Orang Optimis vs Orang Pesimis. Pilih Mana?

img_20160218_220341_809.jpg
Orang Optimis adalah mereka yang tak peduli risiko di depannya. Orang pesimis adalah mereka yang peduli risiko tanpa pernah memulainya. Dokumen pribadi.

Benar, jika pepatah mengatakan bahwa orang optimis selalu melihat masalah sebagai kesempatan sedangkan orang pesimis akan melihat masalah sebagai hambatan. Lalu apa bedanya kedua sifat orang ini? Selain, perbedaan sudut padang kedua orang tipe ini, mereka juga berbeda dalam cara mengatasi suatu masalah.

Menjadi orang optimis akan melihat lubang untuk dilewati sedangkan orang pesimis akan melihat lubang untuk ditangisi dan ditakuti. Tak semua orang sempurna, hingga orang menjadi orang super optimis. Namun, sebagai makhluk yang memiliki akal budi, manusia mengetahui bagaimana sikap yang harus dilakukan saat harus melewati masalah. Jika Burung dapat terbang, katak dapat melompat, ikan dapat berenang maka manusia dapat berpikir apa yang bisa dilakukan dalam hidupnya. Itulah manusia.

Kecenderungan orang untuk malas berpikir, ingin serba instan, mau tahu beres, tak sabar menunggu proses dan tak suka berbasa-basi mungkin adalah tipe orang pesimis. Jika pemandangan yang dilihatnya membosankan hanya melulu gunung, sawah dan pemandangan menjulang hijau, apa yang terbayang dalam benaknya, adalah ingin cepat sampai, mudah meremehkan, dsb, yang jauh membuat perasaan menjadi tak nyaman. Jika orang pesimis ditanya, ia akan menggambarkan apa yang diperolehnya. Itulah tipenya. Mungkin hanya memikirkan pikiran dan perasaannya sendiri.

Bagaimana dengan orang optimis? Jika pemandangan yang disungguhkan sama, maka jawaban orang optimis lebih menekankan kekaguman, rasa syukur, keindahan dan perasaan menyenangkan atas apa yang dilihatnya. Waktu akan terasa berharga bagi orang optimis. Karena apa yang ditekankan oleh orang optmis lebih pada apa yang bisa saya pelajari dari apa yang ditawarkan pada saya.

Apa beda kedua tipe orang ini? Orang pesimis cenderung untuk melihat keuntungan apa yang dapat saya peroleh, sehingga lebih pada menguntungkan diri sendiri. Sedangkan orang optimis cenderung untuk melihat apa yang bisa saya pelajari. Begitulah, keduanya hampir sama namun bisa jadi orang dihadapkan untuk menjadi pesimis dan atau optimis sekaligus, tergantung bagaimana kondisinya.

Apa yang saya jabarkan hanya sekedar wacana bukan teori, sekedar berbagi dan mengalami bahwa hidup tak melulu berpihak pada satu tipe saja. Ada kalanya menjadi orang pesimis diperlukan agar kita mewaspadai hidup ini, namun tidak bersikap ekstrim dan cukup menggangu. Sedangkan orang optimis, terkadang lupa bahwa dalam hidup ada orang sekitar yang mungkin memiliki kodrat tingkat ketakutan yang berbeda, daya juang yang berbeda atau karakter pribadi yang memang telah dibentuk sejak kecil sedemikian rupa oleh pengasuhan dan pengalaman hidupnya.

Sebaiknya, menjadi orang optimis mengajarkan kepada kita untuk bersikap dinamis. Hidup selalu berubah, ada kalanya mundur atau maju namun tak pernah diam di tempat. Oleh karena itu, orang optimis harus melihat peluang dalam setiap masalah sebagai kesempatan yang harus diraih. Optimis melatih otak kita untuk berpikir setingkat lebih maju dibandingkan mengurungkan pikiran negatif yang membebani hidup lebih buruk lagi.

Apa pun yang terjadi dalam hidup, hendaklah kita selalu menyadari buat apa bersusah hati untuk memikirkan kesusahan atau masalah, toh setiap orang memiliki masalah juga dengan tingkat dan kadar yang sesuai dengan dirinya. Menjadi orang optimis membuat kita lebih kuat dalam menghadapi hidup.

Semangat menjadi orang optimis!

Katak Belajar Keluar Kotak

wp-image--1043924362

Suatu kali, saya menemukan seekor katak dalam kamar hotel dimana saya sedang menginap. Saya paling takut dengan binatang apapun jenisnya. Meski tidak sampai phobia tetapi reaksi spontan saya menghindar, berlari, mencari sesuatu untuk mengusirnya atau mencari bantuan untuk mengeluarkannya. Intinya, saya tidak ingin bersama binatang itu. Segala cara saya coba lakukan, sayangnya saya tidak bisa mengusir katak itu dalam kamar saya. Oh ya, saya belum juga bisa membedakan apakah itu katak atau kodok. Kata para ahli, kodok dan katak itu berbeda. Yang jelas saya hanya menemukan seekor binatang yang suka melompat dengan kedua kaki di belakangnya.

Saya putar otak untuk mengusir katak ini dari kamar saya, tetapi tidak bisa. Jika saya pukul dan membunuhnya, saya tak bisa. Lantas, saya melirik di sekitar meja ada sebuah tempat sampah dengan tinggi sekitar 40 cm, berbentuk kotak. Saya ambil dan saya tutupi katak itu dengan kotak sampah. Saya berpikir, saya akan terselamatkan karena katak tidak akan menggoda saya saat berada di kamar.

