Fakta Cincin Kawin

Anda yang sedang mempersiapkan pernikahan, mungkin bertanya-tanya seputar cincin kawin mengenai asal muasal dan alasan cincin kawin dipakai di jari manis.

image

image

image
(Tampak kota Landshut yang terkenal dengan tradisi Landshuter Hochzeit yakni festival Pernikahan dengan tradisi ala Bavaria yang meliputi karnaval dengan kostum tradisional dan dirayakan empat tahun sekali. Festival terakhir dilaksanakan pada tahun 2013. Sumber foto: Dokumen pribadi)

 

Berikut fakta tentang cincin kawin:

1. Tradisi kuno yang mengawali pertukaran cincin kawin berasal dari budaya Mesir Kuno sekitar 4800 tahun yang lalu. Dimana saat itu simbol cincin masih berupa ornamen dekorasi dari tumbuh-tumbuhan yang dijalin melingkari jari seperti alang-alang dan papirus yang terkenal pada masa itu.

2. Simbol cincin kawin berbentuk lingkaran yang dimaksudkan tiada pernah berakhir atau keabadian, tanpa awal dan akhir. Oleh karena itu diharapkan cincin kawin yang dipakai menandakan cinta abadi.

3. Mengapa meletakkan cincin kawin di tangan kiri? Karena secara praktis, sebagian besar pekerjaan banyak dilakukan oleh tangan kanan sehingga cedera atau terluka semakin kecil.

4. Di kebanyakan budaya barat, cincin kawin dipakai di jari manis atau jari keempat tangan kiri. Hal ini diyakini berasal dari tradisi Roma, pada jari manis tangan kiri dianggap terdapat pembuluh darah jari yang disebut sebagai ‘Vena Amoris’ atau ‘Vena Cinta’ yang katanya berhubungan langsung dengan jantung. Pernikahan Kristen awal memiliki ritual memakai cincin pernikahan di jari keempat. Pastor akan memberkati cincin kawin “Dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus” maka Pastor akan mengambil cincin dan menyentuh ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah; kemudian mengucapkan “Amin” pada jari keempat yakni jari manis untuk “menyegel” pernikahan.

5. Awalnya cincin kawin berasal dari jalinan ornamen tumbuh-tumbuhan yang melingkar di jari. Kemudian berangsur-angsur digantikan dengan cincin yang terbuat dari kulit, tulang atau gading. Semakin lama cincin kawin dibuat semakin mahal bahannya sehingga menunjukkan prestige dan status seseorang.

6. Cincin kawin pertama yang menggunakan bahan besi berasal dari budaya Romawi. Dengan memberikan cincin kepada perempuan maka menunjukkan simbol kepemilikan, istilahnya “saya sudah ada yang punya”. Dengan cincin bahan besi ini maka cincin kawin menjadi simbol kekuatan dan keabadian. Semakin lama cincin besi terbuat dari logam lunak seperti terbuat dari emas.

7. Di Jerman bila bertunangan maka cincin diletakkan di jari manis tangan kiri sedangkan jika sudah menikah diletakkan di jari manis tangan kanan. Hal ini berbeda dengan kebiasaan di USA dan Kanada yang bebas memberlakukan letak cincin kawin.

Sumber bacaan:

Today I Found Out | Learn Interesting Facts Every Day

Advertisements

5 Hal Ini Bisa Jadi Tidak Siap Menikah

wpid-1-2.jpg
Siapkah anda berkomitmen? Sumber foto: Dokumen pribadi

Hidup ini adalah sebuah keputusan dari pilihan-pilihan yang ditawarkan di dunia ini. Begitu pemahaman saya, termasuk menikah. Memutuskan menikah mudah tetapi kesulitan selanjutnya adalah memelihara keputusan itu sehingga menjadi “kontrak batin” dengan pasangan hidup. Disebut pasangan hidup karena anda akan menghabiskan hidup bersama pasangan dalam suka dan duka. Ini yang berat.

 

Nah, ada alasan mengapa buat sebagian orang menikah menjadi hal yang menakutkan. Sebagian besar dari orang yang saya tanyakan menjawab, tidak siap.

1. Tidak siap berkomitmen
Usai menikah, anda tidak seperti kala waktu berpacaran. Anda bisa marah dan mengancam putus. Yang terjadi kemudian putus nyambung, putus nyambung. Menikah tidak seperti itu. Anda harus berbeda saat marah. Jika anda menghentikan hubungan dengan pasangan, tidak lagi seperti pacaran, tapi anda akan menghadapi segudang masalah lainnya. Menikah adalah sebuah komitmen dua orang yang terlibat dalam institusi yang kelak akan disebut keluarga. Komitmen itu tidak sekedar janji dengan pasangan tetapi juga janji yang anda ucapkan di hadapan Tuhan (melalui nikah agama), orangtua dan keluarga besar. Selain itu juga memiliki konsekuensi hukum, karena pernikahan anda tercatat secara hukum administratif. Tidak siap berkomitmen berarti kebebasan anda terancam. Bisa jadi seperti itu pemikirannya. Oleh karena itu, komitmen pernikahan disebut janji suci.

