Berapa Banyak Uang yang Diperlukan Untuk Hadiah Pernikahan?

‘Berapa banyak uang yang layak diberikan sebagai hadiah pernikahan?’ Jika pertanyaan ini muncul dalam benak anda sekarang, anda tak sendiri. Saya pun dibuat bingung saat menghadiri resepsi pernikahan mengenai berapa banyak uang yang layak diberikan kepada sepasang pengantin. Baik budaya timur maupun budaya barat cenderung setipe dalam pemberian hadiah pernikahan saat resepsi. Namun bagaimana kelayakannya?

Baru-baru ini seorang ahli marketing bernama Utpal M. Dholakia di Amerika merilis jurnal tentang hal itu. Dalam Psychology Today, menurutnya ada 4 metode yang digunakan kebanyakan orang untuk memberi hadiah pernikahan. 

1. Metode penghitungan ekonomi

Saya pernah menghadiri resepsi di hotel bintang lima di Jakarta. Tentu saya pun harus berdandan yang mengubah penampilan agar layak jadi tamu undangan. Nah, saya pun pernah juga menghadiri resepsi pernikahan sederhana tanpa kemewahan. Tentu penampilan saya pun tidak glamour karena menyesuaikan kondisi resepsi pernikahan. 

Jadi penampilan untuk hadir dalam resepsi pernikahan pun disesuaikan dengan kondisi pesta yang diselenggarakan pengantinnya. Demikian pula pemberian hadiah kepada sang pengantin. Tentu biaya resepsi pernikahan memakan biaya yang fantastis dengan sajian hidangan yang menawan undangan di hotel bintang lima. Rasanya sebanding pula dengan hadiah yang diberikan kepada pengantin sesuai besaran pesta diselenggarakan.

Metode ini menjelaskan bahwa pemberian hadiah bergantung seberapa banyak pengantin menghabiskan anggaran resepsi. Jika pesta mewah tentu hadiahnya pun sebanding. Itu yang dijadikan patokan perhitungan ekonomi buat hadiah kedua mempelai.

2. Metode timbal balik 

Pernah suatu kali ibu saya mencatat nama dan besaran hadiah, uang atau barang yang diberikan tamu undangan. Saya tanya tujuannya lalu ibu saya membalas bahwa ini akan mengingatkannya saat tamu undangan yang dimaksud menggelar hajatan. 

Katakanlah si tamu memberikan 300 ribu rupiah dalam resepsi pernikahan maka berikutnya tamu tersebut akan mendapatkan jumlah yang sama saat menggelar resepsi. Saya pikir ini cara kuno ibu saya namun ternyata tidak juga, beberapa rekan saat kami berangkat ke resepsi pernikahan ternyata juga melakukan itu. Rekan saya memberikan sejumlah hadiah sesuai yang diterimanya saat dia menikah dulu. 

Metode ini disebut timbal balik atau the reprocity method dimana orang memberikan hadiah berdasarkan perhitungan hadiah yang pernah diterima sebelumnya.

3. Metode ikatan emosional

Jika saudara atau sepupu menggelar hajatan pernikahan biasanya kita sibuk terlibat dalam persiapannya. Suatu kali saya berdiskusi dengan adik saya mengenai besaran uang yang akan diberikan kepada sepupu kami yang akan menikah. Dia menceritakan bahwa dia sudah memberikan dukungan dalam persiapan seperti undangan dan buku misa yang akan digunakan dalam misa kudus. Belum lagi dia membantu dalam photo per wedding. Itu artinya ia memberikan melebihi hadiah pernikahan yang biasa diberikan kepada teman-temannya.

Metode ikatan emosional lebih menekankan pola kekerabatan antara anda dengan si pengantin. Jadi bentuk hadiah yang diberikan melebihi apa yang selama ini anda berikan kepada orang lain. Atau bentuk hadiah yang diberikan juga tidak terhitung secara nominal karena hubungan kekerabatan dalam keluarga.

4. Metode kemurahan hati

Suatu kali teman kerja menikah, masing-masing staf mendapatkan undangan untuk hadir dalam resepsi. Lalu pimpinan menggelar pertemuan informal usai makan siang mengenai hadiah yang bisa diberikan kepada pengantin, yang adalah rekan kerja kami. Diputuskan bahwa kami akan membelanjakan uang angpao dari setiap staf yang dikoordinasikan oleh satu orang. Total uang dibelanjakan untuk membeli perabotan rumah tangga seperti kompor gas, kulkas, dan rice cooker. Kami berharap hadiah ini jadi modal berumah tangga.

Tidak semua pengantin yang merencanakan pernikahan memiliki biaya untuk menggelar resepsi. Setelah mendengar seorang teman harus menikah mendadak karena sudah hamil terlebih dulu maka keluarga pun mengumpulkan bala bantuan untuk menggelar hajatan. Sahabat si pengantin menyumbangkan makanan untuk tamu undangan, yang lain membantu biaya nikah di KUA dan catatan sipil lalu yang lain membantu pembiayaan tenda dan kursi tamu. Semua itu ditujukan karena kemurahan hati.

