10 Novel Indonesia Tentang Perjuangan Pemuda yang Menggapai Cita-Cita

Sumber foto: Canva.

Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober!
Setiap orang punya mimpi dalam hidupnya. Mimpi itu kata orang-orang tua nan bijak harus setinggi langit. Mimpi itu menjadi kebanggan ketika semakin lama kita berhasil membuktikannya pada dunia. Tentu, mimpi harus dapat membuat hidup lebih baik dari sebelumnya.

Terkadang, untuk mencapai itu semua kita membutuhkan tekad yang kuat. Tapi, tekad tersebut biasanya mendapatkan banyak halangan. Mulai dari sulitnya mencari motivasi, hingga cobaan yang datang saat kita mengejar cita-cita.

Untuk mengisi kembali motivasi mengejar mimpi, berikut adalah novel-novel Indonesia penuh inspirasi yang berkisah tentang bagaimana pemuda berjuang dalam menggapai cita-citanya. Jika mereka bisa, kenapa kita tidak bisa? Berikut adalah novelnya.

1. Laskar Pelangi

Bayak orang yang mencintai kisah dari Laskar Pelangi. Bagaimana tidak? Ceritanya sungguh menyentuh tentang bagaimana para murid SD Muhammadiyah Gantong, Belitong mencoba untuk terus belajar walaupun sekolah mereka akan ditutup. Tidak hanya belajar untuk meraih ilmu setinggi-tingginya, mereka juga selalu bermimpi untuk mengembangkan pulau tempat mereka tinggal, keluar dari kemiskinan, dan juga menjelajahi dunia. Semua itu lewat semangat para pemuda untuk mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya. Saling membantu, saling menyayangi, dan saling menyemangati. Tidak heran ketika sukses besar buku ini kemudian dibuat ke dalam film.

2. Sang Pemimpi

Masih lanjutan dari Laskar Pelangi, Sang Pemimpi adalah buku yang berkisah tentang bagaimana perjuangan Ikal untuk terus belajar dan menjelajahi dunia. Di sini, Ikal dikisahkan merantau dari Belitong ke Jakarta. Sambil bekerja sebagai pegawai pos, ia terus berusaha untuk memenuhi cita-citanya untuk menjelajahi dunia. Karenanya, ia mengejarnya lewat beasiswa. Kisahnya sangat menginspirasi bagi anak-anak dan pemuda-pemudi yang sedang berusaha untuk mengejar ilmu sampai ke negeri seberang. Bagaimana perjuangan yang harus dilakukan dan diperjuangakan hingga semua itu bisa tercapai.

3. Edensor

Buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi, buku ini memiliki latar setting yang berbeda dengan dua buku sebelumnya. Jika dulu kedua buku memiliki setting di Indonesia, buku ini sebagian besarnya berlatarkan di Eropa. Ya, buku ini adalah kisah tentang bagaimana Ikal dan Arai sepupunya berkuliah di Eropa, tepatnya di Paris. Di dalamnya digambarkan pengalaman Ikal dan Arai mencoba mewujudkan cita-citanya untuk menjelajahi dunia. Merasakan bagaimana dinginnya Rusia hingga panasnya gurun Sahara. Banyak orang yang bisa termotivasi untuk terus bermimpi menjelajah dunia dan mewujudkannya setelah membaca buku ini.

4. Maryamah Karpov

Ini adalah seri terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi. Di buku ini dikisahkan bagaimana Andrea Hirata menceritakan tentang sahabatnya Lintang, Arai, dan A Ling. Di sini, ada banyak mimpi yang diperjuangkan. Mulai dari mimpi mengejar cita-cita, mimpi membuat kehidupan menjadi lebih baik, hingga mimpi tentang cinta. Semuanya ada di sini dan bisa memotivasi banyak pemuda untuk terus bermimpi untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

5. 5 cm

Bertualang bersama sahabat dekat adalah hal yang sangat menyenangkan. Dan hal inilah yang dilakukan oleh lima orang teman mendaki Puncak Mahameru di Gunung Semeru. Di dalamnya, selain berisikan tentang cinta antar para sahabat. Juda berisikan tentang impian, harapan, cita-cita dan perjuangan tekad untuk menjalani hidup lebih baik. Ceritanya sungguh menyentuh dan memberi semangat pemuda untuk menggantungkan cita-cita 5 cm di depan mata mereka, dan fokus untuk mengejar cita-cita tersebut sampai berhasil mewujudkannya.

6. Negeri 5 Menara

Mengambil pendekatan yang mirip dengan Laskar Pelangi, buku ini adalah kisah yang terinspirasi dari pengalaman sang penulis A. Fuadi dalam mengejar cita-citanya. Tidak tanggung-tanggung, ia mengejar mimpinya sejak masuk pesantren di Jawa Timur. Ia yang merupakan anak dari Maninjau, Sumatera Barat, akhirnya bertemu dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung, dan Baso dari Gowa. Semuanya bersahabat dan saling mengingatkan akan cita-citanya masing-masing. Buku ini juga memberikan mantra bagi para pemuda yang mengejar cita-cita: man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Maka dari itu, cita-cita harus dikejar dengan sungguh-sungguh agar bisa dicapai.

7. Ranah 3 Warna

Lanjutan dari Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna bercerita tentang bagaimana kehidupan Alif setelah menyelesaikan pendidikan di Pondok Madani, pesantrennya tempat menimba ilmu sejak kecil. Ia yang bercita-cita untuk menjadi Habibie lalu kembali merantau ke Teknologi Tinggi Bandung sebelum akhirnya melanglangbuana hingga ke Amerika Serikat. Tidak ketinggalan dari buku pertamanya, di buku ini juga terdapat mantra yang bisa menjadi “bensin” untuk para pemuda yang sedang berusaha mewujudkan cita-citanya. man shabara zhafara. Siapa yang bersabar akan beruntung. Dengan dua mantra tersebut, sesungguhnya pemuda di mana pun bisa mendapatkan impiannya.

