Menjadi Perempuan Cantik

wp-image-956376049

 

Perempuan cantik adalah idaman setiap perempuan dan pujaan bagi setiap pria yang memilikinya. Kecantikan seorang diingat oleh setiap orang sebagai memoria mata yang tertangkap oleh penilaian pikiran. Menjadi cantik adalah sebuah keadaan yang terlahir biasa namun sesungguhnya membuat kecantikan menjadi suatu daya dalam diri seorang perempuan adalah luar biasa.

Menikmati kecantikan dalam diri seorang perempuan adalah dambaan setiap orang yang mengaguminya. Baik laki-laki maupun perempuan senang jika berada bersama perempuan cantik. Perempuan cantik dianggap membawa aura yang menarik bagi orang di sekitarnya sehingga turut dikagumi bagi yang melihat. Ini pula yang memungkinkan setiap perempuan berusaha melakukan vermak terhadap bentuk fisik yang dimilikinya agar bisa terlihat menarik dan diterima sebagaimana konsep cantik dalam budaya yang sedang berlaku.

Jika kecantikan adalah sebuah standar budaya yang sedang berlaku maka tak ubahnya kecantikan adalah virus yang menyerang dan mudah berganti-ganti. Kecantikan adalah nilai yang diberikan kepada seseorang saat seorang perempuan mampu memancarkan daya tarik tersendiri bagi siapapun yang melihatnya. Kecantikan sejatinya tak terlihat dari rupa saja namun dari budi yang mencerminkan jiwa bagi pemiliknya.

Melihat seorang artis berbibir seksi bak Angelina Jolie bukan perkara sulit. Teknologi mampu menciptakan seorang perempuan untuk menghasilkan bibir yang diinginkan. Namun, bibir yang cantik adalah saat kita mampu berucap kata-kata kebaikan yang mengalir dari mulut kita. Orang akan terpana akan pesona kata-kata kebaikan yang disampaikannya ketimbang memperhatikan bentuk bibir yang mengucapkannya. Benar jika dikatakan lebih baik diam daripada tak mampu mengucapkan kata-kata baik. Karena kata-kata adalah pedang yang mampu ‘membunuh’ hati setiap orang. Jika teknologi mampu memudahkan membentuk bibir indah, maka keseharian dari bibir indah sulit untuk dibentuk.

Memiliki mata yang indah adalah keinginan setiap perempuan. Banyak ahli kosmetik menciptakan teknik yang membuat mata setiap perempuan menjadi indah seperti eye shadow, eye liner, pensil alis, penghilang kerut mata, dsb. Semua itu diciptakan agar mata yang menjadi sorot utama setiap orang akan terlihat menarik bagi siapapun yang menatapnya. Tak ubahnya bibir, mata yang indah adalah saat kita mampu melihat kebaikan dalam diri setiap orang. Kita mampu untuk membuang prasangka buruk dan memperlihatkan kepada orang lain bahwa setiap pribadi sesungguhnya adalah baik. Orang jahat sekalipun pasti punya alasan kebaikan dalam hidup. Melihat kebaikan setiap orang akan menurunkan hati yang damai dan tak berprasangka. Mata yang memperlihatkan kebaikan tentu akan menciptakan pikiran dan perasaan yang baik pula.

Setiap perempuan menginginkan bentuk tubuh ideal yang langsing agar telihat mempesona bagi siapa saja yang memandangnya. Memiliki bentuk tubuh langsing adalah upaya yang dilakukan dengan berbagai cara seperti diet, mengeluarkan kocek untuk olahraga hingga mengkonsumsi pelangsing tubuh. Padahal tubuh yang langsing adalah sebuah cara saat kita mampu mengelola hati penuh syukur dan mau berbagi dengan orang lain, seperti makanan yang kita santap. Menjadi langsing saat kita berhasil mengurangi kerakusan untuk memiliki sesuatu. Menjadi langsing adalah pesona yang terpancar saat kita yang penuh syukur mampu berbagi dengan mereka yang kekurangan.

Saat waktu terus berjalan, perempuan pun menginginkan agar selalu terlihat muda. Agak mengkhawatirkan jika mulai terlihat dengan keriput di wajah. Ibu Theresa yang telah melewati usia senja, tampak keriput dengan kulitnya, namun Ia terlihat bersahaja dengan pancaran hati dan perilaku yang dimilikinya. Setiap orang akan mengagumi seri kecantikan Ibu Theresa. Apa resepnya? Ia tak pernah mengkhawatirkan apa yang akan terjadi namun menjalani kondisi di masa kini adalah rahasia agar kita selalu diliputi rasa syukur dan sadar untuk memanfaatkan sebaik mungkin sekarang. Sang waktu adalah rahasia hidup yang menjadi harapan bahwa hidup sesungguhnya indah dan menerima keindahan itu.

Kecantikan adalah cermin saat Perempuan memandangnya namun cermin itu yang mampu berujar rupa jiwa pemiliknya. Jiwa yang tulus dan baik adalah kosmetik yang tak terjual di toko mana pun. Mari mencoba resep kecantikan yang sulit namun bisa dilakukan dengan niat dan berkat. Menjadi cantik bukan keadaan tetapi pilihan. Memilih menjadi cantik adalah cara agar kita bisa memancarkan kebaikan dalam diri setiap orang.

 

Jangan Jadi Pribadi Seperti Kentang!

 

wp-image-86968895
Contoh kentang yang dimasak dalam masakan steak yang saya buat.

 

Saya suka sekali memasak. Menurut saya, memasak adalah sebuah seni seperti menulis dimana ketrampilan untuk menyajikan yang terbaik lewat rasa pengecapan dan penciuman terwujud jadi satu melalui makanan. Memasak dengan hati akan tercermin dari sajian dan kelezatan makanan yang tercipta setelah kita mencicipinya. Jika kondisi hati tak baik maka makanan yang sedang kita masak pun akan terasa tak baik pula untuk dimakan. Sebagai contoh, saat saya sedang marah sambil mengulek sambal, maka rasa sambal luar biasa pedas dan tak sedap di lidah. Atau, masakan bisa terasa keasinan meski bukan bermaksud ingin segera menikah. Intinya, memasak dengan penuh cinta akan terasa menyenangkan sekaligus melezatkan di hasil akhir makanan yang tersaji.

Di suatu minggu, saya ingin membuat kue pastel yang berisi kentang dan wortel yang dipotong dadu kecil-kecil. Salah satu tugas yang harus dipersiapkan untuk membuat pastel adalah membersihkan bahan-bahan masakan, termasuk kentang. Sambil memilih kentang untuk dikupas, Mama bercerita bahwa harga kentang yang baru dibelinya termasuk mahal. Menurutnya, Penjual Kentang telah memilih kentang terbaik miliknya sehingga ia meminta Mama membelinya dengan harga tinggi.

Tak sampai lima menit, saya mengupas satu kentang yang cukup besar, saya berujar bahwa kentang dalam keadaan yang kurang baik. Memang saat dikupas kulitnya satu per satu, saya memperhatikan kondisi kentang yang bagus, keras dan bersih. Setelah dikupas, tampak kulit kentang ‘blurik’ coklat, tanda tak baik.

Mama pun protes dan mengomel. Ia menyesal mengikuti kemauan si Penjual tetapi malah mendapati kentang yang dibelinya bukan kentang berkualitas baik. Saya masih menenangkan hati mama dan mungkin ada cara lain untuk mengobati kekesalan Mama. Sejujurnya sebagai perempuan, saya kadang tak mau kalah dengan Penjual. Saya tak kalah gengsi jika harus membayar mahal terhadap barang yang memang berkualitas baik. Terutama di pasar tradisional, saya pun harus menang untuk berhasil menawar harga yang paling murah, meski hanya beberapa sen rupiah.

