“Sindrom Sarang Kosong” Atau Gejala Perkawinan Memasuki Usia Perak yang Jarang Diketahui

Banyak anak yang sudah memasuki usia dewasa tidak mengetahui apa yang terjadi pada orangtua mereka. Fenomena itu memang tidak terjadi pada tiap orangtua, tetapi cerita ini benar didapat dari sebagian kenalan saya di sini. Kemudian ini menjadi bahasan diskusi bagi kami yang menikah dan memikirkan apa yang terjadi sebenarnya.

Silberhochzeitkrise adalah istilah dalam bahasa Jerman. Saya sendiri tidak tahu apa ada padanan katanya dalam bahasa Inggris. ‘Silber‘ merujuk pada kata ‘silver’ atau perkawinan usia perak. ‘Hochzeit‘ adalah masa perkawinan. Dan ‘krise‘ merujuk pada krisis. Jadi istilah ini merujuk pada gejala krisis yang dihadapi pasangan perkawinan menjelang usia perak atau dua puluh lima tahun perkawinan.

Diasumsikan bahwa usia perkawinan dua puluhan dimana anak-anak tidak lagi menjadi fokus utama. Pasangan perkawinan di lima tahun pertama disibukkan dengan penyesuaian karakter dua individu berbeda dalam satu rumah. Kemudian kehadiran buah hati mulai dari mengurus dan membesarkan anak-anak. Lanjut masa perkawinan menginjak tahun ke enam dan selanjutnya hingga suami-isteri dihadapkan pada kesibukan mengurus keperluan anak bersekolah, mencukupi kebutuhan sehari-hari dan seterusnya.

Tentu suami-isteri begitu fokus menjadi ayah-ibu yang baik bagi anak-anak mereka. Namun apa yang terjadi saat anak-anak tumbuh dewasa?

Anak-anak memutuskan pilihan hidupnya seperti kuliah, bekerja dan menemukan pasangan hidup. Anak-anak yang dulu masih begitu diperhatikan kini anak-anak merasa risih dan punya kehidupan sendiri. Anak-anak kini tumbuh menjadi pribadi dewasa dan memilih kehidupan yang mungkin saja terpisah dari kedua orangtua mereka. Anak-anak ingin mandiri. Sementara rumah yang dulu dipenuhi keceriaan anak-anak kini menjadi sepi dan kosong. Itu sebab krisis ini disebut juga “sarang kosong” atau leere nest symptom dalam bahasa Jerman.

Dalam istilah bahasa Inggris, gejala “sarang kosong” dikenal dengan “Empty nest syndrome” dimana gejala-gejala kesepian dan merasa sendiri melanda suami-isteri yang dahulu begitu berbahagia sebagai orangtua. Suami-isteri menjadi kehilangan fokus lagi, manakala dahulu anak-anak menjadi tujuan mereka. Tentu periode ini menjadi tidak mudah dihadapi suami-isteri untuk melakukan penyesuaian tahapan perkawinan mereka yang baru.

Perasaan tidak siap begitu anak beranjak dewasa muda untuk meninggalkan rumah atau rasa sendiri yang berujung pada gejala emosional bahkan hingga depresi karena rumah begitu sepi. Fenomena ini mungkin saja dihadapi suami-isteri yang melewati dua puluhan tahun pernikahan. Ada penelitian yang mengatakan ibu rumah tangga yang menghabiskan sebagian besar waktunya mengurus anak lebih rentan mengalami gejala ini. Namun ternyata tidak juga, ada beberapa kenalan saya yang mengaku justru ayah mereka mendapati gejala ini sehingga perlu konselor perkawinan untuk mengatasinya. Teman saya beralasan bahwa si ayah tak siap menghadapi rasa sepi di rumah apalagi beliau sudah pensiun dan tak sibuk tiap hari seperti dulu saat teman saya ini masih anak-anak.

Bagaimana mengatasinya?

Kami pun berdiskusi tentang hal ini, apalagi perkawinan itu senantiasa harus membahagiakan satu sama lain. Sebagai kenalan, saya hanya menyarankan agar anak tidak melupakan orangtua mereka. Berkunjung ke rumah orangtua atau menyempatkan waktu bersama orangtua adalah cara termudah agar para suami-isteri di periode perkawinan ini tak lagi merasa sepi.

Bukankah membahagiakan orangtua mendapatkan pahala yang berlimpah dari Tuhan?