Dengan bernapas lega, saya berhasil memasukkan binatang yang membuat saya tak bisa tidur itu ke dalam sebuah kotak.

Apa yang saya perhatikan sekarang adalah seekor katak dalam sebuah tempat sampah yang sedang berusaha melompati bibir tempat sampah, agar bisa keluar. Sedih sebenarnya. Saya akui saya bukan orang jahat yang suka menyiksa tetapi saya pun takut jika hanya karena katak, besok saya jadi tidak nyaman dan kurang tidur.

Katak adalah binatang yang dikenal pandai dalam melompat. Toh, saat ia terkurung dalam sebuah kotak, ia tetap harus berpikir bagaimana keahliannya dapat digunakan untuk keluar dari masalahnya.

Karena saya prihatin terhadap katak dan terhadap diri saya yang takut akan katak. Saya pun memutuskan untuk tidur dan membiarkan katak terkurung dalam kotak tersebut.

Saya menginap di hotel tersebut selama tiga malam empat hari. Saya berpikir terselamatkan untuk tidur malam kedua tanpa gangguan katak. Terus terang, meski katak hanya sekedar melompat, namun entah mengapa sugesti yang tidak baik kerap menghantui saya. Daripada tidak tidur, toh saya memutuskan untuk menyelamatkan diri dengan menaruh katak dalam tempat yang aman, tersembunyi dan tidak bisa keluar.

Malam kedua, saya berhasil tidur dengan nyaman. Agar memastikan kondisi si katak, saya pun melongok ke dalam kotak sampah. Saya masih melihat katak masih berjuang untuk keluar dan mencapai bibir kotak sampah. Miris memang. Binatang yang lihai dalam melompat, dikalahkan oleh sekotak sampah. Lebih tepatnya terkungkung dalam sebuah kotak.

Saya pun merenung. Dalam hidup, kita memiliki keahlian dan kompetensi yang cukup dikenal dan dibanggakan. Namun sayangnya, saat kita masuk dalam sebuah ‘Kotak sampah’ kita terkungkung, dan tak bisa keluar. Kita diam dalam ‘Kotak Sampah’ dan tak bisa berkutik apa-apa.

“Kotak sampah” menjadi masalah kita. “Kotak sampah” ibarat pikiran. “Kotak sampah” ibarat hambatan. Ada banyak umpama yang bisa kita andaikan dengan “Kotak sampah” namun yang jelas. “Kotak sampah” membuat kita terpasung, tak bisa bergerak, mengeluarkan diri atau menggali potensi kita.

Karena penasaran, saya pun memegang bibir tempat sampah tersebut. Mungkin, katak telah mengukur potensi lompatannya, setelah semalaman dikurung. Mungkin, katak telah mengetahui apa yang menjadi hambatannya itu. Mungkin, katak juga telah berlatih semalaman agar bisa keluar dari tempat sampah. Katak tersebut berhasil meloloskan diri. Katak melompat keluar, melewati bibir tempat sampah.

Sangking paniknya ditambah gerakan keberanian yang luar biasa muncul dalam diri, saya pun segera mencari cara, agar saya bisa menangkap katak kembali. Pokoknya, katak harus segera ‘diamankan’. Saya tidak ingin terganggu lagi dengan kehadiran katak.

Disitu saya melihat lompatan katak hanya seluas lebar tempat sampah. Katak dalam benak saya, mampu melompat tinggi dan lebar. Ini hanya karena saya tidak pandai belajar dalam biologi, sehingga saya juga lupa berapa lebar dan berapa tinggi katak melompat. Katak ini begitu lemah dalam melompat. Saat saya tahu dalam kelemahannya yang sedemikian itu. Saya pun dengan sigap, menangkapnya kembali.

Dengan kotak sampah di tangan ditambah keberanian, saya berhasil menutup dan memasukkan katak kembali dalam kotak sampah. Agak sedikit ngeri memang. Saya hanya membayangkan, bahwa saya pasti akan dihantui rasa bersalah karena membuat katak semakin menderita. Tapi apa daya, saya harus melakukannya. Saat itu pun, saya tidak mendapati ide atau pikiran untuk mengeluarkan dari kamar saya, atau meletakkan di taman dan membiarkannya pergi. Niat saya baik kok. Itu pikiran saya. Saya hanya menyimpannya hingga saya keluar dari hotel dan membiarkan katak hidup kembali.

Tinggal semalam lagi pikir saya. Saya pun melanjutkan tidur dengan rasa nyaman. Saya biarkan katak terkurung lagi. Maafkan saya katak.

Malam terakhir, saya pun berkemas-kemas dengan barang-barang yang saya miliki. Setidaknya pikiran saya saat itu, merapikan barang milik saya. Saya masih belum berpikir dengan si katak.

Menjelang tidur, saya baru terpikir untuk mengembalikan katak pada habitat aslinya. Atau lebih tepatnya, membiarkan ia kembali hidup normal.

Saat saya melihat ke dalam kotak sampah. Katak yang dua malam ini, saya lihat sibuk untuk melewati bibir kotak sampah, kita diam, tak bergeming.

Entah apa yang terjadi padanya, yang jelas, saya merasa bersalah dan takut saat itu.

Baru kepikiran oleh saya, untuk membawa kotak sampah keluar atau mengeluarkan katak keluar dari kamar saya.

Saat keluar, saya meletakkan kotak sampah terbalik, agar memudahkan katak keluar dengan mudah.

Yang terjadi adalah katak keluar mudah tapi tak melompat lagi seperti yang dilakukannya kemarin. Apa yang terjadi? Pikir saya.

Katak diam. Katak mati.