2. Tidak siap secara finansial
Ada yang berpikir bahwa menikah akan menyelasaikan masalah finansial anda. Belum tentu begitu. Baik lajang maupun berumahtangga sama-sama punya masalah finansial. Sebelum menikah, anda misalnya sudah dihadapkan pada biaya pernikahan. Setelah menikah muncul lagi biaya-biaya hidup yang ditambah dengan hadirnya anak dan kompleksnya biaya tak terduga lainnya. Tetapi memang begitu pernikahan. Dengan menikah, anda diharapkan mampu mengelola keuangan anda sehingga mandiri. Jika masih bergantung pada orangtua, saudara atau orang lain secara finansial, coba telisik lagi, apakah anda sudah siap menikah?

3. Tidak siap menjadi orangtua
Memang anak bukan satu-satunya tujuan pernikahan tetapi siap atau tidak, menikah akan menggiring anda sebagai orangtua. Peran orangtua tidak ringan. Kerap pasangan yang sudah menikah memutuskan untuk menunda dulu memiliki anak agar siap menghadapi peran selanjutnya sebagai ayah dan ibu.

4. Tidak siap berkorban
Jika sudah menikah, banyak hal harus dikorbankan. Waktu dan tenaga dicurahkan agar kelanggengan dan harmonisasi pernikahan berjalan mulus. Teman saya yang sudah menikah berujar, pengorbanan terbesar usai menikah adalah korban perasaan, meninggalkan ego pribadi dan memikirkan “kita” anda dan pasangan, bukan diri sendiri. Memutuskan menikah berarti mengorbankan kebebasan anda untuk sebuah pilihan hidup bersama yang tak mudah. Ini yang masih sulit. Tak jarang orang meninggalkan pernikahan karena belum bisa mengorbankan kebebasan mereka.

5. Tidak siap akan perubahan hidup
Saya belum cek data berapa besar pengaruh perubahan hidup usai menikah, tetapi yang jelas berdasarkan pengamatan dan testimoni dari orang sekitar, menikah membawa perubahan. Perubahan fisik tentu akan mudah terlihat, misalnya usai menikah mereka mengalami kenaikan berat badan. Namun yang tidak disadari perubahan non fisik yang memang tidak terlihat tetapi dirasakan betul oleh orang yang mengenalnya. Seharusnya menikah memberikan perubahan hidup yang lebih baik dan positif dibandingkan saat masih melajang. Tentunya tidak setiap orang dapat menerima perubahan hidup yang menurut mereka sudah aman dan nyaman. Satu hal, perubahan hidup usai menikah akan mempengaruhi kehidupan relasi anda selanjutnya. Siapkah anda?

Ketidaksiapan menikah tidak ditentukan oleh usia, budaya, ras/suku, pola asuh, pergaulan tetapi faktor internal personal, hanya anda dan Tuhan yang tahu jawabannya.

Lelucon Pernikahan

 

wpid-20140406_225058.jpg
Sumber foto: Dokumen pribadi.

Isteri : “Sedang cari apa, Pak? Sibuk banget. Sini saya bantu.”

Suami : “Saya lagi cari anu.”

Isteri : “Cari apa?”

Suami : “Surat nikah”

Isteri : “Surat nikah? Memang kenapa dengan surat nikah kita, Pak?”

Suami : “Anu bu. Saya mau cek sampai kapan batas menikahnya kayak yang di KTP itu.”

Isteri : #@$@#$ (*gubraks)

Menikah adalah pilihan hidup yang tidak ditentukan. Saya yakin setiap pasangan yang akan menikah tidak pernah memikirkan kapan dan bagaimana bila bercerai, kecuali pernikahan kontrak yang memang tidak dilandasi cinta tetapi dilandasi kepentingan tertentu. Jelas ini berbeda.

Pernikahan dilandasi elemen cinta, komitmen, passion, dan kepercayaan yang menguatkan pilihan tersebut. Kepercayaan dan komunikasi adalah modal utama pernikahan.

Sewaktu saya bertemu dengan petugas catatan sipil di Indonesia. Petugas tersebut berasumsi bahwa pasangan suami isteri yang mengalami percekcokan dalam rumah tangga lebih memilih jalan perceraian ketimbang mempertahankan pernikahan. Apa yang terjadi? Masing-masing masih memikirkan diri sendiri.

 

Untuk membahas ego pribadi, simak lelucon berikut:

Pastor : “Baiklah, kalian sudah dipersatukan menjadi suami isteri sekarang. Suami, jangan pernah memikirkan dirimu sendiri lagi.”

Suami : “Baik, Pastor. Mulai sekarang saya akan memikirkan isteri saya.”

Pastor : “Tidak, bukan begitu jawabannya. Isteri, mulai sekarang jangan pernah memikirkan suamimu lagi.”

Isteri : “Hah. Pastor aneh. Suami saya tidak boleh memikirkan diri sendiri dan saya. Saya juga.”

Pastor : “Mulai sekarang kalian tidak lagi memikirkan diri sendiri, suami atau isteri tetapi ‘kita’.”