Metode terakhir ini memang berbeda, didasarkan pada kemurahan hati kepada pengantin bukan karena ikatan emosional kekerabatan, adanya timbal balik apalagi patokan ekonomi besaran pesta. Hal ini dikarenakan karena kita yang dijadikan tamu undangan bermurah hati menolong sang pengantin yang kekurangan biaya resepsi nikah misalnya. Contoh lain, kita bermurah hati memberikan hadiah lebih karena pengantin adalah sahabat terbaik atau rekan kerja seperti contoh saya di atas.

Well, good to know ya!

Advertisements

Mengapa Pria Bukan Pendengar yang Baik?

Diorama masa perang di Vietnam. Sumber foto: Dokumen pribadi

Hey, pria apa benar begitu bahwa kalian tidak suka mendengarkan? Menurut pengalaman saya, tidak semua pria berlaku demikian. Namun sebagian besar ya. Kini saya cari tahu mengapa pria tidak suka mendengarkan kekasih atau isterinya. 

Di bawah ini adalah hasil pandangan saya:

1. Perbedaan gaya komunikasi antara pria dan wanita 

Wanita adalah makhluk yang ekspresif, mereka bisa bercerita apa saja kepada teman atau kekasihnya. Ahli komunikasi menyatakan bahwa jumlah kata yang disampaikan perempuan tiap hari lebih banyak daripada pria. Wanita berkomunikasi tidak langsung, cenderung berbelit-belit atau tidak to the point. Sementara pria tidak suka itu. 

Belum lagi wanita juga suka berbicara di luar konteks atau topik yang disepakati. Misalnya, wanita mengatakan bahwa kita perlu membicarakan liburan keluarga. Lalu apa yang selanjutnya disampaikan oleh wanita adalah liburan orang lain, bukannya alasan kita perlu liburan atau kemana tujuan liburannya. Hal ini yang membuat pria malas mendengarkan wanita berbicara.

Perbedaan gaya komunikasi dapat diatasi jika wanita tahu siasat dan strateginya agar pria mau mendengarkan.

2. Tipe visual 

Jika pria suka wanita seksi berlekuk, itu wajar. Kebanyakan pria bertipe visual, yang berarti mereka lebih mengutamakan visualisasi/penglihatan ketimbang mendengarkan, bertipe auditoris. Untuk menarik perhatiannya, anda tinggal mematikan televisi, cari ruang yang sepi hingga pria tidak bisa melihat kanan kiri saat berbicara dengan anda. Jadikan anda pusat perhatian sehingga pria konsentrasi dan jadi pendengar yang baik.

Beruntung sekali jika anda mendapatkan pria bertipe auditoris yang mau mendengarkan keluhan atau curhat anda. Namun itu jarang sekali.

3. Tidak sabar
Pria yang suka mendengarkan wanita adalah pria yang sabar. Mereka tahu bahwa wanita banyak bicara dan ‘it takes the time‘ merasa hanya menghabiskan waktu saja bilamana mendengarkan wanita. Sebaiknya anda sebagai wanita tidak berbelit-belit saat berkomunikasi dengan pacar atau suami anda. 

Pria merasa wanita cenderung membahas hal yang sama dan pria sudah tahu jawaban permasalahan tersebut. Pria menjadi tidak sabar ketika apa yang dibicarakan wanita sudah diketahui jawabannya. 

So para pria, apa anda setuju dengan pendapat saya di atas?

Apakah Ada Ilmu Khusus Jadi Orangtua?

Sumber foto: Dokumen pribadi.

Sewaktu memasuki semester awal saat belajar di fakultas psikologi. Dosen bertanya kepada seluruh mahasiswa yang hadir, termasuk saya saat itu. Apa motivasi belajar di fakultas psikologi? Ternyata ada sebagian mahasiswa yang memilih jurusan psikologi karena ingin tahu bagaimana cara mendidik anak yang baik kelak jika sudah menikah. Dikira anak itu eksperimen? Jawab mahasiswa yang bersangkutan bahwa ilmu psikologi dipandang tepat bagi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak menjadi dewasa agar tidak terjadi salah asuh. Oh itu alasannya!

Anda sendiri bagaimana?

Sebagian besar teman saya sudah mempersiapkan dari awal saat diketahui bahwa mereka akan menjadi bakal orangtua.

(1). Persiapan pendidikan ditunjukkan dengan aneka bahan bacaan yang dilalapnya saban hari agar mereka benar-benar matang saat bayi lahir.

(2). Lalu mereka juga sering mendengarkan nasihat kanan kiri tentang bagaimana mengasuh anak, dari nasihat orangtua hingga teman sebaya yang sudah lebih dulu jadi orangtua.

(3). Mereka juga suka mendengarkan atau menyimak program parenting secara visual di televisi atau internet.

Apa sih yang menjadi kekhawatiran sehingga perlu bekal menjadi orangtua yang baik?

