Mari Berjuang Untuk Impian!

wp-image-587475657jpeg.jpeg

‘Fight your dream, then your dream will fight for you. And above all, dont lose your hope’

Terkadang orang sekitar memandang pesimis terhadap keinginan dan impian kita. Kerap mereka menilai itu hal yang mustahil buat kita lakukan.Tetapi percaya atau tidak, kita belajar banyak hal dari proses mengejar impian.

Setiap orang adalah istimewa dan unik satu sama lain. Setiap orang juga punya kesempatan yang sama dalam hidup. Satu hari dengan dua puluh empat jam adalah sama bagi setiap orang. Tinggal bagaimana kita mengelolanya menjadi sesuatu waktu yang berharga dan tidak terlewatkan, termasuk impian.

Dalam film yang baru saja saya tonton di Bioskop, memperlihatkan keteguhan harapan. Keyakinan bahwa kita pasti berhasil, hanya memang semua itu tidak instan, penuh pengorbanan, perlu waktu untuk bertahan, sabar bahkan rasa putus asa dan menyerah mungkin saja tejadi. Ketika di akhir film, ada penyelidikan dan bertanya, bagaimana tokoh ini bisa bertahan hidup dan mustahil, tak ada yang percaya terhadap pengalamannya tetapi hal itu sungguh terjadi. Mungkin dalam hidup, kita pernah mengalami hal yang mustahil dan membuat orang tak percaya mendengarnya. Karena setiap orang adalah ‘Pahlawan’ bagi dirinya sendiri.

Begitu pula impian, setiap orang bisa mencapai apa yang diimpikan saat kita berserah pada Tuhan dan percaya bisa melewatinya. Sekarat, menyerah, putus asa, tak mampu bertahan, menangis adalah hal yang normal kita lewati.

Memang benar bahwa hidup ada dalam genggaman dan kendali kita. Mati, Jodoh dan Rejeki ada dalam guratan tapak tangan kita. Ketika kita menggenggamnya semua ada dalam kendali kita. Tetapi lihat ada guratan yang tak bisa kita genggam dan berada d luar kendali kita. Itu lah diluar kendali kita. Sisanya biar ada dalam kendali Tuhan.

‘Do the best, then God will do the rest. Keep the Faith!’

Advertisements

Tidak Siap Hadapi Perubahan, Eits Tunggu Dulu!

Sejatinya, tidak ada manusia di dunia ini yang siap akan perubahan. Sumber foto: Dokumen pribadi.

 

 

Adakah manusia yang siap dengan perubahan? Berubah kondisi kerja. Berubah kondisi alam. Berubah pasangan hidup. Berubah kondisi fisik. Berubah tempat tinggal. Mungkin masih banyak lagi perubahan yang terjadi dalam hidup ini. Padahal setiap hari adalah perubahan dari hari sebelumnya. Setiap detik adalah perubahan dari detik sebelumnya. Lalu, mengapa manusia tidak siap dengan perubahan? Perubahan yang terjadi setiap detik adalah perubahan yang terjadi karena sudah diketahui dan terbiasa. Perubahan yang dimaksud dengan tidak siap adalah perubahan yang mendadak, tidak direncanakan dan tidak dikehendaki.

Perubahan memerlukan proses yang tidak mudah untuk menerima. Awalnya, kebanyakan dari kita berusaha menyangkal perubahan. “Ah, saya tidak tua kok. Rambut pun belum putih semua.” Padahal usianya sudah memasuki 70 tahun, misalnya. “Siapa bilang saya dipecat. Saya hanya memutuskan keluar karena saya tidak tahan dengan sikap bos baru.” Padahal dia dipecat karena dia tidak patuh pada aturan yang diterapkan oleh bos baru. Masih banyak lagi penyangkalan yang kita lakukan karena kita sulit menerima perubahan.

Tidak nyaman adalah situasi yang terjadi ketika sesuatu berubah dan tiba-tiba. Kita merasa “jengah” dan tidak terbiasa. Kita biasanya protes atau cenderung diam. Kita biasanya complaint atau cenderung bergosip. Intinya kita tidak merasa nyaman terhadap perubahan yang terjadi.

Jika tidak nyaman muncul, biasanya diiringi dengan rasa takut dan cemas. Kita sudah “ngeri” membayangkan apa yang akan terjadi di depan mata setelah perubahan. Kita mulai memikirkan keberadaan kita. Kita memikirkan efek perubahan terhadap hidup kita yang sudah terbiasa. Takut membuat kita menjadi tidak siap dengan perubahan.

Apa yang harus dilakukan? Siap atau tidak siap, perubahan adalah proses menuju kematangan pribadi agar kita mampu bersikap bijaksana dalam hidup. Cara agar kita mampu mengendalikan ketidaksiapan menghadapi perubahan adalah berserah diri kepada Tuhan. Saat kita tidak punya kendali atas perubahan yang terjadi dalam hidup, ada peran Tuhan yang mengetahui mengapa harus terjadi perubahan.

Percaya, perubahan bukan musibah tetapi berkah. Siapkan dirimu menghadapi perubahan yang akan terjadi.

Bersikap Dewasa Kala Doa Belum Terkabul. Apa Bisa?

push
Dokumen pribadi.