Anda paham maksud saya. Setelah menikah, anda bukan lagi dua tetapi satu. Mereka yang siap menikah memikirkan bagaimana masa depan “kita” anda dan pasangan hidup anda?

Mereka yang sudah menikah membentuk tanggungjawab baru menjadi keluarga dengan kehidupan bersama. Jika tidak bisa memikul tanggungjawab bersama berarti anda masih melajang. Menikah berarti “sama-sama bekerja” karena baik suami maupun isteri sama-sama memiliki peran untuk bekerja membentuk keluarga.

 

 

7 Pertimbangan Sebelum Memutuskan Menikah dengan WNA*

* WNA = Warga Negara Asing

1y1.jpg
(Anfangen ist leicht, beharren eine Kunst.
Memutuskan menikah itu mudah. Hal yang sulit adalah mempertahankannya. Dokumen pribadi)

 

Seiring dengan perkembangan teknologi, keterbukaan komunikasi pun bukan tidak mungkin menciptakan relasi dengan warga negara asing (WNA). Kemudian berkembang menjadi perkawinan campur (mix marriages) antara WNI (Warga Negara Indonesia) dengan WNA. Jujur, saya lebih suka menggunakan kata WNA ketimbang “Bule” karena “Bule” semacam streotype yang juga saya temukan di Thailand. Di Thailand, mereka menyebut “Bule” dengan “Farang”. Elok apabila kita menggunakan WNA ketimbang “Bule”, “Londo”, “Negro” atau “Farang”. Hargailah orang lain siapapun mereka agar kita pun dihargai, terutama saat di luar negeri.Itu prinsip saya.

Sebelum memutuskan menikah dengan WNA, berikut bisa menjadi pertimbangan pribadi mendasar:

1. Kenali budaya pasangan.
Pelajari segala hal tentang budaya pasangan dengan banyak membaca literatur. Datanglah ke pusat budaya negara bersangkutan, misalnya Belanda (Erasmus Huis), Jerman (Goethe Institut), Perancis (Institute Français Indonesia), Italia ( Istituto Italiano, Jakarta) dsb. Anda bisa dapatkan dengan mencari di google tentang lokasi pusat kebudayaan tersebut. Syukur-syukur, lokasinya tidak jauh dari kota anda. Sebagian besar memang berada di Jakarta, ibu kota negara.

Selain berkunjung ke pusat budaya, bekali juga dengan banyak literatur yang terdapat di perpustakaan, terutama di pusat kebudayaan karena koleksi mereka lebih lengkap. Anda juga bisa membaca berbagai informasi budaya di internet. Dengan bekal informasi budaya yang cukup, akan meminimalisir kesalahpahaman dan friksi di kemudian hari. Benar juga pepatah mengatakan, ‘Tak kenal maka tak sayang’.

2. Kenali karakter pribadi pasangan.
Karakter pasangan terbangun dari pengasuhan asal pasangan, bagaimana sifat baik dan buruk yang dimilikinya. Ingat, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Terima karakter pasangan dan diskusikan bila ada yang kurang berkenan di hati. Pelajari sifat dan karakter pasangan sebelum memutuskan untuk ke jenjang yang lebih serius lagi.

Untuk membantu anda, siapkan kertas dan tulis karakter baik yang dimiliki pasangan dan kemungkinan sifat yang kurang berkenan. Misalnya ada 10 sifat baik yang anda sukai, tapi ada 3 sifat yang tidak anda sukai. Silahkan diskusikan bila menurut anda menggangu dan perlu diubah.

3. Kenali dan pelajari bahasa ibu pasangan.
Apa “bahasa ibu” pasangan? Bahasa apa yang biasa jadi bahasa pengantar dan komunikasi sehari-hari dengan pasangan? Bila berbahasa inggris, yang jadi bahasa ibu dan bahasa pengantar sehari-hari, tak ada salahnya anda belajar bahasa inggris yang baik dan benar, tak sekedar bahasa inggris obrolan sehari-hari.

Apabila “bahasa ibu” pasangan, bukan bahasa inggris maka anda perlu mempelajarinya. Meski selama ini anda dan pasangan berbahasa Indonesia dan atau bahasa Inggris tetapi berbahasa ibu pasangan akan memiliki nilai lebih bagi anda sendiri. Anda akan bertemu dengan keluarga besarnya, kan? Atau, anda mungkin akan berkunjung, malah tinggal di negara asal pasangan? Tentu “bahasa ibu” pasangan dalam level pemula, perlu jadi pertimbangan buat anda.

Bila pasangan anda, WNA Jerman maka anda wajib menguasai bahasa Jerman untuk level A1 yang disyaratkan dan diakui kompetensinya dalam ujian bahasa jerman di lembaga Goethe Institut. Sertifikat bahasa akan menjadi syarat untuk kumpul keluarga dan tinggal di Jerman dalam pengajuan aplikasi visa ke Jerman.

4. Kenali masakan dan makanan yang dikonsumsi.
Apa saja makanan yang biasa dikonsumsi oleh pasangan pagi, siang dan malam hari? Apa makanan favoritnya? Apa nama makanan yang populer yang berasal dari negaranya?