8. Rantau 1 Muara

Man saara ala darbi washala. Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan. Itu adalah mantra dari buku seri Negeri 5 Menara di buku Rantau 1 Menara. Di buku ini dikisahkan bagaimana Alif berjuang dari satu tujuan ke satu cobaan dan terus mencoba untuk menghadapinya. Sehingga ia bisa menggapai cita-citanya. Mulai dari lulus dari universitas, bekerja menjadi wartawan, mendapatkan beasiswa, hingga membantu Amak dan juga adik-adiknya. Buku ini menggambarkan betapa perlunya kita untuk terus berjuang berjalan menggapai cita-cita walau banyak cobaan yang datang.

9. 9 Matahari

Matari yang merupakan tokoh dalam novel ini terus menunjukkan bahwa cobaan dan hambatan akan selalu datang saat kita berusaha mengejar cita-cita. Hanya saja, apakah kita akan kalah oleh cobaan, atau berusaha melewati masalah tersebut satu per satu hingga akhirnya kita mendapatkan apa yang kita impikan. Semua ini tertuang dalam buku 9 Matahari yang terbit pertama kali di tahun 2008. Buku ini juga menjelaskan bahwa tokoh yang ada di dalamnya dulunya adalah seorang yang memandang hidup dengan pahit. Hingga akhirnya ia terus berusaha untuk mengejar cita-citanya.

10. 9 Summer 10 Autumn

“Kita tidak bisa memilih masa kecil kita, tapi masa depan itu, kita yang menentukannya.” Itulah kalimat yang terngiang di kepala pembaca ketika membaca buku ini. Iwan memiliki ayah seorang supir angkot dan juga ibu yang bahkan tidak lulus SD. Tapi, jangan tanyakan cita-cita dan tekad yang dimilikinya untuk menggapai cita-cita memiliki hidup yang lebih baik. Kesungguhannya menggapai mimpi membawanya menaklukkan kota terbesar di dunia, New York, Amerika Serikat. Dan menjadikannya sebuah contoh kisah sukses menggapai mimpi jika kita bersungguh-sungguh ingin mewujudkannya.

Demikian 10 novel Indonesia yang perlu dibaca pemuda untuk menggapai mimpinya. Karena, setelah membaca bukunya kita menjadi tahu bahwa kita harus terus berjuang mewujudkan mimpi dan cita-cita. Jika dahulu pemuda bermimpi untuk merebut kemerdekaan dan terbebas dari penjajahan. Paling tidak saat ini, pemuda harus membuat sumpah pada diri sendiri, untuk terus berusaha mengejar cita-cita dan impian.

Baca juga https://liwunfamily.com/2017/10/28/bukan-darimana-kamu-berasal-tetapi-kemana-kamu-melangkah-5t-bagi-remaja/

Advertisements

Mengapa Lampu di Restoran/Kafe Cahayanya Redup Saat Makan Malam?

Ilustrasi.

Saya sering makan malam dengan suami di restoran, kafe atau hotel. Kami biasanya hanya sekedar icip-icip atau memang sedang traveling sehingga tak ada kesempatan memasak. Pernahkah anda mengalami bahwa cahaya restoran itu tidak begitu terang saat kita makan malam? Saya bahkan harus membacanya dengan seksama daftar menu yang diberikan pramusaji. Maklum saja cahaya restoran tidak terang benderang untuk membaca. Namun akhirnya saya bertanya sendiri, mengapa ya?

Pencahayaan lampu saat malam hari di kafe atau restoran, rupanya bagian dari kenyamanan. Jadi tidak hanya soal makanan atau interior saja yang menentukan seorang tamu betah di restoran. Rupanya dalam ilmu gastronomy, cahaya ini juga penting dan menjadi bagian yang menentukan kenyamanan pengunjung. Lalu pertanyaannya, mengapa saat makan malam di restoran ekslusif cahayanya redup?

Jika makan pagi di restoran atau sarapan di hotel dengan cahaya redup dan tidak terang benderang, tentu saja saya tidak mau. Ya, pagi hari wajar jika kita perlu cahaya yang tinggi intensitasnya yang memicu kita bersemangat sepanjang hari. Cahaya rupanya memicu hormon. Cahaya di pagi hari saat sarapan membantu kita juga menikmati warna-warni sarapan sambil membaca koran atau membalas email. Semua perlu cahaya terang di pagi hari. Sebaliknya saat malam hari, tidak diperlukan cahaya yang terang karena membentuk keintiman suasana dan membuat tamu lebih rileks. Ini yang saya temukan saat kami makan malam di teras taman dengan cahaya seadanya dan lilin di meja. Hmm, suasananya jadi romantis ‘kan.

Pemasangan cahaya di restoran atau tempat makan ada tujuan. Itu pernyataan teman saya sebagai pemilik restoran ekslusif yang menyajikan makanan mewah ala Italia atau Perancis di sini. Dia sendiri membuka restorannya hanya setiap Selasa hingga Sabtu dari jam 18.00 hingga 23.30 waktu Jerman, kecuali hari Jumat dan Sabtu, restoran buka juga jam 11.00 hingga 14.00. Dengan jam operasionalnya lebih banyak di malam hari, tentu cahaya memberikan pengaruh dalam memulai usaha bisnis restorannya. Menurutnya, pemilihan cahaya disesuaikan dengan penataan restoran yang baik sehingga tamu tidak bosan dan sering datang ke restoran. Juga cahaya lampu berpengaruh membuat warna makanan menarik atau tidak menarik. Cahaya di restoran atau kafe itu penting.

Cahaya di restoran kala malam hari menurut ahlinya membangkitkan suasana yang hangat bagi para pengunjung. Malam hari identik dengan suhu yang dingin daripada siang. Jadi cahaya yang redup membuat iklim pengunjung lebih hangat dan betah berlama-lama di restoran, ketimbang cahaya yang terang benderang.

Namun ada satu yang perlu diperhatikan saat makan malam di restoran dengan cahaya yang redup. Lagi-lagi para ahli berpendapat bahwa menu yang diperlihatkan ke tamu harus bisa terbaca. Untuk itu bisa saja, diberikan lilin di tengah meja. Atau ada lampu-lampu yang menghiasi sekitar restoran seperti lampu taman bila suasananya outdoor.