Singkat cerita, kentang diibaratkan oleh Mama sebagai bentuk sifat dan pribadi manusia. Menurutnya, ada pepatah yang mengatakan bahwa tak baik manusia berkulit kentang. Maksudnya, tampak luar pribadi orang tersebut terlihat menarik dan baik namun dalamnya hati (yang selalu diibaratkan berada di dalam pribadi) tak ada yang tahu, bahkan mungkin tak sebaik seperti terlihat di luar.

Sekedar mengupas kulit kentang, saya merefleksikan pengalaman berelasi dengan orang lain. Jujur, saya pun mungkin seperti kulit kentang. Pada akhirnya, ketika sudah diketahui dalamnya, orang pun tak suka. Seperti kentang, kita bisa saja dibuang dan dicampakkan, meksi kita terlihat dari luar baik, menarik dan punya nilai jual tinggi. Siapa sangka, kita langsung terlempar di ‘tempat sampah’, karena sifat pribadi yang tak sebaik dengan tampilan luar.

Kesan pertama setiap orang memang terlihat dari penampilan luar. Dalamnya hati tak ada yang tahu, termasuk sifat yang terpendam dalam pribadi setiap orang. Orang juga dengan mudah menilai setiap pribadi dari penampilan luar saja. Padahal perkataan Tukul, “Dont judge book by the cover” ada benarnya juga. Menilai hingga menjatuhkan pribadi seseorang hanya dari tampilan luar bukan sebuah perilaku terpuji. Sesungguhnya, tak ada yang bisa mengenali karakter pribadi itu sendiri kecuali individu itu sendiri. Sebagai pengamat, orang lain yang melihat penampilan luar memiliki penilaian baik buruk, mahal murah, dsb, karena melihat fisik yang terukur oleh mata. Bagaimana dengan ukuran hati? Tak ada yang tahu.

Belajar dari kentang telah membuat saya percaya bahwa tak mudah mengenali pribadi setiap orang hanya dari luar, atau fisik yang terlihat saja. Sebagaimana yang terlihat dalam diri setiap orang, tak baik pula menilai dan memberi ‘harga’ hanya karena fisik yang tertangkap oleh mata. Jangan sampai tertipu oleh pendapat mata, tapi dengarkan suara hati yang tersaji lewat budi setiap orang yang dikenali!

Menjadi kentang yang cantik adalah keharusan agar kita terlihat menarik di mata orang lain sebagai pengamat, penilai atau pembeli. Namun, bagaimana menjadi kentang yang cantik luar dalam, itu yang harus diperhitungkan agar tidak mengecewakan orang yang telah menaruh hati pada kita.

 

Orang Optimis vs Orang Pesimis. Pilih Mana?

img_20160218_220341_809.jpg
Orang Optimis adalah mereka yang tak peduli risiko di depannya. Orang pesimis adalah mereka yang peduli risiko tanpa pernah memulainya. Dokumen pribadi.

Benar, jika pepatah mengatakan bahwa orang optimis selalu melihat masalah sebagai kesempatan sedangkan orang pesimis akan melihat masalah sebagai hambatan. Lalu apa bedanya kedua sifat orang ini? Selain, perbedaan sudut padang kedua orang tipe ini, mereka juga berbeda dalam cara mengatasi suatu masalah.

Menjadi orang optimis akan melihat lubang untuk dilewati sedangkan orang pesimis akan melihat lubang untuk ditangisi dan ditakuti. Tak semua orang sempurna, hingga orang menjadi orang super optimis. Namun, sebagai makhluk yang memiliki akal budi, manusia mengetahui bagaimana sikap yang harus dilakukan saat harus melewati masalah. Jika Burung dapat terbang, katak dapat melompat, ikan dapat berenang maka manusia dapat berpikir apa yang bisa dilakukan dalam hidupnya. Itulah manusia.

Kecenderungan orang untuk malas berpikir, ingin serba instan, mau tahu beres, tak sabar menunggu proses dan tak suka berbasa-basi mungkin adalah tipe orang pesimis. Jika pemandangan yang dilihatnya membosankan hanya melulu gunung, sawah dan pemandangan menjulang hijau, apa yang terbayang dalam benaknya, adalah ingin cepat sampai, mudah meremehkan, dsb, yang jauh membuat perasaan menjadi tak nyaman. Jika orang pesimis ditanya, ia akan menggambarkan apa yang diperolehnya. Itulah tipenya. Mungkin hanya memikirkan pikiran dan perasaannya sendiri.

Bagaimana dengan orang optimis? Jika pemandangan yang disungguhkan sama, maka jawaban orang optimis lebih menekankan kekaguman, rasa syukur, keindahan dan perasaan menyenangkan atas apa yang dilihatnya. Waktu akan terasa berharga bagi orang optimis. Karena apa yang ditekankan oleh orang optmis lebih pada apa yang bisa saya pelajari dari apa yang ditawarkan pada saya.

Apa beda kedua tipe orang ini? Orang pesimis cenderung untuk melihat keuntungan apa yang dapat saya peroleh, sehingga lebih pada menguntungkan diri sendiri. Sedangkan orang optimis cenderung untuk melihat apa yang bisa saya pelajari. Begitulah, keduanya hampir sama namun bisa jadi orang dihadapkan untuk menjadi pesimis dan atau optimis sekaligus, tergantung bagaimana kondisinya.

Apa yang saya jabarkan hanya sekedar wacana bukan teori, sekedar berbagi dan mengalami bahwa hidup tak melulu berpihak pada satu tipe saja. Ada kalanya menjadi orang pesimis diperlukan agar kita mewaspadai hidup ini, namun tidak bersikap ekstrim dan cukup menggangu. Sedangkan orang optimis, terkadang lupa bahwa dalam hidup ada orang sekitar yang mungkin memiliki kodrat tingkat ketakutan yang berbeda, daya juang yang berbeda atau karakter pribadi yang memang telah dibentuk sejak kecil sedemikian rupa oleh pengasuhan dan pengalaman hidupnya.

Sebaiknya, menjadi orang optimis mengajarkan kepada kita untuk bersikap dinamis. Hidup selalu berubah, ada kalanya mundur atau maju namun tak pernah diam di tempat. Oleh karena itu, orang optimis harus melihat peluang dalam setiap masalah sebagai kesempatan yang harus diraih. Optimis melatih otak kita untuk berpikir setingkat lebih maju dibandingkan mengurungkan pikiran negatif yang membebani hidup lebih buruk lagi.

Apa pun yang terjadi dalam hidup, hendaklah kita selalu menyadari buat apa bersusah hati untuk memikirkan kesusahan atau masalah, toh setiap orang memiliki masalah juga dengan tingkat dan kadar yang sesuai dengan dirinya. Menjadi orang optimis membuat kita lebih kuat dalam menghadapi hidup.

Semangat menjadi orang optimis!

Katak Belajar Keluar Kotak

wp-image--1043924362

Suatu kali, saya menemukan seekor katak dalam kamar hotel dimana saya sedang menginap. Saya paling takut dengan binatang apapun jenisnya. Meski tidak sampai phobia tetapi reaksi spontan saya menghindar, berlari, mencari sesuatu untuk mengusirnya atau mencari bantuan untuk mengeluarkannya. Intinya, saya tidak ingin bersama binatang itu. Segala cara saya coba lakukan, sayangnya saya tidak bisa mengusir katak itu dalam kamar saya. Oh ya, saya belum juga bisa membedakan apakah itu katak atau kodok. Kata para ahli, kodok dan katak itu berbeda. Yang jelas saya hanya menemukan seekor binatang yang suka melompat dengan kedua kaki di belakangnya.