Suatu hari saya pergi berbelanja ke Supermarket besar. Saya menjumpai sebuah peristiwa, seorang anak merajuk dan nangis hebat saat meminta mainan. Anak itu berguling-guling, teriak dan nangis karena melihat ayahnya menolak beli mainan yang disukainya. Karena saya suka melihat tingkah pola anak itu yang lucu dan menggemaskan, saya bertanya mengapa sang ayah tidak membelikan mainan tersebut. Saya penasaran.

Sang ayah bilang, dia khawatir dengan mainan tersebut yang akan membahayakan anaknya. Tak lama setelah itu, di ujung kasir terdengar suara anak kecil menangis hebat dan si Ibu berusaha menenangkan si anak, anak tersebut tampak meraung memegang matanya, sambil berteriak panas. Rupanya mainan yang baru dibeli terkena matanya. Mainan itu adalah mainan yang akan diminta oleh anak dari si ayah yang sedang berbicara dengan saya barusan. Cepat-cepat si Ayah meraih si anak yang sedang merajuk sambil menjelaskan peristiwa celaka anak di ujung kaisar. Anak itu berusaha memahami penjelasan ayahnya sambil melap air matanya dengan wajah sendu. Meski kecewa, anak itu memahami risiko mengapa keinginannya ditolak.

Usai berbelanja, aku menyadari sapaan Tuhan tentang doa yang belum terjawab dengan peristiwa di supermarket tadi. Aku tidak mungkin seperti anak kecil yang menangis, meraung, meratap dan ngamuk karena permintaannya tidak dituruti. Sebagai Bapa yang baik, Dia tidak ingin melihat saya menderita karena permintaan saya sendiri. Sesungguhnya Tuhan punya alasan dari setiap doa kita, terjawab atau tidak, bukan menjadi persoalan.

Makna doa adalah memahami kehendakNya, sabar terhadap apa yang terjadi dan bersikap ‘ dewasa’.  Bapa yang baik tidak akan memberikan kalajengking, ketika anaknya minta telur. Ia memahami apa yang dibutuhkan, bukan apa yang diinginkan oleh kita. Ia tidak ingin kita terluka karena keinginan kita.

Tiada yang Paling Berharga Selain Kepercayaan

Dokumen pribadi.

‘Nothing is a quite precious as trust’. Saya temukan kalimat tersebut di atas toko berlian atau emas di Singapur. Terhenyak saya memikirkan kalimat tersebut. Saya jadi ingat saat jadi asisten dosen untuk riset yang beliau lakukan di Jerman. Riset yang diambil adalah tentang kepercayaan.

Benar, bahwa jika kertas yang semula mulus seperti kertas baru, tak ada ‘cacat’ di sana sini tetapi jika kertas itu kita remukkan dengan satu tangan atau dibuat lecek, maka belum tentu kertas tadi akan kembali seperti kertas yang semula mulus. Kertas meski kita gosok pake tangan tidak akan mengembalikan kertas seperti semula. Begitulah kepercayaan. Ketika kepercayaan yang sudah kita berikan kepada seseorang diremukkan ibarat dirusak,kepercayaan kita kepadanya tidak akan kembali seperti semula.

Seperti kalimat saya yang pertama tadi, kepercayaan adalah hal yang sungguh berharga. Ibarat cincin berlian sebagai perlambang kepercayaan dua orang dalam perkawinan. Kepercayaan mahal harganya. Mempercayai berarti kita memberikan tanggungjawab kepada yang bersangkutan, pasrah dan menaruh harapan. Diberi kepercayaan pun tidak mudah, terkadang kita memerlukan pengorbanan.

Setiap orang diberi kepercayaan di dunia ini oleh Tuhan untuk mempertanggungjawabkan hidupnya. Hidup itu luar biasa. Manfaatkan kepercayaan ini untuk hal baik. Jika hal baik mudah dilakukan, mengapa harus mencari yang jahat. Kepercayaan tidak bisa dibeli.

Manfaatkan kepercayaan yang diberikan oleh siapa saja dalam hidup ini, artinya kita bisa setia terhadap perkara yang diberikan.

4 Hal Bangun Komunikasi Orangtua dan Anak

wp-image-1350854447

Kemarin saya dapat kesempatan melaksanakan training komunikasi bagi siswa di sekolah swasta ternama di Jakarta. Komunikasi adalah kunci bagi terciptanya relasi yang harmonis antara orangtua dan anak. Apalagi di dunia yang makin canggih ini, komunikasi bisa dilakukan dengan banyak cara, mulai dari henpon yang langsung diterima di tangan yang dituju hingga eksistensi diri di dunia maya. Artinya, komunikasi tidak melulu dalam temu tatap muka. Komunikasi yang baik bila kedua pihak bisa memahami pesan yang disampaikan satu sama lain.

Membangun komunikasi memerlukan unsur sebagai berikut:

1. Pendengar yang aktif.
Bagaimana komunikasi bisa berjalan efektif jika masing-masing pihak sulit menjadi pendengar? Menjadi pendengar tidak mudah karena orangtua menganggap dirinya paling mengerti (sudah banyak makan asam garam) sehingga sulit menerima pendapat anak. Anak juga sulit mendengarkan orangtua, sibuk dengan dunianya, acuh dengan perintah orangtua. Siapapun di dunia ini butuh telinga untuk didengarkan ketimbang mulut untuk memberikan saran. Tak ada salahnya kita mengalah untuk belajar mendengarkan. Saya rasa kerugian dari mendengarkan hanya waktu yang menurut anda terbuang, tapi bagi orang lain didengarkan begitu berharga.