Selain itu cahaya dari lampu juga dibuat tidak membosankan. Perlu diatur apakah kontras dengan desain interior restoran? Atau lampu gantung di atas meja apakah desainnya kontras dengan penataan meja dan kursinya?

Hmm, akhirnya sekarang saya paham mengapa lampu di restoran saat makan malam tidak terang benderang. Semoga ulasan di atas bermanfaat!

6 Dilema yang Dihadapi Ibu dalam Pemenuhan Gizi Si Kecil

Semua ibu pasti berbahagia melihat tumbuh kembang anaknya yang sehat dan cerdas. Namun bagaimana membuat anak berkembang menjadi yang kita inginkan? Begitu hasil diskusi kami di kelas dengan latar belakang budaya dan kebangsaan yang berbeda-beda. Ini menjadi topik bahasan menarik, meski tidak semua peserta adalah seorang ibu yang memiliki anak. Lepas dari konteks pengalaman, topik ini menjadi ide menarik untuk ditulis di sini.

Berikut masalah yang dihadapi dalam memenuhi gizi anak.

1. Makanan bergizi itu pasti mahal

Tidak dapat dipungkiri, makanan sehat tentu memerlukan biaya. Misalnya, di banyak negara sudah tersedia makanan berlabelkan BIO dan tentu harganya lebih mahal ketimbang produk biasa. Produk bahan pangan BIO memiliki kelebihan pada proses pengolahannya yang sesuai standar ekologi, baik tumbuhan maupun hewan.

Masalahnya adalah saat menyediakan makanan bergizi untuk anak, kita terbentur oleh dana dan anggaran keluarga. Jika keluarga tergolong menengah ke atas, persoalan harga makanan tak masalah. Namun bagaimana jika suatu keluarga yang hidupnya pas-pasan dan harus memikirkan makanan bergizi untuk anak. Rasanya ini bisa jadi dilema seorang ibu.

Solusinya:

Ibu bisa membeli stok makanan dalam jumlah banyak karena harganya jadi lebih murah. Selain itu, kurangi jajan si kecil di luar rumah dan membuat sendiri jajanan di rumah sehingga pengeluaran bisa digunakan untuk membeli bahan makanan yang baik.

2. Makanan bergizi untuk anak itu perlu waktu banyak

Menyiapkan makanan untuk buah hati kebanyakan diletakkan pada peran ibu. Masalahnya tidak semua ibu punya cukup waktu lowong melakukan itu. Hal ini diketahui dari pengalaman seorang ibu yang memerlukan waktu untuk mengolah makanan si kecil. Alhasil sebagian ibu merasa mengeluh repot dan tak punya banyak waktu. Sebagian ibu lainnya mengaku sibuk bekerja sehingga tidak begitu banyak waktu menyiapkan makanan dan bekal anak ke sekolah.

Solusinya

Sebetulnya ini soal membagi waktu. Jika ibu bisa membagi waktu dengan baik, menyiapkan makanan bergizi untuk si kecil maka rutinitas akan menjadi kebiasaan. Dijamin tak perlu waktu lama untuk menyiapkannya.

3. Makanan bergizi untuk anak itu perlu kreasi ibu

Satu yang disepakati bersama bahwa gizi anak ditentukan dari kreasi ibu sehingga menjadikan anak tumbuh sehat dan cerdas. Banyak ibu mengeluh bagaimana membuat makanan sehari-hari untuk anak dan bergizi pula. Ini bukan perkara yang mudah. Kehadiran kelompok ibu-ibu yang berbagi cerita soal menu anak sehari-hari rupanya tidak cukup membantu ibu berkreasi. Meski gizi anak juga ditentukan oleh ayah, anggota keluarga lain dan juga sekolah misalnya, namun menjadi seorang ibu yang mengkreasikan makanan bergizi setiap hari bukan perkara mudah.

Solusinya

Perbanyak pencarian menu baru yang cocok untuk anak lewat mesin pencari di internet atau majalah. Dengan begitu, ibu bisa punya banyak pilihan kreasi.

4. Diperlukan pengetahuan ibu dalam mengelola kebutuhan gizi anak

Begitu luar biasanya peran ibu bagi tumbuh kembang anak. Anak yang sehat dan cerdas adalah dambaan setiap ibu. Salah satu faktor pendukungnya adalah asupan gizi yang perlu diberikan kepada si kecil. Jangan sampai ibu tidak tahu bahwa si anak sudah mengalami obesitas atau kelebihan kadar gula misalnya. Seorang ibu harus memperhatikan perkembangan anaknya agar tetap terjamin gizinya.

Solusinya

Berkonsultasilah pada ahlinya untuk mengetahui perkembangan si kecil. Cari tahu juga apa yang terbaik dan bisa diberikan untuk si kecil sebagai nutrisi terbaik. Jangan sungkan atau malu bertanya demi pemenuhan gizi si kecil!

5. Kemampuan ibu atasi anak yang picky eater

Lagi-lagi tugas ibu dalam menyiapkan gizi anak dihadapkan pada karakter anak yang susah makan dan pemilih. Jangankan makanan bergizi, apa pun makanan yang dibuat ibu menjadi masalah bagi si anak yang adalah picky eater. Anak yang demikian memang cenderung sulit untuk menerima apa pun yang disantapnya. Tak jarang ibu perlu banyak siasat agar anak mau makan.

Solusinya

Ibu bisa membuat kreasi makanan berdasarkan kesukaan si kecil misal makanan dibentuk tokoh kartun. Ajak anak untuk memilih makanan saat berbelanja sehingga menjadi pengalaman menyenangkan untuknya. Hal menarik lainnya juga, ibu bisa ajak anak mengolah masakan sehingga anak bisa menikmati hasil buatannya.

6. Mengontrol junk foods dan makanan instan

Di era yang super canggih sekarang ini begitu mudah kita mendapatkan makanan yang kita inginkan. Persoalannya apakah makanan itu sesuai dengan gizi dan pemenuhan nutrisi anak? Hal ini menjadi dilema manakala ibu repot dan tak punya banyak waktu. Atau anak ingin mencoba makanan yang sedang dikonsumsi ibu atau orang lain padahal makanan yang sedang dikonsumi tak baik untuk anak.