Liebe geht durch den Magen, itu kata orang Jerman. Cinta datang dari makanan. Anda bisa meluluhkannya dengan belajar meracik masakan asal negaranya. Apa yang paling disukai dan jadi kebiasaan sehari-hari, misalnya kentang, sup, burger, pasta, mie, nasi, dsb? Apa yang jadi pantangan atau kurang disukai misalnya MSG, sambal, dsb?

Ceritakan juga kebiasaan makanan anda, misalnya anda tidak mengkonsumsi makanan tertentu. Atau, bila tidak makan nasi sehari, anda tidak memiliki energi. Anda juga bisa memperkenalkan makanan favorit anda, makanan tradisional Indonesia dan masakan racikan anda sendiri.

5. Kenali kebiasaan sehari-hari
Apa yang jadi kebiasaan sehari-hari pasangan? Ajak pasangan bicara dari hati ke hati, jangan merasa aneh apabila anda tidak terbiasa. Misalnya, bangun pagi minum kopi tanpa gula. Atau, setiap hari dia meminum alkohol, air putih bukan jadi minuman utama. Setiap hari dia harus makan kentang. Dan masih banyak lagi kebiasaan yang mungkin bisa anda ketahui sebelum bersama dengannya.

Tak ada salahnya juga jika anda bertanya hal yang pribadi seperti organ reproduksi atau kebiasaannya di tempat tidur. Ceritakan juga tentang diri anda dan tak usah malu. Anda ‘kan tinggal dengannya? Tentu, anda harus mempelajari kebiasaan berdua. Misalnya, kebiasaan anda berdoa. Kebiasaan anda memanggil sebutan pada orangtua, saudara tua, dsb.

6. Diskusikan pandangan tentang perkawinan, keluarga dan anak
Diskusikan pula hal-hal seperti perkawinan, keluarga dan pengasuhan anak. Apakah anak adalah hal yang utama dalam perkawinan anda? Bagaimana pengasuhan anak kelak?

7. Diskusikan tentang masa depan bersama (pengaturan keuangan, sumber pekerjaan, pengasuhan, tempat tinggal)

image
(Dimana anda akan tinggal setelah menikah. Jika memang diluar Indonesia, diskusikan bersama pasangan tentang kesiapan anda. Sumber foto: Dokumen pribadi)

Setelah anda merasa cukup mantap, silahkan diskusikan tentang masa depan bersama pasangan seperti tempat tinggal. Anda akan tinggal di negara mana? Bagaimana persyaratan pernikahan yang diperlukan untuk menikah dengannya? Bagaimana soal agama yang menjadi prioritas anda dan orangtua, misalnya?

Apa yang anda lakukan setelah menikah, misal bekerja, study, hanya ibu rumah tangga, dsb? Bagaimana pengaturan keuangan diantara anda dan pasangan? Bagaimana pendidikan dan pengasuhan anak dalam budaya pasangan? Pertimbangkan pula hal-hal yang perlu dipersiapkan bila anda harus tinggal dan menetap bersama pasangan di luar Indonesia.

Semoga uraian di atas membantu anda dalam mempersiapkan ke jenjang yang lebih mantap lagi, Perkawinan dua bangsa.

Namun di sisi lain, tak jarang kita menemui berbagai benturan. Ada beberapa hal yang sebaiknya tidak dipaksakan, yakni:

1. Agama dan kepercayaan.
Bagaimana pandangan anda perihal agama? Bagaimana agama menurut pasangan? Jangan pernah memaksakan agama dan keyakinan. Syukur-syukur jika anda dan pasangan tidak bermasalah tentang agama dan kepercayaan.

Tidak menutup kemungkinan anda akan menemukan agama dan keyakinan yang baru anda kenal. Jika pasangan ingin pindah agama dan kepercayaan, mengikuti keyakinan anda maka yakinkan anda punya banyak informasi untuk proses kepindahan dan menghubungkannya dengan Pemuka Agama.

2. Bentuk fisik.
Jangan pernah memintanya mengubah apapun secara fisik dari pasangan. Selain anda belum resmi menjadi pasangan hidupnya, hal itu juga dipandang tidak sopan. Terima pasangan sebagaimana ia memperlakukan anda.

3. Budaya.
Jangan pernah memaksakan budaya tertentu kepada pasangan. Bicarakan dengan pasangan bila ada hal yang kurang cocok menurut pemahaman anda. Anda akan tinggal dengannya seumur hidup. Jangan sampai budaya akan menjadi bumerang dalam hubungan anda.

Jika pasangan mau menerima saran/kritikan, anda pun harus siap mengajari pasangan untuk melakukan hal seperti yang anda minta. Jangan pernah memandang rendah/buruk budaya pasangan. Jangan pernah juga merasa superior atau merasa unggul terhadap budaya pasangan. Saling belajar budaya masing-masing akan membantu anda dan pasangan nantinya.

4. Kepribadian.
Tidak ada yang pernah bisa menebak secara tepat karakter pribadi seseorang, termasuk anda. Jika anda menginginkan pasangan memiliki kepribadian seperti yang anda impikan, itu namanya pasangan hidup impian. Bukan cinta. Anda akan hidup dengan karakter pribadinya, baik atau buruk tetap pasangan anda. Sedini mungkin pahami pribadinya.