Orangtua adalah sumber utama dan pertama dalam kehidupan seorang anak. Tentu alangkah baiknya agar segalanya sudah disiapkan sejak dini sehingga kelak tidak dianggap salah asuh. Jadi mereka khawatir di awal saat akan memulainya. Itu wajar.

Sesungguhnya tidak ada ilmu khusus menjadi orangtua dalam universitas kehidupan. Ketrampilan menjadi orangtua juga tidak ditentukan oleh bakat dan minat. Namun memulai untuk menjadi orangtua yang terbaik itu yang penting. Kebanyakan dari kita ingin lebih baik dari masa kecil kita dulu. 

Tips Mempersiapkan Cincin Pernikahan

Anda yang sedang mempersiapkan pernikahan tentu tak lepas dari pemikiran membeli cincin kawin. Saya pernah menulis tentang fakta cincin kawin di sini  Meski sudah usai bagi saya membeli cincin kawin, namun tak ada salahnya saya bagikan pengalaman ini. Nah, silahkan dicermati tips di bawah ini:


1. Uang, uang dan uang

Untuk membelinya, tentu anda perlu uang kecuali anda yang memiliki cincin kawin dari warisan turun temurun. Model atau selera mudah asalkan kocek anda mencukupi, ya ‘kan? Berapa dana yang anda siapkan untuk cincin kawin? 

Seberapa pun dana untuk cincin kawin yang disiapkan ternyata tidak ada hubungannya dengan kelanggengan atau keabadian. Hasil riset menunjukkan malahan cincin berharga murah dikatakan memiliki tingkat perceraian yang lebih rendah. Jadi tidak usah terpengaruh gengsi atau selera, siapkan saja dana yang cukup. Di pasaran tersedia aneka macam cincin kawin yang sesuai kocek anda, dari yang termurah hingga mahal seharga rumah atau mobil misalnya. 

Pertama-tama tanyakan pada pegawai toko cincin kawin yang sesuai dengan anggaran anda. Ini lebih baik ketimbang anda suka cincinnya tetapi uang anda tidak cukup.

2. Model

Ada pasangan yang berpikir cincin kawin dipakai hanya untuk perhelatan pelaksanaan nikah saja, namun ada pula yang akan dipakai sepanjang masa. Cincin kawin memiliki model klasik, tak ada ornamen hanya melingkar saja biasa di jari. Atau model kekinian yang disertai ornamen penghias di permukaan cincin, biasanya mereka yang tidak ingin terlihat kuno. Anda tinggal datang ke toko perhiasan, ragam dan modelnya bisa dicek.

Meski model cincin kawin selalu melingkar di jari, namun ada pula pasangan yang memikirkan desain model hingga ornamen sesuai keinginan. Mereka yang seperti ini harus tanyakan pada pihak toko untuk memesannya terlebih dulu. Butuh waktu kurang lebih dua-tiga bulan tergantung kerumitannya.

Pasangan yang memiliki desain tersendiri mengartikan cincin kawin lebih dari simbol pernikahan. Misalnya ada tanda lingkaran yang diartikan cinta tak pernah berakhir. Atau gambar angka/huruf untuk mengingatkan satu sama lain tanggal anniversary atau initial nama.

3. Selera kesepakatan bersama

Jika cincin tunangan, mungkin anda yang perempuan tak perlu tahu modelnya karena si pria biasanya membeli sebagai hadiah kejutan. Di beberapa belahan budaya ada yang mengartikan cincin tunangan hanya dipakai oleh perempuan saja. Ada pula budaya yang mengharuskan keduanya, laki-laki dan perempuan mengenakan cincin tunangan bersama-sama. Atau meski bertunangan tetapi tak perlu mengenakan cincin tunangan.

Nah kembali ke topik cincin kawin, anda juga perlu menyepakati bersama-sama soal model cincin dan anggarannya.Sebagai contoh suami saya tidak suka model yang klasik dan trendi dengan ornamen blink-blink seperti mata. Agak susah mencari bersama yang sesuai selera kita berdua. 

Jika kesepakatannya cincin kawin harus dipakai sepanjang masa maka kita cari model yang tidak terlihat kuno tetapi juga suami nyaman memakainya seterusnya. Oleh karena itu carilah cincin kawin yang sesuai selera/keinginan bersama termasuk ukurannya. Jangan sampai ukurannya kebesaran atau kekecilan!

4. Ukir nama

Cincin kawin kebanyakan selalu terukir nama pasangannya. Cincin untuk mempelai perempuan diselipkan nama mempelai laki-laki di dalam yang melingkari cincin. Begitu pun sebaliknya untuk mempelai laki-laki.

Sesuai pengalaman tidak ada biaya tambahan ukir nama pasangan di cincin. Pihak toko sudah tahu bahwa kita akan membeli cincin kawin sekaligus menawarkan perlu atau tidaknya ukir nama. Jika anda rasa tidak perlu, juga tidak masalah tergantung kebutuhan dan keinginan anda. Bagi anda yang perlu ukir nama biasanya memakan waktu 2-3 hari atau bisa langsung ditunggu.Ukir nama bisa selesai hari itu juga.