Solusinya

Ibu bisa memberi penjelasan yang baik agar anak mudah memahami mana yang baik untuknya. Ibu bisa membuat visualisasi yang menarik bahwa makanan tersebut hanya untuk orang dewasa saja misalnya. Buat dialog yang ringan agar anak mengerti mana yang baik untuk dikonsumsinya.

Kesimpulan

Semua kembali kepada pengalaman masing-masing ibu dalam mengelola dan menyediakan pangan pada anaknya. Pastinya ibu yang paling tahu, usaha terbaik yang sudah dilakukannya agar anak tumbuh seperti dambaannya.

Apa Pentingnya Musik Latarbelakang Sih?

Jika anda berada di lobby hotel berbintang dan eksklusif, sayup-sayup telinga anda tentu mendengar musik instrumen. Pengalaman lain, saat anda sedang makan di suatu restoran tertentu, bisa jadi telinga anda mendengarkan musik instrumen. Atau, saat anda berbelanja di gerai pusat perbelanjaan maka anda bisa juga mendengarkan alunan musik. Semua musik di tiga tempat itu mungkin bukan musik keras, nyaring atau mengganggu sehingga musik demikian yang saya maksud adalah background music.

Pernahkah anda menyimak mengapa perlu diperdengarkan musik latarbelakang? Atau apa sih fungsi dan pentingnya musik demikian dalam kehidupan?

Percaya atau tidak, musik latar belakang ditempatkan di restoran agar tamu bisa menikmati sajian dan suasana dengan baik. Di supermarket rupanya membantu pengunjung memilih barang yang dibeli serta membuat pengunjung betah berlama-lama di situ. Itu mungkin yang jadi alasan ditempatkannya musik latar belakang di supermarket.

Namun mengapa musik latarbelakang tidak pernah dipasang di sekolah?

Sebuah studi menunjukkan bahwa musik latarbelakang tidak tepat dipasang di sekolah. Hal ini disebabkan membuat performa siswa menurun. Itu sebab tak baik memasang musik latarbelakang di lembaga pendidikan.

Berbeda dengan penempatan musik latarbelakang di kantor, justru dapat memicu dan meningkatkan produktivitas karyawannya. Namun musik latarbelakang yang dipilih di lingkungan kerja berdasarkan studi ini adalah musik instrumen tanpa lirik. Pasalnya musik dengan lirik cenderung mengurangi atensi dan kinerja karyawan.

Lalu apa pentingnya sih musik latar belakang? Bahkan musik latar belakang juga kerap dijumpai di film-film.

Musik latarbelakang tidak sekedar asal pilih, tentu disesuaikan dengan situasi tempat misalnya. Musik yang dipilih di supermarket atau pusat perbelanjaan tentu punya tempo yang relevan dengan suasana emosional pembeli. Pembeli bisa betah berlama-lama mencari barang yang ingin dibeli. Begitu pun musik latarbelakang di film bermakna untuk mendukung situasi film yang dilihat penonton.

So, ini menjadi menarik diulas manakala saya sedang berkunjung ke dua dokter gigi yang berbeda. Dokter gigi pertama menayangkan musik instrumen bahkan beliau menawarkan musik apa yang saya sukai dari daftar judul penyanyi yang dipunyai. Sementara gigi saya mengalami perawatan, saya benar-benar merasa rileks dan tidak menyadari rasa sakit.

Di lain dokter gigi, saya mengalami hal berbeda. Saya mendengarkan siaran radio selama pemeriksaan gigi. Sepertinya ini bukan ide yang baik. Tahu sendiri ‘kan radio? Ada berita atau terkadang ada musik yang punya beat keras dan tempo cepat. Itu membuat saya tidak nyaman dengan pemeriksaan gigi yang dilakukan dokter kedua.

Dari kedua kejadian di praktek dokter gigi, saya hanya menyarankan betapa besar pengaruh musik latarbelakang dalam menciptakan suasana emosional pendengarnya.

Anda sendiri bagaimana?

Mau Ke Toilet? Orang India Tunjuk Jari Kelingking

I had known some friends who come from Southeast Asia such as India, Pakistan and Bangladesh. They are very nice friends. The attractive point which is shared about their gesture to show off little finger when they want to pee. I’d like to discuss about it with them.

When I was a kid, I showed off my little fingers to friends as a way forgiving our little mistakes. This is simple due to we didn’t know how to say appologize in childhood.

Another idea about little fingers in India, they believe all fingers are relevance with Greek philosophy as the same as Panchamahabutha. A little finger is meant water. In related with this element, they show theirs. Good to know:)

***

Tiap negara punya adab kebiasaan masing-masing. Begitu pun soal kebiasaan “urusan ke belakang” alias pergi ke toilet. Sebagai orang yang belajar perilaku, ilmu psikologi plus komunikasi maka saya senang mengamati dan bila perlu bertanya. Soal urusan pamit ijin “ke belakang” ternyata ini menjadi hal yang khas dan mungkin bisa dibagikan untuk diketahui bersama.

Saat saya belajar budaya dan bahasa Jerman, saya juga belajar bagaimana berbicara sopan untuk ijin ke toilet. Meski terkesan sepele, namun ini juga bagian dari tata krama. Tak mungkin sedang sibuk pembelajaran di kelas, saya langsung angkat tangan pakai bahasa Indonesia. Ada juga sih teman-teman lain berpendapat, cukup mengatakan kepada si pengajar ada kata toiletnya maka dia sudah mengerti. Namun lebih sopan jika kita bisa berkata “ich muss mall” yang diterjemahkan bebasnya saya pamit ada keperluan.

Namun dibalik itu semua, beberapa kenalan dari India, Pakistan dan Bangladesh di sini mengungkapkan dengan cara yang unik. Mereka menunjukkan jari kelingking, terkadang sambil berkata “ich muss jetzt gehen” yang diterjemahkan bahwa saya harus pergi sekarang. Awalnya saya yang melihat tidak mengerti.