Dua pribadi yang lahir, tumbuh dan dibesarkan dalam budaya bangsa yang berbeda, tentu berbeda pula. Namun yang jelas, kepribadian itu sifatnya dinamis, dapat berubah.

5. Bahasa sehari-hari.
Saat anda mengenalnya pertama kali, bahasa apa yang digunakan? Semua butuh proses belajar, termasuk jika pasangan ingin belajar bahasa Indonesia. Anda dapat katakan bahwa bahasa Indonesia begitu mudah dipelajari dan anda siap menjadi guru baginya.

Bahasa juga kerap bisa menjadi problema bagi anda atau pasangan yang salah satunya tidak memiliki bahasa ibu. Kemungkinan multi tafsir atau salah paham bisa saja terjadi. Terima hal itu sebagai proses pengenalan bersama. Jangan langsung menghakimi. Jangan sungkan-sungkan meminta maaf jika anda salah dalam berkomunikasi.

Di atas semua itu, serahkan kepada Tuhan, berdoa. Apakah ia layak untuk anda perjuangkan? Jika ya, memutuskan untuk menikah itu mudah. Hal yang sulit adalah mempertahankannya.

Selamat menempuh hidup baru!

Cinta Butuh Logika

image

(Sumber foto: google image)

Sewaktu membuat karya ilmiah seputar perkawinan, saya pernah menghadiri sebuah seminar perkawinan. Hal yang saya kenang sampai sekarang adalah cerita berikut:

Ada seorang Pastor mendapati seorang wanita yang baru saja menikah minggu lalu, sedang datang ke Gereja untuk berdoa.

Pastor pun menghampiri dan memberi ucapan selamat atas pernikahannya. Namun sebelum memberi ucapan selamat dengan menyodorkan tangan, Pastor berkata, “Hei, kau mengenakan cincin kawin di jari yang salah.”

Si wanita yang disapa pun menjawab, “Ya Pastor, karena saya menikah dengan pria yang salah.” Gubraks!!!

Cerita di atas diangkat untuk mengingatkan saya berbagi inspirasi bahwa dalam memutuskan komitmen dengan seseorang, kita perlu berhati-hati agar kita tidak “salah” orang, atau sekedar emosi, status, nafsu dan buaian kalimat rayuan, cinta menjadi “buta”. Cinta juga butuh logika.

Kalau kata orang jerman, “Zu spät” sebelum terlambat, mari pertimbangkan hal-hal berikut ini:

1. Apakah saya nyaman bersama dirinya?
Saya pernah bertanya pada rekan kerja yang sudah menikah. Apa yang menyebabkan dia memutuskan untuk menikah dengan suaminya, sementara dua kakaknya belum juga menikah? Jawabnya cuma satu. Saya nyaman dengannya.

Nyaman berarti kita bisa menjadi diri sendiri yang kita inginkan. Kita tidak “kikuk”, takut, cemas, khawatir, tertekan dan bingung saat bersama dengan pasangan. Tapi kita bisa menjadi diri sendiri, tanpa dibuat-buat untuk menyenangkan pasangan. Hey, anda akan tinggal bersamanya seumur hidup. Anda bisa “lelah batin” jika hanya berlaku seperti sandiwara.

Pasangan anda akan menerima tidak hanya kecantikan, kekayaan, kepandaian atau karakter anda, tapi seluruh pribadi anda seumur hidup. Anda juga tidak tinggal dengan ketampanan atau kekayaannya ‘kan? Anda akan tinggal dengan seluruh dirinya, termasuk sifat dan karakter pribadinya.

Satu hal, tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Terima kekurangan pasangan sebagaimana ia mau menerima kita seutuhnya.

Nyaman berarti anda juga tidak mengubah pribadinya. Jika ada hal-hal yang anda kurang suka, bicarakan bersama dan diskusikan cara terbaik sebagai pemecahan. Begitu pun sebaliknya. Kesepakatan di awal akan membantu anda untuk “tidak terlambat”.

2. Bagaimana masa depan kami bersama, termasuk soal keuangan?
Sebelum melanjutkan ke jenjang komitmen hidup bersama secara hukum agama, hukum adat dan hukum negara silahkan bicara bersama tentang masa depan seperti rumah tinggal, pekerjaan, tabungan, hutang, tanggungan keluarga, dsb.

Libatkan pasangan saat menentukan pekerjaan, tabungan pribadi atau tabungan bersama, cicilan hutang atau biaya hidup sehari-hari.

Masalah keuangan kerap menjadi pemicu konflik antar pasangan. Diskusikan bilamana terjadi konflik, apa yang bisa dilakukan untuk memecahkannya?

Jika masih pacaran atau status lajang, anda masih bisa menggunakan uang tanpa perhitungan, kini anda perlu pikirkan bagaimana anda perlu menabung untuk masa depan bersama.

Anda yang berpikir, dengan menikah maka solusi keuangan akan teratasi. Belum tentu juga. Pastikan bersama pasangan mengenai pengelolaannya, termasuk soal gaya hidup agar tidak menjadi masalah di kemudian hari.