Saya kaget luar biasa. Entah apa yang menyebabkan dia mati. Lagi-lagi saya tak pandai dalam biologi, hingga tak tahu apa yang menyebabkan katak mati.

Katak mati. Mati karena putus asa, mungkin. Mati karena tidak mendapatkan makanan, selama tiga malam, mungkin. Mati karena tidak bisa keluar dari kotak sampah, mungkin. Mati karena tidak bisa menyelesaikan masalah, mungkin. Mati karena katak ternyata tidak ahli melompat setinggi bibir kotak sampah, mungkin. Mati karena pasrah, lemah dan tak berdaya, mungkin. Mati karena dirundung kemalangan, mungkin. Mati karena Tuhan memberi takdirnya untuk mati dalam kotak sampah.

Tak pernah ada yang tahu, apa yang menyebabkan akhir dari segalanya.

“Kotak sampah” adalah gambaran yang mudah yang diibaratkan dalam hidup kita dan menghambat pertumbuhan diri kita. “Kotak sampah” bisa lingkungan kita, teman-teman kita, kata cercaan yang menghancurkan diri kita, status sosial kita, dan masih banyak lagi.

Kita tidak mungkin mati seperti katak itu.

Kita diciptakan seperti katak, punya keahlian masing-masing tinggal bagaimana kita memanfaatkan keahliannya untuk keluar dan bertahan saat “kotak sampah” itu ‘membunuh’ diri kita. Setiap orang diciptakan dengan daya tahan dan daya juang berbeda, tinggal tergantung bagaimana kita memaknainya dalam hidup.

Belajar keluar dari “kotak” dari seekor katak, semoga menginspirasi kita semua. Terimakasih katak, maafkan jika aku harus melukaimu untuk belajar hal yang baru dalam hidup.

 

 

Saya adalah Saya: Manusia itu Unik

Ich bin Ich. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Suatu kali, saya mendapat cerita dari seorang kawan tentang penderitaannya ketika mendengar sang ibu membandingkan kawan saya dengan kakaknya yang sulung. Kawan saya, yang adalah anak kedua, merasa kesal, kontan, dia marah kepada sang ibu. Sang ibu, sebagai ibu juga kaget terhadap reaksi si anak. Harapan sang ibu, anaknya yakni kawan saya, akan berubah dan mengikuti teladan kakak sulungnya. Tak disangka, terjadilah adu mulut antara sang ibu dengan anaknya, kawan saya itu.

Saya pun pernah turut menjadi bagian dari perbandingan antara saya dengan orang lain, entah perilaku, sifat, kepribadian, kinerja, kepemimpinan, de el el, yang jika ditulis bisa berlembar-lembar. Atau, saya pun bukan manusia yang sempurna. Saya juga pernah membandingkan antara orang lain dengan orang lain-nya lagi. Wow, begitu hebatnya manusia sehingga ia bisa menjadi subjek sekaligus objek.

Satu kalimat kunci saat belajar Psikologi, bahwa kepribadian itu unik. Tidak pernah ditemukan orang yang sama di dunia ini, bahkan orang yang kembar identik sekalipun. Sangking uniknya, Tuhan memilih ‘bahan-bahan’ yang sempurna sehingga menjadi diri kita. Sampai saat ini, di dunia yang serba canggih sekalipun, belum ada manusia yang mampu mengalahkan Tuhan dalam menciptakan manusia. Robot sekalipun belum menyentuh sisi kemanusiaan yang dibuat oleh Tuhan.

Nah, manusia itu unik. Saya adalah saya.

Jika mendengar istilah ‘membandingkan’, yang terbayang adalah menilai, menganalisa hingga memutuskan (meski belum lihat kamus bahasa indonesia, benar atau salah) satu hal dengan hal lain. Ada proses berpikir hingga merasakan lalu kemudian melakukan atau memutuskan. Membandingkan bisa jadi ada yang diunggulkan dan ada yang direndahkan. Iya kan? Ada pihak yang dijagokan dan ada pihak yang diremehkan. “Halah, si anu itu bisanya apa sih? Beda kayak si nganu, yang jago banget bla bla bla…” coleteh teman sebelah saya ketika kami sedang mendiskusikan Capres dan Cawapres. Hebat juga oi, sebagai rakyat memang kita memiliki hak untuk berpendapat apapun, membandingkan antara satu orang yang jadi bakal pemimpin dengan yang lainnya.

Sangking uniknya seseorang, kita pun sadar atau tidak, telah menyakiti seseorang tanpa menyadari bahwa setiap orang itu unik. Tidak ada orang yang suka dibandingkan dengan orang lain dalam hal apapun. Karena setiap orang memiliki cara dan gaya tersendiri sehingga ia dikenal dan diakui.  Padahal maksud orang yang membandingkan (mencoba mencari celah positif), membandingkan seseorang dengan orang lain yakni agar si anu bisa belajar atau meneladani si nganu.  Pernahkah mendengar bahwa sebenarnya setiap orang itu sadar atau tidak belajar dari orang di sekitarnya. Si A belajar dari si B, si B belajar dari si C, si C belajar dari si D, si D belajar dari si E, dan si E belajar dari si A? Lihat betapa besar kekuatan si A.

Dari kecil, orangtua suka membandingkan anak satu dengan anak yang lain. Bersyukurlah kawan jika anda adalah anak tunggal, meski bisa saja anda dibandingkan sepupu atau anak tetangga. Saat menjadi murid, guru masih membandingkan antara satu murid engan murid lain. Saat bekerja, bisa jadi ada atasan atau rekan sekerja yang masih suka membandingkan kita dengan rekan sekerja lainnya. Meskipun kita pun melakukan hal yang sama untuk atasan dan rekan sekerja kita.