Saya semakin penasaran ketika saya mendapati lagi seorang rekan kerja asal Pakistan. Kebetulan kami bertugas bersama. Tiba-tiba dia pamit pada saya sambil menunjukkan jari kelingking. Saya bertanya “was?” Kemudian dia menyahut lagi “Bitte Anna, ich muss jetzt gehen!” Saya masih bengong, dia pun berlalu dengan cepat.

Selang beberapa menit kemudian dia sudah kembali. Saya bertanya apa maksudnya dia menunjukkan jari kelingking dan pergi. Seingat saya dulu saat masih kanak-kanak, antar teman kita saling menunjukkan jari kelingking kemudian mengkaitkan keduanya. Itu tanda permintaan maaf. Sejak kecil, dalam berteman simbol jari kelingking adalah tanda damai antar teman.

Begitu cerita saya pada rekan saya ini.

Lalu dia menceritakan bahwa sebagian besar masyarakat India memang menggunakan jari kelingking untuk ijin ke toilet. Saya pun penasaran maksudnya.

Jika anda belajar yoga, anda paham bahwa ada lima elemen dalam jari. Ada elemen api, bumi dan seterusnya. Sedangkan jari kelingking merupakan elemen air. Itu sebab mereka menunjukkan jari kelingking yang merujuk pada elemen air, yang berkaitan dengan “urusan ke belakang.” Menarik ya!

Ternyata tak hanya soal elemen air saja, teman lain asal Pakistan berujar bahwa jari kelingking adalah jari paling kecil ketimbang lima jari lainnya. Menunjukkan jari kelingking menggambarkan bahwa ada urusan sebentar atau tak lama yang akan dilakukannya. Ya, “urusan ke belakang” memang tidak perlu waktu lama namun mendesak. Itu menyangkut kebutuhan biologis.

My Yearly Challenge: Daily Post in a Year

Finally I did to accomplish my challenging within a year. Began at September 2017 I posted more than one post every day. Then I gave up. Continued to October I made blogging post twice a day and it had finished on February this year. I thought slowly I was busy so on. On March 2018, I posted a daily blogging. It meant it could be happened when I had spare time every day. At least I thank God to make it true.

In beginning September 2018, I would love to keep my idea that blogging every day is repeated. I know this is not easy, but I do my best.

If it meant to me, it will be.

Thank you for always following and reading my blog. I love my readers.

Best,

Anna

Auf Deutsch

Von September 2017 bis August 2018 musste ich jeden Tag meinen Blog erstellen. Es ist nicht so leicht täglich zu posten denn man muss sich nicht nur ein Thema ausdenken sondern auch darüber im Blog schreiben. Gott sei Dank habe ich jetzt ein Jahr durchgehalten und werde auch weitermachen.

Zur Zeit versuche ich jeden Tag zu bloggen. Wir werden sehen was die Zeit bringt.

Vielen dank für Ihren besuchen

Liebe Grüße,

Anna

dalam Bahasa Indonesia

Saya membuat tantangan pribadi untuk ngeblog tiap hari. Sejak September 2017, suami memfasilitasi dengan bayar hosting kemudian saya memberanikan diri tiap hari ngeblog, bahkan hingga lebih dari lima pos. Pada Oktober 2017 saya rutin hanya dua pos per hari. Hal ini berjalan sampai dengan Februari 2018. Perlahan saya semakin sibuk, hingga akhirnya saya putuskan satu pos tiap hari. Akhir bulan Agustus 2018, genaplah niat saya untuk blog tiap hari. Puji Tuhan saya berhasil meski saya sibuknya minta ampun deh.

Saya akan lanjutkan lagi tantangan ini. Jika ini mungkin, selalu ada jalan untuk melakukannya.

Sekali lagi, terimakasih kepada semua pembaca yang budiman.

Salam,

Anna

5 Alasan Perlu Menggunakan Parfum

Apakah anda suka menggunakan parfum setiap hari? Atau anda lebih memilih menggunakan parfum hanya untuk acara khusus tertentu saja? Atau anda suka memberikan hadiah parfum kepada orang terdekat? Nah pertanyaan terakhir, bisa disimak dalam link bahwa mitos atau fakta tidak memberikan parfum kepada orang terdekat.

Kali ini saya berbicara soal parfum, semacam wewangian untuk tubuh yang punya konsetrat lebih tinggi ketimbang wewangian lain. Wewangian lain misalnya eau de parfum, eau de toillette, eau de cologne dan aneka macam wewangian lain untuk tubuh. Sekali semprot parfum ke bagian tertentu di tubuh, wanginya bisa bertahan lebih lama.

Mengenal berbagai orang dari berbagai negara, saya mengenal berbagai bau badan yang khas dan juga wewangian yang mencolok yang sering dikenakan. Nah, balik ke judul mengapa alasan orang menggunakan parfum.

1. Mengurangi bau badan

Sudah pasti wewangian telah ada sejak jaman dulu. Cleopatra misalnya menggunakan wewangian bunga agar tubuhnya tetap harum. Artinya manusia telah lama mengembangkan cikal bakal wewangian agar dapat mengurangi bau badan. Penggunaan parfum pun dipercaya meningkatkan rasa percaya diri karena hilangnya bau badan. Siapa sih yang bakalan betah berlama-lama dengan orang berbau badan? Tujuan utama penggunaan parfum pasti berkaitan dengan wangi tubuh yang hendak diciptakan.

2. Menunjukkan status sosial

Menurut saya, parfum menunjukkan status sosial. Harga parfum memang lebih mahal ketimbang wewangian lain. Ini sudah membuktikan seberapa wewangian mampu menunjukkan daya beli. Jangan salah juga jika ada parfum kawe! Parfum dengan konsentrat lebih rendah dengan wewangian yang sama, hanya agar bisa dibeli lebih banyak orang. Orang begitu mendambakan wewangian yang memikat dan tahan lama dari merek parfum tertentu, namun tak kuasa membeli harganya. Mereka pengguna parfum yang memikat tentu mampu membelinya. Sudah pasti status sosialnya. Ketimbang mereka yang masih berpikir ulang untuk membeli parfum, karena berpikir belum termasuk kebutuhan.