2. Empati
Menumbuhkan empati akan menanamkan nilai moral akan pentingnya menghargai oranglain. Seandainya orangtua mau berempati dengan anaknya, tentu orangtua akan tahu bahwa kondisi jaman dulu berbeda dengan jaman anaknya sekarang yang sudah berteknologi canggih. Anak juga perlu dilatih tentang empati bahwa orangtua cemas apabila anak tidak memberi kabar jika terlambat pulang.
Empati tidak timbuh secara alami tetapi bagaimana orangtua mengajarkan anaknya, misalnya bermain peran. ‘Nak, coba kamu bayangkan bagaimana ibu tidak cemas kalau kamu datang terlambat tanpa beri kabar padahal kondisi jakarta sekarang sedang tidak aman.’ Atau contoh lain, ‘Ibu, apa yang akan ibu lakukan jika ibu tidak menghadiri pesta ulang tahun sahabat sendiri?’

3. Asertif
Tak mudah bagi kita melatih asertif menjadi kebiasaan karena kita terlatih untuk bisa sabar, memaafkan dan mengalah terhadap keadaan yang tidak kita sukai. Akibatnya, kita jadi pasif dan tertekan. Asertif adalah kemampuan untuk menyatakan pendapat dan perasaan kita terhadap suatu hal tanpa menyinggung orang lain. Melatih anak untuk asertif artinya anak diajak untuk berpikir logis dan tidak menyinggung oranglain saat dihadapkan pada suatu kondisi yang tidak disukai. Anak dan orangtua sama-sama dilatih untuk menentukan pilihan yang disukai kedua pihak. Anak bisa menghadiri pesta ulang tahun sahabatnya asal diantar orangtua.

4. Kepercayaan
Komunikasi tidak akan berjalan optimal jika anak dan orangtua tidak saling mempercayai. Saling percaya bisa muncul saat orangtua bisa mengerti kondisi anak yang sedang ‘galau’ butuh teman curhat. Orangtua bisa mempercayai anaknya saat anak tidak melanggar batasan yang diberikan orangtuanya. Kepercayaan satu sama lain akan menumbuhkan komunikasi yang efektif pada masing-masing pihak.

Komunikasi anak dan orangtua tidak sebatas jari tangan melalui sms, telpon, media sosial tetapi seluas hati bagaimana anak dan orangtua sadar memanfaatkan media komunikasi yang konstruktif dan edukatif. Selamat membangun komunikasi yang efektif, jangan lupa selipkan 3 kata, I love you pada anak dan orangtua masing-masing!

Hey, Please Think Before Posting!

20170723_215308
Sebelum meledak seperti kembang api, sebaiknya pikirkan saat posting di media sosial. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Hey, Please Think Before Posting

Sontak saya terperanjat membaca email dari seorang senior yang memiliki posisi dihormati tetapi cara beliau mengkomunikasikan pesan tidak menunjukkan simpati. Akibat ulahnya yang berulangkali itu, hampir semua staf tidak menaruh respek lagi terhadapnya.

Contoh kedua, saat saya membaca status teman saya di dunia maya. Teman saya berpikir bahwa statusnya adalah bentuk eksistensi pendapat dan ekspresi emosinya tetapi dia lupa bahwa orang dalam kontaknya akan membaca dan mengetahuinya. Akhirnya, dia bermasalah dengan lingkungan sekitarnya, karena dianggap labil. Orang yang awalnya simpati menjadi antipati.

Kini hubungan komunikasi hanya seluas jari-jari tangan, karena kemudahan melakukan dan menerimanya.  Dengan kemudahan tersebut, mem-posting-kan sesuatu hanya karena ego, emosi dan tidak memperhitungkan orang lain membacanya adalah bentuk eksistensi diri di dunia maya yang salah. Mengapa? Cobalah bersikap santun, meski dalam dunia maya.

Hitung sampai dengan 10 detik sambil berpikir ulang akan membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Mari gunakan lebih bijak lagi media ekspresi dalam dunia maya!

Belajar Profesionalitas Ala Tukang Nasi Goreng

wp-image-470966136jpeg.jpeg
Ilustrasi. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Siapa yang tak kenal nasi goreng?

Makanan yang satu ini punya rasa yang berbeda meski hanya sekedar nasi yang diberikan bumbu dan tambahan lauk lainnya. Jika nasi goreng sudah di tangan ahlinya, siapa pun akan mengagumi rasa nasi goreng ini. Rasa yang biasa menjadi luar biasa lezat tergantung dari bagaimana Sang Pencipta nasi goreng ini membuatnya.

Sejujurnya, nasi goreng bukan makanan kesukaan saya tetapi sejak saya mengenal nasi goreng buatan Si Mang Kabul (bukan nama asli), lidah saya pun bergoyang dan ketagihan ingin membeli.