3. Bagaimana cara-cara kami menyelesaikan masalah/pertengkaran bersama?
Sewaktu pacaran atau penjajakan, anda pasti pernah mengalami konflik bersama pasangan. Konflik itu wajar. Dengan konflik kita bisa paham karakter masing-masing. Apakah kita menjadi pribadi yang destruktif misal banting barang, memaki kasar, merusak barang, melakukan kekerasan dsb? Atau kita menjadi pribadi yang konstruktif?

Apakah kita cukup berani untuk minta maaf, meski pasangan yang berlaku salah? Apakah setiap pertengkaran selalu berujung damai atau butuh waktu lama untuk pulih dan berdamai? Apakah pasangan termasuk orang suka melakukan kekerasan secara verbal atau fisik atau malah keduanya?

Apakah juga usai konflik selalu memerlukan pihak lain seperti orangtua, sahabat, kakak, atau konselor untuk menyelesaikannya?

Apakah setiap konflik terjadi aniaya fisik dan verbal? Siapa yang lebih dulu meminta maaf?

Kalimat reflektif di atas dapat membantu anda untuk memantapkan langkah, apakah dia layak menjadi pasangan hidup kita?

4. Bagaimana tanggapan/pandangan orangtua, keluarga, teman-teman tentang hubungan kami?
Biasanya orang sekitar akan mengamati, menilai dan menyampaikan kepada kita tentang kesan mereka terhadap pasangan kita. Orangtua juga punya intuisi yang baik tentang pilihan hidup kita. Dengarkan pendapat mereka tentang pasangan hidup kita. Toh, saat menikah anda juga “menikah” dengan seluruh anggota keluarganya. Maksudnya, pribadi pasangan juga cerminan bagaimana keluarga membentuknya.

Mintalah juga pendapat dan saran sahabat atau teman dekat anda tentang pilihan anda. Apakah anda dan pasangan adalah pasangan yang serasi? Syukur-syukur mereka akan membantu menyelidiki pasangan hidup kita tanpa diketahui pasangan. Bila sahabat dan teman memberi kesan positif, siapa tahu mereka pun akan terlibat untuk menjadi “Panitia kecil” acara pernikahan anda.

5. Bagaimana pandangan tentang anak dan pengasuhannya?
Dalam budaya barat, anak perlu dibicarakan di awal pernikahan. Bagaimana pandangan pasangan soal anak? Apakah anak menjadi bagian penting pernikahan anda?

Kehadiran anak juga memerlukan perhatian yang utama dalam rumah tangga, seperti pengasuhan dan biaya-biaya yang diperlukan untuk tumbuh kembangnya termasuk juga soal biaya pendidikan.

Yang terpenting, anak bukan sebuah beban tapi tanggungjawab baru saat memutuskan menikah. Jika memang kehadiran anak bukan tujuan utama, bagaimana anda dan pasangan melewati hidup bersama? Apakah anak menjadi penentu kebahagiaan pasangan?

“Tiada gading yang sempurna” artinya anda dan pasangan bukan saling memandang tetapi sama-sama memandang ke arah yang sama. Lengkapi kekurangan pasangan dengan apa yang anda miliki. Begitu pun sebaliknya.

Yang terutama, percayakan pilihan anda pada Tuhan, berdoa. Karena Tuhan tahu pasangan yang anda butuhkan, meski dia bukan seperti yang anda harapkan. Selanjutnya, anda akan paham sudah terlambat pintu hati bagi orang lain. Dan ia yang anda pilih memang layak untuk diperjuangkan.

PUISI: Cinta & Benci

wpid-foto-comics.jpg
Dokumen pribadi.

 

Setiap orang diciptakan untuk saling mencintai. Tetapi, mengapa ada kebencian? Perasaan benci berarti bukan cinta. Perasaan benci pasti berbeda dengan cinta. Bentuk perlakuan membenci pasti berbeda dengan mencinta.

Tuhan senantiasa mencintai manusia. Apakah Tuhan membenci manusia?

Jika Tuhan menciptakan hati untuk mencintai, mengapa hati yang diciptakan bisa menumbuhkan perasaan benci. Benci bukan berarti Benar-benar Cinta. Benci ya Benci. Tidak suka. Tidak Cinta. Jika ditanya, bagaimana benci itu tumbuh? Jawabnya pasti di hati. Hati yang membenci. Meski, banyak orang memandang kebencian dengan mata namun mata yang benci berawal dari hati.

Saat mencintai, pasti kita sulit untuk membenci. Begitu pun sebaliknya. Saat membenci, kita pun tidak bisa untuk mencinta.

Jika cinta bertumbuh dari hati, mengapa hati yang sama mampu menumbuhkan benci?

Cinta. Benci.

Dua hal yang berbeda.

Jika kita membenci, kita tidak pernah punya kesempatan untuk mencintai. Saat kita mencintai, kita pun tidak punya kesempatan untuk membenci. Lantas, mengapa kita tidak memulai dengan mencintai seseorang?