Kecanggihan teknologi komunikasi pun sekarang hanya selintas dua jari. Anda bisa mengetik pesan via telepon pintar anda atau membuat kontak video dengan orangtua yang membuat mereka pun berbahagia dan tak kesepian. Tetaplah berkomunikasi dengan orangtua seberapa pun jauhnya anda dengan mereka.

Gejala sindrom sarang kosong pastinya terjadi, hanya saja bagaimana suami-isteri bisa bahu membahu untuk mengatasi perasan transisional dan emosional ini bersama-sama. Suami-isteri bekerja sama agar fokus perkawinan yang bahagia tidak berubah seiring waktu.

Selamat berhari Minggu bersama keluarga!

Advertisements

Seimbangkan Hidup itu Perlu, Mengapa?

Memiliki jadwal yang padat dan sibuk sebenarnya sah-sah saja. Ada orang yang terbiasa dengan padat jadwal sementara ada orang yang memang senang santai dan tak menyukai kesibukan. Ada orang yang tekun pada satu hal aktivitas tetapi ada orang yang suka dengan ragam aktivitas yang menyita waktu.

Lantas, anda sendiri termasuk tipe mana?

Akhirnya saya pun terpaksa rehat sejenak karena saya punya aktivitas yang banyak. Rupanya berdiam diri dan istirahat total membantu saya pulih sementara saya sendiri sedang sibuk menyiapkan ujian musim panas dari Universitas. Konsisten menulis blog pun sempat terbengkalai karena saya sedang banyak tugas.

Di tengah padatnya aktivitas, saya pun mendapatkan pencerahan dari salah seorang kenalan di sini. Dia mengajarkan tentang keseimbangan hidup. Menurut guru itu, hidup harus seimbang. Ketika kita hidup seimbang maka kita akan merasakan damai dan harmonis setiap hari. Hidup yang seimbang dapat dirasakan dengan fisik yang sehat bugar dan mental yang bahagia.

Menghabiskan waktu sebagian besar hanya untuk bekerja mencari uang pun tak baik untuk keseimbangan hidup. Saya pernah mengulas berdasarkan studi bahwa bekerja melebihi 55 jam per minggu punya risiko sakit jantung. Cek artikelnya di sini. Bekerja itu juga perlu dikelola seimbang agar tetap sehat dan bahagia. Bukankah bahagia bekerja justru membuat kita lebih kreatif dan produktif?

Jadi, mengapa keseimbangan hidup itu perlu?

Di tengah kecepatan modernitas dunia saat ini, keseimbangan hidup itu ada di tangan anda. Anda ingin berjalan lambat atau cepat. Semua pada pilihan anda. Anda pun juga punya pilihan untuk tetap sehat dan sejahtera asalkan apa yang dijalani itu seimbang.

Mempertahankan hidup yang seimbang itu perlu agar segala yang berjalan pada kita itu tetap stabil. Dengan begitu, gaya hidup yang stabil dan seimbang akan mengurangi risiko penyakit yang menyerang. Penyakit yang dipicu oleh gaya hidup tak sehat bisa anda ketahui sendiri. Gaya hidup sehat disebabkan pola hidup yang seimbang seperti asupan nutrisi, pola tidur, jam kerja dan sebagainya.

Keseimbangan hidup juga membuat kita lebih mensyukuri bahwa segala sesuatu dikerjakan sesuai ukuran dan teratur. Karena bahagia dalam bekerja itu perlu dilakukan, bukan dilupakan. Jika kita memaksa tubuh melakukan yang berlebihan atau serba kekurangan pun akan berdampak tak baik.

Karena hidup yang seimbang membuat kita berlaku sesuai koridor yang berlaku. Hidup yang seimbang itu seperti berjalan secara harmonis untuk mencapai rasa bahagia.

Apakah anda sudah menerapkan keseimbangan hidup?

Nilai Apa yang Anda Perjuangkan dalam Hidup?

Dalam suatu seminar perkuliahan di Jerman si dosen bertanya kepada kami seluruh mahasiswa yang hadir saat itu, termasuk saya. Dia bertanya dalam bahasa Jerman, “Nilai apa yang anda perjuangkan dalam hidup?” dan dia meminta kita memikirkannya. Dia menambahkan nilai itu harus penting dan bisa saja ada dua sampai tiga nilai hidup yang penting.

Kami pun terdiam dan merenungkannya. Saya yang memikirkannya pun ternyata tak mudah juga menjawabnya. Saya merasa semua nilai itu penting. Lalu dosen menghampiri saya dan menguatkan. “Pilihlah nilai itu tidak hanya penting, tetapi juga utama dalam hidup sehingga anda perlu perjuangkan!”