Saya mengenal betul Mang Kabul yang masih baru berjualan dan belum memiliki pelanggan. Pasalnya, dia merintis nasi goreng sejak ia berpisah dengan kakaknya, yang berjualan nasi goreng juga. Namun kini, Mang Kabul memiliki banyak pelanggan. Jualannya memang tak hanya nasi goreng saja, ada mie goreng dan mie rebus juga, tetapi saya menyukai nasi goreng buatannya.

Setelah beberapa tahun sejak memulai usahanya, saya mulai memperhatikan cara kerja Mang Kabul yang menurut saya menarik untuk dibagikan:

  • Penampilan Rapi dan Bersih.

Dalam bekerja, terkadang kita mengabaikan penampilan yang menjadi kata kunci kita untuk bisa bekerja nyaman di kantor. Seorang tukang nasi goreng memang tidak perlu menggunakan dasi atau memakai kemeja lengan panjang dengan celana bahan yang halus, tetapi bagaimana ia menampilkan dirinya secara bersih dan rapi telah membuat para pelanggannya tersihir untuk datang membeli. Coba anda bayangkan, jika si tukang nasi goreng ini memakai pakaian lusuh, rambut berantakan, kuku yang kotor dan bau badan karena belum mandi, apa yang terjadi kemudian?

Bagi mereka yang bekerja dengan menghadapi klien atau bersosialisasi dengan orang-orang di luar kantor tentu penampilan adalah kata kunci untuk anda. Seorang sales akan terlihat menarik dengan penampilan yang cukup meyakinkan lewat penampilannya. Tidak hanya untuk pekerjaan tertentu saja, tetapi penampilan akan membantu kita untuk terlihat menarik bagi siapa saja yang melihat anda di kantor, terutama bos/atasan kita.

Siapa saja suka melihat orang yang berpenampilan rapi dan dan bersih, karena menampilkan citra diri anda yang mampu mengurus diri anda sendiri. Jika anda mampu mengurus diri sendiri maka anda pun diyakini akan mampu mengurus pekerjaan anda dan mungkin juga tanggungjawab di luar diri anda seperti orang lain, dsb.

Tak perlu mahal untuk berpenampilan rapi dan bersih, yang penting sesuai, nyaman dan cukup membuat orang di sekitar anda nyaman terhadap kondisi anda. Siapa yang mau bekerja dengan orang yang bau badan dan berpenampilan jorok?

  • Konsisten dan fokus.

Konsisten adalah cara bagaimana kita bisa bersikap teguh terhadap apa yang diucapkan dan dikerjakan. Bukan berarti keras kepala atau kepala batu, tetapi konsisten akan membantu kita untuk bertanggungjawab untuk menyelesaikan pekerjaan yang sedang kita kerjakan. Si Mang Kabul pun demikian, dia akan membuatkan nasi goreng satu per satu berdasarkan pesanan. Dia akan mengatakan kepada pelanggannya apabila sudah banyak pesanan, apakah si pelanggan mau menunggu atau tidak? Bukan mencari duit sebanyak-banyaknya lalu ia ‘mengiyakan’ setiap permintaan. Jika kita mengerjakan dengan penuh konsisten maka hasil yang diperoleh akan maksimal. Orang seperti saya yang suka multitasking akan sulit untuk konsisten terhadap sebuah pekerjaan. Saya bisa menyelesaikan banyak pekerjaan, tetapi hasil kerjanya tak ada yang sempurna hehehehe…

Konsisten dan fokus terhadap pekerjaan yang menjadi tanggungjawab akan sangat diperlukan oleh atasan kita dibandingkan kita menerima banyak tanggungjawab tetapi semua ‘keteteran’. Tiap hari lakukan konsistensi dan fokus terhadap hal-hal apa yang akan dikerjakan sehingga semua ‘dateline’ terkejar dengan baik. Untuk membantu, buatlah daftar list pekerjaan yang akan dilakukan, lalu tempel di dinding kerja anda. Anda dapat bersikap asertif terhadap penawaran kerja selanjutnya jika belum selesai. Tetapi harus diingat, manajemen waktu diperlukan agar semua pekerjaan bisa diselesaikan sebelum waktunya.

  • Bersih dan tertata baik.

Sebagian orang bisa bekerja dengan meja berantakan, sebagian lagi tidak. Memang hasil kerja adalah produk dari sebuah pekerjaan, tak peduli betapa prosesnya merepotkan dan membuat runyam seisi ruang kerja anda. Tetapi siapa pun pasti suka melihat dan merasa nyaman apabila berada di ruang kerja yang bersih dan tertata baik.

Mang Kabul pun demikian. Ia mampu menata dimana letak bumbu yang diperlukan dan bahan-bahan, sehingga ia tak perlu repot untuk mencari. Ia melap setiap sajian makanan yang selesai agar meja tempatnya bekerja terlihat rapi. Ia akan mengganti dan membersihkan wajan apabila habis dipakai oleh pelanggan sebelumnya. Meski Mang Kabul hanya memiliki dua wajan tetapi dia mampu memindahkan satu wajan ke wajan lain, dan merebuskan air bersih agar wajan kembali bersih.

Jika menurut anda sulit untuk membersihkan ruang kerja, maka aturlah waktu untuk membersihkannya, misalnya pagi hari sebelum bekerja atau seminggu sekali di akhir pekerjaan.

Memberi kesan ruang kerja yang rapi dan tertata adalah cermin performa seseorang dalam mengelola sebaik mungkin bagaimana ia bekerja.