Saya putar otak untuk mengusir katak ini dari kamar saya, tetapi tidak bisa. Jika saya pukul dan membunuhnya, saya tak bisa. Lantas, saya melirik di sekitar meja ada sebuah tempat sampah dengan tinggi sekitar 40 cm, berbentuk kotak. Saya ambil dan saya tutupi katak itu dengan kotak sampah. Saya berpikir, saya akan terselamatkan karena katak tidak akan menggoda saya saat berada di kamar.

Dengan bernapas lega, saya berhasil memasukkan binatang yang membuat saya tak bisa tidur itu ke dalam sebuah kotak.

Apa yang saya perhatikan sekarang adalah seekor katak dalam sebuah tempat sampah yang sedang berusaha melompati bibir tempat sampah, agar bisa keluar. Sedih sebenarnya. Saya akui saya bukan orang jahat yang suka menyiksa tetapi saya pun takut jika hanya karena katak, besok saya jadi tidak nyaman dan kurang tidur.

Katak adalah binatang yang dikenal pandai dalam melompat. Toh, saat ia terkurung dalam sebuah kotak, ia tetap harus berpikir bagaimana keahliannya dapat digunakan untuk keluar dari masalahnya.

Karena saya prihatin terhadap katak dan terhadap diri saya yang takut akan katak. Saya pun memutuskan untuk tidur dan membiarkan katak terkurung dalam kotak tersebut.

Saya menginap di hotel tersebut selama tiga malam empat hari. Saya berpikir terselamatkan untuk tidur malam kedua tanpa gangguan katak. Terus terang, meski katak hanya sekedar melompat, namun entah mengapa sugesti yang tidak baik kerap menghantui saya. Daripada tidak tidur, toh saya memutuskan untuk menyelamatkan diri dengan menaruh katak dalam tempat yang aman, tersembunyi dan tidak bisa keluar.

Malam kedua, saya berhasil tidur dengan nyaman. Agar memastikan kondisi si katak, saya pun melongok ke dalam kotak sampah. Saya masih melihat katak masih berjuang untuk keluar dan mencapai bibir kotak sampah. Miris memang. Binatang yang lihai dalam melompat, dikalahkan oleh sekotak sampah. Lebih tepatnya terkungkung dalam sebuah kotak.

Saya pun merenung. Dalam hidup, kita memiliki keahlian dan kompetensi yang cukup dikenal dan dibanggakan. Namun sayangnya, saat kita masuk dalam sebuah ‘Kotak sampah’ kita terkungkung, dan tak bisa keluar. Kita diam dalam ‘Kotak Sampah’ dan tak bisa berkutik apa-apa.

“Kotak sampah” menjadi masalah kita. “Kotak sampah” ibarat pikiran. “Kotak sampah” ibarat hambatan. Ada banyak umpama yang bisa kita andaikan dengan “Kotak sampah” namun yang jelas. “Kotak sampah” membuat kita terpasung, tak bisa bergerak, mengeluarkan diri atau menggali potensi kita.

Karena penasaran, saya pun memegang bibir tempat sampah tersebut. Mungkin, katak telah mengukur potensi lompatannya, setelah semalaman dikurung. Mungkin, katak telah mengetahui apa yang menjadi hambatannya itu. Mungkin, katak juga telah berlatih semalaman agar bisa keluar dari tempat sampah. Katak tersebut berhasil meloloskan diri. Katak melompat keluar, melewati bibir tempat sampah.

Sangking paniknya ditambah gerakan keberanian yang luar biasa muncul dalam diri, saya pun segera mencari cara, agar saya bisa menangkap katak kembali. Pokoknya, katak harus segera ‘diamankan’. Saya tidak ingin terganggu lagi dengan kehadiran katak.

Disitu saya melihat lompatan katak hanya seluas lebar tempat sampah. Katak dalam benak saya, mampu melompat tinggi dan lebar. Ini hanya karena saya tidak pandai belajar dalam biologi, sehingga saya juga lupa berapa lebar dan berapa tinggi katak melompat. Katak ini begitu lemah dalam melompat. Saat saya tahu dalam kelemahannya yang sedemikian itu. Saya pun dengan sigap, menangkapnya kembali.

Dengan kotak sampah di tangan ditambah keberanian, saya berhasil menutup dan memasukkan katak kembali dalam kotak sampah. Agak sedikit ngeri memang. Saya hanya membayangkan, bahwa saya pasti akan dihantui rasa bersalah karena membuat katak semakin menderita. Tapi apa daya, saya harus melakukannya. Saat itu pun, saya tidak mendapati ide atau pikiran untuk mengeluarkan dari kamar saya, atau meletakkan di taman dan membiarkannya pergi. Niat saya baik kok. Itu pikiran saya. Saya hanya menyimpannya hingga saya keluar dari hotel dan membiarkan katak hidup kembali.

Tinggal semalam lagi pikir saya. Saya pun melanjutkan tidur dengan rasa nyaman. Saya biarkan katak terkurung lagi. Maafkan saya katak.

Malam terakhir, saya pun berkemas-kemas dengan barang-barang yang saya miliki. Setidaknya pikiran saya saat itu, merapikan barang milik saya. Saya masih belum berpikir dengan si katak.

Menjelang tidur, saya baru terpikir untuk mengembalikan katak pada habitat aslinya. Atau lebih tepatnya, membiarkan ia kembali hidup normal.

Saat saya melihat ke dalam kotak sampah. Katak yang dua malam ini, saya lihat sibuk untuk melewati bibir kotak sampah, kita diam, tak bergeming.

Entah apa yang terjadi padanya, yang jelas, saya merasa bersalah dan takut saat itu.

Baru kepikiran oleh saya, untuk membawa kotak sampah keluar atau mengeluarkan katak keluar dari kamar saya.

Saat keluar, saya meletakkan kotak sampah terbalik, agar memudahkan katak keluar dengan mudah.

Yang terjadi adalah katak keluar mudah tapi tak melompat lagi seperti yang dilakukannya kemarin. Apa yang terjadi? Pikir saya.

Katak diam. Katak mati.

Saya kaget luar biasa. Entah apa yang menyebabkan dia mati. Lagi-lagi saya tak pandai dalam biologi, hingga tak tahu apa yang menyebabkan katak mati.

Katak mati. Mati karena putus asa, mungkin. Mati karena tidak mendapatkan makanan, selama tiga malam, mungkin. Mati karena tidak bisa keluar dari kotak sampah, mungkin. Mati karena tidak bisa menyelesaikan masalah, mungkin. Mati karena katak ternyata tidak ahli melompat setinggi bibir kotak sampah, mungkin. Mati karena pasrah, lemah dan tak berdaya, mungkin. Mati karena dirundung kemalangan, mungkin. Mati karena Tuhan memberi takdirnya untuk mati dalam kotak sampah.

Tak pernah ada yang tahu, apa yang menyebabkan akhir dari segalanya.

“Kotak sampah” adalah gambaran yang mudah yang diibaratkan dalam hidup kita dan menghambat pertumbuhan diri kita. “Kotak sampah” bisa lingkungan kita, teman-teman kita, kata cercaan yang menghancurkan diri kita, status sosial kita, dan masih banyak lagi.

Kita tidak mungkin mati seperti katak itu.

Kita diciptakan seperti katak, punya keahlian masing-masing tinggal bagaimana kita memanfaatkan keahliannya untuk keluar dan bertahan saat “kotak sampah” itu ‘membunuh’ diri kita. Setiap orang diciptakan dengan daya tahan dan daya juang berbeda, tinggal tergantung bagaimana kita memaknainya dalam hidup.

Belajar keluar dari “kotak” dari seekor katak, semoga menginspirasi kita semua. Terimakasih katak, maafkan jika aku harus melukaimu untuk belajar hal yang baru dalam hidup.

 

 

OPINI: Pendidikan Melandasi Perilaku Seseorang

ME_indramayu_06 (3)
Dokumen pribadi.