Jika anda seperti saya, apa jawaban anda?

Ada banyak teori tentang nilai dalam hidup. Dan itu semua tidak sama. Misalnya, saya yang berasal dari Asia memandang nilai kebersamaan (collectivisme) itu penting. Saya dan suami suka sekali pakai baju batik seragam saat kami berdua pergi ke gereja waktu kami berada di Indonesia dulu. Saya dan rekan kerja satu tim saat berkantor di Jakarta dulu senang sekali melakukan apa saja bersama-sama. Karena perasaan ‘sense of belonging’ itu penting berdasarkan budaya saya dari Indonesia.

Namun bayangkan saat saya berada di Eropa, nilai ‘kebersamaan’ itu tidak ada. Nilai yang ada adalah nilai kebebasan. Saya dan suami juga merasa aneh juga jika kita mengenakan pakaian seragam bersama-sama. Di sini orang dibiarkan tumbuh sebagai pribadi yang unik. Mungkin saya yang berasal dari Asia memandang ini adalah nilai individualistik atau egoistik. Ternyata salah, nilai ini tumbuh karena kultur.

Perbedaan nilai hidup bisa terjadi karena kultur, pengasuhan orangtua (parenting) dan faktor lain baik internal maupun eksternal.Nilai hidup itu mempengaruhi seberapa besar anda mencapai tujuan hidup.

Ada orang yang menganggap nilai hidup itu adalah nilai kesenangan (joyful) dan kenikmatan tetapi ada orang yang memandang nilai hidup itu pada ranah moral dan etika. Ada orang punya nilai kesederhanaan sudah bahagia, tetapi ada yang justru sebaliknya nilai kekayaan itu jadi tujuan hidup. Ada yang meninggalkan nilai kenikmatan untuk meraih nilai moral tetapi ada pula yang melupakan nilai moral untuk meraih nilai kesenangan.

Nilai lainnya pula bagi orang yang memperjuangkan nilai-nilai politis dalam hidup. Justru sebaliknya ada orang yang memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan humanitas. Kedua nilai ini bisa beriringan pun pula bisa saja berbenturan.

Nilai hidup tiap orang itu tidak sama. Anda sendiri bagaimana?

Belajar dari Anne Frank, Menulis itu Mengenal Diri Sendiri

Apakah anda tahu siapa itu Anne Frank? Saya jadi paham sosok Anne Frank setelah menonton film autobiografi yang ditayangkan di Jerman. Film ini dikisahkan dari buku harian yang ditulis Anne sendiri. Buku harian ini akhirnya menjadi salah satu bukti kekejaman perang yang pernah terjadi di masa lalu. Bahwa perang menjadi tragedi kemanusiaan yang tak akan pernah terlupakan, itu dituliskan dari sudut pandang seorang Anne yang beranjak remaja.

Sosok Anne Frank cukup populer, anda bisa cari lebih lanjut profilnya. Dalam film ada hal menarik yang bisa dipetik sebagai hikmah hobbi saya menulis.

Anne mendapatkan hadiah buku harian saat usiannya beranjak 13 tahun. Usia 13 tahun adalah usia transisi dari kanak-kanak menjadi dewasa. Sebagai remaja yang beranjak dewasa, ia menuliskan berbagai persoalan yang dihadapi umumnya. Misalnya bagaimana perubahan fisiknya yang berubah dan ini ditunjukkan dalam gaya berpakaiannya. Ia meminta saran pada kakak perempuannya bagaimana berpenampilan seperti perempuan dewasa.

Ia menuliskan gejolak remaja lainnya misalnya kala ia jatuh cinta dan memandang harapan pada lawan jenis. Anne juga menceritakan tentang siblings yakni hubungannya dengan kakak perempuannya yang banyak mendukung dan membimbingnya. Bahkan ia juga berselisih paham dengan ibunya, sementara ayahnya dipandang Anne cukup memahami karakter pribadi Anne.

Ini semua menjadi menarik untuk diceritakan kembali ketika Anne menuliskannya dengan baik dalam buku hariannya. Dia menuliskan pula bagaimana selama lebih dari dua tahun hidup dalam ruang kecil dan tersembunyi bersama keluarga lain ketika perang melanda. Namun Anne adalah sosok remaja pada umumnya, yang membuat saya terkenang masa saya beranjak remaja yang penuh tanya dan gejolak perubahan hidup.