  • Segala sesuatu punya ukurannya sendiri

Mang Kabul telah terbiasa untuk mengelola rasa masakannya hingga tetap disukai oleh pelanggannya. Segala sesuatu punya ukurannya sendiri. Dia tahu bagaimana menjamu pelanggan dan hafal setiap pesanan para pelanggannya sehingga cita rasa yang ditawarkannya tak pernah berbeda. Bagaimana dalam bekerja?

Jika Bos atau Atasan kita memiliki kepercayaan bahwa kita mampu untuk mengerjakannya permintaannya, itu berarti ia telah mengetahui ukuran kinerja kita. Mungkin berat, mungkin susah atau mungkin tak pernah kita lakukan tetapi Atasan telah memakai ukuran kinerja sebagaimana yang selama ini sudah kita lakukan, agar kita tidak kehilangan ‘Pelanggan’, dalam hal ini berarti citra kita di mata Atasan atau Bos.

  • Menjaga kepercayaan.

Masih berkaitan dengan poin 4, menjafa kepercayaan dimaksudkan sebagai bentuk komitmen terhadap apa yang sudah kita lakukan. Menjaga kepercayaan antar relasi satu departemen, menjaga kepercayaan antara saya dengan atasan, atau menjaga kepercayaan antara saya dengan orang di bawah saya. Intinya, menjaga kepercayaan diyakini sebagai orang yang memiliki integritas dalam bersikap dan berpikir, terutama dalam mengambil keputusan.

  • Mengelola sarana/media bekerja.

Manfaatkanlah sarana atau media bekerja yang selama ini telah membantu kita. Jangan berpikir bahwa sarana atau media tersebut adalah properti kantor sehingga kita dengan mudah menggunakannya tanpa merawat dan menjaganya. Tentu, sarana/media bekerja telah membantu kita untuk melaksanakan tugas-tugas kita. Kebayang jika laptop/komputer kerja kita rusak satu hari saja, berapa banyak tumpukan pekerjaan selanjutnya yang akan kita kerjakan.

  • Selalu tersenyum.

Apa pun yang terjadi, saya selalu melihat Mang Kabul ini tersenyum menyapa setiap pelanggan atau setiap orang yang hanya sekedar lewat di depan dagangannya. Senyum itu gratis, tak ada pula yang melarang. Apa yang dipancarkan dari raut muka tersenyum adalah pancaran hati yang bahagia dan menerima dibandingkan muka yang cemberut. Siapa yang akan datang pada Mang Kabul unuk dimintai membuat nasi goreng jika bermuka cemberut? Tersenyum akan menghiasi hari anda dalam bekerja dengan rasa yang lebih baik dan penuh syukur.

Meski Mang Kabul adalah penjual nasi goreng kaki lima namun bagi saya sebagai pekerja kantoran, tentu saya belajar banyak darinya. Bahwa sebuah pekerjaan apa pun itu, melayani adalah kuncinya. Melayani menjadi dinding yang kokoh untuk berjiwa profesional seberapa pun tinggi posisi jabatan yang diemban. Dari Mang Kabul, saya belajar bahwa bekerja profesional itu harus dilakukan kala anda dipanggil untuk bertugas. 

 

3 Hal Tentang Perubahan Hidup yang Harus Diketahui

Setelah lama tidak menekuni kegiatan menjadi fasilitator training soft skills, hari ini saya kembali berkutat untuk berbagi tentang materi perubahan. Ada sebuah permainan menarik yang saya peroleh dari rekan sejawat saya dalam training tersebut.

Setiap peserta dalam permainan diminta untuk berpasang-pasangan. Setelah menemukan pasangannya, beri waktu selama 10 menit untuk mengamati pasangannya secara mendetil, mulai dari ujung kaki hingga kepala. Perhatikan dengan seksama apa yang ada dalam diri pasangannya masing-masing. Kemudian, setiap peserta diminta untuk membalikan tubuh dengan berarti setiap pasangan saling membelakangi yang berjarak lima langkah. Instruksi selanjutnya adalah setiap peserta diminta untuk membuat tiga perubahan yang ada dalam diri mereka saja hingga pasangan mereka tidak mengenali. Selama 5 menit, peserta diminta untuk membuat perubahan. Saat waktunya tiba, setiap peserta berhadapan muka dengan pasangan mereka. Minta pasangan menebak tiga hal yang berubah dari mereka.

 

Dari permainan tersebut, ada tiga hal yang bisa dibagikan tentang perubahan:

 

1. Berubah dari hal yang kecil.

Saat diminta untuk melakukan perubahan, setiap peserta mulai untuk bergiat agar tidak mudah ditebak oleh pasangannya. Salah satunya adalah mencopot cincin, jam tangan, gelang, anting, atau benda-benda yang selama ini melekat dalam dirinya tetapi tidak terlihat oleh orang lain. Jika diminta untuk menebak, kebanyakan pasangan salah dan kurang tepat karena benda-benda yang kecil ini tidak terlihat oleh mereka.

Perubahan tidak harus selamanya berawal dari hal yang besar. Dari hal yang kecil saja, orang lain pun sukar untuk mengenali apa yang terjadi pada diri kita. Artinya, tak sukar untuk melakukan perubahan karena kita dapat saja membuang hal-hal yang kecil atau melakukan hal-hal yang kecil yang mungkin saja orang lain tidak mengenali perubahan kita.