3. Menunjukkan karakter seseorang

Aneka wangi parfum ditawarkan. Konon karakter parfum yang dipilih pun berkaitan dengan karakter pribadi penggunanya. Itu sebab saat membelikan hadiah parfum pada orang terdekat, kenali dulu karakter orang tersebut agar tidak salah pilih. Misalnya jika selama ini si pengguna parfum condong pada wangi yang lembut, tentu tidak memilih wangi kayu yang kuat. Bahkan memberi parfum pada pria tentu berbeda juga selera dengan perempuan. Parfum untuk pria lebih identik dengan pengalaman keseharian dan emosi yang ditampilkan. Tentu anda tak bisa memberikan wangi parfum buah-buahan atau bunga pada pria. Begitulah, penggunaan parfum sudah menentukan karakter seseorang.

4. Terkesan elegan

Selain fashion, parfum juga menjadi citra yang memunculkan tampilan elegan. Meski cuma sekedar wangi saja yang ditebarkan namun siapa sangka semua mata bisa menoleh karena mencium wangi penggunanya. Jika seseorang sudah susah payah tampil keren dengan busana dan dandanan yang menawan, parfum menjadi pilihan yang tak mungkin terlewatkan. Citra elegan pada parfum ditampilkan berbeda antara pria dan wanita.

5. Sebagai pengingat tentang seseorang

Terakhir nih, alasan pengguna parfum adalah sebagai pengingat untuk orang lain. Ada pepatah bilang “Perfume is the most intense form of memory.” Tuh ‘kan. Tentu anda pernah mengalami mencium wangi parfum lalu pikiran anda melayang pada seseorang yang dikenal dengan wangi yang sama. Ya, siapa sangka citra parfum juga sebagai memori yang tak terlupakan. Begitu kuatnya pesona parfum sampai-sampai si pengguna parfum sudah tidak ada, namun wanginya masih tertinggal. Nah jika anda ingin diingat oleh sekitar anda, penggunaan parfum yang berkualitas bisa jadi pilihan loh.

Dari kelima alasan di atas yang saya sampaikan, kira-kira mana alasan anda menggunakan parfum? Atau anda punya alasan lain yang bisa dibagikan di kolom komentar.

Sudahkah Anda Berlibur Tahun Ini? Ini 8 Alasannya

Semangat hari Senin! Di tengah kesibukan beraktivitas, tunggu! Apakah anda sudah menyempatkan berlibur tahun ini? Maksudnya adalah mengambil cuti sejumlah hari dan pergi meninggalkan aktivitas harian kemudian memilih aktivitas yang menyenangkan diri. Nah, apakah anda sudah melakukannya?

Di sini sebagian besar orang sedang pergi berlibur. Liburan musim panas dan liburan agenda akademik menjadi alasan orang mengambil cuti. Liburan bukan lagi menjadi kebutuhan tersier. Liburan adalah kebutuhan yang penting. Penting untuk diperjuangkan oleh seorang karyawan. Liburan adalah hak karyawan agar performa kerja kembali prima.

Kembali ke judul, berikut alasan pentingnya liburan bagi orang-orang yang bekerja.

1. Meningkatkan keseimbangan hidup

Balance up your life! Hidup itu harus seimbang, ada saat bekerja dan ada saat berlibur. Itu sebab saat benar-benar bekerja, kita memang harus fokus dan bertanggungjawab pada tugas yang diberikan. Begitu pun sebaliknya. Saat memang sedang break liburan, manfaatkan itu dengan tidak pernah menyentuh pekerjaan dan tugas. Totalitas keduanya memang perlu agar hidup ini seimbang.

2. Meningkatkan kesehatan mental

Berbagai studi menyatakan bahwa liburan berdampak pada kesehatan mental. Berlibur tentu memiliki waktu ‘me time’ yang menyenangkan jiwa. Tentu ini mengurangi sakit jantung dimana saat bekerja kita terbiasa mengejar target pekerjaan. Belum lagi saat bekerja, kita punya pola hidup tak sehat seperti tidur larut, kurang tidur, kurang olahraga dan lain sebagainya. Liburan adalah cara mengembalikan semuanya itu.

3. Meningkatkan ikatan batin dalam keluarga

Saat sibuk bekerja, mungkin tak banyak waktu dengan pasangan atau keluarga. Liburan menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi hati ke hati dalam keluarga. Liburan menjadi sarana untuk mendekatkan diri dengan pasangan dan buah hati, yang selama ini terlupakan saat sibuk beraktivitas.

4. Meningkatkan performa kerja usai berlibur

Bahkan seorang boss pun menyarankan karyawannya untuk mengambil waktu berlibur. Alasannya pun penting. Liburan akan membantu si karyawan termotivasi kembali bekerja. Dengan motivasi yang penuh bukan tidak mungkin akan meningkatkan performa yang jadi tuntutan pekerjaan. Memberikan kesempatan karyawan berlibur berarti menghargai hak karyawan untuk memiliki kebutuhan personal.

5. Meningkatkan kreativitas usai liburan

Lain cerita teman saya yang lain, dia memanfaatkan liburan agar bisa mendapatkan banyak insipirasi untuk pekerjaannya. Dia adalah pemilik restoran eksklusif. Dia mengambil dua minggu hingga satu bulan liburan dengan menjalani “wellness urlaub” yakni liburan yang menyehatkan jiwa raga. Dia memilih liburan ekslusif, banyak rileks seperti pijat dan spa. Setelah liburan yang membuat tubuh rileks, dia mengatakan bahwa dia akan menemukan beberapa menu kreativ terbaru yang disajikan di restorannya. Liburan itu bisa membuat orang yang bekerja lebih kreatif karena terinspirasi dengan banyak hal yang dialami saat liburan. Mungkin saat sibuk bekerja, waktunya tak cukup untuk berkreativitas.

6. Mengurangi stress dan ketegangan bekerja

Jika saat berlibur, anda justru mengalami stress dan ketegangan maka bisa jadi anda salah menentukan liburan. Liburan seharusnya membuat diri lebih rileks dan menyenangkan jiwa raga. Jika setiap hari anda berkejar-kejaran dengan waktu dan target maka liburan adalah kesempatan untuk mengurangi itu semua. Dengan begitu tubuh lebih bugar, sehat dan prima. Liburan jadi mood booster sekembalinya bekerja.