Pengantar

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. (http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan).

Dalam mencapai kualitas pribadi berpendidikan sebagaimana definsi pendidikan tersebut, tentu tak mudah bagi Pendidik mewujudkannya sejalan dengan peran dan fungsinya di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Lima sampai enam hari dalam seminggu, selama kurang lebih delapan jam, Pendidik menghabiskan waktu bersama siswa dampingannya untuk menghasilkan pribadi cemerlang.

Tak mudah menekuni peran sebagai orangtua kedua, Pendidik pun tak luput dari cercaan dan ketidaksempurnaan kala siswa yang didampinginya tak mampu berhasil meraih prestasi akademis yang ditentukan. Apakah pendidikan hanya menyangkut hajat hidup seseorang secara akademis? Apakah pendidikan hanya sebagai bekal persiapan hidup bagi seseorang di masa depan? Jika pertanyaan ini dijawab ya, tentu hasilnya akan menunjukkan bahwa di masa yang akan datang, kita akan melihat orang-orang yang berpendidikan adalah mereka yang mampu bertahan hidup berkat pendidikan.Rumus ini tidak berlaku buat mereka yang sukses dalam hidup padahal mereka tidak mengenyam bangku pendidikan sampai tinggi. Lantas, bagaimana seyogyanya hakikat pendidikan tersebut? Pendidikan harusnya menjadi ‘Roh Hidup’ itu sendiri.

Menghidupkan spiritualitas pendidikan bukan perkara mudah bagi Pendidik yang bergelut dengan carut marutnya pendidikan. Tuntutan akademis melalui nilai-nilai ujian, persaingan antar sekolah dengan aneka fasilitasi yang ditawarkan, persoalan biaya pendidikan yang tak lagi terjangkau hingga kompetensi guru yang sepadan dengan ‘dunia barat’ yang dinilai memiliki pendidikan yang berkualitas. Dalam kesempatan ini, penghayatan diri sebagai tenaga pendidik lebih dari menjangkau arah dasar lembaga pendidikan, tetapi bagaimana menuangkan ide dan gagasan yang menawarkan solusi bersama bagi pendidikan berkualitas sejalan dengan visi misi yang diemban sekolah di masa kapitalisme pendidikan saat ini.

Satu, Pendidikan bukan proses meniru tetapi menciptakan

Kekhawatiran dan keprihatinan akan dampak buruk ujian yang distandardkan dan tersentralisasi telah banyak disuarakan oleh para pemerhati pendidikan. Fenomena ujian terstandar setiap tahun masih menjadi bumerang bagi siswa yang menjalani, guru yang mendidik, orangtua yang prihatin dan pemerhati pendidikan lainnya. Bukan tidak mungkin ujian yang bertujuan untuk melihat kualitas pendidikan selama satu tahun ajaran pendidikan disalahgunakan sebagai penentu kualitas pribadi seseorang dalam hitungan hari. Tidak adil rasanya!

Lebih banyak hasil evaluasi siswa adalah proses meniru, bukan menciptakan. Sementara Pendidik dituntut untuk kreatif dan produktif dalam mengembangkan metode pembelajaran. Kenyataannya, siswa masih diajarkan untuk menjawab pertanyaan dengan meniru. Siswa dibatasi oleh pilihan. Siswa tidak mampu menyatakan opini sebagai bentuk penguasaan dirinya terhadap hal yang telah diajarkannya. Apa yang terjadi kemudian pribadi yang berkualitas meniru yang muncul di hadapan publik. Seseorang bertahan hidup hanya dengan meniru. Keberhasilan yang terjadi juga karena meniru yang telah ada.

Kehadiran pendidik diharapkan bukan menjadi peniru dari keberhasilan pendidikan yang telah ada sebelumnya namun bagaimana menciptakan pembelajaran yang inovatif sesuai dengan tantangan yang dihadapi ke depan. Bukan tidak mungkin, guru menggunakan media teknologi untuk mengajarkan kompetensi kepada siswa dampingannya. Atau, guru meminta siswa menciptakan media pembelajaran dari sarana yang tersedia di sekitarnya. Siswa diajak untuk menemukan solusi pembelajaran dari lingkungan sekitarnya. Siswa lebih aktif untuk diasah bagaimana membuat sesuatu yang belum ada ketimbang menuliskan sesuatu yang telah ada.

Perilaku mencipta kelak bukan sekedar menjadi kebetulan tercipta tetapi menjadi kebiasaan yang dilakukan dalam interaksi siswa yang didampingi dan pendidik. Sebagaimana kisah berikutnya,

“Seorang pelaut tua berhenti merokok ketika burung beo kesayangannya menderita batuk menahun. Ia khawatir jangan-jangan asap pipa yang sering kali memenuhi kamarnya merusak kesehatan burung beo itu. Ia memanggil seorang dokter hewan untuk memeriksa burung itu. Sesudah pemeriksaan yang teliti, dokter itu menyimpulkan bahwa burung itu tidak menderita psitakosis atau pun pneumonia. Burung itu hanya menirukan batuk tuannya si pengisap pipa itu.”

Kedua, Pendidikan mampu menerapkan nilai-nilai kehidupan

Perilaku seseorang yang terbentuk terpancar karena nilai-nilai kehidupan yang diembannya. Nilai-nilai kehidupan yang diperoleh dalam hidup seseorang, salah satunya melalui pendidikan. Pendidikan anak seutuhnya terkait dengan berbagai aspek seperti emosi, sosial, kognitif, fisik dan moral yang dilaksanakan dalam pembelajaran di sekolah secara terintegrasi. Diharapkan, sekolah sebagai institusi pendidikan mampu membentuk seseorang dalam menerapkan nilai-nilai luhur kehidupan yang mencerminkan kejujuran.

Siswa dampingan menyadari betul bahwa nilai 3 lebih berarti daripada nilai 9 yang diperolehnya dengan mencontek atau bertindak curang. Nilai 3 yang diperoleh siswa, mampu mengajarkan sikap kelegaan hati (legowo) dan kejujuran serta daya juang untuk mendapatkan nilai yang lebih baik di lain waktu ketimbang nilai ketidakadilan. Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa (atau “murid”) di bawah pengawasan guru. Sebagian besar negara memiliki sistem pendidikan formal, yang umumnya wajib. (www.wikipedia.com).

Di sekolah, selama kurang lebih 8 jam, siswa dampingan menyadari betul pentingnya nilai-nilai kehidupan diterapkan ketimbang menghafal nilai-nilai kehidupan yang belum tentu diterapkan. Banyak lembaga pendidikan menawarkan keunggulan pribadi seseorang berdasarkan prestasi gemilang dan melupakan pretasi gemilang yang sebaiknya diiringi oleh nilai kehidupan yang cemerlang. Lembaga pendidikan layaknya sekolah, melupakan perannya untuk ‘mendidik hati setiap hati’ agar mampu menumbuhkan pretasi yang membanggakan nilai-nilai kehidupan.

Di tengah himpitan persaingan sekolah-sekolah bermutu dengan sarana pembelajaran modern, sekolah lupa bahwa ‘mendidik hati’ diperlukan ‘hati’ bukan sarana canggih yang belum tentu berpeluang terhadap nilai-nilai kehidupan. Oleh karena itu, peran pendidik sebagai agen perubahan dalam sekolah diharapkan mampu membentuk siswa agar nilai-nilai kehidupan yang akan diterapkannya di masyarakat dapat dipertanggungjawabkan kepada sesama dan Tuhan.

Bahwa ukuran objektif dari sebuah pendidikan tidak lagi dari nilai evaluasi yang diperoleh tetapi bagaimana siswa dampingan mampu menghadapi nilai evaluasi agar dapat dipertanggungjawabkan secara moral. Jika ‘hati’ mampu berbicara dengan ‘hati’ tentu pendidikan berkualitas yang membangun spritualitas tercermin di masa yang akan datang.