Anne berpendapat bahwa menuliskan segalanya di buku harian membuat ia mengenal dirinya sendiri. Hadiah buku harian kala ia berulangtahun ketiga belas tahun rupanya telah memberikan makna bagaimana ia tumbuh secara pribadi dengan karakternya yang unik sebagai perempuan remaja dan sebagai seorang Yahudi waktu itu. Ia menuliskan bagaimana ia kesal ketika seorang ibu yang sama-sama menumpang dalam rumah sempit persembunyian itu membandingkan Anne dengan kakak perempuannya yang punya kepribadian lebih baik.

Melalui buku harian, Anne menuliskan pergumulan masa remaja sebagai hal yang tak mudah dihadapi. Dia juga menolak permintaan ibunya saat dia harus berdoa menurut keyakinannya. Dia juga merasa dirinya itu unik dan tak ingin dibandingkan dengan kakak perempuannya. Ibunya kerap berpendapat bahwa kakaknya yang bernama Margot itu adalah anak perempuan yang baik. Anne menuliskan apa yang dia hadapi sebagai remaja dan seseorang Yahudi yang saat itu terancam karena kondisi perang.

Menurut saya, pesan menarik yang bisa dipetik dari film ini adalah menuliskan jurnal pribadi akan membantu mengenal diri sendiri.

Ini pula yang saya sarankan pada seorang remaja beberapa waktu lalu ketika dia merasa bingung dengan pergumulan hidupnya. Saya memberikannya buku harian agar dia menuliskan apa yang dia alami dan rasakan hanya untuk dirinya sendiri. Dua bulan kemudian dia memberi kabar bahwa saran saya menulis di buku harian itu membantunya untuk mengatasi kegalauan yang dia hadapi.

Menulis itu adalah ekspresi diri dari apa yang anda alami dan rasakan. Simpan itu untuk anda kemudian kelak anda baca bagaimana anda mengalami dan merasakan peristiwa itu. Dan anda akan tahu bahwa menulis itu mengenal diri sendiri.

Bahagia itu “The Way of Life” Bukan Target Hidup

Banyak orang menjadikan kebahagiaan menjadi tujuan utama. Padahal saat mereka berusaha keras mendapatkan kebahagiaan, cara dan kerja mereka itu belum tentu membuat bahagia.

Bahagia itu adalah cara untuk kita hidup, bukan tujuan utama. Seberapa pun harta yang dimiliki, jika seseorang merasa bahagia memilikinya maka tujuan hidupnya akan terasa mudah diraih. Tetapi seseorang memiliki harta dan berusaha keras mengejar kebahagiaan, maka dia mendapati kesia-siaan. Kebahagiaan itu tidak untuk diraih, hanya perlu dialami dan diakui. Apakah saya sudah bahagia?

Bagaimana pun bahagia itu sederhana saja, tetapi target manusia yang disusunnya itu kompleks dan rumit. Dengan begitu, seseorang menjadi frustrasi ketika ia tidak mencapai tujuan dan targetnya. Jika ingin mencapai target dan prioritas hidup, jadikan bahagia itu caranya. Saya punya target untuk memiliki rumah idaman dengan bahagia menjalani pekerjaan sebagai buruh pabrik. Bahagia menjadi buruh pabrik berarti saya bersyukur bangun pagi untuk bekerja, dan seterusnya. Bahagia menciptakan suasana positif.

Mengapa?

Dengan bahagia, kita lebih mudah mendapatkan pengaruh positif. Pikiran yang positif itu tentu mendorong tindakan konstruktif, bukan destruktif. Contohnya, jika kita bisa tetap bahagia saat kalah maka kita bisa memberi ucapan selamat berbahagia kepada lawan. Tetapi bayangkan jika kita tidak bahagia saat kita kalah, maka kita bisa marah-marah, memaki, mengumpat bahkan merusak dan menyerang orang lain.

Seorang peneliti yang menguji dampak kebahagian terhadap kinerja berpendapat bahwa saat kita bahagia, otak kita akan berfungsi maksimal. Di sisi lain, seorang karyawan yang bahagia juga membuat kreatif. Itu sebab saat anda bahagia bekerja maka perusahaan pun puas dengan performa anda. Saya ingat pertanyaan awal saat saya menyelesaikan percobaan kerja (probetag) di Jerman, si supervisor tersebut kerap bertanya “Apakah anda menyukai apa yang anda kerjakan?” Ini penting karena kesukaan itu memicu kebahagiaan.

Begitu besar pengaruh kebahagiaan dalam hidup manusia. Bayangkan jika kita tidak bahagia terhadap apa yang kita jalani, tentu ada kekecewaan dan hal-hal negatif lainnya yang menghinggapi kita.

