasarkan studi tersebut dan pengalaman pribadi yang pernah melakukan LDR (curcol), berikut alasan mengapa pacaran jarak jauh bisa langgeng. 

Here there are:

1. Saling percaya satu sama lain.

Meski pasangan jarak jauh bukan harapan semua orang di dunia ini, namun kenyataan menyebabkan sebagian orang terpaksa melakukan ini. Bisa karena pekerjaan, keinginan untuk sekolah, tuntutan ekonomi, aturan ijin tinggal dan lain sebagainya namun sekali lagi menjalankan hubungan jarak jauh diperlukan kepercayaan yang tinggi satu sama lain agar bisa berjalan baik. Bukankah menjalin hubungan itu mempercayai dulu baru kemudian menikah? 

2. Mampu mengatasi tantangan termasuk jarak yang memisahkan.

Duh, enaknya punya pasangan bisa ada setiap saat dibutuhkan. Namun tidak bagi mereka yang melakukan LDR. Jika jarak yang menjadi tantangan mampu ditaklukan untuk seorang yang dicintainya, bukan tidak mungkin mereka yang LDR mampu mengatasi tantangan lainnya di kemudian hari. Pepatah bijak berkata “Distance means nothing when someone means everything” 

3. Paham arti komunikasi.

Komunikasi tidak melulu digambarkan dalam bentuk kehadiran setiap waktu satu sama lain. Mereka yang melakukan hubungan jarak jauh mampu membangun komunikasi yang khas sehingga tidak ada lagi sekat jarak di antara mereka. Bahkan komunikasi yang berjarak ini lebih maksimal ketimbang pasangan biasa. Nyatanya hal romantis pun bisa dilakukan oleh pasangan jarak jauh asal tahu bagaimana mengkomunikasikannya satu sama lain.

Hmmm, semua ini bukan untuk digeneralisasikan namun kembali kepada setiap pasangan itu sendiri. Apakah komitmen dan kepercayaan bisa dilakukan meski atau tanpa jarak?

Semoga bermanfaat!

Jika Sahabat Menikah, Ini 5 Hal yang Seharusnya Dilakukan Si Lajang

Sumber foto: Dokumen pribadi. 

Bagi anda yang masih lajang, hal ini pasti pernah dialami saat sahabat yang selama ini sudah berbagi suka dan duka akan segera melepas masa lajangnya. Apakah anda cemburu atau iri atas kebahagiaan sahabat sendiri? oh, come on guys, hidup bukan soal single atau married,  tetapi cara pandang. 

Bahagia itu sederhana saat kita melihat sahabat sendiri merasa bahagia atas pilihan hidupnya,  kita pun ikut bahagia. Jika jadi sedih karena saya masih lajang? hey, latih diri untuk tidak posesif terhadap apa pun di dunia ini. Pernikahan tidak membuat, persahabatan berhenti ‘kan? Mungkin sahabat yang menikah hanya memberi jarak soal kebebasan untuk tidak sesering dulu saat masih lajang. No worries


Ladies
,  ini yang sebaiknya dilakukan:

1. Ikut berbahagia

Cheers up terhadap kebahagiaan sahabat yang akan melepas masa lajang. Jika sahabat bahagia, itu artinya pilihannya membahagiakannya. Jika anda bersedih atau tidak terima dengan kebahagiaan sahabat yang akan menikah, itu egois namanya. Every body has own path. Mungkin ini belum saatnya buat anda. 

2. Terlibat dalam persiapan

Sebagai sahabat yang baik, bisa jadi ikut terlibat dalam keriyaan persiapan ‘the big day‘ So pastikan anda bisa membantu sahabat, misalnya dari menyiapkan pernak pernik pernikahan hingga jadi pengiring pengantin nantinya. Ini sebagai bentuk persahabatan juga loh. Siapa tahu saat anda nanti menikah, sahabat ini akan juga membantu anda. 

3.Kasih kado spesial

Sebagai sahabat tentu anda ingin memberikan hadiah istimewa yang mungkin  bisa dikenang. Atau kado ini akan menjadi perlambang persahabatan kalian. Jadi mulailah berburu kado spesial apa yang bisa diberikan kepada sahabat yang akan menikah. Kado mahal yang pernah saya temukan misalnya memberikan paket wisata honeymoon ke bali, voucher candle light dinner romantis atau yang sederhana dan lucu yang pernah saya temukan diberi dot bayi sebagai lambang si sahabat bukan lagi anak-anak. Lucu ya!  