5. Sertifikat/Surat bukti kepemilikan

Untuk menunjukkan otentik dan originalitas cincin kawin maka diperlukan surat bukti kepemilikan atau sertifikat. Berapa karat,gram dan pemotongan cincin tersebut? Ada yang dijadikan aset karena harganya yang mahal namun ada pula yang menjadikan cincin kawin sebagai lambang pernikahan yang tidak bisa dijualbelikan apalagi hilang. Semuanya berpulang pada anda.

Sebagai barang berharga tentu sertifikat diperlukan sebagai bentuk keaslian cincin kawin anda, berlian, emas atau perak.

Semoga bermanfaat!

Begini Sebaiknya Berkomunikasi Jika Marah dengan Pasangan

Sumber foto: Dokumen pribadi

Namanya menikah, pastinya ada dua orang yang berbeda secara karakter termasuk faktor-faktor yang membentuknya seperti budaya, pola asuh dsb. Menemukan kesulitan dalam berkomunikasi dengan pasangan, itu hal yang wajar. Bagaimana jika anda marah yang santun dengan pasangan?

Ada dua cara menghadapi pasangan saat anda marah, (1). Emotional coping, kecenderungan yang lebih menekankan emosi. Misalnya menangis meraung-raung, banting barang, merusak barang atau berteriak-teriak. Saya paham, anda sedang marah tetapi apakah itu menyelesaikan masalah? Yang ada, masalah akan semakin runyam dan menarik perhatian banyak orang sekitar anda. 

(2). Problem coping, kecenderungan yang lebih memusatkan pada masalah yang terjadi. Cari waktu yang terbaik berdua untuk diskusi! Jangan libatkan pihak lain dulu, seperti anak, orangtua, dsb! Ajak bicara dari hati ke hati, toh dia adalah pasangan hidup anda. Jangan biarkan anda terprovokasi oleh masalah, biarkan anda bisa mengendalikan masalah!

 Anda perlu menghindari hal-hal berikut saat anda marah dengan pasangan.

Apa saja? Ini dia

1. Tidak mau mendengar, lebih banyak bicara

Pria dikatakan tidak suka mendengar. Saat saya tanya kepada para pria, mereka berkata perempuan lebih banyak berbicara bahkan mengatakan hal-hal tidak perlu, terlalu mengkhawatirkan hingga hal-hal tidak relevan. Jadi ini alasan para pria tidak mau mendengar. So, jika hendak berkomunikasi dengan pasangan, sebaiknya rumus pertama adalah mendengarkannya. Apa pun masalah yang dihadapi dengarkan dia dulu, bagaimana pendapat dan perasaannya. Beri kesempatan baginya untuk menanggapi, berkomentar dan mengklarifikasi. 

2. Merasa diri “paling”

Meski anda lebih hebat secara pendidikan atau pekerjaan dibandingkan pasangan hidup anda, namun menikah membuat anda sama dan setara. Jangan berpikir pula bahwa anda yang mencari nafkah sehingga anda lebih dominan dan powerful! Pandanglah pasangan anda sebagai pribadi yang pernah anda cintai dan kagumi saat anda menikah dulu! Terima dia apa adanya, meski dia salah dan anda benar. Jangan merasa ‘sok’ atas pasangan anda sendiri!

3. Mengungkit kesalahan masa lalu

Kecenderungan bila marah adalah melihat kesalahan yang sama di masa lampau. Berpikirlah past is past! Yang lalu sudah berlalu. Masalah anda saat ini tak akan selesai jika anda membahas masalah yang lalu. Masa lalu bukan masalah. Masalah anda adalah hanya tentang saat ini untuk nanti masa depan anda berdua.

4. Marah-marah, berteriak dan cenderung emosional 

Seberapa rumitnya masalah anda, tidak akan pernah selesai jika anda berteriak-teriak dan emosional. Kendalikan emosi anda, mengapa?Ini untuk kesehatan mental dan jantung anda juga. Jika anda marah-marah, jantung anda bekerja 4 kali lipat yang berarti berisiko dan membahayakan keselamatan anda. Masalah akan selesai pada wakunya, tetapi tidak dengan marah-marah.

5. Menuduh dan tidak percaya 

Di awal pernikahan, anda sudah memulai hubungan kepercayaan dengan pasangan anda.Tentu jika anda tidak mempercayainya, buat apa menikahinya? Saat sedang bermasalah, percayakan pasangan untuk bercerita, mengklarifikasi dan berpendapat. Jangan pernah mengkaitkan masalah anda berdasar sumber orang lain! Itu namanya menuduh dan tidak santun.