7. Meningkatkan kesuksesan dalam karir

Liburan menjadi kesempatan untuk merevitalitas hidup. Bisa jadi liburan memberi energi baru menjadi pribadi yang baru. Sekembalinya dari liburan, pekerja diharapkan lebih produktif dari sebelumnya. Banyak orang terinspirasi liburan saat musim panas atau sekitar pertengahan tahun. Ini menjadi reviu atas karir pekerjaan yang dibuat. Dengan begitu kesempatan liburan menjadi cara meraih sukses hidup.

8. Meningkatkan kebahagiaan hidup

Bagaimana pun bahagia dalam hidup tidak pernah dilupakan. Banyak cara juga menjadi bahagia. Salah satunya memanfaatkan kesempatan liburan untuk tetap berbahagia. Bisa pergi kemana pun yang disuka. Atau melakukan apa pun yang membuat anda bahagia. Itu adalah liburan. Liburan pasti disukai siapa pun, tua, muda dan anak-anak. Karena liburan itu membahagiakan.

Kesimpulan

Demikian delapan alasan yang saya buat menjelang liburan musim panas. Apakah anda punya alasan lain? Liburan itu penting sebagai cara menyeimbangkan beban pekerjaan.

Terkadang Apa yang Ditakuti Adalah Apa yang Harus Dihadapi

Suatu kali saya dan seorang teman lain menghadapi satu pekerjaan bersama-sama. Kami berdiskusi mana yang akan dikerjakan oleh siapa. Lalu dia katakan, “Anna, saya tidak akan mengerjakan bagian itu. Saya takut salah.” Saya pun mengangguk. Dan menyahut bahwa saya yang akan mengerjakannya. Dia senang.

Beberapa saat kemudian, team leader kami datang. Langsung kami mulai mengerjakan tugas bersama-sama. Pembagian tugas berubah. Team leader pun membagi tugas. Anda tahu, teman saya mendapatkan bagian pekerjaan yang tidak disukai. Kami berdua saling menatap, seolah memberi tanda bahwa tidak ada yang perlu ditakuti.

Banyak hal dalam perjalanan hidup, saya mengalami bahwa saya tidak ingin menghadapi atau melakukan ini dan itu. Kenyataannya saya malahan menghadapi semua yang menjadi kekhawatiran saya.

Sebagai misal, dahulu saya bukan orang yang pandai berbicara di depan publik. Saya mudah demam panggung. Berbicara di hadapan banyak orang sudah membuat saya gugup. Toh kenyataannya saya dihadapkan pada pekerjaan yang menuntut saya berbicara di depan publik. Bahkan beberapa orang terdekat saya kaget melihat perubahan yang saya alami.

Dulu saya paling takut berpergian seorang diri. Orangtua saya selalu menyertakan asisten rumah tangga atau saudara sepupu beserta saya saat pergi. Mereka begitu mengkhawatirkan saya. Sekarang saya bahkan bisa traveling seorang diri hingga ke Jerman. Bahwa ternyata apa yang menjadi ketakutan justru adalah apa yang harus dijalani.

Dulu saya takut berbicara bahasa Inggris. Bos saya di Indonesia adalah seorang warga negara asing yang serta merta harus berbicara bahasa Inggris. Saya selalu menghindar agar tidak berbicara bahasa Inggris. Siapa sangka lambat laun saya menghadapi situasi dimana setiap saat harus berbicara bahasa Inggris.

Pengalaman hidup mengajarkan bahwa ketakutan terbesar adalah pikiran tidak bisa, pikiran takut salah dan pikiran pesimis negatif yang menjatuhkan. Ketika kita menghadapi dan melakukan apa yang ditakuti justru kita berhasil mengukur potensi diri. Kita bisa sesungguhnya.

Untuk menjadi pribadi yang lebih baik adalah kita bisa menghadapi rasa takut. Bersiaplah bahwa itu akan menjadi kesempatan yang menantang kita keluar dari zona nyaman. Dengan begitu perubahan hidup akan terjadi. Jangan berharap hidup berubah jika kita masih takut dengan ketidakmampuan kita!

Dalam diri setiap orang ada kemampuan “raksasa” atau giant power yang mungkin perlu dibangunkan sewaktu-waktu saat kita takut.

Siapkah anda melakukan hal yang sedang anda takuti?

Selamat berakhir pekan!

Tantangan Apa Saja yang Dihadapi Kerja Multi Bangsa?

Welcome Monday! Let’s talk about working a multicultural environment. As known, I am part of team global now. This post tells regarding my experience what I have learned. Culture, values, language and some aspects can influence to interact each other. Sometimes those factors lead to misunderstandings or tension at workplace. Again I thought every one is unique and be flexible to encounter what differences happened. To be wise is the essential in working within intercultural. I am so proud to know every one from across culture.

Semangat hari Senin! Memulai hari Senin pastinya berbicara soal pekerjaan. Bagaimana jika saya ajak anda berdiskusi soal kerja multi bangsa? Apa itu? Bekerja dengan orang-orang dari berbagai kalangan latar belakang budaya dan kebangsaan.

Bekerja bersama dengan orang-orang berbeda budaya dan kebangsaan bukan hal yang mudah. Namun bukan tidak mungkin pilihan bekerja ini ditekuni akhir-akhir ini. Apalagi di jaman globalisasi dan keterbukaan yang memudahkan orang bermigrasi satu negara ke negara lain.

Jerman adalah negara yang paling banyak diminati pekerja di benua Eropa. Pasalnya upah minumum di sini tertinggi di seluruh Uni Eropa. Jerman juga membuka banyak peluang kerja di sini. Mereka yang tidak punya keterampilan hingga mereka yang ahli sama-sama dihargai. Bahkan mereka yang mau dan tekun belajar sambil bekerja difasilitasi untuk magang.

Tak heran, saya bisa bekerja tidak hanya dengan orang Jerman sendiri. Ada banyak migran dari berbagai negara yang sudah lama menetap dan tinggal di sini. Bekerja dengan orang multi bangsa memiliki kesan tersendiri.