Baiklah, pernyataan saya adalah saya bukan berarti mencintai diri sendiri, egois atau mengacuhkan keadaan sekitar. Hal yang mau ditekankan disini adalah setiap orang adalah unik. Dengan cara dan gayanya, manusia berpikir, mengalami dan berperilaku. Saya adalah saya, berarti menghargai orang lain dan tidak ‘memasukkan’ orang lain ke dalam ‘kotak’ pikiran saya. Saya adalah saya, berarti terimalah saya apa adanya. Dengan demikian, saya diakui dan dicintai.

2009

CERPEN: Siapakah Saya?

wp-image--1957577767
Sumber foto: Dokumen pribadi.

Manusia yang sedang kebingungan, berjalan menyusuri kota. Ia bertanya kepada seorang yang lewat, “Apakah Bapak menemukan ‘siapa diriku’? Aku kehilangan ‘siapa diriku”

“Maaf, saya tidak menemukannya. Mungkin Anda lupa meletakkannya” jawab si Bapak sambil berlalu.

Manusia itu pun terus menyusuri kota. Ia hendak menemui Guru yang pernah mengajarkannya tentang segala ilmu pengetahuan. “Maaf Guru, apakah Anda mengetahui siapa diriku?” tanya manusia itu.

Guru menjawab, “Maaf, saya tidak pernah mengajarkan ilmu mengenai siapa dirimu.”

Setelah tidak mendapatkan jawaban dari Guru, manusia pun berlalu. Ia pun berniat menanyakan perihal ‘siapa dirinya’ kepada orangtuanya.

Saat ditemui, Ayahnya telah tiada, tinggal Sang Ibu sebatang kara. “Ibu, aku kehilangan ‘siapa diriku’. Aku tidak menemukannya. Apakah ibu tahu, ‘siapa diriku’?”

Sang Ibu semakin bingung ditanya oleh anaknya. “Nak, Ibu pun tidak tahu ‘siapa engkau” jawab Ibu.

Manusia bertambah putus asa karena belum menemukan jawaban. Ia lalu pergi menemui Pendeta yang diyakini saleh nan bijaksana di kota itu.

“Maaf Pak Pendeta, apakah Anda mengetahui ‘siapa diriku’. Aku kehilangan diriku. Aku belum menemukannya” tanya manusia kepada Pendeta itu.

Pendeta pun menjawab dengan penuh bijaksana, “Nak, saya pun tidak mengetahui ‘siapa engkau”

Karena sudah kesal tidak menemukan jawaban, manusia itu pun menyahut, “Dapatkah Anda memberikan aku petunjuk sehingga aku dapat mengenali diriku, Pendeta?”

Pendeta itu pun diam, tidak menjawab. Ia pun memberikan perumpamaan.

“Apa ini?” tanya Pendeta yang menunjuk buah apel di hadapan manusia.

“Apel” jawab manusia.

“Bagaimana kamu tahu bahwa itu adalah apel?” tanya Pendeta kemudian.

Manusia pun diam.

Pendeta melanjutkan, “Orang mengenali bahwa ini adalah apel, dilihat dari warna dan bentuk. Tetapi bagaimana jika orang buta mengenali bahwa ini adalah apel. Tentu, ia mengetahui setelah ia dapat merasakan buah ini, lalu bertanya benda apa ini.”

Manusia termangut-mangut, mencoba memahami perumpamaan Pendeta.

Bandung, 020709

Masing-masing orang memiliki opininya sendiri mengenai pribadinya. Tidak ada pendapat atau ramalan yang tepat mengenai siapa diri kita sesungguhnya.

Tiga Cara Belajar Meminta Maaf

img-20160909-wa0005.jpgPernahkah terbayangkan oleh Saudara tentang makna kata ‘Maaf’. Meskipun kita sering menyebutkan kata maaf berulang kali secara tidak sengaja namun pernahkah Saudara menyadari kata yang terucapkan tersebut adalah sungguh-sungguh dan tulus. Ataukah kata maaf tersebut hanya sekedar terucapkan saat kita tidak sengaja menginjak kaki seseorang, misalnya.

 

Saudara, kita diajak untuk meminta maaf bukan sekedar memaafkan orang lain. Meminta maaf berarti kita mengakui kesalahan kita dan memohon orang lain untuk memaafkan kita. Tentunya ini berbeda dengan memaafkan orang lain. Meminta maaf berarti kita memberi sedangkan memaafkan berarti kita menerima.

Berikut ini adalah tips untuk belajar meminta maaf kepada orang lain terutama orang yang sudah menyakiti kita:

 

Pertama, tidak menghakimi orang lain.

Mengapa meminta maaf begitu sulitnya untuk kita ucapkan? Konon, meminta maaf diidentikkan bahwa kita kalah, salah dan mengakuinya kepada orang lain. Disinilah letaknya, kita begitu sulitnya untuk merasa kalah dan salah, apalagi mengakuinya di hadapan orang lain. Toh, belum tentu hanya kita saja yang salah, bisa saja orang lain itu juga melakukan kesalahan. Hal ini menghambat kita untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada orang lain. Artinya, kita masih melihat selumbar di mata orang lain padahal balok dalam mata kita saja sulit untuk dikeluarkan. Kita masih menghakimi orang lain dan belum secara tulus mengakui kesalahan kita.