Ketiga, Pendidikan yang mendorong Aktualisasi Diri

Aktualisasi diri dimaknai sebagai kebutuhan naluriah pada manusia untuk melakukan yang terbaik dari yang dia bisa. Menurut teori Maslow tentang hirarki kebutuhan, aktualisasi diri dianggap sebagai tingkatan tertinggi dari perkembangan psikologis yang bisa dicapai bila semua kebutuhan dasar sudah dipenuhi dan pengaktualisasian seluruh potensi dirinya mulai dilakukan.

Tak mudah bagi seseorang dalam mencapai aktualisasi diri, namun lewat Pendidikan, seseorang dimampukan untuk menunjukkan potensi terbaiknya. Perilaku seseorang terbentuk dalam landasan apa yang telah diajarkannya melalui lembaga pendidikan formal seperti sekolah. Guru mengajarkan bagaimana mendapatkan nilai terbaik dari sebuah evaluasi kompetensi mata pelajaran. Siswa mampu mengaktualisasikan dirinya dalam evaluasi tersebut melalui penguasaan kompetensi terbaik. Siswa menemukan cara untuk menggali potensi yang ada dalam dirinya. Siswa mampu mengenali apa yang menjadi kesukaran dan kelemahannya dalam menguasai kompetensi tersebut. Siswa bekerjasama dengan siswa lain untuk berbagi penguasaan kompetensi.

Aktualisasi diri tumbuh dari keyakinan seseorang bahwa ia mampu mengenali apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan dalam dirinya. Pendidikan memampukan seseorang untuk menjawab dan menyadari siapa dirinya. Orang yang berpendidikan, sadar bagaimana ia dapat memecahkan sebuah persoalan lebih cermat dibandingkan mereka yang tidak berpendidikan.

Aktualisasi diri lebih dari sekedar kebutuhan dasar, yang diyakini akan terbentuk sejak dini lewat pendidikan. Disinilah, pendidikan menawarkan sebuah metode untuk mendorong aktualisasi diri setiap siswa yang didampinginya. Jika setiap lembaga pendidikan seperti sekolah, hanya menawarkan aktualisasi potensi siswa dampingan lewat prestasi maka pendidikan yang unik adalah lembaga yang menawarkan metode agar setiap siswa mampu mewujudkan aktualisasi dirinya.

Pendidikan tidak lagi menjadi bumerang bagi siswa kelak, karena mereka telah mengetahui apa yang menjadi kekuatan dan kelemahannya, sehingga di masa yang akan datang mereka menemukan solusi kehidupan lebih dari sekedar nilai akademis belaka. Landasan Berperilaku Pendidikan dijadikan landasan berperilaku bagi seseorang adalah norma yang selama ini ditentukan oleh masyarakat. Segala tindak tanduk seseorang terlihat dari bagaimana pendidikan membentuk karakter seseorang.

Sayangnya, pendidikan kita masih banyak mendikte perilaku seseorang bukan menggali perilaku seseorang. Pendidikan memampukan seseorang untuk mengenali dirinya yang menjadi dasar bagaimana harus berperilaku dalam kondisi tertentu.

Pendidikan punya nilai khas dan unik lebih dari sekedar budaya masyarakat yang tidak tertulis. Pendidikan mengajarkan bagaimana seseorang mengendalikan dirinya lebih dari sekedar orang yang tidak berpendidikan, yang cenderung mudah terpengaruh, misalnya. Landasan berperilaku yang ditawarkan lembaga pendidikan, semisal sekolah, tentu terletak dari apa yang ditawarkan sekolah dalam visi dan misi yang diembannya. Namun, tak jarang, visi dan misi hanya sekedar hiasan pelengkap administratif sekolah. Tak jarang, sekolah kesulitan dalam menjabarkan program-program kerja sebagaimana yang tertuang dalam visi dan misi. Tak jarang, sekolah mengejar keuntungan semata dan melupakan visi dan misi mulia yang dimilikinya. Pada akhirnya, tak jarang, sekolah yang dijadikan sarana perwujudan akhlak mulia dijadikan ‘kedok bisnis’ untuk mengeruk gengsi dan kompetensi antar pendidikan. Bagaimana sekolah mampu mewujudkan landasan berperilaku bagi siswa yang didampinginya, jika sekolah tidak memiliki visi dan misi yang objektif dan terukur? Padahal visi dan misi sekolah menentukan bagaimana siswa yang didampinginya kelak adalah cerminan pendidikan yang dibentuk sekolah selama ini.

Jika seseorang berpendidikan dilandasi oleh perilaku yang dikehendaki dalam masyarakat, tentu sekolah dengan visi dan misinya, niscaya tergambar dari kebutuhan dan tantangan yang akan dihadapi seseorang di masa yang akan datang. Landasan berperilaku seseorang berpendidikan, tentu menjadi hal yang khas dan unik, karena sekolah sebagai lembaga pendidikan, telah berhasil menggali potensi keunggulan dari setiap pribadi siswa yang didampinginya. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal hendaknya mampu mendorong perilaku kekhasan yang diunggulkan dalam masyarakat, dengan tidak mengurangi nilai-nilai kehidupan yang menjiwai pendidikan. Salah satunya adalah perilaku spiritualitas religiusitas yang tidak fanatik namun menghargai perbedaan yang ada.

Nilai-nilai yang dianut sekolah diharapkan adalah landasan siswa dampingan dalam berperilaku keseharian. Karena, di usia tersebut, seorang anak dibentuk jati dirinya.

Penutup

Berawal dari niat baik sekolah sebagai lembaga pendidikan untuk melaksanakan nilai-nilai luhur dalam pribadi setiap siswa yang didampinginya, maka sekolah diharapkan berhasil mencetak siswa berprestasi cemerlang dan perilaku gemilang yang dibanggakan.

Dalam menghadapi tantangan kapitalisme pendidikan, sekolah sebagai lembaga pendidikan formal, dipercaya menawarkan solusi pembelajaran yang kreatif dan inovatif tanpa kehilangan makna jaman masa kini. Sekolah memiliki agen-agen perubahan dalam diri setiap pendidik, yang tidak dimiliki oleh sekolah lain. Sekolah menjadi sarana yang jitu untuk membentuk perilaku seseorang sejalan dengan visi dan misi yang diembannya.

Sejatinya, Pendidikan yang melandasari perilaku seseorang bukanlah sekedar wacana belaka namun dilaksanakan dengan nilai-nilai luhur sekolah agar tercipta kualitas pribadi yang dikehendaki bersama di masa yang akan datang. Semoga!

 

Orangtua dan Agama

 

wpid-x_2.JPG
Dokumen pribadi.

Suatu kali, seorang teman mengaku pada saya bahwa dia telah berpindah keyakinan. Saat mendengar pernyataannya, saya pun tidak bisa memberi komentar apa pun. Apalagi dia beralasan bahwa dia sungguh-sungguh mendalami apa yang baru saja dianutnya itu.

Mungkin saat 5 tahun yang lalu, jika teman saya yang berpindah agama itu mengatakan pada saya, saya pasti akan marah besar. Atau, saya akan berusaha meyakinkan dia, untuk apa pindah agama. Atau, saya akan bujuk dia agar tidak pindah agama. Atau, saya akan ancam dia. Atau, saya akan jauhi dia dan menganggap tidak mengenalnya lagi. Segala macam cara pasti akan saya coba lakukan, asalkan dia tidak pindah agama. Tetapi itu dulu, tidak sekarang.