Berikut hasil pengamatan dan pengalaman saya secara subyektif.

1. Tantangan bahasa

Bagaimana pun kemampuan bahasa adalah kunci kita berinteraksi dengan orang lain. Menguasai bahasa Jerman tentu amat disukai saat anda bisa tinggal di Jerman. Seberapa pun lancarnya bahasa Inggris anda, namun jika tidak bisa bahasa Jerman bukan merupakan suatu keunggulan. Beberapa teman mahasiswa yang mengambil jurusan menggunakan bahasa Inggris dan belum lancar bahasa Jerman sering kesulitan saat di dunia kerja. Mereka kerap salah paham dengan instruksi.

“Ini Jerman bung!” Sebaiknya gunakan bahasa Jerman meski bahasa asing lainnya dikuasai dengan baik. Sebagai mahasiswa yang bekerja paruh waktu, bukan tidak mungkin pilihan ini diambil. Kata teman saya, bekerja paruh waktu bukan masalah uang yang diperoleh tetapi mereka dapat lebih mudah praktik berbahasa Jerman.

Alasan teman saya tadi ada benarnya juga. Seorang teman, dosen bahasa Italia bercerita bahwa dia mengambil pekerjaan tambahan bersama saya karena sudah tiga kali gagal ujian B1, tingkat kemampuan bahasa Jerman yang disyaratkan jika ingin menetap di Jerman. Atas saran temannya, dia bekerja paruh waktu. Katanya, bekerja menjadi kesempatan praktik berbahasa Jerman.

Belum lagi saya yang sedang belajar bahasa Jerman baku dan benar dihadapkan dengan orang-orang yang terkadang berbahasa lokal, Boarisch. Ini semacam dialek dan bahasa lokal yang banyak digunakan masyarakat Bavaria umumnya. Bukan tidak mungkin, saya dan beberapa pendatang yang tidak paham kerap bertanya untuk memahami.

2. Tantangan budaya

Budaya dalam bekerja ada macam-macam. Katakanlah di Jerman dikenal dengan budaya dispilin waktu dan tertib saat bekerja. Jangan pernah terlambat saat bekerja! Anda pasti sudah tahu konsekuensi bekerja bila datang terlambat.

Budaya lain misalnya tidak menggunakan telepon untuk kepentingan pribadi saat bekerja. Beberapa kali teman saya mendapatkan peringatan karena berinteraksi dengan telepon genggamnya. Budaya tidak mengobrol saat bekerja. Orang Jerman senang bekerja dalam sunyi. Ada saatnya kita berbicara dan ada saatnya bekerja. Mereka tidak begitu sering menyelenggarakan rapat namun harus ada laporan pekerjaan. Budaya lain pastinya ada saja dan banyak tentunya.

Bagaimana pun budaya menjadi tantangan saat kita bekerja dengan orang multi bangsa. Karena sudah terbiasa, budaya tersebut pun membentuk jadi kebiasaan. Ada banyak migran yang sudah sekian tahun tinggal di sini. Mereka jadi paham dengan budaya dan tradisi di sini. Misalnya, mereka tidak suka mencampuradukkan urusan pribadi dengan urusan kerja.

Budaya komunikasi yang direct, misalnya. Bos atau team leiter dalam bahasa Jerman akan mengatakan secara langsung jika kita sangat rajin atau punya performa yang luar biasa. Mereka bisa memuji langsung di tempat. Sebaliknya, mereka juga tak segan-segan marah atau menyatakan pendapat ketidaksetujuannya secara langsung, tanpa disembunyikan.

3. Tantangan etos dan mental kerja

Itu sebab Jerman dikenal dengan keunggulan kualitas produknya. Mereka juga dikenal orang yang tekun bekerja. Saya pikir kita sudah sering mendengar etos dan mental kerja orang dari masing-masing negara. Di sini mereka senang jika kita rajin bekerja, bukan pemalas. Bahkan kerja 6-8 jam, pekerja diberi hak istirahat 30 menit. Makan siang pun harus cepat-cepat, tidak ada santai untuk melakukan urusan pribadi. Malah jika sedang sibuk bekerja, tak ada waktu istirahat. Untuk pekerja paruh waktu seperti saya, kita dibayar per jam. Tentu ini yang mempengaruhi seberapa banyak jumlah jam dalam bekerja. Itu yang menentukan upah.

Seberapa pun besar atau kecilnya pekerjaan, harus ada jaminan keselamatan dan kesehatan kerja. Siapa sih yang bisa menjamin jika terjadi kecelakaan kerja. Namun sejauh ini saya dan beberapa rekan kerja mendapati bahwa kita jarang sekali atau bahkan mengeluh tidak masuk kantor karena sakit. Hidup di sini lebih sehat rupanya.

4. Tantangan kepribadian

Terakhir menurut saya, tantangan bekerja multi bangsa adalah kepribadian. Kita menjumpai aneka kepribadian orang dari berbagai latar belakang bangsa dan budaya yang membentuknya. Bukan hal mudah untuk menerima dan bekerja bersama dengan orang multi bangsa. Bisa jadi kita bertemu dengan orang yang sulit, “ajaib” bahkan mungkin tak menarik untuk diajak kerjasama. Akhirnya saya selalu meyakini, setiap orang itu unik.

Kepribadian juga terpancar dari cara mereka berinteraksi dan memperlakukan satu sama lain dalam dunia kerja. Prinsipnya adalah saya harus bisa menghargai karena siapa saya, bukan siapa mereka. Pada akhirnya mereka terkesan dengan saya. Mereka berpendapat orang Asia begitu sopan dan santun dalam bekerja.

Begitulah sekelumit pengalaman bekerja multi bangsa yang saya yakin masih banyak yang harus dijelaskan lebih detil lagi. Namun saya percaya bahwa pengalaman ini menjadikan kita menjadi pribadi yang menarik.

Saat kita bekerja multi bangsa dan kita bekerja dengan baik, mereka bukan mengenal siapa saya. Mereka mengenal darimana saya berasal, negara saya.