Proses menghakimi orang lain lebih mudah daripada kita menghakimi diri sendiri. Untuk sebuah persoalan yang sepele, kita banyak menjadikan orang lain sebagai pangkal penyebab kesalahan. Lantas bagaimana dengan kita sendiri? Tentunya kita nomor dua setelah orang lain kita salahkan. Dengan pandangan seperti ini, kita menjadi semakin sulit untuk meminta maaf kepada orang lain karena masih memandang orang lain-lah yang salah, saya tidak. Sehingga muncullah, istilah perkataan, “Sori ya, kalau saya dulu yang harus minta maaf. Emang salah saya apa?” Dengan demikian, sebelum menjatuhkan tuduhan kesalahan kepada orang lain, kita perlu selidiki dan refleksi diri. Jika kita memang tidak melakukan kesalahan, apa salahnya untuk memulai relasi yang lebih baik dengan memulai meminta maaf. Reaksi selanjutnya pasti tidak terduga dari lawan kita. Itulah keindahan kata ‘Maaf’.

 

Kedua, lepaskan egoisme.

Sering kita mengucapkan ‘Nobody’s perfect’ atau di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Ketidaksempurnaan ini menyebabkan kita sulit untuk mengakui kesempurnaan diri kita. “Yah namanya juga manusia, pasti tidak luput dari kesalahan.” Kata-kata itu akan terucapkan oleh kita saat kita berbuat kesalahan. Kita menganggap ketidaksempurnaan kita dipahami oleh orang yang telah kita lukai atau sakiti hatinya sehingga kita yakin bahwa orang yang kita lukai tersebut paham. Kita tidak perlu minta maaf lagi, toh, semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan termasuk orang yang kita sakiti hatinya.

Egoisme diri muncul ketika kita menganggap orang lain sudah memaklumi kesalahan kita dan melupakannya. Padahal belum tentu demikian. Persoalan terberat yang akan dihadapi seseorang ketika meminta maaf kepada orang lain adalah egoisme diri. Kita belum bisa menyangkal diri kita dan mengakui kelemahan kita. Betul, di dunia ini memang tidak ada manusia yang sempurna tetapi apakah kita tidak dapat mengakui ketidaksempurnaan (kesalahan) tersebut dan mengakuinya sehingga terjalin relasi yang sempurna?

Setiap orang yang dilahirkan di dunia ini pasti memiliki ego. Ego membentuk jati diri seseorang. Melepaskan egoisme dimaksudkan untuk melepaskan diri kita dan berempati atau menempatkan diri kita menjadi lawan/musuh kita. Kesulitan untuk melepaskan ego berdasar bahwa kita sulit untuk mengakui ketidaksempurnaan diri kita.

 

Ketiga, korbankan waktu dan perasaan.

Dalam belajar meminta maaf,  kita tidak pernah menyediakan waktu. Kita menganggap hal itu sia-sia saja dan percuma. Jika kita melakukan kesalahan, apakah tidak lebih baik kita langsung meminta maaf kepada orang lain? Saudara dapat membayangkan apa yang terjadi jika saudara menginjak kaki seseorang dan meminta maaf tiga hari kemudian. Bagaimana rekasi orang yang diinjak kakinya? Ia pasti tersenyum menerimanya atau barangkali menganggap hal itu tidak pernah terjadi karena ia sudah melupakannya. Sedangkan Saudara membayangkan peristiwa tersebut selama tiga hari, tidak tidur pula karena memikirkan peristiwa dimana saudara menginjak kaki orang itu. Sementara orang yang diinjak kakinya telah melupakannya, syukur jika demikian. Tentu ia akan tersenyum karena hal itu sudah terlewat jauh dari peristiwa yang terjadi.

 

Saudara, belajarlah untuk memulai mengatakan maaf setelah sebuah kejadian berlalu. Dengan mengatakan maaf sesaat setelah kejadian, berarti kita telah mengontrol dan mengendalikan emosi kita sehingga menjadi lebih positif. Kita tidak akan lagi merasa tidak nyaman dan berlarut-larut mengenai masalah ini. Toh, kita sudah cukup lega dengan meminta maaf atas peristiwa yang terjadi.

“Tidak ada yang sempurna di dunia ini, belajarlah untuk bisa menyempurnakan dunia dengan memaafkan orang lain.”

Ingatlah pula bahwa kita harus menyiapkan perasaan kita saat meminta maaf. Tentu perasaan yang muncul beragam saat kita meminta maaf termasuk malu, tidak percaya diri, takut, cemas dan perasaan psikologis lainnya. Namun, saudara harus yakin bahwa perasaan itu wajar dan alami terjadi.

 

September 08

Belajar dari ‘Sang Juara’

 

20171104_191202 (2)
Ilustrasi.

 

Suatu malam, saya menonton tayangan talk show mengenai keberhasilan para atlet yang mencapai prestasi di dunia olahraga. Dengan durasi lebih dari satu jam yang mengampilkan sosok Atlet Bulu Tangkis, Pembalap Mobil dan Atlet Tinju,  kira-kira pengalaman berharga apa yang bisa saya petik?

 

Berikut ini adalah cara saya belajar dari mereka:

 

1. Terus belajar dan berlatih.

Sambil menonton tayangan tersebut, saya merekam kalimat inspirasi dari setiap Atlet. Saya menyimak kegigihan mereka dalam meraih prestasi. Pantaslah mereka disebut Berprestasi, mereka mampu mempertahankan kejuaran yang mereka pernah raih. Artinya, mereka tidak pernah merasa berhenti untuk terus berlatih dan belajar sehingga mereka dapat mempertahankan prestasi mereka. Setelah mereka berhasil meraih kejuaraan, mereka tidak langsung merasa puas diri. Berlatih dan belajar tidak pernah berhenti. Kebanggaan itu tidak hanya berhenti di situ saja. Mereka layak disebut Berprestasi karena mereka mampu untuk mempertahankannya pula.