Saat teman saya mengatakan pindah keyakinan, saya pun menyetujuinya. Toh agama adalah pilihan hidup. Lagi-lagi, saya merenungi sejauhmana agama yang menjadi pilihan hidup itu mempengaruhi hidup yang mengatur relasi saya dengan Tuhan. Atau, agama lebih mengatur relasi saya dengan sesama. Sehingga, jika dia tidak seagama dengan saya, saya akan menjaga jarak. Saya akan lebih fanatik. Menurut saya, Agama saya paling benar. Dan sebagainya. Dan sebagainya. Jika kita bertanya pada orang beragama pun, masih banyak yang mengaku agamanya paling benar.

Orang bijak berkata, Agama adalah sarana kita menuju Tuhan. Tapi bagaimana realitanya?

Belajar dari kasus kepindahan keyakinan dari teman saya itu, dia mengatakan bahwa dia akan lebih ‘committ’ terhadap pilihannya. Dia akan menjalani segala bentuk perilaku beragama yang dianutnya dengan sungguh-sungguh. Begitu katanya.

Lantas, hal ini berbeda dengan teman saya yang se-agama dengan teman saya itu. Teman saya yang kedua ini, sejak lahir sudah beragama demikian. Namun, perilaku beragamanya rendah. Frekuensi untuk berdoa pun rendah. Pengetahuan tentang agama pun minim. Sedangkan teman saya yang pertama, dia memiliki pengetahuan yang baik tentang agama yang dianutnya.

Teman saya yang pertama memaknai kepindahan keyakinan sebagai keputusan yang bertanggungjawab dengan mempelajari pengetahuan agama yang akan dipilihnya. Dengan pengambilan keputusan yang terjadi saat masa dewasa, diyakini seseorang akan lebih bertanggungjawab dengan pilihannya, termasuk konsekuensi yang harus dia tempuh. Sementara teman saya yang kedua, dia tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih. Bahkan mungkin, orangtuanya tidak mengajarkan pengetahuan agama untuknya.

Dari kedua teman saya yang se-agama tetapi proses yang berbeda, saya berpendapat bahwa orangtua turut berperan bagi pertumbuhan pilihan keyakinan seseorang secara lebih positif, tidak fanatik berlebihan dan tetap mengarahkan.

Agama menjadi pedoman hidup seorang anak hingga ia tumbuh menjadi seperti yang diharapkan. Anak yang sholeh adalah harapan orangtua. Jika mendapati seorang anak yang berperilaku tidak sesuai harapan orangtua, atau biasa yang disebut sebagai ‘Anak Nakal’ tak jarang orangtua mengkaitkan dengan perilaku beragama anak. Agama menjadi landasan orangtua untuk mengetahui perilaku anak. Bahkan ada orangtua, yang sudah mulai memperkenalkan ritual agama sejak anak masih dalam kandungan. Lalu, saat anak lahir orangtua pun mensyukurinya dengan berdoa. Dan masih banyak cara dimana orangtua terus memperkenalkan agama sejak lahir.

Namun orangtua tetap berperan tidak hanya menjadikan seorang anak beragama, tetapi juga terus membimbingnya. Orangtua meminta anak untuk pergi ke tempat ibadah namun orangtua jarang pergi ke tempat ibadah. Orangtua meminta anak untuk sembahyang tetapi anak jarang melihat orangtua sembahyang. Orangtua adalah teladan bagi anak.

Orangtua mengajarkan anak untuk tidak berbohong sebagaimana yang diajarkan dalam agama, namun orangtua meminta anak untuk berbohong saat ada tamu yang tidak dikehendaki. Jelas tidak konsisten. Selain sebagai teladan, orangtua juga harus konsisten terhadap apa yang sudah diajarkan kepada anak

Menggagas masa depan yang gemilang bagi Remaja

Dokumen pribadi.

Pengantar

Masa remaja adalah masa yang paling menentukan dalam hidup seseorang mengingat pada masa ini merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Dalam masa peralihan ini, remaja mengalami kebingungan terhadap perubahan yang terjadi dalam dirinya, baik secara fisik, psikologi dan sosial. Kondisi ini sering membuat orangtua tidak memahami apa yang terjadi dalam diri anaknya yang sudah menginjak remaja. Akibatnya, remaja pun lebih cenderung memiliki kedekatan dengan teman-teman yang mereka anggap senasib dan mengerti kondisi mereka. Minimnya informasi yang benar, kurang intimnya relasi dengan orangtua dan mudahnya remaja untuk terpengaruh oleh ajakan temannya menyebabkan remaja terjerumus pada hal yang tidak diinginkan seperti narkoba.

Narkoba atau yang lebih dikenal dalam istilah medis sebagai NAPZA, Narkotika; Psikotropika dan Zat Adiktif lainnnya, adalah sesuatu yang dimasukkan dalam tubuh berupa zat padat, cair dan gas (tidak termasuk makanan dan oksigen yang dimasukkan dalam tubuh) yang dapat merubah struktur dan fungsi tubuh secara fisik dan psikis (WHO, 1992). NAPZA yang sudah lama dikenal sejak sebelum jaman kemerdekaan, dulu hanya dikenal sebagai candu. Seiring berjalannya waktu, mengkonsumsi NAPZA pun semakin berkembang dan populer sebagai salah satu bagian dari gaya hidup.

Bentuk tubuh junkies, kurus dan tinggi, yang diinginkan oleh remaja adalah salah satu mitos atau informasi yang salah akibat pemakaian NAPZA. Minimnya informasi yang benar tentang NAPZA menyebabkan jumlah kasus remaja pecandu semakin bertambah. Negara Indonesia pun kini tidak hanya menjadi konsumen tetapi juga produsen setelah ditemukannya beberapa lokasi tempat yang dijadikan pabrik pembuatan NAPZA atau lebih dikenal di masyarakat sebagai narkoba.

Narkoba suntik

Kondisi ini masih diperparah oleh keadaan bahwa berdasarkan data dari Departemen Kesehatan tahun 2008, jumlah kasus HIV & AIDS tertinggi di DKI Jakarta lebih disebabkan oleh penggunaan narkoba suntik. Lebih lanjut data tersebut juga menunjukkan bahwa jumlah kasus HIV & AIDS berada pada kelompok usia 20-29 tahun. Jika masa menyerangnya virus HIV 5-10 tahun dalam tubuh seseorang, bisa dibayangkan pada usia 15-20 tahun, seseorang sudah mulai terinfeksi HIV. Kelompok usia ini termasuk dalam usia remaja, dimana mereka sudah mencoba bahkan kecanduan terhadap narkoba suntik.

Narkoba suntik adalah salah satu cara penularan HIV & AIDS yang terjadi melalui kontak darah yakni media alat suntik yang dimasukkan ke dalam tubuh seseorang. Suntik yang dimaksud jelas bukan suntik yang streril atau masih baru melainkan pernah dipakai (bekas) atau bersama-sama memakai. Seorang junkies atau pecandu pernah bercerita bahwa secara sadar mereka tahu risiko menggunakan jarum suntik bersama-sama namun apa daya membawa jarum suntik adalah risiko paling besar yang harus mereka hadapi jika harus tertangkap oleh polisi atau aparat terkait.

Narkoba suntik lebih diminati karena langsung terasa efeknya secara stimulan, halusinogen dan depresan dalam tubuh seseorang dibandingkan jenis narkoba lainnya. Selain itu, kenikmatan lain yang dirasakan apabila menggunakan bersama-sama (sharing) dengan teman, seolah-olah merasa senasib sepenanggungan (sense of belonging). Hal ini yang sebenarnya dicari oleh pecandu, terutama remaja yang bermasalah atau mencoba melarikan diri dari masalah kebingungan atau perubahan yang terjadi dalam diri mereka.