Untuk berubah diperlukan keberanian padahal mengubah hal-hal yang kecil dan sederhana pun belum tentu orang mudah menebak apa yang terjadi pada diri kita. Jadi, berani untuk berubah. Karena tak mudah melakukan perubahan, maka lakukan perubahan dari hal-hal kecil atau dianggap sepele atau yang selama ini tak terlihat oleh mata.

 

2.   Berubah tidak harus membuang yang sudah ada.

Saat berpikir untuk berubah hal yang pertama dilakukan adalah bagaimana membuang atau menghilangkan yang sudah ada/melekat dalam diri. Dalam permainan yang dicontohkan di atas, tidak ada satu orang pun yang memanfaatkan benda-benda lain di luar dirinya, misalnya memakai jaket yang semula tidak dipakai. Semua peserta berpikir untuk menghilangkan yang sudah ada saja.

Baik memang menghilangkan yang telah ada selama ini tetapi kita lupa bahwa berubah juga perlu hal-hal lain yang ada di sekitar diri agar perubahan menjadi optimal. Mungkin perubahan dari luar diri bisa dengan mudah ditebak oleh orang lain. Misalnya, seorang peserta yang tidak memakai alas kaki lalu saat instruksi perubahan dapat saja memakai alas kaki. Pasangannya akan dengan mudah menebak perubahan tersebut. Karena hal-hal yang selama ini sudah melekat atau ada dalam diri mudah dikenali oleh orang-orang sekitar kita tetapi menambahkan hal yang baru dari hal yang tidak kita miliki sebelumnya memberikan ‘penampilan’ yang berbeda dalam diri kita.

Berani berubah tidak hanya dengan membuang atau menghilangkan yang sudah ada tetapi juga mengamati di luar diri lalu kemudian menambahkannya pada diri kita agar perubahannya terjadi maksimal.

 

3. Berubah butuh waktu dan proses.

Usai permainan tadi, kebanyakan dari peserta mengembalikan dirinya sebagaimana adanya diri mereka. Mereka yang mencopot anting, mengenakannya kembali. Mereka yang melinting lengan baju, mengembalikan lengan baju mereka seperti sedia kala.

Tidak mudah saat seseorang yang berubah penampilan untuk tampil dengan perubahannya. Semua perubahan butuh proses agar bisa diterima oleh orang sekitar. Proses yang dijalankan membutuhkan waktu atau tidak instan. Mudah melakukan perubahan tetapi belum tentu berani untuk bertahan terhadap perubahan tersebut.

 

Tantangan yang terbesar saat melakukan perubahan adalah takut untuk berubah. Jadi mulailah untuk hal-hal yang kecil, sepele dan atau sederhana agar menjadi pribadi yang lebih baik.

 

 

FIKSI: Burung Takut Terbang

wp-image-1742351425

Seekor burung ragu-ragu untuk terbang. Ia merasa bahwa belum cukup umur seperti burung-burung lain untuk terbang. Ia bertanya pada ibunya, “Ibu, apakah aku sudah layak untuk terbang” tanyanya suatu kali.

Ibunya pun menyahut, “Mengapa kau ragukan kemampuanmu untuk terbang?”

Jawabnya, “Meski aku adalah burung, tetapi aku merasa bahwa aku belum bisa terbang seperti teman-teman yang lain.”

“Nak, itu hanya perasaanmu saja. Jika kemampuan diukur dari perasaan, kau tak akan bisa mengenali dirimu. Setiap burung pasti bisa terbang, jika ia terlahir sebagai burung” sahut ibunya.

Si Burung pun menunduk, cemas memperhatikan dua kepak sayapnya. Dipandangnya sayap dirinya dengan Sang Ibu, sama, tak ada yang beda. Kaki ibu dengan kakinya pun sama, tak berbeda. Jumlah bulu yang dimiliki ibu, juga pasti sama seperti yang dimilikinya. Pikiran yang bodoh, apakah mungkin jumlah bulu mempengaruhi kemampuan terbang.

Usai bertemu Ibunya, Si Burung mendapati teman-temannya yang terbang membelah langit. Mereka tampak tertawa ria, menikmati keindahan dunia dengan terbang, pikirnya. Wajah Si Burung muram, memikirkan ketidakmampuannya terbang.

Melihat hal itu, tergeraklah hati Burung Hantu yang bijaksana. Meski tak bisa memiliki kemampuan terbang seperti burung-burung yang lain, namun Burung Hantu dianggap makhluk yang paling bijaksana di antara para burung.

“Hei, mengapa kau bermuram durja seperti itu? Tidakkah kau bermain bersama teman-temanmu yang lain?” tanya Burung Hantu penuh selidik.

“Tidak, aku tak bisa terbang” sahut Si Burung dengan nada sedih.

Tertawalah Burung Hantu mendengarkan jawaban Si Burung. Baru kali ini, dia mengenal seekor burung yang menyatakan tak bisa terbang.

“Jangan tertawa! Aku memang tak bisa terbang. Aku takut kalau-kalau aku jatuh saat terbang. Aku khawatir tak bisa menjaga keseimbangan. Mungkin pula sayapku tak cukup kuat membawa aku pergi di atas angin” kata Si Burung menunduk malu.