4. Ajang cari jodoh di pesta pernikahan sahabat

Banyak kisah yang saya dapatkan si lajang mendapatkan kesempatan untuk bertemu jodohnya saat di pesta pernikahan sang sahabat. Malahan ada sahabat yang juga menjadikan pesta pernikahannya sebagai ajang bertemunya para lajang, jadi dipertemukan begitu. Itu artinya sahabat juga peduli pada anda yang masih melajang, ya ‘kan? 

5. Be wise: The best is yet to come

Seperti yang tadi disampaikan, bersikaplah bijak saat sahabat anda akan menikah. Percayalah, akan ada saat terbaik untuk anda menemukan sang pujaan hati seperti yang terjadi pada sahabat anda. Intinya, orang yang terbaik belum tiba. 

Kontak Jodoh: What You Seek is Seeking You

Sewaktu menghadiri seminar perkawinan saat saya masih kuliah dulu di Jakarta. Ada sepasang suami-isteri yang memberi kesaksian bahwa mereka telah menjalani biduk rumah tangga selama lebih dari 10 tahun. Lalu si moderator bertanya bagaimana mereka bertemu di awal. Mereka, suami-isteri tersebut, kompak menjawab bahwa mereka kenal satu sama lain lewat kontak jodoh di koran. Kemudian berlanjut hingga ke jenjang perkawinan.

Tidak ada yang tahu jodoh datang darimana? 

Seingat saya ketika ayah saya masih berlangganan koran KOMPAS, tiap hari Minggu, ada kolom khusus ‘Kontak Jodoh’ setelah itu saya tidak menemukan lagi. Sepertinya sudah lama kontak jodoh tidak ada lagi di kolom itu setiap hari minggu. 

Lalu apakah anda masih percaya ‘Kontak Jodoh’? Siapa tahu berjodoh! 

Baru-baru ini saya mengamati koran di sini, tiap hari Minggu ada kolom khusus yang menyediakan kontak pencarian. Kolom masih didominasi pencarian ‘Perempuan mencari Pria’ dibandingkan sebaliknya. 

Masih banyak lagi kisah testimoni dari beberapa pasang suami-isteri yang bertemu lewat kontak jodoh. Meski sekarang kontak jodoh bisa dilakukan melalui berbagai online dating, namun bukan tidak mungkin mereka yang mencari jodoh bisa mendapatkannya lewat bantuan kontak jodoh. 

Seorang teman yang berhasil mendapatkan jodohnya, seorang Pria Jerman idamannya lewat online dating, bercerita bahwa apa yang dicarinya dari si pria, telah didapatkannya. Benar juga kata pepatah, apa yang dicarimu sedang mencarimu. Mungkin cara ini juga ampuh untuk mencari jodoh.

Bersabarlah jika belum berjodoh karena pasti ada alasan mengapa anda harus menunggu jodoh. Simak di sini!

Semoga bermanfaat ūüėĀ

10 Alasan Mengapa Kau Harus Tunggu Jodohmu

Sumber foto: Dokumen pribadi.

Ini dia 10 alasan mengapa kau harus menunggu sang pujaan hati yang jadi jodohmu, 

1.Kata orang bijak, tidak pernah ada yang sia-sia hanya karena menunggu. Begitu pun jodoh. Jadi si dia yang ditunggu itu berarti sangat bermakna dan berkesan sehingga tidak ada salahnya untuk menunggu dan menunggu. 

2. Menunggu itu menguji kesabaran,  ya kan? Jika kau sudah berlaku sabar maka selalu ada hadiah dari kesabaranmu. Apa itu? Orang yang terbaik buat hidupmu pastinya. 

3. Menunggu itu butuh pengorbanan. Tentu hal ini menggenapi pepatah orang bijak bahwa cinta itu butuh pengorbanan. Jika kau sudah berhasil melakukannya, itu cinta namanya. 