Media edukasi, informasi & komunikasi

Berdasarkan data jumlah kasus HIV & AIDS di Indonesia, DKI Jakarta menempati urutan pertama terbanyak. Oleh karena itu Pemerintah DKI Jakarta terus berupaya untuk mengembangkan berbagai upaya pencegahan bagi remaja mengingat remaja merupakan kelompok berisiko tinggi. Upaya pencegahan tentu tidak berjalan sendiri karena perlu didukung oleh semua pihak sebagai kelompok terdekat remaja.

Pertama, meningkatkan sarana media edukasi, informasi dan komunikasi agar semakin banyak orang paham mengenai bahaya narkoba. Masih banyak orangtua hanya memahami narkoba sebagai ‘benda berbahaya dan terlarang’ tanpa mengetahui kandungan atau efek yang terjadi jika seseorang menggunakan dan kecanduan narkoba. Oleh karena itu, perlu adanya media informasi dan edukasi seperti brosur dan poster yang dipasang di tempat-tempat publik seperti rumah sakit, sekolah, restoran, dll. Atau kampanye terbuka yang bisa saja melibatkan LSM yang bergerak di bidang remaja dan narkoba di tempat-tempat publik seperti mall.

Selain itu, maraknya program televisi juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi dan informasi dimana orangtua dapat memperoleh informasi sebanyak-banyaknya tentang narkoba sekaligus media sharing atau komunikasi terhadap hal-hal yang harus dilakukan jika kedapatan anaknya kecanduan narkoba.

Peran sekolah

Kedua, memasukan pengetahuan bahaya narkoba di sekolah misalnya, sebagai bagian atau melalui kurikulum pendidikan sejak di SMP dan SMA dalam pelajaran budi pekerti. Tidak semua sekolah mampu dan memiliki akses untuk mendapatkan informasi dan penyuluhan tentang narkoba. Adanya kurikulum dalam pendidikan diharapkan sekolah pun turut serta melakukan pencegahan melalui informasi yang benar. Dalam kurikulum ini, remaja pun diajarkan mengenai ketrampilan diri (life skills) untuk melindungi diri terhadap tawaran dan ajakan untuk menggunakan narkoba. Diharapkan remaja dapat melatih sikap asertif untuk berpendapat terhadap nilai-nilai yang tidak sesuai atau bertentangan, seperti narkoba.

Sekolah juga dapat berperan meningkatkan pengetahuan bahaya narkoba melalui kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolahnya. Misalnya, setiap kegiatan ekstrakurikuler minimal bisa menyediakan satu kali pertemuan tatap muka untuk membahas mengenai narkoba. Para pendidik sekolah dapat bekerjasama dengan pengurus atau pengelola ekstrakurikuler untuk membuat rencana kerja yang menyisipkan penyuluhan atau sharing pengalaman atau pendapat antar siswa mengenai bahaya narkoba.

Pengetahuan bahaya narkoba di sekolah dapat dilakukan saat memasuki Masa Orientasi Siswa (MOS) yang dilaksanakan setiap awal tahun ajaran pendidikan. Kegiatan ini cukup bermanfaat sebagai pengenalan kepada siswa baru bahwa sekolah berkomitmen untuk ‘memerangi’ narkoba di sekolah. Dengan demikian siswa yang baru menginjakkan kaki di sekolah pun memiliki sikap waspada untuk tidak mencoba narkoba.

Meningkatkan pengetahuan bahaya narkoba di sekolah diperlukan dukungan dari orangtua. Pihak sekolah dapat menyisipkan agenda pertemuan tatap muka dengan orangtua yang membahas narkoba atau memperkaya wacana orangtua yang bertemakan bahaya narkoba. Melalui media pertemuan antara sekolah dengan orangtua tentu akan membantu sekolah dan orangtua dalam mengidentifikasikan remaja yang bermasalah, terutama kecenderungan untuk menggunakan narkoba. Sekolah pun dapat menyatakan sikap yang tegas di hadapan orangtua mengenai tindakan yang akan diambil jika anak kedapatan menggunakan narkoba.

Selain menempelkan spanduk, poster, brosur atau selebaran mengenai pengetahuan bahaya narkoba di Mading Sekolah, Sekolah dapat membentuk mitra pendidik sekolah yang berasal dari siswa. Mitra pendidik sekolah (peer educator) adalah siswa yang dilatih oleh sekolah dan bertugas untuk menyampaikan informasi yang benar tentang bahaya narkoba serta mengajak teman-temannya untuk melakukan kegiatan positif.

Peran orangtua dan masyarakat

Ketiga, meningkatkan komunikasi dan relasi antara orangtua dan remaja sehingga memungkinkan orangtua mengikuti dan mencermati perkembangan yang terjadi terhadap remaja. Orangtua perlu berperan sebagai ‘sahabat’ dan sumber informasi bagi remaja. Oleh karena itu, orangtua perlu dibekali pengetahuan yang benar akan bahaya narkoba dan HIV & AIDS. Dengan demikian remaja dapat membedakan mana yang benar dan salah mengenai hal-hal yang mungkin hendak dilakukannya.

Relasi yang intim antara orangtua dengan remaja tentu akan mempengaruhi pola komunikasi yang tercipta dengan konstruktif, melalui pendekatan keagamaan dan budi pekerti. Orangtua yang secara jelas menyatakan sikap dan pendapatnya tentang narkoba, misalnya, akan membantu remaja untuk memahami konsekuensi yang akan terjadi jika melanggar.

Peran orangtua sangat menentukan masa depan remaja sehingga perlu ada kewaspadaan bagi orangtua dan masyarakat untuk mengenali kondisi remaja dan pengetahuan yang cukup untuk melakukan tindakan pertama jika kedapatan remaja menggunakan narkoba, misalnya membawa anak ke panti rehabilitasi. Oleh karena itu, diperlukan peran semua pihak terutama Pemerintah dan LSM terkait untuk melakukan penyadaran seperti kampanye dan penyuluhan kepada orangtua yang menjadi bagian dari masyarakat.

Masyarakat yang sadar akan bahaya narkoba secara hukum dan medis, maka akan mampu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi remaja untuk tidak menggunakan narkoba. Bagaimanapun, lingkungan dapat mempengaruhi seorang remaja untuk menggunakan narkoba jika terjadi sistim nilai yang rendah di masyarakat dan pengaruh/ajakan yang kuat dari teman-temannya.

Penutup

Remaja adalah tolok ukur bagi terciptanya generasi penerus yang sehat dan tangguh di masa yang akan datang. Dari lingkup terendah, keluarga, sampai dengan lingkup tertinggi, negara dan pemerintah, memiliki perhatian yang khusus untuk memutus mata rantai narkoba. Narkoba tidak hanya menyebabkan ketergantungan/adiksi dan penyakit seperti AIDS secara medis juga kejahatan/kriminalitas secara hukum, namun narkoba dapat menimbulkan kematian. Masalah narkoba adalah masalah sosial yang perlu menjadi perhatian semua pihak.

***

Menulis adalah Seni. Ini Pendapat Saya

 

img-20160308-wa0020.jpg
Dokumen pribadi.

 

Menulis bukanlah hal yang sulit. Namun, banyak orang yang menganggap menulis membutuhkan skill dan metodologi khusus sehingga sulit pula untuk dikerjakan. Menulis pada dasarnya adalah seni. Seni untuk mengekspresikan diri. Seni untuk menyatakan pendapat. Seni untuk mengungkapkan apa yang dirasakan. Seni yang indah untuk menuangkan hal-hal yang sulit untuk diungkapkan.

Kecerdasan seseorang belum tentu mempengaruhi cara seseorang untuk menulis. Karena dalam menulis, anda tidak dituntut untuk cerdas. Yang dibutuhkan adalah ketrampilan anda dalam menuangkan gagasan atau ide. Sempatkan waktu untuk menulis saat anda sudah menemukan ide. Lalu tuangkan gagasan atau ide tersebut menjadi sebuah kalimat-kalimat yang tersusun sehingga menjadi sebuah paragraf. Kaitkan masing-masing paragraf menjadi sebuah tulisan.