Aneh, pikir Burung Hantu.

“Hei, siapa dirimu hingga menganggap kau tak bisa terbang?” tanya Burung Hantu.

“Aku adalah Burung” jawab Si Burung dengan tegas.

“Jika kau burung, mengapa kau harus berpikir seperti itu? Takut jatuh, tak bisa menjaga keseimbangan apalagi memikirkan sayap yang tak cukup kuat. Pernahkah kau bertanya kepada teman-temanmu, apakah mereka tidak takut jatuh saat terbang? Atau bertanya, tidakkah sayap kalian cukup kuat menyanggah?” tanya Burung Hantu sekali lagi.

Si Burung menggeleng.

“Aku memang tak pernah bertanya demikian. Tetapi aku pernah bertanya, apakah saat kalian terbang, kalian tidak berpikir bahwa suatu saat kalian akan jatuh?” sahut Si Burung.

Burung Hantu semakin penasaran akan jawabannya, “Lalu, apa jawaban mereka?”

“Mereka bilang bahwa saat mereka terbang, mereka tak pernah berpikir apapun. Mereka terbang karena mereka percaya bahwa setiap burung pasti bisa terbang jika saatnya tiba” cerita Si Burung.

Burung Hantu pun tertawa lagi.

“Betul sekali, saat terbang adalah sebuah kodrat yang diberikan Tuhan, mengapa kita harus berpikir dan takut mencoba.”

“Apa maksudmu?” tanya Si Burung.

“Kau telah mengakui bahwa kau adalah burung. Di dunia ini, Tuhan telah menciptakan setiap burung adalah sama satu sama lain. Setiap burung seperti dirimu pasti bisa terbang. Pikiran sepertimu kerap malah menghambatmu untuk mencoba. Pikiran itu yang menciptakan perasaan takut untuk terbang.”

Si Burung menimpali, “Aku tidak yakin pada diriku sendiri, apakah aku bisa terbang atau tidak?”

Kini tawa Burung Hantu semakin keras.

“Macam mana kau tertawa. Kau tidak membantuku tetapi menterawai kelemahanku” seru Si Burung dengan penuh emosi.

“Bagaimana aku tidak tertawa, selama ini kepercayaan diri itu tidak hanya diukur dari satu hal saja? Kepercayaan diri adalah sebuah proses saat engkau mengenali siapa dirimu, menemukan masalahmu dan menjadikan masalah itu sebagai berkah dalam hidupmu. Berkah terjadi karena kau yakin bahwa kau pasti bisa mengatasi masalah.”

Si Burung pun semakin yakin, bahwa takut terbang adalah masalahnya. Masalah yang selama ini dipikirkannya adalah apakah sayapnya cukup kuat untuk membawanya terbang?

Burung Hantu membuatnya tersadar bahwa masalah yang ada dalam dirinya bukan terletak pada kemampuan sayap. Tuhan sudah memberikan sayap pada setiap burung adalah sama. Tuhan tidak akan memberikan masalah dalam setiap sayap burung, tetapi masalah setiap burung terletak dari pikiran untuk membiarkan sayap bekerja sebagaimana yang diciptakannya.

“Dengar!” seru Burung Hantu menganggetkannya. “Biarkan alam bekerja dengan caranya sendiri. Tuhan tidak akan menciptakan hambatan dalam hidup setiap ciptaanNya. Hambatan terbesar terletak dalam diri setiap ciptaanNya. Hambatan itu dikenali sebagai masalah oleh dirimu.”

“Hei, Burung Hantu. Masalahnya aku tak tidak tahu bagaimana mengatasi rasa takut terbang” pinta Si Burung.

“Gunakanlah sayapmu untuk terbang. Lihatlah teman-temanmu yang lain, mereka dapat terbang dengan sayap yang sama denganmu. Terkadang kita sendiri yang membuat perbedaan satu sama lain. Kita menganggap burung A lebih jago dariku. Atau, kehebatan terbang dilihat seberapa jauh kau bisa pergi. Tak ada yang hebat, semua sama. Sayap yang diberikan pun sama dengan kau. Kau hanya perlu latihan yang tekun agar kau bisa melakukan itu. Kau hanya perlu kesabaran agar bisa melewati semua itu. Kau perlu bantuan orang-orang sekitarmu atau burung yang jago untuk membantumu mewujudkannya. Sekali lagi, kukatakan padamu, terbanglah dengan sayapmu.”

“Itu benar. Cara kita membandingkan burung yang jago terbang dengan diriku, kerap membawa aku takut untuk mencoba” kata Si Burung. “Jika aku mulai belajar terbang sekarang dengan sayapku, aku tidak terlambat untuk mengatasi rasa takutku.”

“Tiada kata terlambat untuk memulai sesuatu.”, kilah Burung Hantu. “Kau harus ingat, bahwa diperlukan keberanian untuk melakukannya. Biarkan angin membawamu terbang. Lepaskan kekhawatiranmu saat kau terbang. Nikmati setiap desiran angin, syukurilah bahwa kau dapat melihat keindahan dunia ini dengan terbang. Ingat pula, semua butuh proses, perlu ketekunan, sabar kuncinya. Jangan mudah menyerah! Saat kau mencoba, satu yang pasti akan kau alami adalah rintangan untuk melakukannya. Rintangan itu dibuat untuk mengukur kemampuanmu, keberanianmu dan kesabaranmu” tambah Burung Hantu sekali lagi.