Pertimbangkan 5 Hal Sebelum Menyiapkan Pesta Nikah: Ini Tentang Anggaran

cropped-wpid-img-20140530-wa0020-1.jpg
Sumber foto: Dokumen pribadi

Mengacu pada pengalaman seorang teman yang baru saja menyelesaikan biaya pesta menikah dengan mencicil kewajiban hutang setiap bulan selama 7 tahun, saya berharap anda tidak terbebani hanya karena besaran biaya pesta nikah. Kisah teman saya yang mencicil hutang selama 7 tahun belum selesai, mirisnya saya masih mengenal dia 2 tahun sebelumnya yang juga ribut mengurus perceraian. Jadi hutang biaya nikah belum selesai pada tahun kelima pernikahan, dia sudah bercerai.

Berdasarkan hal tersebut, saya berharap bagi anda yang sedang menyiapkan pesta pernikahan tidak terbebani dengan anggaran yang tidak dimiliki dan diadakan hanya gegara gaya hidup atau status sosial. Saya sempat menulis pula hasil riset biaya pesta nikah mewah disini sebagai acuan bahwa jangan pernah terbebani hanya karena biaya untuk pesta nikah.

Pertimbangkan 5 hal ini untuk menyiapkan anggaran resepsi pernikahan:

1. Berapa total uang yang dimiliki buat resepsi?

Jangan tunda kebahagiaan anda hanya karena biaya pesta! Lanjutkan apa yang anda punya untuk mengadakan pesta nikah! Kebanyakan orang memulai pesta nikah dengan menyusun konsep atau tema, nah jika itu yang terjadi, kebutuhan pesta tidak akan pernah tercukupi. Mengacu pada besaran uang yang dimiliki memudahkan anda menentukan rincian konsep hingga pelaksanaan pada hari H.

2. Jangan habiskan total uang untuk pesta! Sisakan 30% 

Berapa uang yang dimiliki? Katakanlah 100juta maka jangan habiskan seluruhnya hanya untuk resepsi! Sediakan 30% dari total uang yang dimiliki untuk keperluan biaya tidak terduga yang biasa muncul pada hari pelaksanaan. Keperluan 30% biasanya muncul saat ada kebutuhan di luar rencana semisal konsumsi pesta, acara dan lain-lain.

3. Jangan berpikir pesta nikah akan bawa keuntungan!

Ada sebagian orang yang beranggapan, berkorban sebanyak-banyaknya untuk pesta, mendapatkan keuntungan setinggi-tingginya usai pesta nikah. Kenyataannya tidak demikian. Kita tidak dapat mengontrol seberapa banyak tamu yang datang dan berapa banyak uang yang diberikan. Jika kita sudah adakan pesta, sebaiknya pikirkan pula kepuasan tamu yang datang dan sudah merestui pernikahan ini, bukan keuntungan atau hadiah yang diberikan.

4. Seberapa besar anggaran untuk masa depan ketimbang biaya pesta nikah?

Pesta boleh namun apakah anda sudah punya rencana dan anggaran usai menikah sebagai bekal berumah tangga? Jangan biarkan anda terlena merencanakan dan mengadakan pesta, namun melupakan apa yang akan menjadi rencana masa depan anda berdua. Ada banyak kebutuhan yang menanti anda usai pesta pernikahan. Sediakan anggaran untuk masa depan seperti cicilan rumah misalnya atau biaya hidup untuk berdua di kemudian hari.

5. Diskusi dan bagikan rencana anda pada keluarga besar

Seberapa sering pertengkaran dalam keluarga terjadi hanya karena besaran biaya pesta nikah yang sudah usai. Untuk menghindari hal tersebut, sebaiknya anda menceritakan rencana dan besaran anggaran yang sudah anda miliki kepada keluarga besar. Transparan atau anggaran yang terbuka akan lebih baik, ketimbang mereka hanya menebak rencana pesta anda. Siapa tahu mereka malah bisa membantu anda atau mendukung pelaksanaan pesta nikah?

Semoga bermanfaat!

 

Lihat Perempuan Itu, Anda Akan Tahu Siapa Suaminya! *

sumber foto: Dokumen pribadi

*Sieh dir die Frau an, und du kennst Ihren Mann. Saya dengar peribahasa bagus yang konon katanya dari Spanyol ini dari suami saya. Jadi bisa dikatakan bahwa jika orang itu berjodoh maka mereka akan mirip atau tipikal sama satu dengan yang lain. 

Peribahasa ini juga berkaitan dengan cerita yang saya dengar saat di kereta. Ada tiga orang perempuan Jerman yang sudah tua dan duduk di seberang kereta yang saya tumpangi. Mereka sedang bergosip menceritakan tetangga mereka. Perempuan pertama bercerita tentang kelakuan si isteri yang kerap berteriak kasar kepada anak mereka. Perempuan kedua dan ketiga menanggapinya serius, mengapa kelakuan tetangganya itu begitu. Lalu perempuan pertama menjelaskan bahwa sering terjadi keributan atau kegaduhan yang mengganggu tetangga sekitarnya. Nah yang menarik menurut saya saat kedua perempuan di kereta itu, perempuan kedua dan ketiga, bertanya seperti apa suami dari isteri yang suka berteriak-teriak itu.