4. Bukan perkara lama atau sebentar kau menunggu jodohmu tetapi seberapa baik kau memahami mengapa kau harus menunggunya. Jika kau sudah memahaminya, kau akan lebih bijaksana bahwa segalanya itu butuh proses. Tidak ada yang instan, termasuk jodoh. 

5. Saat kau menunggu, kau mungkin bertemu dengan orang – orang yang salah dan berpikir dia jodohmu. Padahal sebenarnya dia yang disebut jodohmu adalah saat kau belajar dari kesalahan dan kegagalanmu lalu kau tahu kebenaran cinta dan berkata ‘Aha! jodohku sudah datang’ 

6. Jodoh itu selalu orang yang terbaik yang kau butuhkan. Dengan begitu, kau harus menunggunya karena yang terbaik itu memerlukan waktu. 

7. Mengapa kau harus menunggu jodohmu? Itu karena kau sedang dipersiapkan untuk seorang yang tepat sehingga perlu waktu. Bukankah segala sesuatunya indah pada waktuNya? 

8. Menanti jodoh itu seumpama mengharapkan keajaiban datang dalam hidupmu. Dengan begitu, kau percaya bahwa hidup, mati, rejeki dan jodoh ada di tangan Tuhan. 

9. Jodoh itu seperti kupu-kupu. Kau akan sia-sia hanya mengejarnya. Jadi biarkan kupu-kupu itu datang menghampiri saat kau tidak mengejarnya. Tunggulah sampai jodohmu datang! 

10. Saya sudah membuktikannya. Kita perlu menunggu orang yang terbaik datang di waktu yang tepat dan saat kita siap. Bersiaplah saat jodohmu datang karena kita tak pernah bisa menebaknya! 

Mungkin Tuhan mempertemukan kita dengan orang – orang yang salah sebelum bertemu dengan dia yang jadi jodoh kita. Dengan begitu, kita akan tahu betapa berharganya hadiah yang Tuhan berikan sehingga kita perlu menunggunya. 

Ucapan Selamat atas Pernikahan Berbahasa Jerman

Ada pembaca yang bertanya bagaimana menuliskan ucapan dalam bahasa Jerman karena temannya baru saja melangsungkan pernikahan dengan pria Jerman.

Ini saya kasih contekan setelah saya buka dokumen lama. Ada kiriman ucapan berbahagia untuk saya dan suami saat kami baru saja menikah dulu di Jerman. Kartu ucapan ini bertuliskan bahasa Jerman yang bagus menurut saya. Semoga bermanfaat!

“Liebe besteht nicht darin

dass man einander ansieht,

sondern dass man gemeinsam

in die gleiche Richtung blickt”

Alles Liebe zur Hochzeit

Kebijaksanaan Cinta

(Semacam gembok cinta di pinggiran Austria. Sumber foto: Dokumen pribadi)

Ketika aku masih remaja, saat mengenal cinta pertama kali, pria idaman bagiku adalah dia yang pandai di sekolah. Sayangnya, aku tidak mendapatkannya. Mungkin karena aku juga tidak terlalu pintar.

Beranjak dewasa muda, ketika aku memasuki dunia perkuliahan, pria idamanku pun berubah. Dia adalah pria yang rupawan. Sayangnya, aku juga tidak mendapatkannya. Mungkin karena aku juga tidak terlalu rupawan.

Setelah menyelesaikan kuliah dan memasuki dunia pekerjaan, aku mulai mencari pria idamanku. Bagiku, dia adalah pria yang mapan dalam karir. Sayangnya aku juga tidak bisa mendapatkannya. Mungkin juga karena aku belum mapan kala itu.

Semakin lama usiaku berjalan maka aku semakin bijak dalam menemukan pria idaman. Dalam traveling aku bertemu berbagai karakter pria dari berbagai budaya. Maksudku mereka yang berasal tidak hanya Asia, Eropa, Amerika, Australia atau Afrika. Aku menjadi mengenal seperti apa pria idaman yang aku maksud. Ternyata pria idaman bukan dia yang berasal darimana tetapi dia yang berhasil membawaku kemana biduk hidup itu dituju.

Berjalannya waktu, aku jadi paham bahwa pria idaman adalah dia yang membuatku nyaman menjadi diriku sendiri. Karena aku tidak hidup bersama kecerdasannya, kerupawanannya atau kemapanannya melainkan dengan kebaikan dan ketulusannya. 