Bahagia itu HAK setiap orang.

Jika anda belum merasa bahagia, cari dan temukan itu dalam diri sendiri. Kebanyakan orang memaknai bahagia dari luar diri. Padahal jika kita memaknai bahagia dari luar diri sendiri, kita tidak pernah terpuaskan.

Sederhananya, tuliskan satu hal yang membahagiakan saat ini!

Jika sudah, lakukan begitu seterusnya sehingga anda tahu bahwa anda adalah orang yang berbahagia. Ingat bahagia itu tidak perlu besok atau nanti. Bahagia itu kapan saja.

Bahagia itu cara anda memahami rencana Tuhan dalam hidup, seberapa pun sulitnya yang dihadapi.

Tahukah Anda, Apa Kunci Kesuksesan?

Memasuki 608 hari daily blogging, saya sedang berpikir tentang makna kesuksesan. Saya memang belum bisa mengakui bahwa saya adalah blogger yang sukses tetapi saya cukup sukses untuk tidak malas blogging tiap pagi. Dan itu tidak mudah. Begitu pun makna sukses yang sedang saya jalani. Jika anda ingin tahu kunci sukses, pertama-tama temukan apa makna sukses menurut anda?

Saya menemukan kata “sukses” ketika saya memahami apa yang ingin dikerjakan. Jika kita mengerjakan apa yang kita inginkan dengan penuh cinta, itu sudah sukses. Sekecil apa pun tanggungjawab anda saat ini, percayalah suatu saat itu akan menjadi besar. Sukses itu datang dari perkara kecil untuk mendapatkan tanggungjawab besar.

Itu sukses menurut saya, melakukan apa yang dicintai. Karena jika kita melakukannya tanpa cinta maka kita tidak bahagia. Lalu apa kuncinya untuk mendapatkan kesuksesan?

Sukses menurut saya bukan ditentukan oleh bakat apalagi kepintaran. Bahkan bakat dan talenta hanya 10 persen mengisi kesuksesan dan sisanya kerja keras. Sukses juga bukan berarti dipengaruhi oleh kekayaan atau keturunan. Jadi anda tak perlu khawatir bila anda tak kaya, tak pintar atau tak berbakat. Karena kunci sukses bukan itu semua.

Sukses ditentukan dari kegigihan atau dalam bahasa Inggris dikenal persistensi. Saya belajar memahami, ketika seorang atlit sukses menang ternyata disebabkan ia punya daya tahan yang lebih lama dibandingkan atlit yang kalah. Daya tahan juga disamakan dengan kegigihan. Daya tahan yang dimaksudkan kemampuan untuk bertahan lebih lama untuk terus melanjutkan apa yang sudah dimulai. Atlit ini gigih berlatih tak kenal lelah hingga saat pertandingan dimulai, ia tetap bertahan untuk menyelesaikannya. Perkara menang atau kalah, itu adalah hasilnya. Karena mereka yang gigih, buahnya akan diperoleh.

Sukses itu tidak pernah di awal. Sukses itu akan mengikuti jika kita sudah memulainya dengan gigih.

Mereka yang berkarakter gigih atau berdaya juang tinggi adalah mereka yang tidak pernah putus asa, tidak mudah menyerah ketika gagal dan terus bangkit menyelesaikannya. Ini kunci sukses ketika orang berani memulai maka dia pun berani untuk bertahan hingga menyelesaikannya.

Sudah gigihkah saya menyelesaikan apa yang diinginkan untuk sukses?

Mengapa Selalu Ada Orang yang Tidak Menyenangkan di Kantor?

Jika anda adalah orang yang menyenangkan bagi semua orang, saya ucapkan selamat. Namun apa betul semua? Saya yakin pasti ada satu atau beberapa orang yang tidak menyenangkan anda menurut pengalaman anda di tempat bekerja. Meski anda berusaha seoptimal mungkin untuk baik dan menyenangkan pada semua orang, tetapi ada saja cara yang membuat anda tak nyaman dan betah untuk bekerja. Akhirnya, anda bisa menebak sendiri. Jengkel, kesal, marah-marah dan segudang emosi negatif lainnya muncul dalam diri anda. Itu adalah akibat orang yang tidak menyenangkan di tempat anda bekerja.