Jawaban perempuan pertama itu begini,  Seht euch die Frau an, und Ihr kennt ihren Mann” (Kalian lihat isterinya maka akan tahu seperti apa suaminya). Artinya suaminya tidak jauh berbeda tipikal karakternya dengan isterinya. Lalu mereka semua yang mendengarnya tertawa bersama-sama. Perempuan pertama nyeletuk lagi, “Ich kenne den Mann nicht, aber das ist genau.” (Saya memang belum tahu suaminya, tetapi pepatah itu benar bahwa suami tidak berbeda jauh dengan isterinya).

Katanya sih ini peribahasa dari Spanyol bahwa pasangan hidup yang berjodoh akan mirip satu sama lain seiring usia pernikahan mereka. Saya juga pernah menulis artikel serupa di sini  tentang topik tersebut. Namun hasil penelitiannya belum kekinian, istilahnya. 

Baru-baru ini saya baca jurnal psikologi, meski hasil penelitannya sudah dirilis lama, tentang kemiripan pasangan suami isteri seiring dengan usia perkawinan. Adalah Robert Zajonc, seorang Psikolog Sosial dari Universitas Michigan, USA yang berpendapat adanya pertukaran emosi antara suami isteri satu sama lain dari tahun ke tahun akan menimbulkan kemiripian.

Kalau anda suka dikatakan berjodoh dengan pasangan anda hanya gegara anda mirip, itu benar. Mengapa? Meski menikah adalah dua orang yang berbeda, namun faktor kebiasaan dan berbagai kesamaan seperti selera humor kian hari menumbuhkan kemiripan.

Kemudian hasil uji Zajonc ini diteliti kembali tahun 2006 oleh para ahli dari University of Liverpool, Inggris yang mengambil sampel pasangan suami isteri berdasarkan foto dan tes kepribadian. Hasilnya dikutip begini, “possessing personality traits that are attractive may be causal in making a face attractive.”

Jadi bukan hanya mitos jika anda mirip maka berjodoh. Itu benar. Malahan, Zajonc mengatakan bahwa semakin lama dan bahagia pernikahan maka pasangan akan semakin mirip wajahnya satu sama lain. 

Bagaimana menurut anda?

4 Hal yang Harus Dihindari Orangtua Saat Berkomunikasi dengan Remaja

remaja
Sumber foto: Dokumen pribadi

“Jadi orangtua itu serba salah!“ keluh seorang teman menuliskan email pada saya. Dia curhat bagaimana menghadapi anaknya semata wayang yang baru saja menginjak remaja. Saya berpikir juga tidak ada rumus yang baku untuk menghadapi remaja sepanjang anda benar-benar mengenal remaja tersebut, termasuk perkembangannya. Mengapa? Banyak orangtua komplen soal anak remajanya padahal mereka tidak tahu soal perkembangan mereka seperti perubahan-perubahan emosional yang mereka hadapi.

Perubahan emosi yang dihadapi remaja menyangkut segala hal yang dirasakan terhadap diri sendiri, teman sebaya, orang lain termasuk orangtua. Tentunya hal ini bisa membuat remaja bingung, sedih atau gembira bercampur jadi satu menghadapi perkembangan yang sedang dialaminya.

Berikut 4 hal yang harus dihindari orangtua saat berkomunikasi dengan remaja

  1. Lebih banyak berbicara ketimbang mendengarkan

Saat orangtua merasa diri paling benar dalam menghadapi persoalan remaja, maka kecenderungannya akan lebih banyak berbicara bla bla bla. Mengingat orangtua pernah mengalami masa remaja, nyatanya semua persoalan yang dihadapi orangtua saat remaja dulu dianggapnya sama dengan kondisi remaja sekarang. Sebaiknya hindari dominasi pembicaraan ketika anda punya kesempatan untuk berbicara dengan mereka. Dengan tidak mendominasi pembicaraan, anda berarti memberikan kesempatan untuknya bercerita dan berbagi.

 

  1. Merasa paling tahu, hebat, benar dan terbaik

Kecenderungan orangtua untuk merasa paling tahu, hebat dan benar sebaiknya perlu dihindari. Hindari segala nasihat-nasihat yang anda pikir terbaik untuk disampaikan. Nyatanya remaja perlu seseorang untuk memahami dan mendengarkan mereka, bukan orang yang hebat memberikan nasihat. Karena belum tentu anda benar-benar memahami kondisi yang sebenarnya dari remaja tersebut. Gunakan pendekatan sahabat terbaik seperti remaja memiliki tempat curhat.

 

  1. Marah, berteriak dan merasa putus asa

Bisa dipahami apa yang anda rasakan sebagai orangtua bilamana anda menghadapi remaja bermasalah. Namun tindakan memarahi dan berteriak-teriak pada remaja justru akan memperburuk keadaan. Kendalikan rasa marah dan putus asa saat berkomunikasi dengan remaja. Dengan demikian, anda akan memahami kondisi yang sebenarnya pada remaja dengan pendekatan yang lebih baik, bukan emosional. Mulailah komunikasi dengan pendekatan terbuka, hangat dan tidak emosional.