Aku menjadi bijaksana karena cinta. 

Mengejar Target atau Dikejar Target? 

Seorang sahabat mengaku baru saja berhasil mengejar target penjualan yang dicapainya di akhir tahun. Maklumlah pekerjaannya sebagai Marketing Executive menyebabkan ia mesti kerja keras memenuhi target yang sudah ditentukan. Akhirnya, sahabat ini mengundang saya makan malam untuk merayakannya karena berhasil mengejar target. 

Lain sahabat lain pula cerita teman maya saya. Dia bertutur bahwa dia merasa dikejar target menikah. Waduh!  Dia berjanji Natal 2016 bisa membawa calon suami di hadapan orangtua dan keluarga besarnya. Apa daya dia baru saja putus dengan pacar di bulan sepuluh lalu. 

Seorang sahabat bijak berpesan,  “Anna, hidup sukses itu cuma dua. Satu mengejar target atau dua dikejar target. Kamu pilih mana?” Saya bingung jawabnya. 

Pada pengalaman sahabat yang berhasil mengejar target penjualan terlihat cerminan kebahagiaan. Bahwa dalam memenuhi target penjualan, ada strategi yang harus dimainkan. Bahwa ia harus melalui perjuangan, termasuk rasa malu dilecehkan, kompetisi dengan rekan kerja hingga ditekan oleh sang bos. Bahwa mengejar target itu memerlukan kerja keras, pengorbanan dan tak pantang menyerah. Demikian kesan sahabat saya yang berhasil mengejar target penjualan. 

Dia berkata “Tahun lalu saya berhasil menjual lima puluh unit.  Tahun 2016 target saya dua kali lipatnya. Ternyata saya berhasil mengejar target tembus seratus unit.” 

Lalu saya gali apa rahasianya sehingga berhasil kejar target? Jawabnya dia tahu apa yang menjadi kebutuhannya. Dia butuh kenaikan gaji jika berhasil jual 100 unit. Ini yang membuat dia berhasil menjual produk unitnya. 

Kembali ke teman maya yang sedang dikejar target menikah tahun ini. Dia merasa frustrasi, bingung menghadapi orangtua dan keluarga tanpa calon suami. 

Saya pun meyakinkan dia, apakah menikah adalah kebutuhannya tahun ini? Jawabnya TIDAK. Oh ya sudah, jika menikah bukan menjadi kebutuhan hanya sekedar keinginan orangtua, wajar jika target belum terpenuhi. Jangan berharap anda mampu mengejar target tanpa dilandasi kebutuhan diri sendiri! Satu hal, menikah adalah kebutuhan atau tidak. Jangan jadikan menikah karena kebutuhan atau keinginan orang lain! 

Jika anda butuh punya rumah, pasti anda akan mengejar target agar segera memiliki rumah. Bukan sebaliknya, anda dikejar target punya rumah setelah anda sudah bosan tinggal di rumah orangtua atau sewa rumah. 

Jadi biarkan anda merasa apa yang sesungguhnya dibutuhkan lalu tentukan targetnya. Bukan sebaliknya, sehingga yang terjadi target mengejar anda. 

Selamat mengejar target 2017!

Tradisi Rayakan Nama Babtis di Jerman

Seperti tradisi ulangtahun pada umumnya, nama babtis juga dirayakan sesuai penanggalan. Sumber foto: Dokumen pribadi

Bagi anda yang menyandang nama babtis, coba telusuri lagi di kalender liturgi kapan perayaan nama santo/santa yang anda sandang!

Adalah negara Jerman yang saya kenal berdasarkan tradisi keluarga suami karena kami katolik, maka ada perayaan ulangtahun untuk nama babtis. Jadi mereka akan serempak berkata “alles Gute zum Namenstag!” yakni ucapan untuk rayakan nama babtis. Ucapan tersebut tentu mirip dengan ucapan ulangtahun biasa yakni, “alles Gute zum Geburtstag!” Tentang tradisi ulangtahun bisa di lihat¬†di sini.