Dibalik pengalaman dan diskusi bersama kolega kerja di sini yang berasal dari berbagai bangsa, saya jadi paham prinsip “Kita tidak akan pernah bisa menyenangkan tiap orang.” Seberapa pun ahlinya kita untuk menyenangkan orang lain tetapi pasti ditemukan segelintir orang yang memang ditakdirkan untuk tidak menyenangkan di tempat bekerja. Bisa jadi orang yang demikian merasa iri, kebencian yang absurd, dan hal-hal tak masuk akal lainnya sehingga kita tahu bahwa kita memang tidak pernah bisa menyenangkan semua orang.

Ambil hal yang positif dari orang-orang yang tidak menyenangkan tersebut. Bahwa mereka menguji kesabaran dan keteguhan pribadi kita yang baik. Ujian hidup itu tidak datang lewat musibah hidup saja tetapi bisa datang dari mereka yang memang tidak menyenangkan di tempat bekerja. Meski kita sudah berusaha baik dan menyenangkan semua orang, nyatanya ada saja hal-hal tak logis yang membuat kita merasa negatif. Ini semacam racun yang memberi “penyakit” pada anda. Padahal anda harus tetap sehat untuk dapat bekerja. Sabar memang kuncinya untuk menghadapi orang-orang demikian.

Jadikanlah orang yang tidak menyenangkan tersebut berkat dalam hidup anda! Melalui mereka, anda belajar sabar dan teguh hati. Bagaimana pun kita harus tetap bersikap baik pada mereka yang tidak menyenangkan agar mereka tahu bahwa hidup kita tidak dikontrol oleh racun yang mereka sebarkan. Satu-satunya cara untuk mengontrol racun yang mereka sebarkan adalah berdoa. Karena Tuhan tahu yang terbaik untuk anda.

Happy Sunday!

Siap Menang, Belum Tentu Siap Kalah?

Beberapa bulan belakangan berita di tanah air disibukkan dengan perhelatan politik tentang pemilihan umum (pemilu). Berita ini hampir mendominasi lini massa. Saya sendiri sudah mendapatkan surat suara melalui pos dari KJRI di sini. Meski saya tidak berada di Indonesia, tetapi kerap saya masih membaca dan menyimak berita online dari smartphone saya. Bahkan isu ini menjadi perbincangan keluarga sehingga menjadi topik hangat dibicarakan. Itu berarti isu pemilihan umum itu bukan lagi menyimak siapa yang terpilih, tetapi siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Ini mengingatkan saya tentang kalah dan menang dalam hidup. Buku-buku yang dijual di toko buku kebanyakan berisi tentang bagaimana meraih kemenangan, bukan tentang bagaimana menerima kekalahan. Seminar motivasi banyak bercerita bahwa kita harus jadi pemenang, tetapi tidak diajari menyiapkan mental bilamana kalah. Ketika kita kalah, orang-orang sekitar hanya berpesan bahwa kita perlu sabar. Kita tidak diajari bagaimana mengatasi kenyataan saat kalah.

Apa yang terjadi?

Karena sejak berada di sekolah, kita diajari untuk berkompetisi menjadi pemenang, bukan bagaimana pengalaman itu terjadi.

Padahal ada banyak nilai-nilai kehidupan yang dialami seorang anak saat bersekolah, bukan hanya satu nilai kemenangan saja. Itu berarti saat tahap perkembangan moral seorang anak, mereka bisa belajar bahwa kompetisi itu bukan tentang kalah atau menang.

Kompetisi itu bisa berarti hidup itu adil, tidak ada kecurangan. Kompetisi itu berarti menghormati perbedaan, menerima kekalahan atau menghargai proses. Ini mengarahkan seseorang untuk paham bahwa siap menang juga berarti siap kalah.

Ketika seseorang diajari siap mengalami kekalahan, dia akan paham bahwa ada kekecewaan, penyangkalan, frustrasi dan berbagai perasaan negatif lainnya. Lalu orang dewasa sebagai pembimbing seperti guru dan orangtua memberikan pendampingan agar anak bisa mengatasi kekalahan. Ini penting agar anak mengenal aturan yang menilai benar atau salah, bukan tentang kalah atau menang. Harapannya, anak paham siap menang berarti juga siap kalah.

Selamat berhari Minggu bersama keluarga!

Jika Nasi Sudah Jadi Bubur, Begini Menikmatinya!

Penyesalan terbesar apa yang pernah anda alami dalam hidup? Meski setiap orang berpendapat bijak bahwa tidak ada yang perlu disesali dalam hidup, namun kenyataannya kita pasti pernah menyesali sesuatu yang sudah terjadi. Seperti misalnya, mengapa saya tidak menyelesaikan pendidikan hingga tamat? Atau jika dahulu saya tidak berkata demikian, mungkin sekarang dia masih di sini bersama saya. Dan masih banyak lagi penyesalan yang mungkin saya dan anda alami.