Bumbui tulisan anda dengan hasil observasi yang mengarahkan pada tulisan anda. Agar lebih kaya tulisan anda, carilah literatur yang tepat dan cocok dengan tulisan anda. Misalnya, pendapat seorang ahli yang dikutip atau bisa juga sumber sebuah buku. Tuangkan semua hasil observasi dan kutipan anda dalam sebuah tulisan.

Jangan pernah merasa takut untuk memulai menulis! Ketakutan justru akan menghambat anda untuk memulai sesuatu. Jangan pernah ragu untuk menuangkan beberapa ide atau gagasan. Lalu mulailah menulis sebanyak-banyaknya kalimat yang anda temukan dalam pikiran. Jika sudah selesai dalam tulisan, jangan ragu-ragu untuk meminta pendapat dari orang sekitar untuk meninjau kembali tulisan Anda. Pendapat orang lain bisa menolong anda untuk tampil percaya diri dalam menulis. Meskipun kadang pendapat mereka justru mengkritik tulisan anda. Tetapi jangan pernah takut untuk mencoba. Semua berawal dari niat dan motivasi untuk memulai menulis dengan cepat. Secepat ketika anda sudah menemukan gagasan.

Rajin-rajinlah untuk membaca buku atau novel kesayangan ketika anda belum menemukan ide atau inspirasi untuk menulis. Upayakan bahwa semua kegiatan menulis anda, benar-benar tidak terkontaminasi oleh kegiatan lain. Hal seperti ini sering terjadi pada orang-orang yang memerlukan ketenangan atau kekhusyukkan saat menulis. Namun ada pula orang yang tidak terpengaruh untuk dengan kondisi sekitar sehingga tetap dapat menghasilakan sesuatu tulisan.

Ada pula tipe dimana anda perlu musik yang tenang seperti instrumen yang syahdu yang mendorong anda untuk menikmati seni untuk menulis. Semua terserah pada kondisi dan situasi yang anda ciptakan sendiri. Yang penting, kegiatan menulis harus dibuat senyaman mungkin.

Selain itu, biarkan pikiran anda bermain dalam tulisan yang anda hasilkan. Kadang ketakutan untuk menemukan ide justru memperkeruh keyakinan anda untuk mulai menulis. Atau, anda bisa juga dengan menuliskan poin-poin tertentu yang anda temukan jika anda sudah mendapatkan gagasan, yang dicatat di sebuah notes.

Kadang kita berpikir menulis memerlukan suatu intelegensi yang tinggi, padahal tidak demikan. Menulis adalah seni. Saat Anda bisa menemukan seni keindahan dari menulis, anda akan dapat merasakan bahwa menulis sesungguhnya lebih dari sekedar kegiatan mengumpulkan aksara dan menuangkannya menjadi sebuah gagasan.

Seni menulis tidak harus menunggu saat yang tepat, misalnya jika sudah meraih gelar pendidikan tertentu. Menulis dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja secepat saat anda sudah menemukan ide untuk menulis. Yang penting jangan pernah merasa khawatir apakah tulisan anda layak atau tidak? Karena menulis adalah seni yang dilatih dari kebiasaan terus menerus.

Seni menulis hanya mementingkan bagaimana suatu hal yang dirasakan atau dipikirkan dapat dituangkan dalam sebuah pikiran.  Hanya saja menulis selalu dianggap sebagai kendala yang menyulitkan dengan mindset yang memerlukan ketrampilan atau metodologi khusus.

Diperlukan niat agar anda benar-benar dapat menghasilkan tulisan yang memang sesuai dengan apa yang anda pikirkan dan rasakan. Jangan pernah takut untuk mencoba atau memulai untuk menulis! Karena tidak pernah ada teknik jitu untuk menulis yang sempurna.

OPINI: Malam Renungan AIDS 23 Mei

 

wpid-img_20151109_211639.jpg
Penyebaran HIV seumpama anda mencelupkan noda merah sedetik ke dalam gelas maka sepuluh menit kemudian air pun berubah menjadi warna merah. Ilustrasi.

 

Tanggal 23 Mei, hari ini, diperingati sebagai Malam Renungan AIDS. Saya sendiri yang pernah bekerja di Program HIV & AIDS, sudah lupa alasan terpilihnya tanggal tersebut sebagai Malam Renungan AIDS. Saya hanya masih mengingat sejarah Hari AIDS Sedunia, yang ditandai pita merah (red ribbon).

Meski kini, saya bekerja di dunia pendidikan, tetapi masih tergerak hati saya terhadap kasus HIV & AIDS yang tidak hanya menjadi persoalan kesehatan saja tetapi juga persoalan sosial dan masyarakat. Bagaimana pun, penularan HIV lebih disebabkan perilaku berisiko seseorang secara sadar atau tidak. Ada banyak pihak yang tidak melulu menjadi pelaku dari yang mengalami saja tetapi juga ‘korban’ dari keadaan. Miris memang! Namun, masalah ini perlu mendapatkan perhatian serius jika dibayangkan bahwa angka kasus HIV dan AIDS mengalami peningkatan, bukan penurunan seperti di negara-negara Asia lainnya.

Hari AIDS Sedunia, 1 Desember tahun yang lalu, saya dikejutkan oleh fenomena data statistik yang menyebutkan Provinsi Jawa Barat sebagai peringkat kedua setelah Jakarta dalam hal jumlah kasus HIV & AIDS terbanyak di Indonesia. Saat ini, saya memang sedang bekerja dan menjadi bagian dari masyarakat Jawa Barat. Sungguh ironis bagi saya, manakala setahun sebelumnya (Maret 2008), Jawa Barat masih di bawah Provinsi Papua, yang menjadi Provinsi kedua terbanyak setelah Jakarta. Bulan Desember 2008, data sudah berbicara lain, bahwa Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi kedua terbanyak dalam kasus HIV & AIDS setelah DKI Jakarta.

Suatu hari di bulan Maret 2009, saya dimintai tolong oleh seorang rekan di Bandung. Beliau meminta tolong untuk merekomendasikan komunitas bagi ODHA yang kebetulan adalah anak jalanan. Saya tidak dapat berbuat banyak, ODHA itu sudah memasuki tahap memprihatinkan, tidak sekedar Orang Dengan HIV Positif. Saya kembali membayangkan data statistik kasus HIV & AIDS di bulan Desember 2008 lalu. Begitu cepatnya?

Di hari ini, saat Malam Renungan AIDS, saya kembali membuka data statistik (http://spiritia.or.id/Stats/StatCurr.pdf) mengenai jumlah kasus HIV & AIDS di Indonesia. Provinsi Jawa Barat sudah berada di posisi pertama sebagai provinsi terbanyak di Indonesia berdasarkan jumlah kumulatif kasus HIV & AIDS. Dalam triwulan Januari-Maret 2009, ditemukan bahwa jumlah kasus HIV & AIDS di Provinsi Jawa Barat meningkat, terbanyak dibandingkan provinsi lain.

Sejak ditemukan tahun 1987, kasus HIV & AIDS di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tidak bisa di duga bahwa kini Provinsi Jawa Barat menempati urutan pertama terbanyak di Indonesia, yang biasanya ditempati oleh Jakarta atau Papua. Bisa dibayangkan bahwa virus HIV seperti setitik cairan merah yang dimasukkan dalam gelas berisi air putih, menyebar, sehingga gelas berisi cairan warna merah. Begitu cepatnya?

Di malam renungan AIDS, keprihatinan muncul untuk mengingatkan kembali pentingnya membekali diri untuk tidak mencoba perilaku berisiko tinggi.

  • Pendapat pribadi tahun 2008.