Dahulu orangtua memilihkan nama babtis sesuai tanggal kelahiran anaknya. Namun ini tidak mutlak. Ada orangtua yang memilihkan nama babtis dengan alasan tertentu. Seperti sekarang tradisi rayakan nama babtis sudah jarang dilakukan di Jerman, hanya golongan tertentu seperti mertua saya yang masih melakukan. Jadi mertua hafal betul nama babtis dan tanggal dirayakan untuk anak-anaknya. Di Bayern saya melihat masih ada keluarga yang merayakan tradisi ini. Meski kini tradisi ini sudah tidak populer lagi.

Tradisi apa yang dilakukan untuk rayakan nama santo/santa pelindung?

Seperti layaknya hari ulangtahun, biasanya akan ada kue ulangtahun, lilin dan doa bersama. Apalagi mereka yang nama babtisnya sama maka biasanya akan merayakan bersama-sama. Lalu pemberian ucapan selamat, termasuk kartu ucapan kepada mereka yang merayakannya.

Nama babtis saya adalah Anna, yang dirayakan setiap tanggal 26 Juli, di Jerman banyak juga yang bernama Anna. Semua yang bernama Anna akan merayakannya. Dalam misa harian pastinya dirayakan oleh Gereja, jika sempat maka saya akan datang ke Gereja.

Maksud tradisi ini agar mereka yang menyandang nama pelindung akan mendapatkan berkat untuk hidup seturut teladan nama babtis yang disandangnya. Seperti ucapan berikut,M√∂ge Dein Name Dich stets daran erinnern, dass Du nie allein bist: Gottes Licht strahlt zu jeder Zeit √ľber Dich und erleuchtet jede Dunkelheit. Alles Gute zum Namenstag!

Jleb, makna ucapannya dalam ya? Semoga bermanfaat!

5 Keuntungan Menikah Campur: Beda Budaya

 

copy-cropped-1y.jpg
Dokumen pribadi.

 

 

Cinta tidak memandang sekat jarak, bahasa, budaya bahkan ras. Jika saya traveling, saya bertemu dengan banyak pasangan campur beda budaya. Kini setelah sekian lama mengembara (curhat colongan), akhirnya saya menikah dengan suami yang berbeda budayanya. West meets east. Saya Asia dan dia Eropa. Saya Indonesia dan dia Jerman. Tentang keputusan menikah dengan warga negara asing (WNA) dapat dilihat di sini.

So, berdasarkan pengalaman tersebut, berikut pengalaman saya mengenai hal-hal yang menguntungkan dengan pernikahan campur beda budaya setelah menginjak usia pernikahan hampir tiga tahun. Silahkan disimak!

1. Dapat pencerahan budaya baru

Siapa sangka jodoh saya berasal dari orang yang berbeda budaya? Awalnya saya dengar lagu berbahasa Jerman. Lama kelamaan suka dengan kualitas produk negara ini. Lalu jatuh cinta dengan budayanya. Jadi sebelum ketemu suami saya, saya sudah belajar dulu tentang budaya Jerman. Datang ke perpustakaan Goethe di Jakarta. Nonton festival film berbahasa Jerman. Semuanya mencerahkan saya tentang budaya yang berbeda. Misalnya budaya disiplin waktu yang tertib dan terencana.

Kejadian konyol yang pernah saya lakukan di Jerman misalnya dituliskan di artikel¬†ini. Intinya, saya tidak boleh ‘seenak udel’ ubah tujuan kereta seperti di Jakarta, tujuan mau ke stasiun Depok, naik dulu ke stasiun Tanah Abang agar dapat duduk. Satu hal yang saya suka juga budaya menghormati privasi orang begitu tinggi.

Intinya, pernikahan campur beda budaya mengajarkan anda untuk tidak bersikap prejudice atau fanatik berlebihan. Saya dan suami jadi belajar toleransi satu sama lain.

2. Belajar bahasa yang baru

Saya belajar bahasa Jerman dan mengikuti kursus setelah tertarik mempelajari budayanya. Usai pulang kerja, saya ikut kursus. Terbayang rasa lelah seharian di kantor lalu dijejali bahasa asing. Saya banyak melatih kosakata dengan teman-teman virtual berbahasa Jerman. Banyak cara saya lakukan. Kisah belajar bahasa Jerman saya pun tidak sia-sia, saya dapat nilai 93 mendekati sempurna. Artikelnya bisa dilihat di sini.