Lalu apa selanjutnya?

Datang ke Jerman, saya tidak punya bekal memasak apa pun. Suatu saat saya harus tahu bagaimana memasak sebagai kebutuhan utama. Saya tidak mungkin makan di luar rumah saban hari. Hal pertama yang saya pelajari adalah memasak nasi tanpa rice cooker. Saya tidak tahu bagaimana memasak nasi tanpa alat itu. Saya belajar memasak nasi, yang ternyata malah membuat nasi menjadi bubur. Rupanya air yang saya berikan lebih banyak ketimbang beras yang saya masukkan. Saya menyesal bahwa nasi benar-benar sudah menjadi bubur. Saya terbiasa memasak nasi dengan rice cooker sehingga ketika saya tidak memilikinya maka saya tidak tahu bagaimana memasak yang benar.

Berhubung saya adalah mahasiswa waktu itu dan belum menikah, hal yang saya pikirkan adalah bagaimana menikmati nasi yang sudah jadi bubur untuk tetap enak. Saya pikir itu pasti tidak mudah. Saya menyesal mengapa saya tidak belajar dari dulu memasak nasi tanpa rice cooker. Atau saya seharusnya mencari tahu dulu bagaimana memasak nasi tanpa rice cooker. Atau saya sebaiknya sudah membawa rice cooker dari Indonesia. Dan seterusnya muncul penyesalan yang saya ingat ternyata bubur tak seenak nasi saat saya makan.

Dalam jurnal psikologi yang saya temukan, ada pendapat dari studi yang dilakukan Beike dkk (2009) tentang penyesalan. Menurut beliau, penyesalan terjadi ketika orang belum ingin mengakhiri sesuatu yang sudah terjadi, bahkan mereka yang menyesal adalah mereka yang tidak bisa memahami sesuatu sudah terjadi. Itu sebab mereka menyesal.

Jika “nasi sudah menjadi bubur” maka berikut cara yang bisa dilakukan:

1. Terima

Ada satu hal yang tidak bisa didapatkan kembali dalam hidup. Itu adalah waktu. Kita tidak bisa mengulang sesuatu yang sudah terjadi. Kita yang sudah melakukannya, tidak mungkin mengulang hal yang sama dalam dua kali. Waktu itu cuma terjadi satu kali. Mereka yang menyesal adalah mereka yang tidak menerima keadaan itu sudah berlalu.

Saya ingin membuat nasi, apa daya air yang saya berikan begitu banyak sehingga yang saya dapatkan bubur. Menyesal, tentu. Sedih, pasti. Kecewa, wajar. Tetapi saya harus menerima apa yang sudah di depan mata. Apa itu? KENYATAAN. Meski kenyataan itu pahit dan tidak sesuai harapan, tetapi itu semua sudah berlalu. Terima kenyataan sebagai bagian dari hidup ini.

2. Tambahkan “bumbu” agar lebih enak

Jika saya mendapatkan bubur, tentu rasanya tidak sesuai harapan. Awalnya saya ingin makan nasi putih dan ayam goreng. Kenyataan, saya mendapatkan bubur. Saya tambahkan kaldu ayam di bubur, masukkan kecap asin, bawang goreng dan kemudian saya suwir-suwir ayam gorengnya. Jadilah bubur ayam! Meski saya tidak begitu suka dengan bubur ayam buatan saya, tetapi saya harus makan agar tidak sakit.

Dalam hidup, kenyataan terjadi sebagian besar di luar rencana kita. Bawa payung, ternyata sepanjang hari tidak hujan. Belajar sungguh-sunguh nilai yang didapat justru jelek. Berniat berbuat baik, malah disangka melecehkan. Ingin membantu seseorang justru difitnah. Berdoa supaya ujian tertulis dimudahkan, ternyata soal ujian begitu sulit. Dan seterusnya berbagai hal yang terjadi kebalikan dari harapan. Berpikirlah kreatif untuk memberi “bumbu” dari hal yang terjadi. Meski kita tidak benar-benar menyukai apa yang sudah terjadi, tetapi “bumbu” itu membuat kita merasa lebih baik tentunya.

3. Nikmati

Menikmati bubur ayam yang tidak sesuai harapan memang bukan hal yang mudah. Namun saya harus makan dan menikmatinya sebagai makan siang saya saat itu. Kata ibu saya, menikmati itu adalah “nrimo” . Menikmati itu tanpa syarat. Titik. Apa adanya. Itu kuncinya.