Tuhan hanya menciptakan satu hati. Hati yang berkembang untuk mencintai, bukan membenci.

Cinta selalu menumbuhkan kedamaian. Cinta menumbuhkan kebahagian.

Benci selalu menumbuhkan pertengkaran.

Cinta berasal dari Tuhan. Lantas, darimana benci bisa muncul?
Hanya Anda dan perasaan benci itu yang tahu.

Selamat mencintai!

Saya adalah Saya: Manusia itu Unik

Ich bin Ich. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Suatu kali, saya mendapat cerita dari seorang kawan tentang penderitaannya ketika mendengar sang ibu membandingkan kawan saya dengan kakaknya yang sulung. Kawan saya, yang adalah anak kedua, merasa kesal, kontan, dia marah kepada sang ibu. Sang ibu, sebagai ibu juga kaget terhadap reaksi si anak. Harapan sang ibu, anaknya yakni kawan saya, akan berubah dan mengikuti teladan kakak sulungnya. Tak disangka, terjadilah adu mulut antara sang ibu dengan anaknya, kawan saya itu.

Saya pun pernah turut menjadi bagian dari perbandingan antara saya dengan orang lain, entah perilaku, sifat, kepribadian, kinerja, kepemimpinan, de el el, yang jika ditulis bisa berlembar-lembar. Atau, saya pun bukan manusia yang sempurna. Saya juga pernah membandingkan antara orang lain dengan orang lain-nya lagi. Wow, begitu hebatnya manusia sehingga ia bisa menjadi subjek sekaligus objek.

Satu kalimat kunci saat belajar Psikologi, bahwa kepribadian itu unik. Tidak pernah ditemukan orang yang sama di dunia ini, bahkan orang yang kembar identik sekalipun. Sangking uniknya, Tuhan memilih ‘bahan-bahan’ yang sempurna sehingga menjadi diri kita. Sampai saat ini, di dunia yang serba canggih sekalipun, belum ada manusia yang mampu mengalahkan Tuhan dalam menciptakan manusia. Robot sekalipun belum menyentuh sisi kemanusiaan yang dibuat oleh Tuhan.

Nah, manusia itu unik. Saya adalah saya.

Jika mendengar istilah ‘membandingkan’, yang terbayang adalah menilai, menganalisa hingga memutuskan (meski belum lihat kamus bahasa indonesia, benar atau salah) satu hal dengan hal lain. Ada proses berpikir hingga merasakan lalu kemudian melakukan atau memutuskan. Membandingkan bisa jadi ada yang diunggulkan dan ada yang direndahkan. Iya kan? Ada pihak yang dijagokan dan ada pihak yang diremehkan. “Halah, si anu itu bisanya apa sih? Beda kayak si nganu, yang jago banget bla bla bla…” coleteh teman sebelah saya ketika kami sedang mendiskusikan Capres dan Cawapres. Hebat juga oi, sebagai rakyat memang kita memiliki hak untuk berpendapat apapun, membandingkan antara satu orang yang jadi bakal pemimpin dengan yang lainnya.

Sangking uniknya seseorang, kita pun sadar atau tidak, telah menyakiti seseorang tanpa menyadari bahwa setiap orang itu unik. Tidak ada orang yang suka dibandingkan dengan orang lain dalam hal apapun. Karena setiap orang memiliki cara dan gaya tersendiri sehingga ia dikenal dan diakui.  Padahal maksud orang yang membandingkan (mencoba mencari celah positif), membandingkan seseorang dengan orang lain yakni agar si anu bisa belajar atau meneladani si nganu.  Pernahkah mendengar bahwa sebenarnya setiap orang itu sadar atau tidak belajar dari orang di sekitarnya. Si A belajar dari si B, si B belajar dari si C, si C belajar dari si D, si D belajar dari si E, dan si E belajar dari si A? Lihat betapa besar kekuatan si A.

Dari kecil, orangtua suka membandingkan anak satu dengan anak yang lain. Bersyukurlah kawan jika anda adalah anak tunggal, meski bisa saja anda dibandingkan sepupu atau anak tetangga. Saat menjadi murid, guru masih membandingkan antara satu murid engan murid lain. Saat bekerja, bisa jadi ada atasan atau rekan sekerja yang masih suka membandingkan kita dengan rekan sekerja lainnya. Meskipun kita pun melakukan hal yang sama untuk atasan dan rekan sekerja kita.

Baiklah, pernyataan saya adalah saya bukan berarti mencintai diri sendiri, egois atau mengacuhkan keadaan sekitar. Hal yang mau ditekankan disini adalah setiap orang adalah unik. Dengan cara dan gayanya, manusia berpikir, mengalami dan berperilaku. Saya adalah saya, berarti menghargai orang lain dan tidak ‘memasukkan’ orang lain ke dalam ‘kotak’ pikiran saya. Saya adalah saya, berarti terimalah saya apa adanya. Dengan demikian, saya diakui dan dicintai.