 

Ada sebuah pepatah mengatakan hidup adalah belajar. Kita tidak langsung bisa berjalan.  Kita belajar bagaimana cara berjalan. Belajar berjalan pun bertahap, bahkan kita pun merasakan pahitnya belajar berjalan, kita mengalami jatuh, terluka, dimarahi orangtua, menangis dsb. Belajar dan berlatih dilakukan secara bertahap dan tidak instan.

Seperti menjadi Juara, toh mereka yang berprestasi tidak langsung instan menjadi Juara. Ada tahap latihan dan belajar. Mereka pun mengalami kepahitan saat belajar dan berlatih. Setelah menjadi Juara, mereka pun masih terus belajar dan berlatih. Pada akhirnya, mereka mampu mempertahankannya. Jangan pernah merasa takut untuk dicap ‘bodoh’ karena masih terus belajar dan berlatih. Jangan pernah takut untuk mencoba. Jangan takut untuk merasakan kepahitan dan kegalalan. Dengan belajar dan berlatih, kita mengenal arti kegagalan sekaligus keberhasilan. Pengalaman adalah Guru terbaik. Pengalaman berisikan bagaimana kita terus belajar dan berlatih.

 

2.  Berpikir Positif

Sang Atlet Kejuaran Bulu Tangkis mengatakan bahwa ia pernah punya pengalaman yang mengesankan di saat ia harus mempertahankan juara untuk ke-7 kalinya. Saat set ke-2, skornya ketinggalan cukup jauh dengan sang lawan. Sementara sang lawan, sudah menang di set pertama. Satu hal yang harus dimiliki oleh Sang Atlet saat itu adalah tetap berpikir positif. Waktu yang sempit untuk mengejar ketertinggalannya melawan Sang Lawan digunakannya untuk mempertahankan pikiran positif bahwa Ia pasti mampu menjadi juara. Sang Atlet pun mampu untuk mengejar ketertinggalan skornya dan menang di set ke-2, hingga pada akhirnya Ia mampu untuk meraih juara untuk ke-7 kalinya. Apa yang tidak boleh dimiliki seseorang saat Ia jatuh dan gagal adalah Pikiran negatif. Pikiran negatif akan mengontrol perilaku dan tindakan kita untuk mengikuti cara kerja otak yang sudah negatif. Hasilnya, pasti dapat dibayangkan.

Berpikir positif akan menguatkan cara kerja dan perasaan kita yang akan mempengaruhi tindakan dan perilaku kita. Mulailah untuk berpikir positif di saat kita sedang mengalami kegagalan atau jatuh. Ubahlah cara berpikir kita terhadap hal-hal yang positif. Bayangkan saat kesempatan untuk menang itu memiliki waktu yang sempit, satu hal yang harus tetap dipegang oleh Sang Juara adalah Berpikir Positif.

 

3. Berani berkurban

Suatu kemenangan atau keberhasilan diperlukan keberanian dalam berkurban. Hal ini pula yang dirasakan oleh Sang Atlet saat mereka mengenang pengalaman mereka. Di saat usia masih muda, mereka harus mengurbankan kesenangan mereka sebagai anak-anak dan remaja untuk berlatih menjadi Atlet. Mereka bangun pagi-pagi untuk berlatih kemudian melanjutkannya dengan bersekolah. Mereka harus membagi waktu antara latihan dengan sekolah. Sempat terbersit rasa iri mereka terhadap teman-teman seusia mereka yang asyik menikmati waktu.

Pengurbanan waktu adalah contoh konkrit. Apakah kita mau mengurbankan waktu kesenangan kita untuk melakukan hal-hal yang mungkin buat kita monoton atau menjemukan? Bisa dibayangkan, Sang Juara harus berlatih kegiatan menjemukan setiap hari. Nah, apakah kita bisa juga berani mengurbankan keinginan atau minat menyenangkan kita dengan sesuatu yang monoton? Konon, sesuatu yang dilakukan berulang dan terus menerus akan mendekatkan kita pada keberhasilan yang ingin kita raih.

 

Seorang Pahlawan berani untuk mengurbankan diri mereka. Seorang Penemu mampu mengurbankan waktu mereka untuk terus mencoba dan berusaha. Seorang Atlet Berprestasi mau mengurbankan waktu mereka untuk berlatih. Ada banyak pengurbanan yang dilakukan agar berhasil. Yang jelas, berkurban bukan hal yang mudah, diperlukan keberanian dan tekad.

 

Dengan berani berkurban, kita memahami tentang proses saat kita meraih keberhasilan. Berani untuk berkurban akan mampu untuk mengalahkan kenyamanan diri kita. Seorang tokoh seperti Ibu Theresa dari India, adalah figur dimana ia berani berkurban kenyamanan dengan keluar dari komunitasnya, berani mengurbankan waktu dengan mengunjungi orang-orang yang sakit, berani mengurbankan perasaan saat orang-orang sekitarnya mencibir dan mengejek perbuatannya dan berani mengurbankan miliknya agar orang-orang yang menderita itu dapat diselamatkan.

 

4. Disiplin

Sang Atlet Berprestasi menceritakan bagaimana pengalamannya saat berlatih. Di saat usia mereka masih anak-anak, mereka sudah belajar untuk disiplin. Displin membantu mereka untuk mengatur waktu. Disiplin akan membantu mereka untuk memiliki kesempatan untuk belajar dan berlatih, kesempatan untuk melakukan hal lain. Disiplin membentuk kita untuk menghargai waktu yang ada.