 

  1. Tidak bisa menerima kondisi yang sedang terjadi pada remaja

Apa pun masalah yang terjadi dengan remaja, terimalah kenyataan tersebut. Jika menyangkal terus menerus, justru komunikasi menjadi tidak efektif. Berikan pelukan saat anda menyadari bahwa remaja sedang menghadapi masalah. Saat anda bisa menerima kondisi mereka, dengarkan apa yang sedang terjadi pada remaja! Jangan menyalahkan kondisi yang sedang dihadapi oleh remaja. Libatkan remaja untuk mencari solusi bersama.

Semoga bermanfaat!

Ketika Tuhan Hanya Mempertemukan, Tidak Mempersatukan

Sumber foto: Dokumen pribadi

Bagi anda yang sudah menikah pernahkah terbayang pertanyaan, mengapa saya tidak menikah dengan si anu malah dengan si dia yang sekarang jadi pasangan hidup? Pernahkah merefleksikan bahwa mengapa Tuhan mempertemukan saya dengan anu? Atau mengapa saya tidak bertemu dengan si dia, pasangan hidup saya sekarang sedari awal? Tentu pertanyaan ini juga bisa muncul, mengapa Tuhan mempertemukan saya dengan mantan-mantan pacar saya, namun tidak mempersatukan saya dengannya.
Lalu mengapa hal itu terjadi?

Cinta adalah sebuah kata, namun hanya seorang yang tepat yang dapat memberikan makna. Bisa jadi mantan pacar anda sudah mengatakan berulang kali kalimat “I love you” pada anda, namun kalimat itu belum menunjukkan makna cinta yang sesungguhnya anda harapkan. Iya, kan??

Saya pernah dilamar oleh seorang pria saat usia saya masih 17 tahun. Untungnya saya menolak lamaran tersebut, mengapa? Usia saya masih terlalu muda untuk menikah. Saat itu yang saya pikirkan hanya bagaimana bersekolah dan meraih masa depan. Saya berpikir pula pria yang melamar saya hanya balas budi atas kebaikan orangtua saya. Jadi mengapa saya tidak menikah saat itu juga? Karena saat itu menurut saya bukan hal yang tepat untuk menikah. 

Pernahkah anda mengalaminya, merasakan bahwa ini bukan saat yang tepat menuju ke tahap berikutnya? 

Wajar pula bilamana ada seorang pria atau wanita yang sudah menjalin kasih dengan anda sekian lama, memilih “lari” atau “menghilang” ketika ditanya komitmen untuk tahap selanjutnya. Mungkin dia juga merasa saatnya belum tepat. 

Bagaimana justru anda sudah merasa “saat yang tepat” untuk menikah, namun belum juga berjodoh? Usia anda sudah cukup matang, misalnya. Tabungan anda cukup. Atau, karir anda sudah mapan dan punya penghidupan yang layak. Namun dimana jodohnya? Atau, kok saya belum menemukan orang yang tepat.

Di saat yang tepat, bisa jadi anda belum menemukan orang yang tepat.

Ibu saya pernah berkata, “Ada sekian pria menyatakan cinta padamu namun tidak ada satu pun yang berani meminangmu.” Di sini akhirnya saya menyadari mengapa cinta hanya sebuah kata namun perlu kehadiran seseorang yang mampu mewujudkannya. Lagi-lagi soal kesadaran. Semakin anda beranjak dewasa, anda belajar bahwa cinta itu tidak mudah dipraktikkan. 

Anda sadar bahwa perlu seseorang yang terbaik untuk hidup anda. Akhirnya, tentu bukan mantan pacar anda. Jika anda sudah menikah sekarang ini, pernahkah anda menyadari mengapa anda perlu menunggu orang yang tepat di saat yang tepat? Finally, you have found the right man in the right time.

Hanya anda yang tahu bahwa dia adalah orang yang tepat. Bagaimana mengenalinya? Meski sejuta tips disajikan, hanya intuisi anda yang membenarkan bahwa dia adalah pasangan yang tepat. 

Ketika Tuhan mempertemukan anda dengan pria/wanita yang jadi mantan anda, itu artinya lewat mereka anda belajar cinta yang sesungguhnya. Namun ketika Tuhan mempertemukan anda dengan orang yang tepat, maka berarti kesungguhan cinta perlu diwujudkan. 

Di saat yang tepat, cinta akan menunjukkan orang yang tepat untuk memberi maknanya.

Mengapa Perempuan Tak Suka Ditanya Soal Umur?

image
Sumber foto: Dokumen pribadi

Saya sebagai perempuan juga menyadari jika saya ditanya hal itu, apakah saya akan berkata jujur atau berbohong soal umur. Malah dulu saya pernah tulis bahwa perempuan punya kecenderungan berbohong soal umur. Jika anda perempuan, apakah anda suka jika ada orang yang bertanya tentang umur anda?