“Berani. Aku pasti bisa” seru Si Burung sekali lagi.

“Pasti, asal kau yakin pada dirimu sendiri. Anggaplah setiap masalah yang kau hadapi sebagai berkah dalam hidupmu, bukan musibah yang mengacaukan hidupmu. Setiap makhluk hidup memiliki masalah agar bisa mengetahui seberapa hebat kuasa Tuhan menciptakan dunia ini. Jadikan masalah itu adalah berkah yang memberikanmu hikmah” tambah Burung Hantu semakin bijaksana dan menguatkan Si Burung.

“Aku akan menutup mata, jika takut melihat apa yang ada di hadapanku. Agar keberanian muncul bukan dari apa yang dilihat tetapi dari yang tak terlihat. Kekuatan yang Tuhan berikan padaku.”

“Iya, itu harus. Tutuplah mata, pasrahkan kepada keadaan sekitarmu. Jangan paksa sesuatu sebagaimana yang kau kehendaki. Alam punya caranya sendiri.”

“Mulailah menggerakkan sayapmu, ringankan tubuhmu dan pergilah sesuka hatimu dan jangan takut untuk terbang lebih jauh lagi” tambah Burung Hantu.

Si Burung mulai mengepakkan sayapnya. Ia turunkan lagi. Ia angkat lagi. Ia kepak-kepakkan sayapnya sekali lagi.

Burung Hantu membawa Si Burung ke tempat yang tinggi dan berisiko banyak angin, hingga jika tak terbang pun, angin akan mudah membawanya pergi.

“Mulai!” teriak Burung Hantu.

Cara untuk mengatasi masalah terkadang harus berada pada titik yang paling tinggi, menyulitkan dan berisiko, namun disitulah kita memiliki keberanian.

 

Dialog Ibu & Anak: Siapakah Tuhan?

20170705_163538

Anak: “Ibu, sebenarnya siapa itu Tuhan?”

Ibu: “Mengapa kau mempertanyakan itu, nak?”

Anak: “Aku sering mendengar orang berbicara tentang Tuhan. Saat mereka berbicara tentangNya, aku tak melihat sosok Tuhan. Sebenarnya siapakah Dia, Ibu?”

Ibu:  “Tuhan adalah Yang Agung, Yang Ilahi. Rupanya memang tak tampak.”

Anak: “Yang Agung dan Ilahi itu seperti apa, bu?”

Ibu: “Agung dan Ilahi karena tak ada manusia yang dapat menandingi kehebatannya.”

Anak: “Begitu hebatnya kah Tuhan, hingga tak terlihat, bu? Lantas bagaimana kita tahu bahwa Dia hebat?”

Ibu: “Hebat hingga saat kau atau ibu sakit, Tuhan menyembuhkan kita melalui obat-obat dari dokter. Saat kau jatuh, Tuhan menolongmu agar kau tidak semakin celaka. Saat kau ujian, Tuhan membantumu hingga kau mendapatkan nilai bagus.”

Anak: “Sebegitu hebatnya Tuhan, ibu. Tetapi mengapa ada penyakit, mengapa aku jatuh dan mengapa harus ada ujian. Apa maksud Tuhan, bu?”

Ibu: “Setiap peristiwa dalam hidup tak bisa dijelaskan bagaimana caranya mendapatkan rumus satu ditambah satu. Atau, bagaimana membuat pisang goreng. Atau bagaimana membuat baju. Tuhan tidak bisa ditangkap oleh pengetahuan. Jika laut begitu luas, Tuhan lebih luas dari apa yang bisa dijelaskan.”

Anak: “Seperti apa Tuhan itu, bu? Apakah dia Pria atau Wanita?”

Ibu: “Tuhan tidak bisa dijelaskan apakah berpihak kepada Pria atau Wanita. Tuhan adalah sebutan Ilahi yang diberikan manusia. Kau bisa bayangkan Tuhan, saat kau susah mengerjakan soal-soal Pekerjaan Rumahmu maka kau minta Ayahmu membantunya menyelesaikan PR. Saat kau belajar naik sepeda, Ayah mengajarimu tentang bagaimana naik sepeda, hingga kau bisa bersepeda sendiri. Atau, saat kau sakit, kau pasti panggil Ibu untuk merawat dan menjagamu. Kau jatuh dari sepeda, Ibu akan menolongmu agar kau tidak menderita karena sakit.”

Anak: “Jadi, Tuhan memiliki sifat yang baik seperti Ayah atau Ibu?”

Ibu: “Tuhan adalah sumber kebaikan. Ia ada dalam diri setiap orang. Ayah atau Ibu adalah bagian dari ciptaanNya. Kita diciptakan serupa denganNya.”

Anak: “Jika kita serupa dengan Tuhan, mengapa ada orang jahat, bu?”

Ibu pun tak menjawab. Diam.

Tak ada orang yang jahat di dunia ini. Yang ada adalah orang-orang yang tak bisa mengerti apa arti kebaikan Tuhan dan menganggap Tuhan adalah milik mereka.

Jika Tuhan dimonopoli oleh sekelompok orang, disitulah kejahatan.