 

Toh, setiap manusia yang lahir di dunia ini memiliki waktu yang sama yaitu 24 jam satu hari. Tidak ada yang lebih atau yang kurang. Sang Juara mengajarkan kita untuk hidup disiplin. Disiplin akan mendorong kita untuk menghargai diri kita tetapi belum tentu orang lain. Disiplin diibaratkan oleh orang-orang yang tidak terbiasa sebagai aturan yang ketat dan kaku. Padahal, tidak demikian.

Jika kita hidup dengan disiplin, kita akan selalu punya waktu. Dengan disiplin, kita akan mampu menghargai waktu. Dengan disiplin, kita akan menyadari bahwa hidup ini tidak sia-sia. Dengan disiplin, hidup kita lebih terencana.

 

5. Memiliki mental Juara

Seorang Juara pasti memiliki mental juara. Mental Juara maksudnya bahwa kita mampu mengalahkan kenyamanan kita. Kita memiliki semangat dan pikiran optimis. Kita memiliki keyakinan bahwa kita mampu melewati masa-masa sulit. Kita akan terus berjuang untuk mengalahkan ‘musuh kita’

Lalu bagaimana dalam hidup kita sehari-hari? Adakah musuh kita? Pastinya ada. Musuh bisa berarti banyak hal, apakah itu kesenangan, kenyamanan, pujian, materi, dsb? Seorang bermentalkan Juara berarti ia mampu untuk mempertahankan prestasi Juaranya dan tidak terlena. Seorang Juara berarti ia tidak pernah puas diri. Seorang Juara pasti akan terus mencoba hingga ia berhasil.

 

Apakah seorang Juara tidak pernah gagal? Siapa bilang? Seorang Juara pasti pernah mengalami kegagalan. Tetapi bagaimana sikap Sang Juara dengan yang lain, itulah yang membedakannya. Seorang Juara akan bangkit dari kegagalan sesegera mungkin dan mengejar ketertinggalannya. Seorang Juara tidak akan menyerah oleh nasib. Seorang Juara akan terus berpikir positif meskipun ia gagal. Seorang Juara terus berpikir bagaimana ia dapat menaklukan musuhnya. Seorang Juara akan memandang hidup adalah prestasi yang membanggakan.

 

Apakah setiap orang bisa menjadi Juara? Jawabannya, pasti dan harus bisa menjadi Juara. Juara tidak selalu diidentikkan dengan keberhasilan dalam memenangkan kompetisi atau perlombaan. Kompetisi atau perlombaan diibaratkan bak roda kehidupan kita. Kadang di atas, kadang pula di bawah. Kita berupaya agar roda kehidupan kita tidak kempes, sehingga tidak berjalan lagi. Bagaimana caranya agar kita dapat terus memutarkan roda kehidupan kita, adalah kompetisi atau perlombaan. Kita menjadi Juara jika kita mampu terus memutarkan roda kehidupan kita.

 

Sahabat, itulah refleksi yang saya peroleh saat saya menyimak pengalaman hidup Sang Juara. Kita dilahirkan dengan talenta dan kemampuan yang berbeda-beda satu dengan yang lain. Setiap manusia itu unik dan tidak ada yang sama tetapi kita memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi Juara. Katanya jika dunia dijadikan kompetisi, maka Sang Juara adalah mereka yang paling berbahagia. Bagaimana menurut anda?

AR 261108

Lebih Banyak mana, Lajang atau Sudah Berkeluarga?

wp-image-2077371113

Setiap saya berbicara dengan teman-teman mengenai pengeluaran akhir bulan, selalu muncul perdebatan antara mereka yang sudah menikah dengan orang yang belum/tidak berkeluarga. Jika saya tanya pada teman yang sudah menikah dan berkeluarga, mereka mengatakan kepada saya: “Wah, kamu itu enak belum berkeluarga. Kamu belum berpikir untuk membiayai keluarga. Kamu belum mengeluarkan biaya untuk susu anak atau pendidikan anak.” celetuk seorang rekan yang sudah memiliki 2 anak. Lain lagi dengan teman saya, “Duh, jika boleh mengulang waktu, lebih baik saya menikah jika sudah mapan. Kamu tahu tidak? Hidup berkeluarga itu tidak mudah. Kamu harus menanggung dua orang sekaligus, belum anak. Lalu, kamu harus memenuhi berbagai kebutuhan keluarga.” keluh temanku satu lagi mengenai pengeluarannya di akhir bulan.

 

Lantas, bagaimana dengan pendapat  teman yang belum menikah tentang pengeluaran mereka? Saya coba bertanya dengan rekan Pria yang belum menikah. “Siapa bilang hidup single itu tidak banyak pengeluaran?. Gaji saya saja dipakai untuk membiayai keluarga. Padahal orangtua saya sudah memiliki penghasilan sendiri dari pekerjaannya dan sewa kontrakan.”

Ada lagi rekan saya yang berpendapat, “Meskipun kita belum menikah, An. Kita masih bertanggungjawab dengan keluarga kita. Lalu, kita harus menanggung biaya hidup kita sendirian. Seandainya kita sudah menikah, toh biaya hidup kita ditanggung berdua dengan suami.”, komentar temanku perempuan yang masih melajang di usianya yang ke-33 tahun.

 

Saya bingung karena pada dasarnya pendapat teman yang sudah menikah dengan yang belum menikah hampir serupa. Mereka punya banyak alasan mengenai rincian pengeluaran. Saya pun berpikir bahwa menikah adalah solusi keuangan. Artinya, hidup saya terjamin dengan kehadiran suami. Tapi apakah itu benar? Ataukah, apakah asumsi saya itu salah?