Di Indonesia, mungkin sudah lebih dari 10 orang yang bertanya berapa usia saya secara langsung saat bergaul. Buat saya hal ini adalah hal yang wajar, apalagi saat usia saya masih muda, alias masih usia belasan atau dua puluhan. Saya akan lantang menjawab usia saya. Namun tidak untuk etika internasional, mengapa? Seorang perempuan lulusan luar negeri dan punya karir mapan memperkenalkan hal ini pada saya. Saat itu usia saya masih dua puluhan, masih kuliah dan cari uang tambahan. Saya kagum pada sosok perempuan mandiri, cerdas dan sukses ini. Lalu pada suatu kesempatan, saya penasaran berapa usia perempuan ini. Saat saya tanya, perempuan ini menjawab, “Anna, this is rude if you ask my age. Itu tidak sopan dalam pergaulan internasional.” Oopss!!! Sejak itu saya belajar untuk tidak bertanya soal usia secara langsung pada seorang perempuan. Jika saya penasaran, saya akan langsung mengenali dari kebiasaan, selera musik, atau konten yang dibicarakan. But anyway, mengapa perempuan tidak suka ditanya soal usia?

Berikut hasil pengayaaan saya sebagai perempuan,

  1. Age is only number but it is a kind such labels. Anda pasti setuju semua bahwa usia adalah sekedar angka. Yups, that’s true. Tetapi siapa sangka ada faktor budaya dan psikologis yang mengkaitkan usia dengan hal tertentu. Misalnya, saya pernah bertugas di wilayah pedalaman Indonesia. Mereka tertarik dengan pribadi saya yang ramah dan baik, hingga akhirnya mereka pun bertanya berapa usia saya? Saat saya jawab jujur, ini respon mereka, “Wah, Mbak Anna pintar dan baik tetapi sayang sekali ya belum menikah.” Saat mereka berkata seperti itu, saya seperti ingin lari ke gunung menyendiri. Ini seperti kesalahan buat saya mengapa masih melajang saat usia sudah kepala tiga. Tentu saya tidak bisa marah kepada mereka, namun mereka seperti memberi label bahwa perempuan sudah harus menikah sebelum usia kepala tiga. Ini soal budaya, belum lagi soal psikologis. Misalnya, ada seorang teman saya yang mengeluhkan rekan kerjanya yang adalah seorang perempuan berusia matang sekitar empat puluhan tetapi masih bersikap seperti anak kecil terutama saat menghadapi masalah kantor. Teman saya ini bertanya, apa yang menyebabkan rekan kerjanya seperti itu.Saya cuma menjawab, “Menjadi tua itu pasti, tetapi menjadi bijaksana adalah pilihan.” Masih ada orang yang mencap seseorang berdasarkan usianya, “Gimana sih sudah tua, masih berlaku seperti itu!” Hmm, akhirnya saya berpikir mungkin ini yang menyebabkan perempuan tidak suka ditanya soal usia. “Kalau situ sudah tahu usia saya, terus kenapa, ada masalah?” itu jawab seorang perempuan yang sinis saat ditanya.
  2. Age has a strong correlation with physical attractiveness. Pernah suatu kali, saya mendengar seseorang berkata begini, “Wah, anda cantik sekali. Usia anda pasti dua puluh lima.” Perempuan yang disanjung itu pun menyahut, “Duh, anda salah besar. Sesungguhnya usia saya sudah lima puluh tahun loh.” Saya mendengarnya cuma bisa terkagum-kagum, hebat juga usia lima puluhan tetapi terlihat seperti dua puluhan. Nah, jadi usia bisa dihubungkan dengan kecantikan dan pesona seorang perempuan. “Umur lo berapa, sih? Kok lo kelihatan sudah tua sih!” seru seorang teman berkata pada teman yang lain. Hmmm, saya lalu berpikir bahwa bisa jadi ini alasan perempuan tidak suka ditanya usianya. Beragam kosmetik dan operasi plastik mampu menutupi usia perempuan sesungguhnya.
  3. “It is impolite, Anna!” kata teman saya asal Inggris saat saya berdiskusi tentang etika internasional bahwa perempuan tidak suka ditanya usia. Oh, jadi memang tidak sopan dan terdengar kasar jika kita bertanya usia secara langsung pada perempuan. Pertanyaan usia begitu sensitif untuk perempuan. Katanya sih, perempuan merasa terancam dan tidak nyaman untuk menjawab usianya secara langsung, apalagi bertanya di area publik dan banyak orang. Akhirnya, ini kalimat sakti dari saya, bahwa setiap orang itu unik tidak terlepas dari berapa pun usianya. Mereka tidak suka dibanding-bandingkan. Hmmm, masuk akal sih jika perempuan tidak suka ditanya usianya.

Mungkin anda bisa terapkan cara saya jika penasaran soal usia seorang perempuan. Identifikasi dari minat, selera musik, gaya berpakaian atau artis yang diidolakan. Lantas, anda tanya mengapa mereka tertarik dengan hal itu? pasti mereka akan bercerita soal kenangan dalam lagu atau artis idola tersebut. Atau tips dari saya, anda jangan langsung bertanya di hadapan publik yang membuat mereka tersinggung. So bagaimana?