2009

Lebih Banyak mana, Lajang atau Sudah Berkeluarga?

wp-image-2077371113

Setiap saya berbicara dengan teman-teman mengenai pengeluaran akhir bulan, selalu muncul perdebatan antara mereka yang sudah menikah dengan orang yang belum/tidak berkeluarga. Jika saya tanya pada teman yang sudah menikah dan berkeluarga, mereka mengatakan kepada saya: “Wah, kamu itu enak belum berkeluarga. Kamu belum berpikir untuk membiayai keluarga. Kamu belum mengeluarkan biaya untuk susu anak atau pendidikan anak.” celetuk seorang rekan yang sudah memiliki 2 anak. Lain lagi dengan teman saya, “Duh, jika boleh mengulang waktu, lebih baik saya menikah jika sudah mapan. Kamu tahu tidak? Hidup berkeluarga itu tidak mudah. Kamu harus menanggung dua orang sekaligus, belum anak. Lalu, kamu harus memenuhi berbagai kebutuhan keluarga.” keluh temanku satu lagi mengenai pengeluarannya di akhir bulan.

 

Lantas, bagaimana dengan pendapat  teman yang belum menikah tentang pengeluaran mereka? Saya coba bertanya dengan rekan Pria yang belum menikah. “Siapa bilang hidup single itu tidak banyak pengeluaran?. Gaji saya saja dipakai untuk membiayai keluarga. Padahal orangtua saya sudah memiliki penghasilan sendiri dari pekerjaannya dan sewa kontrakan.”

Ada lagi rekan saya yang berpendapat, “Meskipun kita belum menikah, An. Kita masih bertanggungjawab dengan keluarga kita. Lalu, kita harus menanggung biaya hidup kita sendirian. Seandainya kita sudah menikah, toh biaya hidup kita ditanggung berdua dengan suami.”, komentar temanku perempuan yang masih melajang di usianya yang ke-33 tahun.

 

Saya bingung karena pada dasarnya pendapat teman yang sudah menikah dengan yang belum menikah hampir serupa. Mereka punya banyak alasan mengenai rincian pengeluaran. Saya pun berpikir bahwa menikah adalah solusi keuangan. Artinya, hidup saya terjamin dengan kehadiran suami. Tapi apakah itu benar? Ataukah, apakah asumsi saya itu salah?

Saat masih skripsi dulu, saya sempat membahas mengenai teori perkawinan dimana salah satu alasan orang untuk menikah adalah ekonomi sehingga kehadiran pasangan diharapkan dapat meningkatkan status sosial ekonomi juga.

Saya memang belum menikah. Saat ini, saya sempat berpikir untuk ‘melarikan’ tanggungjawab saya dari keluarga saya dengan menikah. Saya berpikir, saya akan menikahi Pria yang mapan secara ekonomi. Saya pun berpikir, keluarga saya tidak akan mengutak-atik keuangan saya karena malu dengan pihak suami.

 

Rasanya cukup untuk menjadi ‘sandaran’ keluarga. Atau, Tuhan sendiri telah mengatur keuangan kita bahkan menempatkan kita pada posisi pekerjaan yang pas sehingga menyadari bahwa kita masih menanggung biaya hidup keluarga.

Kemarin ketika ke Karawang, saya diantar oleh supir yang disewa oleh Pihak Kantor. Sepanjang perjalanan, kami berbincang tentang kondisi ekonomi yang saat ini sedang mengalami krisis. Saya juga bertanya tentang kehidupan supir ini, Apa yang terjadi? Saya terkejut mendengarkan jawabannya. Supir ini memang sudah berkeluarga. Tetapi, ia mengatakan bahwa dengan berkeluarga atau menikah, pengeluaran dapat ditanggung berdua bahkan lebih baik saat kita belum menikah. Segala sesuatu dapat dibicarakan berdua dengan pasangan. Apalagi, saat ini, istripun harus diberi kepercayaan untuk mengelola keuangan dan suami pun dipercayai dalam pekerjaannya.

 

Di akhir perbincangan kami, saya menyimpulkan bahwa baik hidup melajang atau menikah, Tuhan sudah merencanakan bahwa kehidupan kita cukup, tidak berkekurangan. Jika belum menikah, wajar jika kita berbakti kepada orangtua dengan mendukung keluarga kita secara ekonomi. Sepanjang kita membantu keluarga saat belum menikah, tidak akan membuat kita menjadi miskin. Namun, kita perlu tetap memperhitungkan apa yang menjadi hak kita untuk menabung demi masa depan.

Sementara, bagi mereka yang sudah berkeluarga, kehadiran pasangan akan membantu kita berkompromi dalam mengatur ekonomi bersama. Bersama pasangan, kita dapat merencanakan yang terbaik untuk anak-anak kelak. Tentunya, kepercayaan kepada pasangan dalam mengelola keuangan adalah kunci agar keharmonisan hubungan dapat terus terjalin.

 

Akhirnya, saya menyadari, bahwa bersyukur adalah kunci semua itu, baik sudah menikah atau belum. Bersyukur akan mampu meruntuhkan kita dari prasangka mana yang lebih baik, melajang atau berkeluarga. Kita tidak akan bisa menghitung secara matematis mengenai pengeluaran yang lebih baik antara sudah menikah atau belum, karena semuanya didasari oleh syukur.

 

November 2008