Saat masih skripsi dulu, saya sempat membahas mengenai teori perkawinan dimana salah satu alasan orang untuk menikah adalah ekonomi sehingga kehadiran pasangan diharapkan dapat meningkatkan status sosial ekonomi juga.

Saya memang belum menikah. Saat ini, saya sempat berpikir untuk ‘melarikan’ tanggungjawab saya dari keluarga saya dengan menikah. Saya berpikir, saya akan menikahi Pria yang mapan secara ekonomi. Saya pun berpikir, keluarga saya tidak akan mengutak-atik keuangan saya karena malu dengan pihak suami.

 

Rasanya cukup untuk menjadi ‘sandaran’ keluarga. Atau, Tuhan sendiri telah mengatur keuangan kita bahkan menempatkan kita pada posisi pekerjaan yang pas sehingga menyadari bahwa kita masih menanggung biaya hidup keluarga.

Kemarin ketika ke Karawang, saya diantar oleh supir yang disewa oleh Pihak Kantor. Sepanjang perjalanan, kami berbincang tentang kondisi ekonomi yang saat ini sedang mengalami krisis. Saya juga bertanya tentang kehidupan supir ini, Apa yang terjadi? Saya terkejut mendengarkan jawabannya. Supir ini memang sudah berkeluarga. Tetapi, ia mengatakan bahwa dengan berkeluarga atau menikah, pengeluaran dapat ditanggung berdua bahkan lebih baik saat kita belum menikah. Segala sesuatu dapat dibicarakan berdua dengan pasangan. Apalagi, saat ini, istripun harus diberi kepercayaan untuk mengelola keuangan dan suami pun dipercayai dalam pekerjaannya.

 

Di akhir perbincangan kami, saya menyimpulkan bahwa baik hidup melajang atau menikah, Tuhan sudah merencanakan bahwa kehidupan kita cukup, tidak berkekurangan. Jika belum menikah, wajar jika kita berbakti kepada orangtua dengan mendukung keluarga kita secara ekonomi. Sepanjang kita membantu keluarga saat belum menikah, tidak akan membuat kita menjadi miskin. Namun, kita perlu tetap memperhitungkan apa yang menjadi hak kita untuk menabung demi masa depan.

Sementara, bagi mereka yang sudah berkeluarga, kehadiran pasangan akan membantu kita berkompromi dalam mengatur ekonomi bersama. Bersama pasangan, kita dapat merencanakan yang terbaik untuk anak-anak kelak. Tentunya, kepercayaan kepada pasangan dalam mengelola keuangan adalah kunci agar keharmonisan hubungan dapat terus terjalin.

 

Akhirnya, saya menyadari, bahwa bersyukur adalah kunci semua itu, baik sudah menikah atau belum. Bersyukur akan mampu meruntuhkan kita dari prasangka mana yang lebih baik, melajang atau berkeluarga. Kita tidak akan bisa menghitung secara matematis mengenai pengeluaran yang lebih baik antara sudah menikah atau belum, karena semuanya didasari oleh syukur.

 

November 2008

Ukuran kebahagiaan terletak di hati

wp-image-1421451147

Hidup memang indah namun tidak seindah saat menjalaninya. Begitu mudah orang mengungkapkan keindahan hidup namun sulit untuk menjalani hidup dengan indah. Kadang terpikir, apakah keindahan hanya terbersit di angan semata? Ataukah, keindahan hidup terjadi saat kita sedang mengalami kesenangan, puas ketika keinginan atau harapan kita tercapai. Apa benar itu makna keindah hidup yang sesungguhnya?

 

Saya tidak puas jika saya belum mendapatkan anu. Saya bangga jika saya bisa memperoleh anu. Saya yakin bahwa saya akan bahagia jika saya mampu menjadi anu. Dan sebagainya. Segudang harapan dan impian kita tentang hidup.

 

Apakah pernyataan di atas adalah cerminan bahwa hidup sejatinya akan menjadi indah, jika kita memiliki atau menjadi anu? Tentu tidak. Hidup memang dibentuk oleh harapan. Ada pepatah mengatakan bahwa manusia dapat bertahan hidup beberapa hari jika tidak makan, manusia dapat bertahan hidup beberapa jam jika tidak minum namun manusia tidak dapat bertahan hidup jika ia tidak memiliki harapan.

 

Lantas, apakah harapan ditentukan oleh sesuatu atau seseorang? Apakah dengan menjadi atau memiliki, impian atau harapan kita terwujud? Jawabannya tidak. Kita tidak akan pernah puas untuk mencapai harapan jika harapan itu ditentukan oleh sesuatu atau seseorang. Sesuatu atau seseorang hanyalah ukuran yang diciptakan oleh masyarakat kita.

 

Lihat, betapa banyak orang mudah putus asa, depresi, gangguan jiwa bahkan bunuh diri hanya karena tidak terpenuhinya ukuran yang diciptakan oleh masyarakat itu. Jika harapan tidak menjadi objektif, bagaimana harapan itu dapat diraih?

 

Jawabannya, harapan dapat diraih karena unsur subjektivitas. Hanya diri kita saja yang dapat menyadari apakah harapan kita sudah terpenuhi atau tidak. Harapan terletak di hati nurani. “Saya berharap akan bahagia.” Harapan bahagia bagaimanakah yang akan kita raih? Tentunya, hal ini kembali kepada kita sendiri. Kebahagiaan diukur dari hati bukan dari sesuatu yang berada di luar pribadi kita.

 

October 2008