Jika sesuatu yang sudah berlalu itu bisa anda nikmati sebagai bagian dari kenyataan hidup maka semua itu terasa mudah. Menangis tidak akan mengubah keadaan. Meratapi tidak akan memundurkan waktu. Jadi menikmati itu seperti anak kecil, tanpa beban dan tanpa syarat.

4. Pengalaman, bukan PENYESALAN

Semula saya tidak tahu memasak baik nasi tanpa rice cooker maupun bubur ayam. Kini saya mengetahui bagaimana memasak keduanya dengan baik. Apa yang terjadi adalah pengalaman berharga. Saya tidak mungkin mengalaminya dua kali. Semua terjadi hanya satu kali. Itu yang disebut pengalaman.

Begitulah penyesalan selalu datang di belakang. Namun anda dan saya punya waktu sekarang dan masa depan. Tidak lagi melihat ke belakang sebagai penyesalan tetapi PENGALAMAN. Dengan begitu, kita punya kesempatan untuk belajar sesuatu hal. Bukankah hidup itu adalah pelajaran tanpa henti?

Belajarlah Sering Agar Berfungsi!

Apakah anda percaya bahwa otak akan tumpul bila tidak sering dipergunakan? Itu pertanyaan saya pada ayah saya saat saya berumur 10 tahun. Lalu ayah saya menjawab dengan suatu perumpamaan yang membuat saya percaya bahwa itu bisa terjadi. Maklum logika berpikir seorang anak yang saat itu bertanya, mengapa saya perlu belajar setiap hari.

Saya diminta ibu membantu memasak di dapur. Kebetulan saya sudah selesai ujian sekolah. Kata ibu, membantunya memasak akan menjadi ide menarik untuk melepas ketegangan setelah ujian sekolah. Saya menyanggupi karena saya senang memasak, memotong bahan makanan dan mencampur-adukkan semua bahan kemudian puas melihat reaksi senang dari orang yang memakan masakan saya dan ibu. Ibu tahu bagian pekerjaan saya adalah memotong bahan masakan. Jadi dia memberikan semua sayuran yang hendak dimasak, termasuk bawang dan cabai.

Saat saya hendak memotong sayuran, tiba-tiba pisau yang saya gunakan tak berfungsi dengan baik. Padahal pisau ini tampak berkilau tajam, baru namun kok tidak bisa memotong dengan baik. Saya heran. Berulangkali saya mencoba maka hasil potongan sayur tak indah. Saya mengeluh pada ibu. Ibu meminta saya bertanya pada ayah saya. Rupanya ayah baru saja mengganti pisau di dapur dengan pisau baru yang sedang saya pakai.

Saya menghampiri ayah saya dan meminta bantuannya, kalau dia bisa membuat pisau baru ini lebih tajam. Ayah saya yang mendengar saya tersenyum. Dia mengambil pisau tersebut dan mengatakan bahwa pisau ini adalah pisau lama namun pisau ini tak pernah digunakan. Pisau ini menjadi jawaban ayah saya, mengapa kita perlu belajar setiap hari? Akan lebih mudah mengajari saya sebagai seorang anak kala itu menjawab pertanyaan saya.

Ibarat pisau yang seharusnya berfungsi baik untuk memotong, namun bila pisau tidak sering dipergunakan, tidak pernah dipakai dan hanya disimpan saja maka pisau pun tak berfungsi. Demikianlah kita yang diberi akal budi. Ini akan berfungsi baik bilamana kita sering menggunakannya. Kata ayah sekali lagi, “Belajarlah sering agar berfungsi!”

Perumpamaan yang diberikan ayah saya menjadi ingatan baik untuk saya agar tak pernah berhenti belajar. Seberapa cerdasnya saya tetapi jika saya berhenti belajar maka saya tak ada gunanya lagi. Alam dan kehidupan adalah gudang ilmu.

Dalam ilmu psikologi, belajar sering didefinisikan sebagai perubahan perilaku yang relatif bertahan lama dan merupakan hasil pengalaman. Belajar tidak hanya mempertimbangkan pendidikan formal yang terjadi selama masa kanak-kanak dan dewasa awal, tetapi belajar sebenarnya adalah proses berkelanjutan yang terjadi di seluruh kehidupan. Jadi, belajarlah sesering mungkin agar kita berfungsi.

Tak ada kata tua untuk belajar maka belajarlah sering dan berkelanjutan.