Bagaimana dengan suami saya? Dia belum pernah belajar bahasa Indonesia. Kini setelah menikah, saya lihat dia mulai menguasai sedikit. Kejadian konyolnya yang pernah dilakukan suami misalnya begini. Suatu kali saya ¬†dan suami pergi bertemu dengan dua orang teman perempuan di Jakarta. Mereka semua orang Indonesia. Suami menyapa mereka dengan berkata “Selamat pagi nona-nona!” Oh gosh! Rupanya dia belajar dari running text terjemahan percakapan film English to Bahasa dari¬†“Good morning Ladies!” Nona adalah kalimat formal yang jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari lalu kami semua jadi tertawa.

Menarik jika bisa menguasai berbagai bahasa di dunia. Karena bahasa adalah pintu dunia. Saya dan suami pun masih belajar satu sama lain hingga sekarang. Belajar bahasa itu perlu!

3.  Perayaan & tradisi bertambah

Family oriented adalah Jerman banget. Saya berpikir budaya barat adalah budaya yang cuek terhadap keluarga, tetapi ternyata tidak. Bagaimana perayaan ulangtahun begitu berkesan tidak hanya sekedar merayakan hari jadi, tetapi bermakna. Artikelnya di sini  Lalu juga berbagai tradisi lainnya seperti hari ibu atau hari ayah dirayakan di Jerman. Jadi saya tidak hanya mengenal hari ibu 22 Desember saja ya.

Karena suami berasal dari Bayern, banyak tradisi yang masih dipelihara misalnya menjelang masa Prapaskah, berbagai perayaan digelar. Lalu juga kemeriahan pelaksanaan natal yang berbeda juga saya rasakan. Intinya, kemana pun kita melangkah bahwa tradisi dan perayaan mencerminkan identitas budaya kita. Dan sekarang menjadi bertambah karena menikah.

4. Memperluas citarasa makanan

Dulu makanan saya begitu lokal karena hanya itu yang bisa saya masak. Setelah menikah, saya belajar citarasa makanan yang berbeda. Suka atau tidak, saya dan suami harus terbuka soal selera dan citarasa makanan. Kami berbagi pengalaman masak bersama. Atau saya mencoba aneka resep yang selama ini baru untuk saya. Saya belajar banyak soal memasak dari mertua.

Biasanya sarapan saya selalu nasi, kini diubah jadi roti misalnya. Suami saya yang jarang makan nasi dulunya, sekarang dia jadi sering makan nasi. Itulah perbedaan rasa namun memperluas citarasa membuat saya dan suami kaya untuk mencoba hal baru. Intinya, saya dan suami sekarang terbuka dengan hal baru dalam hidup, termasuk makanan. Jadi kelezatan makanan pun jadi variatif tergantung bagaimana mengelolanya.

5. Kesempatan kunjung keluarga jadi intensitas traveling tinggi

Saya ingat tahun 1980-an dimana begitu sedikit orang bisa naik pesawat atau kapal laut, saya sudah mencoba keduanya. Mengapa? Karena saya berkesempatan mengunjungi keluarga ayah di Flores. Luar biasa ya!

Suami yang tidak pernah tinggal di Asia sebelumnya, jadi punya kesempatan untuk belajar mengenal budaya saya di Indonesia. Mungkin jika tidak menikah dengan saya, dia hanya tahu Bali saja (katanya). Padahal kekayaan alam Indonesia lebih dari sekedar Bali alias masih banyak lagi. Kami pernah mengendarai mobil dari Banten hingga ujung Jawa Timur, mengeksplorasi pulau Jawa. Dia pun kagum.

Kesimpulan

Menikah campur memberi kemungkinan untuk berpergian lebih intens lagi untuk mempererat tali silahturahmi satu sama lain. Saya jadi punya saudara dan keluarga di Jerman dan suami punya keluarga besar di Indonesia.

Demikian pengalaman saya di atas. Hikmahnya adalah bahwa setiap orang itu unik, terlepas apa pun budayanya. Jika memang itu jodoh, meski berbeda budaya, toh anda harus menerima dan belajar budayanya juga.